Thursday, July 15, 2010

Gigit Jempol

Kalau melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan,
Kalau melihat sesuatu yang tidak bisa kita miliki,
Kalau melihat sesuatu tidak memihak pada kita,
Kalau melihat sesuatu tidak berjalan dengan sempurna.

Kita boleh gigit jari



Untukku,
Sepertinya lebih besar daripada sekedar jari untuk di gigit...
Sepertinya lebih besar daripada sekedar sesuatu...
Karena itu, mungkin untukku lebih tepat jika di persilahkan gigit jempol

*Sigh*

Friday, July 9, 2010

My Wishes

Pasrahkan semua ke pada Tuhan

Aku bukanlah gurita, yang mempunyai banyak tangan
Aku hanya manusia biasa, dengan 2 tangan yang sempurna

Aku bukanlah Dhewi Kunti, yang bisa mencurahkan semua kasihnya
Aku hanya manusia biasa, yang punya kasih sebatas asa

Aku bukan apapun dan siapapun,
Aku hanyalah aku

Banyak hal yang ingin dan mau aku lakukan,
Agar aku bisa "sedikit lebih" berguna untuk mereka

Namun hidup bergulir begitu saja nampaknya
Tidak mau menunggu dan tidak mau menanti

Mereka harus tetap melanjutkan hidupnya,
Begitu juga denganku

Mereka bertahan disana dengan keluarga yang menjaganya
Aku bertahan disini dengan harapan dapat membahagiakan mereka

Aku tidak bisa membelah diri menjadi dua,
Kubelah saja jiwaku untuk mereka semua

Sebatas itu aku mampu dan bisa berusaha
Selebihnya, kuserahkan pada yang Kuasa

Tuhan maha adil pada semua kaumnya
Hanya Dia yang bisa sebenar2nya menjaga mereka

Semua yang ingin aku katakan,
ada di lagu ini :

"Avenged Sevenfold~Dear God"

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love purpose hard to find
While I recall all the words you spoke to me
Can't help but wish that I was there
Back where I'd love to be, oh yeah

Dear God the only thing I ask of you is
to hold THEM when I'm not around,
when I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
But I left THEM when I found her
And now I wish I'd stayed
’Cause I'm lonely and I'm tiredI'm missing you again oh no
Once again

There's nothing here for me on this barren road
There's no one here while the city sleeps
and all the shops are closed
Can't help but think of the times I've had with you
Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah

Dear God the only thing I ask of you is
to hold THEM when I'm not around,
when I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
I left THEM when I found her
And now I wish I'd stayed’Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again oh no
Once again

Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish ways
And how I miss someone to hold
when hope begins to fade...

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love purpose hard to find

Dear God the only thing I ask of you is
to hold THEM when I'm not around,
when I'm much too far away
We all need the person who can be true to you
I left THEM when I found her
And now I wish I'd stayed
’Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again oh no
Once again


I love all.... From the deepest of my heart
I know that everything will always be fine,
Even the distance separate us.... :)
Keep healthy, spirit, powerfull, smily, and happy.....

Saturday, July 3, 2010

BreadTalk dan Ketan

Kita pasti sudah tidak lagi merasa asing dengan nama BreadTalk. Ya, pasti yang terlintas di benak kita pertama kali ketika mendengar kata itu adalah roti2 yang gurih, empuk, bentuknya macam2, rasa dan hiasannya pun beraneka rupa.

Sepertinya, BreadTalk ini dinilai lebih bergaya oleh beberapa orang temanku, sehingga mereka menggunakannya sebagai jamuan untuk dosen ketika sidang atau seminar. Kesannya lebih mewah daripada sekedar kue di bara (mungkin).

Rupanya, jiwa cinta produk dalam negri alias "ndeso" ku pernah dengan sukses membuatku (sedikit) malu di depan kasir Breadtalk yang ada di BotaniSquare. Waktu itu, aku naksir sebuah roti yang berwarna kuning telur, dan di hiasi abon di sekelilingnya. Otak "ndeso"ku langsung saja berfikir bahwa itu adalah penganan yang terbuat dari ketan, dibungkus dengan kuning telur yang didadar, dan di lapisi abon. Slurrup...slurrupp.... Sudah terbayang kan bagaimana rasa gurihnya ketan dan telur di gabung dengan manisnya abon??? *ngecessssss...tesss...tesss....*

Akhirnya akupun memutuskan untuk mengambil roti itu dan membawanya ke kasir, bersama dengan beberapa roti pilihanku yang lain. Karena aku berencana akan segera memakan "ketan bungkus telur dan abon" itu, maka akupun minta agar bungkusnya di bedakan saja.

"Mbak, yang ketan-nya nggak usah di masukin kardus yaa..." Kataku dengan pedenya.
"Ini bukan ketan mbak.... tapi roti lho..." Kata mbaknya dengan muka yang 100 % bingung, geli, dan menahan tawa itu.

