Friday, November 1, 2019

Not Easy to be Present

Being present... 

Adalah materi yang diberikan oleh salah satu pemateri training komunikasi dikantor kami pada saat annual meeting kemarin. Pemateri ini adalah pemateri yang konon katanya dipakai juga oleh apple dan google untuk team mereka. What an honor banget nggak sih bisa ikutan... 

Setelah mengikuti sesi nya, memang saya menjadi jatuh hati. Jenis materi ini yang sudah lama sekali saya tunggu-tunggu untuk hadir dilingkungan kerja saya. Saya sangat menikmati sesi yang dibawakan dengan rileks (meskipun denger2 tidak serileks harganya. ahahaa). 

Namun sayang, karena fokus utama kantor saya untuk menggunakan jasa pelatih itu bukan untuk divisi saya, tapi divisi lain. Jadi waktu yang saya ikuti hanya sedikit. Tapi lumayan lah daripada tidak sama sekali. Setelah mengikuti sesi singkat itu, ternyata semakin memperkuat keinginan saya untuk ikut pelatihan serupa lagi dan lagi. Nah loh gimana ini... Entahlah apakah keinginan rakyat jelata ini akan sampai pada telinga baginda raja... #eeeaaa #mulailagilebaynya

Intinya, untuk bisa berkomunikasi dengan baik, bisa mendengarkan pesan, menerima pesan, dan menyampaikan kembali pesan dengan benar itu, kita harus being present. Benar-benar present. Hadir. Nggak setengah-setengah, nggak sambil melamun apalagi. #itusaya

Contoh yang dipakai hanya kata yang bunyinya SAN. Interpretasi mulai datang macam-macam dari berbagai penjuru ruangan. Ada yang bilang Sun Rise, ada yang bilang daylight, ada yang bilang morning. Dan saya koq mikirnya anak laki-laki. ahahaha... Gitulah intinya. 

>>> Dengar-Dengar <<<
Si seseibu yang itu mau hadir kembali dan diimpor kenegri tercinta. Duh, berharap banget bisa diikutsertakan dalam pelatihannya lagi. Meskipun cuma suruh duduk, mendengarkan, atau bantuin transfer flipchart ya boleh lah. Segitu memang pengennya saya ikutan... ahahaha

Let's cross our finger, #backofficesquad !!!

Nah, kalau sekarang ini saya mau nyampah perihal kesulitan saya being present. Mendadak muncul disuatu sore kalau tidak salah. Jadi seperti biasa tangkapan layar status bekerja. Seperti ini:


Saya lebay ya?

Iya memang... Nggak usah bilang enggak... Karena memang iya... ahhahaaa

Kepala saya ini, seperti kuda yang masih baru turun gunung. Kadang dia bisa anteng aja khusyuk makan rumput sambil mendengarkan sekeliling. Tapi kadang bisa mulai jalan-jalan sendiri maju mundur syantiek. Terkadang pula bisa mendadak lari tak tentu arah naik turun gunung  gitu. Nggak percaya? Duh, gimana ya menjelaskannya... Ya gitu lah pokoknya.

Hamparan dan Suara Air, serta perjalanan, adalah area rawan yang menjadi favorit saya. Itu juga sangat benarrrr...

Orang-orang yang cukup lama bersama saya, pasti tidak asing dengan suara mellow mendadak dari saya yang bunyinya "Duh, aku mulai mellow... Seperti onggokan daging" manakala ada hamparan air disekeliling saya. Biasanya kalau saya ada ditepi sungai, tepi danau, diatas laut, dipantai, dikolam, atau sejenisnya. Karenanya kemana-mana saya selalu membawa buku (novel/sudoku/kindle) atau juga menggunakan note di hp saya. Untuk jaga-jaga ketika jiwa mellow saya menang dan muncul barisan-barisan kata yang kadang syahdu tralala... #eeeaaa

Teman-teman kerja saya sih sudah lebih biasa dan cuma komen pendek "Dih, si Wilis kumat noraknya". dan meninggalkan saya meleleh dipinggiran, atau malah memancing saya mulai menyanyi. #dih #temanmacamapa

Di perjalanan?
Ini juga... Duh, banyak banget yang mau ditulis, tapi berlarian duluan dikepala. Gimana ini?

