Saturday, April 8, 2017

Ketika Gatal di Telapak Kaki Melanda

Pernah nggak ngerasain gatel di telapak kaki? Ganggu banget kan? Buatku sih itu sangat sangat sangat mengganggu sekali...

Digaruk, kegelian
Didiemin, gatel banget
Digosok-gosok ke kaki meja, geli-geli enak
Aaaaaahhhh.... Pokoknya gitu deh... :-p

Masalah seputar kucing juga bisa bikin telapak kaki gatel ternyata. ahahhaha #mulaideh

Aku cerita disini bukan karena aku terlalu cupu nggak berani bilang langsung, tatapi lebih karena udah bilang langsung tapi nggak berujung. Alias nggak banyak ditanggepi atau ditanggepi tapi nggak ditindaklanjuti. Gitu deh intinya mah :-p

Kucing

Makhluk hidup yang terkenal tidak setia ini adalah salah satu hewan kesayangan Nabi - kata banyak sumber sih begitu. Mustinya jika ingin menjadi kekasih Nabi, ya kita harus menyayangi dan memperlakukan kucing sebaik mungkin donk? Pacar aja, kalau masih di level cinta pasti disayang-sayang kan. Apalagi Kucing yang kesayangan Nabi. Gitu lah ya...

Nah,

Di lingkungan aku tinggal ini, sering sekali berkeliaran kucing-kucing. Baik itu kucing bagus, kucing biasa, sampai kucing yang banyak penyakitnya. Mulai dari berkalung, sampai tak berkalung. Dari tahun lalu kalau nggak salah, seiring dengan semakin ramainya penghuni komplek, semakin muncullah masalah kucing ini. Semakin banyak kucing. aaaaaahhhhh

Tau sendiri kan kucing? Sebentar-sebentar beranak. Sebentar-sebentar beranak. Kerjaannya makan boker beranak. Duh, kalau aku harus mendaftar keburukan kelakuan kucing komplek sini, habis deh energiku buat itu. Pokoknya gitulah.

Beberapa bulan lalu sempat terjadi diskusi ramai di grup RT mengenai makhluk yang satu ini. Karena ada tetangga yang komplain ikan gorengnya dicolong kucing. Ih, menyebalkan banget pasti itu rasanya. Udah mana lagi laper, goreng ikan sejumlah anggota keluarga, eh dicolong kucing entah kucing siapa pulak. zzzzzzz

Saat itu memang sepertinya sedang terjadi luapan populasi kucing yang entah darimana datangnya. Seperti ada yang melihara banyak kucing dirumah dan nggak pernah dikeluarkan, tapi mendadak dikeluarkan. Kebayang kan? Ada tetanggaku yang sangat baik hati, kalau sore suka ngasih sisa makan anaknya ke kucing, dan otomatis kucing yang lain pun ngumpul. Pernah iseng aku hitung ada kali 10 lebih. Dan berkalung. you know what I means....

Maka diskusi di grup mulai riuh rendah bla bla bla... Ada yang safe player bilang 'oh, untung bukan kucing saya", ada yang curhat "untung saya nggak punya kucing", ada yang ikut komplain "iya itu kemarin ayam saya dimakan kucing juga", ada yang protes "itu halaman saya dipake boker terus sama kucing", dll dll.

Aku? Ya pasti lah komen juga... Tapi seperti biasa juga, dengan tawaran solusi :
1. Dalam waktu beberapa hari, semua yang melihara kucing, tangkep dulu kucingnya, taro dirumah. Kandangkan.
2. In the mean time, kucing-kucing yang masih berkeliaran kan jadi ketauan kalau majikan-less. Nah sama RT yang majikan-less itu bisa di buang ke pasar. Ke tempat yang jelas banyak makanannya.
3. Kalau sudah bersih, kucing yang ada majikannya bisa di lepas. Jadi kalau mereka membuat ulah, urusannya bisa langsung sama yang punya.

Karena diskusi sempat panas, hangat, dan sedikit keras, mungkin pemilik kucing berkalung yang sedianya baru coba-coba melepaskan hewan "kesayangannya" itu jadi insaf. Karena beberapa hari kemudian kucing2 berkalung berkurang drastis jumlahnya. hehheeeee

Dan waktu berlalu... hari berganti... purnama berlalu... senyapppppp.... Kucing masih berkeliaran...

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu. Ada tetangga yang sudah sangat terganggu akhirnya komplain lagi di grup RT. Beliau merasa dirugikan atas kelakuan kucing entah punya siapa, karena sofa diterasnya di garuk sampai rusak terus, teras dan halamannya dipakai kencing/boker sama kucing, dan wiper mobilnya hampir patah karena kucingnya tidur diatas mobil nya. Kalau aku yang jadi beliau, uhuk. Mungkin sendal terbang sudah jadi jurus langganan. ahahahaha #eh

Ada tetangga yang menyampaikan pendapat mengenai program steril. Aku bantu carikan link untuk info steril kucing. Manatau ada yang perlu. Mulai lagi diskusi panjang lebar mengenai kucing. Kembali lagi itu beraneka ragam jawaban dan keluhan seperti yang aku sebut diatas. Ada yang safe player bilang 'oh, untung bukan kucing saya", ada yang curhat "untung saya nggak punya kucing", ada yang ikut komplain "iya itu kemarin ayam saya dimakan kucing juga", ada yang protes "itu halaman saya dipake boker terus sama kucing", dll dll.

Aku sudah tidak ikut campur lagi ketika orang sudah mulai riuh rendah bersahut-sahutan. Aku hanya carikan satu artikel dari internet tentang "adab memelihara kucing dalam islam". Aku share ke teman dan ndilalah temanku itu share ke grup. Aneh lho... akhirnya grup senyaaaaaapppppp... Nggak ada lagi yang komentar. Tanya kenapa? hahaha

Grup baru ramai kembali ketika tetangga yang komplain itu salah kamar posting chatnya... hehehe. Sayang nya kebanyakan jadi playing victim gitu. Clear chat. Males aja kalau ada masalah, terus bukannya mencari solusi bersama bagaimana baiknya tetapi malah "maafkan kalau kucing saya mengganggu, usir aja... " atau "mohon dimaafkan kalau kucing saya yang suka bikin ulang... dihalau saja".

Lah bu? Kalau maaf itu gampil banget... Tapi kalau kita maafkan, terus kucingnya dihalau, apa kucingnya udah tau artinya bahwa kita nggak welcome sama kucing dan akhirnya pulang kerumah? hehehe. Bagaimana dengan boker atau pipis yang ketinggalan dan ditambah lagi besok2nya? Bagaimana dengan ikan atau ayam yang sedianya buat makan sekeluarga tapi malah digondol sama kucingnya ibu?

Yang membuat telapak kaki saya terasa semakin gatal, sebetulnya adalah :
1. Kita tinggal di komplek perumahan yang mungil2 dan halamannya sempit. Bisik2 aja kedengeran tetangga. Mbok ya sedikit dipertimbangkan itu tetangganya.

2. Kalau memang sayang kucing/binatang, ya silahkan. Tapi pastikan mereka berada di area rumah ibu aja. Misal dikandangkan atau ditarok didalem rumah. Eits... pasti mau bilang kalau nanti mereka bosan? Ya kasih tau atuh... kita tinggal dikomplek sempit, jadi yang sabar ya nak. Harus prihatin. Eits... Mau bilang itu melanggar hak hidup hewan? Ya itu kan pasal pertama yang harus ibu tahu ketika memutuskan untuk memelihara hewan. Eeiitttsss... Mau bilang kalau dipelihara dirumah nanti bau ee' kucing? Lhaaaa, itu ibu tau kalau ee' kucing itu baunya nggak enak. Gimana dengan tetangga yang belum tentu suka kucing? harus kebauan ee' kucing ibu? Eitsss... mau bilang kalau nggak suka tapi anak suka? Anak kan anak kita. Tugas orang tua kan mendidik dan memberi pengertian. Kasih tau kalau kita tinggal di komplek yang sempit, kasihan hewannya nanti bosan kalau cuma di rumah sama di halaman kita. Dan kasihan kalau dilepasin, nanti mengganggu tetangga. Itu juga pendidikan yang sangat penting lhooooo :-)

