Wednesday, June 24, 2009
Tony and Maureen Wheeler
Mungkin aku tergolong terlambat dalam mengetahui keberadaan dua orang hebat itu di muka bumi ini, karena aku baru tahu seluk-beluknya awal tahun ini. Ketika sedang melihat-lihat buku di toko buku besar yang ada di pusat kota, “Dia” menyodorkan buku berwarna biru dengan gambar sampul berupa foto dua orang bule.
“apaan itu??” tanyaku.
“ Cob abaca ini. Cocok banget sama mimpimu.” Katanya
“ tentang apa??” kebiasaanku malas membaca dan lebih memilih mendapat kesimpulannya dulu kumat lagi.
“ Tentang bule yang jalan-jalan, terus mendokumentasikan perjalanannya dan dijadikan buku panduan perjalanan. Kalau kamu jalan-jalan ke tempat wisata di dunia yang banyak dikunjungi bule-bule, pati mereka pegang buku ini sebagai panduan. Waktu aku di Angkorwat juga iya, semua bulenya pegang buku ini.tapi ini edisi cerita bagaimana usaha itu dimulai” Jelasnya panjang lebar.
Akupun langsung mengambil buku itu dan membaca ringkasannya. “The Lonely Planet” memang ternyata buku itu adalah buku yang menginspirasiku. Langsung deh aku beli satu buku itu. namun sayang, sampai saat ini aku masih belum bisa menyelesaikan membaca buku itu. ada saja alasan untuk tidak jadi menuntaskan buku itu.
Tony and Maureen Wheleer memang merupakan pasangan yang dahsyat sekali menurutku. Dari seorang backpacker yang hidup pas-pasan, kemudian menjadi konglomerat dengan mendalami hobinya.
Apakah suatu saat nanti aka nada Wilis Juharini yang sanggup seperti itu?? hehehhee
Tuesday, June 23, 2009
Antara lelaki itu, Wanita itu, dan Kami
Sekitar 2 tahun yang lalu, ketika kami semua masih menyukai pergosipan dan belum naik tingkat perfaktaan seperti sekarang ini, ada berita atau desas-desus yang mengatakan bahwa mereka telah menjalin hubungan. Namun entah mengapa, tak ada satupun dari mereka yang mengakui hal itu.
Mereka selalu menghindar jika ditanya mengenai hubungan mereka. Sungguh bukan sifat dasar kekeluargaan yang kami bangun selama ini.
Ada beberapa saksi kunci yang melihat bagaimana mereka menjalin hubungan di belakang kami semua. Hehehe…..mungkin mereka memang menyukai sesuatu yang berjalan di belakang, sehingga terasa lebih menantang.
Saudaraku yang hitam, cerewet, dan otaknya selalu penuh dengan hal-hal yang nggak jauh-jauh dari selangkangan (istilah untuk hal2 porno dan jorok_red) kita akan memanggilnya “si hitam”, pernah pergi bersama mereka dalam sebuah survey kecil. Mereka membawa tenda yang digunakan bersama. Kebetulan sewaktu tidur, si hitam itu mengambil tempat di tengah, diantara kedua orang itu. entah bagaimana caranya, tengah malam dia terbangun. Saat itu dia merasakan adanya gerakan-gerakan di samping kanan kirinya. Diapun menyimak dengan seksama, apa yang terjadi saat itu. semakin lama pergerakan2 itu semakin ritmis dan menuju ke satu arah, yaitu bagian atas kepalanya. Dan tanpa di duga tanpa dinyana, si hitam akhirnya mendengar suara yang sangat tidak asing buatnya (karena diapun sering membuat bunyi2 semacam itu_red).
“mmmmuuuuaaacccchhhh….”
“ astaga, apa yang sedang terjadi di atas kepalaku ini???” Tanya si hitam dari dalam hati.
Setelah “insiden suara” itu, si hitam mengaku tidak bisa tidur. Selain jadi memikirkan apa dan siapa yang sedang mabuk ini, dia juga merasakan bahwa gerakan-gerakan itu masih saja terus terjadi.
Pada akhirnya dia merasakan bahwa wanita itu memelukkan tangannya di perut si hitam. Hampir saja si hitam itu terharu karena dipeluk seorang sahabat, jika saja tidak segera menyadari bahwa ternyata ujung tangan wanita itu berada di tangan lelaki itu. hwaaaaaa…..
Akhirnya, pagi pun menghampiri mereka semua. Karena harus begadang malam itu, si hitam bangun paling akhir. Dan ketika matanya sudah terbiasa dengan cahaya terang dalam tenda itu, dia menyadari bahwa dia tinggal sendiri. Diapun berniat keluar untuk sekedar mencuci muka melalui pintu belakang tenda. Saat menjulurkan kepala keluar, kembali lagi dia dihadapkan pada kejutan pagi hari.
Dia melihat si lelaki itu berdiri memandang kea rah sungai. Dan wanita itu berjalan dari belakangnya, dan langsung memeluk si lelaki dari belakang. Mereka terlihat sangat romantic…. Mungkin kalau si hitam itu adalah “fitri tropika”, maka dia akan segera berteriak :
“ooohhhh…..so sweeeetttt…..romantic…” hehehe
Dan si hitampun tak dapat bicara, dan memlih untuk masuk kembali ke peraduan sambil tersenyum2 karena banyak sekali bukti/fakta yang akan bisa dibagi dengan saudara-saudara yang lainnya.
Fakta-fakta kecilpun terungkap setelah kejadian yang kami sebut dengan “tenda bergoyang” itu. tetapi dari sekian banyak fakta, ada satu fakta yang sangat penting karena akibat yang ditimbulkan dari fakta itu masih ada sampai hari ini.
Saat itu, aku dan saudaraku yang tak kalah hitam dan tak kalah cerewet dengan si hitam sedang berjalan2 ke sebuah kota. Sebutlah namanya si hitam 2. Kami pergi selama beberapa hari dan sempat tinggal di rumahku juga. Saat hari sudah menjelang akhir kepulangan kami, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pusat kota membeli oleh-oleh. Dengan naik motor, kami keliling kota dan akhirnya mentok di pusat perbelanjaan.
Rupanya saat itu memang musim liburan, sehingga pusat kota itu sangatlah penuh sesak. Parkir penuh dimana-mana. Orang2 berjalan kaki di kanan kiri jalan. Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir. Si hitam 2 pun turun dan aku berusaha menyelipkan motorku di barisan motor-motor lainnya.
Sekilas lalu, aku melihat sosok yang aku kenal. Tanpa piker panjang dan tanpa mempertmbangkan apakah itu benar dia atau bukan, aku langsung berteriak “lelaki…….” Hahaha….sampai2 pak parkir ikut kesulitan membantuku memarkir motor karena terlalu terburu-buru.
Si hitam 2 kebingungan melihat aku berteriak nggak jelas begitu. Namun setelah melihat apa yang telah membuatku berteriak, diapun ikut-ikutan berteriak. Aku melihat sewaktu berjalan, lelaki itu bersama dengan orang lain. Dan ternyata setelah kami hampiri, orang itu adalah si wanita. Hayyoooo……liburan ke luar kota ya???
Apa yang terjadi setelah itu, bukan merupakan hal yang mengenakkan akibatnya. Oleh karena itu, tidak akan aku ceritakan. Hehehe….
Monday, June 22, 2009
Tetap Ada Yang Terbaik.....
Dia menemukanku dalam kondisi culun, muda, baru, masih hijau kalau kata orang.
Aku menemukan dia dalam kondisi rapuh, bebas, sendiri, tertekan.
Pertemuan yang bukan tanpa sengaja dan tidak secepat kilat itu membuat warna tersendiri dalam perjalanan ini.
Waktu memang membuat kita semakin tua. Namun waktu tidak memaksa kita untuk menjadi dewasa. Waktu juga yang memberikan kesempatan kepada kita untuk membuat warna baru dalam hidup, tanpa melupakan warna-warna yang silam.
Sekarang aku masih bisa menemukannya, dan diapun masih bisa menemukan aku.
Kami masih bisa saling menemukan dengan mudah. Aku menemukannya dalam kondisi rentan, stabil, lepas. Dia menemukan aku dalam kondisi rapuh, gamang, tapi optimis. Waktu telah berkata sedikit. Dia mengatakan padaku bahwa kami masih tak jauh beda dengan waktu itu. hampir tidak ada yang berubah.
Meskipun tak banyak perubahan dari aku dan dia, namum perubahan warna dalam perjalanan kami sangatlah bervariasi.
Jarak, waktu, dan perbedaan. Selalu berjalan sejajar dengan perjalanan hidup ini. Banyak hal yang mengisi perjalanan ini, yang menambah warnanya.
Banyak hal yang aku temui, banyak hal yang menemuiku. Meskipun banyak kebaikan dan ketidakbaikan, tetapi tetap saja ada yang terbaik.
Sampai saat ini….Dia masih menjadi salah satu yang terbaik dari yang baik...
Penikmat Kopi
Tak ada hari tanpa aku minum kopi. Memang bukan kopi hitam sih…hanya kopi susu. Kadang yang pake coco granule, kadang yang masih ada ampasnya. Tapi tetep aja namanya kopi yang berkafein.
Dalam kondisi normal, aku pasti minum kopi sekali dalam sehari. Nah, kalau udah ngantuk parah pasti bisa sampai 2 gelas sehari. Bayangkan coba ya….betapa aku sudah sangat tergantung pada zat yang bernama kopi.
Lalu, pertanyaannya adalah : apakah benar kopi itu membuat kita tidak mengantuk??mungkin untuk kebanyakan orang, hal itu benar adanya. Tetapi, sepertinya pula untukku tidak berlaku sedemikian persisnya. Terkadang memang aku merasa begitu, langsung melek setelah minum segelas kopi. Tetapi tidak jarang pula, setelah aku minum secangkir kopi, mata malah semakin berat dan semakin pulas tidurku. Hwakaakakkaka…..
Saat ini, aku sudah jarang merasakan sensasi minum kopi yang membuat darah seolah mengalir deras, energy seolah bertambah, dan mata seolah semakin jernih. Mungkin saat ini, aku minum kopi selayaknya minum air the manis.
Padahal saat aku menyeduh kopi, aku selalu menggunakan air segelas penuh lho….sampai seringkali aku diprotes oleh orang-orang disekitarku. Mereka banyak berkomentar :
“Ih, bikin kopi apa bikin kolak..”
“Aduh, hambar banget rasanya..”
“Ppuah….rasa air doank…”
“Mana kerasa kalo airnya segentong kayak gini..”
Hahahaa……
Ya begitulah soddara-soddara….kalau aku bikin kopi, bukan kentelnya yang aku cari, tetapi yang penting ada rasa kopi, ada rasa manis, dan ada rasa hangatnya. :P
Jadi, aku tidak layak disebut sebagai pencinta kopi, tetapi lebih tepat disebut penikmat kopi.
Monday, June 15, 2009
Nonton Gratisan Lho….
Dulu, sewaktu Habiburrahman El Shirazy berkolaborasi dengan Hanung Bramantyo menggemparkan jagad perfilman Indonesia (lebay*mode on) dengan filmnya yang based on novel bestseller “Ayat-ayat cinta”, semua orang heboh. Selama film sedang digarap, orang sibuk mengira-ira seperti apa nanti jadinya, sibuk mengikuti berita di media cetak mengenai review novel, sibuk ikut bedah buku, dan rame-rame beli bukunya sehingga waktu aku menyambangi salah satu toko buku di pusat perbelanjaan kota Bogor, aku harus masuk dalam waiting list pembeli. Dan setelah film di rilis, langsung saja bioskop-bioskop dibanjiri para penonton. Studio yang menayangkan film itupun ditambah. Hampir semua orang, terutama mahasiswa yang aku temui pasti menceritakan perihal film itu.
