Sunday, October 20, 2019
It's A Me and Myself Time
[Gate 1D, Terminal 3 - Soetta Airport]
20 October 2019
Ku hela nafas sedikit lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya berjalan menuju antrian yang panjangnya tak seberapa. Beberapa menit yang lalu, pelukan hangat yang seolah enggak terlepas dari anakku yang masih TK tapi terkadang jauh lebih bijaksana dari aku, perlahan lepas. Rentetan pesan kusampaikan padanya, dan dia hanya membalas dengan anggukan, senyuman, dan ditutup dengan sebuah pesan "Jangan lupa pesanan aku ya Bunda..." Katanya. Aku tersenyum. Anakku, sangat tahu apa yang dia mau. Dan ketika dia mau sesuatu, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk memperolehnya. Termasuk pesanan khusus ketika Bunda nya mau pergi lebih jauh seperti ini. Dia sudah memiliki list pesanan sendiri.
Akupun melangkah keluar dari metal detector yang menghubungkan ruang tunggu dengan area Imigrasi. Bayangan anak dan suami yang melepasku tadi, perlahan mulai memudar. Teriringi doa untuk mereka, agar selamat sampai rumah kembali, dan semua urusan berjalan lancar sampai dengan saatnya kami bertemu lagi, 3 minggu lagi.
Setelah petugas Imigrasi memberikan cap nya, akupun berjalan menuju arah Gate yang tertera di boarding pass ku. 1D. Aku tersenyum dan menarik nafas kembali. Lumayan bisa berjalan beberapa ratus langkah, pikirku menghibur diri. Sambil berjalan menyusuri ruang tunggu demi ruang tunggu, pikirankupun terus berjalan kebelakang. Beberapa minggu terakhir.
Entah kenapa aku tersenyum lagi, sendiri. Flashback kepada waktu, kepada orang, kepada keadaan, dan kepadaku... Inilah saat yang menjadi favoritku. Saat diperjalanan. Saat kembali melihat, merasakan, dan menata serpihan puzzle yang teracak.
Pertama... Gelas kaca yang telah retak, yang pernah dicoba untuk disatukan kembali, ternyata tidak berhasil. Saatnya untukku merelakannya. Pernah ada suatu masa aku memenuhi kepalaku dengan pertanyaan "kenapa, mengapa, bagaimana bisa, apakah mungkin, bisakah, bagaimana jika, yada yada yada...". Pernah aku berada pada masa mengadu pada suamiku "kenapa bisa, bagaimana menurutnya, apakah pendapatnya, yada yada yada...". Dan kini, sepertinya semua sudah terpampang nyata didepan mata. Saatnya melepaskan semua isi kepala yang penuh tanya itu, menghilangkan kerak yang masih tersisa dari sisi hati, dan merelakan semua kenangan menjadi kenangan. Terkadang, kenangan akan lebih terasa manis ketika ia dibiarkan menjadi kenangan dibelakang sana. Sesekali bisa ditengok kembali, manakala hati kembali jatuhcinta pada masa lalu...
Konon katanya, merelakan dan melepaskan sesuatu, bukan berarti kita tidak perduli. Tetapi berhenti memaksa orang untuk perduli pada kita. Itu saja.
Kedua...Memperbaiki niat dan cara untuk berpartisipasi menjaga Bumi agar bertahan sedikit lebih lama. Kembali berfokus pada diri sendiri dan keluarga terdekat, sehingga orang bisa melihat dan meniru. Bukan mendorong orang terlalu keras, sehingga rawan disangka memaksa. Tidak semua orang senang didorong, apalagi dipaksa. Tapi banyak orang yang senang melihat contoh baik dan meniru. Kalau ada yang tetap tidak senang, ya tidak apa-apa. Bukan tugas kita sebagai manusia untuk menyenangkan semua orang. Dan dimana-mana, selalu akan ada orang yang tidak senang. Jadi, kenapa harus terganggu?
Ketiga...Menghadapi jiwa yang sedang rapuh dan banyak tekanan, rupanya bukan hal yang mudah. Sudah harus semakin berhati-hati dalam memilih dan memilah huruf demi huruf yang keluar dari mulut. Melihat sesaat, menimang sekejap, dan mempertimbangkan baik dan buruk sebelum mulai merespon sesuatu. Sudah merupakan kebutuhan. Mulai membiasakan semua pusat dari semua keluaran dari "diri sendiri" adalah wajib. Tidak lagi mengharapkan pemakluman dari orang lain, tapi sebaliknya, harus banyak memaklumi. Kehidupan orang diluar sana, banyak yang jauh lebih berat dan keras daripada kehidupan kita. Dengan banyak bersyukur, maka proses pemakluman akan jauh lebih terasa ringan.
Keempat...Proses tumbuh kedalam... Tidak mudah, namun bukan suatu hal yang mustahil. Bahkan harus dan wajib kita lewati. Terkadang harus diawali dari pertanyaan demi pertanyaan... Penyangkalan demi penyangkalan... Kesedihan demi kesedihan... Namun pada akhirnya, akan datang saat kepasrahan dan penerimaan... Ketika pasrah, nerimo, legowo, semeleh dan yakin pada takdir sudah hadir, Insya Allah proses tumbuh kedalam mulai terjadi... Rasa malu untuk mengangkat tangan pada mereka yang lebih mengerti, sudah berhasil dilenyapkan. Setelah perjalanan panjang ini, akan segera diwujudkan.
Tak terasa, ruangan tunggu yang tadi sepi mulai meramai. Kursi-kursi mulai terisi, udara mulai riuh dengan suara-suara orang berbincang, pengumuman demi pengumuman mulai berkumandang. Kurang dari 15 menit lagi, pesawat yang akan membawaku terbang jauh ke Qatar sana, akan segera dibuka pintunya. Saatnya untukku bersiap dan berdoa.
Semoga perjalananku lancar tanpa kendala. Tiba dengan selamat dan bertemu dengan teman-teman lainnya. Aamiin.
Oh iya... Selamat kepada Bapak Jokowi dan Bapak Amin Ma'ruf yang hari ini dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Semoga acara lancar, tidak ada insiden dari orang-orang yang ingin negri ini mundur, dan pemerintahan selama 5 tahun kedepan semakin baik. Saya sangat ingin anak cucu saya tumbuh dinegara yang maju dan penuh harapan. Aamiin.
Terima kasih kepada Bapak Jusuf Kalla dan jajaran menteri yang tidak lagi menjabat atas 5 tahun perjuangan yang tidak mudah.
Majulah Indonesia!!!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Sepertinya, belakangan ini aku di paksa untuk bersahabat dan sekaligus bermusuhan dengan beberapa hal baru. Beberapa hal yang beraneka rupa ...
-
Saya selalu percaya bahwa Tuhan menciptakan alam beserta isinya secara menyeluruh... Tidak terpisah-pisah, dan tidak tanpa alasan... Saya ...
-
Liburan... Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi ...

No comments:
Post a Comment