3. Kalau ibu sayang dengan kucing, kemudian membuat mereka terlantar hingga akhirnya 'main' ke tetangga, bukannya itu juga Tuhan tidak akan suka? Rugi doble kan jadinya? Sudah membuat tetangga kita susah, masih juga membuat Tuhan tidak suka? Bahkan menurut artikel di internet, katanya bisa membuat kita mendapat siksa neraka lho... Ngeri kan? Dan kalau ibu bilang sayang mereka, tapi kemudian ibu membiarkan nya berkeliaran dirumah-rumah orang, yang mungkin kadang kena lemparan sendal, siraman air, dan makian, mungkin perlu dipertanyakan lagi rasa sayang ibu itu sayang yang bagaimana? Mungkin semacam "Aku mencintaimu, tapi kan cinta tak harus memiliki. Jadi aku ikhlaskan kamu pergi" ? :-p

Saya dan anak saya, sangat suka melihat hewan-hewan lucu. Kucing adalah salah satunya. Setiap melihat kucing lucu, saya pasti langsung teriak "iiiih... lucu bangetttttt... mau dooooonkkkk..."

Untungnya teman-teman sayang yang pencinta dan pemelihara kucing (dan anjing juga), selalu mengingatkan saya "memelihara hewan peliharaan itu, seperti kita punya anak. Ikatan seumur hidup. Kamu sudah siap? Kita harus memastikan dia makan baik, minum baik, sehat, imunisasi, jalan2, bersihin tempat makan/minum, bersihin tempat tidur, dll. Kamu udah siap?" Dan saya akan langsung bilang "belum..."

Anak saya selalu merengek untuk punya peliharaan lucu itu, tidak jarang berakhir tangis. Tapi saya beli pengertian bahwa nanti ketika anak saya sudah mandiri, bisa makan sendiri, mandi sendiri, beres-beres kamar sendiri, dan sudah siap untuk membantu kucing siap-siap dan beres-beres, dia boleh punya peliharaan." Belum tentu berhasil, tapi setidaknya saya coba lakukan.

Kaki saya tidak lagi segatal tadi sekarang.... :-p

Kata penutup untuk tulisan saya ini mungkin:
"Karena tak hanya riba yang bisa memasukkan kita ke neraka, bahkan kucing yang kita pelihara pun bisa menghantarkan kita kedalam siksa api neraka"


Monday, February 20, 2017

Sometimes, things are better left as mere memories

Hi there,

Today i just want to share a good article ini this URL address. Check it out!

http://elitedaily.com/life/let-go-high-school-friends/1284765/




Saturday, December 31, 2016

End of Year 2016

2016 has been GREAT!!!

Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah...

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan semua kesempatan padaku, pada kami sekeluarga untuk melewati tahun 2016 dengan penuh bahagia. Tuhan begitu baik pada kami. Alhamdulillah... Terima kasih Ya Allah...

Rencana dan harapan kami untuk Tahun 2016 berjalan dengan begitu baik. Tidak banyak hal yang membuat kami harus mengerutkan kening di Tahun 2016. We're thankful for that.

ALHAMDULILLAHIROBBIL A'LAMIIN

Sebagai penutupan akhir tahun kami, kami mengunjungi salah satu tempat wisata air terjun yang letaknya tak begitu jauh dari rumah kami. Air Terjun/Curug Seribu di daerah Gunung Bunder.

