Saturday, April 8, 2017

Ketika Gatal di Telapak Kaki Melanda

Pernah nggak ngerasain gatel di telapak kaki? Ganggu banget kan? Buatku sih itu sangat sangat sangat mengganggu sekali...

Digaruk, kegelian
Didiemin, gatel banget
Digosok-gosok ke kaki meja, geli-geli enak
Aaaaaahhhh.... Pokoknya gitu deh... :-p

Masalah seputar kucing juga bisa bikin telapak kaki gatel ternyata. ahahhaha #mulaideh

Aku cerita disini bukan karena aku terlalu cupu nggak berani bilang langsung, tatapi lebih karena udah bilang langsung tapi nggak berujung. Alias nggak banyak ditanggepi atau ditanggepi tapi nggak ditindaklanjuti. Gitu deh intinya mah :-p

Kucing

Makhluk hidup yang terkenal tidak setia ini adalah salah satu hewan kesayangan Nabi - kata banyak sumber sih begitu. Mustinya jika ingin menjadi kekasih Nabi, ya kita harus menyayangi dan memperlakukan kucing sebaik mungkin donk? Pacar aja, kalau masih di level cinta pasti disayang-sayang kan. Apalagi Kucing yang kesayangan Nabi. Gitu lah ya...

Nah,

Di lingkungan aku tinggal ini, sering sekali berkeliaran kucing-kucing. Baik itu kucing bagus, kucing biasa, sampai kucing yang banyak penyakitnya. Mulai dari berkalung, sampai tak berkalung. Dari tahun lalu kalau nggak salah, seiring dengan semakin ramainya penghuni komplek, semakin muncullah masalah kucing ini. Semakin banyak kucing. aaaaaahhhhh

Tau sendiri kan kucing? Sebentar-sebentar beranak. Sebentar-sebentar beranak. Kerjaannya makan boker beranak. Duh, kalau aku harus mendaftar keburukan kelakuan kucing komplek sini, habis deh energiku buat itu. Pokoknya gitulah.

Beberapa bulan lalu sempat terjadi diskusi ramai di grup RT mengenai makhluk yang satu ini. Karena ada tetangga yang komplain ikan gorengnya dicolong kucing. Ih, menyebalkan banget pasti itu rasanya. Udah mana lagi laper, goreng ikan sejumlah anggota keluarga, eh dicolong kucing entah kucing siapa pulak. zzzzzzz

Saat itu memang sepertinya sedang terjadi luapan populasi kucing yang entah darimana datangnya. Seperti ada yang melihara banyak kucing dirumah dan nggak pernah dikeluarkan, tapi mendadak dikeluarkan. Kebayang kan? Ada tetanggaku yang sangat baik hati, kalau sore suka ngasih sisa makan anaknya ke kucing, dan otomatis kucing yang lain pun ngumpul. Pernah iseng aku hitung ada kali 10 lebih. Dan berkalung. you know what I means....

Maka diskusi di grup mulai riuh rendah bla bla bla... Ada yang safe player bilang 'oh, untung bukan kucing saya", ada yang curhat "untung saya nggak punya kucing", ada yang ikut komplain "iya itu kemarin ayam saya dimakan kucing juga", ada yang protes "itu halaman saya dipake boker terus sama kucing", dll dll.

Aku? Ya pasti lah komen juga... Tapi seperti biasa juga, dengan tawaran solusi :
1. Dalam waktu beberapa hari, semua yang melihara kucing, tangkep dulu kucingnya, taro dirumah. Kandangkan.
2. In the mean time, kucing-kucing yang masih berkeliaran kan jadi ketauan kalau majikan-less. Nah sama RT yang majikan-less itu bisa di buang ke pasar. Ke tempat yang jelas banyak makanannya.
3. Kalau sudah bersih, kucing yang ada majikannya bisa di lepas. Jadi kalau mereka membuat ulah, urusannya bisa langsung sama yang punya.

Karena diskusi sempat panas, hangat, dan sedikit keras, mungkin pemilik kucing berkalung yang sedianya baru coba-coba melepaskan hewan "kesayangannya" itu jadi insaf. Karena beberapa hari kemudian kucing2 berkalung berkurang drastis jumlahnya. hehheeeee

Dan waktu berlalu... hari berganti... purnama berlalu... senyapppppp.... Kucing masih berkeliaran...

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu. Ada tetangga yang sudah sangat terganggu akhirnya komplain lagi di grup RT. Beliau merasa dirugikan atas kelakuan kucing entah punya siapa, karena sofa diterasnya di garuk sampai rusak terus, teras dan halamannya dipakai kencing/boker sama kucing, dan wiper mobilnya hampir patah karena kucingnya tidur diatas mobil nya. Kalau aku yang jadi beliau, uhuk. Mungkin sendal terbang sudah jadi jurus langganan. ahahahaha #eh

Ada tetangga yang menyampaikan pendapat mengenai program steril. Aku bantu carikan link untuk info steril kucing. Manatau ada yang perlu. Mulai lagi diskusi panjang lebar mengenai kucing. Kembali lagi itu beraneka ragam jawaban dan keluhan seperti yang aku sebut diatas. Ada yang safe player bilang 'oh, untung bukan kucing saya", ada yang curhat "untung saya nggak punya kucing", ada yang ikut komplain "iya itu kemarin ayam saya dimakan kucing juga", ada yang protes "itu halaman saya dipake boker terus sama kucing", dll dll.

Aku sudah tidak ikut campur lagi ketika orang sudah mulai riuh rendah bersahut-sahutan. Aku hanya carikan satu artikel dari internet tentang "adab memelihara kucing dalam islam". Aku share ke teman dan ndilalah temanku itu share ke grup. Aneh lho... akhirnya grup senyaaaaaapppppp... Nggak ada lagi yang komentar. Tanya kenapa? hahaha

Grup baru ramai kembali ketika tetangga yang komplain itu salah kamar posting chatnya... hehehe. Sayang nya kebanyakan jadi playing victim gitu. Clear chat. Males aja kalau ada masalah, terus bukannya mencari solusi bersama bagaimana baiknya tetapi malah "maafkan kalau kucing saya mengganggu, usir aja... " atau "mohon dimaafkan kalau kucing saya yang suka bikin ulang... dihalau saja".

Lah bu? Kalau maaf itu gampil banget... Tapi kalau kita maafkan, terus kucingnya dihalau, apa kucingnya udah tau artinya bahwa kita nggak welcome sama kucing dan akhirnya pulang kerumah? hehehe. Bagaimana dengan boker atau pipis yang ketinggalan dan ditambah lagi besok2nya? Bagaimana dengan ikan atau ayam yang sedianya buat makan sekeluarga tapi malah digondol sama kucingnya ibu?

Yang membuat telapak kaki saya terasa semakin gatal, sebetulnya adalah :
1. Kita tinggal di komplek perumahan yang mungil2 dan halamannya sempit. Bisik2 aja kedengeran tetangga. Mbok ya sedikit dipertimbangkan itu tetangganya.

2. Kalau memang sayang kucing/binatang, ya silahkan. Tapi pastikan mereka berada di area rumah ibu aja. Misal dikandangkan atau ditarok didalem rumah. Eits... pasti mau bilang kalau nanti mereka bosan? Ya kasih tau atuh... kita tinggal dikomplek sempit, jadi yang sabar ya nak. Harus prihatin. Eits... Mau bilang itu melanggar hak hidup hewan? Ya itu kan pasal pertama yang harus ibu tahu ketika memutuskan untuk memelihara hewan. Eeiitttsss... Mau bilang kalau dipelihara dirumah nanti bau ee' kucing? Lhaaaa, itu ibu tau kalau ee' kucing itu baunya nggak enak. Gimana dengan tetangga yang belum tentu suka kucing? harus kebauan ee' kucing ibu? Eitsss... mau bilang kalau nggak suka tapi anak suka? Anak kan anak kita. Tugas orang tua kan mendidik dan memberi pengertian. Kasih tau kalau kita tinggal di komplek yang sempit, kasihan hewannya nanti bosan kalau cuma di rumah sama di halaman kita. Dan kasihan kalau dilepasin, nanti mengganggu tetangga. Itu juga pendidikan yang sangat penting lhooooo :-)

3. Kalau ibu sayang dengan kucing, kemudian membuat mereka terlantar hingga akhirnya 'main' ke tetangga, bukannya itu juga Tuhan tidak akan suka? Rugi doble kan jadinya? Sudah membuat tetangga kita susah, masih juga membuat Tuhan tidak suka? Bahkan menurut artikel di internet, katanya bisa membuat kita mendapat siksa neraka lho... Ngeri kan? Dan kalau ibu bilang sayang mereka, tapi kemudian ibu membiarkan nya berkeliaran dirumah-rumah orang, yang mungkin kadang kena lemparan sendal, siraman air, dan makian, mungkin perlu dipertanyakan lagi rasa sayang ibu itu sayang yang bagaimana? Mungkin semacam "Aku mencintaimu, tapi kan cinta tak harus memiliki. Jadi aku ikhlaskan kamu pergi" ? :-p

Saya dan anak saya, sangat suka melihat hewan-hewan lucu. Kucing adalah salah satunya. Setiap melihat kucing lucu, saya pasti langsung teriak "iiiih... lucu bangetttttt... mau dooooonkkkk..."

Untungnya teman-teman sayang yang pencinta dan pemelihara kucing (dan anjing juga), selalu mengingatkan saya "memelihara hewan peliharaan itu, seperti kita punya anak. Ikatan seumur hidup. Kamu sudah siap? Kita harus memastikan dia makan baik, minum baik, sehat, imunisasi, jalan2, bersihin tempat makan/minum, bersihin tempat tidur, dll. Kamu udah siap?" Dan saya akan langsung bilang "belum..."

Anak saya selalu merengek untuk punya peliharaan lucu itu, tidak jarang berakhir tangis. Tapi saya beli pengertian bahwa nanti ketika anak saya sudah mandiri, bisa makan sendiri, mandi sendiri, beres-beres kamar sendiri, dan sudah siap untuk membantu kucing siap-siap dan beres-beres, dia boleh punya peliharaan." Belum tentu berhasil, tapi setidaknya saya coba lakukan.

Kaki saya tidak lagi segatal tadi sekarang.... :-p

Kata penutup untuk tulisan saya ini mungkin:
"Karena tak hanya riba yang bisa memasukkan kita ke neraka, bahkan kucing yang kita pelihara pun bisa menghantarkan kita kedalam siksa api neraka"


No comments: