Wednesday, March 25, 2015

Aku Bingung

Iya, hari ini aku bingung...


B I N G U N G picture taken from here


Melihat sekelilingku yang membingungkan. Awalnya aku lihat semua adalah indah dan menyenangkan. Lalu masuklah aku kesebuah ruangan tempat semua titik2 kecil berkumpul. Dan mulailah kebingungan itu.

Ruang itu semestinya menjadi tempat berkumpul semua titik. Ruang untuk titik2 itu berinteraksi, saling menggesekkan diri kekanan dan kekiri agar tercapai keharmonisan dalam ruangan. Namun semakin kesini, sesuatu yang membingungkan semakin membuat aku bingung. Ada beberapa titik yang rupanya lebih besar daripada titik2 lainnya. Atau kalau aku perhatikan dengan seksama, ukurannya sama, hanya saja beberapa titik itu punya bayangan gelap yang cukup besar dibelakang mereka.

Titik2 besar ini rupanya menyenangi sesuatu yang juga membuat bingung. Mereka ini senang sekali mendorong titik2 yang lain. Terkadang mereka juga membenturkan titik2 yang lainnya. Seolah mereka adalah titik yang sempurna. Padahal kan mereka tetap saja sebuah titik.

Tapi...
Itulah...
Kebingungan karena adanya titik2 didalam satu ruang
Yang meskipun bingung, Aku akan tetap selalu berdekatan dengan titik2 itu, dan sesekali berjalan berkeliling ruang untuk menyegarkan mata dan kepala.
Kebingungan terkadang membuat hidup kita lebih hidup.
Kalau nggak bingung, kecenderungan jadi nggak mau belajar dan mencari tahu.

Salam Bingung,

Jayadewata 19


Monday, March 23, 2015

An Appetite For Reading

Beberapa akhir pekan yang lalu, kami (aku, suami, dan anak) menikmati akhir pekan di sebuah pusat perbelanjaan berinisial B O K E R. Rencananya kami hanya akan berada disana sampai tengah hari, dan kemudian lanjut ke pameran produk organik di depan Kampus yang terletak disebelahnya. Namun rupanya rencana tinggalah rencana. Kami terjebak hujan deras dan akhirnya harus nge-tem di sana sampai sore, tidak beranjak kemana2. Eh salah dink, kami beranjak dari satu kafe ke kafe yang lainnya... #iiyyuuuhhhh

Salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah mengunjungi toko buku dilantai dasar. Beberapa buku akhirnya kami bawa pulang diantaranya buku dongeng nusantara dan novel Gelombang nya Dee Lestari. Oh iya, Kiraniul menggandeng Bontal dan tidak mau dilepas sampai rumah, namanya Moopie. Oh Kiraniul, tanganmu cekatan sekali mengambil benda lucu nak... :-p

Kegiatan yang lainnya sangat menarik dan menyenangkan, tetapi bukan itu yang ingin ku tuliskan. Aku lebih tertarik untuk menuliskan kisahku dan Gelombang.

Book should be above a gadget, not the other way
Picture taken from here
Sebetulnya, sudah lama sekali aku merasa pengen meng-koleksi buku karya Dee Lestari. Namun sampai saat ini, baru 2 buku yang nangkring di perpustakaan mini tak berbentuk ku, yaitu Perahu Kertas dan Gelombang. Buku yang pertama mengandung sejuta cerita yang mengikutinya. Ingat buku Perahu Kertas, aku jadi ingat satu blog ku yang mungkin keberadaan nya sudah di hilangkan oleh system karena tak pernah lagi kukunjungi. Kisah yang sudah selesai dengan kata 'The End' sempurna. Mudah2an semua pemeran yang tersebut didalamnya, berbahagia dimanapun kalian berada :-)

Buku yang kedua - Gelombang.

Sebetulnya bukan karena alasan -pengen meng koleksi buku Dee- itu yang menjadi alasanku membeli buku itu, waktu itu. Lebih karena aku masih kurang yakin dengan Appetite ku untuk membaca. Tahu sendiri bagaimana I Am Malala sudah menguning tanpa tersentuh, atau Kindle yang sudah di charge ulang baterainya tanpa terbaca sebarispun e book nya. Di situ kadang saya merasa sedih...

