Wednesday, June 24, 2009

Ketika Jarak dan Waktu Memisahkan Kita, Maka Perpisahan Membentang di Depan Mata

Aku berjalan sendiri di jalanan kayu yang disusun rapi menjadi sebuah jembatan panjang. Samping kanan kiri jalan adalah rumput alang-alang setinggi pinggang yang mulai menguning, dengan latar belakang gunung tinggi yang menjulang. Bayangan sinar matahari yang tertutup awan menimbukan kesan cantik yang berselang-seling. Ingin rasanya aku abadikan pesona alam itu banyak-banyak dalam kameraku. Namun sayang, aku baru menyadari kalau aku tidak membawa kamera kesayanganku itu.


Aku terus berjalan menyusuri jalanan itu. Jalanan yang seolah tidak asing dimataku. Serasa déjà vu, aku berusaha mengingat dimana kiranya aku pernah melihat pemandangan seindah ini. Aku juga tidak memahami kenapa jalanan seindah ini sepi dari orang. Kuikuti terus titian kayu ini, karena aku merasa penasaran dengan ujung dari jalan ini. Akan dibawa kemana aku jika terus mengikuti jalanan ini??


Lama berjalan, akhirnya aku melihat ada orang lain didepan sana. Dengan setengah berlari aku mengikuti dan berusaha mengejar orang itu. Entah karena kekuatan lariku yang sangat di bawah rata-rata atau mereka yang berjalannya terlalu cepat, rasanya aku tidak mampu menggapai mereka. Aku berteriak untuk memanggil mereka, namun sepertinya mereka tidak bisa mendengar suaraku.


Ternyata di depan sana banyak orang. Maka aku mempercepat jalanku. Setelah sampai di kerumunan orang yang sama-sama bergerak maju ke satu arah itu, aku bertanya ada acara apa di sini. Tapi tak seorangpun mau menjawabku. Mereka hana menatapku dengan heran, kaget atau lebih tepatnya kasihan. Kenapa mereka melihatku seperti itu??tanyaku dalam hati.


Karena tak satupun dari mereka mau berbicara denganku, maka aku ikuti saja arus kemana mereka berjalan. Semakin lama semakin banyak orang yang bergabung dibarisan itu. Disela-sela orang yang tidak aku kenal, aku bisa melihat beberapa orang yang sangat aku kenal. Ketiga sahabatku dari SMU, teman-teman kuliahku, dan beberapa orang dari masa laluku.


“Kenapa mereka ada disini??apakah mereka saling mengenal??”tanyaku dalam hati.

Aku berteriak memanggil mereka, namun mereka sepertinya tenggelam termakan barisan orang-orang itu. Sekuat tenaga aku berusaha bergerak ke arah mereka. Begitu aku sudah mencapai ketiga sahabatku, aku bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka di tempat ini.


Bukan menjawab, mereka malah menatapku dengan tatapan yang sama dengan orang-orang yang pertama tadi aku temui. Salah satu sahabatku memegang pundakku sambil berusaha tersenyum. Namun hanya senyum kesedihan yang aku temui disana. Ada apa dengan semua ini?? Kenapa semua serba membingungkan?


Namun sebuah suara dalam kepalaku mengatakan, ikuti saja kemana mereka berjalan. Mungkin mereka hanya berusaha memberikan kejutan padaku. Dengan rasa penasaran yang menumpuk, akupun mengikuti arus itu.


Tiba-tiba terdengar sayup-sayup musik jawa dimainkan. Aku mengenal sekali musik itu sebagai musik pengiring pernikahan adat jawa. Rasa penasaranku kembali memuncak, siapakah yang menikah hari ini?apakah saudaraku, temanku, atau siapa?ataukan aku lupa untuk membaca undangan temanku?


Barisan yang awalnya berantakan itu mulai merapikan diri dengan antrian satu-satu. Rupanya didepan ada acara salaman dengan penerima tamu. Benarlah dugaanku bahwa aku sedang mendatangi pesta pernikahan, hanya saja aku belum mengetahui pernikahan siapa. Sepertinya giliranku untuk bersalaman dengan penerima tamu sudah dekat, namun karena orang-orang didepanku tinggi-tinggi, aku tidak bisa melihat kea rah depan.


Betapa kagetnya aku ketika aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan penerima tamu yang pertama. Dia adalah kakak perempuan lelaki itu. Dia juga tampak terkejut melihatku di depannya. Aku bersalaman sambil bertanya,

“mbak, siapa yang menikah ini?”tanyaku.

Namun dia tidak menjawab, justru dia tersenyum sedih dengan mata berkaca-kaca menatapku. Melihatnya seperti itu, aku jadi ingin melihat penerima tamu yang lain. Kupalingkan kepalaku menuju para penerima tamu yang lainnya. Rupanya mereka adalah kakak ipar, ibu, dan ayah lelaki itu. Aku semakin penasaran. Semua orang itu menatapku dengan tatapan sedih.


Dengan terburu-buru aku menyibakkan barisan dan mendahului untuk sampai ke depan pelaminan. Serasa jantungku lepas dari tangkainya manakala aku melihat siapa yang duduk di pelaminan itu. Rupanya dia yang telah menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal. Aku tidak bisa berkata-kata, dan diapun terkejut melihat aku.


Tanpa sadar aku melangkah ke depan menuju pelaminan. Aku yakin semua mata sedang mengarah pada kami. Perlahan aku melangkah sambil terus menatapnya dan pasangannya yang telah berdiri. Setelah aku berhadap-hadapan dengannya, aku hanya mampu mengucapkan sepatah kata,

“kenapa?”tanyaku. Perlahan namun jelas terdengar di telingaku dia berkata,

“Maafkan aku…”. Tiba-tiba semua berputar seolah aku sedang melewati lorong waktu. Lalu dunia terasa gelap, dan aku tak sadarkan diri.


Kubuka mataku perlahan-lahan karena rasanya seluruh tubuhku baru saja dihimpit batu besar, sakit sekali. Entah bagian mana yang sakit, namun sungguh terasa sakit sekali. Setelah terbiasa dengan keadaan di sekelilingku, aku kembali terheran-heran. Aku merasa sangat mengenal ruangan tempat aku berbaring, dan kemana perginya orang-orang tadi?kemana dia?


Aku meraih gelas yang di sediakan di meja dan buru-buru aku reguk semua isinya. Rupanya dingin air putih yang masuk ke tenggorokanku mampu menyadarkan aku dari kelinglungan. Aku kembali menyadari bahwa aku masih berada dikamarku tercinta. Dan aku mengerti bahwa yang baru saja aku alami adalah sebuah mimpi buruk. Badanku terasa dingin sekali. Rupanya peluh sudah benar-benar menghabiskan ruangan kering pada baju yang aku pakai.


Langsung saja aku mengambil gagang telpon yang ada di atas meja. Ku tekan nomor yang selama 4 tahun ini selalu berada di urutan pertama dalam daftar otakku. Lama tak ada yang mengangkatnya. Aku coba lagi sampai beberapa kali, masih juga tak ada yang mengangkat. Sampai berkali-kali aku menekan tombol redial, tapi tetap saja dering telpon diseberang sana nyaring mengambang.


Aku merenung di pinggir ranjang, memikirkan apa yang baru saja aku alami. Apa gerangan arti mimpi itu? Benarkah dia menikah dengan wanita lain? Tapi kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Apakah dia memang sudah menjadi milik orang lain?Kulirik jam dinding dan rupanya baru pukul 4 pagi. Ku ambil handuk dan baju ganti, lalu aku mandi sambil memikirkan dan mengira-ira apa arti dari mimpi burukku tadi.


Untuk dia, dan untuk mereka yang telah ditinggalkan, akan ada hari esok yang lebih baik.
Tapi sangat penting bagi kalian untuk mencintai hari ini......

