Wednesday, January 19, 2011

I Will Let You Go, When You Said "I Quit"

Malam ini, sedikit sendu.
Mungkin karena ini malam Kamis? mungkin karena ini sudah malam? mungkin karena malam ini sepi? mungkin karena malam ini gelap? sepertinya bukan.... karena semua itu sudah biasa ada ketika malam tiba. Mungkin karena hal lainnya.....

Membaca beberapa tulisan teman di FB yang mengatakan bahwa cuaca di luar bagus dan bulan bersinar terang, membuatku ingin keluar dan menikmatinya. Namun mengingat betapa banyak syarat dan aturan yang diberlakukan tempat ini, aku jadi malas. Cukuplah dengan melongok di jendela dan melihat langit dengan bayangan terang. Cukup memberikan gambaran bahwa bulan memang sedang bersinar. Sepertinya sedang purnama...

Sebersit sedih melintas sesaat. Mengingat mimpi2 yang pernah, telah, sering, dan selalu aku bangun untuk melewati hari2ku. Banyak mimpi yang telah terpenuhi, beberapa mimpi belum tercapai, dan beberapa lainnya musti diganti dengan mimpi yang lainnya.

Mimpi yang hanya tentang aku, tak mengapa jika memang belum berhasil, bahkan mungkin menjadi lebih indah karena kutambah atau kumodifikasi sedemikian mungkin. Mimpi yang melibatkan orang lain, memerlukan beberapa kali pertimbangan karena terkadang jalan yang dipilih menemui percabangan. Dan mimpi yang di bangun bersama orang lain, memerlukan banyak sekali review dan peninjauan ulang karena tak selamanya orang bisa mengikuti alur mimpi kita...

Jika dikatakan aku tidak mengupayakan terwujudnya mimpi2 itu, sepertinya keliru. Aku selalu memupuk dan mengupayakannya. Hanya saja, sebagaimana manusia pada umumnya dan juga manusia sebagaimana kodratnya, ketok palu bukan padaku. Sekuat apapun aku berupaya, ketika Dia tidak mengetukkan palunya ke Bumi, maka mimpi itu masih harus bertahan di Surga. Belum saatnya diturunkan ke bumi untuk ku, untukmu, dan untuk orang2 yang memimpikannya.

Mimpi adalah perjuangan. Bukan sebuah hastakarya yang bisa sekejap mata kita buat, bisa sekejap mata kita ciptakan, bisa sekejap mata kita hancurkan. Mimpi adalah perjalanan. Bukan sebuah tempat tujuan wisata yang bisa kita tuju ketika kita mau, meskipun kita tahu bahwa keduanya sama2 indah. Mimpi adalah hidup. Bukan tidur yang bisa kita kendalikan dengan obat ataupun kopi, menolak dan meminta sesuka hati kita. Mimpi adalah aku.....

Aku ingat beberapa tahun yang lalu, ketika aku melewati salah satu momen indah dari momen2 indah lainnya. Perjalanan untuk menjaga mimpi, melindungi mimpi, dan memperjuangkan mimpi. Ketika seorang bayi tergolek lemah di kotak kaca, dengan beberapa selang dan peralatan tersambung di tubuhnya. Beberapa orang dewasa mengelilinginya dengan sebuah harapan besar, dan mimpi yang panjang. Harapan agar si anak mendapatkan sehatnya, dan harapan agar si anak bisa melewati kesakitan yang sedang di rasakannya. Mimpi panjang untuk dapat melihat si anak tumbuh besar, membekali dengan jutaan cinta dan sayang, serta ilmu untuk masa depan.

Aku melihat bagaimana usaha, semangat, daya, dan upaya sudah dicurahkan. Seluruh energi dikerahkan untuk memperjuangkan si anak yang tergolek lemah. Perjalanan panjang yang sunyi, beriramakan doa sebagai pengantar si bayi dalam mendapatkan upaya yang lebih baik lagi pun di lalui. Sedih, cemas, khawatir, dan putus asa tersapu dengan besarnya harapan dan doa yang terpancar. Semua berusaha untuk meraih mimpi mereka.

Meskipun Dia yang memiliki segalanya, namun Dia selalu menciptakan cara yang indah bagi umat-Nya. Dia tidak mengambil apa yang telah diberikan-Nya begitu saja. Dia meminta keikhlasan. Ketika orang2 dewasa itu mengikhlaskan dan mengembalikan si bayi pada-Nya, dia mengambilnya. Dia menjaga dan melindungi si bayi untuk semua yang ditinggalkannya. Dia pergi.... Mengutip tulisan Totto-chan dalam buku keduanya, bahwa ......anak-anak kecil meninggal dalam diam, mempercayai kita orang-orang dewasa.

Aku tahu, selalu ada yang harus diikhlaskan manakala Dia meminta. Begitu juga dengan mimpi2 yang sudah dan selalu aku bangun. Aku percaya bahwa kita memelihara mimpi, seperti layaknya menyusun persediaan batu untuk digunakan adik kita membangun rumah2an. Kita mencari, menambah, dan memberikan batu yang semakin bagus, tapi kita akan selalu kehilangan ketika adik kita memerlukannya. Ikhlas bukan? Aku juga tahu bahwa kita menyusun mimpi demi mimpi bukanlah seperti menyusun kartu2 domino dalam kondisi berdiri menjadi sebuah piramida. Dimana ketika kita ambil salah satu darinya, maka semua akan hancur. Bukan... bukan seperti domino. Hanya seperti persediaan batu untuk saudara kita. Ikhlas sewaktu2 dan setiap saat... Karena adik kita, bisa membuatnya menjadi istana yang sangat2 indah.... :)

Untuk yang selalu menunggu dan menunggu di seberang sana.... Ketika semua terasa sulit, tidak ada yang perlu dipaksakan. Cukup dengan kita bicara, sebagaimana biasanya kita selalu membicarakannya. Ya... kita akan bicara. Jika semua terasa berat, aku akan berusaha membuatnya menjadi sedikit lebih ringan. Mimpi memang indah. Bermimpi bersama memang menyenangkan. Namun ketika mimpi2 itu terlalu berat untuk di raih, dan memberatkan dalam melangkah, let it go....

I will let you go, when you said "i quit".

Tuesday, January 18, 2011

Sekarang Sudah Berbeda

Siang ini, aku dan teman duduk manis di sudut sebuah warung gado2, daerah Pejaten. Kami menanti 2 porsi gado2 yang telah kami pesan, sebagai pengganjal perut yang melapar. Beberapa anak remaja putri, siswi SMU masuk ke warung dan duduk di sudut yang lain. Mereka asyik bercanda dan berdiskusi ala remaja2 lainnya.

Aku dan teman yang masih menunggu makanan tiba, melewati waktu dengan ngobrol pula. Tentunya dengan bahan obrolan berbeda, meskipun terkadang nyaris bersinggungan temanya. Tema umumnya adalah.... cinta.... :p

Makanan kami datang, dan akupun mulai memberikan ransum kepada cacing2 yang mulai menggeliat di perutku. Obrolan kami berhenti, namun tidak demikian dengan obrolan remaja2 SMU itu. Mereka juga memesan gado2 rupanya. Dan rupanya juga, anak dari pemilik warung adalah salah satu dari remaja itu, sehingga mereka terlihat lebih leluasa dan santai menguasai medan (warung_red).

Sambil makan, aku dan teman rupanya (tidak sengaja) melakukan hal yang sama, yaitu mendengar pembicaraan para remaja itu. Jadi, ketika ada pembicaraan para remaja itu yang menarik, kamipun tertawa bersama.

"Eh, lu tau nggak sih kalau si Seli itu.... bla..bla..bla... sama Andi. Terus Shinta itu bla..bla..bla..."
"Eh masa sih, bukannya si bla..bla..bla.. itu deket sama bla..bla..bla..?"
"Lha nggak tau deh... udah gitu kemarin si Ani itu nangis di bla..bla...bla... "
"Serius lo?kenapa...kenapa...?"
"Nggak tau deh... pokoknya bla...bla..bla..."
"Eh, gw kemarin telpon Billy, terus bla...bla...bla..."

Senyum ku dan senyum temanku-pun melebar...
"Obrolan anak muda..." kataku
"Ternyata sama aja ya temanya" kata temanku
"Iya, dari tahun ke tahun ya mbak.... Tentang cinta"
"Iya, cuma bedanya sekarang sudah banyak teknologi. sms... telpon... "
"Kalau dulu surat... pager..."

Hahahhaa.... kamipun tertawa....

"Berapa ya uang saku anak2 jaman sekarang ini?" tanyaku
"Nggak tau deh... gado2 aja berapa. Udah 7 ribuan kan..."
"Iya, dulu aku waktu kuliah, uang sakuku cuma 300 ribu. Sekarang rata2 udah di atas 1 juta"
"Kosan aja sekarang berapa...."

Dan obrolan pun mengalir menuju bisnis kos2an yang prospeknya bagus. :)

"Aku tahu, bedanya lagi anak SMU sekarang dan anak jaman dulu" kata temanku tiba2.
"Apaan tuh?"
"Anak sekarang masih SMU udah merokok"
"Heh? " dan refleks kepalaku menengok ke arah remaja yang tadi.

Jreng...jreng.... sekotak rokok Marlboro hitam bertengger manis di meja. Dengan lihai salah satu remaja itu mengangkat, mengetok2, dan membuka bungkusnya untuk mengambil isinya. Luar biasa.... lihai sekali nampaknya.... :p

Entah bagaimana nanti aku harus membekali anak2ku dengan ilmu, jika melihat betapa lingkungan sekarang ini teramat sangat cepat menjadi berbahaya. :(

Monday, January 17, 2011

Sensitif = Horrible

Seperti sumbu yang berdekatan dengan korek yang menyala
Seperti kulit yang berdekatan dengan ujung peniti
Seperti kapas yang berdekatan dengan air

Pasti terbakar
Pasti sakit sekali
Pasti meresap

Semua menjadi pasti
Semua terlihat pasti
Tapi pasti menurut diri sendiri saja

Bisa saja api mati sebelum menyambar sumbu
Bisa saja peniti jatuh sebelum menyentuh kulit
Bisa juga kapas terbang sebelum di jamah air

Sudahlah,
Tak ada yang pasti didunia ini kecuali matematika, IPA, dan sejenisnya
Itulah mengapa mereka di sebut ilmu pasti

Yang lainnya,
Masih bisa di goyang-goyang seperti kereta yang kunaiki ini
Goyang maaang....

^_^

Thursday, January 13, 2011

Antara Remaja Masa Kini dan Ibu Sederhana

Seorang remaja masa kini, dengan gaya masa kini, dan polah tingkah masa kini pula. Bersepatu cinderela, bercelana jeans model pensil, ber-bolero warna coklat, dan kerudung warna abu2. Bersandar santai di dekat pintu gerbong khusus wanita, asyik masyuk mendengarkan lagu atau entah apa dari handphone yang tersambung dengan earphone, pagi ini. Benar2 gaya masa kini....

Aku yang beruntung mendapatkan tempat duduk, tenggelam dalam perjalanan Totto-Chan yang telah dewasa. Mengalir bersama si Totto chan yang berkelana ke negara2 berkembang untuk menyambangi anak2 yang kelaparan, sebagai duta dari UNICEF. Terkadang pandanganku beredar ke segala penjuru untuk sekedar melihat2, seperti yang kulakukan pada si remaja masa kini itu. :)

Sayang di sayang, jarak antara Bogor-Depok hanyalah sekejap mata. Hanya memerlukan beberapa bab dari Totto-chan. Ketika kereta tiba di stasiun depok lama, aku sudah beranjak dari tempat duduk dan memberikan tempat duduk pada penumpang yang lain. Akupun berjalan menuju ke pintu tempat si remaja masa kini itu.

Sambil menunggu kereta sampai di stasiun depok baru, aku mengamati kembali sekitar. Nampak seorang ibu2 paruh baya dengan penampilan sederhana, bersendal jepit, memakai rok warna hitam yang megar, baju warna hijau telor asin, dan kerudung putih, berjalan ke arahku. Dia bergabung denganku dan para penumpang lain yang sama2 berdiri di dekat pintu.

Tiba2, si remaja masa kini itu melepas sebelah earphone-nya dan menengok ke arah si ibu sederhana.
"Stasiun pasar minggu masih jauh nggak?" tanyanya remaja masa kini pada si ibu sederhana.
"...masih...." Kata si ibu sederhana setelah beberapa saat terdiam.
"Ini stasiun apa?"
"Depok"
"Habis ini stasiun apa?"
"Ini depok lama, setelah ini depok baru"
"Ibu turun dimana?"
"Manggarai"
"Manggarai sama pasar minggu, duluan mana?"
"Pasar minggu"
"Nanti kasih tahu saya ya kalau kereta sampai di pasar minggu"
"Iya"

Dan si remaja masa kini pun kembali memakai earphone nya untuk mendengarkan lagu. Terhanyut dalam lantunan entah suara siapa. Aku? diam, mengelus dada (dadaku sendiri), dan sedikit menghela nafas. Tidak lupa bergeleng2 kepala sedikit. :p

Percakapan pendek, biasa, namun menurutku sedikit janggal. Atau mungkin aku saja yang terlalu sensitif. Entahlah... yang jelas, kejanggalan itu membuatku berfikir sampai sekarang ini, 2,5 jam setelah kejadian itu.

Mungkin aku kurang jeli dalam (tidak sengaja) mendengar percakapan tadi pagi itu. Sehingga mungkin saja ada beberapa kata yang terlewat olehku. Tapi... mungkin juga memang kata2 itu tidak pernah ada di dalam percakapan tadi pagi itu. Mungkin dan mungkin saja.... terlalu banyak kemungkinan... :p

Menurutku, akan lebih indah percakapan tadi pagi itu seandainya disisipkan beberapa kata. Misalkan *puter ulang kaset rekam kejadian* ketika si remaja masa kini melepaskan earphone dan menengok ke arah ibu sederhana, terus dia senyum dikit dan berkata,
"Maaf bu, numpang tanya.... Stasiun ...bla..bla...bla..."

Dan mungkin juga akan semakin manis jika setelah si ibu sederhana berkata, "iya", kemudian si remaja masa kini itu berkata "terima kasih bu". Bayanganku sih itu akan menjadi percakapan yang indah di pagi hari... :)

Ps. Untuk yang suka naik taksi warna kuning di daerah Depok, hati2 yaaa.... Suka ada supir taksi yang pandangannya terganggu, sampai2 mengatakan bahwa umurku pasti belum sampai 20 tahun. ck...ck...ck... :p

Wednesday, January 12, 2011

Sudah Saatnya Membuatnya Terasa Biasa

Setiap orang mungkin pernah merasakan keinginan lari dari kenyataan. Terutama apabila kenyataan yang di terimanya terasa pahit dan jauh dari bayangan. Begitupun aku. Tahun yang baru saja kita tinggalkan, tahun 2010, adalah tahun yang sangat2 luar biasa untukku. Entah kenapa, skenario Tuhan terasa sangat mantabs dan dahsyat. Mungkin rasanya lebih dari dahsyatnya skenario2 film box office yang meledak2 di setiap bioskop. Menggetarkan dan unforgetable pastinya....

Sampai dengan beberapa waktu yang lalu, aku masih belum ingin mengurai semua yang terjadi, karena semua masih sangat hangat dan sulit dijelaskan dengan kata2. Secuil dari diri ini masih belum bisa menerima, namun sebagian besar jiwa ini telah pasrah dan mengikhlaskan semuanya. Semua yang berasal dari-Nya, toh pasti memang akan kembali pada-Nya. :)

Saat ini, rupanya aku ingin sedikit menjumput kenangan yang aku punya. Mungkin ini adalah efek dari rekaman iseng yang aku lakukan beberapa waktu lalu di kantor dia. Iseng2 aku membuat rekaman lagu "Desaku". Tidak bagus, tapi lumayan juga kalau dipakai untuk musik pengiring di kumpulan photo2 yang aku punya. Pasti jadi syahdu tralala... :p

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai

Ya... Aku merasa merindukan desaku yang ku cinta. Desa yang selalu aku banggakan sebagai tempat lahir dan dibesarkan, tempat aku menjalani masa kecil dan kanak2ku sebagai anak kampung. Aku merindukan tempat2 yang dulu menjadi bagian penting dari penggalan2 kisah laluku bersama dengan keluarga, teman, dan sahabat2ku. Tempat aku berkata "aku pulang" ketika aku merasa dunia mulai menggila.

Yang terberat dari hal berat yang pernah kurasakan, sudah kulalui. Melihat kedua orang yang paling kita cintai menangis dan menangis karena kehilangan. Apalagi yang bisa lebih membuat kita sedih daripada itu? Apalagi yang dapat membuat kita merasa berduka selain melihat orang yang kita cintai tertunduk karena duka yang mendalam? Apalagi yang patut kita tangisi selain melihat kedua orang yang kita cintai menangis tersedu merasakan nestapa? Bagian yang sulit untuk dihadapi olehku.

Menunggu saat2 ketika mereka berhenti menangis, adalah saat dimana waktu bergulir lambat. Setiap air mata yang menetes ketika melihat reruntuhan adalah bayaran untuk setiap keringat yang mereka cucurkan ketika mereka membangun. Setiap pernyataan kesedihan yang mereka lontarkan ketika melihat puing adalah bayaran untuk setiap semangat yang mereka kobarkan ketika mengumpulkan. Meskipun mereka tahu bahwa semua hanyalah titipan yang sewaktu2 dapat diminta kembali oleh-Nya, mereka layak terkejut melihat bagaimana caranya Dia meminta milik-Nya.

Kenyataannya,
Aku hanya kehilangan kenangan....
Namun mereka kehilangan hampir semua yang mereka punya....

Kenangan indah yang aku punya, adalah apa yang mereka ukir dan torehkan ditempat kami hidup, tumbuh, dan berkembang. Tempat yang mereka bangun dari nol dengan semangat dan pengorbanan. Kenangan2 yang aku punya adalah kenangan manis tentang sebuah rumah, keluarga, dan sebuah desaku yang kucinta.

Apa yang mereka punya adalah semangat, harapan, doa, selain juga harta benda. Apalagi yang tersisa dari yang mereka punya? Harus ada yang tersisa, meski semua tak kasat mata. Semangat,harapan, dan doa adalah hal yang tidak boleh lenyap dari mereka semua. Tak mengapa harta dan benda yang telah hilang, selagi mereka masih memiliki semangat, harapan, dan doa yang berlimpah. Dengan keyakinan bahwa selalu ada yang lebih baik ketika kita tidak berhenti berusaha. Doaku untuk kalian semuanya....

Monday, January 10, 2011

Gelisah Tengah Malam

Untuk sebuah alasan yang tak kumengerti, mataku enggan terpejam malam ini. Untuk sesuatu yang tak ku tahu, jiwaku enggan terlelap malam ini...

Disini aku dengan gelisah,
Berjuang melelapkan diri melawan sadar
Rintik hujan tak mampu membuaiku,
Angin malam tak sanggup taklukkanku

Untuk sesuatu...
Sesuatu yang semu

Tuesday, December 28, 2010

Pemain Bola itu Pintar Menulis

Demam bola.... Gila bola.... Pecandu bola.... Tergila-gila bola.... Menggila karena bola....

Banyak sekali istilah yang belakangan ini simpang siur di dunia maya negara Indonesia. Semuanya mengenai bola. "Hampir" semua orang mengungkapkan pendapat, perasaan, dukungan, atau sekedar opininya mengenai bola. Bola...bola...dan bola lagi.

Yang namanya bola memang unik menurutku. Si bundar bulat yang lucu dan imut2 itu hanyalah benda buatan manusia yang tidak memiliki pendirian. Dia selalu mengikuti dan menuruti kemauan orang yang menyentuhnya. Menggelinding kesegala arah, mengikuti arahan penendangnya. Bola, hanyalah benda mati yang uniknya bisa membuat hidup manusia semakin hidup, atau juga membuat orang hidup jadi mati. Itulah bola.....

Bagaimana si bola membuat hidup manusia menjadi lebih hidup?

Lihat saja ketika ada perhelatan dunia untuk sepak bola yang bernama "Piala Dunia". Semua orang dari setiap kalangan, berbagai usia, sama rata sama rasa akan terjangkiti semangat yang menggebu2 setiap hari. Mereka akan rajin melihat jadwal pertandingan, kalau perlu menempelkan jadwal2 itu di sebelah tv, menyediakan makanan banyak sebagai teman begadang, berteriak-teriak ketika pertandingan di mulai. Belum lagi obrolan-obrolan sewaktu bertemu dengan sesama teman, pasti bola dan bola lagi. Seolah2 "semangat" sedang di curahkan Tuhan dari langit sebagai bonus untuk orang2 yang telah bekerja keras setiap harinya. Hidup bola....!!!

Dan bagaimana bola bisa membuat orang yang hidup menjadi mati?

Aku tidak terlalu menggilai bola, namun suka melihat hasil akhirnya. Terkadang pula, ikut menongkrongi TV ketika pemain bolanya ganteng2 saja (untuk Piala Dunia). Lumayan buat cuci mata. hheheheee.... Aku sering update berita bola dari TV atau koran. Dari sana, aku sering melihat adanya berita buruk sehubungan dengan bola. Kadang ada supporter yang ribut dan berkelahi antar supporter hingga menelan korban jiwa (yang begini paling sering kalau pertandingan bola dalam negri). Terkadang, ada pula berita yang menyebutkan bahwa supporter menghajar wasit, hakim garis, dan lain-lain, dan lain-lain. Dan yang paling gress dari semua berita, aku mendengar bahwa ketika terjadi luapan calon pembeli tiket pertandingan bola baru2 ini. Calon pembeli yang membeludak itu menimbulkan kekacauan dan saling desak2an, hingga akhirnya ada seorang pemulung yang meninggal akibat terhimpit di antara antrian. Intinya, ada korban jiwa... Ppffiiuuhh....

Ok..... Seperti yang sudah aku bilang di awal, aku bukanlah penggila bola melainkan hanya penikmat bola saja. Karenanya, aku juga tidak akan banyak berkomentar mengenai bola. Kenapa aku menulis tentang bola sekarang ini? Hanya karena tiba2 saja aku melihat sesuatu yang menarik diantara sekian banyak hal menarik sehubungan dengan bola.

Berawal dari sebuah link yang dibagikan kakak kelasku di SMU melalui situs FB, aku mengetahui hal menarik ini. Rupanya ada pemain bola kita, pemain bola Indonesia, yang punya website pribadi. Akupun membuka link yang di bagikan temanku itu, dan membaca2 isinya. And you know what? tulisannya baguuuusss..... Bagus dalam artian ringan, menarik, mengalir, dan enak di baca. Secara kadang2 aku suka blogwalking kemana2, maka akupun jadi sangat excited sekali menemukan link ini. Terlebih lagi, dia ini banyak sekali menulis. 1..2...3...4... aku hitung tulisannya, cukup untuk kubaca sekian bulan. hahahahhahaa

Dia yang aku maksud adalah Bambang Pamungkas yang biasa di panggil BePe. Sorry ya, bukannya promosi. hehehe.... hanya saja, kalau misal ada yang punya hobi sama kayak aku (blogwalking_red) maka nggak rugi juga kalau kita menyambangi situs ini. :)

Aku sendiri baru membaca beberapa tulisan, dan itu cukup membuat aku semakin "suka" dengan situs ini. Aku juga jadi salut dengan si BePe ini karena dia masih saja meluangkan waktu untuk menuliskan apa yang dia rasakan, dari sudut pandangnya. Itu adalah hal yang cukup penting, mengingat dia bukanlah orang yang selalu online di depan komputer. Tentu perlu sebuah niat kuat untuk bisa selalu menuliskan hal2 yang melintas di kepalanya. Banyak sekali orang2 yang mengalami hal2 luar biasa, namun tidak sempat menorehkannya dalam sebuah cerita, sehingga orang lain tidak tahu apa yang dia rasakan. Dan si BePe ini membagi perasaannya kepada kita (pembaca2 web-nya). sooooo excited,right? :p

Satu tulisan BePe yang sudah aku baca, dan aku setuju banget adalah tulisan dia yang menyebutkan :
"Jangan ambil Garuda dari dada kami"

Teruslah menulis BePe, karena aku suka membacanya ^_^

Ps : thanks to Mahargyani Yogyantari for share the link :)