Karena itu aku hanya melakukan pemilihan acak pada tumpukan buku yang menggiurkan di toko buku itu. Memilih buku yang sekiranya tidak menuntutku berpikir keras (dengan enggres2an) atau buku yang bisa menyeretku pada ketidakingatan waktu (fiksi cantik dan petualangan seru macam twilight gitu).

Gelombang terpilih begitu saja.

Seperti yang sudah ku duga, nafsu membacaku masih kurang bisa dibangkitkan. Rindu rasanya saat2 dimana dalam seminggu satu novel ber Bahasa Indonesia terselesaikan, atau dalam satu bulan satu novel ber Bahasa Inggris terbaca tuntas. Sekarang ini, novel hanya tersentuh jika aku melakukan ritual harian di kamar mandi (buang h*j*t). Sedih... Sedih sekali...

Tapii....

Rupanya buku Gelombang ini sedikit berbeda. Mungkin tak lepas dari kepiawaian Dee dalam membawa hanyut semua pembacanya kedalam cerita petualangan Ichon. Entahlah... Yang jelas, melalui buku ini, timbul kembali keinginan kuatku untuk membaca. Muncul lagi kegiatan membaca sebelum tidur, membaca ketika istirahat kerja, membaca ketika tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, dan yang pasti masih ada ya membaca ketika ber ritual di kamar mandi. Selain membaca pada saat yang disebutkan terakhir itu, adalah prestasi yang menurutku perlu dirayakan dengan secangkir kopi nikmat. Karena hal2 itu rasanya sudah lamaaaaa sekali tidak aku lakukan. Tidak ada keinginan yang begitu besar yang bisa mengalahkan Faceb**k, Inst***am, ataupun games Plant and Zombie 2 dari HP suamiku.

Tapi setelah ada Gelombang di perpustakaan miniku, kegiatan2 itu kembali ada.  My Appetite for reading is back!!! Satu hal yang tidak kutuliskan dalam barisan Resolusi 2015 justru muncul dengan sendirinya. Mudah2an ini bertahan dan bertambah. I really want it to be come true... Memelihara nafsu untuk membaca sungguh sangat tidak mudah bagiku. Namun aku tahu bahwa aku tidak sendirian. Teman baikku pernah memposting sebuah link yang membuktikan hal itu. Banyak orang di belahan bumi lain juga mengalami hal yang sama. Mudah2an semua kembali menemukan Their Appetite for Reading as soon as possible. Karena untuk orang yang (dulunya) suka membaca, kehilangan nafsu untuk membaca adalah salah satu siksaan yang belum ada rumus penawarnya.

Happy Reading Folks!


Friday, March 13, 2015

Klinik Tumbuh Kembang Anak

Kali ini, ceritaku akan panjang tapi miskin gambar. Karena anak sakit, maka nafsu photo sana photo sini jadi hilang. Nggak ada gairah. Biarlah... Sekedar cerita untuk hari ini... :-)

******

Gambar Tumbuh Kembang Manusia dari Sini
Hari ini aku mengunjungi rumah sakit ibu dan anak di Bogor. Rumah sakit yang sama dengan tempat aku dulu konsultasi ketika hamil Kirania. Bedanya, kali ini aku kesana untuk memeriksakan Ndoro putri yang lagi nggak enak body. Hiks... sedih... Sudah seminggu lebih ditahan2 dirumah karena sepertinya penyakit biasa yang diderita anak2, tetapi pertahanan runtuh ketika tiba waktunya mandi. Melihat badannya yang mungil semakin tipis dan tulang2 mulai menonjol.... Tiddaaaaakkkkk....

Akhirnya ego ibu2 kekinian (halah...) yang selalu berusaha menghindari dokter dan obat dikesampingkan sementara. Pagi ini aku menelpon ke rumah sakit itu dan menanyakan perihal dokter anak yang available hari ini.

