Terakhir kali aku nonton di bioskop, adalah film Night at the museum 2 yang beruntung karena ku tonton (kepedean*mode on). Dan yang paling gress dari aku adalah tadi malam. Jam 19.00-21.00 WIB.
Dulu, sewaktu Habiburrahman El Shirazy berkolaborasi dengan Hanung Bramantyo menggemparkan jagad perfilman Indonesia (lebay*mode on) dengan filmnya yang based on novel bestseller “Ayat-ayat cinta”, semua orang heboh. Selama film sedang digarap, orang sibuk mengira-ira seperti apa nanti jadinya, sibuk mengikuti berita di media cetak mengenai review novel, sibuk ikut bedah buku, dan rame-rame beli bukunya sehingga waktu aku menyambangi salah satu toko buku di pusat perbelanjaan kota Bogor, aku harus masuk dalam waiting list pembeli. Dan setelah film di rilis, langsung saja bioskop-bioskop dibanjiri para penonton. Studio yang menayangkan film itupun ditambah. Hampir semua orang, terutama mahasiswa yang aku temui pasti menceritakan perihal film itu.
Seminggu kemudian, aku merasa sudah waktunya menonton film itu karena dengan tenggang waktu satu minggu itu, pastinya studio-studio di gedung bioskop sudah mulai kosong dan sepi. Ternyata eh ternyata, harapan dan perkiraanku itu meleset. Bioskop tetap ramai dan penuh. Tapi untungnya, salah satu pemandangan yang aku suka cukup mendominasi, jadi aku todak terlalu harus merasa bête. Yo….pemandangan dimana satu keluarga yang terdiri dari bapak2 (umur 40-50 an), bersama dengan Ibu (seumuranlah..), dan beberapa orang putra-putrinya (anak2nya yang sudah dewasa, remaja, maupun yang masih anak2), menonton bioskop bersama. Hoooouuuhhhh……too tweeeeetttt…..(so sweet maksudnya). Keliatan harmonis, akrab, dekat, dan gaul gitu lho….:P
Dan demam film kembali disebabkan oleh pengarang novel itu, Habiburrahman El Shirazy. Tapi kali ini tandem dengan Chaerul umam sebagai sutradaranya. Ketika film sedang dip roses, desas-desus sudah santer terdengar seputar film itu. aku sempat baca beberapa bab bukunya (hasil pinjem punya Kaltika), tetapi rasanya aku tidak bisa berkomentar. Jauh dari bukunya yang pertama, buku yang kedua ini koq rasanya ribet sekali ya. Itu penilaianku lho….dan ketika film dirilis di semua bioskop di Indonesia, sudah barang tentu kehebohan terjadi kembali. Dan aku, seperti biasa, menunggu saat yang tidak terlalu padat penduduk lagi untuk nonton. Dan itu adalah semalam. Beberapa hari setelah rilis.
Berawal dari tawaran dari orang yang akan berangkat kondangan, didepan pintu gerbang rumah. Dia hanya bertanya singkat : “udah nonton KCB?” dan aku menjawab : “belum”. Dia bilang lagi : “nonton yuk…”. Akupun bertanya : “kapan?” dia menjawab : “nanti sore”. Dan aku hanya menjawab : “ok”. Dan diapun pergi kondangan.
Aku memutuskan untuk menonton film yang jam 18.20 WIB (setelah browsing ke webnya cinema itu ya) dengan harapan pulang tidak terlalu malam. Jadilah kami berdua naik motor kesayangan ke tempat nonton. Kami segera menuju ke bagian penjualan tiket, dan berniat membeli langsung tiket yang jam 18.30. tetapi sayangnya, sewaktu melihat formasi tempat duduk, tigaperempat kebelakang dari tempat duduk sudah terisi. Tinggal bangku2 depan yang masih kosong. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket yang setelah itu. jam 19.00. dan sambil menunggu, kami memilih untuk membeli makanan saja.
Dari sini, aku sudah mulai melihat adanya perbedaan antusiasme penonton. Ketika film ayat-ayat cinta diputar, aku menonton seminggu setelah rilis. Dan saat itu, bioskop masih saja penuh sesak, dan semua bangku terisi. Namun saat ini, ketika KCB diputar dan aku menonton beberapa hari setelah rilis, bangku hanya terisi tigaperempat saja.
