Monday, November 17, 2014

Sentuhan Maut dari Seorang Ibu

I only kid who playing as a kids....
Hari ini anakku manis sekali. Dia mau main sama tetehnya di garasi. Biasanya, dia maunya sama ibunya saja. Sepertinya dia sudah semakin akrab dan percaya pada tetehnya yang kesekian ini. Cerita panjang seputar per teteh-an. Kisah Klasik Untuk Ujian Iman katanya... :-p

Tak berapa lama anak ku main di garasi, terdengar tangisan tersedu2 anak kecil. Penasaran emak2 ini keluar, mengintiplah aku di jendela. Kubuat lubang dari sisi gorden sekecil2 nya agar tidak nampak oleh pihak yang di intip. Rupanya, tetangga depan. Anaknya yang laki2 menangis tersedu2 duduk dikursi teras, ibunya menghampiri dengan memunggungiku. Tangan kiri pegang HP, tangan kanan melancarkan aksi cubitan ke anaknya yang sedang menangis. Bertubi2 hingga anakknya nampak kesakitan sekali. Duuuhh....

Entah karena aku sudah punya anak sendiri, atau entah karena aku jadi ingat masa2 itu. Masa ketika ibuku juga sering melancarkan aksi cubit2an. Cubit2an itu judulnya, agar terdengar sedikit manis. Karena pada kenyataannya, ada saja bekas biru yang tertinggal, dan rasa memarnya bertahan sampai cubitan selanjutnya datang. hehehee... Bukan untuk menjelek2an ibuku, karena memang seribu satu alasan beliau melakukannya. Sebagai pelajaran untukku, agar mengambil yang baik dan meninggalkan yang kurang baik. Itu saja :-)

Kembali kepada perasaanku melihat cubit2an itu. Hatiku tiba2 terasa... sriiittt...sriiittt... (sulit menggambarkan hati yang tersayat2). Karena tak tega, akupun keluar. Dalihnya sih bermain dengan anakku sendiri. Sambil hasil sampingannya adalah menghibur si anak yang menangis. Anak yang menangis itu akhirnya digendong oleh ibu2 yang biasa mengasuhnya, sambil terus menangis dan bilang sakit, memegangi pahanya... 

"Cup...cup... kakak... Jangan menangis... main sini aja... " Kataku membahasakan anakku. 

Si anak masih menangis, dan akhirnya di ajak kewarung untuk jajan. Sedih sekali rasanya.... 

Cubit2an adalah salah satu hal yang masuk dalam daftar hitamku. Daftar yang harus di hindari, dijauhi, dan jangan sampai dilakukan. Naudzubillah... 

Mudah2an, dalam perjalananku membantu, menemani, dan mendukung anak2ku tumbuh, tidak ada yang namanya cubit2 lebam dikamus anakku. Aamin...

Bagi anak kecil, yang terlahir tanpa bisa memilih, tanpa bisa mengajukan syarat, dan tanpa bisa menolak, mereka akan merasa bingung dan bertanya2, kenapa gerangan ibunya mencubitinya? Apa yang sudah kulakukan? Aku kan hanya bermain, dan beraktivitas layaknya anak kecil pada umumnya? *mungkin begitu perasaan mereka. 

Lesson Learn :
"Take the good, leave the bad"

2 comments:

Safinah Hakim said...

mbak aku salah fokus. ini halaman rumah mbak wilis ya? pake pagar putih gitu ? ihh bagusnyaa..

itu kiran minta trampolin mbak biar bisa loncat2.. dream high yaa hihih

Ini Wilis said...

Hahaha.... Bukan cyin.
Ini di rumah Mbah Buyutnya Kirania di Banten sana.

After you said that, jadi mikir nih, bagus juga ya pake begituan. hehhehehehe

Katanya kalau nungging2 gitu, minta adek ceunah #eh