Aku (A) : Mbak, mau nanya boleh ya. Kalau Dokter Anak yang praktek hari ini siapa saja ya?
Mbak Resepsionis (MR) : Hari ini untuk kelas reguler ada dokter ini... ini... dan ini bu. Sedangkan kelas executive ada dokter ini, ini, dan ini...
A: Bedanya apa ya kelas reguler dan executive?
MR: Kalau reguler itu semua aktivitas mulai dari pendaftaran, timbang ukur, konsul dokter, dan ambil obat di lantai 1 bu... Sedangkan untuk executive di lantai 5 semuanya...
A: Apalagi bedanya mbak?
MR: Bedanya di biaya konsultasi dokternya juga bu. Untuk di executive sekian...
A: Tadi ada dokter siapa aja di executive mbak?
MR: Ada dokter ini... ini... dan ini...
A: Kalau dokter itu sudah berapa yang mendaftar?
MR: Sejauh ini sudah 10 orang bu... Tapi karena dokternya selalu ontime, jadi siapa yang datang duluan bisa dilayani....
A: ok kalau gitu saya daftar untuk dokter itu deh mbak. Nomer 11 ya? Mulai praktek jam berapa ya mbak?
MR: jam 8 bu... (Aku melihat jam sudah menunjukkan jam 7)
A: ok mbak. Makasih banyak ya...
MR: sama2 bu...

Aku pun menyampaikan hasil booking tempat kepada suami. Dokter itu adalah dokter yang dulu sempat aku nyatakan iyyyuuuhhh banget kalau harus ngantri berjam2 demi konsultasi standar. Kenapa? karena dulu setiap aku konsultasi hamil, pasien dokter itu selalu memenuhi ruang tunggu. Katanya ada yang sampai berjam-jam menunggu demi konsultasi ke dokter itu. Tetanggaku di kontrakan dulu adalah salah satunya. Wuidiiihh... Kayaknya dokter itu luar biasa sekali pelayanannya sampai orang rela duduk manis semanis madu di rumah sakit untuk menunggunya.

Karenanya, mendengar aku bisa dapat antrian 11 untuk dokter itu, aku merasa tertarik dan penasaran ingin mencoba. Seluarbiasa apa ini Pak Dokter. Suamikupun setuju. Karena dulu dia juga sama penasaran nya sama aku. Kami kan memang suka sekali penasaran berjama'ah. hehehehe

Maka secepat kilat kami mandi dan bergegas ke rumah sakit. Bayanganku kalau antrian nya sama seperti dulu, antrian 11 bisa jadi jam berapa tuh masuknya... takuuuuutttt....

Sesampai di rumah sakit, rupanya yang namanya executive memang executive. Terletak di lantai 5 yang jauh dari berisik. Lebih adem karena ruangannya tertutup pintu kaca semua dan AC menyala selalu. Kursi juga lebih empuk. Koran. Dan yang paling aku suka, kita dapet kupon snack donk. heheheee... Bisa pesan minum dua dan kue satu. Horeeeee... Lumayan untuk ganjel mata yang mulai melek jam 1 dan belum terpejam lagi karena banyak lemburan. Kopi... kopi... kopinya mana??? :-p

Dari segi pelayanan sih sebetulnya tidak jauh berbeda. Suster dan petugas receptionist cashier nya ramah2. Dan berita bahagianya adalah nama Kiraniul Asmarantul dipanggil nomer 2. Wah, nikmat yang mana lagi yang bisa kita dustakan? Masuk lah aku dan Kiraniul ke ruang dokter dan langsung disusul dengan nada tinggi tangisan Kiraniul. Takut dia masuk keruangan kecil berisi dengan orang asing. Maklum, jarang ketemu orang lain. Biasanya ketemunya cuma Bunda, Ayah, Teteh dan Mpus... :-p

Konsultasi berjalan seperti biasa. Dikasih tau ini itu, nanya ini itu, periksa ini itu, konsultasi tambahan tentang imunisasi, nanya ini itu lagi, and done. Selesai. 15 menit mungkin kami berada di dalam ruangan dokter itu. Kiraniul pun tersedu sedan sesenggukan sepanjang konsultasi. Kamipun berjalan keluar menuju our man yang nyantai sambil baca koran. Emangnya Hotel pak? :-p

