Thursday, June 3, 2021

Tempat Kita Berkumpul, Rumah Kita

 Selingan untuk kisah #TheJourneyOfKeluargaUmang


Rumah Kita

Sebelum berangkat ke Bali, kami singgah di Yogyakarta. Sudah 2 tahun lebih sejak pandemi, saya tidak ke Yogyakarta. 

Dahulu kala, pernah ada masanya ketika saya berkata bahwa Yogyakarta adalah masa tua saya. Setiap hal yang terjadi di Yogyakarta, selalu bagaikan magnet kuat yang menarik saya menujunya. Bahkan sempat menjadi perdebatan dengan Mas Bojo saya, bahwa mungkin sebaiknya kami dikubur di Yogyakarta saja jika meninggal nanti. 

Namun rupanya hal itu adalah sesuaty yang ada masa kadaluarsanya. Saat sampai pada tanggal kadaluarsanya, maka bergantilah dengan sesuatu yang baru. Belum tahu apa dan bagaimana, namun tidak lagi sama. 

Hari itu kita kembali datang dengan penuh cinta. Membawa warna-warni bunga yang selalu engkau minta dan tak pernah kami lupa. Saat berkumpul mengelilingimu, hati kami semua bersatu, padamu. 

Tak perduli berapa jauh kaki kami melangkah, 

Tak perduli berapa likuan yang harus kami lalui, 

Tak perduli bagaimanapun nanti jalan hidup membawa kami, 

Tak perduli seperti apa ujung perjalanan ini, 


Ke tempatmu lah kami akan berkumpul kembali

Ke tempatmu beristirahat, 

Melingkat dengan hati yang hangat, 

Karena kami bersamamu untuk mengingat


Sampai kita berkumpul kembali suatu saat


Peluk & Cium kami untukmu di Surga

Sunday, May 30, 2021

The Last Song


 The Last Song, by Nicholas Spark

Jadi, tema klab baca SMK bulan Mei 2021 adalah Sweet Romance. Iya betul, sayalah pengusul nya. Tahu kan ya kalau selera saya ini yang drama-drama romantis ringan-ringan tanpa beban gitu? ahaha

Beruntungnya anggota Klab Baca SMK itu baik-baik semua. Meski mungkin tema ini bukan genre favorit mereka, namun mereka berbaik hati mengikuti. Dan beberapa buku yang mereka pilih, adalah buku-buku yang pernah saya baca. Yeay!!! Nggak sabar mendengarkan mereka mengulas buku-buku itu. 

Saya sendiri, akhirnya memilih bukunya Nicholas Spark. Ini terinspirasi dari obrolan di grup juga sih, bahwa konon katanya Mas Nicholas (bukan saputra) ini bukunya selalu menggelitik hati penggemar drama cinta-cinta remaja. Setelah melakukan sedikit pencarian info di Goo, baru ngeuh ternyata Nicholas Spark ini adalah pengarang buku nya Notebook, The Best of Me, A Walk to Remember, Dear John, dan lain-lain. Duh, kalau itu kan film nya saya sudah nonton berkali-kali dan berulang-ulang. #JedugJedug

Ya sudah, akhirnya secara random saya memilih buku yang judulnya The Last Song. Beli bukunya di Google Playstore saja. Belakangan ini saya sedang tersadarkan (dan menghindari lirikan maut mas bojo kalau harus membuka paket yang isinya buku) sehingga memilih membeli ebook. Disamping untuk membinasakan pesona Candy Crush, Zuma, dan Sudoku di handphone juga sih. Haha

Sebetulnya oleh PJ Klab Baca, sudah dibuatkan form untuk mengulas novel yang kita semua baca. Tapi saya kok amatir sekali dalam membuat review/ulasan. Setelah membaca ulasannya Gard di Slack, saya langsung insekyur dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Kok nggak bisa ya saya baca soal dan mengerjakan sesuai dengan yang seharusnya? haahhaa #nangis.

Jadi, saya berniat membuat ulasan kembali di sini, setidaknya untuk diri saya sendiri dalam rangka belajar mengulas buku. Siapa tahu lama-lama juga bisa membuat ulasan yang bagus. Yekaaan...  