Sebelum berangkat saya bertanya pada mas bojo:
Aku: "Beneran mau ke curug seribu? yakin?"
Mas Bojo: "Ayok aja... "
Aku: "Duh, nggak mau yang gampang aja? Turunannya itu lho...."
Mas Bojo: "Udah tua ya skarang? Lemah?"
Aku: "Hahahaa... Nggak juga sih, cuma itu turunannya kan memang wow banget. Ngebayangin naiknya aja lutut udah kesemutan gimanaaa gitu..."
Mas Bojo: "Ya udah lihat aja nanti kalau udah disana..."

Sesampai di area Curug 1000, kami terkagum sebentar karena banyak yang sudah berubah. Jalan menuju curug sudah lebih baik, tidak ada lagi pungutan di gerbang nya (karena pindah ke tengah track curug 1000), lebih banyak lagi warung yang dibuka disitu. Entah sudah berapa lama kami tidak main kesitu.

Sampai di warung, aku pesan nasi ayam goreng plus sayur asem. Lapar bo'... Ayam goreng si ibu dan sayur asem nya enaaaaakkk.... hahahaha.

Setelah Mas Bojo sholat Dzuhur, akhirnya kesanalah kami. Ke curug seribu yang menurutku lebih ke 'curug seribu tangga turunan'. Aku yang biasanya lemah diturunan dan berjaya di tanjakan, kali ini harus menyerah pasrah dengan lemah diturunan dan payah ditanjakan. Dan lutut sedikit gemetar, akhirnya kamipun tiba di air terjun paling besar di daerah Bogor itu. Curug Seribu.

Memang perjalanan ke curug ini paling sulit dibandingkan dengan curug yang lainnya. Tanjakan terjal nya itu lho... Bikin lutut dan nafas keder. Tapi sekarang sudah ada penjual di depan curug, jadi bisa ngopi, ngemil, bahkan beli sate ayam disitu. Lumayan untuk amunisi menanjak pulang. :-p

Ketika perjalanan turun, aku dengar Mbak K dan Ayahnya ngobrol banyak. Tapi yang paling mengena adalah obrolan kecil ini:

Mas Bojo: "Are you ok Kiran?"
K : "Yes, I am fine... But Bunda so slow..."

Well... Kan Ayah nggak nanya Mbak K, ngapain pake dibilangin Bunda so slow? ahahaha. Iya sih, tapi aku memang merasa fisik ini semakin loyo. Harus semakin banyak tuk wak tuk wak alias olah raga lagi nih... :-)

Setelah berpuas diri main air, ngopi dan nyate cantik, sedikit berefleksi tentang 2016, dan memantapkan hati untuk 2017, kamipun mulai bergegas pulang. Awalnya aku mencoba menggendong Mbak K seperti biasa kami berbagi tugas. Tapi rupanya fisikku benar-benar payah kali ini. Baru 2 belokan saja rasanya sudah mau tiduran ndlosor ke tanah. Akhirnya mau tidak mau Mas Bojo kembali menggendong K naik. Maaf ya Mas Bojo, kali ini tidak bisa berbagi tugas dengan baik. hehehe

Sesampainya di area perkempingan, aku pun berbaring santai dirumput, melemaskan punggung dan kaki yang mulai menjahit. Duh, lemah banget iniiii.... hehehe. Kami duduk sambil ngobrol ngalor ngidul seperti biasa, sambil sesekali Mas Bojo menggoda Kiran dan lelarian di rumput.

It's a good sign of 2017, we hope ^_^

Ngomong-ngomong soal resolusi 2017, ada banyak hal yang ingin aku capai. Beberapa masih dari resolusi turun temurun yang belum terlaksana, dan beberapa adalah hal baru.

Berikut adalah resolusi ku yang berhubungan dengan dunia saja. Yang hubungan sama akhirat mah dibuat dihati saja... eaaa.... eaaa... :-)

1) Bisa Menjahit (dan punya mesin jahit). Ini adalah resolusi yang entah sudah turun temurun berapa tahun. Tapi selama semangadh masih berkobar didalam hati, akan tetap aku tulis sampai suatu saat nanti terlaksana :-p

2) Menyupir Mobil. Lebih tepatnya menambah nyali untuk berani nyupir mobil. Mengingat hasil kursus ditahun 2016, justru membuat pak pelatih teraniaya karena aku yang tak bernyali ini terus menerus marah-marah padanya. hahaa

3) Menghasilkan minimal 20 karya rajutan. Tahun 2016 adalah tahun dimana hobby rajut-merajut itu dimulai, dan diakhiri dengan beberapa orderan dari teman. Masih order karena kasihan sih sepertinya. Hahaha. Jadi mudah-mudahan 2017 bisa sedikit lebih meningkat misalkan kado, atau sukur2 jualan di pasar kaget gitu. :-p

4) Menyelesaikan minimal 10 buku bacaan. Meskipun tahun 2016 sudah cukup baik dengan terselesainya beberapa buku, tapi sepertinya masih kurang bisa dibilang berhasil menjadi pembaca yang baik. Tahun ini harus lebih baik lagi. Meskipun January 2017 ini diawali dengan membaca hanya ketika sedang buang hajat dikamar mandi. huhuhu

5) Bisa bikin 1 kamar tambahan untuk asisten, sehingga dia bisa punya privasi lebih. Kasian, selama ini kamar depan kalau siang jadi kantor kalau malam jadi kamar tidur teteh. Mudah-mudahan bisa terealisasi tahun ini. Faktor lainnya juga, pengen punya kantor yang sedikit 'ngantor' meskipun masih sharing sama tempat tidur anak/tamu juga... hehehe

6) Punya sawah... Eaaa... Eaaa... Eaaa... Ini sebetulnya lebay. Mengingat list keinginan, kebutuhan, dan hutang yang masih cukup panjang. Tapi kan namanya mimpi boleh saja kan? Kenapa enggak... Tuhan kan Maha Baik. Apa saja bisa terjadi ketika Tuhan merasa bahwa kita layak menerimanya. Jadi ya Bismillah saja untuk memiliki sawah, dengan sepetak saung kecil untuk bersantai dan sungai jernih mengalir didepannya.... #eaaaa makin panjang aja... hahahhaa

7) Pengen mulai belajar bertani kecil-kecil disebelah rumah. Mengingat belakangan harga cabe melebihi harga daging, jadi sepertinya memang harus mulai menanam sendiri. Aku sudah punya beberapa pohon cabe sih. 1 yang paling tua dan besar, sudah beberapa kali panen malahan. Sudah beberapa kilo dia hasilkan, dan sekarang mulai uzur. Beberapa yang kecil seperti tumbuh dengan sendirinya dan kurang terawat. Mudah-mudahan tahun ini bisa mulai menanam serius barang beberapa batang. Berguru dari Busu Ubo dan beberapa teman yang sudah bertani sejak dini. :-)

8) Mengunjungi 1 atau 2 taman nasional di Indonesia. Ini sih sebetulnya program keluarga demi menunjang piknik yang murah. hahahaha

9) Sekolah lagi. Kalau list ini aku buat akhir tahun 2016 kemarin, poin ini pasti berada di list nomer 1. Tapi karena sekarang terjadi perubahan strategi rumah tangga, jadinya poin ini harus sabar lagi mundur. Sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mudah-mudahan sih nggak lama lagi ya.

10) Lebih rajin olah raga. Untuk menunjang kebugaran tubuh yang mulai renta ini. :-p

11) Sedang di fikirkan...

