Friday, December 24, 2010

Semoga Menjadi Milik Kita


Ketika ada yang bertanya padaku 2 tahun yang lalu,
"Apa yang ingin segera kamu dapatkan?"

Aku ingat aku menjawab dengan pasti
"Pekerjaan"

Ketika ada yang bertanya padaku 1 tahun yang lalu,
"Apa yang ingin segera kamu dapatkan?"

Aku masih ingat aku menjawab
"Perpanjangan kontrak" :p

Ketika ada yang bertanya padaku 2 bulan yang lalu,
"Apa yang ingin segera kamu dapatkan?"

Aku masih ingat aku menjawab
"Inspirasi untuk mencari tanggal yang tepat"

Semua sudah berlalu, dan ternyata semua berubah....
Apa yang aku inginkan, separuh lebih telah aku dapatkan....
Hanya beberapa yang masih tertunda,
Dan ada beberapa yang sepertinya musti di ganti....

Jika ada yang bertanya padaku sekarang, besok, 2 bulan lagi, atau 1 tahun lagi,
Aku yakin aku hanya akan menjawab dengan pasti "Rumah untuk Ibu dan Bapakku" :)

Mudah-mudahan ketika ada yang bertanya 2 tahun lagi, semua sudah terjawab....
Hingga aku bisa kembali mencari "inspirasi untuk tanggal yang tepat"

Thanks to you, who always wait for me... ^_*

Tuesday, December 7, 2010

Terima Kasih Untuk Kalian Yang Telah Peduli

Kutuliskan rasaku, untuk kalian yang telah menyisihkan peduli, perhatian, dan energi kalian untukku dan juga mereka yang aku kasihi. Mudah2-an, kalian akan selalu menjadi bagian yang di kasihi Allah SWT. Amin

Salam hangat untuk kita semua... :)


Hanya puji dan syukur yang teramat dalam yang bisa aku ungkapkan saat ini. Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang masih saja memberikan rahmatnya kepadaku, kepada keluargaku dan kepada sanak familiku. Hanya karena kehendak-Nya lah aku dan juga mereka semua masih bisa merasakan sakitnya kehilangan, serta nikmatnya menghirup udara segar. Hanya karena kehendak-Nya lah kami semua masih bisa berkumpul dengan orang2 terkasih, meskipun ada beberapa bagian yang telah di minta-Nya kembali. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan? (cieeehh…. Biar lebih mantab kan? :P )

Syukur secara pribadi atas kesempatan yang masih diberikan padaku selama beberapa hari terakhir menjelang perubahan besar2an di Kelurahan Glagaharjo, kampung halamanku tercinta. Selama beberapa hari terakhir, ketika Gunung Merapi dinyatakan mulai berbahaya dengan status Awas-nya, aku pulang. Aku pulang ke rumah tempat lahir dan di besarkan dengan penuh perjuangan oleh keluarga yang biasa2 saja namun tetap luar biasa… :p

Selama beberapa hari itu pula, aku merasakan banyak hal secara bergantian, silih berganti, dan terkadang bersamaan. Lega karena masih bisa pulang ke rumah, senang karena aku pulang ke rumah bersamaan dengan kakakku (cukup jarang bertemu), was2 karena aktivitas gunung merapi yang semakin meningkat, cemas karena langit selalu di tutupi awan sehingga kami tidak bisa memastikan apa yang ada di atas sana, takut kalau-kalau atau jangan-jangan, panik ketika harus berlari2 saat awan panas mulai menyembul hingga rasanya sudah di atas kepala kami, stress ketika melihat banyak sekali saudara dan tetangga menangis dan menjerit ketakutan, pasrah ketika harus terjebak di bawah hujan pasir dan kerikil tanpa bisa bergerak karena jalanan tertutup bambu2 yang roboh ke jalan, dan lega karena kami masih di beri keselamatan dan bisa berkumpul dengan keluarga.

Sebuah pengalaman paling berharga selama aku hidup di dunia. Banyak hal kecil yang pada akhirnya menjadi hal penting bagiku, bagi kami, dan mungkin bagi mereka semua selaku korban rasakan. Aku berharap,suatu saat bisa kembali menceritakan setiap detail ke dalam sebuah cerita yang menarik. Semoga… :)

Kehilangan…..

Harta dan benda sudah pasti hilang dari tangan kami. Meskipun sebenarnya, tidak banyak pula yang kami miliki. Banyak saudaraku yang akhirnya mengungsi dalam kondisi tidak punya uang, karena memang harta mereka bukanlah uang, melainkan sapi2 di kandang yang pada akhirnya bergelimpangan menjadi bangkai. Rumah yang mereka bangun dengan perjuangan keras dan penuh peluh, hancur begitu saja karena hembusan awan panas. Tinggal dinding2 tembok yang masih berdiri, tanpa atap dan tanpa isi. Hanya abu menumpuk dan beterbangan yang tersisa.

Terima kasih yang sebesar2 nya aku ucapkan kepada teman2, sahabat, dan semua orang yang telah memberikan perhatian dan dukungannya dalam bentuk apapun. Setiap bentuk bantuan,dukungan, dorongan, dan semangat tersebut adalah tongkat penyokong yang dapat menguatkan kami semua untuk terus melanjutkan kehidupan, meskipun bisa di bilang harus kembali ke titik nol. Kalau kata nenek dan bapakku, kembali ke jabang bayi, dimana kita semua lahir tanpa menggunakan apapun, tanpa memiliki apapun. Dukungan serta bantuan itu adalah penyokong kami untuk melanjutkan kehidupan, agar bisa tetap hidup selayaknya orang hidup di dunia. Hidup dengan perasaan memiliki teman.

Mohon maaf jika aku tidak lekas membalas, merespon, ataupun memberikan penjelasan dan tanggapan atas setiap pertanyaan, pernyataan, dan juga usaha untuk membantuku dari teman2 semua. Bukan karena aku tidak tahu, bukan karena aku pura2 tidak tahu, bukan karena aku tidak perduli, dan bukan karena aku terlalu acuh.

Hanya saja, seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, bahwa semua dukungan, bantuan, dorongan, dan support dalam bentuk apapun dari teman2 semua adalah sebuah penyokong dan penguat bagi kami untuk tetap berjalan. Namun, sebelum kami bisa mulai berjalan, kami harus bisa meyakinkan diri kami sendiri, bahwa kami masih bisa berdiri tegak. Bagaimanapun juga, ketika kami belum bisa kembali berdiri tegak, semuanya masih terasa sulit untuk diterima dan dihadapi.

Thanks a lot, and love you all


Best,
Wilis/L-268


PS : Tidak bisa di elakkan jika setelah apa yang menimpa kami, banyak sekali orang2 pintar, pandai, dan ahli yang kemudian menilai, menganalisa, atau kemudian menyimpulkan. Bahwa apa yang terjadi adalah karena factor A, B, dan C…. Hanya satu pesanku, Jika kalian termasuk orang2 yang membahasnya, tidak perlu dikatakan pada mereka yang telah kehilangan (kalau sama aku sih masih bolehlaaahh) :p . Hanya satu yang aku dan mereka mengerti dan rasakan, bahwa “Kehilangan” itu sakit dan sangat menyakitkan… :)

Wednesday, December 1, 2010

Hari Berganti Kusambut Dengan Gelisah

Bali, November 2010

-Menyanyi bersama mas keating "if tomorrow.... never comes...." :) -


Pernahkah merasa nyaman dengan hari ini, hingga tidak ingin berlalu dan berganti hari? Atau pernahkah merasa bahwa apa yang kita lakukan hari ini belum rampung sehingga berharap hari ini bertambah panjang beberapa lama? Atau pernahkah merasa bahwa sesuatu yang di janjikan akan datang hari ini teramat sangat berharga, namun tak kungjung tiba sehingga kita tetap menunggu dan menunggu? Atau pernahkan merasa takut menghadapi hari esok, karena kita sadar bahwa esok hari nampak tak akan lebih mudah dari hari ini? Atau pernahkah merasa penasaran dengan apa yang akan kita alami esok hari, sehingga hari ini kita bertanya2 apa gerangan yang akan terjadi esok?

Pernah..... :)

Semuanya bergabung menjadi sebuah perasaan resah dan gelisah yang memberi sensasi tersendiri. Antara maju dan mundur, antara kenceng dan kendur, antara semangat dan takut, antara pasrah dan cemas, antara semangat dan berharap pingsan saat itu saja. :p

Terkadang semua rasa itu menempel kuat didada, dan menghantui sisa waktu yang masih kita punya hari itu. Bahkan terkadang, kita menjadi kesulitan memejamkan mata dan tidur. Namun kadang juga, otak dan badan kita menjadi sangat lelah hingga justru tertidur pulas. Semua selalu melahirnya 2 kemungkinan. Laksana pohon cabe yang akan selalu menciptakan 2 percabangan. :)