*** 

(Template ulasan: Nyontek Gardin)

Bulan : Mei

Tema : Sweet Romance

Judul : The Last Song

Penulis : Nicholas Spark

Halaman : 368 halaman

Ringkasan:

Kisah tentang perlawanan, jiwa muda, pencarian jati diri, penemuan cinta, dan kasih sayang (compassion). 

Seperti halnya novel Nicholas Spark yang lainnya, buku ini tidak jauh dari hubungan asmara dan keluarga. Tokoh utama dari cerita ini adalah Ronnie, seorang perempuan usia remaja yang menyimpan amarah terhadap ayahnya. Ayahnya yang dia tahu telah meninggalkan dia, adik dan juga ibunya untuk mengejar karir sebagai pemain piano, hingga melupakan mereka semua. Beberapa tahun Ronnie tidak mau berbicara dengan ayahnya. Ronnie kecil yang sangat pandai bermain piano mengikuti ayahnya, menjadi Ronnie remaja yang membenci piano. 

Hingga pada suatu liburan musim panas, Ibunya (Kim) memaksa dia dan adiknya (Jonah) untuk menghabiskan waktu liburnya bersama dengan ayahnya. Tidak seperti biasanya, kali ini ibunya tidak menerima penolakan ataupun negoisasi. Hingga mau tak mau Ronnie dan Jonnah menurut dan tinggal bersama ayahnya di rumah pantai, North Carolina. 

Sejak hari pertama kedatangannya, Ronnie tidak ingin dekat ataupun berbicara dengan ayahnya. Alih-alih dia memilih pergi ke daerah ramai disekitar pantai. Dia menonton pertandingan volley pantai dan tak sengaja bertabrakan dengan Will dan membuat minumannya tumpah. Kemudian disana juga dia bertemu dengan teman baru (Blaze) yang juga banyak menghadapi banyak masalah keluarga. Blaze memperkenalkan dia dengan Marcus dan dua teman lainnya. Dia tidak perduli ayahnya dan juga adiknya kebingungan mencarinya. Singkat kata, di malam pertamanya di NC, Ronnie akhirnya berhasil ditemukan oleh polisi yang juga teman ayahnya, dan diantarkan pulang. Satu alasan lagi untuk membenci ayahnya. 

Steve (Ayah Ronnie) memiliki piano di rumahnya, dan sering memainkannya. Ronnie yang membenci piano sebagaimana dia membenci ayahnya, menyampaikan ketidaksukaannya dan melarang ayahnya bermain piano. Dia merasa, ayahnya bermain piano demi memancing Ronnie untuk memainkannya juga. Akhirnya Steve yang sangat menyayangi Ronnie dan ingin bisa kembali dekat dengannya, membangun dinding penyekat untuk menyembunyikan pianonya, agar Ronnie tidak merasa terganggu setiap kali melihat benda itu. Dan sebagai gantinya, Steve diam-diam pergi ke gereja yang sedang direnovasi, untuk bermain piano atas seijin Pastor Harris, temannya.

Beberapa hari pertama Ronnie, dia habiskan bersama dengan Blaze dan teman-temannya, hingga akhirnya Blaze cemburu karena Marcus menunjukkan ketertarikannya pada Ronnie. Disatu sisi Ronnie mulai dekat dengan Will, yang bekerja di bengkel dan juga adalah volunteer di aquarium pusat. Suatu hari mereka berkemping bersama menjaga telur penyu dari serangan rakun, dan membuat hubungan mereka semakin dekat. Hal ini membuat Marcus tidak suka, dan karena dia memiliki rahasia hitam mengenai Will dan temannya (Scott), dia mulai sering mengganggu mereka. Blaze semakin tidak suka dan menjebak Ronnie dengan memasukkan beberapa koleksi kaset klasik ke dalam tasnya, hingga Ronnie terancam persidangan dan penjara. 

Banyaknya masalah yang dihadapi Ronnie, secara tidak langsung membuat hubungannya dengan Steve membaik. Mereka mulai sering berbincang, sering bertukar cerita, memasak bersama. Sedangkan Jonah lebih sering menghabiskan waktu bersama Steve dengan membuat jendela untuk gereja di workshop nya. 