Panjang juga ya list nya... Nggak papa. Aku sih selalu berpedoman pada 'jangan takut bermimpi, karena semua hal yang kita capai hari ini, semua juga berawal dari mimpi'... Smangadh!!! ^_^


Friday, December 9, 2016

Ketika Gegar Budaya Dan Gebyah Uyah Itu Di Depan Mata

Semakin hari semakin banyak hal yang wow, uhuk, ehem, kwakwaw, cihuy, tralala dan trilili di luar sana... Tapi bersamamu, setiap hal menjadi masuk akal, setiap hal menjadi luar biasa, dan setiap hal menjadi menarik dan layak untuk di perjuangkan... #janganbingung #loveisourmission#perbanyaktertawa #perbanyakngaca #liburkitakemana #yayaya 




Ini benar-benar terjadi. Yang Wow? Yang Uhuk? Yang Ehem? Yang Kwakwaw? Yang Cihuy? Yang Tralala? atau yang Trilili? Duh, lu sebut aja deh semua... Makin lama makin makin aja pokoknya.

Kenapa sih Wilis, lu nulisnya bikin gw mikir lu udah gendeng?

Iya, mungkin emang karena jaman udah gendeng. Bukan gw yang gendeng ya. Jaman. Gw sih masih waras, dan masih pengen jalan-jalan. hahaha #modus.

Itu yang pada heboh ini itu ini itu - Hal yang tidak boleh disebut - Kalau disebut bikin banyak orang kena ayan mendadak. Buanyakkk... Sudahkah mereka berkaca hari ini? Kalau belum ya berkacalah...

Sudahkah anda gunakan telunjuk anda untuk menunjuk hidung anda sendiri? Kalau belum, segeralah lakukan! Maka itu telunjuk akan jauh lebih berguna dan bermanfaat. Lebih lagi kalau terus maju kedalam lubang hidung. Bisa panen pas keluarnya... Begitu? :-p

Oh iya... Aku jadi lupa sebetulnya mau nulis apa... Apa ya? Duh, kelamaan baper dan emosional sih, jadi lupa....

Apa sih?

Hmm...

Oh yang ini aja deh kalau gitu...

Jadi, dahulu kala aku pernah ingat. Ada teman yang membroadcast larangan memperingati Hari Ibu. Katanya sih karena itu kebiasaan orang yang berbeda keyakinan dengannya. Dukungan mengalir padanya... Tapi sanggahan juga ada... Dan itu membuat debat panjang sejuta depa... zzzz... Melelahkan...

Eh, koq beberapa waktu lalu aku sekilas membaca (sebelum keburu tak klik buang) di lahan yang sama, beberapa pendukung larangan itu malah dengan bangga mempersembahkan acara Tea Party? Helloww? Tea party bukan tradisi kalian lho cyint... Itu tradisi Jepang, China, bukan kalian... Kalau saya sih memang tiap pagi tea party. Alias tradisi minum teh manis sebelum mulai beraktifitas gitu.
Mau tau asal muasal tradisi Tea Party dari Jepang? Tapi yang pertama mencetuskan adalah Biksu lho... Tau kan Biksu itu siapa? Cek sini aja deh Japanese Tea Party

Atau bukan ngikutin yang Jepang punya? Ada lagi sih, tapi punya nya China... Mau? Bukannya rada alergi juga sama China? Serius deh... Sebelum memutuskan ngikut yang mana, mending baca sini dulu tapi ya. Takut nanti tambah nggak nyambung lagi... Chinese Tea Party

Mau Nah sekali lagi?

Koq yang waktu itu membroadcast larangan memperingati hari ibu itu, ndilalah anaknya ulang tahun. Dirayain pula... Nah... Kan aku jadi bingung ya... Bukannya ulang tahun itu juga sesuatu yang bukan budaya kalian? Iya, kalian. Soalnya kalau aku kan masih suka ngerayain ulang tahun. Soalnya aku suka bungkus2 kado gitu... Lucu deh. Aku bisa bungkus pake beberapa gaya. Kalau kalian perlu jasa bungkus, call me yaaa :-p

Begitu cerita saya hari ini.

Selamat menyambut akhir pekan yang damai, penuh cinta, cinta nyata, bahagia sebenarnya, damai dunia dan akhirat... Itu yang penting... :-)

#janganbaperya
#kangensenior
#yangpunyaslogan
#sumukrakringeten
#karenaternyataistilahitubenarada

hahahaa

Thursday, December 1, 2016

Dunia Memang Aneh

Iya, menurutku sih memang apa saja bisa terjadi di Dunia ini.

Ada yang bener, dibikin nggak bener...
Ada yang nggak bener, dibikin bener...
Ada yang salah jadi bener eh yang bener jadi salah...

Misalkan,
Ada orang mau kerja bener,
Koq malah dibilang naif
Ada orang yang mau kerja bener,
Koq malah disuruh nyari obyekan...

Namanya juga Dunia...
Panggung sandiwara...

#udahituaja
#nggakpenting


Monday, November 28, 2016

Belanja = Supermarket

#Daughtertalk
#Aboutcard
#Lessonlearned

Jadi ceritanya kemarin itu aku dan K diperjalanan menuju MTH Squre untuk menghadiri acara pernikahan Irene (temen yang kerja di KBRI Paris) yang banyak sekali membantu aku dan Salmul sewaktu kami ke Paris. Dia menikah dengan Salomo, IPB Kehutanan gitu, temennya temen2ku itulah (iya, kalian...) :-p

Pas sudah mau sampai, tetiba K bilang (dengan bahasa dia yang campur aduk aduhai):
K: Bunda, boleh pinjam ini? (dia menunjuk card holder bunga-bunga yang ada didompetku)
A: Boleh... Buat apa?"
K: Buat pegang aja...
A: Yaa boleeehh....
K: Apa ini?
A: Card... Kartu
K: Buat apaan?
A: Macam-macam. Ada yang buat belanja, buat bayar-bayar..."
K: Ooo... Belanja...
A: Emang K tau belanja itu apa?
K: Tauu... Supermarket!!!

Aku dan teman yang menyupir tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata K yang mantab tanpa ragu.

A: Oh iya ya... Kalau belanja kan ke supermarket ya. Belanja apaan?

Dia mulai mengangkat tangannya dan menghitung sambil berkata:

K: Brokoliii... Teloorrr...mmmm

Aku melanjutkan tertawaku... Hahahhaa. Good Job K!



Tuesday, November 15, 2016

Mandi Muntahan di Tempat Umum?

Mandi muntahan di tempat umum? iiiyyyuuuhhh.... Iya, saya pernah...

Tapi bukan masalah mandi muntahannya yang membuat saya gemesh dan pengen ngulek sambel saat itu juga. Tapi melihat sejarah sebelum acara mandi muntahan itu terjadi. Hahahaha #lebay

Jadi, begini ceritanya...

Kemarin itu  ada sepupu K yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta ke Bogor selama 2 hari. Di hari terakhir, kami ajak mereka jalan-jalan ke sebuah nursery di Bogor. Pulangnya, kami turun di pintu tol jagorawi dan berjalan ke sebuah restoran cepat saji dekat-dekat situ. Tujuannya adalah mau menyuapi K dengan ayam goreng dan nasi hangat, karena biasanya anak-anak kan suka banget makan itu. Apalagi sambil main di playground nya.

Dan, long short story, K pun main sambil makan. Sekali suap main sekali suap main lagi. Lahap sekali, dan akupun bahagiaaaa....

Sampai pada saatnya datang dua ibu muda berkerudung membaca 2 anak mereka. Kedua anak itu (laki-laki dan perempuan) ikut bergabung dengan K di playground. Daaan... terjadilah yang terjadi. Si anak perempuan menjambak K. ea...ea...ea...

