Saturday, October 16, 2021

Bunda Biasa Saja

Saya senang membaca, dan ingin anak saya menyukai kegiatan favorit saya ini. Namun misi untuk mensukseskan keinginan saya tersebut, belum berhasil sejauh ini. K selalu saja ngeles kalau saya minta membaca, atau untuk lebih banyak membaca. Dia akan segera menjawab: "That's not my thing Bunda. That's your thing" Bhaique... 

Saya pernah bertanya kepada almarhumah Ibuk, bagaimana beliau membuat saya senang membaca. Karena saya ingat, sejak saya bisa membaca di usia TK, saya senang sekali membaca semua hal yang bisa di baca. Mulai dari buku-buku PKK ibu saya, majalah jawa bapak saya, koran-koran yang ada di rumah, bahkan kadang koran bekas bungkus tempe yang di beli Ibu. Semua saya baca. 

Anak saya, dari sebelum lahir sudah mulai saya belikan buku, setiap mau tidur saya bacakan buku, setiap BBW mulai saya tidak pernah ketinggalan ikut berjubel ngantri, tetapi akhirnya tetap saya "That's not my thing, Bunda" Bhaiquelah!

Saya sering menyelipkan dalam setiap kesempatan, bagaimana pentingnya membaca. Membaca adalah jendela dunia. Membaca membuat kita pintar, membuat kita lebih tahu daripada teman yang tidak membaca. Dan orang yang pintar, akan banyak dibutuhkan, akan banyak dicari, dan banyak bisa membantu orang yang membutuhkan. Dan lain sebagainya. 

Ya sudahlah... Mungkin memang belum waktunya. Saat nanti dia menemukan kesenangan dan kenikmatan membaca, maka dia akan membaca dengan sendirinya. Aamiin. 

Sampai pada akhirnya hari ini, saya hampir tersedak risoles saat sedang sarapan. Saya sedang makan risoles sambil membaca buku "The secret library - Bibbi Boken" di handphone. K rupanya memperhatikan saya, dan mengeluarkan komentar terbaiknya... (ehem).

Seperti berikut:

👧: "Bunda..."

🧑: "Ya"

👧: "Bunda kan bilang, katanya the more you read, the more you clever. Bisa jadi cantik dari hati karena pinter."

🧑: "Yak betul"

👧: "Bunda sering baca, tapi kok biasa aja?"

🧑: "Makasih 😌😌😌😌😌"


Ya sudah ya sudah... Kalau memang belum ada pencerahan untukmu, tak mengapa... :-p


#CelotehAnak

#ObrolanEmakDanAnak

Saturday, September 25, 2021

Rindu yang Tersimpan di Dalam

Sepulang kami dari Bali, hampir setiap hari saya merindukan Ngetis dan setiap sudut Bali. Saat saya berbagi kerinduan saya kepada Bojo dan Anak, mereka selalu kompak bilang: 

"Enggak ah... Nggak kangen ah... Biasa aja" seperti layaknya paduan suara. Bhaiquelah!

Saya merindukan bangun tidur, berjalan kaki menyusuri jalanan Sanur untuk membeli Croissant kesukaan, berbelok ke Jalan Duyung untuk kemudian menyusuri pantai pagi hari. Perjalanan pendek berputar yang lumayan menyenangkan bersama K. Seperti biasa, kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon yang sayangnya tidak terdokumentasikan dalam catatan. My Bad!

Saya merindukan langit biru cerah nya Bali yang sangat-sangat jarang bisa dilihat di Bogor. Bahkan sepertinya belum pernah saya lihat sepulang dari Bali. Hiks... 

Namun, sore ini rasanya berbeda. Saat saya merasa bosan bekerja seharian, saya mengajak K untuk muter-muter naik motor. Cuma sekedar berputar dari rumah, ke Jalan Dramaga, pulang lewat sawah Batuhulung aja. Lumayan lah. Dan K mengungkapkan perasaan hatinya yang membuat saya tertawa. 

Obrolan di atas motor hari ini: 

K(iran) : "Bunda, mau denger nggak rahasiaku?"

B(unda) : Mau donk. Apaan?

K : "Aku kangen Bali."

B : "Katanya nggak kangen?"

K : "Iya itu tuh cuma luarnya gitu lho. Jadi aku bilang ke orang kalau aku nggak kangen. Padahal di dalam hati aku kangen banget."

B : (Sambil ngekek dalam hati) "Kenapa kamu kangen Bali?"

K : "Beda aja Bali sama Bogor. Lebih nyaman... "


Eeeaaa... So the three of us started missing the island. What should we do? 


#CelotehAnak
#ObrolanEmakDanAnak

Saturday, August 21, 2021

I Am Not Simple Kids

Setelah memiliki K, rasanya setiap tahun selalu ada masa di mana kami melakukan obrolan menarik dan penuh tantangan. Tetapi juga berseni dan penuh lika-liku. #lebay

Apalagi kalau bukan seputar masalah kue ulang tahun. Yak betul. Mbak K ini rupanya sangat terobsesi dengan yang namanya memotong kue saat hari ulang tahun. Siapapun anggota keluarga kami yang berulang tahun, maka Mbak K lah yang paling sibuk. Sudah seperti seorang EO tapi yang punya spesialisasi bidang ribet aja gitu. 

Seperti ulang tahun kali ini, yang ribetnya lebih ribet dari sebelum-sebelumnya. Kenapa hayo? 

Jadi, tahun ini kan saat ulang tahun K, kami masih akan berada di Bali. Tadinya emak merasa aman tentram karena kan di Bali, jadi ya dirayakan saja dengan makan siang bersama, mentok-mentok beli kue slice red velvel di Grand Lucky juga udah oke yekaaan... 

Tapi rupanya tak semudah itu kisanak. Dia tak begitu saja lupa bahwa emak belum menyinggung masalah kue ulang tahunnya, sampai mendekati Bulan Agustus. Begini obrolan kami beberapa waktu lalu:


Anak : "Bunda, udah pesen kue ulang tahun aku belum?"

Emak : "Tahun ini tema kue ulang tahunnya mau apa?"

Anak : "Mermaid, tapi pesen di Mama Vino"

Emak : "Kan kita di Bali, nggak bisa pesen di Mama Vino. Kita beli red velvet yang di Grand Lucky aja ya"

Anak : (manyun) "Untuk sementara oke, tapi nanti setelah pulang ke Bogor tetep harus pesen ke Mama Vino" 

Emak : "Kita lihat modelnya di google dulu yuk" (Emak tak mau bertengkar_mode on)

Anak : "ok"

..... 


Setelah beberapa lama kami mencari contoh gambar di internet, saya menunjukkan pada K contoh kue yang lucu-lucu dengan tema mermaid. Apa yang terjadi? Seperti ini:


Emak : "Ini aja nih keren? Simpel nggak ribet tapi bagus?"

Anak : "Ih bunda ini jahat banget sama aku. Bunda nggak sayang aku ya? Aku kan the only child in this family, masak kuenya simpel gitu? Aku nggak mau. Sini aku cari sendiri" (emak manyun)

Emak : "Ya bukan gitu, maksudnya kalau simpel tapi keren kan bagus juga"

Anak : "No. Aku nggak mau simpel. Harus special. Karena aku spesial"

Emak: "eeefffaaaaiiinnneee"


***



Jadi begitulah cerita si anak yang spesial dengan kue ulang tahun untuk tahun 2021 nya... 

Kuenya lucu sih memang. Sampai dibuatkan Instagram reel sama baker favorite nya K, Ci' Rina: 

https://www.instagram.com/p/CUBdFiChsCN/ 


Saturday, July 3, 2021

Rambut dan Laki-Laki

Bojo saya memang senang memelihara rambut hingga panjang. Biasanya setelah bosan atau lelah, dia akan segera memangkas habis rambutnya hingga gundul. Begitu seterusnya, dan saya santai saja. Namanya juga selera. Berbeda dengan saya yang lebih menyukai rambut pendek, kami sering menjadi pasangan yang terbalik. Suami berambut panjang, dan istri berambut cepak. 

Tetapi, menjadi berbeda saat rambut panjang suami saya itu memberikan efek tipis nyaris tak kentara pada cara anak saya memandang rambut. Saya juga baru menyadari belakangan ini sih. Saat saya melakukan hair do untuk rambut anak saya di pagi hari. 

Begini obrolan kami:


Emak: "Kuncir satu apa dua?"

Anak: "Yang gampang apa bunda?"

Emak: "Kuncir satu"

Anak: "Ya udah satu aja. Tapi di samping ya biar keliatan"

Emak: "Nggak di belakang aja?"

Anak: "Enggak. Nggak disamping banget nggak papa kalau susah, tapi yang penting harus kelihatan dari depan"

Emak: "Kenapa memangnya?"

Anak: "Aku nggak mau keliatan kayak cowok"

Emak: "😂😂😂"


***

#CelotehAnak

#ObrolanEmakDanAnak

Thursday, June 3, 2021

Tempat Kita Berkumpul, Rumah Kita

 Selingan untuk kisah #TheJourneyOfKeluargaUmang


Rumah Kita

Sebelum berangkat ke Bali, kami singgah di Yogyakarta. Sudah 2 tahun lebih sejak pandemi, saya tidak ke Yogyakarta. 

Dahulu kala, pernah ada masanya ketika saya berkata bahwa Yogyakarta adalah masa tua saya. Setiap hal yang terjadi di Yogyakarta, selalu bagaikan magnet kuat yang menarik saya menujunya. Bahkan sempat menjadi perdebatan dengan Mas Bojo saya, bahwa mungkin sebaiknya kami dikubur di Yogyakarta saja jika meninggal nanti. 

Namun rupanya hal itu adalah sesuaty yang ada masa kadaluarsanya. Saat sampai pada tanggal kadaluarsanya, maka bergantilah dengan sesuatu yang baru. Belum tahu apa dan bagaimana, namun tidak lagi sama. 

Hari itu kita kembali datang dengan penuh cinta. Membawa warna-warni bunga yang selalu engkau minta dan tak pernah kami lupa. Saat berkumpul mengelilingimu, hati kami semua bersatu, padamu. 

Tak perduli berapa jauh kaki kami melangkah, 

Tak perduli berapa likuan yang harus kami lalui, 

Tak perduli bagaimanapun nanti jalan hidup membawa kami, 

Tak perduli seperti apa ujung perjalanan ini, 


Ke tempatmu lah kami akan berkumpul kembali

Ke tempatmu beristirahat, 

Melingkat dengan hati yang hangat, 

Karena kami bersamamu untuk mengingat


Sampai kita berkumpul kembali suatu saat


Peluk & Cium kami untukmu di Surga

Sunday, May 30, 2021

The Last Song


 The Last Song, by Nicholas Spark

Jadi, tema klab baca SMK bulan Mei 2021 adalah Sweet Romance. Iya betul, sayalah pengusul nya. Tahu kan ya kalau selera saya ini yang drama-drama romantis ringan-ringan tanpa beban gitu? ahaha

Beruntungnya anggota Klab Baca SMK itu baik-baik semua. Meski mungkin tema ini bukan genre favorit mereka, namun mereka berbaik hati mengikuti. Dan beberapa buku yang mereka pilih, adalah buku-buku yang pernah saya baca. Yeay!!! Nggak sabar mendengarkan mereka mengulas buku-buku itu. 

Saya sendiri, akhirnya memilih bukunya Nicholas Spark. Ini terinspirasi dari obrolan di grup juga sih, bahwa konon katanya Mas Nicholas (bukan saputra) ini bukunya selalu menggelitik hati penggemar drama cinta-cinta remaja. Setelah melakukan sedikit pencarian info di Goo, baru ngeuh ternyata Nicholas Spark ini adalah pengarang buku nya Notebook, The Best of Me, A Walk to Remember, Dear John, dan lain-lain. Duh, kalau itu kan film nya saya sudah nonton berkali-kali dan berulang-ulang. #JedugJedug

Ya sudah, akhirnya secara random saya memilih buku yang judulnya The Last Song. Beli bukunya di Google Playstore saja. Belakangan ini saya sedang tersadarkan (dan menghindari lirikan maut mas bojo kalau harus membuka paket yang isinya buku) sehingga memilih membeli ebook. Disamping untuk membinasakan pesona Candy Crush, Zuma, dan Sudoku di handphone juga sih. Haha

Sebetulnya oleh PJ Klab Baca, sudah dibuatkan form untuk mengulas novel yang kita semua baca. Tapi saya kok amatir sekali dalam membuat review/ulasan. Setelah membaca ulasannya Gard di Slack, saya langsung insekyur dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Kok nggak bisa ya saya baca soal dan mengerjakan sesuai dengan yang seharusnya? haahhaa #nangis.

Jadi, saya berniat membuat ulasan kembali di sini, setidaknya untuk diri saya sendiri dalam rangka belajar mengulas buku. Siapa tahu lama-lama juga bisa membuat ulasan yang bagus. Yekaaan...  


*** 

(Template ulasan: Nyontek Gardin)

Bulan : Mei

Tema : Sweet Romance

Judul : The Last Song

Penulis : Nicholas Spark

Halaman : 368 halaman

Ringkasan:

Kisah tentang perlawanan, jiwa muda, pencarian jati diri, penemuan cinta, dan kasih sayang (compassion). 

Seperti halnya novel Nicholas Spark yang lainnya, buku ini tidak jauh dari hubungan asmara dan keluarga. Tokoh utama dari cerita ini adalah Ronnie, seorang perempuan usia remaja yang menyimpan amarah terhadap ayahnya. Ayahnya yang dia tahu telah meninggalkan dia, adik dan juga ibunya untuk mengejar karir sebagai pemain piano, hingga melupakan mereka semua. Beberapa tahun Ronnie tidak mau berbicara dengan ayahnya. Ronnie kecil yang sangat pandai bermain piano mengikuti ayahnya, menjadi Ronnie remaja yang membenci piano. 

Hingga pada suatu liburan musim panas, Ibunya (Kim) memaksa dia dan adiknya (Jonah) untuk menghabiskan waktu liburnya bersama dengan ayahnya. Tidak seperti biasanya, kali ini ibunya tidak menerima penolakan ataupun negoisasi. Hingga mau tak mau Ronnie dan Jonnah menurut dan tinggal bersama ayahnya di rumah pantai, North Carolina. 

Sejak hari pertama kedatangannya, Ronnie tidak ingin dekat ataupun berbicara dengan ayahnya. Alih-alih dia memilih pergi ke daerah ramai disekitar pantai. Dia menonton pertandingan volley pantai dan tak sengaja bertabrakan dengan Will dan membuat minumannya tumpah. Kemudian disana juga dia bertemu dengan teman baru (Blaze) yang juga banyak menghadapi banyak masalah keluarga. Blaze memperkenalkan dia dengan Marcus dan dua teman lainnya. Dia tidak perduli ayahnya dan juga adiknya kebingungan mencarinya. Singkat kata, di malam pertamanya di NC, Ronnie akhirnya berhasil ditemukan oleh polisi yang juga teman ayahnya, dan diantarkan pulang. Satu alasan lagi untuk membenci ayahnya. 

Steve (Ayah Ronnie) memiliki piano di rumahnya, dan sering memainkannya. Ronnie yang membenci piano sebagaimana dia membenci ayahnya, menyampaikan ketidaksukaannya dan melarang ayahnya bermain piano. Dia merasa, ayahnya bermain piano demi memancing Ronnie untuk memainkannya juga. Akhirnya Steve yang sangat menyayangi Ronnie dan ingin bisa kembali dekat dengannya, membangun dinding penyekat untuk menyembunyikan pianonya, agar Ronnie tidak merasa terganggu setiap kali melihat benda itu. Dan sebagai gantinya, Steve diam-diam pergi ke gereja yang sedang direnovasi, untuk bermain piano atas seijin Pastor Harris, temannya.

Beberapa hari pertama Ronnie, dia habiskan bersama dengan Blaze dan teman-temannya, hingga akhirnya Blaze cemburu karena Marcus menunjukkan ketertarikannya pada Ronnie. Disatu sisi Ronnie mulai dekat dengan Will, yang bekerja di bengkel dan juga adalah volunteer di aquarium pusat. Suatu hari mereka berkemping bersama menjaga telur penyu dari serangan rakun, dan membuat hubungan mereka semakin dekat. Hal ini membuat Marcus tidak suka, dan karena dia memiliki rahasia hitam mengenai Will dan temannya (Scott), dia mulai sering mengganggu mereka. Blaze semakin tidak suka dan menjebak Ronnie dengan memasukkan beberapa koleksi kaset klasik ke dalam tasnya, hingga Ronnie terancam persidangan dan penjara. 

Banyaknya masalah yang dihadapi Ronnie, secara tidak langsung membuat hubungannya dengan Steve membaik. Mereka mulai sering berbincang, sering bertukar cerita, memasak bersama. Sedangkan Jonah lebih sering menghabiskan waktu bersama Steve dengan membuat jendela untuk gereja di workshop nya. 

Ketika akhirnya Ronnie dan Will semakin serius dengan hubungan mereka, Ronnie mengundang Will makan malam bersama dengan Steve dan Jonah, dan begitu juga sebaliknya. Saat itu, Ronnie baru menyadari bahwa Will rupanya anak orang kaya yang memiliki perusahaan otomotif besar di NC. Saat kakak Will menikah, Ronnie hadir. Rupanya Marcus yang menyimpan dendam terhadap Will dan Scott, tersulut dengan Ronnie yang lebih memilih Will, berniat jahat dengan merusak pesta kakak Will. Ibu Will yang awalnya tidak menyukai Ronnie, semakin membencinya. Dengan patah hari, Ronnie pergi meninggalkan rumah Will. 

Untuk menghadapi kasusnya sendiri di toko kaset, Ronnie berusaha berbicara dengan Blaze, dan setelah lama membujuknya, akhirnya Blaze mau mencabut laporannya ke polisi, dan bahkan dia bersaksi mengenai kejahatan-kejahatan Marcus, termasuk saat pesta pernikahan kakak Will, dan juga tentang kejahatannya membakar gereja beberapa tahun lalu yang mengakibatkan Pastor Harris cidera hingga nyaris meninggal. 

Di saat yang sama, Ronnie baru mengetahui bahwa ternyata ayahnya sakit kanker yang sangat parah. Rupanya karena sakitnya tidak lagi bisa disembuhkan, Steve meminta anak-anaknya untuk melewati musim panas bersamanya. Ronnie juga baru mengetahui bahwa Steve memainkan piano bukan untuk membuat Ronnie bermain lagi, melainkan untuk mengurangi sakit yang dirasakannya, hingga dia rela menyelinap ke gereja untuk memainkannya. Bagi Steve, bermain piano adalah saat dimana semua sakitnya hilang. Ronnie menyesal dan mulai memainkan piano ayahnya lagi setelah ayahnya keluar dari rumah sakit. Dia berusaha menyelesaikan lagu yang dibuat ayahnya, yang tidak kunjung selesai. 

Saat akhirnya liburan musim panas selesai, Ronnie memilih untuk tetap tinggal bersama ayahnya, sedangkan Jonah harus kembali ke New York bersama dengan ibunya. Dan Will, sudah harus mulai masuk ke kampus baru pilihan keluarganya. Ronnie merawat ayahnya dengan baik, terus bermain piano dan merampungkan lagu ayahnya. Ketika lagunya selesai, ayahnya meninggal. 

Ronnie akhirnya kembali ke New York bersama dengan Ibunya, dan memilih untuk masuk ke akademi musik untuk melanjutkan belajar piano. Rupanya, Will akhirnya mampu meyakinkan keluarganya untuk kuliah ditempat pilihannya sendiri, Columbia University. Satu kota dengan Ronnie. 

Buku ini tidak hanya menceritakan tentang kisah cinta semata, namun banyak memperlihatkan gejolak hubungan keluarga, dan pergolakan batin yang biasa dialami para remaja. Ronnie yang awalnya penuh kebencian akibat perceraian orang tuanya, akhirnya berbalik menjadi penuh kasih sayang terhadap ayahnya. Blaze yang awalnya menyiksa dirinya akibat perceraian orang tuanya, banyak berbuat hal buruk bersama dengan Marcus dan teman-temannya hingga mencelakakan Ronnie, akhirnya bertobat dan kembali kepada ibunya, dan berusaha menebus kesalahannya pada Ronnie. Will yang selalu berusaha menjaga perasaan ibunya akibat meninggalnya adiknya, akhirnya bisa menemukan ketegaran dan memilih apa yang terbaik untuknya sendiri. Steve yang awalnya selalu mempertanyakan keberadaan Tuhan, meragukan jawaban atas semua doanya, akhirnya menyadari bahwa musim panas bersama dengan anak-anaknya adalah jawaban dari semua doa yang pernah dia sampaikan pada Tuhan. 

Adegan Favorit: 

Ketika Ronnie dan Will menjaga telur Penyu Tempayan di belakang rumah Steve selama beberapa malam, karena petugas penyelamat belum bisa memasang sekat perlindungan dari rakun. 

***


Update setelah call bersama: 

Mendengar teman-teman yang lain membacakan ulasan buku mereka, saya pengen pingsan. Ya ampun, kok pada keren-keren ya bikin ulasannya. Haissshhh... Wilis, semangadhlah!!! Next musti lebih baik lagi. ahahahah

Pe-Er untuk ulasan (saya) bulan depan: 

- Nyeritain isi bukunya sedikit saja

- Nuansa/feeling/perasaan ketika membaca buku nya

- Inti dari bukunya apa

- Konflik terberat nya apa

- Suka atau nggak suka? 

- Sebutkan plus minus buku

Saturday, May 1, 2021

Membudidayakan Harapan

 


1 Year of raising hopes... 

Sudah satu tahun berlalu rupanya. 1 tahun dari momen ketika semangadh, niat, dan harapan melambung tinggi meraih ide-ide yang berserakan di langit. Eeeaaa

Selamat Ulang Tahun yang pertama Kaizen Writing Alumni aka Alumni Semut Merah Kaizen. Semoga kebersamaan yang dilandasi dengan semangadh bertumbuh dan berkarya bersama ini, akan tetap tumbuh subur dan terus melahirkan karya. 

Seperti halnya ide yang melayang bagai awan putih di angkasa biru, 1001 cerita dibalik gambar akan selalu menjadi kenangan tersendiri... Dance it out :-)