Ketika akhirnya Ronnie dan Will semakin serius dengan hubungan mereka, Ronnie mengundang Will makan malam bersama dengan Steve dan Jonah, dan begitu juga sebaliknya. Saat itu, Ronnie baru menyadari bahwa Will rupanya anak orang kaya yang memiliki perusahaan otomotif besar di NC. Saat kakak Will menikah, Ronnie hadir. Rupanya Marcus yang menyimpan dendam terhadap Will dan Scott, tersulut dengan Ronnie yang lebih memilih Will, berniat jahat dengan merusak pesta kakak Will. Ibu Will yang awalnya tidak menyukai Ronnie, semakin membencinya. Dengan patah hari, Ronnie pergi meninggalkan rumah Will. 

Untuk menghadapi kasusnya sendiri di toko kaset, Ronnie berusaha berbicara dengan Blaze, dan setelah lama membujuknya, akhirnya Blaze mau mencabut laporannya ke polisi, dan bahkan dia bersaksi mengenai kejahatan-kejahatan Marcus, termasuk saat pesta pernikahan kakak Will, dan juga tentang kejahatannya membakar gereja beberapa tahun lalu yang mengakibatkan Pastor Harris cidera hingga nyaris meninggal. 

Di saat yang sama, Ronnie baru mengetahui bahwa ternyata ayahnya sakit kanker yang sangat parah. Rupanya karena sakitnya tidak lagi bisa disembuhkan, Steve meminta anak-anaknya untuk melewati musim panas bersamanya. Ronnie juga baru mengetahui bahwa Steve memainkan piano bukan untuk membuat Ronnie bermain lagi, melainkan untuk mengurangi sakit yang dirasakannya, hingga dia rela menyelinap ke gereja untuk memainkannya. Bagi Steve, bermain piano adalah saat dimana semua sakitnya hilang. Ronnie menyesal dan mulai memainkan piano ayahnya lagi setelah ayahnya keluar dari rumah sakit. Dia berusaha menyelesaikan lagu yang dibuat ayahnya, yang tidak kunjung selesai. 

Saat akhirnya liburan musim panas selesai, Ronnie memilih untuk tetap tinggal bersama ayahnya, sedangkan Jonah harus kembali ke New York bersama dengan ibunya. Dan Will, sudah harus mulai masuk ke kampus baru pilihan keluarganya. Ronnie merawat ayahnya dengan baik, terus bermain piano dan merampungkan lagu ayahnya. Ketika lagunya selesai, ayahnya meninggal. 

Ronnie akhirnya kembali ke New York bersama dengan Ibunya, dan memilih untuk masuk ke akademi musik untuk melanjutkan belajar piano. Rupanya, Will akhirnya mampu meyakinkan keluarganya untuk kuliah ditempat pilihannya sendiri, Columbia University. Satu kota dengan Ronnie. 

Buku ini tidak hanya menceritakan tentang kisah cinta semata, namun banyak memperlihatkan gejolak hubungan keluarga, dan pergolakan batin yang biasa dialami para remaja. Ronnie yang awalnya penuh kebencian akibat perceraian orang tuanya, akhirnya berbalik menjadi penuh kasih sayang terhadap ayahnya. Blaze yang awalnya menyiksa dirinya akibat perceraian orang tuanya, banyak berbuat hal buruk bersama dengan Marcus dan teman-temannya hingga mencelakakan Ronnie, akhirnya bertobat dan kembali kepada ibunya, dan berusaha menebus kesalahannya pada Ronnie. Will yang selalu berusaha menjaga perasaan ibunya akibat meninggalnya adiknya, akhirnya bisa menemukan ketegaran dan memilih apa yang terbaik untuknya sendiri. Steve yang awalnya selalu mempertanyakan keberadaan Tuhan, meragukan jawaban atas semua doanya, akhirnya menyadari bahwa musim panas bersama dengan anak-anaknya adalah jawaban dari semua doa yang pernah dia sampaikan pada Tuhan. 

Adegan Favorit: 

Ketika Ronnie dan Will menjaga telur Penyu Tempayan di belakang rumah Steve selama beberapa malam, karena petugas penyelamat belum bisa memasang sekat perlindungan dari rakun. 

