Monday, July 9, 2018

Rekening Tabungan Pertama Mbak K

Dari 30 sebetulnya... Salah tulis...
Ditemenin sama Mas Will dan Mbak Lou.. :-)
Yesss!!!

Akhirnya, setelah dari kapan tahu berencana dan berwacana untuk membuatkan rekening tabungan untuk Mbak K, kesampaian juga hari ini...

Perjuangan panjang sekali hari ini, komplit dengan drama bapak2 marah-marah di bank karena kelamaan ngantri, dll. Males ah ceritain ini, nanti jadi isinya keluh kesah basah... Rugi saya... :-p

Intinya... Yay... Rekening tabungan pertama, selesai dibuat. Di Bank BNI 46 karena pengen ATM nya ada photonya. Tapi ATM nya nanti bikinnya nyusul di BNI pusat saja, karena sangking lamanya ngantri hari ini, HP nya lowbat jadi nggak bisa transfer foto. Hiks...

Akhirnya, emak dan bapaknya Mbak K ini bisa memanfaatkan THR Mbak K ini dengan benar. Setelah empat kali puasa empat kali lebaran THR nya K di embat sempurna oleh kami (belum lagi uang saku kalau mudik di luar lebaran... duuuuhhhh), akhirnya kali ini bisa lurus ke jalan yang benar. ahahahahha

Dengan resmi dibuatkannya rekening tabungan ini, semoga kami semua bisa lebih rajin mengisinya. Siapa tau nanti Mbak K bisa lebih cepat mencapai Financial freedom nya lebih cepat daripada orang tuanya, karena dia belajar menabung sejak dini... Eeeaaa

Smangadh Mbak K!!!

Friday, July 6, 2018

Antara Hak dan Kewajiban


Mengembara ke lorong waktu... 

Terkadang saya ingin tertawa, bertanya, berkata, berkeberatan, tapi kemudian saya perfikir apa gunanya? Segala macam perasaan dan keadaan akan percuma dijelaskan, jika dijelaskan kepada hati yang tak terbuka... Jika pintu tak bisa terbuka ketika diketuk, saya melarikan diri jauh kedalam cerita... Lewat sebuah buku... 

Berada dipersimpangan antara "menjalankan kewajiban..." dan "berhak untuk... " itu memang tidak mudah dilakukan... Diantara pikiran orang tentang "tidak peduli" dan pikiran sendiri "yang seharusnya peduli adalah..." itu sangat menyesakkan... 

Ketika banyak hal ingin kau sampaikan, namun banyak hati yang harus dijaga, tenggelamkan semuanya kedalam sebuah buku cerita... Disana, engkau akan tersesat kedalam ruang yang berguna.. Tentang kenyataan? Hanya perlu senyum dan tarikan nafas panjang untuk membuatnya menjauh dan menghilangkan himpitannya didada.

------

Teman yang juga partner merancang masa depan yang paling saya percaya yang inisialnya E K A adalah: 

Curhat, tapi berpuisi, tapi seperti menasehati diri sendiri dan mengingatkan orang lain... 
Terjebak, tapi mencoba tidak membuat huru-hara...
Jadi memilih melarikan diri ke buku...


Sunday, July 1, 2018

Kirania Goes To National Park - Way Kambas, June 2018

Little Mowgli!
Go explore the wild world, K!
Nala Family - Way Kambas, June 2018

Alhamdulillah... Akhirnya program #KiraniaGoesToNationalPark bisa dimulai lagi... :-p

Kali ini tujuannya adalah Taman Nasional Way Kambas yang terletak di Lampung Timur. Memang dari awal kami sudah kepinging suatu saat mengajak K ke Way Kambas. Namun tidak menyangka bisa terkabul di akhir Juni 2018 ini. Berawal dari obrolan kami dengan Pakdhe Aris (Kakak saya) di Jogja sewaktu mudik. Bapak dan kakak saya merasa kewalahan melihat ponakan saya selama libur hanya mengurung diri dikamar - pergi wisata dengan teman sekolahnya - mengurung diri dikamar - ke mall bersama teman sekolah - mengurung diri dikamar - dan seterusnya.

Ketika saya iseng bilang "Ya udah, ikut ke Bogor aja yuk..." Rupanya gayung bersambut. Anaknya mau, Papa-Mama nya bersemangadh mengijinkan, dan Simbah Kakung-Putri nya mendukung. Perfect!

Akhirnya saya dan Mas Bojo berdiskusi:
Saya: "Mas Guntur ikut ke Bogor...."
Mas Bojo: "Oh ya? libur panjang soalnya ya..."
Saya: "Iya. Gimana kalau kita jadiin aja sekalian rencana ke Way Kambas? Kan sekalian K liburan. Abis itu nggak liburan lagi. ahahaha"
Mas Bojo: "Boleh juga tuh... "

Akhirnya Mas Guntur ikut kami menapaki jalur Pansela yang aduhai tralala... Berbekal #mandatsimbah dan #mandatpakde untuk membawa Mas Guntur jalan-jalan, maka kita niatkan untuk berangkat ke Lampung akhir pekan setelahnya. Berbekal uang saku juga lah pastinya dari mereka. Aseeekk... Sambil menyelam, glagep-glagep... Ngasuh ponakan, sambil kita ikut jalan-jalan juga ke tempat impian. ahahahahhaa #nggakmaurugi

Sebelum saya malas memilih foto dan menambahkan ceritanya disini, saya mau share beberapa kolase foto yang saya kumpulkan. Kapan-kapan kalau sudah ada semangadh, akan saya share info, foto, dan cerita lain sebagai kenangan. Skarang masih lemassssss... Dan banyak kerjaan. Hehehehe

Gambaran Umum Aktifitas Tim Nala :-p
Tips untuk berhemat dan memanfaatkan waktu dengan baik adalah: 
 - Berangkat pagi buta (kami start dari rumah jam 3 pagi).
 - Buat bekal untuk ngemil di jalan, untuk sarapan di kapal, dan ngemil lagi di mobil. 
 - Bawa buku bacaan dan mainan sederhana untuk membunuh waktu, jika tidak hobi melamun di atas laut.  :-)

Sebelum kami memasuki area Taman Nasional, kami mampir terlebih dahulu ke rumah keluarga salah satu Junior di organisasi Lawalata IPB. Rumahnya Agung/Gapunk. Kami disambut oleh Adit (Adeknya Gapunk), ibu dan bapaknya. Lengkap dengan masakan untuk makan siang... Duuuuhhh... Jadi enaaaakkk... Akhirnya setelah ngobrol sebentar, kami bergiliran mandi (K dan Saya saja sih yang mandi. Mas Bojo dan Guntur menolak mandi. Mau mandi di penginapan saja), dan akhirnya makan siang. K sangat nyaman di rumah Gapunk. Selesai mandi, dia langsung tidur-tiduran didepan TV, ngobrol dengan ibunya Gapunk, sampai disisiri rambutnya segala. Hahahaha. Berasa di Jogja ya Mbak K?

Setelah waktu bergeser ke sore hari, kami pamit untuk melanjutkan ke Taman Nasional. Mereka dengan baik hati menawari untuk menginap dirumah, tetapi karena kami sudah kadung booking 1 kamar, dan ingin merasakan melek mata di dekat gajah, akhirnya kami menolak dan berjanji akan kembali mampir esok harinya diperjalanan pulang. Kami dibekali jambu kristal dan pisau, dan diantar oleh Adit untuk melewati pintu gerbang Taman Nasional, jadi gratis gitu deh.... :)