Ok. Satu-satu pakai contoh saja.

Pertama perjalanan dengan pesawat. Ini biasanya obrolan saya bersama Mbak D, atau si Bambang alias Salmul.
Saya      : Aku yang jendela aja ya
Mereka : Aku aja yang jendela.
Saya      : Kalian buat apaan jendela
Mereka : Ya buat tidur lah apalagi
Saya      : Duh sayang banget jendela buat tidur... Mending buat aku... Aku perlu jendela buat melamun... Memandangi hamparan awan... Melihat bumi dari kejauhan... Mengurai isi kepala yang tumpuk menumpuk sambung menyambung menjadi satu...
Mereka  : Ih amit-amit....


Kedua adalah perjalanan dengan kereta. Kalau ini sih biasanya tidak pernah ada perdebatan. Karena hanya ada antara saya dan mas bojo. Eh enggak dink. Sekarang ada K yang juga suka duduk di jendela untuk melihat-lihat pemandangan. Which is fine karena pada akhirnya dia akan menikmatinya bersama saya. Melihat pepohonan, kampung-kampung, kota-kota, kebun-kebun, sungai, dan lain sebagainya bergerak diluar jendela kereta, adalah juga favorit saya. Menyenangkan.

Ketiga adalah perjalanan dengan kendaraan darat seperti mobil, bis, truck, dan lain sebagainya. Sama seperti dengan kereta... Saya menyukainya. Waktu diperjalanan, adalah waktu berharga yang biasanya saya gunakan untuk diri saya sendiri... That's my quality me time...

Ke empat adalah perjalanan diatas laut...
Ini sering sekali membuat saya meleleh bagaikan onggokan daging ditepian. Biasanya saya akan menyibukkan diri dengan membaca. Kalau tidak, mata saya akan terpaku menatap kejauhan, dengan isi kepala yang berenang-renang timbul tenggelam dilautan dalam. Suatu saat saya bersama dengan teman-teman organisasi pecinta alam harus naik kapal KM. Wilis dari Jakarta ke Ketapang. Butuh waktu 3 hari 2 malam diatas kapal. Hampir semua teman saya tumbang dengan muntah dan mabuk laut. Saya? Saya sangat menikmati perjalanan dengan duduk di geladak menunggu Ikan Indosiar muncul. Saya merasa tenang dan damai.
Suatu waktu saya sedang traveling sendirian untuk merayakan tahun baru ke Karimun Jawa. Dari Pelabuhan Kartini Jepara saya naik kapal ke Karimun Jawa. Saat itu saya membawa buku Perahu Kertas nya Dee Lestari... Komplitlah sudah perjalanan itu saya habiskan dengan bermellow ria bersama Kugy dan Keenan. Terlebih lagi saya menginap di Wisma Apung yang benar-benar mengapung diatas laut. Ditambah dengan mereka-mereka teman baru yang unyuk unyuk yang kemudian menjadi teman seperjalanan sampai dengan pulang. Komplit sekali.

Yang kelima adalah perjalanan diatas motor....
Sudah pasti ini yang paling tidak dianjurkan, tapi apa mau dikata. Kepala saya terkadang suka nakal dan bergerak sendiri. Beberapa kali saya hampir nyeruduk karena ke mellow an saya ini. Gitu deh pokoknya.

Seperti yang saya sertakan dalam screenshot an diatas, antara past dan future saya, itu ternyata adalah bagian besar dari present saya. Saya sedang dalam masa uji coba untuk ini. Doakan saya pemirsa!

Love,
WJ

Wednesday, October 23, 2019

Manage Your Expectation, Babe !


You have your own responsibility to be happy, to make your life happy, to make your body happy, to make your days happy, and to make your end of life happy... 
Only you, yourself, and yours... 
No one else... 


Some people might find the other way around to make their life happy... You should too...

