Tuesday, August 27, 2019

Me Time - Me Place


Seringkali orang menyebutkan kata "Me Time"

Kebanyakan mengartikan Me Time adalah waktu untuk memberikan kesenangan, menyenangkan, menikmati  dan melewatinya dengan hal-hal yang kita sukai. Bermacam-macam "Me Time" yang bisa dilakukan. Mulai dari Shopping bagi yang memang hobby, window shopping bagi yang senang, nongkrong di kafe bersama teman, nonton, olah raga, berkebun, melakukan hobby yang digemari, membaca, ataupun hanya sekedar berdiam diri dan membiarkan isi kepala bebas berkeliaran sejauh-jauhnya.

Untuk saya sendiri, saya lebih senang menggunakannya dengan beberapa hal yang saya sebutkan terakhir. Mulai dari Olah Raga hingga berdiam diri, itu adalah hal favorit saya.

Setelah mengantar anak saya sekolah, ketika badan sedang enak dipakai untuk beraktivitas, mood sedang bagus, dan sedang tidak ada pekerjaan mendesak, saya akan berjalan ke lapangan yang dekat dengan sekolah anak saya. Beberapa putaran lari dan jalan kaki sudah cukup membuat otak dan badan saya segar kembali. Biasanya saya lari sambil mendengarkan AudioBook... Untuk sekedar mengendalikan pikiran agar tidak terlalu jauh berkelana. Mungkin karena kebiasaan saya mendengarkan Audiobook dalam bahasa inggris ini, akhirnya membuat saya cenderung senang menambahkan obrolan dengan bahasa inggris di tulisan saya. Terkadang saya merasa lebih mudah mencari kata daripada dalam bahasa indonesia... #Plak #BelajarLagi.

Jika di rumah, saya juga senang berkebun. Meskipun hanya sekedar menyapu halaman, memasukkan sampah organik ke lubang-lubang biopori yang saya buat dihalaman, merawat hidroponik saya, atau menyemai benih baru. Menyenangkan sekali memelihara tanaman ketika mood sedang baik. Kalau mood sedang kurang baik, saya suka melupakan mereka. Hiks...

Hobby saya adalah merajut dan membuat craft... Tapi belakangan ini sangat jarang saya menyentuh benda-benda itu... Entahlah... Kurang motivasi atau kurang waktu atau kebanyakan maunya saya. hahaha

Membaca... Belakangan saya membaca, tapi bukan novel. Saya membaca panduan menulis yang dikirimkan teman baik saya. Yang ingin saya tidak hanya membaca novel, tapi juga belajar menulis. Membaca tulisan orang tentang teori-teori itu menyenangkan. Sudah lama saya tidak belajar. Membaca iya, tapi membaca novel kan bukan belajar. Kali ini saya meniatkan diri untuk melajar. Menggunakan otak yang semakin hari semakin polos ini... kekekekeke.

Me time favorit saya belakangan ini adalah berdiam diri sambil berayun-ayun di hammock. Duuuh... Saya cinta sekali sama Bang Thoyip yang menunjukkan pada saya bahwa pekarangan kami itu bisa banget dipakai untuk menghibur diri dikala gundah gulana atau rindu sedang menerpa. Eeeaaa
Bersyukur kami pernah menanam pohon Sawo Australia dan Sirsak ketika baru mulai membeli rumah tinggal ini. Jadi sekarang ketika kami butuhkan untuk bergelantungan, pohonnya sudah sangat kuat mampu menahan. Alhamdulillah...

Di hammock ini, ketika anak saya sedang bermain bersama temannya, saya sering berdiam berayun memandang dedaunan dan juga langit disela-selanya. Banyak hal bisa saya tarik dan saya tata ulang dari memori saya. Banyak hal yang ingin saya lakukan, tapi belum sepenuhnya terlaksana. Banyak hal yang tidak seharusnya saya lakukan, justru saya lakukan dengan seringnya. Mungkin banyak salah yang pernah saya lakukan, mungkin banyak khilaf yang menyebabkan cela. Mungkin ada hal yang saya lakukan membuat orang lain senang, mungkin ada hal yang membuat orang nyaman. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang saya pikirkan. Kontemplasi... :-)

Saya juga membaca diatas hammock ini juga... Sebelum akhirnya kantuk menerjang tentunya... hehe

Jadi, kalau ada yang tanya hal favorit dan tempat favorit saya untuk menghabiskan waktu adalah "Me Time at My Place - Hammcok" :-)

What's yours?

#love

Friday, August 23, 2019

Failed Bunda

Antara Kemarin... Dan Hari Ini... 

Niat hati sih sebetulnya pengen seperti ibu-ibu sempurna diluaran sana. Yang bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sendiri, mengurusi anak sendiri, yet masih tetep bisa hang out sana sini setiap hari. Saya penasaran sekali, formula mereka itu seperti apa? Ajarkan saya, Jendral!

Saya? 

In the other hand...

Hanya karena Mas Bojo sedang keluar kota, asisten tak ada, sudah merasa chaos... Rumah tidak tertata, ngisi air kolam sampai 3 jam karena lupa, masak air sampai habis gas karena lupa, anak nggak dikasih makan karena lupa, anak nggak dimandikan karena lupa, nyuci kemarin pagi baru jemur tadi pagi... Apakah karena Drama Korea? Bukan Kisanak...!!! Karena pekerjaan sedang banyak-banyaknya, dan hampir semua ujungnya ada ASAP nya... 

Hari Ini, Jum'at 23 Agustus 2019. Hanya 3 hari setelah ulang tahunnya yang ke-6, saya membuatnya harus kesulitan. Alih-alih menghabiskan harinya dengan bahagia bersama teman-temannya disekolah, saya malah memaksanya ikut bersama saya datang ke Jekardah... 

Membolos sekolah karena emaknya harus apply visa, karena tidak ada yang bisa antar, jemput, dan tidak ada orang juga dirumah. Macam apa?  





It's really not an ideal way, nope. It's worst! I know... 

Bunda is working on it Mbak K, I am trying to find a way for us. Sabar yaaa... Nice girl! :-)

Apakah saya panik? Iya
Apakah saya kesal? Iya
Apakah saya marah? Iya

Tapi kemudian saya berfikir ulang, mereset kembali pikiran dan hati saya. 

Kenapa? Untuk apa? Apa untungnya? 

Dan akhirnya saya lepaskan semua dari pundak saya. Saya gandeng tangan anak saya, saya ajak dia berjalan menyusuri jalanan kota. Tak lupa sampil berdendang dan bercengkerama. All is well Mbak K... All is well... 


Saat ini saya sedang duduk kedinginan karena hembusan AC berlebihan disebuah ruangan, dibilangan Menteng, Jakarta. Menunggu untuk sebuah sticker yang ditempel dibuku kecil warna hijau saya. 

Mbak K? 

Dia sedang bercengkerama dengan Tante Salmul yang selalu bisa diandalkan... Thanks bunch, Tante Salmul... Lo juga bolos kerja buat ngasuh K ya. Ahahahha

When we see the world from a different angle, you will realize that world is just they way it is... Kita yang kadang menilai, menyimpulkan, menghakiminya karena perasaan kita sedang tidak nyaman...

#loveourlife

Thursday, August 15, 2019

Pengen Nulis Tapi Nulis Apa

Sering nggak sih mengalami hal ini? Pengen banget nulis, tapi semakin pengen semakin nggak tau apa yang mau ditulis?

Saya koq sering sekali ya... 

Biasanya saya menjadi gelisah. Kalau level nya akut, saya bisa gelisah dari bangun tidur sampai tidur lagi. Apakah seharian gelisah doank? Ya enggak... Hati saya gelisah, tapi tetap disambi menyelesaikan pekerjaan donk. Namanya juga tugas negara. Meskipun kadang ngerjainnya jadi banyak ada salahnya...

Tapi gelisah itu sangat mengganggu saya. Saya jadi merasa galau, kurang fokus, mellow, dan serba salah. Ketika saya paksa membuka blog, atau membuka 1 file word baru, atau membuka cerita yang sedang saya buat, jari saya seolah tidak mampu menambahkan sebaris kalimatpun. Mampet. 

Terkadang saya paksa untuk nyari ide melalui duduk diteras melihat pepohonan yang hijau. Sometimes berhasil tapi kebanyakan gagal. Terkadang saya paksa dengan muter-muter komplek naik motor. Sometimes berhasil tapi sering gagal juga. Ada yang punya tips? Glad to hear!

Oh iya, saya sharing aja deh kejadian kemarin sewaktu makan siang dengan orang kantor saya di Medja Resto yang sedang kondyang di kota ini. Seperti biasa, kami yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari ini makan siang sambil ber-haha dan ber-hihi. Kebetulan ada teman baik kami dari Filiphine yang sedang trip ke Indonesia dan ikut makan siang bersama. Maafkeun ya Jack, nggak jadi lihat suspension bridge karena Idul Adha itu waktu nya menyembelih sapi... :-p

Nah, seperti biasa juga kalau kami makan siang bersama, ada Mas H yang adalah suami dari Mbak S yang adalah juga bos kami dari Depok. Mas H ini adalah journalist senioren di Indonesia ini. Namanya sangat kondyang di Indonesiah ini sebagai journalist senior. Saya belum kesampaian juga ikut latihan penulisan dari beliau. Pengen rasanya belajar menulis dari beliau, tapi koq kadang saya minder sama Bu bos nya... Malu... heuhuehue

Kemarin itu kami berbagi mengenai banyak hal seperti drakor, film yang ditonton dipesawat, buku, dan lain-lain. Ketika sedang membicarakan tentang novel, Mas H berkata:
"Kalau suka baca novel, jangan cuma baca doank donk... Latihan nulis jugaa..." Katanya

Duh, di ujung lidah ini sudah pengen ngomong "Mas, saya sedang nulis novel remaja loh...." ah tapi malunya udah sampai ubun-ubun dulu. Receh banget sih nulis tentang novel remaja... Udah gitu kayak kepedean aja bakalan beneran jadi novel. Jangan-jangan berakhir di word file sajaaa.... heuehueheue. Eh enggak dink. Saya bisa terbitin sendiri, dan untuk konsumsi sendiri saja. Seperti yang waktu itu lho... Jaman kegelapan... Hahaha...

Tapi kemudian ketika kami semua mencari lokasi pemotretan, saya berjalan disamping Mas H dan memberanikan diri bertanya: 
"Mas, saya kan suka latihan nulis ya. Tapi jatuhnya koq kebanyakan dialog ya. Gimana caranya merubah cerita yang banyak dialognya menjadi nggak banyak dialognya?" tanyaku
"Kamu deskripsikan saja kondisinya... Latarnya... Suasananya... Perasaan yang lagi ngomong..." Kata beliau. 
"Iya ya... Tapi koq gampangan nulis dialog daripada yang nggak dialog ya...." Kataku (Pesimis banget sih). 
"Aku kayaknya punya buku-buku untuk menulis fiksi. Tapi e-book. Aku cariin dulu ya" Kata beliau lagi. 
"Asiiikk... Mau ya mas...." Kataku. 

Dan hari ini saya mendapat kiriman e-book yang kalau ditotal ya adalah 1800an halaman. Di iringi hujan dan angin diluar sana, ternyata didalam sini ada hujan buku gratis. Alhamdulillah... Insya Allah ditamatkan agar bisa menambah daya guna otak yang semakin lama koq semakin polos saja nampaknya... :-p

Laksana hujan dan angin yang saat ini sedang kembali pulang ke kotanya, rasanya hati saya juga merasa sedang dalam perjalanan pulang. Pulang kepada hobby yang lama tertinggalkan mungkin. #cucoklogi

Baiklah, sekian dululah ya tulisan bingung mau nulis apa nya... Saya mau membaca panduan yang dikirim sama suhu penulisan dulu. Biar suatu saat nanti ketika bertemu beliau, saya bisa dengan bangga mendekat, menyodorkan tumpukan kertas sambil berkata "Mas, minta tolong bantu baca dan koreksi tulisan saya ya..." #denganpedenya. 

#sepertiitu

Tuesday, August 13, 2019

Morning Walk

Ini hanya update singkat, sebelum semua menguar bersama angin.

Jadi ceritanya pagi ini saya dan Mas Bojo mengantarkan Mbak K ke sekolah bersama karena: 1) Saya nggak bisa jemput karena mau bertemu teman-teman; 2) Morning rutin nya ngaret jadi waktunya mepet. Butuh Mas nya yang bisa wes ewes ewes di jalanan.

Sampai sekolah K masih jam 7 kurang 2 menit. Pas banget lah ya buat buka helm buka jaket dan lari ke pintu. Nah setelah itu, Mas Bojo saya mau menemani saya ke Lapangan Sempur. Bukaaaan... bukan menemani lari... Saya lari, dia sarapan cantik pastinya. ahahhaa

Kenapa Mas Bojo harus nemenin? Karena kalau saya nggak bawa motor, saya nggak punya bagasi penyimpanan tas. Jadi Mas Bojo jadi loker sementara saya. Sekian.

Nah, setelah saya lari Mas Bojo pulang, dan saya menuju sebuah kedai kopi yang namanya kondyang seantero dunia itu. Saya memilih jalan kaki saja. Mas Bojo mau nganter, tapi saya tolak. Bukan marahan. Tapi kedai kopinya baru buka jam 8 (setahu saya) sedangkan saat itu bara jam 7.30. Jadi saya jalan santai ajaaa dulu yekaaan...

Akhirnya saya blusukan dari gang ke gang.... Banyak pikiran berloncatan dari dalam kepala saya, tapi belum ada waktu untuk sharing. Saya share aja quick post di WA status saya (yang demi menjaga ide biar nggak hangus tersebul asap kendaraan di jalanan) saja ya.

I think it will be good for 1 chapter of "That". Let see kalau bisa kejadian... heuheuehue



Selamat Hari Selasa yang rasa Hari Senin karena kemarin saya libur yaaaaa :-)

Saturday, August 3, 2019

Semesta Menyimpan Semua Kata Yang Kita Ucapkan

Seperti biasa... Menulis tempat sekolah anak bukanlah tema favorit saya. Karena saya menyukainya sebagai privacy. Tapi kali ini saya rasa berbeda. Karena K sudah alumni dari Sekolah Ini. Sekolah yang menjadi tempat untuk K menghabiskan seperempat harinya, selama 3 tahun. 


Kembali pada masa sekitar tahun 2011 an ketika saya dan dia sudah merasa yakin untuk maju ke jenjang lebih lanjut dari sebuah hubungan dua manusia yang berbeda. Kami yang sehari-hari beraktivitas di Kota Hujan yang bernama Kota Bogor, sering melewati daerah seputar Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor.

Setiap melewati area itu, saya melihat anak-anak kecil berlarian, bergandengan tangan dengan orang tuanya, dan lain sebagainya. Dalam hati saya berkata "Seragam anak-anak TK nya lucu banget... Suatu saat kalau punya anak, mungkin saya akan sekolahkan disini..." Kata saya dalam hati, saat itu.

Akhirnya kami benar-benar menikah dan tinggal di sebuah rumah kontrakan di TaSaDa.

Dalam perjalanan mengarungi rumah tangga yang masih baru itu, saya melihat ada sebuah sekolah kecil di pinggir jalan yang sering macet di sekitar Air Mancur. Beberapa kali lewat, saya coba mengingat nama sekolahnya, dan kemudian mencarinya di internet. Nihil.

Saya tidak menyerah. Sesekali masih browsing, tutup. Browsing, tutup. Time flies. Sekitar 5 bulan kemudian, saya hamil. Alhamdulillah... Dan semakin rajin saya mencari informasi tentang sekolah ini. Disela-sela informasi mengenai tabungan pendidikan anak tentunya. eeeaaa

Tidak ada referensi yang berarti mengenai sekolah ini di internet. Tapi entah kenapa saya tidak menyerah begitu saja. Akhirnya saya yang kala itu masih pengguna aktif Facebook dan Instagram, menelusuri media sosial itu untuk mencari dan menggali informasi dari dalam. Maksudnya adalah, dijaman medsos mulai menjamur begini, sudah barang tentu para orang tua rajin mempost sesuatu di medsos nya yekaaan...

Oh iya... Nama sekolahnya sedikit unik. Dan keunikan ini pernah dibahas juga disebuah forum ibu-ibu yang saya temukan manakala browsing di internet. Kata seorang ibu "Ini sekolah pakai bahasa inggris, tapi kenapa namanya Cilukbaa? Bukannya Peekaboo?" Lebih kurang seperti itu.

Akhirnya saya gunakan hastagh Cilukba dengan "a" satu, sampai dengan "a" banyak. Kebanyakan foto yang muncul adalah foto anak-anak muda menutupi mukanya dengan telapak tangan, terbuka separo. Atau kalau tidak, foto anak muda dibalik pohon tapi mengintipkan kepalanya. That's what Cilukba means to most of us, yekaaan? ahahaha

Tapi, pencarian akhirnya membuahkan hasil. Di instagram, beberapa postingan foto dari orang tua murid muncul. Beberapa menunjukkan pada saya mengenai kondisi dalam sekolah, dan beberapa lainnya lebih ke kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Di Facebook, saya menemukan account yang dibuat oleh seorang murid SD nya Cilukbaa (SBTC) yang ternyata setelah saya masukkan anak saya ke situ pada akhirnya, adeknya anak yang membuat account FB ini sekelas dengan anak saya. Small World, I know...

Beberapa foto yang saya temukan itu, cukup mewakili apa yang saya perlukan sebetulnya. Tapi ternyata saya mendapat bonus ketika sedang ngobrol bersama ibu-ibu komplek saat membeli sayuran. Ternyata tetangga depan rumah saya, anaknya sekolah di situ. Ahahahaha... Yassalaaaamm... It's indeed small world! Akhirnya sayapun banyak bertanya kepada beliau. Terima kasih banyak Mama Nabil... :-)

Kamipun akhirnya pindah rumah ke rumah yang sekarang di Dramaga. Ndilalah koq ya ada tetangga yang anaknya satu tahun lebih tua dari K, dan sekolah di sekolah itu. God must be loves us so much yekaaan...  Saya pun beberapa kali ngobrol dengan Mama Khanza. Ternyata adeknya, akan masuk juga disekolah itu, bersamaan dengan K. Yihaaaa...

Akhirnya, setelah anak saya menginjak umur 2 tahun, obrolan dengan suami semakin serius mengenai sekolah. Suami saya sempat tidak setuju, karena menurutnya sekolah ini mahal dan hanya untuk kalangan orang kaya. Kenapa? Karena setiap kita lewat, selalu mobil-mobil antre didepan sekolah (yang sering membuat macet itu lho). Suami saya khawatir nanti kami akan dipandang sebelah mata. Saya hanya menjawab dengan ringan "Kalau gitu kita perlu membuktikan. Bener nggak kayak gitu. Nanti kan kita pas daftar kesana pake motor (ya memang punyanya motor). Kalau misalkan ditolak dengan alasan - maaf anda ditolak karena pakai motor - ya kita mundur. Kalau enggak, ya santai ajaaa...." Dan akhirnya kamipun mendaftar untuk trial kelas PS.

Saya ingat sekali waktu itu K mendapatkan kelas Miss Tyo. Dan saya senang dengan cara mengajar Miss Tyo di kelas. Ketika mendaftar, ternyata K masuk ke waiting list ke - 5. Eeeaaa.. Ya kalau rejeki, nggak akan kemana. Dan akhirnya, rejeki K sekolah disitu.

Masalah harga...
Di tahun masuk K yaitu tahun 2016, saya membayar Rp. 5,800,000 untuk 3 tahun. Kelas PS, KGA, dan KGB. Menurut saya yang sudah membandingkan harga sekolah sejenis, ini way much cheaper. Karena setiap tahun tidak perlu membayar lagi. Hanya memang uang kegiatan seperti field trip, harus membayar lagi. Tapi not bad still...

Uang SPP bulanan memang saya akui lebih mahal dari sekolah lainnya. Jika sekolah lainnya berada pada kisaran Rp. 400,000 - Rp. 600,000, Sekolah ini untuk kelas PS, mencapai Rp. 880,000. I am still okay with that...

Cerita mengenai daily activity, kegiatan diluar sekolah, dan lain-lainnya akan memerlukan lebih banyak bab lagi. Semoga saya tidak kalah dengan rasa malas untuk berbagi. Karena good things, sayang jika dinikmati sendiri yekaaan...

Oh iya... Kembali pada ringkasan cerita. Tahun 2019 K lulus dari TK B Cilukbaa ini. Tapi sayangnya, belum masuk SD. Umurnya yang sangat mepet (5 tahun 11 bulan) membuat saya ragu-ragu apakah memilih untuk melanjutkan ke SD atau istirahat setahun, atau TK lagi. Tapi kemudian saya dan Mas Bojo memutuskan untuk memasukkan K ke TKB lagi, disekolah lain yang SD nya adalah SD impian kami. Jadi tahun 2019-2020, K resmi kembali menjadi anak TKB dengan load pelajaran yang lebih selow :-)

Dimana nyambungnya dengan semesta yang bekerja, dalam pembukaan tulisan saya?

Ya disini... Sekarang K menjadi anak TKB, di TK yang dahulu kala (ketika saya belum juga menikah dengan ayahnya K) pernah saya taksir. TK yang saya pernah harapkan anak saya memakai seragam lucunya. Dan sekarang, semesta bekerja dengan sempurna. Ada satu tahun kesempatan untuk K memakai seragam lucu ini setiap pagi, selama satu tahun.

Aaaah... Tuhan selalu lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Dan saya tidak pernah menyesali apa yang saya pernah putuskan. Saya selalu mencoba menjalani dan menikmati hari, sebagaimana mestinya. Wish for the best, but plan for the worst. Karena meskipun terkadang kita berfikir worst, namun Tuhan tidak melihat dengan sudut yang sama, maka it turn to be best for us.

Semoga ikhtiar kami sebagai orang tua, adalah ikhtiar yang diberkati dan diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin... Aamiin... Aamiin...

#loveisourmission
#GodisBest

Tuesday, July 30, 2019

Kalimat Pertama

Syndrome PMS saya kali ini membuat saya berakhir dengan mengubek-ubek rak buku untuk mencari sebuah buku lama tulisan Dee Lestari, Perahu Kertas. Apakah sependek itu? Tidak semudah itu jendral...

Ini adalah kombinasi antara PMS, kegantengan Park Seo-Joon beserta dengan acting menggemaskannya di WWWSK, yang kemudian dilanjutkan dengan saya blogwalking ke blog saya sendiri untuk melihat tulisan-tulisan lama, whatsapp-an dengan Jeng Elmi di Soloraya sana, dan terakhir adalah whatsapp-an dengan Jeng Eka di Curug Mekar sana...

Syndrom PMS saya membuat saya mager alias malas bergerak. Kegantengan dan ke-unyuk-an Park Seo Joon di WWWSK membuat jiwa romantis saya bangkit. Mager dan romantis, terbayang bukan bagaimana keadaanya? Iyap. Jadi kepala melanglang buana kemana-mana. Dasarnya saya memang romantis melankolis yekaan :-p

Disaat mager dengan pikiran-pikiran romantis saya sedang menjalar, saya teringat bahwa dulu saya pernah berada pada masa 'lancar buang sampah' di blog. Saat dimana setiap membuang sampah, kata-kata yang keluar bisa berupa kata-kata mutiara gitu. ahahaha

Oh iya, flash back sedikit. Betul lho yang saya bilang bahwa saya kadang kalau buang sampah, baik tertulis (curhat di blog) ataupun tersuara (curhat ke orang) suka romantis. Oh iya, kalau saya juga suka mellow kalau dekat dengan Air. :-p

Seperti yang sudah saya ceritakan di suatu postingan sebelumnya (lupa dimana). Saat itu saya sedang dalam perjalanan menata hati (eeeaaa) ke sebuah pulau. Long short story saya bertemu dengan teman yang penulis (nggak usah dibilang lagi siapa, nanti dikira pansos).

Dia     : Kamu koq sendiri aja kesini?
Saya   : Iya, tapi kan berangkat sendiri, bukan berarti disini aku  sendirian kan. Ini lagi ngobrol sama kamu...
Dia     : Iya juga ya. Kamu nggak takut kenapa-kenapa di jalan?
Saya   : Enggak sih. Kenapa harus takut? Aku percaya diluar sana selalu ada orang-orang baik yang bisa kita temui. Kalau kita berusaha baik sama orang, pasti banyak orang baik yang akan membantu kita juga. Sebelum aku kesini, aku dijemput sama temen nya temen. Nginep di kosan dia. Terus dianterin subuh-subuh ke pool bis. Abis itu di kapal juga ketemu kalian orang-orang baik yang akhirnya malah aku bisa ikutan ke Wisma Apung ini kan...
Dia     : Bener juga ya. Terus kamu kenapa milih disini buat liburan tahun baru sendiri?
Saya   : Nggak tahu. Baru kepilih pas hari mau berangkat kemarin. Liat peta, merem, nunjuk. Ketunjuk Karimun Jawa. ahahahahhaa
Dia     : Eh buset, gimana kalau ketunjuknya ke antartica?

Kamipun tertawa...

Dia    : Tapi aku masih nggak ngerti kenapa kamu cewek sendirian jauh-jauh dari Bogor ke sini...
Saya  : Kenapa sih kita harus takut? Kalau kita takut kemana-mana dengan diri kita sendiri, kita bisa sampai mana? Kalau kita takut karena hanya sendiri, apa yang bisa kita lihat?

More or less... Seperti itu...

Back to the the line...

Jadi dipermageran saya kemarin, saya membaca tulisan demi tulisan di tahun-tahun lalu ketika runtutat kalimat masih dengan mudahnya mengalir lewat jemari lentik saya. Ada beberapa yang membuat saya sendiri mesam-mesem sambil bertanya dalam hati - Ya ampun, kesambet apa gw dulu bisa begini?- atau -Edan kali gw dulu ya, bisa nulis ginian- dan semacamnya...

Tapi sambil membaca mereka, saya kembali membayangkan pada masa itu. The moments, the feelings, the reason... Kenapa tulisan-tulisan itu ada. Beberapa saya copy dan kirim ke orang yang bersangkutan dengan tulisan saya itu. Sekedar nostalgia.

Beberapa dari tulisan itu terasa baru kemarin terjadi, sehingga masih membuat saya senang, sedih, terharu kembali... #MellowEffect

Sambil saya mellow membaca tulisan, saya ber-wa dengan Jeng Elmi di Soloraya sana dan mengungkapkan ke melow an saya. Dia tertawa seperti biasa... Dan bilang "kebawa kreatif jadi pengen jadi penulis kali?" dan saya jawab "Lebih tepatnya cita-cita lama tersentil kembali".

Kemudian saya ber-wa dengan Jeng Eka di Curug Mekar sana... Saya bilang saya semakin sulit menemukan kalimat pembuka dalam tulisan saya. Dia bilang "Kamu baca lagi tulisan-tulisan penulis idola kamu... Aku biasanya baca tulisan Laila Chudori buat inspirasi. Kamu siapa?"

Dan begitulah kemudian saya mendarat cantik didepan rak buku, mengubek-ubek tumpukan buku yang mulai menguning, sampai bertemu lagi dengan buku ini.... Buku yang saya baca ketika jaman saya sedang banyak-banyaknya buang sampai melalui tulisan dengan cukup baik. Mungkin saya harus mulai membacanya kembali... Let see kalau akhir pekan ini bisa mengulangi kembali masa-masa lalu itu...

Memories of Perahu Kertas
#fallinginlovewitholdmemories
#wujudkanmimpimu

Monday, July 22, 2019

Senang Yang Menguras Energi

Pernah nggak sih kalian melewati hari yang sedikit lain daripada biasanya?

Seperti...

Kita pergi dari rumah untuk suatu acara di suatu tempat, kemudian mampir ke tempat lain, dan pulang kembali kerumah. Tapiii... In between dari acara di atas, kita bertemu dengan banyak orang. Baik yang memang sudah kita rencanakan untuk bertemu, ataupun yang secara tidak sengaja kita bertemu, bertegur sapa dan mengobrol.

Saya sudah beberapa kali mengalaminya... Contohnya begini...

Saat itu kantor saya Bagian Program ada meeting di Taman Koleksi IPB Baranang Siang. Saya seperti biasa, karena warga pribumi Bogor jadi di undang untuk ikut bagian makannya... Aseeeekkk

Dari rumah saya naik motor, dan parkir di parkiran motor Gedung Pasca. Pas di Parkiran, saya ketemu siapa? Yak, saya bertemu dengan Ibu Nora, dosen pembimbing saya. Beliau hendak menitipkan skripsi hasil koreksi untuk mahasiswanya. Kami ngobrol singkat dan saya merasa senang bertemu dengan beliau yang sangat berjasa dalam proses perkuliahan saya.

Setelah berpisah dengan Ibu Nora, saya berjalan menuju Takol, dalam perjalanan saya bertemu dengan teman PL di Pangalengan. Sepertinya sudah beberapa tahun kami tidak berkontak, akhirnya kami mengobrol singkat juga karena sama-sama tergesa. Saya merasa senang karena bisa bertemu lagi dengan teman seperjuangan ketika berjuang di kebun kentang... :-)

Sayapun akhirnya sampai di Takol, tempat meeting teman kantor saya. Tentu saja disana saya bertemu dengan teman-teman kantor saya yang sedang meeting. Ngobrol seperlunya, dan melanjutkan pekerjaan saya diruang yang sama dengan mereka.

Ketika jam makan siang, pintu ruang meeting sebelah ruangan kami terbuka dan saya langsung tertawa. Ada mantan bos saya di kantor tempat saya kerja ketika masih mahasiswa disitu. Dia melihat saya dan kemudian tertawa juga. Kamipun mengobrol seperlunya. Saya merasa senang sekali karena bertemu lagi dengan beliau, dan melihat beliau masih sehat bersemangat. Kamipun makan siang bersama tim meeting masing-masing.

Sambil makan, saya bercerita kepada teman kerja saya mengenai orang-orang yang saya temui sepanjang perjalanan menuju tempat meeting ini. Teman saya tertawa dan cukup terkejut. Saya bilang karena masih di Bogor, jadi kemungkinan bertemu dengan teman memang sangat besar peluangnya.

Setelah meeting selesai, saya dan teman kerja saya itu berjalan bersama ke arah Botani Square. Ndilalah di depan Botani, saya bertemu lagi dengan salah satu senior saya di Lawalata IPB. Saya bertanya kabar dan ngobrol sebentar, kemudian senior saya berlalu. Saya senang juga bertemu senior saya itu. Meskipun saat saya masih aktif di organisasi, dia banyak sekali membuat saya gondok, tapi bertemu teman lama selalu menyenangkan. Teman saya? Melihat saya sambil geleng-geleng.

Sesampainya di dalam Botani, koq ya saya bertemu lagi dengan teman asrama saya.... Saya ngobrol sebentar, dan merasa senang juga bertemu teman seperjuangan nongkrong di kantin asrama. Teman saya? Melihat saya sambil geleng-geleng.

Akhirnya teman saya itu pulang karena sudah dijemput supirnya. Sayapun ke toko buku di lantai bawah sebentar dan kemudian pulang. Kali ini tidak ada lagi teman yang saya temui.

Sampai di kosan, saya merasa sangat-sangat bersemangat, tetapi juga sangat-sangat-sangat lelah sekali. Sepertinya semua energi sudah terkuras habis. Karenanya, saya hanya mampu geleleran di kasur tanpa tidur dan tanpa beraktivitas yang berarti.

Kalau saya ingat-ingat kembali, kejadian seperti itu sering sekali saya alami.... Bertemu banyak teman lama/baru, ngobrol haha hihi sebentar sambil bertukar kabar, kemudian melanjutkan aktifitas kembali. Di akhir hari, tenaga terasa habis bis bis... Geleleran laksana onggokan daging akhirnya saya.... :-)

Ada yang pernah merasakan hal yang sama?

Oh iya, ada juga cerita tentang menghabiskan perjalanan dengan mengobrol bersama teman baru dikursi sebelah... Duh, saya sering banget yang begini...

Bagi yang kenal dengan saya, mungkin tidak heran lagi. Karena kadang saya memang diketahui suka SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) sama orang. Kalau suami saya sering bilang "Kamu itu kalau di tarok ditempat yang banyak orang, pasti nggak lama langsung bilang - Hai, namanya siapa? Tinggalnya dimana? oooo.... Disana... Eh disana kan ada tempat bagus ya... Eh itu juga ini kan... Bleh bleh bleh.... - " Dan saya akui "iya sih...." ahahaha

Begitulah... Biasanya, kalau saya sedang tidak ingin membaca, saya akan mengobrol. Tapi belakangan ini kebiasaan saya mulai terganggu dengan mulai beraninya saya melanggar janji diri untuk nonton drakor. Hahahaa. Iya, saya dulunya selalu berjanji tidak akan nonton drakor karena tahu diri bahwa saya buruk sekali pengendalian dirinya. Saya tahu ketika saya memulai, pasti saya sulit mengotrol diri saya. Dan ternyata kekhawatiran saya menjadi kenyataan... Eeerrr...