***


Update setelah call bersama: 

Mendengar teman-teman yang lain membacakan ulasan buku mereka, saya pengen pingsan. Ya ampun, kok pada keren-keren ya bikin ulasannya. Haissshhh... Wilis, semangadhlah!!! Next musti lebih baik lagi. ahahahah

Pe-Er untuk ulasan (saya) bulan depan: 

- Nyeritain isi bukunya sedikit saja

- Nuansa/feeling/perasaan ketika membaca buku nya

- Inti dari bukunya apa

- Konflik terberat nya apa

- Suka atau nggak suka? 

- Sebutkan plus minus buku

Saturday, May 1, 2021

Membudidayakan Harapan

 


1 Year of raising hopes... 

Sudah satu tahun berlalu rupanya. 1 tahun dari momen ketika semangadh, niat, dan harapan melambung tinggi meraih ide-ide yang berserakan di langit. Eeeaaa

Selamat Ulang Tahun yang pertama Kaizen Writing Alumni aka Alumni Semut Merah Kaizen. Semoga kebersamaan yang dilandasi dengan semangadh bertumbuh dan berkarya bersama ini, akan tetap tumbuh subur dan terus melahirkan karya. 

Seperti halnya ide yang melayang bagai awan putih di angkasa biru, 1001 cerita dibalik gambar akan selalu menjadi kenangan tersendiri... Dance it out :-)

Monday, April 5, 2021

Rumah Guguk Bandung, April 2021

Liburan Paskah, 2021

Akhirnya Nala Family mengadakan trip dadakan. Si Ayah ingin membayar waktunya yang hilang untuk bersama dengan Si Anak akibat mulai aktif perjalanan kerja ke lapang, sehingga membisikkan janji manis yang sulit untuk di tolak. Malam terakhir sebelum long weekend, Si Ayah bersabda: 

"Kita long weekend ke Bandung aja..." Dan malam itu kami berdua berusaha mencari penginapan. Namanya juga Bandung dan Long Weekend, apa yang bisa diharapkan? Akhirnya Si Emak menyerah dan tidur, menyerahkan perpenginapan kepada Si Ayah. Tahu beres besok pagi berangkat. T I T I K

Dan pagi pun datang. Meskipun rencana berangkat jam 3 pagi gagal dan baru beranjak dari rumah Jam 5 pagi, namun perjalanan terhitung lancar. Perkiraan sampai di Bandung Jam 8 pagi, kamipun memutuskan untuk langsung ke Rumah Guguk sebelum check in ke penginapan. Cekidot foto-fotonya di bawah ini ya. 

Rumah Guguk ini terletak di kawasan Dago. Ada 2 jenis penawaran yang bisa kita pilih, ataupun kita ambil semuanya. Taman Guguk dan Secret Garden. Kalau membayar satu-satu, biayanya adalah Rp. 50,000. Jika ambil kedua-duanya, maka harganya menjadi Rp. 80,000. 

Kalau Taman Guguk, kita bisa bermain dan berfoto dengan anjing-anjing lucuk di beberapa spot, kucing 1 spot, kafe juga tersedia. Bermain dan berfoto dengan anjing saja, kita tidak dipungut biaya alias gratis. Tapi jika kita ingin berfoto dengan anjing-anjing duduk manis rapi jali berbaris tertib, kita musti beli makanan anjing ke mas-mas penjaganya Rp. 15,000. Well, meskipun hanya mendapat beberapa butir makanan, tapi melihat dan mendapati anjing-anjing itu duduk manis bersama kita dan anteng saat di foto, rasanya sepadan :-)

Setelah K menjelajah setiap area dan berfoto, dia kembali lagi masuk ke area anjing-anjing besar dan bermain sepuasnya. Si Emak dan Si Bapak duduk manis saja di kursi kafe menunggu. 

Ketika masuk ke area Secret Garden, areanya jauh lebih luas. Para anjing berkumpul di 3 spot saja, tapi ada hewan-hewan lain yang bisa dilihat dan diberi makan disana. Ada Angsa, Ikan, Kelinci, Kambing, Ayam, dan burung. Banyak tempat untuk bersantai dengan bean bag, ayunan tali, maupun ayunan kayu. Pohon besar menaungi hingga dinginnya Kota Bandung sangat terasa sekali. 