Don't spend too much time to push someone else to understand you. I've tried once and it's a disaster. Hahaha

Just take a deep breath, and let everything  that out of your control out of your body and your mind... 

No need to keep them and eat any space on your mind or body... It's useless... Trust me!

Ok everyone, just be happy!

:-) 

Tuesday, October 22, 2019

Walking Tour Olhào, Portugal

Olhào, Faro mulai terasa seperti kampung halaman Kantor Ikan. Setiap keluar kamar dan berjalan di jalanan, terlihat muka-muka familiar yang kemudian tersenyum bersama, saling sapa, bertanya kabar, kapan sampai, bagaimana perjalanannya, endebleh endeblah...

Meeting tahun ini diawali dengan beberapa berita yang kurang mulus dari berbagai arah seperti, Ananta & Dono pesawatny delayed 2 kali dan mereka harus stayed over night di Singapura untuk 24 jam, Amy pesawatnya di cancel di Boston, dan yang paling buruk adalah Enrique tidak bisa hadir karena kondisi Chile yang semakin parah dengan demo anarki nya. Semoga mereka semua selalu dilindungi oleh-Nya dan selamat serta aman damai dimanapun mereka berada. Aamiin.

Meeting mulai besok untuk sebagian orang, termasuk saya. Hanya beberapa yang mulai meeting untuk donor tertentu hari ini. Karenanya kami bersepakat untuk mengikuti walking tour selama 2 jam. Lumayan mengisi waktu sambil olah raga. Setelah sarapan kami berkumpul di Lobby. Rupanya hanya sebagian orang yang jadi ikut walking tour, sebagian lainnya memilih untuk berjalan sendiri.

Tim Structured tour berpisah dengan Un-structured team. Kami yang Structured team, berjalan menuju lokasi tour guide seperti yang telah disepakati. Kemudian guide kami yang namanya Claudia, membawa kami berputar-putar kota, menunjukkan beberapa spot yang memiliki sejarah khusus bagi Kota Olhào ini. 

Beberapa photo dari kegiatan walking tour today, as below: 
























Antara Madrid dan Faro

[Antara Madrid - Faro, 21 October 2019]







Monday, October 21, 2019

Coffee, Juice, and Good Friend

Love, Live, and Breath :-)


[Madrid, 21 October 2019]

Ditemani segelas kopi dan segelas jus jeruk, bercengkerama mengenai kehidupan, pelajaran, dan management emosi bersama senior.

It's a lovely day, back in Madrid Airport since the last time 2 years ago.

Hala Madrid!!!

Masih Banyak Orang Baik di Luar Sana



[Doha, Around Midnight, 20-21 October 2019]

Jangan pernah takut bepergian sendirian, karena banyak sekali orang baik di luar sana... Juharini,2019

Menjelang tengah malam, disuatu negara dibelahan bumi lain. Ribuan kilometer dari rumah, dari tempat tidur dimana Mbak K dengan lelap tertidur tanpa ibunya. Aku berjalan bergegas menaiki shuttle bus yang akan membawa ke terminal transfer. Waktu transit yang kurang dari 2 jam, membuatku ingin segera tiba diterminal dan bersantai menikmati Malam di Doha, meskipun hanya di bandara saja.

Didalam Bus yang tidak terlalu penuh, kuedarkan pandangan kepada penumpang yang lain. Pandanganku berhenti pada seorang bapak yang hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek. Pikiranku berkata "buset, kuat banget si bapak. Padahal kan sekarang musim angin. Dingin."

Tetiba badanku membeku, otakku mulai bekerja, dan sedikit kepanikan mulai menyerang. Kulayangkan pandangan keluar jendela sambil merutuk diri sendiri atas kecerobohan yang lagi-lagi harus terjadi. Kutarik nafas panjang beberapa kali, dan kukirimkan pesan kepada suamiku yang sudah terbangun diseberang sana. "Jaketnya Salmul ketinggalan di pesawat". Dan seperti yang sudah kunantikan, rentetan bla bla bla yada yada dia sampaikan. Aku hanya tersenyum miris sambil menarik nafas panjang lagi. Iya. Jaket yang sengaja diantarkan Jeng Salmul kerumah kemarin untuk dibawa terlebih dulu bersamaku, tertinggal di kursi pesawat nomer 17F itu. OMG. Why? Again?

