Saturday, August 3, 2019

Semesta Menyimpan Semua Kata Yang Kita Ucapkan

Seperti biasa... Menulis tempat sekolah anak bukanlah tema favorit saya. Karena saya menyukainya sebagai privacy. Tapi kali ini saya rasa berbeda. Karena K sudah alumni dari Sekolah Ini. Sekolah yang menjadi tempat untuk K menghabiskan seperempat harinya, selama 3 tahun. 


Kembali pada masa sekitar tahun 2011 an ketika saya dan dia sudah merasa yakin untuk maju ke jenjang lebih lanjut dari sebuah hubungan dua manusia yang berbeda. Kami yang sehari-hari beraktivitas di Kota Hujan yang bernama Kota Bogor, sering melewati daerah seputar Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor.

Setiap melewati area itu, saya melihat anak-anak kecil berlarian, bergandengan tangan dengan orang tuanya, dan lain sebagainya. Dalam hati saya berkata "Seragam anak-anak TK nya lucu banget... Suatu saat kalau punya anak, mungkin saya akan sekolahkan disini..." Kata saya dalam hati, saat itu.

Akhirnya kami benar-benar menikah dan tinggal di sebuah rumah kontrakan di TaSaDa.

Dalam perjalanan mengarungi rumah tangga yang masih baru itu, saya melihat ada sebuah sekolah kecil di pinggir jalan yang sering macet di sekitar Air Mancur. Beberapa kali lewat, saya coba mengingat nama sekolahnya, dan kemudian mencarinya di internet. Nihil.

Saya tidak menyerah. Sesekali masih browsing, tutup. Browsing, tutup. Time flies. Sekitar 5 bulan kemudian, saya hamil. Alhamdulillah... Dan semakin rajin saya mencari informasi tentang sekolah ini. Disela-sela informasi mengenai tabungan pendidikan anak tentunya. eeeaaa

Tidak ada referensi yang berarti mengenai sekolah ini di internet. Tapi entah kenapa saya tidak menyerah begitu saja. Akhirnya saya yang kala itu masih pengguna aktif Facebook dan Instagram, menelusuri media sosial itu untuk mencari dan menggali informasi dari dalam. Maksudnya adalah, dijaman medsos mulai menjamur begini, sudah barang tentu para orang tua rajin mempost sesuatu di medsos nya yekaaan...

Oh iya... Nama sekolahnya sedikit unik. Dan keunikan ini pernah dibahas juga disebuah forum ibu-ibu yang saya temukan manakala browsing di internet. Kata seorang ibu "Ini sekolah pakai bahasa inggris, tapi kenapa namanya Cilukbaa? Bukannya Peekaboo?" Lebih kurang seperti itu.

Akhirnya saya gunakan hastagh Cilukba dengan "a" satu, sampai dengan "a" banyak. Kebanyakan foto yang muncul adalah foto anak-anak muda menutupi mukanya dengan telapak tangan, terbuka separo. Atau kalau tidak, foto anak muda dibalik pohon tapi mengintipkan kepalanya. That's what Cilukba means to most of us, yekaaan? ahahaha

Tapi, pencarian akhirnya membuahkan hasil. Di instagram, beberapa postingan foto dari orang tua murid muncul. Beberapa menunjukkan pada saya mengenai kondisi dalam sekolah, dan beberapa lainnya lebih ke kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Di Facebook, saya menemukan account yang dibuat oleh seorang murid SD nya Cilukbaa (SBTC) yang ternyata setelah saya masukkan anak saya ke situ pada akhirnya, adeknya anak yang membuat account FB ini sekelas dengan anak saya. Small World, I know...

Beberapa foto yang saya temukan itu, cukup mewakili apa yang saya perlukan sebetulnya. Tapi ternyata saya mendapat bonus ketika sedang ngobrol bersama ibu-ibu komplek saat membeli sayuran. Ternyata tetangga depan rumah saya, anaknya sekolah di situ. Ahahahaha... Yassalaaaamm... It's indeed small world! Akhirnya sayapun banyak bertanya kepada beliau. Terima kasih banyak Mama Nabil... :-)

Kamipun akhirnya pindah rumah ke rumah yang sekarang di Dramaga. Ndilalah koq ya ada tetangga yang anaknya satu tahun lebih tua dari K, dan sekolah di sekolah itu. God must be loves us so much yekaaan...  Saya pun beberapa kali ngobrol dengan Mama Khanza. Ternyata adeknya, akan masuk juga disekolah itu, bersamaan dengan K. Yihaaaa...