Rumah Guguk sepertinya akan menjadi tempat yang dikunjungi lagi dan lagi ketika kami ke Bandung. K semakin ingin bisa memelihara anjing. Dan saya dengan semangat mengucapkan mantra: 

"Nanti kalau kamu besar dan ternyata ingin menjadi Vet yang hebat, kamu bisa bikin tempat seperti ini sendiri. Punya banyak anjing sebanyak yang kamu mau" :-)


















Semoga kalian juga menikmati jeda sesaat ketika Liburan Paskah kemarin ya temans... :-)

Monday, March 29, 2021

Maret Yang Seperti Mungkret

Dan terjadi lagi...

Kisah lama yang terulang kembali...

Tek teretek dung dung tek teretek dung dung


***

Mari kita tilik kembali beberapa targetan yang lain. Apakah senasib dengan writing challenge yang hanya konsisten selama 5 hari itu? #malu

1. Writing Challeng: Failed

2. Writing Story: Cuma bisa ngedit dan post berapa bab? Kalau tidak salah 4 bab saja. Ide baru? Nggak ada! Terlele!!! 

3. Berkebun: Itu Tomat mati semua. Padahal yang dikasih sama tetangga, katanya sudah berbuah. Terlele!!!

4. Merajut: Lumayan sih berhasil mengusir beberapa barang buatan jaman lawas. Alhamdulillah ada yang mau. Terima kasih marketing ku yang baik hati, Tante Sita! :-)

5. Kelas Online Siberkreasi untuk Podcast Pemula sih berhasil tuntas. Dan sudah submit editan 1 untuk ulasan. Minggu ini harus bisa selesai ngedit yang Monolog. Siberkreasi Masterclass daftar tapi belum masuk kelas. hehehee. Gagal maning son. Terlele!!!

6. Kelas Online Udemy: Materinya Jesika yang kedua ini belum selesai didengarkan. Terkena imbas dari Kelas Siberkreasi yang mengharuskan download aplikasi Telegram, ditambah info2 gosokan2 cantik dari teman2 tentang Drakor, akhirnya malah saya nonton ulang serial #Bones dari Season 1 sampai 12 setiap malam. Baru tahu kalau di Telegram itu, nonton lebih cihuy. Setelah taman Bones, nyari NCIS cuma ada yang dubbing Bahasa Latin. Jadi pindah Greys Anatomy. Duuuuh... Kapan belajarnya Ni Sanak? Terlele!!!

7. Hobi Baru - Diamond Painting: Nah ini nih. Ini hobby baru yang ternyata cukup menyita waktu tapi menyenangkan sekali. Cuma kok ya masih cukup mahal kalau beli sendiri. Buka jasa pasang, belum ada yang pesan karena memang belum banyak yang kenal/suka dengan Diamond Painting ini. Jadi beli yang semampunya aja dulu. Kabar baiknya, pas beli ke mantan tetangga, dapet diskon 50% plus dikasih bonus pula 1 yang tulisannya "I Love Indonesia". Masya Allah, Patriotik sekali yekan? hahahaha

8. Membaca: Nah, ini juga yang menarik di Bulan Maret 2021 ini. Salah satu hal positif yang membuat saya semakin cinta dan bersyukur bergabung dalam komunitas alumni kelasnya Dee Lestari, Semut Merah Kaizen ini adalah karena anggotanya. Bertemu dengan mereka-mereka yang selalu adaaa aja idenya untuk melakukan sesuatu. Sangat gayung bersambut dengan saya yang adaaa aja maunya ini. Hehehe. Salah satunya adalah Klab Baca SMK ini. Bulan Maret 2021, kami membaca buku yang temanya Hewan. Judulnya bebas. Saya sendiri memilih Buku yang judulnya "The Art of Dancing in The Rain". Review dan kesan pesannya nanti saya upload di Blog satunya saja ya. Biar ada isinya. Kekekeke. Intinya, cerita ini bagus bangettt... Membaca cerita yang di kisahkan dari sudut pandang Enzo (seekor anjing setia). Membuat saya yang ingin sekali punya tapi belum bisa ini, semakin cinta pada para anjing. Worth to read!