Pada akhirnya, sembari kita bergulat dengan apa yang meresahkan itu, waktu terus berlalu. Mantahari menghilang, petang membentang, gelap merayap, bulan dan bintang yang gemintang, hingga akhirnya pagi menjelang dan mentari kembali bersinar terang. Apa yang terjadi pada kita? padaku? tidak pingsan, dan juga tidak membeku. Masih harus bangun pagi tepat waktu, menyelesaikan rutinitas pagi, dan mau tidak mau musti menegakkan badan dan menatap ke depan. Berusaha meyakinkan diri dan mulai melangkah, sambil berdoa "Hari telah dimulai, mari kita jalani"

-Fortunately.... I always ready for it... :) -

Aku yakin, hari akan berlalu dengan lambat atau bahkan sangaaattt lambaaattt..... Detik demi detik berlalu dengan hitungan jari, sehingga menambah kesan lambat yang tak menentu. Dada ini berdetak kencang, bergemuruh tak menentu. Begitu juga gerak-gerik akan semakin tak berarah. Gelisah....gelisah...gelisah....

Beruntunglah aku, sudah sedikit melakukan antisipasi dengan memikirkan hal ini jauh2 hari. Jauh2 hari, aku sudah membangun pikiran bahwa suatu saat akan terjadi hal ini, dan aku harus siap menerimanya. Semangadh...:)

-loe gak lagi sembunyi di kolong meja kan? hahahaha...-

Dulu manakala sedang mulai membangun benteng untuk diri sendiri ini, aku pernah berkata pada salah satu teman dekatku bahwa aku akan sembunyi di kolong meja saja. Yaa... kolong meja... Jadi aku akan aman dari hal2 yang aku takut atau khawatirkan... semua akan selesai dan berlalu, tanpa aku harus mengalami dag-dig-dug-der yang sangat meresahkan. Begitu semua selesai, aku akan muncul dari kolong meja, dan berkata " Taraaaaaaa...... aku kembali. Gimana...gimana... hari ini? hari ini indah bukan? semua berjalan lancar, aman dan terkendali kaaannn...? "

Dan akhirnya saat tiba masanya, temanku itu benar2 bertanya padaku, "loe gak lagi sembunyi di kolong meja kan? hahahaha..." ..... Aduuuhh.... seandainya saja dia tahu apa yang aku lakukan ketika agenda "kolong meja" nya aku cancle. hahahahhaa..... Oh nooooo :p

-Wilis Juharini Apa yang sudah terjadi kemarin, apa yang akan terjadi besok, bagaimana nasib membawa kita, nggak perlu di pikirkan....*menyanyi ala iklan* Enjoy aja.... :p-

Hari berlalu dan akan terus berlalu, meninggalkan hari kemarin, melewati hari ini, menyongsong hari esok.... Akan terus seperti itu. Sebesar apapun kegelisahan kemarin, ketika hari ini sudah berlalu, tidak akan ada cara untuk mengulanginya. Tinggalkan.... tinggalkan semuanya....

Hari yang telah berlalu,berlalu begitu saja. Meninggalkan banyak cerita, mulai dari cerita suka, hingga cerita duka. Banyak juga cerita yang masih meninggalkan tanya. Tapi ya sudahlah.... Biarkan saja begitu.... Tidak ada yang perlu di sesalkan. Nikmati saja semua prosesnya. :)

Kalau kata iklan sih.... "Enjoy ajjaaaaa....." :p

Monday, November 29, 2010

Ramalan Adikku Benar

Beberapa status facebook-ku yang akhirnya batal terbit... :))

Mulai banyak melihat reportase dari wartawan2 facebook, yang telah dengan sukses meliput "secara actual" di lokasi bencana... Mereka hanya "ingin tahu" karena sesungguhnya mereka "tidak tahu" untuk kemudian berusaha "memberi tahu". Kelihatannya koq jadi..."Sok Tahu" :p

Setelah melihat beberapa koleksi orang), Membenarkan ramalan adiknya yang bernama @Fadhilla Sejati, bahwa pada akhirnya semua akan menjadi objek wisata.. Mungkin ini juga yang di maksud "hikmah dari sebuah bencana".. ck...ck... :p

Melihat kampung halamannya, di belakang seseorang yang sedang bergaya ke arah kamera.... it means???

Ya ampyuuuunnn.... Guru SMU ku rupanya hobi wisata bencana. Photonya pake nunjuk2 lagi... Kata orang tua jaman dulu, kalo nunjuk sembarangan bisa buntung lho pak... :p

Wednesday, November 24, 2010

Jadi Manusia Biasa

Untuk saat ini, belum banyak cerita. Hanya ingin berkata "Ehm, mengecewakan...." :p
1000 % benar untuk pernyataan yang mengatakan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Yang awalnya indah, bisa menjadi tidak indah, yang awalnya keren bisa jadi tidak keren, yang awalnya menyenangkan bisa jadi tidak menyenangkan.... Normally...

Tidak ada yang salah....
Semua benar, semua layak, dan semua sudah pada tempatnya. Tidak ada yang salah.

Hanya saja,
Jangan pernah menyalahkan, ketika rasa yang dulu berkobar akhirnya hilang dan lenyap begitu saja. Karena rasanya kobaran api itu tak layak lagi di arahkan kesana. Hanya terbuang percuma nampaknya.

Maaf,
Rasa bangga itu telah sirna....
Sekarang, semua terasa biasa...
Karena ternyata kehebatan itu tidak pada tempatnya... :p

Manusia biasa

Saturday, November 13, 2010

Waiting for the End














Waiting For The End
By : Linkin Park

This is not the end
This is not the beginning
Just a voice like a riot
Rocking every revision
But you listen to the tone
And the violent rhythm
Though the words sound steady
Something empty's within em

We say yeah

With fists flying up in the air
Like we’re holding onto something that’s invisible there
Cuz we’re living at the mercy of the pain and the fear
Until we dead it forget it
Let it all disappear

Waiting for the end to come
Wishing I had strenght to stand
This is not what I had planned
It’s out of my control

Flying at the speed of light
Thoughts were spinning in my head
So many things were left unsaid
It’s hard to let you go

I know what it takes to move on
I know how it feels to lie
All I wanna do is trade this life for something new
Holding on to what I haven’t got

Sitting in an empty room
Trying to forget the past
This was never meant to last
I wish it wasn’t so

What was left when that fire was gone
I thought it felt right but that right was wrong
All caught up in the eye of the storm
And trying to figure out what it’s like moving on

And I don’t even know what kind of things I said
My mouth kept moving and my mind went dead
Picking up those pieces now where to begin
The hardest part of ending is starting again

All I wanna do is trade this life for something new
Holding on to what I haven’t got

This is not the end
This is not the beginning
Just a voice like a riot
Rocking every revision
But you listen to the tone
And the violent rhythm
Though the words sound steady
Something empty's within em

We say yeah

With fists flying up in the air
Like we’re holding onto something that’s invisible there
Cuz we’re living at the mercy of the pain and the fear
Until we dead it forget it
Let it all disappear.


Ps : Thanks for share the link papaghonz.... Meaningfull :p

Monday, November 1, 2010

Duka Yang Tak Terucap

Manakala berjuta kata menumpuk di ujung lidah,
Maka hanya diam yang bisa menceritakan semuanya

Manakala semua cerita bertumpuk di ujung jari,
Maka hanya diam yang bisa menuliskan semuanya

Manakala ratusan kisah mengantri di dalam kepala,
Maka hanya diam yang bisa mendongengkan semuanya

Entah sudah berapa banyak kata, cerita, dan kisah yang bermunculan beberapa hari terakhir ini,
Namun tak satupun bisa ku tuangkan dalam sebaris kata
Tak satupun bisa kutuangkan dalam sebaris cerita
Tak satupun bisa kutuangkan dalam sepenggal kisah
Belum.... belum saatnya

Semua sliwar-sliwer silih berganti di dalam tempurung kepalaku
Menunggu, saling menyalib, saling berebut, saling desak-mendesak untuk bisa melompat ke permukaan
Sebagai sebuah kata, sebagai sebaris cerita, sebagai sepenggal kisah
Belum.... belum saatnya

Biarkan semua mengendap,
Seiring dengan meredamnya deru dan debu yang saat ini sedang rajin menggema
Biarkan semua meresap,
Seiring dengan bibit kesuburan yang sedang di tebarkan Tuhan ditanah kelahiranku
Biarkan semua mengalir,
Seiring dengan aliran doa yang deras terpancar dari setiap umat di muka bumi
Biarkan semua membumi,
Seiring dengan kesadaran manusia akan betapa kecilnya kita di bumi ini

Ada saat dimana kita terlahir,
Ada saat dimana kita bertemu,
Ada saat dimana kita berpisah,
Ada saat dimana kita mati

Semua telah pasti,
Hanya waktu yang menjadi misteri
Hanya jarak diantaranya yang tak pernah bisa kita ramalkan

Untuk yang telah pergi,
Damailah engkau disana
Doa kami sebagai manusia yang ditinggalkan,
Akan selalu tercurah untukmu

Untuk yang masih di beri kesempatan,
Semoga semua kelapangan dada,ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan senantiasa menjadi teman kita dalam menjalani hari-hari.
Semua akan menjadi indah pada waktunya

Cinta, kasih, sayang, dan doa setulus hati untuk bumi kita yang sedang berduka
Tuhan Maha Besar....Tuhan Maha Besar....Tuhan Maha Besar....