Hwakakakakaka...... Kenapa juga aku harus mengatakan "ketan-nya itu" sih?? Rutukku dalam hati. Goblokkkk.... Akupun hanya bisa tertawa dan meringis kepada mbak2nya seraya berkata "Eh, iya, maksud saya yang mirip ketan itu lhoooo...." Keliatan banget kan ngeles-nya???? :p

Begitulah... Sisi positif yang bisa aku ambil dari kejadian ini (untuk menghibur diri sendiri) adalah bahwa aku teramat sangat mencintai produk dalam negri sendiri. hwahahahhahahaa :p

Tuesday, June 29, 2010

Wisata Budaya di "Brussel-nya Indonesia"

Tengterereng...... Museum??? Oh no.... :p

Apa yang akan kalian katakan kalau ada orang yang mengajak kalian pergi ke museum? Hhhahaa.... Mungkin tidak jauh2 dari apa yang aku katakan.
"Ya ampuuunnn... nggak ada tempat lain apa ya?"
"Adduuh.... males deh. Membosankan"
"Iiihhh... Ade ape di sana cing?"
"Oh my gosh... ityu khan engghak bangghet deeecchhh..."
" Museum? Makanan jenis apa itu?"

Hahahhaa.... Buruk semua bukan, gambaran tentang museum kita? Mungkin di antara kita ada yang hanya pernah menginjakkan kaki di museum ketika kita masih SD, itupun karena wajib plus ancaman nggak naik kelas... :p

Bukan salah kita juga sih ya, secara penampakan museum2 di Indonesiah tercinta ini memang rada ajaib. Cenderung ke kusam, kuno, kayu, mistik, dan suram (sejauh ini, kecuali Monas n Museum BI_yang sudah aku kunjungi). Mungkin karena sifat dasar masyarakat Indonesia yang memang teramat sangat menyukai romantisme, sehingga enggan/merasa sayang untuk mengganti penampilan menjadi lebih keren dan mengikuti zaman. Seandainya semua museum di Indonesia sekeren Grand Place atau New England Museum gitu, sepertinya bayangan2 buruk tentang museum ini tidak perlu ada. :)

Entah jin iprit dari mana, yang akhirnya membuatku dan salah seorang teman tiba2 sepakat untuk mencoba wisata budaya ke museum2 di Jakarta. Jakarta Kota yang terkenal memiliki banyak sekali museum, mungkin saja merupakan "Brussel-nya Indonesia". hahahahaha.... Kota museum. Dan eng-ing-eng.... yang terjadi, ya terjadilah.... Akhirnya kami (aku dan teman) pergi ke beberapa museum di Jakarta Kota, dan aku akan berbagi sedikit pengalaman disini.... ^_^

Kami mengawali perjalanan dengan bertemu di Stasiun Bogor. Dengan tiket kereta AC-Ekonomi seharga Rp.5.500 kami berdua melaju menuju Stasiun Kota Jakarta. Sambil menikmati perjalanan, kami mulai memilah, memilih, dan menentukan museum2 mana saja yang akan kami kunjungi hari itu. Untuk yang pertama, kami sepakat mendatangi Museum Bahari dan Menara Syahbandar yang terletak didekat Pasar Ikan.

Sesampainya di Stasiun Kota, kami sempat ragu dengan mode transportasi yang akan kami pilih. Demi mendukung niatan "wisata budaya" kami, maka kamipun memilih "Ojek Sepeda Onthel". Sempat terpikir untuk menyewa sepeda saja berdua, tapi malas berdebat siapa yang membonceng dan siapa yang di bonceng, jadi lebih adil kalau semua membonceng pada ojek saja. Hanya dengan Rp. 5.000 kita sudah bisa nangkring di atas sepeda onthel sampai Menara Syahbandar, meski harus sedikit was2 karena tidak ada helm-nya :p

Menara Syahbandar

Memasuki pelataran menara tua ini, aku melihat ada beberapa bangunan yang berada dalam satu kompleks menara itu. Tetapi, hanya satu bangunan yang bisa kita masuki yaitu Menara Syahbandar-nya. Bangunan lainnya adalah bangunan yang dulunya di gunakan sebagai tempat administrasi dan juga kantor pabean. Hari itu, menurut si bapak yang menjaga menara, cukup banyak pengunjung yang datang.

Kami membeli karcis seharga Rp. 2.000 untuk memasuki Menara Syahbandar, sekaligus masuk ke Museum Bahari. Mungkin karena rombongan di depan kami adalah para mahasiswa, maka kamipun di beri tiket mahasiswa (Positif thinkin' nya ya kami terlihat masih imut2 laksana mahasiswa. hehehe). Si bapak mengatakan pada kami bahwa ketika kami ke Museum Bahari nanti, kami tidak perlu lagi membeli tiket karena sudah merupakan tiket terusan. :)


Bangunan yang berdiri sejak tahun 1839 itu dulunya berfungsi sebagai menara pengintai/pengamatan untuk kapal2 yang datang ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Konon katanya, dulu titik nol kota Jakarta adalah di tempat itu. Menara ini terdiri dari 4 lantai. Kami langsung naik sampai mentog ke atas atap menara. Disana kami bisa melihat pemandangan sekitar pasar ikan. Ramai, padat, dan "Belanda Banget".

Aku sedikit berkhayal, rasanya enak juga lho berada di tempat yang (dulunya) adalah tempat yang di gunakan untuk mengawasi kapal2 di pelabuhan. Membayangkan dengan melihat ke arah laut, melihat kapal2 dagang berdatangan. Sedikit aneh saja karena tidak ada peralatan2 navigasi misalkan teropong atau sejenisnya :p

Dari menara, kita juga bisa melihat (boleh juga membayangkan) posisi2 sarana dan prasarana pelabuhan sunda kelapa. Di depan menara syahbandar, adalah Museum Bahari yang dulu merupakan bangunan untuk gudang. Di seberang jalan ada Galangan VOC yang merupakan galangan kapal untuk kapal2 yang rusak, namun sekarang galangan itu berubah menjadi cafe dan restourant. Sayangnya, aliran sungai yang mengalir di samping cafe itu sangat2 hitam, kemungkinan hitamnya lebih hitam daripada coffee yang di sediakan di cafe itu. :)

Bagian dalam menara itu sendiri tidaklah terlalu menarik, dalam artian tidak banyak barang yang ada di sana. Di lantai 4 kosong melompong, lantai 3 berisi poster2 sejarah perjalanan menara ini dari waktu ke waktu. Kalau di lihat dari cerita di poster itu, perubahan di menara tidaklah banyak. Hanya beberapa peralatan yang tidak lagi ada, seperti antena dan penangkap radar di atas bangunan pabean. Lantai 2 adalah pintu masuk yang rupanya juga merupakan tempat sebuah prasasti yang entah menggunakan bahasa apa. Lantai 1 rupanya merupakan penjara yang digunakan untuk menahan para penjahat, perompak, ataupun tahanan kapal. :p

Puas bernostalgia dengan Menara Syahbandar, aku dan teman akhirnya memutuskan untuk berpindah ke Museum Bahari. Jaraknya dekat sekali dengan menara, sehingga hanya perlu jalan kaki. Karena kami telah membeli tiket terusan, maka kami tidak perlu membeli tiket lagi. Kamipun mulia menyusuri lorong demi lorong dari Museum Bahari yang memang berlorong2 itu. Terlalu kosong dan sepi untuk di bilang ruangan. :p

Pintu yang memisahkan ruangan/bangunan satu dengan yang lainnya bentuknya seragam, yaitu pintu beton yang melengkung di bagian atasnya. Model penataan pintu itu lurus, sehingga ketika daun pintu di buka, kita langsung bisa melihat bagian ujung lain bangunan. Aku menyukai susunan ini, terkesan sangat gamblang dan senyap. Disalah satu dinding yang sangat dekat dengan pintu masuk, aku membaca sebuah prasasti yang di tempel di tembok. Rupanya itu adalah lirik Lagu Nelayan Selat Madura. Jadi kepengen nyari lagunya di YouTube (dan nggak nemu).... :p

Ruangan yang pertama adalah ruangan yang berisi poster2 lawas mengenai sejarah Sunda Kelapa, Batavia, Jayakarta, dan Jakarta, beserta dengan tetek bengeknya. Ada juga cerita mengenai Sungai Ciliwung, dan beberapa cerita lainya. Beberapa lorong setelahnya adalah aneka rupa kapal yang pernah ada/masuk ke Indonesia. Bagus2 sekali miniatur kapalnya. Sulit di bayangkan pada masa itu sudah ada orang yang ahli membuat kapal yang begitu megah dan kuat untuk menjelajah.

Kamipun naik ke lantai 2. Di lantai 2, kami melihat ada contoh rempah2 yang dulu di perdagangkan yaitu cengkeh, pala, dan beberapa rempah yang lainnya. Ada juga beberapa macam fosil2 kerang dan binatang2 laut yang di awetkan. Selain itu, di ruangan itu juga terdapat sebuah miniatur Pulau Onrust yang terletak di Kepulauan Seribu. Rupanya jaman dulu pulau itu merupakan salah satu pulau terpenting untuk VOC. Dimana di sana banyak sekali bangunan2 yang di gunakan untuk berbagai kepentingan, salah satunya adalah karantina para calon Jema'ah Haji. Sayangnya, saat ini Pulau Onrust sudah banyak terkikis abrasi dan hanya meninggalkan beberapa puing2 bangunan saja (belum kesampean cita2 kesana). :(

Ruangan berikutnya banyak berisi komponen2 sebuah kapal. Mulai dari jaman jadul juga. Ada bagian lampu badainya saja, jangkarnya saja, pelampungnya saja, kemudinya saja, loncengnya saja, dan masih banyak lagi bagian2 yang lainnya.

Selain bagian2 kapal, ada juga beberapa macam alat penangkap ikan yang digunakan dari jaman dulu. Kebanyakan masih sama atau mirip, contohnya saja Bubu. Beberapa benda di pajang di atas meja, dan beberapa yang lainnya di pajang di dalam lemari kaca.

Lanjut ke ruangan lain, dimana terdapat photo2 berbingkai yang di tempel di dinding. Banyak sekali foto2 yang ada di sana. Kebanyakan foto itu adalah foto2 saudagar/pedagang yang dulu datang ke Indonesia pada masa perdagangan. Karena aku dan teman sedikit mati gaya di ruangan itu, maka kamipun memilih untuk menggunakan lantainya sebagai tempat "ndelosor2" sambil photo. :p

Kamipun melanjutkan perjalanan ke bangunan museum yang terletak di belakang. Namun sayang, tidak banyak lagi barang2 yang bisa kami lihat. Entah mengapa museum bahari ini menurutku sedikit kurang efisien. Mungkin karena memang dulunya museum ini adalah gudang untuk pelabuhan, maka banyak sekali ruangan2 dan juga bangunannya sangat luas dan tua. Karena terlalu luas itu, maka museum ini sangat terasa kosong. Satu ruangan besar hanya di isi beberapa benda, dan banyak juga ruangan kosong. Mungkin sebaiknya segera di lakukan tata ulang untuk isi museum ini. (Pastinya minta dana pemerintah karena tidak akan cukup dari uang tiket) :p

Ketika kami berada di pelataran tengah museum, aku merasa menyukai area itu. Entah kenapa sepertinya ada kenyamanan tersendiri berada di tengah2 bangunan tua itu. Berdiri di atas lantai paving block, di kelilingi tembok dengan jendela kayu tua dengan cat-nya yang telah mengelupas, dan paduan warna sejuk antara "cat dinding putih luntur, hijau jendela, coklat jendela, langit biru". wuidiiiihhhh.... :)

Kamipun beranjak meninggalkan Museum Bahari dengan mengojek sepeda lagi. Kali ini kami akan melihat koleksi yang ada di museum2 di sekitar Stasiun Kota. Namun oleh tukang ojek sepeda (berdasarkan requets temanku itu), kami di antarkan terlebih dulu ke Toko Merah. Untuk sekedar berfoto saja tentunya, karena memang sekarang toko itu tinggal cerita dan legenda.

Konon katanya ketika VOC masih berkuasa, Toko Merah yang di bangun pada abad ke-17 (see... hampir 3 abad) ini pernah dijadikan sebagai kediaman Gustaf Baron van Imhof, tempat AAL, dan juga pernah digunakan untuk guest house para pejabat. Toko ini dinilai sebagai salah satu saksi mata dari banyak sekali kejadian yang terjadi di sekitarnya.

Keren juga ini bangunan, semua-mua berwarna merah. Entah mengapa atau dengan alasan apa arsiteknya dulu mempertimbangkan sebelum membangun. Mungkin beliau sudah bisa menerawang bahwa ratusan tahun yang akan datang, akan ada orang2 narsis (seperti aku) yang akan sangat senang berfoto2 ria di depan bangunan2 antik & nyentrik. Karenanya beliau memilih warna merah semuanya.... :p

Masih dengan ojek sepeda yang sama, aku dan teman melaju menuju tempat yang baru. Harganya sama juga ternyata, cukup dengan Rp. 5.000 . Kami turun di depan Museum Wayang. Wuidiihh.... ramai benar siang itu. Banyak rombongan2 anak sekolah yang datang. Nampaknya aku lupa kalau menjelang hari jadi Kota Jakarta, museum2 membuka program untuk anak sekolahan. hahhahaha..... Mari bergabung bersama mereka.... :p

Kami tidak langsung masuk ke Museum Wayang, melainkan terlebih dulu bersantai dan mengaso di depan museum sambil menikmati lalu lalang orang. Ada sekumpulan anak2 remaja yang (sepertinya jaman sekarang sering di panggil Alay) duduk di depan pelataran dengan dandanan seragam, celana pensil yang melorot di pantat, tas gendong yang talinya panjang banget, gaya rambut yang khas banget, dan nggak ketinggalan handphone di tangan dengan jari yang aktif klik-klak-klik-kluk... :)

Ada juga beberapa orang yang berputar2 dengan sepeda onthel sewaan warna-warni, lengkap dengan topi meneer-nya. Ukuran sepedanya ternyata ada yang kecil juga lho..... Kapan2 aku dan teman memutuskan untuk mencoba, namun tidak hari itu. Pasti lebih keren karena kita akan bisa merasa menjadi meneer pada jaman belanda dulu :)

Banyak lagi aktivitas di tempat itu sehingga menambah hiruk pikuknya pelataran museum. Kebanyakan adalah bule bersama dengan pemandunya. Memang nampaknya wisata museum ini lebih di gemari oleh bule2 ketimbang masyarakat Indonesia sendiri. Satu pemandangan yang cukup menarik perhatianku adalah sekelompok anak yang (sepertinya) sedang membuat film/video klip. Aku dan temanku memperhatikan gerak-gerik mereka, sampai dengan main tebak adegan. Kocak2 sekali tingkah anak2 itu. :p

Akhirnya kamipun masuk ke Museum Wayang, bergabung dengan pengunjung yang lain. Museum ini sudah tidak banyak "kesan belandanya". Hanya di bagian luar dan beberapa bagian di dalam yang masih terlihat "Belanda banget". Tetapi secara keseluruhan, sudah lebih modern.

Banyak sekali etalase2 kaca yang di gunakan untuk menampilkan berbagai jenis wayang. Wayang golek, wayang kulit, wayang orang, sampai dengan ondel2 juga ada di sana. Wayang2 dari berbagai daerah di Indonesia, di simpan di sana lengkap dengan keterangan2nya. Selain itu, banyak juga patung2 yang menggambarkan tokoh2 pewayangan seperti Hanoman, Gatot Kaca, dll.

Di setiap etalase, ada keterangan2 yang menyebutkan informasi mengenai nama, asal, peran, dan informasi2 yang lainnya. Aku sempat melihat di museum itu ada pemain "si unyil" lengkap. Masih ingat kan siapa Unyil? Sewaktu aku masih kecil, di TVRI si Unyil sering di putar dan menjadi tontonan wajib anak2. Unyil, Usrok, Pak Ogah, Mbok Bariah, dll. Jadi berasa bernostalgia senja gitu deh.... :P

Selain wayang dalam negri, banyak juga wayang2 yang berasal dari luar negri. Menurut temanku, wayang2 dari luar negri itu ada yang di bawa oleh tamu negara sebagai oleh2 pada Presiden Indonesia ketika datang ke Indonesia, dan ada juga yang merupakan cideramata ketika Presiden bertandang ke negara lain. Ada wayang dari berbagai benua mulai dari Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika. Semua dengan ciri dan keunikan masing2.

Museum Wayang rupanya juga menampilkan aneka topeng, gamelan, ondel2, dan beberapa benda yang mendukung pewayangan. Menyenangkan sekali rasanya melihat benda2 unik seperti itu di lestarikan dan di perhatikan keberadaannya. Jadi, nanti anak cucuku akan tetap bisa melihat wayang dari jaman ke jaman. :)

Dalam perjalananku bersama teman waktu itu, kami menemukan beberapa lokasi di dalam museum yang sedikit aneh (menurut kami). Menurutku dan temanku, tempat2 itu sedikit nyeleneh dan tidak lazim penempatannya. Akhirnya kami menggunakannya sebagai studio photo saja. hahahhaha

Untuk masuk ke museum wayang ini, harganya sama murahnya dengan museum2 yang lain. Cukup dengan Rp. 2.000. Karena kunjungan pertamaku bersama teman waktu itu sangat singkat, sepertinya aku harus ke museum itu lagi kapan2. :p

Setelah dari museum wayang, perjalananku bersama temanku berlanjut ke Museum Keramik dan Museum Bank Indonesia. Tapi aku mau istirahat dan bernafas dulu yaaaa.... Udah panjang banget kayaknya tulisan ini. hahahahhaa.... Akan di lanjutkan pada kisah selanjutnya. :))

Beberapa museum tidak dapat kami kunjungi hari itu, karena waktu berlalu begitu cepat. Kamipun sepakat untuk melanjutkan wisata budaya itu di lain waktu.... ^_^

Thanks ya mbak Ana "Meleng" untuk wisata budaya sehari-nyaaaaa :p

Saturday, June 26, 2010

How Wonderfull "My Sister Keeper"

For the first, i just wanna say thanks to Mellon Enaq whom introducing me to the book's of Jodi Picoult, My Sister Keeper. I am being Jodi Picoult 's admirer then... :p

Awal tahun lalu, aku membeli beberapa buku karangan Jodi Picoult yang lainnya. Tenth Circle, Salem Falls, dan Plain Truth. Semuanya bagus2 sesuai dengan porsinya masing2. Aku setuju dengan salah satu komentar untuk buku2 Jodi Picoult, bahwa dia ini sangatlah ahli dalam menciptakan cerita2 polemik keluarga dan hati nurani. Extraordinary....

Setelah itu aku menjadi teringat dengan buku yang aku pinjam ke Mellon Enaq (My Sister Keeper) itu, dan browsing2. Rupanya aku sudah ketinggalan informasi mengenai cerita ini. Buku itu sudah di filmkan ya sodara2.... Mungkin film itu keluar ketika aku sedang berada pada sebuah Black Hole (Baca : luntang-lantung) yang nggak jelas. I miss it.... hiks...hiks...

Langsung saja aku berkelana di dunia maya untuk mencari dan mencari film itu. Puji Tuhan akhirnya aku bisa mendapatkan copy film My Sister Keeper dengan kualitas yang bagus (Note : Don't try this at home). Intinya, akupun segera menikmati pertunjukan film yang aku yakin akan sangat bagus itu. Dan akhirnya, aku menangis bombay sepanjang film berlangsung. *beruntung tidak menonton di bioskop, sehingga bisa menangis sepuasnya tanpa rasa malu* :)

Minggu ini, kembali aku membeli satu buku Jodi Picoult yang baru yang berjudul Perfect Match. Kembali lagi aku teringat film My Sister Keeper yang masih aku simpan rapi di folder film-ku. Akhirnya, tadi pagi adalah waktunya. Waktu untukku menangis lagi sepanjang film berlangsung. Hiks...hiks....hiks....

Aku hanya ingin sedikit menceritakan kembali kisah tragis dan mengharukan dari film ini. Hanya sekedar untuk mengetes, apakah aku masih bisa menceritakan apa yang sudah aku lihat dengan baik dan benar. Ceritaku..... Menurutku.... :)

******

Cerita ini mengenai sebuah keluarga kecil yang bahagia, dengan ayah (Brian) yang baik, ibu yang cantik (Sara), seorang anak laki2 (Jesse), dan seorang anak perempuan (Kate). Kebahagiaan keluarga itu terusik manakala Kate yang masih kecil di vonis menderita Leukimia akut. Menurut dokter, kangker yang diderita Kate ini tergolong jarang sehingga sulit untuk disembuhkan. Kate akan membutuhkan banyak sekali donor dari orang yang benar2 sesuai, namun tidak ada di antara keluarganya yang sama.

Akhirnya, dokter menyarankan kepada Brian dan Sara untuk membuat anak lagi. Anak itu akan di kontrol dan di bantu agar dapat menyediakan gen yang cocok untuk Kate sejak di dalam kandungan. Dan kemudian lahirlah Anna. Sejak Anna lahir, dia sudah bertindak menyelamatkan kakaknya melalui tali pusarnya. Selanjutnya, darah, sumsum tulang, dll selalu saja di ambil dari tubuh Anna untuk di berikan pada Kate.

Kate dapat bertahan sampai dengan Anna berumur 12 tahun, melalui sumbangan2 Anna. Namun bagaimanapun juga, efek kemoterapi dll membuat tubuhnya bereaksi. Lama-kelamaan, rambut Kate mulai rontok, hingga akhirnya botak plontos seperti kebanyakan pemain bola. Kate merasa dirinya jelek dan tampak seperti alien.

Karenanya, dia menjadi minder dan menolak untuk turun dari tempat tidurnya pada suatu hari. Ibu, ayah, dan adiknya tidak bisa membujuknya. Dia merasa dia tidak layak untuk keluar rumah. Ibunya yang mendengar alasan Kate, langsung menggunduli kepalanya. Jadilah 2 orang anak beranak botak plontos beserta dengan keluarganya yang lain, berjalan2 di kota. Mereka bersenang2 dan melakukan photo box dengan berbagai macam gaya yang heboh dan seru. :)

Salah satu bagian yang cukup sedih adalah kisah cinta Kate dan Taylor. Ketika Kate sedang melakukan perawatan di rumah sakit, dia melihat dan bertemu dengan seorang pemuda botak plontos juga yang bernama Tylor. Tylor juga mengidap penyakit kangker, sehingga harus menjalani kemoterapi seperti juga Kate.

Mereka berkenalan dan Tylor meminta nomor telephone Kate untuk suatu saat bisa kencan berdua. Kate merasa senang sekali, begitu juga dengan Sara, Anna, tantenya, dan juga keluarga yang lainnya. Kate dan Tylor pun berkencan dan menikmati masa2 berdua dengan saling mendukung. Tylor tidak merasa jijik ketika harus melihat Kate muntah di depan matanya, bahkan dia justru membantu dan setia mendampingi.

Pada suatu hari, rumah sakit mengadakan pesta dansa. Tylor mengajak Kate untuk pergi bersamanya. Kate pun mencari gaun untuk di pakainya bersama dengan Sara dan Anna. Akhirnya, Kate akan menggunakan wig saja untuk menutupi kepalanya yang plontos. Ketika hari untuk pesta dansa datang, Tylor, Brian, Jesse, dan juga keluarga yang lain sangat takjub dengan penampilan Kate yang sangat luarbiasa cantik. Mereka mengambil banyak sekali photo. Brian memandangi Kate dengan mata berkaca2 dari sudut ruangan, sebelum kemudian memberikan ciuman sayang pada putrinya. Hiks...*Aku nangis disini juga*

3 hari setelah pesta dansa itu, Kate merasa di campakkan oleh Tylor. Tylor tidak menghubunginya sama sekali, dan dia merasa sangat kehilangan. Sara membujuknya dan berusaha meyakinkan bahwa mungkin Tylor sedang sibuk. Akhirnya, Kate mengatakan pada Sara bahwa setelah pesta dansa, dia dan Tylor sudah melakukannya (baca:bercinta). Sara yang terkejut, langsung menanyakan pada perawat mengenai keberadaan Tylor. Dari perawat, Sara tahu bahwa Tylor sudah meninggal. Kate sangat kehilangan sekali, sehingga kesehatannya pun ikut terpengaruh. :(

Suatu hari, Anna dengan di temani Jesse mendatangi sebuah kantor pengacara terkenal. Anna menemui sang pengacara Campbell, untuk membantunya menuntut kebebasan medisnya. Anna ingin keluarganya berhenti mengambil organ tubuhnya untuk menolong Kate. Pada awalnya, pengacara Campbell meragukan Anna, namun setelah Anna menunjukkan bukti2 medisnya diapun bersedia membantu Anna.

Ketika surat keterangan dari pengadilan mengenai tuntutan Anna sampai di tangan Sara, Sara terkejut bukan main dan menyangka Anna sudah tidak menyayangi Kate dan keluarganya. Konflik mulai muncul di keluarga itu. Anna-pun di interogasi oleh Brian dan Sara, dan Anna menceritakan alasan mengapa dia melakukannya. Sara merasa tidak terima dan berusaha meyakinkan Anna untuk membatalkan tuntutannya, namun Brian dan Tante nya mendukung Anna (tdk secara langsung).

Pada akhirnya, Sara yang memang awalnya bekerja sebagai pengacara mengambil peran sebagai pengacara pribadi keluarganya. Dia melawan Anna dan pengacaranya. Anna pun untuk sementara tinggal di kantor pemadam kebakaran tempat ayahnya bekerja.

Persidangan berjalan dengan cukup alot karena banyak saksi yang di libatkan, seperti dokter yang menangani Kate dan juga pakar kesehatan yang lainnya.

Salah satu nilai tambah dalam persidangan itu adalah bahwa hakim yang menangani kasus itu adalah seorang ibu yang pernah kehilangan anaknya. Dia adalah hakim yang terkenal kejam dan tak kenal pandang bulu jika bertugas. Dia secara pribadi mengajak Anna dan juga Kate untuk berbicara, guna mendukung keputusan akhir yang harus di buatnya.

Pada saat akhir persidangan, yaitu ketika Anna bersaksi, terjadi ketegangan di ruang sidang. Dimana ketika itu Jesse berteriak menyanggah jawaban Anna. Brian berusaha menenangkan Jesse. Namun sepertinya setelah mereka berdebat panjang, Brian justru membiarkan Jesse maju ke depan persidangan dan mengatakan pada ibunya bahwa Anna hanya di minta Kate. Kate merasa bahwa dia sudah siap untuk mati, dan Kate ingin Anna menghentikan usaha ibu mereka untuk menyelamatkannya. Sara yang mendengarnya sangat terkejut.

Di saat yang bersamaan, Pengacara Campball mulai gelisah. Begitu juga anjing pengawalnya. Ketika suasana persidangan masih panas, pengacara Campball berjalan keluar ruangan dan terjatuh di depan ruang sidang. Dia ternyata mengidap penyakit Epilepsi. Anjing yang selama ini selalu bersamanya bertugas untuk mengingatkan dia saat2 penyakitnya akan kambuh.

Jesse, akhirnya duduk sendirian di atap gedung pengadilan. Dia sangat sedih memikirkan adik Kate dan juga keluarganya. Dia juga sangat menyayangi Kate. Dia tahu bahwa Kate sudah tidak ingin hidup lagi, namun dia tidak ingin kehilangan saudara perempuannya itu.

Akhirnya, dia mencoba mengiklaskan Kate dengan cara menyobek lukisan wajah Kate yang dia lukis sebelumnya. Serpihan2 kertas itu dia biarkan terbang bersama angin yang bertiup di atas gedung itu.

Keluarga, persidangan, dan rumah sakit. Adalah setting yang di kemas dengan sangat ciamik oleh sutradara, sehingga kisah ini menjadi semakin tragis. Ketika persidangan masih berjalan alot, mereka semua harus berkumpul dalam satu ruangan di kamar rumah sakit untuk menemani Kate. Bercerita, bercanda, dan lain sebagainya.

Suatu hari, manakala Brian datang ke rumah sakit sendirian, perawat mengatakan bahwa Kate sangat ingin pergi ke pantai. Brian merasa bingung dengan keinginan Kate, karena kondisi Kate yang sangat mengkhawatirkan. Diapun bertanya pada dokter yang menangani Kate. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan Kate untuk dapat bertahan hidup sangatlah tipis. Kondisi Kate sudah sangatlah buruk. Kalau Kate menginginkan untuk dapat pergi kepantai, menurut dokter hal itu tidak akan membuat Kate lebih buruk lagi. Dokter mengijinkan Brian membawa Kate ke pantai untuk satu hari saja.

Brian pun mengajak Kate dan Jesse menjemput Anna di sekolahnya. Mereka kemudian pulang kerumah untuk mengambil perlengkapan yang di perlukan. Sara yang melihat niat Brian, berteriak2 marah dan mencoba untuk menghentikan Brian. Mereka berebut kunci dan saling mendorong. Namun Brian tidak menghiraukan Sara karena dia merasa Sara terlalu berlebihan dalam menjaga Kate. Permohonan Kate untuk pergi pun di tolak oleh Sara. Brian, Jesse, Anna, dan Kate akhirnya tetap pergi ke Pantai. *Bagian ini juga membuat aku meweeeekk....*

Di pantai, Kate duduk dengan berselimut kain di samping Brian. Mereka berdua mengamati Anna dan Jesse yang berlarian kesana kemari memberi makan burung2 laut. Kate nampak sangat bahagia dan Brian melihatnya dengan bahagia pula. Tak lama kemudian, Sara menyusul tiba di pantai bersama dengan Tante nya Anna. Tantenya langsung bergabung dengan Anna dan Jesse, sedangkan Sara menghampiri Brian dan Kate. Sara langsung mencium Brian dan memeluk Kate. Kate nampak semakin bahagia.

Ketika senja datang, Kate berusaha berdiri dan berjalan mendekati laut. Dia menikmati pemandangan dan juga udara pantai. Iringan musik yang di gunakan ketika adegan ini, menambah dramatis film ini. Kemudian, mereka mengantar Kate kembali ke rumah sakit. Mereka di sambut oleh dokter dengan senyum lebar. Semua orang bahagia dan terharu. *Meweeeekkk lagiiiii*

Satu lagi bagian dari film ini yang sangat mengharu biru, yaitu ketika semua keluarga besar Sara berkumpul di rumah sakit. Jesse mendekati Kate dan mengatakan bahwa dia sangat sayang pada Kate. Dia merasa menyesal telah menggagalkan rencana mereka dengan mengatakan alasan Anna. Anna juga mengatakan hal yang sama kepada Kate. Mereka bertiga bertangisan di tempat tidur Kate. Kate menghibur mereka dengan mengatakan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang benar. Mereka saling menunjukkan rasa sayang mereka.

Kate meminta Ayah dan saudara2nya untuk pulang dan meninggalkan dia bersama dengan Ibunya. Brian pun mengajak Anna dan Jesse pulang. Ketika Kate hanya tinggal bersama dengan Sara, Kate menanyakan apakah Sara marah padanya karena dia menyuruh Anna melakukan tuntutan itu. Mereka berdua kemudian bernostalgia berdua melalui album photo buatan Kate. Album itu berisi banyak sekali photo, cerita, dan juga pengalaman2 yang Kate lewati bersama dengan keluarganya, tak terkecuali kisahnya dengan Taylor.

Akhirnya, Kate mengatakan pada Sara bahwa saat untuk meninggalkannya sudah tiba. Sara yang selama ini selalu berjuang dan tidak mau menyerah, akhirnya menyerah dan menangis bombay bersama dengan Kate. *Pastinya meweeeekkk lagi....*

Katepun meninggal. Kehidupan berjalan kembali dengan normal, tanpa ada yang melupakan Kate. Brian bekerja menjadi pelatih tinju, Sara kembali pada profesinya sebagai pengacara, Jesse melanjutkan sekolah lukis, dan Anna juga melanjutkan sekolahnya. Mereka selalu berkumpul dan berlibur bersama setiap akhir pekan, termasuk juga dengan tante mereka. Mereka selalu mengenang Kate. Di akhir cerita, pengacara Campbell yang membantu Anna datang dengan keputusan hakim yang memenangkan Anna. :)

Ceritaku ini tidaklah bagus. Tapi aku boleh saja kan merasa puas dengan diriku sendiri karena aku merasa aku bisa mengingat dengan baik detail dari film yang sudah menguras banyak air mataku. :p

Sedikit aku sayangkan adalah perubahan yang terjadi dalam film, jika di bandingkan dengan novelnya. Memang sih, dimana2 film yang di angkat dari sebuah novel pastinya akan selalu mengundang kritikan. Namun ini bukan masalah alur, setting, plot, ataupun penghayatan cerita dari pada pemain. Ini lebih karena ending film ini.

Dalam bukunya, Jodi Picoult menceritakan bahwa ketika pengadilan telah memutuskan bahwa Anna berhak mendapatkan kebebasan medisnya, kemudian dia dan pengacaranya naik mobil berdua. Ketika mereka sedang berada pada sebuah perempatan jalan, tiba2 ada truk yang hilang kendali dan menabraknya. Pengacara Campbell hanya mengalami patah tulang, namun Anna menderita komma dan tak sadarkkan diri.

Setelah beberapa hari tak sadarkan diri dan dokter mengatakan bahwa harapan hidup Anna tipis, maka pengacara yang memegang kuasa atas Anna hingga Anna dewasa, mengijinkan keluarga Anna untuk mengambil ginjal Anna dan menyumbangkannya untuk Kate. Setelah itu, Anna meninggal, dan Kate hidup sehat kembali.

Akhir ceritanya adalah Sara dan Kate yang mengenang Anna. Berbeda kan?? Karena di filmnya, akhir cerita adalah Sara dan Anna mengenang Kate. :p

Tapi, apapun dan bagaimanapun itu, film itu tetap bagus dan mengharubirukan hatiku. Kata temanku yang sudah menonton film ini,
"Mending lu nonton di kamar. Lha gw nonton di pesawat. Kebayang kan bagaimana gw harus menyembunyikan mata yang prembik2 pengen nangis?"
"Mungkin kalau filmnya sama kayak bukunya, penontonnya bisa pingsan2 kaleee"

Hehehhee.... Mungkin juga....
Two Thumbs Up For My Sister Keeper ^_^

Wednesday, June 23, 2010

Haruskah Kita Mulai Ber-Estafet ???

Ibaratnya sedang berlomba lari,
Saat ini kita sedang lomba marathon

Ibaratnya sedang bertanding badminton,
Saat ini kita sedang di kejuaraan tunggal

......

Kamu selalu bilang "ayo"
Aku selalu bilang "nanti"

Kamu selalu bilang (bertanya) "kapan"
Aku selalu bilang (menjawab) "nanti"

Kamu selalu bilang "sekarang"
Aku selalu bilang "belum"

Kamu selalu bilang "menunggu sesuatu"
Aku bilang "menunggu waktu"

Apa yang aku bilang,
Selalu saja bukan apa yang kamu mau dengar

......

Apa kamu inginkan,
Adalah apa yang aku inginkan
Tidak ada masalah adalah masalah yang utama,
Karena semua tidak bermasalah

......


Yang aku yakini, semoga selalu menjadi apa yang kamu yakini
Bahwa suatu saat, kita akan berlomba lari estafet
Bahwa suatu saat, kita akan bertanding ganda campuran

Bismillah

Yang Berlalu Setiap Waktu

Kupandangi cangkir hijau,
Teh manis yang masih mengepul...
Mengepulkan semangat dan harapan akan indahnya hari ini

Kupandangi tumpukan buku,
Semakin dan semakin tinggi...
Menumpuk keinginan dan mimpi untuk di wujudkan hari ini

Kupandangi layar monitor,
Kotak, warna-warni, tergantung pada sebelas jari...
Menunggu dengan pasrah kemana nasibnya kan ku bawa hari ini

......

Kupandangi cangkir hijau,
Air putih tidak dingin tidak juga panas...
Jernih yang dapat membuat "netral"

Kupandangi sepiring nasi,
Lengkap dengan empat sehatnya...
Wajib agar bisa tetap eksis

Kupandangi televisi,
Ariel, Luna, Tari, dan bola...
Kehidupan sosial yang tidak bisa di hindari

Kupandangi lagi layar monitor ini,
Masih tak berganti...
Ketidakmampuan sebelas jari menjadi luar biasa

......

Kupandangi cangkir hijau,
Kopi susu harum mewangi...
Menghambat perjalananku ke alam mimpi

Kupandangi televisi,
Masih saja tentang selebriti...
Sifat manusiawi yang berlebihan

Kupandangi layar monitor lagi,
Jadi pengen ngundang Pak Tarno Sulap...
BimSalaBim jadi apa....prokprokprok

......

Kupandangi singgasana tercintaku,
Kasur, bantal, guling, dan selimut...
Wahanaku menutup mata

......
Setting sebuah opera berkelebat di benakku
Manakala seseorang duduk di meja yang dekat dengan jendela, di sebuah kafe
Orang itu mengangkat cangkir kopinya dengan anggun,

Kita adalah penonton yang duduk di dalam kafe (juga)
Nampak melalui jendela, di luar sana
Bayangan orang, mobil, anjing, kucing, dan lainnya bergerak cepat
Layaknya Tuhan sedang memencet tombol "speed" di remotenya

Dia, tetap saja mengangkat dan menurunkan cangkir kopinya,
Dengan anggun

Hari ini indah, apa adanya

......