Salah satu efek drakor yang membuat saya merasa "parah banget ini gw" adalah ketika saya melakukan perjalanan naik Kereta Api dari Jogja-Jakarta. Saat itu saya sudah terlanjur memulai nonton She Was Pretty di malam sebelumnya. Hasilnya adalah sepanjang Jogja-Jakarta mata saya tidak lepas dari HP untuk menonton dan menyelesaikan She Was Pretty.

Padahal tetangga sebelah (kursi) saya yang adalah bapak-bapak pengusaha Sapi Qurban sudah memancing pembicaraan. Tapi karena mata saya fokus ke HP dan cerita lucuk nya, saya hanya menjawab seperlunya. Beliau menawari untuk membelikan saya sarapan, saya tolak karena sudah kenyang - kembali ke HP. Beliau menawari membelikan saya air mineral, saya tolak karena saya sudah bawa dari rumah - kembali ke HP. Beliau memaksa mentraktir makan siang, saya tolak dan saya paksa bayar sendiri (dan tidak niat ntraktir si bapak) - kembali ke HP. Beliau mencoba mentraktir saya kopi tapi saya paksa bayar sendiri - kembali ke HP.... Eeerrr

Saya merasa sedikit nggak enak sebetulnya, tapi juga merasa tidak layak menerima traktiran dari beliau karena saya sedang tidak mood mengobrol. Lebay banget yekaaan... Embeeeerrrr....

Sesampainya di rumah, saya juga merasa letih lesu jiwa raga karena perjalanan panjang tapi fokus nonton bukannya istirahat. Teronggok seperti onggokan daging juga saya akhirnya di kasur... uhuk...

Oh iya, adalagi satu hal yang bisa membuat saya senang tapi juga menguras energi hingga akhirnya saya berakhir seperti sebuah onggokan daging. Yaitu bertemu teman lama, ngobrol panjang lebar ngalor ngidul membicarakan jaman purbakala sampai dengan jaman now. Sering sekali saya alami.

Kalau orang lain jaman now, setiap bertemu teman yang paling utama adalah wefie, betul? Saya kalau bertemu teman lama sering nya lupa minta wefie... Kalau sudah terlanjut haha dan hihi, kalau teman saya tidak meminta wefie, biasanya kita berpisah begitu saja. Diperjalanan pulang atau dirumah baru ingat "Ya ampun, kita koq nggak foto".

Biasanya untuk pertemuan yang seperti itu, sampai dirumah saya juga berakhir dengan letih lesu bagaikan onggokan daging. Tapi hati terasa senang gitu deh...

Pernah saat itu saya bertemu 2 orang teman kosan yang sama-sama sudah lama tidak bertemu. Yang satu tinggal di kota sebelah yang masih bolak-balik ke Bogor namun tidak pernah bertemu juga, dan yang satu tinggal di negara tetangga karena menikah dengan pangeran negri sebrang (bukan pangeran kelantan seperti Manohara).

Mulai dari bertemu, kami terus ber haha dan ber hihi mengenai banyak hal. Tiba-tiba teman saya yang tinggal di negri seberang itu bertanya:

Teman Negri Sebrang (TNS) : Kalian sering ketemuan ya?
Teman Kota Sebelah (TKS) : Boro-boro... Terakhir ketemu ya di nikahan elu dulu itu...
TNS : Tapi koq kalian ngobrolnya kayak sering ketemu gitu?
TKS : Nggak tau sih, kalau sama Mbak Wilis ini kalau ketemu emang bawaannya ngobrol terus ya
Saya : Iya ya... Tapi sama elu juga kan gw ngobrol biasa. Emang harusnya gimana?
TNS : Iya sih... Kita kayak yang nggak pernah tinggal jauh, masih sering ketemu gitu ya? Apa karena ada WA ya?
TKS : Gw sama Mbak Wilis kalau WA nan pasti karena ada maunya... ahahhaa
Saya : Iya juga ya. Kalau nggak gw yang minta tolong/nanya2, elu yang nanya2 ke gw...

Dan kamipun tertawa bersama dan melanjutkan obrolan. Setelah beberapa jam, akhirnya kamipun berpisah menuju aktifitas masing-masing. Setelah pulang ke rumah, saya rasanya senang sekali tapi juga lelah sekali. Ketika sedang teronggok seperti onggokan daging, saya WA TNS dan bilang "Koq kita nggak poto ya?" ahahahhaa. Telmi!

Begitulah sharing saya hari ini, sekedar mengeluarkan energi akibat kebanyakan kopi hari ini. Setelah ini, saya rasa energi saya akan seimbang kembali dan siap untuk menyelesaikan PR kerjaan yang semakin menumpuk seperti onggokan daging juga... Eeerrr

#receh