Wednesday, February 9, 2022

22Feb09 - Di Ubud KuBer ATV

Kuber ATV

Setelah tinggal selama 3 bulan di Bali tahun lalu dalam situasi pandemi, di kepulangan kami kali ini kami ingin merasakan juga berkegiatan seperti wisatawan pada umumnya. Biar kek orang-orang, kalau bahasa gaulnya. Akhirnya kami mencoba kegiatan ber-ATV. 

Banyak sekali penyedia layanan kegiatan ber-ATV di Bali. Rata-rata mereka di kawasan Ubud, di mana masih banyak medan yang sesuai dengan jenis aktifitas ini. Kami memilih penyedia layanan yang bernama KUBER ATV. Bukan dari browsing atau dari info mana-mana hingga kami memilih penyedia layanan ini. Sesimple "yang kemaren di pake Medi" saja. hahaha. Saya kan kalau sedang rajin bisa sangat rajin mencari, tetapi kalau sedang malas ya malas sekali. 

Harganya lumayan, tetapi mendengar cerita Medi tentang medan yang akan kami tempuh dengan ATV ini, sepertinya menjanjikan. Perlu dibuktikan yekaaan :-)

Oh iya, jujurly, ini adalah kali pertama saya naik ATV. Kalau Mas Bojo dan Mbak K sih sudah sering. Saya grogi sekali saat tiba di tempat ATV. Saya langsung bilang pada pemandu kami bahwa saya belum pernah naik ATV. Untung mas nya baik dan pintar menenangkan hati. Katanya, "Nggak papa kak, nanti setelah selesai dari sini, pasti langsung canggih main ATV." katanya. Saya sih memang senang menjadi korban iklan, jadi percaya saja :-p

Karena kami hanya datang bertiga, kami digabungkan dengan 1 rombongan keluarga besar lain dengan dua orang pemandu. Mereka sekitar 7 orang kalau saya tidak salah ingat. Beberapa diantaranya juga sepertinya sama dengan saya, belum pernah naik ATV. Atau mungkin belum pernah naik ATV dengan jalur yang se-mantul jalurnya KUBER ATV. hahahaa.

Ada 2 jalur yang menjadi target kami hari itu. Rute pertama adalah berangkat dari Base Camp, menyusuri jalan desa, menyeberang jalan besar, menyusuri saluran irigasi, menyusuri sawah, masuk ke jalur kebun, kembali menyusuri sawah, saluran irigasi, menyeberang jalan besar, menyusuri jalan desa dan kembali lagi ke depan base camp tanpa berhenti, dan lanjut ke jalur kedua.

Saya mau cerita dulu mengenai pengalaman di jalur pertama. Seperti yang saya bilang, bahwa ini adalah kali pertama saya mengendarai ATV. Suami saya bilang, "santai aja, ini matic. Tinggal gas - rem - gas - rem." Iya memang betul tinggal gas dan rem, tetapi dia tidak mengatakan bahwa mengarahkan stang agar lurus, atau agar nurut saat akan berbelok di jalan sempit itu, tidak semudah mengendarai motor matic. Hasilnya, saya hampir masuk ke sawah, dan hampir nyungsruk ke saluran irigasi. Bersyukur saya masih bisa mengendalikan ATV saya, walau dengan susah payah. Sehingga saya tidak perlu mengalami kejadian-kejadian yang tidak diinginkan itu. 

Nasib yang kurang beruntung dialami satu anggota rombongan kami dari keluarga sebelah. Salah satu pengendara ATV nya, perempuan, benar-benar bablas masuk ke sawah. Untung sawahnya kering dan sedang tidak ditanami padi. Saya dan Mas Bojo saling menatap dengan senyum simpul, saling membaca pikiran masing-masing. Pikiran saya bilang, "Ya Allah, untung bukan saya.", sedangkan Mas Bojo tersenyum dan berfikir "untung bukan maneh..." So sweet kan? :-p

Jalur kebun yang pertama

Lanjut ke jalur kedua, di mana kami bergerak ke sisi sebelah kanan base camp. Setelah menyusuri jalan sempit dari beton, kami semua berhenti menunggu semua rombongan untuk bergerak bersama-sama. Ternyata oh ternyata, jalanannya turun hampir 45 derajat. Karenanya kami harus bergerak rapat dari ATV ke ATV. Paling depan adalah ATV pemandunya yang dengan sangat cakap memandu kami, sekaligus menjadi ganjalan bagi ATV di belakangnya. 

Kami bergerak berentetan hingga tiba di jalan yang cukup landai, tetapi rupanya hanya sebentar-sebentar kami menemui jalan landai. Gustiii... Lengan rasanya seperti berteriak minta tolong sangking kerasnya dia bekerja memencet rem dan mengendalikan stang ATV agar tetap di jalannya. 

Sebetulnya saya merasa ngeri sekali, dan hampir menyerah. Tapi kok malu sama anak wedhok yang justru berteriak-teriak kegirangan di boncengan bapaknya. Dengan was-was saya mengikuti arus ke manapun pemandu kami membawa. Tentunya dengan mulut komat-kamit dan hati banyak berdoa. 

Ternyata di ujung bawah jalanan curam itu, kami mengendarai ATV kami dengan menyusuri sungai yang airnya jernih. Duuuh, semua takut yang tadinya saya rasakan, langsung hilang berganti dengan bahagia. Karena sungainya adalah sungai alami, jadi bebatuan di sana juga tidak teratur. Membuat kami berjuang semakin keras untuk maju. Namun, rupanya sungai jernih itu bukanlah satu-satunya medan indah yang harus kami lalui. 

Kami masuk Goa saudara-saudara. Goa yang merupakan jalur air sungai itu juga. Konon katanya Kuber ATV adalah salah satu pioner usaha ATV yang menemukan jalur air di bawah goa ini. Mereka kemudian melebarkan jalan airnya agar bisa di lalui ATV. Wow... Luar biasa bukan? Di dalam goa itu, rasanya jalur semakin tak menentu. Gelap, dinding baru di atas kepala, bebatuan menonjol tak beraturan di bawah roda ATV, dan suara menggerung-nggerung yang memekakkan telinga, membuat adrenalin kami terpacu keras. Hingga saat cahaya ujung goa terlihat, perasaan lega membuncah di dada. We made it guys!!!

Jalur kedua, masuk Goa
Dari mulut goa, kami masih kembali menyusuri jalur sungai dan juga jalur sempit yang diapit tebing tanah cukup tinggi. Kami tidak bisa menebak ke mana kami akan pergi, dan apa yang ada di depan kami selanjutnya. Karenanya, saat akhirnya kami melewati aliran air terjun dengan ATV, kami semua tertawa ceria dengan wajah-wajah cerah. Aaahhh... Luar biasa sekali memang pengalaman Ber ATV-an dengan KUBER ATV ini. Kami semua berhenti di jalur selepas air terjun untuk berfoto dengan rombongan sendiri. Setelah foto orang dan air terjun selesai, pemandu kami meletakkan satu ATV di depan air terjun untuk properti berfoto. Yeayyy!!! Untung saya kami tidak mengiyakan saat ditawari dokumentasi komplit dari awal sampai akhir dari mereka, karena harganya luar biasa mahal untuk ukuran keluarga kecil. Toh kita juga di kasih kesempatan foto di lokasi premium nya. Yekaaan :-)

Spot favorit, Air Terjun

Setelah bersenang-senang di air terjun, kami semua kembali ke tempat kami meninggalkan ATV kami. Dan bayangan yang cukup horor muncul di pelupuk mata saya. Kalau tadi turunannya setajam itu, bagaimana sekarang tanjakannya? Buru-buru saya mengenyahkan bayangan-bayangan seram, dan menguatkan tekat untuk bisa pulang dengan selamat. Karenanya, tanjakan curam yang berkelok-kelok itu saya jalani dengan sepenuh hati. Jika saat turun kami harus menempel dari satu ATV ke ATV, maka kebalikan dengan perjalanan pulang yang menanjak ini. Kami harus melakukannya sendiri-sendiri, satu-persatu. Wohooo...

While we're here

Setibanya kembali di base camp dengan selamat, dan menghabiskan beberapa menit untuk bersenang-senang di kubangan dengan saling balapan dan semprot-semprotan air lumpur dengan roda ATV, kami membersihkan diri di kamar mandi yang telah disiapkan. Lalu kami makan siang di resto dengan voucher makan yang merupakan satu kesatuan dengan harga tiket yang kami bayar. Lumayaaan... 

Setelah dari Kuber ATV, kami tidak langsung pulang ke Ngetis. Kami memilih untuk meluncur dan menghabiskan hari di Pantai Melasti. Salah satu pantai idola dan favorit kami. 

Saat Matahari Masih Terik

Saat Air Laut Surut


No comments: