Friday, March 6, 2015

Don't Let Your Happiness Depend On Something You May Lose



“Don't let your happiness depend on something you may lose.” ― C.S. Lewis

Terkadang, ketika rasa bosan itu datang menyapa, maka lari adalah cara untuk meninggalkannya. Ketika rasa muak itu datang, maka berjalan-jalan adalah cara untuk melupakannya. Ketika rasa lelah itu datang, maka menikmati hijaunya alam adalah cara untuk mengembalikan semangadh yang hilang. Ketika tidak peduli itu datang, maka kemping dialam terbuka adalah cara untuk mengendalikan diri. 


Bahagia...


Adalah hal yang selalu dicari, dinanti, diharapkan, dan didoakan oleh semua orang. Bahagia dunia dan akhirat. Adalah pasangan yang sangat di harapkan kehadirannya dalam kehidupan manusia. Bahagia dapat dicapai dengan banyak cara. 


Banyak hal juga yang bisa menentukan kebahagiaan orang. Ada yang sederhana, namun tak jarang pula yang menjadi sulit karena kemauan manusianya. Semua kembali kepada diri masing-masing dalam memaknai arti kata Bahagia. 


Menurut ungkapan C.S. Lewis di atas, Don't let your happiness depend on something you may lose. Kurang lebih maknanya adalah, agar kita tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada sesuatu yang bisa hilang dari pegangan kita. Seperti misalnya menggantungkan kebahagiaan pada materi atau harta benda semata. Maka dengan mudah kebahagiaan kita akan hilang, manakala harta benda kita berpindah tangan, dengan cara apapun. 


Bisa menikmati waktu bebas disela2 hijaunya pepohonan, bermain dengan sejuknya embun, berada diantara teman-teman yang tidak hanya perduli dengan materi semata, adalah caraku menikmati kebahagiaan. Bagaimana dengan caramu??? 




Wednesday, March 4, 2015

Karena Anu Setitik, Rusak Mood Sebelanga

Ini bukan tentang sesuatu yang berbau biru atau porno. Ini hanya hal biasa yang jika diungkapkan secara gamblang, bisa mengundang banyak mudharot ketimbang manfaatnya.

Pagi ini aku bangun dengan semangadh dan niat menggebu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sempat tertunda karena sakit common cold berjamaah sekeluarga. Beberapa sudah bisa selesai, dan masih ada beberapa lagi. Tetiba aku mendapatkan kiriman Anu.... Dan entah kenapa semua semangadh dan niat tulus pagi hari langsung mengudara dan menguap tanpa bekas.

Anu itu memang kecil dan kurang berarti, tapi rupanya mampu menghancurkan semangadh pagi hariku. Semagai morning person, rasanya bangun pagi tanpa melakukan sesuatu sedini mungkin itu justru membuat sakit dan makin sakit.

Memang buat orang lain, Anu ini bukanlah sesuatu yang penting. Buatku juga sebetulnya tidak penting juga sih... Tapi lebih baik tidak ada daripada ada.

Kalau memang Anu ini ada karena tidak sengaja, maka tak mengapa. Tapi bagaimana kalau Anu ini ada karena memang disengaja? Itu baru sesuatu. Tapi, itu hanya prasangka... Karena aku nggak tau dan nggak mau tau dan nggak mau mencari tau ke yang ngirim. Biarkan saja dia dengan alasannya, dan aku dengan ketidaktauanku. Semuanya akan lebih tenang kalau didiamkan dalam ketidakjelasan.

Berhubungan dengan sesama manusia berbeda semuanya membuat banyak perbedaan juga dalam banyak hal. Sebetulnya kurang match dan ada yang kurang klop, tapi tak mengapa. Lumrah dan wajar saja. Kadang ada juga yang tidak wajar, tapi bisa apa kita? Keran harus tetap mengucurkan airnya, agar kehidupan dibawah sana berjalan dan bertumbuh. Nikmati saja sebisanya. Masalah kebahagiaan kita cari ditempat lain. Kata Mas C.S Lewis "Don't let your happiness depend on something you may lose"

Merasa hilang semangadh sebentar boleh. Bersedih sebentar juga boleh. Malas ini itu sebentar juga boleh. Ibarat pepatah yang mengatakan 'Karena Anu setitik, maka rusaklah Mood sebelanga'.