Akhirnya setelah sekitar 20 menit bus berhenti di sebuah terminal. Akupun bergegas menemui petugas yang ada di lantai 1 dan bertanya cara memproses barang yang tertinggal. Petugas memberikan arahan dan akupun mengikutinya. Petugas counter yang baik hati membantu menginfokan pada petugas ground floor untuk mencari. Namun sayang akan memakan waktu 20 menit untuk ke pesawat, dan jikapun ketemu, akan memerlukan another 20 menit lagi untuk membawanya kembali. Kutengok waktu boarding pesawatku selanjutnya, kurang dari 1 jam. Aku bertanya padanya apakah kira-kira cukup waktunya, dan dia bilang it should be okay. Baiquelah... Kita tunggu saja.

Menunggu nasib jaket yang tak jelas nasibnya di Doha


Akupun menunggu dengan harap-harap cemas. Sambil sesekali melihat jam yang terasa berjalan cepat sekali. Aaaahhh... 20 menit kemudian, aku kembali ke counter menanyakan apakah ada jaket biru tertinggal, dan petugas yang namanya Kian itu bilang ada jaket biru tertinggal. Lega pertama. Tinggal menunggu another 20 menit lagi sampai barang datang. Jika jaket itu tidak berhasil kembali padaku saat ini juga, aku harus mengambil lagi di Doha atau di Madrid. Tidak bisa sampai Faro karena aku berganti pesawat di Madrid. Kutunggu lagi dengan cemas karena waktu boarding semakin dekat.

Akhirnya, Mas Kian (yaelah Mas... ) Turun dan mengambilkan barang-barang yang baru diambil dari pesawat. Beberapa orang menampakkan ekspresi lega ketika menerima barang dari Mas Kian. Ketika kulihat jaket biru yang dibawanya, aku diam dan menarik nafas panjang lagi. Setengah menangis dalam hati. Itu bukan jaketku. Long short story, karena ternyata yang ditemukan bukanlah jaketku, Mas Kian memberikan selembar kertas yang berisi alamat email untuk mengclaim lost and found barang. Baiquelah... Mau bagaimana lagi...

Dengan berat hati, aku mengabarkan kabar duka ini kepada Salmul (dan Ijah). Hiks... Sedih sekali... Sangat-sangat sedih...
Dengan lunglai, akupun memasuki jalur antri metal detector untuk menuju gate E21. Ternyata harus nyambung dengan kereta karena lokasi gate ada di ujung. Didalam kereta, pikiranku tidak terlalu penuh. Kurang fokus. Pikiran berseliweran tanpa sempat kutangkap isinya.

Akhirnya akupun semakin pasrah dan melangkah menuju gate E21. Ketika mataku sedang nyalang mencari tulisan E21, aku melihat sepasang bule yang berjalan kearahku. Sekilas aku seperti mengenal sosok mereka. Dan ketika pandanganku bergeser ke arah tangan yang perempuan, aku ternganga. Benar-benar ternganga. Mereka berjalan mendekatiku. "This is yours, right?" Dan aku hanya bisa bilang "Oh My God... Oh My God... Oh My God... ". 

Setelah kami benar-benar dekat, akupun memeluknya. "Yes... Yes... Yes.. this is mine. You know what, I've been waiting for the guy who tried to find it back to the aircraft. Like more than half hour... Oh My God..." Dan dia bilang "Ya... We saw that you left your jacket, and We find that you heading to Madrid, so we're waiting here..." Dan aku masih dengan syoknya, berkali-kali bilang " Oh My God... Yes yes yes... Thank you... Thank you... Thank you so much...". 

Thank You!!!

