Melepaskan itu juga bukan dengan penolakan (dalam hati), tidak terima, mengeluh, kecewa. Karena kalau begitu, lagi2 namanya bukan melepaskan...
Melepaskan itu persis seperti penerimaan. Kayak kita tiba2 dikasih uang 1 milyar, bukankah kita terima dengan senang hati?
Demikianlah.
![]() |
| Let it go freely. Picture taken from here |
Begitulah... Aku sangat setuju dengan isi dari tulisan Tere Liye yang ini, dan mulai mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari2. Sulit, tapi tidak berarti mustahil. Berat tapi bisa dicoba sedikit2. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini selama kita mau mencoba bukan? :-)
Kenapa aku tertarik dengan kalimat Tere Liye ini?
Aku akan menyebut kalimat2 diatas dengan singkat melalui "Melepaskan dengan benar". Melepaskan dengan benar yang berarti benar2 melepaskan, dengan cara yang benar, dengan perasaan yang benar, dan dengan kesadaran yang benar. Karena menurutku, ketika kita bisa melepaskan sesuatu dengan benar, maka kita tidak akan merasa teramat sangat kehilangan. Merasa kehilangan, sedih, kosong, ada yang hilang, ada yang tidak biasa, dan lain2 itu wajar dan boleh saja. Yang tidak boleh adalah ketika semua menjadi berlebihan dan tak terkendali.
Aku? Pernahkah tidak terkendali? Wow... Sering...!
Tapi itu dulu... Skarang, aku mencoba mengurangi dan menjadi lebih baik dalam mengatasi emosi sehingga tidak semua hal aku tanggapi dengan berlebihan. Mungkin inilah salah satu bagian dari tumbuh menjadi dewasa. Mudah2an saja, dan mudah2an juga semakin dan semakin baik.
Dulu sekali, sebutlah ketika masih di tingkat SD.
Ketika aku merasa kecewa karena kehilangan predikat terpintar alias ranking 1. Aku sangat... sangat... sangat kecewa. Aku tidak pernah merasa sekecewa itu karena Ranking 1 adalah predikatKU. Dari kelas 1 hingga kelas 5 itu. Hingga akhirnya di Kelas 5 system pemberian ranking diubah dan setiap orang berhak mendapatkan ranking 1-10. Maka ranking diberikan dengan tanda koma (,) mengikuti dibelakanganya. Dan muncullah satu teman sekelasku yang menyaingi posisiku. Aku di Ranking 1.1 dan dia dirangking 1.2. Tetap saja, aku merasa sangat...sangat...sangat kecewa..!!!
Akupun pulang dengan menundukkan kepala dalam2, langsung tidur, galau, tidak nafsu makan dan main. Hampa gitu deeh... Semua penghiburan oleh teman dan keluargaku tidak mempan. Aku merasa lalai dan kurang maksimal dalam mengerjakan ujian (karena memang waktu SD aku sama sekali tidak suka belajar khusus). Itu dulu...
Atau ketika ditingkat SMU.
Ketika aku berada dititik brutal sebagai anak perempuan. Selalu membangkang dan melawan kehendak orang tua (esp: Bapak). Merasa bahwa dunia ini tidak adil dan merasa bahwa aku adalah anak paling malang sedunia. Menangis berhari2 sambil menyibukkan diri membaca text book dan mengerjakan LKS, nangis lagi, begitu seterusnya setiap hari sampai beberapa bulan. Yang sampai sekarang kalau aku pikir2 lagi masih kurang tau apa masalah pastinya. Itu juga dulu...
Sekarang? Tidak boleh begitu lagi...
Sudah punya suami, sudah punya sebutan istri, sudah punya anak, dan disebut ibu. Harus berbeda dengan yang dulu2. Kalau kecewa terhadap diri sendiri? Cukup baca2 berita di internet dan jejaring sosial, kepo sana sini, hingga kemudian menemukan penghiburan dari update status orang atau berita yang kadang suka lucu, lebay, dan menyadarkan bahwa kita jauh lebih beruntung dari mereka. Kalau kecewa dengan pasangan? Tinggal ajakin aja perang bantal bak buk bak buk sampai puas, dijamin tidak ada yang terluka, dan beban hilang semuanya. Kecewa sama lingkungan? halah... namanya hidup itu tidak ada yang sempurna. Jadi terima aja sambil tersenyum, diobrolkan sama suami sambil minum kopi dan nonton tipi. Indah kan? ;-p
Masih banyak yang perlu dipelajari agar bisa melepaskan sesuatu dengan benar. Karena sebagai manusia, terkadang kita memiliki sense of belonging yang sangat tinggi sekali. Sesuatu yang bukan milik kita saja terkadang kita balik namakan menjadi milik kita (jadi ingat beberapa baju semasa kuliah. hehehe), hadiah yang sebetulnya tidak dapatpun tidak apa2 juga terkadang kita paksakan menjadi milik kita, apalagi sesuatu yang memang sudah/pernah menjadi milik kita. Pasti akan sangaaaaaattt beerrrraaaaatttt melepasnya.
Tapi seperti yang sudah sering aku katakan.... Di Bismillah kan saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur semuanya... Kalau kata suaminya temenku beberapa waktu lalu kurang lebih adalah "Dulu kita pernah bahagia, sekarang ini saya lebih bahagia, dan yakinlah bahwa nanti kita akan lebih bahagia lagi...". Well said Pak!
Jadi, Nothing to lose lah yaaa :-)

No comments:
Post a Comment