How She tried to killed the time... 
Setibanya di PLG, kami berjumpa dengan Pak Pal. Kami diberikan briefing singkat tentang penginapan, dan beliau undur diri untuk ganti baju dengan baju pawang. Kami diajak untuk ikut beraktifitas sore dengan gajah. Jadi kami menurunkan barang yang sekiranya perlu dulu ke kamar, lainnya dibiarkan di mobil saja. Setelah Pak Pal datang, kami mengikutinya berjalan menuju Savana, tempat para gajah diumbar makan seharian. Kami dikenalkan dengan beberapa gajah, diceritakan kisah bagaimana mereka ditangkap, dll. Kami bertemu dengan Nunik dan Ibunya. Nunik lucu sekali, masih baby. Dia suka iseng ke Mbak K. Kami berfoto banyak-banyak bersama Nunik dan Ibunya. Selain itu kami juga bertemu gajah lain (lupa namanya euy), foto lagi, cerita lagi. 

Bunda on Duty... Jadi Mbak K, Blah bleh bloh... :-p
Kiran : Hadeeeuuuuhhh.... Emak macam apa ini anaknya disuruh jalan kaki...
Asyik ya mbak... Nananaaaaaa....
Kemudian kami diajak mendekati Erin, anak gajah yang belalainya terpotong karena jerat. Kasihan sekali. Kami berfoto banyak dengan Erin, Mbak K banyak foto menunggangi Erin. Senang sekali dia, sampai ketahihan. Setelah berfoto dengan Erin, kami berjalan kembali ke kandang gajah di samping penginapan. Disana kami menunggang gajah dan berfoto sampai matahari hampir tenggelam. Puasssss.... Mbak K malah menang banyak. Diajak Pak Pal naik gajah mengitari kandang gajah. Aseeeeekkkkk.... Mantab Jiwa Mbak K!!!

Smileeeeee....
Dan setelah hari mulai gelap, kami pulang ke penginapan. Hari pertama, very well done!!!
Kami menginap di Mahout House, penginapan yang sedianya digunakan untuk Mahasiswa yang magang. Murah meriah satu malam hanya Rp. 300.000 saja. Terletak di samping kandang gajah persis. Kalau malam kami nangkring di samping penginapan, duduk menghadap ke kandang gajah. Bukan untuk melihat gajah, tapi untuk mencari sinyal. Karena area sinyal hanya disitu saja... :-p

Ya Ampuunnnn... Baru nyadar anak saya ketinggalan... :-p
Kami mendapatkan info mengenai penginapan ini dari blog pengunjung juga, yang menyertakan nomer kontak Pak Pal (Pawang Gajah). Rupanya tetangga kamar saya juga melakukan hal yang sama. Browsing dan menemukan nomer Pak Pal. Oh iya, tetangga kamar saya ini 3 anak perempuan dari Bogor dan Bandung, yang dari Bogor rupanya anak salah satu dosen saya ketika kuliah. Dan tinggalnya tidak jauh dari rumah saya. What a small world!!!

Sayangnya kunjungan kami kali ini, banyak sekali makhluk yang ingin menemani kami di kamar. Malam hari, banyak sekali serangga (entah namanya apa, lupa tidak difoto) beterbangan dan berjatuhan di lantai kamar. Saya merasa sedikit geli dan sulit memejamkan mata. Takut tidur terlalu pulas sampai mangap, terus makhluknya masuk mulut gimana? Ahahaha. Akhirnya saya gemas dan saya masukkan satu persatu hewan itu ke Botol Aqua. Buanyak sekali jumlahnya. Sampai jam 1 malam barulah kamar bersih dan tak ada lagi satupun makhluk tersisa di luar botol aqua. Akhirnya saya tidur pulasssss.... :-)

Hari kedua kami berusaha untuk menikmati area penginapan, melihat para gajah yang sudah mulai bergerak, dijemput pawang, dimandikan, dan mulai dijemur. Sambil nge teh manis di teras penginapan, sambil ngemil kue lebaran dari kampung. Ahahaha. Mantab Jiwa kan.