Sampai pas mereka bilang mau pergi, aku baru bisa menggunakan otakku sedikit dan menanyakan tujuan mereka. Ternyata mereka mau pulang ke Italy, rumahnya didekat Pisa. Akhirnya dengan sedikit terburu-buru aku meminta foto bersama. Dan saking otak kurang berfungsi penuh, aku tidak sempat menanyakan nama atau kontaknya. Duuuhhhhh... Maafkan!!!

Dear you two... ZILLION thanks to both of you!!! I really really really thankful that you're my guys next seat. God must be loved me so much that He sent you next to me, the sloppy one. I am so sorry that we don't have time to do a proper introduction or proper talk. But really do hope you two have a safe flight back home. May God bless both of you always. And if it's possible, maybe He will let us cross our path one way or another in the future... Again, THANK YOU!!!

Note: If both of you somehow find this post, please reach out to me via inbox. I would be more than very happy to re-introduce myself, to talk to you and shared about many more things. And I'd like to thank you again, in a proper way :-)

Ini bukan kali pertama perjalananku terbantu oleh orang-orang baik... Baik yang kenal, dikenalkan kenalan, kenalan dijalan, ataupun yang tidak kenal sama sekali. Beberapa kemudian menjadi teman, beberapa lain tidak sempat berkenalan... Doa yang sama untuk kalian semua...

I always believe, that Karma does exist... Whether good, nor bad...
That's the simple rule of life...

Kalau kata Nonnet, Semesta bekerja dengan caranya sendiri... :-)

#Blessed
#LoveIsOurMission
#flightwithQatar
#JakartaDohabyQatar
#seat17F

Sunday, October 20, 2019

It's A Me and Myself Time


[Gate 1D, Terminal 3 - Soetta Airport]
20 October 2019

Ku hela nafas sedikit lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya berjalan menuju antrian yang panjangnya tak seberapa. Beberapa menit yang lalu, pelukan hangat yang seolah enggak terlepas dari anakku yang masih TK tapi terkadang jauh lebih bijaksana dari aku, perlahan lepas. Rentetan pesan kusampaikan padanya, dan dia hanya membalas dengan anggukan, senyuman, dan ditutup dengan sebuah pesan "Jangan lupa pesanan aku ya Bunda..." Katanya. Aku tersenyum. Anakku, sangat tahu apa yang dia mau. Dan ketika dia mau sesuatu, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk memperolehnya. Termasuk pesanan khusus ketika Bunda nya mau pergi lebih jauh seperti ini. Dia sudah memiliki list pesanan sendiri.

Akupun melangkah keluar dari metal detector yang menghubungkan ruang tunggu dengan area Imigrasi. Bayangan anak dan suami yang melepasku tadi, perlahan mulai memudar. Teriringi doa untuk mereka, agar selamat sampai rumah kembali, dan semua urusan berjalan lancar sampai dengan saatnya kami bertemu lagi, 3 minggu lagi.

Setelah petugas Imigrasi memberikan cap nya, akupun berjalan menuju arah Gate yang tertera di boarding pass ku. 1D. Aku tersenyum dan menarik nafas kembali. Lumayan bisa berjalan beberapa ratus langkah, pikirku menghibur diri. Sambil berjalan menyusuri ruang tunggu demi ruang tunggu, pikirankupun terus berjalan kebelakang. Beberapa minggu terakhir.

Entah kenapa aku tersenyum lagi, sendiri. Flashback kepada waktu, kepada orang, kepada keadaan, dan kepadaku... Inilah saat yang menjadi favoritku. Saat diperjalanan. Saat kembali melihat, merasakan, dan menata serpihan puzzle yang teracak.

Pertama... Gelas kaca yang telah retak, yang pernah dicoba untuk disatukan kembali, ternyata tidak berhasil. Saatnya untukku merelakannya. Pernah ada suatu masa aku memenuhi kepalaku dengan pertanyaan "kenapa, mengapa, bagaimana bisa, apakah mungkin, bisakah, bagaimana jika, yada yada yada...". Pernah aku berada pada masa mengadu pada suamiku "kenapa bisa, bagaimana menurutnya, apakah pendapatnya, yada yada yada...". Dan kini, sepertinya semua sudah terpampang nyata didepan mata. Saatnya melepaskan semua isi kepala yang penuh tanya itu, menghilangkan kerak yang masih tersisa dari sisi hati, dan merelakan semua kenangan menjadi kenangan. Terkadang, kenangan akan lebih terasa manis ketika ia dibiarkan menjadi kenangan dibelakang sana. Sesekali bisa ditengok kembali, manakala hati kembali jatuhcinta pada masa lalu...

Konon katanya, merelakan dan melepaskan sesuatu, bukan berarti kita tidak perduli. Tetapi berhenti memaksa orang untuk perduli pada kita. Itu saja.

Kedua...Memperbaiki niat dan cara untuk berpartisipasi menjaga Bumi agar bertahan sedikit lebih lama. Kembali berfokus pada diri sendiri dan keluarga terdekat, sehingga orang bisa melihat dan meniru. Bukan mendorong orang terlalu keras, sehingga rawan disangka memaksa. Tidak semua orang senang didorong, apalagi dipaksa. Tapi banyak orang yang senang melihat contoh baik dan meniru. Kalau ada yang tetap tidak senang, ya tidak apa-apa. Bukan tugas kita sebagai manusia untuk menyenangkan semua orang. Dan dimana-mana, selalu akan ada orang yang tidak senang. Jadi, kenapa harus terganggu?

Ketiga...Menghadapi jiwa yang sedang rapuh dan banyak tekanan, rupanya bukan hal yang mudah. Sudah harus semakin berhati-hati dalam memilih dan memilah huruf demi huruf yang keluar dari mulut. Melihat sesaat, menimang sekejap, dan mempertimbangkan baik dan buruk sebelum mulai merespon sesuatu. Sudah merupakan kebutuhan. Mulai membiasakan semua pusat dari semua keluaran dari "diri sendiri" adalah wajib. Tidak lagi mengharapkan pemakluman dari orang lain, tapi sebaliknya, harus banyak memaklumi. Kehidupan orang diluar sana, banyak yang jauh lebih berat dan keras daripada kehidupan kita. Dengan banyak bersyukur, maka proses pemakluman akan jauh lebih terasa ringan.

Keempat...Proses tumbuh kedalam... Tidak mudah, namun bukan suatu hal yang mustahil. Bahkan harus dan wajib kita lewati. Terkadang harus diawali dari pertanyaan demi pertanyaan... Penyangkalan demi penyangkalan... Kesedihan demi kesedihan... Namun pada akhirnya, akan datang saat kepasrahan dan penerimaan... Ketika pasrah, nerimo, legowo, semeleh dan yakin pada takdir sudah hadir, Insya Allah proses tumbuh kedalam mulai terjadi... Rasa malu untuk mengangkat tangan pada mereka yang lebih mengerti, sudah berhasil dilenyapkan. Setelah perjalanan panjang ini, akan segera diwujudkan.

Tak terasa, ruangan tunggu yang tadi sepi mulai meramai. Kursi-kursi mulai terisi, udara mulai riuh dengan suara-suara orang berbincang, pengumuman demi pengumuman mulai berkumandang. Kurang dari 15 menit lagi, pesawat yang akan membawaku terbang jauh ke Qatar sana, akan segera dibuka pintunya. Saatnya untukku bersiap dan berdoa.

Semoga perjalananku lancar tanpa kendala. Tiba dengan selamat dan bertemu dengan teman-teman lainnya. Aamiin.

Oh iya... Selamat kepada Bapak Jokowi dan Bapak Amin Ma'ruf yang hari ini dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Semoga acara lancar, tidak ada insiden dari orang-orang yang ingin negri ini mundur, dan pemerintahan selama 5 tahun kedepan semakin baik. Saya sangat ingin anak cucu saya tumbuh dinegara yang maju dan penuh harapan. Aamiin.

Terima kasih kepada Bapak Jusuf Kalla dan jajaran menteri yang tidak lagi menjabat atas 5 tahun perjuangan yang tidak mudah.

Majulah Indonesia!!!