Apa lagi ya....

Yang lain sih ya nitty gritty routin dan incidental banyak terjadi juga di Bulan Maret ini. Alhamdulillah, Masya Allah. 

So, meskipun gagal disana kurang disini, Bulan Maret 2021 ini tetap menjadi bulan yang indah untuk saya. Terima Kasih, Maret! 

Monday, February 8, 2021

Dark Spot

Titik Hitam


Ceritanya, saya yang nyalinya tipis ini kan belum juga bisa menyetir mobil. Jadi kemana-mana, saat Mas Bojo tidak ada, ya naik motor ngeng ngeng saja. 

Alhamdulillah sepertinya sudah lebih dari satu dekade saya ber-ngeng-ngeng motor, tidak pernah jatuh. Masya Allah Gusti Allah.

Tapiii, namanya manusia yang merupakan tempatnya lupa dan riya, akhirnya saya kena tegur. Bulan lalu saya jatuh. Tidak tabrakan, tidak serempetan, tidak ini dan itu. Hanya jatuh gedubrak sreeettt, ngesot di aspal bersama dengan motor tercinta saya. Beruntungnya semua parapihak yang berkendara dibelakang saya, dengan sigap menghentikan kendaraan mereka sehingga tidak menggilas saya yang berserosotan mesra dengan aspal dan motor saya. 

Sepertinya mendadak saya black out selama beberapa detik dan berakibat jatuh. Saya hanya cidera ringan yaitu lecet-lecet tangan, dan bagian kaki kanan dekat jempol tercukil sedikit kulit dan dagingnya. Kecil, tapi dalem. Seperti orang patah hati, sakitnya terasa cukup lama, dan bekasnya seperti tak terhapuskan. Eeeaaa.

Tangan kanan saya terkilir lumayan hingga sulit untuk diangkat atau digunakan memegang sesuatu. Tapi saya masih bisa pulang sendiri. Yang sedih adalah, ketika saya sampai di garasi, berteriak memanggil Mas Bojo dan mengatakan bahwa saya jatuh, yang pertama dia lakukan adalah berjalan ke belakang untuk mencari obeng. 

Saya: "Kalau orang normal, tahu kalau istrinya jatuh itu yang pertama dilakukan adalah bertanya dan melihat, apa yang sakit, gimana kondisinya, diambilin minum dan lain-lain lho... Bukan nyari obeng dan ngecek motornya" Saya berlalu ke belakang untuk mencuci tangan. 

Mas Bojo dengan cengengesan mengikuti saya ke belakang dan mengambil beberapa obat dari kotaknya. 

Long short story, pertolongan pertama pada kecelakaan sudah dilakukan. Setelah semalaman tidur, ternyata esok harinya tangan saya semakin sakit. Saya memanggil ibu yang biasa melakukan pijat keseleo. Saya menangis ketika pijatannya sampai ke bagian pundak. Hiks... 

Setelah dipijat, saya merasa enakan. Namun sayang hanya untuk semalam saja. Esok harinya, saya merasa lebih sakit. Akhirnya diantar oleh teman, saya ditemani Mas Bojo untuk pergi ke ahli pijat tulang Cimande cabang Cilebut. Haji Ghoni. 

Mau tahu rasanya bagaimana saya ditangani oleh ahli tulang nya Cimande cabang Cilebut ini? Subhanallah sekali kakak. Saya merasa seperti di KDRT oleh si akang pijat. Pergelangan tangan saya yang terkilir, di kepret (literally) atau digampar dengan telapak tangannya bolak balik, sampai si akang lelah. Dan saya hanya bisa pasrah sambil berpikir "Si akang ini punya istri apa enggak ya? Kalau punya, berantem sedikit terus nggampar istrinya bisa langsung koprol pasti". 

Si akang nya sih bilang pada saya bahwa saya dipersilakan untuk berteriak jika merasa sakit. Tapi oh ya please, itu tempat rame banget. Malu kakak kalau mau nangis. Padahal, saya ini kan lumayan bisa dan biasa menahan rasa sakit, level tahan sakit saya cukup tinggi. Namun kepretan Cimande ini luar biasa sekali deh pokoknya. Tetapi semua pedih perih panas dan nyeri akibat kepretan itu semua terbayar dengan sangat-sangat berkurangnya sakit ditangan saya. Saat pulang, dengan rasa sakit memar, bukan lagi sakit keseleo. Alhamdulillah

Meski hingga kini rasa nyeri masih sering muncul ketika saya mengangkat beban sedikit berat, namun saya bisa melakukan banyak hal hampir normal. How blessed I am... 

Nah, 

Sekarang beranjak mengenai judul yang saya pilih untuk ocehan saya hari ini. Dark Spot. Titik Gelap. 

Entah bagaimana dengan orang lain dalam menghadapi 'sesuatu yang pernah terjadi dimasa lalu dan meninggalkan nyeri'. Mungkin ini yang biasa disebut dengan trauma? Mungkin. 

Yang jelas, untuk saya, kecelakaan saya sebulan lalu itu meninggalkan sebuah titik gelap atau remang-remang untuk saya. Selama ini saya tidak pernah merasa takut naik motor di jalanan. Namun setelah kecelakaan itu, setiap kali mendekati atau melewati lokasi kecelakaan itu, secara otomatis tubuh saya bereaksi. Dengan sendirinya tangan saya akan menekan rem lebih dalam dari sebelumnya dan kecepatan saya turunkan sedemikian rupa. Fokus dan perhatian saya mendadak tersedot pada jalanan itu, berusaha untuk tetap waspada. 

Saya merasa sedikit terganggu dengan kondisi ini, namun jika dilihat dari sisi cerahnya, maka mungkin bisa dibilang saya belajar dari pengelaman lalu. Dan mencoba menjadi driver yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Meskipun hanya diwilayah itu saja. Hahaha... 

Anyway...

Be careful and mindful ketika berkendara ya temans... Stay safe...

#UdahItuAja

#KepanjanganIntronya

#SelamatMenyambutImlek

#HaveALongWeekend

Friday, January 29, 2021

Untitled Bad Day

Well, today is just another (bad) day... I Guess

Sepertinya saya PMS. 

Nafsu untuk memamah (bukan biak) manusia memenuhi dada dan kepala. Tapi on the bright side, ini membuat saya menambah deretan dunia khayal saya. Jikalau suatu saat saya kebanjiran uang dan peluang, saya akan mengumpulkan teman-teman yang pintar berbahasa inggris dan ingin mengajar bahasa inggris, ataupun merekrut orang yang ingin mengajar bahasa inggris. Syaratnya cuma satu (selain daripada kemampuan bahasa inggrisnya pastinya), yaitu mengedepankan pelayanan dan memiliki mental melayani. 

Dalam kegemasan saya hari ini, saya semakin memahami ke-masuk akal-an biaya sekolah yang nilainya bisa membuat kita geleng-geleng kepala di jaman now. Apalagi kalau sekolahnya sudah menggunakan tagline "International school" atau "English as a daily language" nya. Kenapa? Karena anak-anak akan mendapatkan pelajaran dan praktek bahasa inggris lebih banyak, dilingkungan yang menyenangkan (setidaknya mostly menyenangkan). Bukan di lingkungan yang kadang terasa diskriminasi atau mengecilkan orang lain, entah dengan pertimbangan apa. 

Long short story, akhirnya K, Saya, dan Mas Bojo memutuskan untuk bergabung dengan sebuah lembaga bahasa inggris yang konon katanya cukup melegenda dengan pengalamannya yang lebih dari 40 tahunan itu. Long story nya sangat long, jadi saya simpan untuk kapan-kapan (kalau mau) ya. 

Sebetulnya saya ingin bercerita panjang lebar mengenai pengalaman yang menggemaskan hari ini, namun saya kok malas membuang lebih banyak energi untuk itu. Tapi saya juga tidak ingin memendam kesal karena PMS hari ini didalam hati. Jadi, saya keluarkan banyak-banyak, namun sedikit saja tulisan disini. Sekedar pengingat mengenai konsekuensi yang pernah kami ambil bersama. Seperti sebuah kata bijak yang berbunyi, "Tidak ada kesalahan, yang ada hanyalah sebuah keputusan dan konsekuensi yang harus kita terima dan jalani". Exactly. 