Wednesday, December 31, 2014

Say Good Bye For 2014

Swing....


Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun (lagi). Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan penuh cerita meskipun hanya di kepala. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan sehat dan tanpa kurang suatu apa. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan bahagia bersama dengan mereka yang dicinta. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan beberapa capaian target yang lumayan juga. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk merancang rencana 2015 dengan santai, enjoy, dan penuh tawa. Alhamdulillah.... Alhamdulillah.... Alhamdulillah...

Meskipun masih miris jika melihat jumlah torehan kata, ah sudahlah.... Tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Seperti biasa, ada saja resolusi yang pada akhirnya menjadi resolusi menahun dan turun temurun dari tahun sebelumnya. Ah sudahlah.... Kita coba lagi tahun depan....

Di penghujung tahun 2014 ini, aku merasa bahwa Tuhan sangat menyayangi dan menjagaku. Melalui berkah, rizki, kesehatan, kebahagiaan, anugerah, serta cobaan yang datang lengkap tanpa kurang suatu apapun, Dia memberikan nikmat-Nya kepadaku. Bersama dengan keluarga kecilku, kami songsong semua rizky yang sudah disiapkan oleh -Nya untuk kami. Dan aku kembali bersyukur tiada terkira ketika menatap orang-orang yang kucintai satu persatu. Nikmat Tuhan yang Mana Lagi yang Engkau Dustakan, Anak Muda :-)

Satu hal baru yang kami niat dan lakukan, dan mudah-mudahan bisa konsisten sampai nanti adalah celengan akhir tahun. Tahun 2014, celengan kami namanya Kodok Tasari. Seharusnya, Kodok Tasari ini berjalan, bermain, dan tumbuh bersama dengan tabel 52 weeks money challenge yang kutempel di meja kerjaku. Namun apa daya. Masalah konsistensi masih menjadi yang pertama. Gatot alias gagal total. Hanya 10% tingkat keberhasilan saja. Tapi, lumayan lah.... Daripada tidak sama sekali. Tahun depan, mudah-mudahan bisa lebih konsisten lagi. ^_^

Liburan akhir tahun 2014?

 

 

Rencana kami sedikit mundur karena ayahnya  Kirania mendadak harus ke luar kota. Jadi agenda diundur semua. Akhir tahun kami lalui di..... Pantai Anyer.... Whooaaaaa *kata Kirania.

Ya, kami pulang kampung lagi. Aku selalu semangat pulang kampung ke kampung ayahnya Kirania. Sudah pasti karena pantainya... hahaha. Pantai adalah tempat aku dengan rela menghabiskan waktu untuk sekedar leyeh-leyeh, duduk-duduk, ngobrol, bercengkerama dengan alam ataupun dengan orang, bermain pasir bersama Kirania, atau berenang-renang kecil ditepian.

Namun sayang sekali. Akhir tahun ini, rupanya hujan mendera seluruh daerah di Indonesia. Mengutip celotehan beberapa orang di dunia maya, katanya doa-doa para jombloers sedang dikabulkan oleh Tuhan. Hujan merata sehingga agenda menikmati pantai pun sedikit terganggu. Harus berlomba-lomba dengan waktu antara berteduh disaung ketika hujan dan berlari ke pantai ketika hujan sedikit reda. It was fun!


Oh iya, selain agenda memantai, ada juga agenda ngemoll karena nenek nya Kirania bosan dirumah dan pengen jalan-jalan ke kota. Akhirnya kami menghabiskan waktu di TimeZone. Sesuatu yang akhirnya kami pikir ulang karena Kirania terlalu menikmati permainan-permainan yang ada disana hingga ingin lagi dan lagi. :-p

Selamat menyongsong tahun baru untuk semuanya, mudah-mudahan apa yang direncanakan di tahun 2014 tercapai sesuai harapan, dan juga mudah-mudahan kita semua diberikan berkah dan nikmat Tuhan di tahun 2015.


Thursday, November 20, 2014

I Want to Go to Cambridge

Once upon a time (kesan nya tua sekali ya)... Kirania mendapatkan oleh-oleh dari Budhe Dessy yang di belinya di Cambridge. So sweeeettt... Thank you so much budhe...

