Mungkin karena ini malam Kamis? mungkin karena ini sudah malam? mungkin karena malam ini sepi? mungkin karena malam ini gelap? sepertinya bukan.... karena semua itu sudah biasa ada ketika malam tiba. Mungkin karena hal lainnya.....
Membaca beberapa tulisan teman di FB yang mengatakan bahwa cuaca di luar bagus dan bulan bersinar terang, membuatku ingin keluar dan menikmatinya. Namun mengingat betapa banyak syarat dan aturan yang diberlakukan tempat ini, aku jadi malas. Cukuplah dengan melongok di jendela dan melihat langit dengan bayangan terang. Cukup memberikan gambaran bahwa bulan memang sedang bersinar. Sepertinya sedang purnama...
Sebersit sedih melintas sesaat. Mengingat mimpi2 yang pernah, telah, sering, dan selalu aku bangun untuk melewati hari2ku. Banyak mimpi yang telah terpenuhi, beberapa mimpi belum tercapai, dan beberapa lainnya musti diganti dengan mimpi yang lainnya.
Mimpi yang hanya tentang aku, tak mengapa jika memang belum berhasil, bahkan mungkin menjadi lebih indah karena kutambah atau kumodifikasi sedemikian mungkin. Mimpi yang melibatkan orang lain, memerlukan beberapa kali pertimbangan karena terkadang jalan yang dipilih menemui percabangan. Dan mimpi yang di bangun bersama orang lain, memerlukan banyak sekali review dan peninjauan ulang karena tak selamanya orang bisa mengikuti alur mimpi kita...
Jika dikatakan aku tidak mengupayakan terwujudnya mimpi2 itu, sepertinya keliru. Aku selalu memupuk dan mengupayakannya. Hanya saja, sebagaimana manusia pada umumnya dan juga manusia sebagaimana kodratnya, ketok palu bukan padaku. Sekuat apapun aku berupaya, ketika Dia tidak mengetukkan palunya ke Bumi, maka mimpi itu masih harus bertahan di Surga. Belum saatnya diturunkan ke bumi untuk ku, untukmu, dan untuk orang2 yang memimpikannya.
Mimpi adalah perjuangan. Bukan sebuah hastakarya yang bisa sekejap mata kita buat, bisa sekejap mata kita ciptakan, bisa sekejap mata kita hancurkan. Mimpi adalah perjalanan. Bukan sebuah tempat tujuan wisata yang bisa kita tuju ketika kita mau, meskipun kita tahu bahwa keduanya sama2 indah. Mimpi adalah hidup. Bukan tidur yang bisa kita kendalikan dengan obat ataupun kopi, menolak dan meminta sesuka hati kita. Mimpi adalah aku.....
Aku ingat beberapa tahun yang lalu, ketika aku melewati salah satu momen indah dari momen2 indah lainnya. Perjalanan untuk menjaga mimpi, melindungi mimpi, dan memperjuangkan mimpi. Ketika seorang bayi tergolek lemah di kotak kaca, dengan beberapa selang dan peralatan tersambung di tubuhnya. Beberapa orang dewasa mengelilinginya dengan sebuah harapan besar, dan mimpi yang panjang. Harapan agar si anak mendapatkan sehatnya, dan harapan agar si anak bisa melewati kesakitan yang sedang di rasakannya. Mimpi panjang untuk dapat melihat si anak tumbuh besar, membekali dengan jutaan cinta dan sayang, serta ilmu untuk masa depan.
Aku melihat bagaimana usaha, semangat, daya, dan upaya sudah dicurahkan. Seluruh energi dikerahkan untuk memperjuangkan si anak yang tergolek lemah. Perjalanan panjang yang sunyi, beriramakan doa sebagai pengantar si bayi dalam mendapatkan upaya yang lebih baik lagi pun di lalui. Sedih, cemas, khawatir, dan putus asa tersapu dengan besarnya harapan dan doa yang terpancar. Semua berusaha untuk meraih mimpi mereka.
Meskipun Dia yang memiliki segalanya, namun Dia selalu menciptakan cara yang indah bagi umat-Nya. Dia tidak mengambil apa yang telah diberikan-Nya begitu saja. Dia meminta keikhlasan. Ketika orang2 dewasa itu mengikhlaskan dan mengembalikan si bayi pada-Nya, dia mengambilnya. Dia menjaga dan melindungi si bayi untuk semua yang ditinggalkannya. Dia pergi.... Mengutip tulisan Totto-chan dalam buku keduanya, bahwa ......anak-anak kecil meninggal dalam diam, mempercayai kita orang-orang dewasa.
Aku tahu, selalu ada yang harus diikhlaskan manakala Dia meminta. Begitu juga dengan mimpi2 yang sudah dan selalu aku bangun. Aku percaya bahwa kita memelihara mimpi, seperti layaknya menyusun persediaan batu untuk digunakan adik kita membangun rumah2an. Kita mencari, menambah, dan memberikan batu yang semakin bagus, tapi kita akan selalu kehilangan ketika adik kita memerlukannya. Ikhlas bukan? Aku juga tahu bahwa kita menyusun mimpi demi mimpi bukanlah seperti menyusun kartu2 domino dalam kondisi berdiri menjadi sebuah piramida. Dimana ketika kita ambil salah satu darinya, maka semua akan hancur. Bukan... bukan seperti domino. Hanya seperti persediaan batu untuk saudara kita. Ikhlas sewaktu2 dan setiap saat... Karena adik kita, bisa membuatnya menjadi istana yang sangat2 indah.... :)
Untuk yang selalu menunggu dan menunggu di seberang sana.... Ketika semua terasa sulit, tidak ada yang perlu dipaksakan. Cukup dengan kita bicara, sebagaimana biasanya kita selalu membicarakannya. Ya... kita akan bicara. Jika semua terasa berat, aku akan berusaha membuatnya menjadi sedikit lebih ringan. Mimpi memang indah. Bermimpi bersama memang menyenangkan. Namun ketika mimpi2 itu terlalu berat untuk di raih, dan memberatkan dalam melangkah, let it go....
I will let you go, when you said "i quit".

No comments:
Post a Comment