K yang memang pada dasarnya sensitif, dan masih kurang bisa mempertahankan diri (lebih memilih untuk menangis keras) akhirnya memulai dramanya. Dia menangis keras sambil menunjukkan kekesalannya sama si anak perempuan itu. Ibunya? ehm... lempeng aja tuh... hahahhaa #apa yang bisa saya harapkan btw? :-p

Akhirnya aku ajak K duduk, mencoba menenangkan. Tapi apa daya, K yang seperti aku bilang tadi, belum terlalu baik dalam mengendalikan rasa kesalnya menangis semakin keras. Dan menyemburlah semua makanan dan minuman yang baru saja saya masukkan dengan penuh harap. Semburan pertama, semburan kedua, semburan ketiga, sampai tak ada lagi yang keluar dari mulutnya...

Aku? Ya sudahlah ya... Pasrah aja sambil senyam-senyum sama mas bojo, yang hanya bisa menatap haru (plus tatapan iiyyuuuhhhh juga sih).

Karena kondisiku yang basah kuyup karena muntahan sangat parah, setelah mas bojo selesai mengganti baju K, dia menyeberang jalan ke Bo***i Square beli baju untuk istrinya.

K duduk denganku sambil menunggu mas cleaning service nya. Aku pun memperhatikan ada satu anak lagi yang datang ke playground dan berusaha menaiki tangga. Apa yang terjadi? Si anak perempuan itu menendang anak yang baru naik ke tangga donk. Oh my god. Dan si ibu ya lempeng aja lagi... ck...ck...ck....

Setelah mas cleaning service nya datang, aku pun sibuk bersih-bersih dengan mas cleaning service nya. Kasian nambah-nambahin kerjaan mas nya aja. K kembali main, tapi hanya di pinggiran sambil memainkan Rabbit hadiah dari restoran itu.

Drama kedua kembali terjadi. Masih dengan anak yang sama pula. Anak itu menarik tangan K, dan K pun menangis lagi. Emak yang sudah basah kuyup ini hampir emosi sebetulnya.... Hampir terjadi amukan typhooon... hahahaha. Akhirnya aku cuma bisa bilang "K, nggak usah nangis. Dia kan anak kecil nggak tau kalau nggak boleh narik orang". K terus menangis dan aku harus terus2an bilang "nggak papa... sama anak kecil harus maklum K. Dia nggak tau kalau menarik orang itu bikin sakit".

Setelah beberapa kali aku bilang (dengan suara lebih keras) baru si ibunya bilang "maaf ya adeknya nakal...."   hhmmmm....

Akhirnya mas bojo datang dengan celana panjang dan kaos baru... I love you full mas bojo... Apalah aku tanpamu... butiran debu... uwoooo uwoooo :-p

Akupun berganti baju di toilet. Sekembali dari toilet, mas bojo bilang kalau tadi si anak perempuan (ehm) itu mencakar muka anak perempuan yang tadi ditendangnya sampai nangis. Kata mas bojo si ibunya cuma bilang "maaf ya pak" gitu doank... Oh my God!!!

Maaf lah yess kalau aku sedikit sensi jadinya... Hahaha. Nggak ada hubungan sih antara baju dengan tingkah polah anak. Tapi menurutku sih biasanya kan orang-orang2 ilmu agamanya lebih bagus, ilmu mendidik anaknya juga bagus kan (kayaknya aku kebanyakan ikut grup aneh, jadi pola pikir mulai ikutan aneh. Soalnya di grup2 aneh itu kebanyakan ibu2nya ilmu agamanya bagus, dan mereka selalu sharing ilmu mendidik anak dengan bagus...bla....bla....bla...). aahahahahhahaa.

Menurutku yang awam ini, harusnya si anak donk yang di suruh minta maaf dan kasih tau kalau itu salah. Jangan orang tuanya. Kalau orang tuanya kan yang ada anak merasa dilindungi terus sama orang tuanya. Nggak akan belajar dia. hahahaha #sayasudahiemosinyadisinisaja

#postingannggakpenting
#daripadajadibisul
#dibuangsayang
#belajarlagidanlagi