Indah Pada Waktunya

“Indah Pada Waktunya”

By. Delon feat Irene


Kau lihat aku di sini seutuhnya
Sendiri merasa bahagia karenamu
Setelah air mata kehilangan dan juga kecewa
Kini hanya satu yang ku percaya
Kau membuatku bahagia


Jika memang ini saatnya
Mimpiku akan menjadi nyata
Ku percaya kuatnya cinta
Semua akan menjadi indah pada waktunya


Hadirmu semangat jiwaku karenamu
Kelembutan cintamu semua jawaban yang kudambakan
Kini hanya satu yang ku percaya
Kau membuatku bahagia


Dan takkan ada kata-kata
Oh jangan sembunyikan
Perasaanmu saat ini



“Indah Pada Waktunya”

By : Feby Febiola feat Wawan

Ada waktu untuk berduka
dan ada waktu tuk tertawa
Untuk segala sesuatunya
ada waktunya

Ada waktu untuk merombak
dan ada waktu tuk membangun
Kau jadikan semuanya indah
pada waktunya

Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak

Ada waktu untuk merombak
dan ada waktu tuk membangun
Kau jadikan semuanya indah (semua indah)
pada waktunya

Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai berasnya
sambil bersorak-sorak

Ho~ ho ho ho…

Walau kini ku menabur benih
sambil mencucurkan air mata
ku percaya suatu saat
ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak

Suatu saat ku kan menuai bekasnya
sambil bersorak-sorak


Tiba-tiba aku teringat sebuah kalimat yang diberikan oleh salah satu teman dan juga saudaraku untuk menghiburku waktu itu. Sebuah kalimat sederhana yang bahkan tidak sempurna EYD nya, namun dapat mengembalikan semangat dan gairahku (lebay*mode on).


Hanya dengan sebuah ungkapan “ tenanglah, semua akan terlihat indah pada waktunya”, rasa krisis kepercayaan diriku bisa berkurang dan menghilang (meskipun kadang dengan malu-malu dia datang lagi).


Tadi sekilas aku teringat kalimat itu, dan segera saja kutanyakan pada assisstenku yang selalu siap sedia kapanpun aku membutuhkannya “Mr. Google”, apa dan darimana sebenarnya kalimat itu muncul sehingga terlihat sederhana tetapi berkesan mendalam.

Seperti biasa, assisstenku Mr. Google itu selalu saja memberikan keterangan yang melebar. Setelah aku buat mengkerucut, ternyata ada beberapa kunci yang bisa aku simpulkan sendiri.


Kalimat sederhana tetapi kuat itu, rupanya berasal dari sebuah bacaan saudara-saudaraku yang berkeyakinan lain. Bacaan aslinya :

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."


Dan setelah aku lihat lagi, ternyata ada juga lagunya yang dinyanyikan dalam dua versi (lirik2 di atas_red). Lagu yang pertama dinyanyikan oleh Delon feat Irene dengan video klip berlatarkan kampus. Lagu yang kedua dinyanyikan oleh Feby Febiola feat Wawan dengan vvideo klip bertalarkan Samosir.


Aku menyukai kedua lagu itu, karena keduanya dilantunkan dengan merdu dan menyejukkan. Semoga aku dapat semakin mengerti dan memahami baris demi baris, lembar demi lembar kehidupan ini sehingga bisa menjalaninya dengan lapang dada. Karena aku akan selalu mencoba percaya, bahwa semua akan terasa indah pada waktunya….

Tony and Maureen Wheeler

Dua orang yang sangat mengispirasiku. Dua orang yang telah puluhan tahun yang lalu mewujudkan salah satu dari daftar mimpiku. Mereka sukses dengan hebatnya menjadikan acara jalan-jalan sebagai sumber penghasilan.

Mungkin aku tergolong terlambat dalam mengetahui keberadaan dua orang hebat itu di muka bumi ini, karena aku baru tahu seluk-beluknya awal tahun ini. Ketika sedang melihat-lihat buku di toko buku besar yang ada di pusat kota, “Dia” menyodorkan buku berwarna biru dengan gambar sampul berupa foto dua orang bule.

“apaan itu??” tanyaku.
“ Cob abaca ini. Cocok banget sama mimpimu.” Katanya
“ tentang apa??” kebiasaanku malas membaca dan lebih memilih mendapat kesimpulannya dulu kumat lagi.
“ Tentang bule yang jalan-jalan, terus mendokumentasikan perjalanannya dan dijadikan buku panduan perjalanan. Kalau kamu jalan-jalan ke tempat wisata di dunia yang banyak dikunjungi bule-bule, pati mereka pegang buku ini sebagai panduan. Waktu aku di Angkorwat juga iya, semua bulenya pegang buku ini.tapi ini edisi cerita bagaimana usaha itu dimulai” Jelasnya panjang lebar.

Akupun langsung mengambil buku itu dan membaca ringkasannya. “The Lonely Planet” memang ternyata buku itu adalah buku yang menginspirasiku. Langsung deh aku beli satu buku itu. namun sayang, sampai saat ini aku masih belum bisa menyelesaikan membaca buku itu. ada saja alasan untuk tidak jadi menuntaskan buku itu.

Tony and Maureen Wheleer memang merupakan pasangan yang dahsyat sekali menurutku. Dari seorang backpacker yang hidup pas-pasan, kemudian menjadi konglomerat dengan mendalami hobinya.

Apakah suatu saat nanti aka nada Wilis Juharini yang sanggup seperti itu?? hehehhee

Tuesday, June 23, 2009

Antara lelaki itu, Wanita itu, dan Kami

Aku bertemu mereka dalam waktu yang berbeda. Dengan lelakinya (kita akan panggil “lelaki”), aku bertemu 5 tahun yang lalu, sedangkan dengan wanitanya (kita akan panggil “wanita”) aku bertemu 4 tahun yang lalu. Sebuah waktu yang tidak sebentar sebenarnya. Aku bertemu mereka saat mereka masih sendiri-sendiri. Karena kebersamaan dalam setiap kegiatan dan acara, kami semua menjadi keluarga. Bersama dengan saudara-saudara yang lainya tentunya.

Sekitar 2 tahun yang lalu, ketika kami semua masih menyukai pergosipan dan belum naik tingkat perfaktaan seperti sekarang ini, ada berita atau desas-desus yang mengatakan bahwa mereka telah menjalin hubungan. Namun entah mengapa, tak ada satupun dari mereka yang mengakui hal itu.

Mereka selalu menghindar jika ditanya mengenai hubungan mereka. Sungguh bukan sifat dasar kekeluargaan yang kami bangun selama ini.

Ada beberapa saksi kunci yang melihat bagaimana mereka menjalin hubungan di belakang kami semua. Hehehe…..mungkin mereka memang menyukai sesuatu yang berjalan di belakang, sehingga terasa lebih menantang.

Saudaraku yang hitam, cerewet, dan otaknya selalu penuh dengan hal-hal yang nggak jauh-jauh dari selangkangan (istilah untuk hal2 porno dan jorok_red) kita akan memanggilnya “si hitam”, pernah pergi bersama mereka dalam sebuah survey kecil. Mereka membawa tenda yang digunakan bersama. Kebetulan sewaktu tidur, si hitam itu mengambil tempat di tengah, diantara kedua orang itu. entah bagaimana caranya, tengah malam dia terbangun. Saat itu dia merasakan adanya gerakan-gerakan di samping kanan kirinya. Diapun menyimak dengan seksama, apa yang terjadi saat itu. semakin lama pergerakan2 itu semakin ritmis dan menuju ke satu arah, yaitu bagian atas kepalanya. Dan tanpa di duga tanpa dinyana, si hitam akhirnya mendengar suara yang sangat tidak asing buatnya (karena diapun sering membuat bunyi2 semacam itu_red).

“mmmmuuuuaaacccchhhh….”
“ astaga, apa yang sedang terjadi di atas kepalaku ini???” Tanya si hitam dari dalam hati.
Setelah “insiden suara” itu, si hitam mengaku tidak bisa tidur. Selain jadi memikirkan apa dan siapa yang sedang mabuk ini, dia juga merasakan bahwa gerakan-gerakan itu masih saja terus terjadi.

Pada akhirnya dia merasakan bahwa wanita itu memelukkan tangannya di perut si hitam. Hampir saja si hitam itu terharu karena dipeluk seorang sahabat, jika saja tidak segera menyadari bahwa ternyata ujung tangan wanita itu berada di tangan lelaki itu. hwaaaaaa…..
Akhirnya, pagi pun menghampiri mereka semua. Karena harus begadang malam itu, si hitam bangun paling akhir. Dan ketika matanya sudah terbiasa dengan cahaya terang dalam tenda itu, dia menyadari bahwa dia tinggal sendiri. Diapun berniat keluar untuk sekedar mencuci muka melalui pintu belakang tenda. Saat menjulurkan kepala keluar, kembali lagi dia dihadapkan pada kejutan pagi hari.

Dia melihat si lelaki itu berdiri memandang kea rah sungai. Dan wanita itu berjalan dari belakangnya, dan langsung memeluk si lelaki dari belakang. Mereka terlihat sangat romantic…. Mungkin kalau si hitam itu adalah “fitri tropika”, maka dia akan segera berteriak :
“ooohhhh…..so sweeeetttt…..romantic…” hehehe
Dan si hitampun tak dapat bicara, dan memlih untuk masuk kembali ke peraduan sambil tersenyum2 karena banyak sekali bukti/fakta yang akan bisa dibagi dengan saudara-saudara yang lainnya.

Fakta-fakta kecilpun terungkap setelah kejadian yang kami sebut dengan “tenda bergoyang” itu. tetapi dari sekian banyak fakta, ada satu fakta yang sangat penting karena akibat yang ditimbulkan dari fakta itu masih ada sampai hari ini.

Saat itu, aku dan saudaraku yang tak kalah hitam dan tak kalah cerewet dengan si hitam sedang berjalan2 ke sebuah kota. Sebutlah namanya si hitam 2. Kami pergi selama beberapa hari dan sempat tinggal di rumahku juga. Saat hari sudah menjelang akhir kepulangan kami, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota membeli oleh-oleh. Dengan naik motor, kami keliling kota dan akhirnya mentok di pusat perbelanjaan.
Rupanya saat itu memang musim liburan, sehingga pusat kota itu sangatlah penuh sesak. Parkir penuh dimana-mana. Orang2 berjalan kaki di kanan kiri jalan. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir. Si hitam 2 pun turun dan aku berusaha menyelipkan motorku di barisan motor-motor lainnya.

Sekilas lalu, aku melihat sosok yang aku kenal. Tanpa piker panjang dan tanpa mempertmbangkan apakah itu benar dia atau bukan, aku langsung berteriak “lelaki…….” Hahaha….sampai2 pak parkir ikut kesulitan membantuku memarkir motor karena terlalu terburu-buru.

Si hitam 2 kebingungan melihat aku berteriak nggak jelas begitu. Namun setelah melihat apa yang telah membuatku berteriak, diapun ikut-ikutan berteriak. Aku melihat sewaktu berjalan, lelaki itu bersama dengan orang lain. Dan ternyata setelah kami hampiri, orang itu adalah si wanita. Hayyoooo……liburan ke luar kota ya???

Apa yang terjadi setelah itu, bukan merupakan hal yang mengenakkan akibatnya. Oleh karena itu, tidak akan aku ceritakan. Hehehe….

Monday, June 22, 2009

Tetap Ada Yang Terbaik.....

Aku menemukan dan ditemukan seseorang 4 tahun yang lalu.
Dia menemukanku dalam kondisi culun, muda, baru, masih hijau kalau kata orang.
Aku menemukan dia dalam kondisi rapuh, bebas, sendiri, tertekan.
Pertemuan yang bukan tanpa sengaja dan tidak secepat kilat itu membuat warna tersendiri dalam perjalanan ini.
Waktu memang membuat kita semakin tua. Namun waktu tidak memaksa kita untuk menjadi dewasa. Waktu juga yang memberikan kesempatan kepada kita untuk membuat warna baru dalam hidup, tanpa melupakan warna-warna yang silam.
Sekarang aku masih bisa menemukannya, dan diapun masih bisa menemukan aku.
Kami masih bisa saling menemukan dengan mudah. Aku menemukannya dalam kondisi rentan, stabil, lepas. Dia menemukan aku dalam kondisi rapuh, gamang, tapi optimis. Waktu telah berkata sedikit. Dia mengatakan padaku bahwa kami masih tak jauh beda dengan waktu itu. hampir tidak ada yang berubah.
Meskipun tak banyak perubahan dari aku dan dia, namum perubahan warna dalam perjalanan kami sangatlah bervariasi.
Jarak, waktu, dan perbedaan. Selalu berjalan sejajar dengan perjalanan hidup ini. Banyak hal yang mengisi perjalanan ini, yang menambah warnanya.
Banyak hal yang aku temui, banyak hal yang menemuiku. Meskipun banyak kebaikan dan ketidakbaikan, tetapi tetap saja ada yang terbaik.
Sampai saat ini….Dia masih menjadi salah satu yang terbaik dari yang baik...

Penikmat Kopi

Orang bilang, minum kopi itu nggak bagus buat kesehatan. Ada yang bilang bikin sakit jantung, mempercepat osteoporosis, merusak kekebalan tubuh, merusak gigi, dll. Mungkin kopi selayaknya rokok kali ya….membuat addicted. Kalau memang begitu, pastinya sekarang ini aku udah terjangkiti addicted kopi…
Tak ada hari tanpa aku minum kopi. Memang bukan kopi hitam sih…hanya kopi susu. Kadang yang pake coco granule, kadang yang masih ada ampasnya. Tapi tetep aja namanya kopi yang berkafein.
Dalam kondisi normal, aku pasti minum kopi sekali dalam sehari. Nah, kalau udah ngantuk parah pasti bisa sampai 2 gelas sehari. Bayangkan coba ya….betapa aku sudah sangat tergantung pada zat yang bernama kopi.
Lalu, pertanyaannya adalah : apakah benar kopi itu membuat kita tidak mengantuk??mungkin untuk kebanyakan orang, hal itu benar adanya. Tetapi, sepertinya pula untukku tidak berlaku sedemikian persisnya. Terkadang memang aku merasa begitu, langsung melek setelah minum segelas kopi. Tetapi tidak jarang pula, setelah aku minum secangkir kopi, mata malah semakin berat dan semakin pulas tidurku. Hwakaakakkaka…..
Saat ini, aku sudah jarang merasakan sensasi minum kopi yang membuat darah seolah mengalir deras, energy seolah bertambah, dan mata seolah semakin jernih. Mungkin saat ini, aku minum kopi selayaknya minum air the manis.
Padahal saat aku menyeduh kopi, aku selalu menggunakan air segelas penuh lho….sampai seringkali aku diprotes oleh orang-orang disekitarku. Mereka banyak berkomentar :
“Ih, bikin kopi apa bikin kolak..”
“Aduh, hambar banget rasanya..”
“Ppuah….rasa air doank…”
“Mana kerasa kalo airnya segentong kayak gini..”

Hahahaa……
Ya begitulah soddara-soddara….kalau aku bikin kopi, bukan kentelnya yang aku cari, tetapi yang penting ada rasa kopi, ada rasa manis, dan ada rasa hangatnya. :P

Jadi, aku tidak layak disebut sebagai pencinta kopi, tetapi lebih tepat disebut penikmat kopi.

Monday, June 15, 2009

Nonton Gratisan Lho….

Terakhir kali aku nonton di bioskop, adalah film Night at the museum 2 yang beruntung karena ku tonton (kepedean*mode on). Dan yang paling gress dari aku adalah tadi malam. Jam 19.00-21.00 WIB.

Dulu, sewaktu Habiburrahman El Shirazy berkolaborasi dengan Hanung Bramantyo menggemparkan jagad perfilman Indonesia (lebay*mode on) dengan filmnya yang based on novel bestseller “Ayat-ayat cinta”, semua orang heboh. Selama film sedang digarap, orang sibuk mengira-ira seperti apa nanti jadinya, sibuk mengikuti berita di media cetak mengenai review novel, sibuk ikut bedah buku, dan rame-rame beli bukunya sehingga waktu aku menyambangi salah satu toko buku di pusat perbelanjaan kota Bogor, aku harus masuk dalam waiting list pembeli. Dan setelah film di rilis, langsung saja bioskop-bioskop dibanjiri para penonton. Studio yang menayangkan film itupun ditambah. Hampir semua orang, terutama mahasiswa yang aku temui pasti menceritakan perihal film itu.

Seminggu kemudian, aku merasa sudah waktunya menonton film itu karena dengan tenggang waktu satu minggu itu, pastinya studio-studio di gedung bioskop sudah mulai kosong dan sepi. Ternyata eh ternyata, harapan dan perkiraanku itu meleset. Bioskop tetap ramai dan penuh. Tapi untungnya, salah satu pemandangan yang aku suka cukup mendominasi, jadi aku todak terlalu harus merasa bête. Yo….pemandangan dimana satu keluarga yang terdiri dari bapak2 (umur 40-50 an), bersama dengan Ibu (seumuranlah..), dan beberapa orang putra-putrinya (anak2nya yang sudah dewasa, remaja, maupun yang masih anak2), menonton bioskop bersama. Hoooouuuhhhh……too tweeeeetttt…..(so sweet maksudnya). Keliatan harmonis, akrab, dekat, dan gaul gitu lho….:P

Dan demam film kembali disebabkan oleh pengarang novel itu, Habiburrahman El Shirazy. Tapi kali ini tandem dengan Chaerul umam sebagai sutradaranya. Ketika film sedang dip roses, desas-desus sudah santer terdengar seputar film itu. aku sempat baca beberapa bab bukunya (hasil pinjem punya Kaltika), tetapi rasanya aku tidak bisa berkomentar. Jauh dari bukunya yang pertama, buku yang kedua ini koq rasanya ribet sekali ya. Itu penilaianku lho….dan ketika film dirilis di semua bioskop di Indonesia, sudah barang tentu kehebohan terjadi kembali. Dan aku, seperti biasa, menunggu saat yang tidak terlalu padat penduduk lagi untuk nonton. Dan itu adalah semalam. Beberapa hari setelah rilis.

Berawal dari tawaran dari orang yang akan berangkat kondangan, didepan pintu gerbang rumah. Dia hanya bertanya singkat : “udah nonton KCB?” dan aku menjawab : “belum”. Dia bilang lagi : “nonton yuk…”. Akupun bertanya : “kapan?” dia menjawab : “nanti sore”. Dan aku hanya menjawab : “ok”. Dan diapun pergi kondangan.

Aku memutuskan untuk menonton film yang jam 18.20 WIB (setelah browsing ke webnya cinema itu ya) dengan harapan pulang tidak terlalu malam. Jadilah kami berdua naik motor kesayangan ke tempat nonton. Kami segera menuju ke bagian penjualan tiket, dan berniat membeli langsung tiket yang jam 18.30. tetapi sayangnya, sewaktu melihat formasi tempat duduk, tigaperempat kebelakang dari tempat duduk sudah terisi. Tinggal bangku2 depan yang masih kosong. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket yang setelah itu. jam 19.00. dan sambil menunggu, kami memilih untuk membeli makanan saja.

Dari sini, aku sudah mulai melihat adanya perbedaan antusiasme penonton. Ketika film ayat-ayat cinta diputar, aku menonton seminggu setelah rilis. Dan saat itu, bioskop masih saja penuh sesak, dan semua bangku terisi. Namun saat ini, ketika KCB diputar dan aku menonton beberapa hari setelah rilis, bangku hanya terisi tigaperempat saja.

Jam 19.15 kami sudah duduk manis dibarisan paling atas ruangan itu, sehingga daya tangkap mata kami menjadi paling luas. Kami berusaha menonton dengan khusyuk, tapi ternyata tidak bisa. Selalu ada diskusi kecil yang membahas film yang sedang berlangsung itu. ada juga selingan tawa ketika ada sesuatu yang janggal. Satu kejadian unik dan lucu menurutku adalah ketika adegan di sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah, dimana ada dua pemeran wanita sedang ngobrol di depan rumah itu, dan satu pemeran lagi sedang berjalan menuju rumah. Ketika pemeran yang berjalan itu sudah semakin dekat dengan rumah dan mulai menaiki tangga depan pintu, tiba-tiba terdengar suara salam kencang dari barisanku menonton, sebelah kanan. “Assalamu’alaikum”. Kontan semua orang tertawa. Sampai saat inipun aku masih belum tahu, apakah suara salam itu berasal dari film itu atau dari salah satu penonton yang duduk dibarisan sampingku, karena memang ada anak2 lucu disana.

Apa komentarku tentang film itu??? nggak ada maksud untuk mereview, memuji, menghina, mengagung-agungkan, melecehkan, ataupun sok pintar dalam menilai film itu. aku hanya ingin mengungkapkan pendapat sebagai penonton, karena kan film memang tujuannya untuk ditonton dan dinikmati semua orang. Aku sudah sempat membaca beberapa komentar para penonton KCB dari internet sebelumnya, jadi tidak begitu terkeejut dengan kenyataan yang ada. Meskipun aku bukan orang yang ahli dalam hal film, tetapi aku masih bisa merasakan kelembutan alur film. Dan untuk KCB, aku rasa memiliki tingkat pemotongan cerita yang kurang bagus.

Perpindahan gambar/move out nya terlalu nge-jump atau loncat2 secara kasar, sehingga jika kita jeli dalam menonton akan sangat terasa bahwa potongan2 kasar itu ternyata menganggu sekali. Selain itu aku kurang sreg dengan alur cerita yang semuanya tentang pernikahan. Bukan karena aku iri akibat belum menikah lho…hehehhe. Tetapi nampaknya tema semua pemeran adalah menikah, disuruh menikah, dipaksa menikah, ingin menikah, dan menikah-menikah yang lainnya. Sungguh seperti biro jodoh menurutku.

Ada sedikit kerancuan terhadap tokoh utama film itu, karena banyaknya tokoh2 yang di zoom out kisahnya. Jadi sepertinya semua pemeran atau sebagian besar pemeran adalah tokoh utama. Bahkan ketika masalah sidang/ujian hasil penelitian, yang diperlihatkan malah sidang dari tokoh bukan utama. Lieur euy…….banyak yang kurang pas untuk pemilihan adegan. Ada satu tokoh yang cukup lucu tapi bukan menarik buatku. Tokoh laki-laki yang diceritakan terkena penyakit ganas. Gaya bicaranya terlalu aneh dan lebay, layaknya orang membaca puisi. Dan bahasa tubuhnya juga terlihat sangat dibuat-buat. Sedikit mengganggu sih…

Diluar dari itu, memang tidak bisa dipungkiri bahwa film ini banyak sekali sisi lebihnya. Di antaranya, karena film ini total syutingnya di Mesir yang notabene tidak bisa ditembus perijinannya pada film ayat-ayat cinta. Selain itu, salut untuk tim casting pemeran wanita. Gila booo…..cantiq2 semua pemeran wanitanya. Suaranya juga bening2. Keren deh….

Keberadaan Alice Norin, Dedy Mizwar, Didi Petet, dan beberapa artis lainnya memang bisa membuat permainan kaku artis pendatang. Yah…namanya juga artis senior kan ya… atau mungkin karena aku ngefans dengan mereka??? Nggak juga sih…

Satu lagi yang aku suka adalah lagu-lagu yang digunakan. Ok banget. Ya…siapa lagi kalau bukan maestro music Indonesia Melly Guslow sama suaminya Anto Hoed yang menyentuhkan tangan emasnya itu. keren…keren…

Segitu dulu deh, tentang film KCB.
Untunglah aku di traktir sama mr. kondangan, jadinya apapun dan bagaimanapun filmnya tetep nggak rugi. Hehehe

Regards,
Wilis