Tuesday, January 4, 2022
30hbc2204 - Rewang
Rewang
Adalah kata dalam bahasa jawa, yang maknanya membantu. Biasanya merujuk pada ibu-ibu yang bersama-sama membantu mengerjakan segala hal di rumah saudara atau tetangga yang sedang mengadakan acara/hajatan, dan kali ini di rumah kami untuk acara 1000 harian alm Ibuk. Salah satu yang membuat saya rindu ketika sudah tidak lagi tinggal di kampung.
Pekerjaan yang banyak menjadi ringan karena dikerjakan beramai-ramai, sambil bercengkerama dan bertukar cerita. Mengupas kelapa, mengupas dan mengiris kentang, menggoreng, membungkus lemper, dan lain-lainnya.
Saat seperti ini, juga merupakan media transfer ilmu satu sama lain. Ilmu memasak banyak dan berbagai jenis masakan. Yang muda belajar dari yang tua, yang tua mengajari yang muda. Tongkat estafet harus terus dilanjutkan, agar tidak ada yang hilang termakan jaman.
Kemarin, saya belajar lagi cara membuat ketupat yang dulu pernah bisa dan sekarang lupa. Mungkin terdengar sangat mudah dan sepele bagi sebagian orang, tapi cukup sulit untuk saya. Lumayan, nanti kalau sudah pulang ke Bogor, saya bisa membuat ketupat bersama K. Siapa tahu bisa jualan ketupat, yekaaan :-)
#30harisemutbercerita #30hbcsmk #30hbc #kampung #srunencity #rewang
Monday, January 3, 2022
30hbc2203 - Perasaan
Hari ke-3 kegiatan #30haribercerita nih. Hari ini saya ingin bercerita mengenai tambatan hati seseorang.
Menurut KBBI, tambatan adalah pancang (dan sebagainya) tempat menambatkan sesuatu (perahu, hati?).
Di awal kehidupannya di dunia, hingga sekitar 3 dekade setelahnya, dia (merasa) yakin di mana tambatan terakhir perjalanannya kelak. Ia tak pernah tahu bahwa selama itu tambatan hatinya adalah sesuatu yang bergerak, bertumbuh, berkembang, & ada kadaluarsanya. Hingga saat habis masa berlakunya, perahu kecilnya oleng & tersesat.
Sebagaimana orang tersesat ketika mendaki gunung, dia tdk menyadari bahwa dirinya tersesat. Dia hanya merasa perjalanannya kian sunyi, dirinya semakin damai dlm keheningan, pikirannya mulai berjalan jauh lbh cepat drpd langkahnya. Hingga saat dia melihat pejalan lain membelok melabuhkan diri di tambatan yg mereka miliki, Dia merasa sendiri, menoleh ke kanan dan ke kiri, memandangi sauhnya yang alih2 menambat pada sesuatu, justru mengikutinya ke sana & ke sini...
Pada akhirnya, setelah lelah hati tak percaya, mengeluh, mencela, mencerca, & bertanya, dia menyerah. Menerima kenyaatan bahwa dirinya tersesat, memerlukan pelabuhan utk mendarat. Saat itulah dia melihat sebaris harapan di ujung pandangan. Perlahan tapi pasti, garis semu menjadi penampakan sejati. Bentala harapan.
Mungkin saat ini Dia merasa menemukan rumah baru. Namun, siapa yang tahu? Setelah akarnya tercerabut dr rumah sebelumnya, Ia seperti enggan menetap lama. Dia akan menghidupi cara baru. Tinggal, membuat banyak kenangan, kemudian pergi dg hati penuh serta perasaan gembira. Bahagia krn ada rumah baru yg bisa disinggahi kapanpun dia perlu kembali.
Saat Dia adl Kamu...
Semua adl tentang perasaan yg perlu dikendalikan. Bisa kita biarkan menguasai jiwa raga sehingga terpaku pd romantisme kenangan, atau bisa kita paparkan pada keleluasaan peluang...
Siapa yg mengendalikan perasaan? Bukan Avatar pengendali perasaan. Tapi kamu. Iya kamu sendiri, bukan siapapun selain K A M U.
#30harisemutbercerita #30hbcsmk #30hbc22 #perasaan
Sunday, January 2, 2022
30hbc2202 - Anak Kampung
Setiap hari adalah medan perang. Memerangi waktu yg rasanya semakin kencang berlari.
Memerangi urusan yg memberi denyut kehidupan lain di ujung hari.
Memerangi keengganan yg menjelma menjadi lempengan besi, mengganduli badan agar tak beranjak dr kursi.
Memerangi kemalasan utk berbuat sesuatu, alih-alih hanya membiarkan jemari menari.
Harapan, keinginan, & cita2 adl amunisi utk menjalani peperangan demi peperangan.
Yg membuat terus bergerak maju,
Mengalahkan keinginan untuk berhenti.
---
Hari ke-2 dari niatan ikut program #30haribercerita nih. Saya mau bercerita tentang kampung...
Bukan kampung halaman saya, bukan juga kampung halaman suami saya. Ini adl kampung kami.
Saya, @yudi237 , dan K (8 tahun 4 bulan) sering bertukar cerita mengenai masa kecil. Masa kecil saya, ya di kampung Srunen, Glagaharjo sana. Sedangkan ayahnya, di Caringin, Carita. Kami bergantian menceritakan permainan2 yg dulu kami lakukan. K menganggap semua permainan itu seru sekali, dan merasa iri krn Emak Bapaknya adl anak kampung dg banyak kegiatan seru.
Pernah dia pulang main membawa buah bunga pacar air, meminta saya memencet sedikit, sementara dia dg penuh semangat menceritakan bahwa dia dan temannya menyebutnya jumpscare. Saya pura2 terkejut saat buah itu meletup di tangan. Walaupun pada akhirnya dia berkata sambil kecewa "pasti dulu bunda udah main ginian ya?" Saya tertawa.
Hingga pada suatu kesempatan, angin membawa kami ke sebuah kampung di pinggiran kota, berkenalan dg beberapa orang baik di sana, & saat itu juga saya & suami sama2 merasa "Ini kampung K". Di sana kami akan menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan seru, tinggal yg lama di setiap libur. Mencoba mengurangi hubungan fisik kami dg gawai. Meskipun dipercobaan tinggal sebentar kemarin, kami msh mjd orang2 mager dg gawai di tangan. Dia dg permainan, saya dengan bacaan.
Next time, we'll set rules!!!
Jika bagi K, kampung itu adl wahana berkegiatan seru, berbeda dg saya & ayahnya. Bagi kami, kampung itu adalah wahana me-nyemeleh-kan diri. Menyeimbangkan hidup dari peperangan harian yg kami alami, mengembalikan pada niat hati yang kami ingin hidupi. :-)
#30harisemutbercerita #30hbcsmk #30hbc #anakkampung
Saturday, January 1, 2022
30hbc2201 - Bu Amah Gula Aren
Selamat Tahun Baru 2022!!!
Setelah lama kehilangan minat menggunakan IG, hari ini saya mencemplungkan diri kembali di per-IG-an. Kalau istiqomah, setidaknya untuk 1 bulan ke depan. Bersama dg teman2 @kaizenwritingalumni , kami akan berbagi cerita dalam program #30haribercerita . Ini cerita pertama saya...---
Minggu lalu, saya, suami, & anak, menginap di kampung bernama Cibunian, pinggiran Kab Bogor. Selama 3 hari, kami tdk mendapat sinyal sama sekali krn sinyal memang langka di sana (Ya ampun, ini di Bogor ya gaesss).
Hari kedua, kami mencoba hiking ke curug (air terjun) yg belum banyak di ketahui orang keberadaannya. Di tengah perjalanan, kami bertemu & berkenalan dengan Ibu Amah. Seorang nenek dengan 5 cucu yang sehari2 pergi ke hutan tempat saungnya berada, untuk membuat Gula Aren dan juga bertani padi.
Bu Amah bercerita bahwa beliau menikah dengan suami tercintanya di usia 12 tahun, dan setahun kemudian sudah mulai dikaruniai seorang putra. Anak & cucu Bu Amah sering menemaninya di saung gula juga.
Perjalanan ke curug, rupanya melewati saung gula Bu Amah. Dg ramah beliau mengajak kami mampir, & menyuguhi air nira hangat. Ternyata si Bapak sudah mulai merebus nira hasil panen hari itu.
Saya beruntung sekali bertemu & berbagi cerita dgn Bu Amah & suami, serta diberi kesempatan untuk menunjukkan pada anak saya bagaimana proses pembuatan gula aren. Dulu sewaktu kecil, saya juga sering menunggui alm Mbah Buyut Atmo membuat gula kelapa, sambil berharap diberi sedikit glali untuk di emut karena saat itu kami tidak bisa seenak jaman sekarang membeli permen.
Sepulang dari curug, kami mampir kembali ke saung gula Bu Amah, & mendapatkan suguhan Glali. K menikmati Glali bersama kami di belakang saung sambil mengamati kerbau merumput di petak2 sawah di bawah kami.
Hari itu, Bu Amah & suami hanya mendapatkan 3 hulu gula saja, dijual dengan harga 45 ribu rupiah.
Saat kami bilang akan kembali lagi di kunjungan selanjutnya, Bu Amah tertawa sambil berkata "arek neangan naon didieu, mending di kota atuh loba nu di tempo..."
