Kita pasti sudah tidak lagi merasa asing dengan nama BreadTalk. Ya, pasti yang terlintas di benak kita pertama kali ketika mendengar kata itu adalah roti2 yang gurih, empuk, bentuknya macam2, rasa dan hiasannya pun beraneka rupa.Sepertinya, BreadTalk ini dinilai lebih bergaya oleh beberapa orang temanku, sehingga mereka menggunakannya sebagai jamuan untuk dosen ketika sidang atau seminar. Kesannya lebih mewah daripada sekedar kue di bara (mungkin).
Rupanya, jiwa cinta produk dalam negri alias "ndeso" ku pernah dengan sukses membuatku (sedikit) malu di depan kasir Breadtalk yang ada di BotaniSquare. Waktu itu, aku naksir sebuah roti yang berwarna kuning telur, dan di hiasi abon di sekelilingnya. Otak "ndeso"ku langsung saja berfikir bahwa itu adalah penganan yang terbuat dari ketan, dibungkus dengan kuning telur yang didadar, dan di lapisi abon. Slurrup...slurrupp.... Sudah terbayang kan bagaimana rasa gurihnya ketan dan telur di gabung dengan manisnya abon??? *ngecessssss...tesss...tesss....*
Akhirnya akupun memutuskan untuk mengambil roti itu dan membawanya ke kasir, bersama dengan beberapa roti pilihanku yang lain. Karena aku berencana akan segera memakan "ketan bungkus telur dan abon" itu, maka akupun minta agar bungkusnya di bedakan saja.
"Mbak, yang ketan-nya nggak usah di masukin kardus yaa..." Kataku dengan pedenya.
"Ini bukan ketan mbak.... tapi roti lho..." Kata mbaknya dengan muka yang 100 % bingung, geli, dan menahan tawa itu.
Hwakakakakaka...... Kenapa juga aku harus mengatakan "ketan-nya itu" sih?? Rutukku dalam hati. Goblokkkk.... Akupun hanya bisa tertawa dan meringis kepada mbak2nya seraya berkata "Eh, iya, maksud saya yang mirip ketan itu lhoooo...." Keliatan banget kan ngeles-nya???? :p
Begitulah... Sisi positif yang bisa aku ambil dari kejadian ini (untuk menghibur diri sendiri) adalah bahwa aku teramat sangat mencintai produk dalam negri sendiri. hwahahahhahahaa :p
No comments:
Post a Comment