Agenda selanjutnya adalah menebus obat. Resep dari dokternya WOW sekali banyaknya... Tulisannya panjang maksudnya. Jumlah obatnya sih nggak tau berapa, belum ketahuan. Rupanya untuk yang executive ini, penebusan obat dilakukan di receptionist cashier situ aja. Kita tinggal duduk menunggu. Tapiiiii.... ternyata justru menunggu obatnya yang lamaaaaaa sekali. Mungkin itulah gunanya sofa empuk, koran, dan snack. Untuk menjamu pasien dan keluarga agar tidak terlalu jemu menunggu. ppffiiuuuhh...

Review tentang dokter nya? Hhhmm... Enak sih dokternya... ramah, mau menjawab pertanyaan2 kita dengan jelas, tapi aku belum menemukan kelebihan yang luar biasa dibandingkan dengan dokter yang satunya lagi yang pernah kami kunjungi. Dua-duanya recommended secara biasa. Kalau menurut rumor sih, dokter yang ini adalah dokter anak yang punya specialisasi bidang apa gitu (entah jantung atau penyakit dalam lainnya). Jadi mungkin kalau yang mengidap penyakit terkait dan membutuhkan konsultasi lebih banyak, wacana2 lebih banyak, dan pelayanan dari dia lebih banyak, mungkin mereka yang banyak merasakan keluarbiasaan dokter ini. Kalau yang keluhan nya standar2 aja, ya mungkin tidak perlu berlama2 konsultasinya. Mudah2an aku tidak perlu konsultasi lama2 dengan beliau, yang menjadi pertanda bahwa kami sehat wal 'afiat. Aamiin.

Sambil menunggu obat disiapkan, aku mengajak Kiraniul berjalan2 melihat sekeliling di lantai itu. Rupanya dilantai itu juga tempatnya Klinik Tumbuh Kembang Anak. Klinik yang dulu namanya sempat menghantuiku ketika Kiraniul tak kunjung duduk. :-p

Suasana di Klinik TumBang Anak itu sangat  children friendly dengan aneka gambar, kursi warna-warni, dan receptionist yang berbentuk Bus. Kiraniul betah sekali bermain diarea ini. Terlebih lagi karena banyak anak2 yang usianya lebih besar dari Kiraniul, sehingga dia senang mengamati mereka.

Aku sempat berbincang dengan beberapa ibu yang ada disana, yang ternyata sedang mengantar anaknya terapi wicara. Ada satu anak yang sedang terapi wicara karena sampai dengan usia 5 tahun, dia masih belum terlalu lancar bicara. Ada satu anak berusia 3 tahun yang belum bisa beraktivitas seperti seharusnya karena ketika dia berusia 4 bulan, dia mengalami kejang demam dan tidak segera ditangani dengan baik oleh rumah sakit tempat mereka periksa. Ada satu anak yang berusia 2,5 tahun yang sedang terapi wicara karena menurut ibunya si anak belum menguasai sekitar 50 kata dan cenderung malas berkata2, lebih senang menggunakan bahasa tubuh/isyarat.

Ada kejadian yang kurang menyenangkan yang dialami oleh ibu dan anak yang berumur 5 tahun. Si ibu yang memperhatikan anaknya di terapi didalam sebuah ruangan, melihat anaknya diperlakukan kasar oleh terapistnya. Spontan si ibu membuka pintu dan menegur terapistnya "eh, kenapa anak saya didorong2 sampai jatuh gitu?" kemudian si Ibu menutup pintu kembali. Beberapa menit kemudian, rupanya kejadian serupa terulang, dan si Ibu tidak bisa menahan diri. Dia langsung meminta anaknya keluar dan bersiap2 pulang. Aku melihat si Ibu merasa sangat sedih dan tertekan. Mungkin dia tidak terima si terapist memperlakukan anaknya dengan kasar didepan matanya. Aku tidak tahu seberapa kasar si terapist memperlakukan anaknya, atau memang begitukah seharusnya terapist menerapi si anak, atau faktor lainnya. Yang jelas, aku merasa empati dan iba pada si Ibu. Aku bisa merasakan rasa sedih yang dia rasakan, ketika dia datang ke Klinik TumBang dengan harapan besar agar anaknya bisa dibantu agar semakin lancar bicara, namun pada pelaksanaannya justru melihat anaknya perlakukan kasar oleh si terapist. Pasti sedih sekali.

Si Ibu pun memutuskan untuk membawa anaknya pulang. Kami sempat berpapasan di depan lift, bersama dengan ibu yang anaknya berumur 3 tahun yang aku sebutkan tadi. Kami sama2 menyemangati Ibu dan Anak itu agar tidak menyerah dan sabar. Si ibu anak 3 tahun memberikan saran untuk berpindah terapist dan menyebutkan sebuah nama karena dia punya pengalaman yang baik dengan terapist itu. Aku hanya bisa menghibur dengan mengatakan "Sabar ya bu... Semangat ya kakak... Nanti pulang kerumah belajar sama bunda, nanti pasti jadi lancar bicaranya yaa....".

Ibu anak yang umurnya 3 tahun itu akhirnya berjalan masuk ke klinik TumBang bersama denganku. Kami berbincang sesaat sambil beliau menceritakan kondisi anaknya. Akhirnya didalam kami bertemu dengan anaknya. Gadis cantik yang dipakaikan kerudung, berusia 3 tahun, tapi masih belum bisa duduk sendiri, dipangku neneknya. Ya Allah, mudah2an terapinya berhasil dan dia segera bisa tumbuh dan beraktivitas secara normal kembali. Pandanganku bergeser ke sebelahnya, tempat entah ayah atau kakeknya. Toeengg.... Rupanya artis sinetron senior laki2, tapi aku lupa namanya. hehehe

Kiraniul minta untuk duduk didekat cashier yang bentuknya seperti bus. Dia asyik menunjuk2 dan aku menyebutkan benda yang ditunjuknya. Dan disebelahku ada ibu yang anaknya berumu 2.5 tahun dan sedang diterapi. Dari si ibu itu aku tahu kalau anaknya sepertinya malas bicara dan lebih senang menggunakan bahasa tubuh/isyarat untuk menyampaikan sesuatu. Mudah2an terapinya segera berhasil dan si kakak bisa berbicara dengan riang. :-)

Melihat kondisi Klinik ini, membuat hatiku terenyuh... Anak-anak yang lahir tanpa meminta, anak-anak yang dicurahi kasih sayang, doa, harapan, dan mungkin materi oleh keluarga tercintanya, namun mereka harus menjalani tahapan terapi agar bisa beraktivitas seperti anak2 yang lainnya. Ibu yang selalu berdoa dan menjaga agar janin di kandungan selama 9 bulan sehat, tumbuh optimal dan sempurna, yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka, harus melihat anaknya di terapi oleh terapist, yang kadang mungkin ketemu terapi yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Ayah yang selalu berjuang sekuat tenaga agar anak dan istrinya mendapatkan yang terbaik, selalu berdoa agar keluarganya diberikan berkah dan keselamatan, bekerja membanting tulang agar keluarga tidak kekurangan, harus menjadi pundak yang kuat untuk istrinya bersandar ketika bersedih melihat kondisi anak mereka. Harus menjadi pendorong semangat dan penguat hati, sekaligus menjadi pengambil keputusan yang terdepan. Wajah-wajah mereka semua, membuat aku sangat sangat sangat dan sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan padaku sekarang ini. Mudah2an kami semua selalu diberikan kesehatan dan rizki yang berkah, dan semoga mereka semua yang ada diruangan itu juga selalu mendapatkan yang terbaik dari yang baik. Aamiin.

Selain Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan, mungkin pepatah ini juga sangat sesuai untuk menyadarkan diri:

Boleh sesekali melihat ke atas agar kita bisa lebih bersemangat menjalani hidup. Tapi ingatlah bahwa sering-sering lah kita melihat ke bawah agar kita tidak lupa caranya bersyukur dan berempati pada saudara sesama manusia.

Selamat Berakhir Pekan Temans....!



Wednesday, March 11, 2015

Orang Pinter dan Keminter Itu Beda

Thanks to Internet and Social Media!

Dengan internet aku banyak memperoleh informasi mengenai segala hal. Hanya saja, penggunaan nya harus disertai dengan tanggung jawab penuh, agar tidak menimbulkan pengaruh buruk. Pengaruh buruk untuk siapa? untuk kita, untuk object yang dibahas, dan juga untuk orang lain yang kebetulan ikut menggunakan tentunya. Kita ambil contoh Fa**b**k.

Dari social media aku banyak melihat dan mengikuti perkembangan teman2, saudara, dan semua orang yang terhubung denganku. Dari sana, kadang dikala aku tidak terlalu sibuk dengan kerjaan atau hal lain, aku menjadi kepo dan ingin tahu. Dibacalah update an orang yang ada di newsfeed. Hhmm... Kadang2 hanya membaca tulisan2 mereka saja, bisa membuatku berdecak kagum dan menggeleng2kan kepala. Rupanya teman2ku banyak sekali yang pintar2... Subhanallah....

Status mereka banyak sekali yang menggambarkan kepintaran mereka. Banyak yang mengerjakan ini itu, pergi kesana kemari, berjasa untuk lingkungan mereka, berbuat baik kepada orang, dan masih banyak lagi. Kadang kalau sudah begitu, aku jadi ngaca, sudah sampai mana aku?

Ok... pause dulu disitu...

Ganti ke wall ku sendiri dan melihat apa yang sudah pernah kubagi. Ok, tentang anak... scroll down... semangadh2 pagi.... scroll down lagi.... Anak lagi.... scroll down terus... curcol dikit... dan seterusnya dan seterusnya....

Aku jadi tersenyum dan tertawa melihat photo, membaca caption yang kutulis, dan membaca komentar2 teman yang sempat mampir kesana. Sambil membayangkan apa yang aku rasakan saat mengunggah gambar atau menuliskan itu.... Waaaa.... Jatuh cinta pada kenangan lagi nih aku.... :-p

Beberapa aku ingat background kenapa dan kenapanya. Misalkan saja ketika aku mengunggah foto camping. Aku menuliskan caption disitu dengan sebuah quote yang aku dapat dari internet juga seperti dibawah ini:

“Don't let your happiness depend on something you may lose.” ― C.S. Lewis

Mungkin ketika ada yang mampir atau tak sengaja melihat aku mengunggah photo camping bersama anakku yang masih belum 2 tahun, akan banyak pikiran di kepala masing2 orang. Bunyinya pun akan sangat berbeda2. Mungkin saja, akan berbunyi 'gaya banget dia, anak kecil di ajak kemping'. Atau bisa jadi 'egois banget sih anak kecil diajak kemping. Nggak mikir apa nanti kalau dia sakit? nggak dipakein jaket lagi...". Padahal sebetulnya aku akan sangat bahagia dan berharap kalau ada yang bilang gini "ih, asik banget kemping. kapan donk kita kemping bareng?" hehheheee

Nggak ada yang tau kan kalau sebenernya aku kemping karena lagi galau? hahahaa... Mari buka2 rahasia. Iya, waktu itu aku sedang galau. Karena sesuatu yang dulu aku pikir adalah salah satu sumber kebahagiaanku, sedang tidak menghasilkan kebahagiaan untukku. Dan rasanya justru mengeruk kebahagiaan yang aku dapat dari sumber yang lain... Ribet ya? iya ribet... tapi nggak papa. Lebih baik ribet dari pada tidak ribet sama sekali.... :-p

Karena kegalauan itu maka aku merayu suami untuk ikut kemping, sekedar menghirup udara segar di hutan sana. Dan sebagai hasil dari menghirup udara segar itu, perenungan selama disana, refleksi diri dan tujuan2 awalnya, dan lain2 dan lain2, maka aku menyemangati diri sendiri dan bertekat bahwa kebahagiaan tidak boleh bergantung pada sesuatu yang tidak abadi dan mudah hilang. Agar kemungkinan untuk tidak bahagianya juga sedikit. Biar lebih keren dikit, aku browsing aja quote yang pakai bahasa inggris, dan nyambung dengan tekat yang aku niatkan.

See... Social media memang sangat banyak plus dan minus nya... sebanding lah plus dan minusnya... semakin banyak plus nya, ya semakin banyak minusnya.... hahahha.

Ok, yang tadi di pause, kita play lagi...

Jadi, kembali lagi ke tulisan teman2 yang sangat pintar2 itu... Aku mencoba lagi membaca, dan mulai berprasangka tentang apa dan apa yang membuat mereka menulis itu. Haha... jadinya suudzon kaaannn? tapi aku pikir aku tidak sendiri... Cuma kadang yang lain tidak mau mengakui saja... #ups.

Satu hal yang kemudian terlihat ketika kita membaca/melihat tulisan/gambar dan juga komentar2 orang di social media. Apa? menurut Wilis Juharini 2015 nih ya, bahwa memang banyak sekali teman2 yang sangat pintar, pintar sekali, dan pintar... Bangga sekali aku sebagai teman mereka... Tapi, ada juga koq yang keminter... dan itu wajar. Namanya juga manusia kaaaaa.... :-)

Untuk lesson learned diri sendiri, harus lebih bijak menggunakan social media. Biar yang suka suudzon seperti aku, nggak makin banyak jumlahnya :-p

Selamat Hari Rabu temans!

Monday, March 9, 2015

Satu Tahun Yang Lalu - Mandor

Entah kenapa tetiba pagi ini aku iseng melancong ke kumpulan photo2 lama di komputerku. Mungkin efek koneksi internet yang semakin subhanallah saja belakangan ini. Sehingga aku tidak bisa langsung bekerja meskipun semangadh sudah berada di bar paling atas. Apa daya, sekarang semua-mua adalah internet. Tanpa internet, da aku mah apa atuh? #lebay

OK. kembali ke photo masa lalu yang terjadi di hari ini, setahun yang lalu. Rupanya, setahun yang lalu di hari ini, aku masih setia menjadi mandor. Kami masih dalam rutinitas nge-cek proyek terbesar kami tahun itu. Pembangunan rumah teko kopi kami. 

Look at the pictures below... Is this litle girl Kirania? She look so cute (not to mentioned that current Kirania is not cure anymore). It's just because now she is a grown up little girl who become a picky eater. Jadi dia sudah tidak unyu2 endut lagi. Tapi dia unyu2 aktif dan centil. hehehee


Hari itu, setahun yang lalu...
Aku ingat sepulang kami dari menengok proyek, kami mampir di sebuah rumah makan di bilangan Yasmin. Raja P****t. Seingatku, disitu adalah kali pertama Kirania duduk di high chair atau kursi bayi yang ada di restaurant itu lho... Punggungnya masih diganjel kain agar dia bisa duduk nyaman. 

Saat itu dia baru berusia 7 bulan. Belum makan makanan meja, masih yang bubur2, tim2, atau pure2 an ala ala ibu2 jaman sekarang. Jadi waktu di tempat makan itu, dia hanya diberikan Timun. hehee... Kasian sekali. Orang tuanya makan ayam dan ikan, anaknya dikasih timun doank. Dan beberapa bekal lainnya sih.. :-p

It's lovely to see dan membandingkan Kirania dari waktu ke waktu. Melihat rambutnya yang kurang berambut, lirikan matanya yang masih sama dan makin sering digunakan, mulutnya yang unik apalagi kalau sudah onyong2, dan masih banyak lagi. Aaahhh.... Sungguh waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku dan suami menikmati soto Pak Dur di Kalasan setelah beberapa menit sebelumnya mendapatkan kepastian untuk melakukan SC keesokan harinya.... #sorrybagianmakansulitdilupakan. :-p



Mudah2an kami semua selalu sehat, diberi umur panjang dan rejeki yang mengalir bersama dengan berkah. Begitu juga kalian semua dimanapun kalian berada. Aamiin


Friday, March 6, 2015

Don't Let Your Happiness Depend On Something You May Lose



“Don't let your happiness depend on something you may lose.” ― C.S. Lewis

Terkadang, ketika rasa bosan itu datang menyapa, maka lari adalah cara untuk meninggalkannya. Ketika rasa muak itu datang, maka berjalan-jalan adalah cara untuk melupakannya. Ketika rasa lelah itu datang, maka menikmati hijaunya alam adalah cara untuk mengembalikan semangadh yang hilang. Ketika tidak peduli itu datang, maka kemping dialam terbuka adalah cara untuk mengendalikan diri. 