Akhirnya, setelah anak saya menginjak umur 2 tahun, obrolan dengan suami semakin serius mengenai sekolah. Suami saya sempat tidak setuju, karena menurutnya sekolah ini mahal dan hanya untuk kalangan orang kaya. Kenapa? Karena setiap kita lewat, selalu mobil-mobil antre didepan sekolah (yang sering membuat macet itu lho). Suami saya khawatir nanti kami akan dipandang sebelah mata. Saya hanya menjawab dengan ringan "Kalau gitu kita perlu membuktikan. Bener nggak kayak gitu. Nanti kan kita pas daftar kesana pake motor (ya memang punyanya motor). Kalau misalkan ditolak dengan alasan - maaf anda ditolak karena pakai motor - ya kita mundur. Kalau enggak, ya santai ajaaa...." Dan akhirnya kamipun mendaftar untuk trial kelas PS.

Saya ingat sekali waktu itu K mendapatkan kelas Miss Tyo. Dan saya senang dengan cara mengajar Miss Tyo di kelas. Ketika mendaftar, ternyata K masuk ke waiting list ke - 5. Eeeaaa.. Ya kalau rejeki, nggak akan kemana. Dan akhirnya, rejeki K sekolah disitu.

Masalah harga...
Di tahun masuk K yaitu tahun 2016, saya membayar Rp. 5,800,000 untuk 3 tahun. Kelas PS, KGA, dan KGB. Menurut saya yang sudah membandingkan harga sekolah sejenis, ini way much cheaper. Karena setiap tahun tidak perlu membayar lagi. Hanya memang uang kegiatan seperti field trip, harus membayar lagi. Tapi not bad still...

Uang SPP bulanan memang saya akui lebih mahal dari sekolah lainnya. Jika sekolah lainnya berada pada kisaran Rp. 400,000 - Rp. 600,000, Sekolah ini untuk kelas PS, mencapai Rp. 880,000. I am still okay with that...

Cerita mengenai daily activity, kegiatan diluar sekolah, dan lain-lainnya akan memerlukan lebih banyak bab lagi. Semoga saya tidak kalah dengan rasa malas untuk berbagi. Karena good things, sayang jika dinikmati sendiri yekaaan...

Oh iya... Kembali pada ringkasan cerita. Tahun 2019 K lulus dari TK B Cilukbaa ini. Tapi sayangnya, belum masuk SD. Umurnya yang sangat mepet (5 tahun 11 bulan) membuat saya ragu-ragu apakah memilih untuk melanjutkan ke SD atau istirahat setahun, atau TK lagi. Tapi kemudian saya dan Mas Bojo memutuskan untuk memasukkan K ke TKB lagi, disekolah lain yang SD nya adalah SD impian kami. Jadi tahun 2019-2020, K resmi kembali menjadi anak TKB dengan load pelajaran yang lebih selow :-)

Dimana nyambungnya dengan semesta yang bekerja, dalam pembukaan tulisan saya?

Ya disini... Sekarang K menjadi anak TKB, di TK yang dahulu kala (ketika saya belum juga menikah dengan ayahnya K) pernah saya taksir. TK yang saya pernah harapkan anak saya memakai seragam lucunya. Dan sekarang, semesta bekerja dengan sempurna. Ada satu tahun kesempatan untuk K memakai seragam lucu ini setiap pagi, selama satu tahun.

Aaaah... Tuhan selalu lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Dan saya tidak pernah menyesali apa yang saya pernah putuskan. Saya selalu mencoba menjalani dan menikmati hari, sebagaimana mestinya. Wish for the best, but plan for the worst. Karena meskipun terkadang kita berfikir worst, namun Tuhan tidak melihat dengan sudut yang sama, maka it turn to be best for us.

Semoga ikhtiar kami sebagai orang tua, adalah ikhtiar yang diberkati dan diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin... Aamiin... Aamiin...

#loveisourmission
#GodisBest

No comments: