For the first, i just wanna say thanks to Mellon Enaq whom introducing me to the book's of Jodi Picoult, My Sister Keeper. I am being Jodi Picoult 's admirer then... :p
Awal tahun lalu, aku membeli beberapa buku karangan Jodi Picoult yang lainnya. Tenth Circle, Salem Falls, dan Plain Truth. Semuanya bagus2 sesuai dengan porsinya masing2. Aku setuju dengan salah satu komentar untuk buku2 Jodi Picoult, bahwa dia ini sangatlah ahli dalam menciptakan cerita2 polemik keluarga dan hati nurani. Extraordinary....
Awal tahun lalu, aku membeli beberapa buku karangan Jodi Picoult yang lainnya. Tenth Circle, Salem Falls, dan Plain Truth. Semuanya bagus2 sesuai dengan porsinya masing2. Aku setuju dengan salah satu komentar untuk buku2 Jodi Picoult, bahwa dia ini sangatlah ahli dalam menciptakan cerita2 polemik keluarga dan hati nurani. Extraordinary....
Setelah itu aku menjadi teringat dengan buku yang aku pinjam ke Mellon Enaq (My Sister Keeper) itu, dan browsing2. Rupanya aku sudah ketinggalan informasi mengenai cerita ini. Buku itu sudah di filmkan ya sodara2.... Mungkin film itu keluar ketika aku sedang berada pada sebuah Black Hole (Baca : luntang-lantung) yang nggak jelas. I miss it.... hiks...hiks...Langsung saja aku berkelana di dunia maya untuk mencari dan mencari film itu. Puji Tuhan akhirnya aku bisa mendapatkan copy film My Sister Keeper dengan kualitas yang bagus (Note : Don't try this at home). Intinya, akupun segera menikmati pertunjukan film yang aku yakin akan sangat bagus itu. Dan akhirnya, aku menangis bombay sepanjang film berlangsung. *beruntung tidak menonton di bioskop, sehingga bisa menangis sepuasnya tanpa rasa malu* :)
Minggu ini, kembali aku membeli satu buku Jodi Picoult yang baru yang berjudul Perfect Match. Kembali lagi aku teringat film My Sister Keeper yang masih aku simpan rapi di folder film-ku. Akhirnya, tadi pagi adalah waktunya. Waktu untukku menangis lagi sepanjang film berlangsung. Hiks...hiks....hiks....
Aku hanya ingin sedikit menceritakan kembali kisah tragis dan mengharukan dari film ini. Hanya sekedar untuk mengetes, apakah aku masih bisa menceritakan apa yang sudah aku lihat dengan baik dan benar. Ceritaku..... Menurutku.... :)
******
Cerita ini mengenai sebuah keluarga kecil yang bahagia, dengan ayah (Brian) yang baik, ibu yang cantik (Sara), seorang anak laki2 (Jesse), dan seorang anak perempuan (Kate). Kebahagiaan keluarga itu terusik manakala Kate yang masih kecil di vonis menderita Leukimia akut. Menurut dokter, kangker yang diderita Kate ini tergolong jarang sehingga sulit untuk disembuhkan. Kate akan membutuhkan banyak sekali donor dari orang yang benar2 sesuai, namun tidak ada di antara keluarganya yang sama.
Akhirnya, dokter menyarankan kepada Brian dan Sara untuk membuat anak lagi. Anak itu akan di kontrol dan di bantu agar dapat menyediakan gen yang cocok untuk Kate sejak di dalam kandungan. Dan kemudian lahirlah Anna. Sejak Anna lahir, dia sudah bertindak menyelamatkan kakaknya melalui tali pusarnya. Selanjutnya, darah, sumsum tulang, dll selalu saja di ambil dari tubuh Anna untuk di berikan pada Kate.Kate dapat bertahan sampai dengan Anna berumur 12 tahun, melalui sumbangan2 Anna. Namun bagaimanapun juga, efek kemoterapi dll membuat tubuhnya bereaksi. Lama-kelamaan, rambut Kate mulai rontok, hingga akhirnya botak plontos seperti kebanyakan pemain bola. Kate merasa dirinya jelek dan tampak seperti alien.
Karenanya, dia menjadi minder dan menolak untuk turun dari tempat tidurnya pada suatu hari. Ibu, ayah, dan adiknya tidak bisa membujuknya. Dia merasa dia tidak layak untuk keluar rumah. Ibunya yang mendengar alasan Kate, langsung menggunduli kepalanya. Jadilah 2 orang anak beranak botak plontos beserta dengan keluarganya yang lain, berjalan2 di kota. Mereka bersenang2 dan melakukan photo box dengan berbagai macam gaya yang heboh dan seru. :)
Salah satu bagian yang cukup sedih adalah kisah cinta Kate dan Taylor. Ketika Kate sedang melakukan perawatan di rumah sakit, dia melihat dan bertemu dengan seorang pemuda botak plontos juga yang bernama Tylor. Tylor juga mengidap penyakit kangker, sehingga harus menjalani kemoterapi seperti juga Kate.Mereka berkenalan dan Tylor meminta nomor telephone Kate untuk suatu saat bisa kencan berdua. Kate merasa senang sekali, begitu juga dengan Sara, Anna, tantenya, dan juga keluarga yang lainnya. Kate dan Tylor pun berkencan dan menikmati masa2 berdua dengan saling mendukung. Tylor tidak merasa jijik ketika harus melihat Kate muntah di depan matanya, bahkan dia justru membantu dan setia mendampingi.
Pada suatu hari, rumah sakit mengadakan pesta dansa. Tylor mengajak Kate untuk pergi bersamanya. Kate pun mencari gaun untuk di pakainya bersama dengan Sara dan Anna. Akhirnya, Kate akan menggunakan wig saja untuk menutupi kepalanya yang plontos. Ketika hari untuk pesta dansa datang, Tylor, Brian, Jesse, dan juga keluarga yang lain sangat takjub dengan penampilan Kate yang sangat luarbiasa cantik. Mereka mengambil banyak sekali photo. Brian memandangi Kate dengan mata berkaca2 dari sudut ruangan, sebelum kemudian memberikan ciuman sayang pada putrinya. Hiks...*Aku nangis disini juga*
3 hari setelah pesta dansa itu, Kate merasa di campakkan oleh Tylor. Tylor tidak menghubunginya sama sekali, dan dia merasa sangat kehilangan. Sara membujuknya dan berusaha meyakinkan bahwa mungkin Tylor sedang sibuk. Akhirnya, Kate mengatakan pada Sara bahwa setelah pesta dansa, dia dan Tylor sudah melakukannya (baca:bercinta). Sara yang terkejut, langsung menanyakan pada perawat mengenai keberadaan Tylor. Dari perawat, Sara tahu bahwa Tylor sudah meninggal. Kate sangat kehilangan sekali, sehingga kesehatannya pun ikut terpengaruh. :(
Suatu hari, Anna dengan di temani Jesse mendatangi sebuah kantor pengacara terkenal. Anna menemui sang pengacara Campbell, untuk membantunya menuntut kebebasan medisnya. Anna ingin keluarganya berhenti mengambil organ tubuhnya untuk menolong Kate. Pada awalnya, pengacara Campbell meragukan Anna, namun setelah Anna menunjukkan bukti2 medisnya diapun bersedia membantu Anna.Ketika surat keterangan dari pengadilan mengenai tuntutan Anna sampai di tangan Sara, Sara terkejut bukan main dan menyangka Anna sudah tidak menyayangi Kate dan keluarganya. Konflik mulai muncul di keluarga itu. Anna-pun di interogasi oleh Brian dan Sara, dan Anna menceritakan alasan mengapa dia melakukannya. Sara merasa tidak terima dan berusaha meyakinkan Anna untuk membatalkan tuntutannya, namun Brian dan Tante nya mendukung Anna (tdk secara langsung).
Pada akhirnya, Sara yang memang awalnya bekerja sebagai pengacara mengambil peran sebagai pengacara pribadi keluarganya. Dia melawan Anna dan pengacaranya. Anna pun untuk sementara tinggal di kantor pemadam kebakaran tempat ayahnya bekerja.Persidangan berjalan dengan cukup alot karena banyak saksi yang di libatkan, seperti dokter yang menangani Kate dan juga pakar kesehatan yang lainnya.
Salah satu nilai tambah dalam persidangan itu adalah bahwa hakim yang menangani kasus itu adalah seorang ibu yang pernah kehilangan anaknya. Dia adalah hakim yang terkenal kejam dan tak kenal pandang bulu jika bertugas. Dia secara pribadi mengajak Anna dan juga Kate untuk berbicara, guna mendukung keputusan akhir yang harus di buatnya.
Pada saat akhir persidangan, yaitu ketika Anna bersaksi, terjadi ketegangan di ruang sidang. Dimana ketika itu Jesse berteriak menyanggah jawaban Anna. Brian berusaha menenangkan Jesse. Namun sepertinya setelah mereka berdebat panjang, Brian justru membiarkan Jesse maju ke depan persidangan dan mengatakan pada ibunya bahwa Anna hanya di minta Kate. Kate merasa bahwa dia sudah siap untuk mati, dan Kate ingin Anna menghentikan usaha ibu mereka untuk menyelamatkannya. Sara yang mendengarnya sangat terkejut.
Di saat yang bersamaan, Pengacara Campball mulai gelisah. Begitu juga anjing pengawalnya. Ketika suasana persidangan masih panas, pengacara Campball berjalan keluar ruangan dan terjatuh di depan ruang sidang. Dia ternyata mengidap penyakit Epilepsi. Anjing yang selama ini selalu bersamanya bertugas untuk mengingatkan dia saat2 penyakitnya akan kambuh.
Jesse, akhirnya duduk sendirian di atap gedung pengadilan. Dia sangat sedih memikirkan adik Kate dan juga keluarganya. Dia juga sangat menyayangi Kate. Dia tahu bahwa Kate sudah tidak ingin hidup lagi, namun dia tidak ingin kehilangan saudara perempuannya itu.Akhirnya, dia mencoba mengiklaskan Kate dengan cara menyobek lukisan wajah Kate yang dia lukis sebelumnya. Serpihan2 kertas itu dia biarkan terbang bersama angin yang bertiup di atas gedung itu.
Keluarga, persidangan, dan rumah sakit. Adalah setting yang di kemas dengan sangat ciamik oleh sutradara, sehingga kisah ini menjadi semakin tragis. Ketika persidangan masih berjalan alot, mereka semua harus berkumpul dalam satu ruangan di kamar rumah sakit untuk menemani Kate. Bercerita, bercanda, dan lain sebagainya.
Suatu hari, manakala Brian datang ke rumah sakit sendirian, perawat mengatakan bahwa Kate sangat ingin pergi ke pantai. Brian merasa bingung dengan keinginan Kate, karena kondisi Kate yang sangat mengkhawatirkan. Diapun bertanya pada dokter yang menangani Kate. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan Kate untuk dapat bertahan hidup sangatlah tipis. Kondisi Kate sudah sangatlah buruk. Kalau Kate menginginkan untuk dapat pergi kepantai, menurut dokter hal itu tidak akan membuat Kate lebih buruk lagi. Dokter mengijinkan Brian membawa Kate ke pantai untuk satu hari saja.
Brian pun mengajak Kate dan Jesse menjemput Anna di sekolahnya. Mereka kemudian pulang kerumah untuk mengambil perlengkapan yang di perlukan. Sara yang melihat niat Brian, berteriak2 marah dan mencoba untuk menghentikan Brian. Mereka berebut kunci dan saling mendorong. Namun Brian tidak menghiraukan Sara karena dia merasa Sara terlalu berlebihan dalam menjaga Kate. Permohonan Kate untuk pergi pun di tolak oleh Sara. Brian, Jesse, Anna, dan Kate akhirnya tetap pergi ke Pantai. *Bagian ini juga membuat aku meweeeekk....*
Di pantai, Kate duduk dengan berselimut kain di samping Brian. Mereka berdua mengamati Anna dan Jesse yang berlarian kesana kemari memberi makan burung2 laut. Kate nampak sangat bahagia dan Brian melihatnya dengan bahagia pula. Tak lama kemudian, Sara menyusul tiba di pantai bersama dengan Tante nya Anna. Tantenya langsung bergabung dengan Anna dan Jesse, sedangkan Sara menghampiri Brian dan Kate. Sara langsung mencium Brian dan memeluk Kate. Kate nampak semakin bahagia.
Ketika senja datang, Kate berusaha berdiri dan berjalan mendekati laut. Dia menikmati pemandangan dan juga udara pantai. Iringan musik yang di gunakan ketika adegan ini, menambah dramatis film ini. Kemudian, mereka mengantar Kate kembali ke rumah sakit. Mereka di sambut oleh dokter dengan senyum lebar. Semua orang bahagia dan terharu. *Meweeeekkk lagiiiii*
Satu lagi bagian dari film ini yang sangat mengharu biru, yaitu ketika semua keluarga besar Sara berkumpul di rumah sakit. Jesse mendekati Kate dan mengatakan bahwa dia sangat sayang pada Kate. Dia merasa menyesal telah menggagalkan rencana mereka dengan mengatakan alasan Anna. Anna juga mengatakan hal yang sama kepada Kate. Mereka bertiga bertangisan di tempat tidur Kate. Kate menghibur mereka dengan mengatakan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang benar. Mereka saling menunjukkan rasa sayang mereka.Kate meminta Ayah dan saudara2nya untuk pulang dan meninggalkan dia bersama dengan Ibunya. Brian pun mengajak Anna dan Jesse pulang. Ketika Kate hanya tinggal bersama dengan Sara, Kate menanyakan apakah Sara marah padanya karena dia menyuruh Anna melakukan tuntutan itu. Mereka berdua kemudian bernostalgia berdua melalui album photo buatan Kate. Album itu berisi banyak sekali photo, cerita, dan juga pengalaman2 yang Kate lewati bersama dengan keluarganya, tak terkecuali kisahnya dengan Taylor.
Akhirnya, Kate mengatakan pada Sara bahwa saat untuk meninggalkannya sudah tiba. Sara yang selama ini selalu berjuang dan tidak mau menyerah, akhirnya menyerah dan menangis bombay bersama dengan Kate. *Pastinya meweeeekkk lagi....*
Katepun meninggal. Kehidupan berjalan kembali dengan normal, tanpa ada yang melupakan Kate. Brian bekerja menjadi pelatih tinju, Sara kembali pada profesinya sebagai pengacara, Jesse melanjutkan sekolah lukis, dan Anna juga melanjutkan sekolahnya. Mereka selalu berkumpul dan berlibur bersama setiap akhir pekan, termasuk juga dengan tante mereka. Mereka selalu mengenang Kate. Di akhir cerita, pengacara Campbell yang membantu Anna datang dengan keputusan hakim yang memenangkan Anna. :)
Ceritaku ini tidaklah bagus. Tapi aku boleh saja kan merasa puas dengan diriku sendiri karena aku merasa aku bisa mengingat dengan baik detail dari film yang sudah menguras banyak air mataku. :pSedikit aku sayangkan adalah perubahan yang terjadi dalam film, jika di bandingkan dengan novelnya. Memang sih, dimana2 film yang di angkat dari sebuah novel pastinya akan selalu mengundang kritikan. Namun ini bukan masalah alur, setting, plot, ataupun penghayatan cerita dari pada pemain. Ini lebih karena ending film ini.
Dalam bukunya, Jodi Picoult menceritakan bahwa ketika pengadilan telah memutuskan bahwa Anna berhak mendapatkan kebebasan medisnya, kemudian dia dan pengacaranya naik mobil berdua. Ketika mereka sedang berada pada sebuah perempatan jalan, tiba2 ada truk yang hilang kendali dan menabraknya. Pengacara Campbell hanya mengalami patah tulang, namun Anna menderita komma dan tak sadarkkan diri.
Setelah beberapa hari tak sadarkan diri dan dokter mengatakan bahwa harapan hidup Anna tipis, maka pengacara yang memegang kuasa atas Anna hingga Anna dewasa, mengijinkan keluarga Anna untuk mengambil ginjal Anna dan menyumbangkannya untuk Kate. Setelah itu, Anna meninggal, dan Kate hidup sehat kembali.
Akhir ceritanya adalah Sara dan Kate yang mengenang Anna. Berbeda kan?? Karena di filmnya, akhir cerita adalah Sara dan Anna mengenang Kate. :p
Tapi, apapun dan bagaimanapun itu, film itu tetap bagus dan mengharubirukan hatiku. Kata temanku yang sudah menonton film ini,
"Mending lu nonton di kamar. Lha gw nonton di pesawat. Kebayang kan bagaimana gw harus menyembunyikan mata yang prembik2 pengen nangis?"
"Mungkin kalau filmnya sama kayak bukunya, penontonnya bisa pingsan2 kaleee"
Hehehhee.... Mungkin juga....
Two Thumbs Up For My Sister Keeper ^_^
No comments:
Post a Comment