Bahagia...


Adalah hal yang selalu dicari, dinanti, diharapkan, dan didoakan oleh semua orang. Bahagia dunia dan akhirat. Adalah pasangan yang sangat di harapkan kehadirannya dalam kehidupan manusia. Bahagia dapat dicapai dengan banyak cara. 


Banyak hal juga yang bisa menentukan kebahagiaan orang. Ada yang sederhana, namun tak jarang pula yang menjadi sulit karena kemauan manusianya. Semua kembali kepada diri masing-masing dalam memaknai arti kata Bahagia. 


Menurut ungkapan C.S. Lewis di atas, Don't let your happiness depend on something you may lose. Kurang lebih maknanya adalah, agar kita tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada sesuatu yang bisa hilang dari pegangan kita. Seperti misalnya menggantungkan kebahagiaan pada materi atau harta benda semata. Maka dengan mudah kebahagiaan kita akan hilang, manakala harta benda kita berpindah tangan, dengan cara apapun. 


Bisa menikmati waktu bebas disela2 hijaunya pepohonan, bermain dengan sejuknya embun, berada diantara teman-teman yang tidak hanya perduli dengan materi semata, adalah caraku menikmati kebahagiaan. Bagaimana dengan caramu??? 




Wednesday, March 4, 2015

Karena Anu Setitik, Rusak Mood Sebelanga

Ini bukan tentang sesuatu yang berbau biru atau porno. Ini hanya hal biasa yang jika diungkapkan secara gamblang, bisa mengundang banyak mudharot ketimbang manfaatnya.

Pagi ini aku bangun dengan semangadh dan niat menggebu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sempat tertunda karena sakit common cold berjamaah sekeluarga. Beberapa sudah bisa selesai, dan masih ada beberapa lagi. Tetiba aku mendapatkan kiriman Anu.... Dan entah kenapa semua semangadh dan niat tulus pagi hari langsung mengudara dan menguap tanpa bekas.

Anu itu memang kecil dan kurang berarti, tapi rupanya mampu menghancurkan semangadh pagi hariku. Semagai morning person, rasanya bangun pagi tanpa melakukan sesuatu sedini mungkin itu justru membuat sakit dan makin sakit.

Memang buat orang lain, Anu ini bukanlah sesuatu yang penting. Buatku juga sebetulnya tidak penting juga sih... Tapi lebih baik tidak ada daripada ada.

Kalau memang Anu ini ada karena tidak sengaja, maka tak mengapa. Tapi bagaimana kalau Anu ini ada karena memang disengaja? Itu baru sesuatu. Tapi, itu hanya prasangka... Karena aku nggak tau dan nggak mau tau dan nggak mau mencari tau ke yang ngirim. Biarkan saja dia dengan alasannya, dan aku dengan ketidaktauanku. Semuanya akan lebih tenang kalau didiamkan dalam ketidakjelasan.

Berhubungan dengan sesama manusia berbeda semuanya membuat banyak perbedaan juga dalam banyak hal. Sebetulnya kurang match dan ada yang kurang klop, tapi tak mengapa. Lumrah dan wajar saja. Kadang ada juga yang tidak wajar, tapi bisa apa kita? Keran harus tetap mengucurkan airnya, agar kehidupan dibawah sana berjalan dan bertumbuh. Nikmati saja sebisanya. Masalah kebahagiaan kita cari ditempat lain. Kata Mas C.S Lewis "Don't let your happiness depend on something you may lose"

Merasa hilang semangadh sebentar boleh. Bersedih sebentar juga boleh. Malas ini itu sebentar juga boleh. Ibarat pepatah yang mengatakan 'Karena Anu setitik, maka rusaklah Mood sebelanga'.