Morning Walk
Nongkrong Pagi, ready for another adventure

Setelah merasa cukup di area PLG, kami ingin mencoba masuk ke Way Kanan. Syukur Alhamdulillah kami bertemu dan banyak ngobrol dengan Pak Joko. Akhirnya kami ditemani masuk ke resort Way Kanan, sambil ngobrol panjang lebar mengenai Way Kambas dan isinya. Disepanjang perjalanan kami banyak berhenti atau melambat, karena banyak satwa menyeberang jalan. Ada juga saat kami berhenti untuk mengamati sarang burung yang di buat persis diatas jalan oleh si burung. Luar biasa sekali bisa menikmati kembali hutan dan isinya... Alhamdulillah...
Anak senang main bersama Gajah, emak-bapak senang blusukan nya... 

Sesampainya di resort Way Kanan, kami masih terus ngobrol dengan Pak Joko. Nongkrong di halaman resort karena mendadak hujan. Sayangnya tidak bisa membuat kopi karena tidak ada yang membawa Korek Api. Ahhahaha. Sepertinya ini harus dijadikan agenda, meletakkan korek api di mobil, jadi bisa ikut serta kemanapun kami pergi.

Setelah hujan reda, kami berjalan ke arah sungai Way Kanan untuk melihat speedboat patroli milik taman nasional yang biasa digunakan para ranger dan patroli hutan ke arah hulu ataupun muara sungai di area pantai. Pak Joko juga menyampaikan bahwasanya banyak buaya muara di sungai Way Kanan ini, dan lengkap dengan kejadian orang digigit buaya yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Hiiiiiii.....

Oh iya, kami di oleh-olehi jambu kristal sama Pak Joko yang baik hati... Aseeekkk....

Bayar Rp. 10,000 rupiah bisa duduk manis, ngadem, bahkan tidur selonjoran didalam kapal...
Nyaman sekali...
Minggu sore setelah makan siang dan puas nongkrong di PLG lagi, akhirnya kami mampir sebentar ke rumah keluarga Gapung, tapi hanya bertemu dengan Adit karena Ibu dan Bapak nya sedang kondangan. Kami lagi-lagi numpang mandi, tapi karena masih kenyang, tidak numpang makan. hehehe

Kami dibekali dengan jambu kristal banyak banget, dan pisang 1 tandan. Yassalaaamm... Seperti mudik saja. Kami sangat berterima kasih atas kebaikan hati dari keluarga Gapunk. Semoga semua selalu sehat, dan diberikan umur dan rejeki lagi biar kapan-kapan bisa ketemu lagi. Aamiin. (Ibu, punten pisaunya kebawa ke Bogor. Hahahahaha)

Si tukang penasaran tapi malu-malu-mulai-ngintip

Our favorite and the only one hard core driver in da family

Tim hore yang pasrah selalu mau gimana juga... :-p

Ayo main ke Taman Nasional Way Kambas!

Ssssttt... Kata Bunda, jangan berisik! Nanti buaya nya terganggu dan gantian gangguin kita! :-)

Nggak bisa lihat Badak, nggak papa. Sampai di tulisan nya ini aja udah seneng lho kita :-p
I tried to making a good memories, while you're having fun! :-)

Cousin

Mas Guntur & Kartijah

Kirania & Kartijah

Saturday, June 30, 2018

Aku Sedih Ketika (tidak) Melihatmu Pergi

Good Luck, Emma!
Akhir Bulan Juni ini kelabu...

Diawali dengan membaca pengumuman dari bagian personalia kantor, bahwa salah satu teman baik kami tidak lagi bekerja di kantor kami. Kaget!

Kaget...
Bertanya-tanya...
Penasaran...
Kurang percaya...
Curiga...

Tapi hanya bisa dirasakan sendiri saja... Karena salah satu kekurangan dari kantor yang tak berkantor begini kan kita tidak bisa loncat ke ruangan/kubikal tempat teman kita yang lain kerja.

