Wednesday, January 13, 2021

January School From Home - Writing Challenge #Day3

January School From Home - Writing Challenge #Day3


Whatsapp Group PJJ: "Besok, Rabu 13 January 2021 materi PJJ adalah Matematika" 


Selasa malam menjelang tidur: 

Saya: "Mbak K, besok kita sekolahnya belajar Matematika"

K: "Asik, I love Matematika" Katanya. 

Saya: "I know. Jadi besok kita kerjasama yang baik ya sekolahnya biar lanca, selesai cepat, dan semua happy. Ok?" Kata saya dengan yakin, untuk meyakinkan diri sendiri.


 Rabu, 13 January 2021

06.00 WIB

Saya: "K, Ayok bangun kan mau sekolah" 

K: "Sebentar Bunda... Aku masih ngantuk bangettt...." 

Setelah berkali-kali dibangunkan dan mendapat jawaban yang sama, akhirnya dia bangun jam 06.40 WIB.


06.45 WIB

Saya: "K, ayok kita sarapan dulu terus mandi. Udah mau masuk ini sekolahnya" Kata saya.

K: "Sebentar Bunda... Aku kan baru banguuun.." 

Setelah berkali-kali diajak, baru berhasil bersiap jam 07.40 WIB.


08.00 WIB

Saya: "K, Ayok kita mulai sekolah. Matematika. Sudah terlambat ini kita" Kata saya.

K: "Iyaaa... Sabaaarrr..." 

Saya: "Berdoa dulu yuk..." 

K: "!@##$$%%^" Berdoa dengan nada tidak jelas.

Saya: "Yang betul berdoanya biar Tuhan mudah mengabulkan" Kata saya mulai pasang kuda-kuda, K berdoa dengan benar. 

Saya: "Kita belajar dari Power Point nya dulu ya... Baru nanti menonton video nya biar lebih mengerti... Sekarang kita belajar penempatan bilangan, penjumlahan bersusun. Penempatan bilangan itu..." Belum selesai saya menjelaskan, K menyahut...

K: " Iyaaa... Aku udah tahu. Ini gampil. Aku udah belajar di TK" Katanya

Saya: "Kita belajar lagi biar lebih mengerti ya"

K:" Ish, Bunda nih... Aku udah tahuuu.... Lanjut aja" Saya mulai menghela nafas sedikit lebih banyak.

Saya: "Ya udah, bener ya udah bisa. Kalau gitu kita belajar penjumlahan bersusun saja. Nih, bentuknya begini.... Yang ini, kan angkanya 16. Berarti 1 puluhan ditambah 6 satuan. Yang ini angkanya 3, berarti 3 satuan. 6 ditambah 3 sama dengan 9, ditulis dibawahnya. Yang angka 1 puluhan... " Lagi-lagi, belum selesai saya menjelaskan, K memotong kalimat saya...

K: "Haduh bunda, I don't understand banget itu apa... I can not think..." Nafas saya 3 detik lebih panjang dari biasanya. 

Saya: "Ya udah kalau gitu nonton video nya Bu Guru saja. Siapa tahu kamu jadi lebih paham" Saya putarkan video yang disiapkan oleh ibu guru nya, dan dia nampak menyimak. 


Saat video tutorial nya selesai, sampailah dihalaman yang memuat halaman tugas yang harus dikerjakan. 

Saya: "Sudah selesai kan? Yuk kita kerjakan tugasnya" Saya menyiapkan bukunya. 

K: "Aku kok mulai ngantuk lagi ya bunda" Katanya sambil menguap. 

Saya: "Nanti malam tidurnya jangan malam lagi. Tidur sore lagi biar pagi semangat" 

K: "Aku memang nggak semangat kalau sekolah" Otak saya sudah mulai menghangat. 

Saya: "Nih, yang halaman pertama gampil banget. Kamu pasti bisa" Kata saya menunjukkan halaman buku yang dimaksud.

K: "Iya, ini sih gampang banget. Easy peasy lemon squeesy" Katanya sambil mengerjakan. 


Saya duduk di sofa dibelakang kursi K, dan memilih untuk merajut. Jaga-jaga kalau ternyata butuh pengalihan. 


K: "Kalau aku bilang ping ping... Berarti I need help ya Bunda... Jadi Bunda kesini" Kata K. Saya tertawa dan mengiyakan. 

K: "Ping ping" Katanya

Saya: "I am coming"

K: "Ini banyak banget gambarnya. Kalau aku tambahkan semuanya ini sama ini sama ini, udah banyak banget aku menghitungnya..." Katanya. 

Saya: "Ya kan nggak disuruh menghitung semua. Mana sekarang yang belum bisa? Eh udah semua yang ini. Ok kita ke halaman selanjutnya ya... " 

K: "Sebentar Bunda, aku mau ambil minum dulu" K beranjak ke dapur dan saya menyiapkan halaman selanjutnya. 

Lamat-lamat saya mendengar suara ayahnya K ngobrol dengan K. 

Ayah: "Sudah selesai sekolahnya?" Tanya Ayahnya

K: "Belum, aku mau ambil minum dulu" Suara K.

Ayah: "Ambil minum kok malah tiduran di kursi?" Suara Ayahnya. Saya yang mendengar, langsung keluar. 

Saya: "Katanya ambil minum, kok malah tiduran?" 

K: "Iiih... Ayah nih spoiler. Aku nggak mau belajar lagi kalau ayah spoiler gitu..." 

Dan drama pertama pagi ini (kalau yang sebelumnya masih belum termasuk drama), dimulai. K ngambek dan lari ke balkon sambil bilang bahwa dia tidak mau belajar lagi karena ayahnya spoiler. 

Baiquelah... Setelah beberapa menit berlalu hanya untuk membujuk anak wedhok, akhirnya dia mau duduk manis kembali untuk sekolah. 

Saya: "Yuk kerjain yang ini. Ini tadi yang bunda jelasin itu. Tulis dulu berapa puluhan dan berapa satuan, baru ditulis angka hasilnya" Kata saya kemudian merajut untuk mengurai emosi yang mulai bangkit. 

K (baru selesai 1 nomer): "Aduh bunda... Aku headache banget ini... Bentar aku minum dulu..." 

Dia ke dapur untuk minum (menolak membawa cangkirnya ke tempat sekolah), dan kembali duduk meneruskan pekerjaannya. Setelah beberapa nomor selesai, dia kembali lagi berkata.

K: "Bunda, aku beneran headache ini sekarang. Kenapa ya?" Tanyanya. 

Saya: "Karena kemarin-kemarin otaknya kebanyakan istirahat. Sekarang diajakin mikir jadi terasa sedikit sakit. Bunda juga kalau lagi banyak pekerjaan begitu. Yuk lanjutin masih banyak ini tugasnya" Kata saya. 

K: "Sebentar, aku stretching dulu ya... Mungkin nanti headache aku hilang" Dan dia bergerak-gerak pemanasan kecil, baru kemudian melanjutkan tugasnya. 

Saya: "K, kalau kamu ngerjainnya banyak selingan begitu, malah nggak selesai-selesai lho. Jadi lama" 

K: "Bunda ini nggak sabaran banget. Sabar donk Bunda. Coba saja Bunda yang ngerjain. Memang nya dulu Bunda juga mengerjakan begini?" 

Emosi yang sempat mereda dengan rajutan, kembali terusik. Namun seolah mendapat angin segar untuk memompa semangat K, saya mulai bernostalgia. 

Saya: "Iya donk... Dulu tuh ya, Bunda kalau ada tugas begini, semangat banget ngerjainnya. Pengen cepet selesai karena kalau sudah selesai, kan tinggal main nggak mikir tugas lagi. Terus kalau ada buku begini, Bunda seneng banget, karena bisa buat latihan sendiri" Kata saya panjang lebar. 

K: "Pameeerrr... Sombooong... Bunda ini senengannya pamer deh" Bah! Gimana ini ceritanya. Saya diam. 

Dan beberapa obrolan/diskusi/perdebatan/drama diatas, berulang dan berulang beberapa kali. Hingga akhirnya tugasnya benar-benar selesai. 

Hari ini saya cukup senang, karena ternyata sambil merajut, saya bisa meredam emosi yang kemarin sempat meledak-ledak hingga saya nyaris menangis. 


*** 


Dear Covid, please hear my voice from deep down of my heart. 

You are so mean

You make million people suffer. 

Suffer from the lost of loved one, suffer from being isolated with very limited access, suffer for having double triple job in the same time as Mother/Wife, worker, teacher, and many other things. 

Please, go away. Aamiin

#DramaSFH #DramaPJJ #WhenMomBecomeAnEnemy

Tuesday, January 12, 2021

Bisa Karena Kepepet, Lama-Lama Jadi Biasa

Kali ini saya hanya ingin berbagi hal kecil (tapi sangat besar untuk saya, Mas Bojo, dan K) yang terjadi minggu lalu. Tepatnya di Mall yang letaknya selangkah di depan perumahan kami. 

Jadi waktu itu, kami sedikit belanja karena ada beberapa kebutuhan yang harus kami beli. Setelah selesai dengan semua barang yang kami perlukan, kami berjalan ke kasir. K ingin membeli cokelat yang bungkusnya berwarna biru (atau ungu deh?) itu, yang mana sekarang diletakkan didalam kaca. Jadi harus menghubungi penjaganya untuk bisa mengambil. 

K: "Bunda, aku mau coklat yang biasa aku beli itu lho" Katanya

Saya: "Boleh, kamu bilang ke mbak nya, nanti diambilin sama mbaknya" Kata saya. 

K: "Bunda aja... Kan Bunda bisa..." 

Beberapa kali K meminta saya untuk mengambilkan, namun saya menolak dan memintanya untuk mencari mbak penjaga. Mas Bojo, seperti biasa. Tidak tahan dengan rengekan anaknya, terus mencoba berjalan ke arah coklat itu. 

Saya: "Ayah, no. Biar K minta ke mbak nya sendiri. Itu nggak bisa kita ambil langsung. Harus sama mbak nya" Kata saya. K marah mengetahui saya melarang ayahnya. 

K: "Bunda kenapa sih? Biasanya kan juga ayah yang ambilin aku. Kenapa sekarang dilarang?" 

Saya: "Karena sudah saatnya kamu belajar untuk berani mbak. You want it, you earn it"

Setelah itu, adegan K berputar-putar dari gang ke gang berjalan cukup lama. Saya sangat memahami perasaannya, dimana dia sangat menginginkan sesuatu, namun juga sangat malu dan tidak berani memanggil penjaganya. Dulu waktu kecil pun, saya seperti dia. Persis. Sering saya menginginkan sesuatu, namun saya terlalu malu untuk bertanya atau meminta. Sehingga jatuhnya hanyalah berupa rengekan, dan berbalas dengan cubitan manjah dari alm ibuk saya tercinta :-)

Saya ingin K lebih baik daripada saya. Dia yang memang termasuk anak yang sedikit pemalu itu, harus mencoba untuk mulai berani. Saya yakin jika sekali ini dia berhasil mengalahkan rasa malunya, kedepan dia tidak akan pernah malu atau takut lagi untuk melakukan hal yang sama. Level PD nya akan meningkat pesat, saya yakin sekali. 

Beberapa kali K kembali kepada saya dan Mas Bojo yang menunggu didekat kasir, namun saya tak bergeming. Ayahnya mulai tidak sabar, namun saya masih bisa meyakinkannya. K berputar-putar tak tentu arah selama beberapa lama lagi. Kami pura-pura tidak melihat. 

K: "Bunda, bunda aja yang bilang mbak nya..." Kata K kembali mendekat pada saya. 

Saya: "Kamu nggak terlalu mau coklat itu?" 

K: "Aku mau bangettt bunda..." 

Saya: "Kalau kamu mau banget, go find mbak nya, bilang kalau kamu mau beli coklat yang didalam kaca. Yuk. Bunda sudah mau bayar ini" Saya mengajak ayahnya berjalan mengantri di kasir. 

Saya dan Mas Bojo mulai mengantri di kasir, sedangkan K kembali lagi berputar-putar mengitari gang yang ada coklatnya. Ketika keranjang kami tepat berada didepan kasir, Mas Bojo mengerling ke arah rak coklat. Saya melirik sedikit dan melihat K bersama dengan mbak penjaga berjalan menuju rak coklat. Saya tersenyum. Saya tahu beberapa saat lagi K akan berlari ke arah kami dengan senyum yang sangat lebar, rasa bangga dan percaya diri yang membubung tinggi. Dan benar saja. 

Dia berlari mendekati kami dengan senyum penuh gigi lebar sekali. Saya memeluknya dan mengatakan bahwa saya sangat bangga menjadi bundanya.

Saya: "Coba lihat dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat pasti ya?" Tanya saya.

K: "Iya, aku deg-degan banget. Tapi aku bisa" Katanya.

Saya: "Tentu saja kamu bisa. Kamu kan hebat" 

Dan acara belanja sore itu, menjadi acara keluarga yang menyenangkan sekali. 

Sunday, January 3, 2021

Happy New Year, 2021!

Selamat Tahun Baru 2021!!!

Meskipun tidak pas tahun berganti banget, tapi ndak masalah lah ya. Better late than never, ceunah. 

Tahun Baru, Semangadh Baru!!! <-- Adalah motto saya tahun ini. Diucapkan dengan menggebu-gebu, dari dalam hati, kalau perlu sambil muncrat. Biar lebih terasa gregetnya. 

Tahun ini, saya tidak banyak membuat resolusi. Tapi saya sangat-sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan saya dan keluarga saya kesehatan dan kesempatan untuk bisa sampai di tahun baru ini. Karena seperti yang kita tahu, bisa melewati Tahun 2020 dengan selamat dan tetap waras saja, sudah merupakan anugerah yang tak terhingga. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan?

Tahun 2021 ini saya buka dengan sebuah semangadh untuk mengalahkan diri saya sendiri. Mengalahkan ketakutan, rasa malu, ego, tidak percaya diri, dan juga idealisme dalam diri ini. Hal ini saya ejawantahkan melalui kelahiran buku cerita (novel) saya melalui platform online, Wattpad. Ini adalah ejawantah dari perenungan yang cukup lama, dan tarik ulur. Saya akan menceritakan kisahnya dibawah ini. Mungkin alurnya maju mundur, loncat-loncat, atau mungkin kurang nyambung disana dan disini. Karena masih terlalu banyak rasa yang membuncah di dalam dada ini sampai saat ini. - Lebay

Kisah yang saya beri judul 'Mencari Pelangi di Ujung Senja" ini sebetulnya berawal dari cerita pendek saja. Kalau penulis sekelas Dee Lestari menyebutnya manuscript, saya hanya cukup PD dengan menyebutnya sebagai coret-coretan. Cerita pendek ini sudah sangat lama saya tuliskan, kalau tidak salah sekitar tahun 2008 atau 2009. Saya lupa tepatnya. Cerita pendek yang terinspirasi dari kisah hidup teman saya kala itu. Namun ceritanya berdiam di hard disk saja. 

Sampai tahun 2020 kemarin saya menunjukkannya pada salah seorang teman yang pekerjaannya adalah menulis. Sebut saja namanya E K A. Saya masih ingat saat itu teman saya ini bertanya setelah membaca "Cerita kamu ini, bisa banget dibikin panjang. Kayak masih banyak yang bisa terjadi gitu di balik cerita kamu ini. Coba aja panjangin" Katanya. Dan kebetulan saat itu Gramedia Pustaka Utama sedang membuka kompetisi penulisan novel. Entah bagaimana saya kemudian mengikutkan diri dalam kompetisi itu. Saat itu saya sedang mengambil Sabbatical dari pekerjaan selama 6 minggu. Dan di saat itu, entah bagaimana rasanya ide begitu mudahnya mengalir membersamai perjalanan Siwi menjadi pelangi selepas senja. Hingga akhirnya kisahnya berakhir dengan kata T A M A T yang sangat saya banggakan. 

Awalnya saya dan Eka berniat membedah satu persatu bab yang ada. Saya membedah cerita, dan Eka membedah dari sisi penulisan, EYD, dll. Namun karena dia sibuk, akhirnya saya main hajar bleh semua cerita yang ada dikepala saja. Saya sempat meminta sepupu saya yang berinisial V I F I dan juga teman saya yang berinisial U P I , untuk membaca buku saya. Saya ingin mendapatkan feedback dari orang-orang yang dekat dengan saya terlebih dahulu. Namun sepertinya mereka adalah member #PasukanHalu yang sangat militan, sehingga mereka memuji tulisan saya dan berkata bagus. Vifi bahkan dengan rajin menanyakan pada saya "terusannya mana?" blah. Oh iya, #PasukanHalu itu adalah julukan saya pada teman maupun saudara yang berkenan ikut sedikit halu membaca cerita saya. Member terakhir yang bergabung adalah suami saya, saat dia mau melakukan checking di bagian Bahasa Sunda. hahaha

Pada akhirnya novel saya tidak terpilih, beberapa teman saya lolos. Tapi buat saya, saya sudah lolos terlebih dahulu ketika akhirnya bisa benar-benar punya cerita panjang yang tamat. Aaahhh... Bahagianya itu rasanya teramat sangat manis. Terima kasih untuk Eka yang telah menemukan satu kalimat yang hilang dari saya, yang kemudian memantik semua ini hingga sekarang. Juga terima kasih untuk #PasukanHalu yang dengan kata-kata indah alias sweet lips nya mampu membuat saya semakin halu dan menyelesaikan cerita dengan percaya diri. :-p

Tergambar dipelupuk mata saya, novel saya akan bertengger manis di rak buku saya, dan juga rak buku teman-teman saya. Terbayang saya akan dengan semangat mengiklankan buku saya pada teman-teman melalui medsos, WA, ataupun japri satu-satu. 

Pertengahan tahun 2020 hingga awal tahun 2021 adalah saat-saat yang sangat unik. Pandemi membuat semua keadaan diluar kendali. Anak sekolah di rumah, suami bekerja dari rumah, membuat rytme hidup saya berubah sedemikian drastis. Dari situ juga, banyak pertumbuhan yang saya mungkin kurang sadari. 

Saya berniat untuk mengurangi buku di rak-rak dan box-box, baik yang sudah pernah dibaca, ataupun yang sepertinya tidak akan saya baca. Namun misi ini selalu gagal. Karena setiap saya menurunkan semua buku untuk di pilah, pada akhirnya hampir semua yang menurut saya menarik akan kembali lagi nangkring manis di rak itu. Diam menjadi pajangan, namun enggan untuk direlakan. 

Dua teman saya yang sudah berhasil melewati fase kegalauan memilah buku, justru menawarkan buku-bukunya yang sudah tak memiliki tempat baik dirumahnya maupun dihatinya. Dan saya seperti biasa, dengan senang hati menerimanya. Lah?

Dua hal ini membuat saya berfikir. Jika buku sekelas bukunya Dee Lestari sampai Nora Robert saja bisa orang relakan untuk diberikan ke orang, apakah buku saya yang baru belajar ini akan menjadi pilihan bagi orang untuk mempertahankan? Mempertahankan dalam artian untuk dibaca karena senang, bukan karena rasa tidak enak karena kami berteman. Saya sendiri selama ini sering membeli buku karena "wah, temen bikin buku. Ya udah gw beli juga lah", namun tak harus menunggu tahun berganti, buku-buku tersebut (jika genre nya bukan yang saya senangi) pasti sudah lenyap dari pandangan. 

Selain itu, pengalaman saya dalam memasarkan buku Antologi Cerita Saat Jeda yang ditulis oleh 27 orang alumni Kaizen Semut Merah, yang di Ampu oleh Dee Lestari, juga membuat saya berfikir. Menjual karya sendiri, terlebih lagi buku, ternyata tidak mudah. Saya pernah jumawa bahwa teman-teman saya banyak, dan rata-rata mereka senang membaca. Kalau aku nulis dan cetak buku, mereka pasti belilah. Kan teman. Ternyata Cerita Saat Jeda membuka mata saya, bahwa tidak semudah itu Jendral!

Semangadh menggebu saya sedikit surut, melihat kenyataan bahwa mengajak teman atau saudara untuk membeli buku kita, tak semudah mengajak mereka untuk ngopi atau nongkrong. Meskipun biayanya sama. Meskipun mereka yang kita tahu senang membaca, belum tentu mereka mau membeli buku kita. For whatever reason for sure. :-p

Akhir tahun 2020, karena situasi masih pandemi, pergerakan masih dibatasi, saya banyak menghabiskan waktu dengan melihat-lihat lagi coretan-coretan lama saya. Ternyata, saat saya melakukan itu, muncul pertanyaan di kepala saya. "Aku menulis, untuk mencari uang, dikenal orang atau karena hobby dan menyalurkan isi kepala yang sering jalan-jalan sendiri?". Pertanyaan ini datang berulang-ulang setiap saya menilik kembali coretan saya. 

Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti arah keinginan saya. Yang tadinya ingin mencetak buku-buku saya dan menjualnya sendiri, akhirnya saya niatkan untuk melahirkannya melalui platform membaca online. Dan untuk yang pertama (dan sepertinya yang kedua juga) ini, saya menggunakan Wattpad sebagai wadahnya. Tapi saya tidak mengubur keinginan untuk bisa mencetaknya menjadi buku yang bisa dipegang dan dipajang di rak buku, hanya tidak sekarang. Mungkin saat saya sudah punya satu atau dua buku lainnya, saya bisa mencetaknya bersama-sama. 

Dengan melahirkannya melalui platform online ini, hanya mereka yang benar-benar ingin membaca cerita saya lah yang mungkin akan mengikuti kisahnya. Namun tak mengapa. Bukankah itu salah satu tujuan kita menulis? Untuk dibaca, bukan sekedar di pajang, atau bahkan berakhir di tukang loak. 

Dulu, setidaknya sampai dengan awal Tahun 2020, saya masih befikir "mungkin kita bisa mencari uang dari menulis?" Namun kondisi pandemi 2020 membuat saya banyak mengikuti cerita para penulis. Dan akhirnya legowo dengan kenyataan "Kalau belum sebagus Dee Lestari atau Jodi Picoult atau JK Rowling, sebaiknya menulis lebih karena hobby saja" haha. 

Perjalanan di atas, menentukan arah Tahun 2021 untuk saya. Selain meneruskan resolusi turun temurun ini, saya akan work my ass so hard dengan pekerjaan kantor saya sehingga saya tetap bisa mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan saya akan work my ass so hard juga untuk menggunakan waktu luang dengan lebih baik lagi. Mungkin menulis sebanyak-banyaknya, mungkin merajut sebanyak-banyaknya, mungkin belajar sebanyak-banyaknya. Apapun itu, membuat waktu berlalu dengan lebih berisi sehingga hidup kita lebih berarti. 

Selamat Datang 2021, Bring It On!

Tuesday, December 1, 2020

31 Days Journaling Challenge - December 2020

Dengan semangat untuk memperbaiki kekonsistenan menulis, maka saya bergabung kembali dalam tantangan menulis sebulan penuh di Bulan Desember 2020 ini. Berikut ini adalah daftar topik yang sudah dikirimkan oleh 'suhu' journalling yang tidak lain adalah Ci' Inge. hehehe

Seperti biasa, tulisannya bisa dilihat di sini: https://kemarinkoe.blogspot.com/ 

Bismillah... 

*******


1: What do you want to do this month? Write your goals for the month, and think about what you need to do to accomplish them.

2: Look back through your planner, journal, and/ or bullet journal for the past year. What stands out to you? Were there significant events, strong emotions, big changes, happiness, determination? Write what stands out to you most from looking back over your year.

3: Think about what your life was like at the beginning of the year. How is your life different now from how it was in January?

4: Is your life now how you expected it was going to be at the beginning of the year? If not, how is it different than you expected?

5: Who were the most important people in your life this year?

6: Who did you spend the most time with this year? Are these the same people in your answer to the question above? Why or why not?

7: How did your relationships change this year? Which relationships grew? Which deteriorated? Why?

8: Are there any relationships you wish could be different from how they are now? In what way?

9: Look back at your progress in work/ school this year. How have you developed?

10: Have your work/ school goals and priorities changed this year? In what way?

11: In what ways have you improved at work/ school this year?

12: What could you have done better in work/ school this year?

13: How has your health/ fitness changed this year? Has it improved or declined? Why?

14: What did you do to try to improve or maintain your health/ fitness this year? How successful were you in these efforts?

15: Mid-month review! How are your goals coming along? What can you accomplish in the remainder of this month?

16: Did you have any setbacks to your health/ fitness this year? If so what were they? What did you do to overcome/ improve them?

17: Look back at what your goals were for this year. What did you hope to accomplish?

18: What were your biggest accomplishments this year? How many of these were part of your original goals, and how many were unexpected?

19: Looking at your 2020 goals again: which of these goals did you complete? Congratulate yourself on a job well done!

20: For the goals you did not complete, why? What were your roadblocks? What kept you from accomplishing your goals?

21: Think about the roadblocks that kept you from accomplishing your goals. What can you do to overcome these in the upcoming year?

22: How did your goals change during the year? Did any of your goals become irrelevant? Did any change direction, timing, or magnitude? (For example maybe you planned to run a marathon in the spring, but had to change plans due to an injury and ran a 10k in the autumn instead. Your overall goal of running a race stayed the same, just the timing and magnitude changed. The success is you came back from injury to accomplish your goal of running a race!)

23: Looking back over your year, what were some blessings in disguise? What happened that seemed undesirable at the time but ended up being good?

24: Describe a time from this year when you overcame difficulty.

25: What are your happiest memories from this year?

26: What risks did you take this year? How did they turn out?

27: What are you most grateful for this year?

28: What will you remember most about this year 10 years from now?

29: Write five words or one sentence to sum up this year.

30: What good things happened this month? What were your favorite moments this month?

31: Month review! How did this month go? Which goals did you complete? What do you still need to work on?



Sunday, November 29, 2020

Journaling Challenge - November 2020

 Helooo... 

Seperti Bulan October kemarin, Bulan November ini pun saya berniat mengikuti writing challenge untuk 30 hari penuh. List topic nya seperti ditampilkan pada gambar dibawah ini. Awalnya saya istiqomah, namun ternyata Bulan November saya hanya rajin sampai dengan hari ke - 6. Setelahnya saya mabal dan tak kembali. Monmap yaaa... 

Bulan Desember saya akan mencoba lebih tertib dan konsisten. Aamiin. 

Seperti kata Bu RT kita tercinta, bahwa untuk menjadi konsisten dan semangat mengejar target, kita bisa meminta bantuan orang lain untuk memberi tekanan. Tertarik menjadi tukang tagih tulisan saya ketika saya tak lagi konsisten? Boleh bangettt lhooo... 

Tulisan nya ada disini: https://kemarinkoe.blogspot.com/ 

Terima kasih,

WJ

Thursday, October 1, 2020

31 Days Journaling Challenge

 Hello there... 

Di Bulan Oktober ini saya bersama dengan teman-teman Kaizen Semut Merah menantang diri sendiri untuk melakukan kegiatan menulis rutin selama 31 hari. Temanya sudah ditentukan, kita tinggal mengikuti dengan cerita kita sendiri. Saya bersemangat sekali mengikuti tantangan ini. Karena menulis rutin itu adalah kegiatan susah-susah gampang dan gampang-gampang susah. Gampang kalau kita sudah memulai dengan 1 kalimat, namun susah untuk mencari kalimat pertama itu apa. 

Yang seru dari tantangan ini juga adalah kita bebas menulis dimana saja, dengan media apa saja, dan apakah mau di share ke orang lain atau tidak. Kalau kalian mau nulis di diary juga boleh. Tantangan ini lebih untuk refleksi kita sendiri kok. 

Mulanya saya juga ragu, apakah saya akan menuliskannya dan membaginya ke jagat dunia maya, atau hanya saya simpan di draft untuk saya baca sendiri? Namun akhirnya saya memilih yang pertama. Saya share saja dengan orang lain yang kebetulan atau memang niat mampir ke tulisan saya. 

Kalau ada yang ingin membaca-baca jurnal saya, bisa ditilik disini ya: https://kemarinkoe.blogspot.com/ 

Smangadh!