Obrolan saya hari ini bersama teman yang anaknya ikut kelas bahasa yang sama, namun ditempat yang lain: 

Saya: "Hei, selama ini, komunikasi tentang kelasnya M di situ, pakai apa? WA? lancar?"

Teman 1: "Halo, iya pake WA. Lancar. Selalu dibalas cepet. Aku punya 3 nomer, 3-3 nya selalu fast respond"

Saya : hhh... okay, catet dulu. 


Kemudian saya bertanya pada teman yang anaknya ikut kelas di tempat yang sama dengan K, hanya berbeda level: 

Saya: "Hei, lo komunikasi sama itu, via WA juga? Lancar?" 

Teman 2: "Enggak bangettt... Nggak lancar... bla bla bla bla... Cuma karena gw udah bayar sekaligus aja ini jadi mau nggak mau terus... Bingung mau pindah kemana... Males kalau blah blah blah..." 

Curhatnya lebih panjang dari saya. Catet dulu. 

Sayapun bertanya pada tetangga yang anaknya juga ikut kelas di tempat yang sama, berbeda level juga. 

Saya: "Tante, komunikasi sama itu pake apa? WA? Lancar?"

Teman 3: "Enggak mbak. Nggak lancar blasss. Awalnya saya pikir karena beda level sama murid lain. Maklum yang lain dijemput pake alphard atau mercy. Tapi setelah online kok ya sama aja"

Saya tertawa mendengar alasan tetangga saya. Mas Bojo yang mendengar alasan tetangga saya, mengiyakan karena dia banyak mendengar berita tentang diskriminasi yang terjadi di lembaga itu. Catet lagi. 

Mau tahu obrolan saya dengan mereka? It's be like:

(Ini setelah sebelumnya pernah kejadian juga, pesan tidak dibaca sampai dengan waktunya trial. Ketika selesai trial, Mbak nya bilang "Nanti kalau ada pertanyaan, silakan di WA saja bu". Dan saya langsung menjawab "Oh, ok. Tapi mungkin WA saya kemarin dibaca dulu kali ya mbak?" eeerrr) 

Date: 27 January 2021 - 10 pagi

Saya: Pagi, maaf mau nanya kalau buku les K ready kapan ya?

.

.

.

08.30 malam

Mereka: Baru dibaca dan dibalas, mengatakan bahwa akan mengecek dengan finance.


Date: 29 January 2021 - 1 siang

Saya: Udah ada hasil ngeceknya belum ya? (Sudah malas bermanis-manis rasanya)

Jam 2 siang dibalas (cepet hitungannya ini yekaaan)

Mereka: Siang ibu, bukunya baru ready di hari ini, maaf baru mengabari kembali. Sudah dapat diambil ya mama K. Terima kasih. 

Saya: Ok. Saya kirim gojek. 


Setelah buku tiba, saya melihat benar-benar hanya 2 buah buku tanpa petunjuk apapun. Jadi saya WA lagi mereka. Sangking malasnya basa-basi, saya WA: 

Saya: "Would you mind to give us guidance on how to join the class next week, please? "

Ajaib!!!

Langsung dibuka, langsung dibalas. Amazing, huh? 

Saya: "Nice to hear your quick respond. finally. for once. Thank you. 

Dan ternyata ketika saya log in ke web nya, jadwalnya belum ada. Aaarrrggghhh... Malas banget sebenernya balik lagi nanya. Apbolbu lah ya. Apa boleh buat... 

Saya: "One more question please. When will the schedule of the class available in the website?"

Dan amazingly, langsung dibuka, dan dibalas. 


Well, it is what it is...

Sudah bayar, sudah komitmen ikut kelas selama kurang lebih 4 bulan, jadi ya Suck It Up, Wilis!!! 


Sekian curahan erosi jiwa emak-emak yang lagi PMS ini. You guys have a good weekend! :-)