Jika di kantor betulan, mungkin kemarin aku langsung lari ke ruang sebelah dengan mata melotot dan penuh nafsu...
"Haaaa??? Serius itu? Lu tau nggak kenapa? Koq bisa sih? Koq mendadak gitu sih? Koq caranya gitu ya? Ada yang tau nggak kenapa?Ada apa sih?" atau sejenis pertanyaan yang serupa...

Tapi itu hanya jika dikantor betulan...

Karena kali ini hanya di kantor SOHO alias small office home office, dan sendirian, jadi ya hanya bisa diam... Berpikir...

Aku mulai membuka lembar email kosong... Berharap bisa menuliskan sesuatu kepada temanku itu. Tapi tidak mampu. Tidak ada tulisan yang bisa muncul. Karena 1) Bahasa inggris ku lemah; 2) Tidak tau cara mengekspresikan pertanyaan diatas itu dalam enggres-ing ; 3) Antara iya dan tidak, maju dan mundur...

Pagi ini...

Lebih sedih lagi....

Temanku itu mengirimkan email kepadaku dan beberapa orang temanku secara pribadi. Aku menangis. Sedih sekali rasanya. Dia adalah orang yang membuat aku semakin percaya diri. Membuat aku semakin bisa lepas dan nyaman berada dilingkungan yang menurutku banyak membuat keder ini. Dia yang membuatku bisa tertawa lepas didepan orang-orang yang dulu melirik saja sudah membuat aku takut. Dia yang membuat aku bisa semakin berbaur dengan yang lainnya. Dia membawa banyak perubahan untukku, dan untuk lingkungan disekelilingnya...

Melihat cara kepergiannya yang berbeda, aku yakin telah terjadi sesuatu di luar sana. Sesuatu yang tidak ringan. Tapi tidak ada yang menjelaskan, tidak ada yang memberi terang, dan tidak ada yang memberi petunjuk. Jadi kita hanya bisa meraba-raba saja.

Aku mencoba membalas email temanku itu... Tapi rupanya air mata jauh lebih cepat meluncur daripada rentetan kata dari jariku. Aku menangis lebih deras lagi... Sediiiihhhhh...

Anak ku dan suamiku sampai terheran-heran. Mereka menghibur dan menguatkanku. Semakin sedih jadinya.

K: "Why are you crying bunda?"
Aku: "Because I have to say goodbye to my good friend, but I don't want to..."
K: "It's ok... Don't cry...."

Aku: "Hwaaaaaaaaaa....." Semakin menjadi-jadi...

Temanku, dimanapun engkau berada...
Semoga engkau selalu diberikan yang terbaik...
Selalu sehat, ceria, dan bahagia...

Semoga engkau menemukan pekerjaan yang lebih baik, yang membuatmu lebih nyaman dan bersinar... Tetap lanjutkan petualanganmu... Tetaplah bersemangadh dan menginspirasi...

Suatu saat, semoga kita bisa bertemu lagi...

Yang bersedih tapi selalu mendoakanmu,

WJ

Saturday, May 26, 2018

Keputusan Terakhir Manusia

Mungkin orang tidak terlalu memikirkan hal ini, namun entah mengapa belakangan ini saya kepikiran. Berawal dari obrolan saya bersama teman tersayang, mengenai hidup dan mati (iya, setelah obrolan mengenai cring cring dan lain sebagainya... ahahah). Dan mungkin juga karena saat ini sedang Bulan Ramadhan, jadi bawaannya mellow dan jauh-jauh mikirnya...