Oleh-olehnya berupa kaos lengan panjang pake kupluk gitu. Yang paling membuatku senang adalah tulisan yang ada di kaos itu. Disitu tertulis "When I grow up, I want to go to Cambridge".

Kaos itu sebetulnya ukuran 3, dibeli waktu Kirania masih berumur sekian bulan. Dan baru pas dibadan Kirania sekarang ini. Alhamdulillah... Mengurangi jatah beli baju bulan ini :-)

Kembali ke tulisan tentang Cambridge. Duuuh, setiap kali melirik Kirania dan membaca tulisan itu, aku langsung mengucapkan Aamiin banyak2. Mudah2an tulisan yang merupakan doa itu, bisa di kabulkan oleh-Nya. Aamiin lagi.

Aim high dear Kirania... Cambridge, Oxford, Mayo clinic, MIT, UI, IPB, UGM, ISI, Akbid, Home Sweet Home, kemanapun atau dimanapun kamu nantinya, We will always there to catch you... :-)

"When I Grow Up, I Want to Go to Cambridge" T-shirt

Kata orang kan kalau berdoa harus spesifik, agar Tuhan tidak bingung mengabulkannya. Dan agar kita fokus juga mengejarnya. Meskipun masih jauh, tapi tidak ada salahnya di Bismillah-kan sekarang, di Aamiin kan setiap hari, agar di kabulkan pada saatnya nanti. Aamiin lagi :-)

Oh iya, info yang nggak penting banget. Sekarang kami sudah resmi menjadi warga Kota Bogor pemirsa. Soooo whatttt??? Nothing :-p

Monday, November 17, 2014

Sentuhan Maut dari Seorang Ibu

I only kid who playing as a kids....
Hari ini anakku manis sekali. Dia mau main sama tetehnya di garasi. Biasanya, dia maunya sama ibunya saja. Sepertinya dia sudah semakin akrab dan percaya pada tetehnya yang kesekian ini. Cerita panjang seputar per teteh-an. Kisah Klasik Untuk Ujian Iman katanya... :-p

Tak berapa lama anak ku main di garasi, terdengar tangisan tersedu2 anak kecil. Penasaran emak2 ini keluar, mengintiplah aku di jendela. Kubuat lubang dari sisi gorden sekecil2 nya agar tidak nampak oleh pihak yang di intip. Rupanya, tetangga depan. Anaknya yang laki2 menangis tersedu2 duduk dikursi teras, ibunya menghampiri dengan memunggungiku. Tangan kiri pegang HP, tangan kanan melancarkan aksi cubitan ke anaknya yang sedang menangis. Bertubi2 hingga anakknya nampak kesakitan sekali. Duuuhh....

Entah karena aku sudah punya anak sendiri, atau entah karena aku jadi ingat masa2 itu. Masa ketika ibuku juga sering melancarkan aksi cubit2an. Cubit2an itu judulnya, agar terdengar sedikit manis. Karena pada kenyataannya, ada saja bekas biru yang tertinggal, dan rasa memarnya bertahan sampai cubitan selanjutnya datang. hehehee... Bukan untuk menjelek2an ibuku, karena memang seribu satu alasan beliau melakukannya. Sebagai pelajaran untukku, agar mengambil yang baik dan meninggalkan yang kurang baik. Itu saja :-)

Kembali kepada perasaanku melihat cubit2an itu. Hatiku tiba2 terasa... sriiittt...sriiittt... (sulit menggambarkan hati yang tersayat2). Karena tak tega, akupun keluar. Dalihnya sih bermain dengan anakku sendiri. Sambil hasil sampingannya adalah menghibur si anak yang menangis. Anak yang menangis itu akhirnya digendong oleh ibu2 yang biasa mengasuhnya, sambil terus menangis dan bilang sakit, memegangi pahanya... 

"Cup...cup... kakak... Jangan menangis... main sini aja... " Kataku membahasakan anakku. 

Si anak masih menangis, dan akhirnya di ajak kewarung untuk jajan. Sedih sekali rasanya.... 

Cubit2an adalah salah satu hal yang masuk dalam daftar hitamku. Daftar yang harus di hindari, dijauhi, dan jangan sampai dilakukan. Naudzubillah... 

Mudah2an, dalam perjalananku membantu, menemani, dan mendukung anak2ku tumbuh, tidak ada yang namanya cubit2 lebam dikamus anakku. Aamin...

Bagi anak kecil, yang terlahir tanpa bisa memilih, tanpa bisa mengajukan syarat, dan tanpa bisa menolak, mereka akan merasa bingung dan bertanya2, kenapa gerangan ibunya mencubitinya? Apa yang sudah kulakukan? Aku kan hanya bermain, dan beraktivitas layaknya anak kecil pada umumnya? *mungkin begitu perasaan mereka. 

Lesson Learn :
"Take the good, leave the bad"

Thursday, June 26, 2014

Anakku dan Ayahnya

I Love You Daddy!
Kalau kalian masih ingat dulu ada seorang anak yang membuat puisi tentang ibunya dan facebook? Kurang lebih begini bunyinya: "Ibuku dan facebook... Hubungannya, eraaat sekali..."

Nah, begitu juga aku. Ingin membuat puisi yang dipersembahkan pada Anak dan Suamiku. Mungkin bunyinya jadi begini *nyontek yaaa*

Anakku dan Ayahnya
Hubungannya errraaaatttt sekali...

Setiap Ayah nya ada, maka aku laksana tiada
Setiap Ayah nya ada, maka aku tak laku pula untuknya

Setiap pagi Anak ku membuka matanya,
Maka suara merdunya selalu berbunyi "Ayyyaaahhh...."

Setiap saat mendengar motor berbunyi,
Maka dengan semangatnya dia merangkak kepintu sambil meneriakkan yel2 "Ayyyaaahhhh"

Itulah dia... Anak ku...
Dan itu lah dia.... Suamiku...

******

Tidak penting sama sekali bukan? hehehe
Namanya juga sedang melatih kembali kemampuan menyusun kata demi kata. Jadi tidak mengapa jika tidak indah dan tidak penting. Karena pasangannya (indah dan penting) akan segera datang... Upsss.... Pasangan lagi... hehehhee...

Selamat Malam Jum'at bagi yang merayakan... :-)

Tuesday, June 24, 2014

Melepaskan Dengan Benar

Melepaskan sesuatu itu bukan dengan berontak, marah, meronta, sebal. Karena kalau begitu, namanya bukan melepaskan...

Melepaskan itu juga bukan dengan penolakan (dalam hati), tidak terima, mengeluh, kecewa. Karena kalau begitu, lagi2 namanya bukan melepaskan...

Melepaskan itu persis seperti penerimaan. Kayak kita tiba2 dikasih uang 1 milyar, bukankah kita terima dengan senang hati?

Demikianlah.

Let it go freely. Picture taken from here
Hari ini aku mengutip beberapa kalimat dari sebuah postingan Darwis Tere Liye di Faceb**k. Belakangan ini, aku senang sekali mengikuti postingan2 -nya di FB, baik yang lama maupun yang baru. Dari situ, muncul keinginan untuk membeli dan membaca bukunya.... Stop sampai disitu!!! Selesaikan dulu I am Malala, baru beli buku baru...!!! *Kata kepalaku :-p

Begitulah... Aku sangat setuju dengan isi dari tulisan Tere Liye yang ini, dan mulai mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari2. Sulit, tapi tidak berarti mustahil. Berat tapi bisa dicoba sedikit2. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini selama kita mau mencoba bukan? :-)

Kenapa aku tertarik dengan kalimat Tere Liye ini?
Aku akan menyebut kalimat2 diatas dengan singkat melalui "Melepaskan dengan benar". Melepaskan dengan benar yang berarti benar2 melepaskan, dengan cara yang benar, dengan perasaan yang benar, dan dengan kesadaran yang benar. Karena menurutku, ketika kita bisa melepaskan sesuatu dengan benar, maka kita tidak akan merasa teramat sangat kehilangan. Merasa kehilangan, sedih, kosong, ada yang hilang, ada yang tidak biasa, dan lain2 itu wajar dan boleh saja. Yang tidak boleh adalah ketika semua menjadi berlebihan dan tak terkendali.

Aku? Pernahkah tidak terkendali? Wow... Sering...!
Tapi itu dulu... Skarang, aku mencoba mengurangi dan menjadi lebih baik dalam mengatasi emosi sehingga tidak semua hal aku tanggapi dengan berlebihan. Mungkin inilah salah satu bagian dari tumbuh menjadi dewasa. Mudah2an saja, dan mudah2an juga semakin dan semakin baik.

Dulu sekali, sebutlah ketika masih di tingkat SD.
Ketika aku merasa kecewa karena kehilangan predikat terpintar alias ranking 1. Aku sangat... sangat... sangat kecewa. Aku tidak pernah merasa sekecewa itu karena Ranking 1 adalah predikatKU. Dari kelas 1 hingga kelas 5 itu. Hingga akhirnya di Kelas 5 system pemberian ranking diubah dan setiap orang berhak mendapatkan ranking 1-10. Maka ranking diberikan dengan tanda koma (,) mengikuti dibelakanganya. Dan muncullah satu teman sekelasku yang menyaingi posisiku. Aku di Ranking 1.1 dan dia dirangking 1.2. Tetap saja, aku merasa sangat...sangat...sangat kecewa..!!!

Akupun pulang dengan menundukkan kepala dalam2, langsung tidur, galau, tidak nafsu makan dan main. Hampa gitu deeh... Semua penghiburan oleh teman dan keluargaku tidak mempan. Aku merasa lalai dan kurang maksimal dalam mengerjakan ujian (karena memang waktu SD aku sama sekali tidak suka belajar khusus). Itu dulu...

Atau ketika ditingkat SMU.
Ketika aku berada dititik brutal sebagai anak perempuan. Selalu membangkang dan melawan kehendak orang tua (esp: Bapak). Merasa bahwa dunia ini tidak adil dan merasa bahwa aku adalah anak paling malang sedunia. Menangis berhari2 sambil menyibukkan diri membaca text book dan mengerjakan LKS, nangis lagi, begitu seterusnya setiap hari sampai beberapa bulan. Yang sampai sekarang kalau aku pikir2 lagi masih kurang tau apa masalah pastinya. Itu juga dulu...

Sekarang? Tidak boleh begitu lagi...
Sudah punya suami, sudah punya sebutan istri, sudah punya anak, dan disebut ibu. Harus berbeda dengan yang dulu2. Kalau kecewa terhadap diri sendiri? Cukup baca2 berita di internet dan jejaring sosial, kepo sana sini, hingga kemudian menemukan penghiburan dari update status orang atau berita yang kadang suka lucu, lebay, dan menyadarkan bahwa kita jauh lebih beruntung dari mereka. Kalau kecewa dengan pasangan? Tinggal ajakin aja perang bantal bak buk bak buk sampai puas, dijamin tidak ada yang terluka, dan beban hilang semuanya. Kecewa sama lingkungan? halah... namanya hidup itu tidak ada yang sempurna. Jadi terima aja sambil tersenyum, diobrolkan sama suami sambil minum kopi dan nonton tipi. Indah kan? ;-p

Masih banyak yang perlu dipelajari agar bisa melepaskan sesuatu dengan benar. Karena sebagai manusia, terkadang kita memiliki sense of belonging yang sangat tinggi sekali. Sesuatu yang bukan milik kita saja terkadang kita balik namakan menjadi milik kita (jadi ingat beberapa baju semasa kuliah. hehehe), hadiah yang sebetulnya tidak dapatpun tidak apa2 juga terkadang kita paksakan menjadi milik kita, apalagi sesuatu yang memang sudah/pernah menjadi milik kita. Pasti akan sangaaaaaattt beerrrraaaaatttt melepasnya.

Tapi seperti yang sudah sering aku katakan.... Di Bismillah kan saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur semuanya... Kalau kata suaminya temenku beberapa waktu lalu kurang lebih adalah "Dulu kita pernah bahagia, sekarang ini saya lebih bahagia, dan yakinlah bahwa nanti kita akan lebih bahagia lagi...". Well said Pak!

Jadi, Nothing to lose lah yaaa :-)