![]() |
| Good Luck, Emma! |
Diawali dengan membaca pengumuman dari bagian personalia kantor, bahwa salah satu teman baik kami tidak lagi bekerja di kantor kami. Kaget!
Kaget...
Bertanya-tanya...
Penasaran...
Kurang percaya...
Curiga...
Tapi hanya bisa dirasakan sendiri saja... Karena salah satu kekurangan dari kantor yang tak berkantor begini kan kita tidak bisa loncat ke ruangan/kubikal tempat teman kita yang lain kerja.
Jika di kantor betulan, mungkin kemarin aku langsung lari ke ruang sebelah dengan mata melotot dan penuh nafsu...
"Haaaa??? Serius itu? Lu tau nggak kenapa? Koq bisa sih? Koq mendadak gitu sih? Koq caranya gitu ya? Ada yang tau nggak kenapa?Ada apa sih?" atau sejenis pertanyaan yang serupa...
Tapi itu hanya jika dikantor betulan...
Karena kali ini hanya di kantor SOHO alias small office home office, dan sendirian, jadi ya hanya bisa diam... Berpikir...
Aku mulai membuka lembar email kosong... Berharap bisa menuliskan sesuatu kepada temanku itu. Tapi tidak mampu. Tidak ada tulisan yang bisa muncul. Karena 1) Bahasa inggris ku lemah; 2) Tidak tau cara mengekspresikan pertanyaan diatas itu dalam enggres-ing ; 3) Antara iya dan tidak, maju dan mundur...
Pagi ini...
Lebih sedih lagi....
Temanku itu mengirimkan email kepadaku dan beberapa orang temanku secara pribadi. Aku menangis. Sedih sekali rasanya. Dia adalah orang yang membuat aku semakin percaya diri. Membuat aku semakin bisa lepas dan nyaman berada dilingkungan yang menurutku banyak membuat keder ini. Dia yang membuatku bisa tertawa lepas didepan orang-orang yang dulu melirik saja sudah membuat aku takut. Dia yang membuat aku bisa semakin berbaur dengan yang lainnya. Dia membawa banyak perubahan untukku, dan untuk lingkungan disekelilingnya...
Melihat cara kepergiannya yang berbeda, aku yakin telah terjadi sesuatu di luar sana. Sesuatu yang tidak ringan. Tapi tidak ada yang menjelaskan, tidak ada yang memberi terang, dan tidak ada yang memberi petunjuk. Jadi kita hanya bisa meraba-raba saja.
Aku mencoba membalas email temanku itu... Tapi rupanya air mata jauh lebih cepat meluncur daripada rentetan kata dari jariku. Aku menangis lebih deras lagi... Sediiiihhhhh...
Anak ku dan suamiku sampai terheran-heran. Mereka menghibur dan menguatkanku. Semakin sedih jadinya.
K: "Why are you crying bunda?"
Aku: "Because I have to say goodbye to my good friend, but I don't want to..."
K: "It's ok... Don't cry...."
Aku: "Hwaaaaaaaaaa....." Semakin menjadi-jadi...
Temanku, dimanapun engkau berada...
Semoga engkau selalu diberikan yang terbaik...
Selalu sehat, ceria, dan bahagia...
Semoga engkau menemukan pekerjaan yang lebih baik, yang membuatmu lebih nyaman dan bersinar... Tetap lanjutkan petualanganmu... Tetaplah bersemangadh dan menginspirasi...
Suatu saat, semoga kita bisa bertemu lagi...
Yang bersedih tapi selalu mendoakanmu,
WJ

No comments:
Post a Comment