Jam 19.15 kami sudah duduk manis dibarisan paling atas ruangan itu, sehingga daya tangkap mata kami menjadi paling luas. Kami berusaha menonton dengan khusyuk, tapi ternyata tidak bisa. Selalu ada diskusi kecil yang membahas film yang sedang berlangsung itu. ada juga selingan tawa ketika ada sesuatu yang janggal. Satu kejadian unik dan lucu menurutku adalah ketika adegan di sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah, dimana ada dua pemeran wanita sedang ngobrol di depan rumah itu, dan satu pemeran lagi sedang berjalan menuju rumah. Ketika pemeran yang berjalan itu sudah semakin dekat dengan rumah dan mulai menaiki tangga depan pintu, tiba-tiba terdengar suara salam kencang dari barisanku menonton, sebelah kanan. “Assalamu’alaikum”. Kontan semua orang tertawa. Sampai saat inipun aku masih belum tahu, apakah suara salam itu berasal dari film itu atau dari salah satu penonton yang duduk dibarisan sampingku, karena memang ada anak2 lucu disana.
Apa komentarku tentang film itu??? nggak ada maksud untuk mereview, memuji, menghina, mengagung-agungkan, melecehkan, ataupun sok pintar dalam menilai film itu. aku hanya ingin mengungkapkan pendapat sebagai penonton, karena kan film memang tujuannya untuk ditonton dan dinikmati semua orang. Aku sudah sempat membaca beberapa komentar para penonton KCB dari internet sebelumnya, jadi tidak begitu terkeejut dengan kenyataan yang ada. Meskipun aku bukan orang yang ahli dalam hal film, tetapi aku masih bisa merasakan kelembutan alur film. Dan untuk KCB, aku rasa memiliki tingkat pemotongan cerita yang kurang bagus.
Perpindahan gambar/move out nya terlalu nge-jump atau loncat2 secara kasar, sehingga jika kita jeli dalam menonton akan sangat terasa bahwa potongan2 kasar itu ternyata menganggu sekali. Selain itu aku kurang sreg dengan alur cerita yang semuanya tentang pernikahan. Bukan karena aku iri akibat belum menikah lho…hehehhe. Tetapi nampaknya tema semua pemeran adalah menikah, disuruh menikah, dipaksa menikah, ingin menikah, dan menikah-menikah yang lainnya. Sungguh seperti biro jodoh menurutku.
Ada sedikit kerancuan terhadap tokoh utama film itu, karena banyaknya tokoh2 yang di zoom out kisahnya. Jadi sepertinya semua pemeran atau sebagian besar pemeran adalah tokoh utama. Bahkan ketika masalah sidang/ujian hasil penelitian, yang diperlihatkan malah sidang dari tokoh bukan utama. Lieur euy…….banyak yang kurang pas untuk pemilihan adegan. Ada satu tokoh yang cukup lucu tapi bukan menarik buatku. Tokoh laki-laki yang diceritakan terkena penyakit ganas. Gaya bicaranya terlalu aneh dan lebay, layaknya orang membaca puisi. Dan bahasa tubuhnya juga terlihat sangat dibuat-buat. Sedikit mengganggu sih…
Diluar dari itu, memang tidak bisa dipungkiri bahwa film ini banyak sekali sisi lebihnya. Di antaranya, karena film ini total syutingnya di Mesir yang notabene tidak bisa ditembus perijinannya pada film ayat-ayat cinta. Selain itu, salut untuk tim casting pemeran wanita. Gila booo…..cantiq2 semua pemeran wanitanya. Suaranya juga bening2. Keren deh….
Keberadaan Alice Norin, Dedy Mizwar, Didi Petet, dan beberapa artis lainnya memang bisa membuat permainan kaku artis pendatang. Yah…namanya juga artis senior kan ya… atau mungkin karena aku ngefans dengan mereka??? Nggak juga sih…
Satu lagi yang aku suka adalah lagu-lagu yang digunakan. Ok banget. Ya…siapa lagi kalau bukan maestro music Indonesia Melly Guslow sama suaminya Anto Hoed yang menyentuhkan tangan emasnya itu. keren…keren…
Segitu dulu deh, tentang film KCB.
Untunglah aku di traktir sama mr. kondangan, jadinya apapun dan bagaimanapun filmnya tetep nggak rugi. Hehehe
Regards,
Wilis
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Sepertinya, belakangan ini aku di paksa untuk bersahabat dan sekaligus bermusuhan dengan beberapa hal baru. Beberapa hal yang beraneka rupa ...
-
Saya selalu percaya bahwa Tuhan menciptakan alam beserta isinya secara menyeluruh... Tidak terpisah-pisah, dan tidak tanpa alasan... Saya ...
-
Liburan... Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi ...
No comments:
Post a Comment