Giliran kami tertawa, karena berfikir sebaliknya... 🤭
Sehat terus ya Bu Amah & Bapak 🙏🙏🙏
#30hbcsmk #30hbc2201
30 Hari Bercerita - January 2022
Selamat Tahun Baru 2022!!!
Semoga di tahun baru ini semua rencana, usaha, keinginan, dan cita-cita dilancarkan dan dikabulkan Allah SWT. Aamiin.
Dengan semangat mengusung ke-istikomah-an dalam menulis cerita, Bulan Januari ini saya berniat untuk ikut kegiatan @30haribercerita. Bersama dengan beberapa orang dari @Kaizenwritingalumni, kami mencoba untuk konsisten dari hari ke hari.
Mungkin tidak akan konsisten seperti niat yang sudah-sudah, mungkin juga akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Tidak apa-apa. Jangan sampai kegagalan masa lalu, menghambat kita untuk terus mencoba bergerak maju. Yekaaan...
Saya ikut program nya di IG sih sebetulnya. Tapi saya akan upload juga di sini. Agar blog nya ada isinya. hahaha. Sambil menyelam, minum air, glagep-glagep...
Karena tadinya saya sudah tidak berminat menggunakan IG lagi, tetapi karena mengikuti kegiatan ini, saya aktifkan kembali IG saya. Hanya saja, saya masih berusaha membatasi penggunaannya, hanya 1 jam saja sehari maksimal. Jadi, di saat cerita saya sudah rampung di draft dan sudah siap tayang, saya akan buka IG, mengunggah cerita saya, dan melihat postingan teman2 yang lainnya. Saya niatkan untuk mengunggah cerita, kalau nggak pagi sebelum mulai beraktifitas, atau sore/malam setelah jam kerja selesai. Dengan begitu, saya tidak tergoda untuk membuka-buka IG sebelum materi cerita hari itu siap.
Ada sih godaan2 untuk berselancar melihat-lihat perkembangan teman-teman di feed, tetapi bayangan kerjaan yang masih bertumpuk-tumpuk menunggu sentuhan, masih bisa menarik saya kembali ke dunia nyata. Alhamdulillah... Selamettt...
Yuk mari teman-teman yang lain ikutan juga yaaa :-)
Monday, December 6, 2021
List to Read, December - Week 1
Yeay!!!
I'ts almost a week since I got the premium access of Gramedia Digital. I've downloaded many books, put it in my wish list. So far, I've read 4 and half books. I considered my self as "good enough" lah ya... Kekekeke
Beberapa buku worth to read tapi kurang worth to buy, jadi rejeki banget bisa membaca di platform ini. Thank you Gramedia Digital! Semoga beberapa minggu ke depan, rencana menyedot dan membaca buku-bukumu, lancar sesuai rencana. Aamiin :-)
Ada yang punya rekomendasi buku untuk di baca? Siapa tahu ada di Gramedia Digital, yekaaan... hehehe
Wednesday, December 1, 2021
Selalu Ada Untung, Jika Kita Menikmati Prosesnya
Seperti judul tulisan ini, selalu ada untungnya jika kita menikmati proses dengan baik. Tentang apa ini?
Jadi begini...
Pertengahan tahun ini, Gramedia membuka kembali kompetisi menulisnya yang biasa di kenal dengan GWP. Dan seperti biasa, saya ikut. Menantang diri sendiri untuk menyelesaikan satu buku, memiliki satu lagi cerita yang ada kata TAMAT nya. Itu saja tujuannya.
Singkat kata, saya memilih satu dari beberapa draft yang berasal dari kucuran ide entah kapan itu. Saat itu, masih sekitar 100ribuan kata (Whattt???). Jangan panik. Itu bentuknya dialog semua. Saya pun bingung mau bagaimana dengan naskah itu.
Pelan-pelan akhirnya saya bongkar ulang naskah, mencoba memasukkan unsur Save The Cat yang selama ini banyak saya pelajari dari Jessica Brody, Mbak Jia, dan dari artikel-artikel di internet. Susah sekali rasanya. Saya belum terbiasa.
Cerita ini judulnya "[Bukan] Cinta Monyet" dengan tanda kurung. Receh sekali. Cerita cinta anak SMA. Terinspirasi pertama kali saat saya mengantar jemput anak saya yang masih SD. Saat menunggu dia keluar dari kelasnya, biasanya saya duduk di pinggir lapangan basket. Di situlah ide lewat saya tangkap.
Singkatnya lagi, setelah melibatkan teman Eka dan juga konsultasi tema dengan Mbak Jia, dari ratusan ribu kata itu, hanya tersisa 35ribuan kata. Sehingga minggu-minggu terakhir sebelum penutupan, saya berjibaku mencari tambahan 6ribuan kata yang akhirnya saya selipkan di sini dan di sana. Banyak maksa, tapi ya nggak papa ya. Monmaklum. Dan saat hari penutupan kompetisi, saya berhasil mengikutkan satu cerita yang tamat. Alhamdulillah.
Dan seperti juga tahun lalu, tidak ada harapan untuk bisa memenangi kompetisi. Yang ada hanya senang bisa benar-benar tamat ceritanya. Sudah cukup yekaaan :-p
*
Kali ini cerita saya tentang novel karya Ilana Tan.
Entah dari tahun berapa, saya mulai mengikuti novel-novel Ilana Tan. Berawal dari Mbak Elmi yang mengenalkan saya dengan satu ceritanya (saya lupa yang mana), saya baca, dan akhirnya saya mengorek semua novel karangannya. Tetralogi 4 musim nya membuat saya semakin suka, begitupun dengan kisah lainnya. Cerita ringan, setting yang selalu apik, dan plot twist yang tidak terlalu berat tapi ciamik, membuat saya pencinta drama cinta-cintaan semakin suka.
Namun, meskipun saya sangat menyukai novel Ilana Tan, saya tidak punya keinginan menonton film nya. Buat saya, cerita seperti novel Ilana Tan, indah untuk dibaca dan diciptakan didunia khayal sendiri. Saya tidak ingin menonton film nya, khawatir kehidupan fiksi di kepala saya ambyar jika ceritanya tidak sesuai yang saya harapkan.
Ini sudah terjadi pada buku All the boys I love before. Saya sangat menyukai cerita di bukunya, tetapi merasa wakwaw dengan filmnya. Ambyarrr.
Bulan lalu, saya iseng memasukkan nama Ilana Tan di kotak pencarian aplikasi Ipusnas. Jreng! Rupanya semua buku Ilana Tan ada disitu. Saya senang sekali. Saya sudah pernah membaca yang Blue Moon dan The Sunshine Become You. Tetapi akhirnya saya membaca ulang mereka, setelah berdesakan dan berebutan dengan para pengantri lainnya di Ipusnas. Nah, tinggal satu buku yang saya belum berhasil dapatkan di Ipusnas, yaitu The Star and I. Ngantrinya semakin lama semakin banyak, tetapi tidak juga saya mendapat giliran. Emeshhh...
*
Nah, di sinilah benang merah antara GWP dan The Star & I...
Sebuah pesan WA dari teman (aka Andien) saya baca pagi ini. Dia menanyakan perihal email dari Gramedia. Bunyi emailnya adalah memberitahu bahwa mereka memberikan reward akses premium ke platform Gramedia Digital mereka selama 1 bulan. Sebagai hadiah telah menyelesaikan karya sesuai tenggat waktu kompetisi GWP. Wadidaw!
Tak sabar saya pun langsung mencek email saya, dan rupanya sayapun mendapatkan email yang sama. Segera saya ikuti langkah yang mereka tunjukkan untuk mengaktivkan voucher nya. Saya belum tahu mau membaca apa dari Gramedia Digital. Namun, salah satu langkah untuk bisa mengaktifkan voucher adalah dengan memilih buku yang ingin di baca. Ya sudah, saya iseng cari The Star & I saja. Siapa tahu ada. Daaaaan, adaaaa!!!
Begitulah...
Akhirnya keikutsertaan saya di GWP 2021, membuahkan hasil yang menggembirakan. Memotong rantai antrian saya di Ipusnas untuk bisa segera membaca buku The Star & I.
Terima kasih GWP!
Semoga setiap kompetisi dimulai, saya bisa ikut serta balapan mengejar tamat bersama dengan peserta-peserta lainnya.
Oh iya, sekedar sharing update. Naskah yang saya ikutkan kompetisi GWP, akhirnya dengan (ke) pede (an) saya kirim ke Mbak Jia untuk di review. Dan feedback nya membuat jantung saya berdebar kencang seperti saat bertemu pacar. Bunyinya "... Sebetulnya, sejak halaman 30an sudah pengen tak tinggalin rasanya... " Hahahaha. Namun, banyak sekali masukan Mbak Jia yang menjadi PR untuk saya memperbaiki naskah ini. Will do... Soon!!!
Sekian.
-
I dedicated this story to my buddy, one of my partner in crime, and my lucky friends, Ijah. She is the one who gave me this big challeng...
-
Alhamdulillah.... Million thanks to Allah SWT ... Untuk semua hal yang sudah diberikan-Nya kepadaku, kepada orang2 disekelilingku. Duu...
-
And again..... One year has gone.... :) I still on the way... I still on my way... :p There is a lotta love, Coz everybody needs a lotta lov...