Rasanya benar juga kalau dikatakan bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang bisa hidup sendiri. Setiap daripadanya adalah membutuhkan orang lain. Mungkin di jaman now, banyak orang yang percaya bahwa semua hubungan dengan orang lain bisa dilakukan dengan profesional, yaitu dengan perhitungan angka rupiah atau istilahnya dengan bayaran. Perlu sesuatu? tinggal beli. Mau kemana? tinggal pesen taksi. Pengen sesuatu? Tinggal order. dan seterusnya. Banyak yang tidak kepengen lagi diribetkan dengan hubungan sosial seperti minta tolong atau saling pinjam lagi... Mungkin mereka akan mengandalkan orang di lingkungan paling dekatnya yaitu keluarga untuk hal darurat? Atau mungkin bisa dengan memanggil layanan darurat jika tidak ingin ribet dengan keluarga juga... Ada juga... 

Kalau saya sendiri? Duh... Saya ini orangnya cerewet bin bawel bin ember... Kalau hanya mengandalkan orang terdekat untuk menampung semua cerewet bawel dan ember saya, mungkin keluarga saya sekarang sudah gendut sekali. Karenanya saya lebih memilih mengandalkan semua orang di sekeliling saya. Keluarga, teman, tetangga, bahkan kadang orang yang saya baru kenal juga. Tolong ya mas... tolong ya bu... tolong ya pak... tolong ya mbak... Ahahahhahaa

Saya termasuk yang sering nyusahin tetangga juga sepertinya. Suka pinjem ini atau itu. Pernah saya pinjem uang buat ke rumah sakit karena saya buru-buru berangkat darurat, dan tidak pernah simpan uang cash banyak dirumah. Pernah juga saya pinjam nasi karena teteh memasak nasi liwet sedangkan K tidak suka nasi liwet. Dih... Wilis... Malu-maluin aja... 

Tapi saya suka. Karena long short story, tetangga saya yang paling dekat dengan rumah saya setidaknya (saya menyebutnya #tetanggakikadebel - Tetangga kiri kanan depan belakang), baik-baik semua orangnya. Seperti contohnya Bulan Puasa ini. Hampir setiap sore mangkuk dan piring seliweran bertukaran. Ada yang isi kolak, Es Buah, Es coklat, bubur kacang, bubur ketan hitam, soto, dan lain-lainnya. Duuuh... saya terharu sekaliiii....

Nah, hasil ngobrol sama mbak sis yang onoh, entah kenapa ujungnya kita sampai pada obrolan absurd macam:

Saya: "Nanti kalau kita mati, orang harus tau kan ya kalau kita mau diproses bagaimana... dimana... secara apa...?"
Mbak Sis: "Nah itu... Iya lah. Kalau enggak nanti gentayangan menghantui gimana...?
Saya: "Gw sih udah mulai sounding sama nyokap gw. Kalau gw mati, gimana kalau dikubur di kampung halaman? Nyusahin nggak ya?"
Mbak Sis: "Nyokap bilang apa?"
Saya: "Katanya hush, aku aja masih hidup koq kamu ngomongin mati." 

Dan kamipun tertawa... 

Bagaimanapun juga, ada hal yang memang hanya bisa kita bicarakan dan putuskan bersama dengan keluarga. Karena ketika kita Mati, yang sedihnya lama pasti keluarga kita, yang kehilangan juga keluarga kita, yang ngurusin juga keluarga kita. Jasad layu kita, tidak akan bisa berkata dengan gagah "Aku bisa sendiri" dan jalan ke tempat peristirahatan terakhir kita... 

Sekian. 




Saturday, May 19, 2018

She and Her Outfit

Jago kalik doi mencari celah

Sailor Pluto Gets Tired After Saving the World



Sunday, May 6, 2018

After Hours Project - Blue Monokini

Setelah vakum beberapa lama dari per-crochet-an, akhirnya lahirlah kembali sebuah karya dari Kaena.ku Production.

Weekend selalu lebih bersemangadh manakala ada hasil yang dicapai... Semangadh juga lebih membubung tinggi manakala si anak senang dan bersemangadh memakai produk buatan ibunya... :-)


Next project adalah Green Two Piece Swimsuit... ^_^

Send me DM should you're interested! hahahaha