Seminggu kemudian, aku merasa sudah waktunya menonton film itu karena dengan tenggang waktu satu minggu itu, pastinya studio-studio di gedung bioskop sudah mulai kosong dan sepi. Ternyata eh ternyata, harapan dan perkiraanku itu meleset. Bioskop tetap ramai dan penuh. Tapi untungnya, salah satu pemandangan yang aku suka cukup mendominasi, jadi aku todak terlalu harus merasa bĂȘte. Yo….pemandangan dimana satu keluarga yang terdiri dari bapak2 (umur 40-50 an), bersama dengan Ibu (seumuranlah..), dan beberapa orang putra-putrinya (anak2nya yang sudah dewasa, remaja, maupun yang masih anak2), menonton bioskop bersama. Hoooouuuhhhh……too tweeeeetttt…..(so sweet maksudnya). Keliatan harmonis, akrab, dekat, dan gaul gitu lho….:P
Dan demam film kembali disebabkan oleh pengarang novel itu, Habiburrahman El Shirazy. Tapi kali ini tandem dengan Chaerul umam sebagai sutradaranya. Ketika film sedang dip roses, desas-desus sudah santer terdengar seputar film itu. aku sempat baca beberapa bab bukunya (hasil pinjem punya Kaltika), tetapi rasanya aku tidak bisa berkomentar. Jauh dari bukunya yang pertama, buku yang kedua ini koq rasanya ribet sekali ya. Itu penilaianku lho….dan ketika film dirilis di semua bioskop di Indonesia, sudah barang tentu kehebohan terjadi kembali. Dan aku, seperti biasa, menunggu saat yang tidak terlalu padat penduduk lagi untuk nonton. Dan itu adalah semalam. Beberapa hari setelah rilis.
Berawal dari tawaran dari orang yang akan berangkat kondangan, didepan pintu gerbang rumah. Dia hanya bertanya singkat : “udah nonton KCB?” dan aku menjawab : “belum”. Dia bilang lagi : “nonton yuk…”. Akupun bertanya : “kapan?” dia menjawab : “nanti sore”. Dan aku hanya menjawab : “ok”. Dan diapun pergi kondangan.
Aku memutuskan untuk menonton film yang jam 18.20 WIB (setelah browsing ke webnya cinema itu ya) dengan harapan pulang tidak terlalu malam. Jadilah kami berdua naik motor kesayangan ke tempat nonton. Kami segera menuju ke bagian penjualan tiket, dan berniat membeli langsung tiket yang jam 18.30. tetapi sayangnya, sewaktu melihat formasi tempat duduk, tigaperempat kebelakang dari tempat duduk sudah terisi. Tinggal bangku2 depan yang masih kosong. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket yang setelah itu. jam 19.00. dan sambil menunggu, kami memilih untuk membeli makanan saja.
Dari sini, aku sudah mulai melihat adanya perbedaan antusiasme penonton. Ketika film ayat-ayat cinta diputar, aku menonton seminggu setelah rilis. Dan saat itu, bioskop masih saja penuh sesak, dan semua bangku terisi. Namun saat ini, ketika KCB diputar dan aku menonton beberapa hari setelah rilis, bangku hanya terisi tigaperempat saja.
Jam 19.15 kami sudah duduk manis dibarisan paling atas ruangan itu, sehingga daya tangkap mata kami menjadi paling luas. Kami berusaha menonton dengan khusyuk, tapi ternyata tidak bisa. Selalu ada diskusi kecil yang membahas film yang sedang berlangsung itu. ada juga selingan tawa ketika ada sesuatu yang janggal. Satu kejadian unik dan lucu menurutku adalah ketika adegan di sebuah rumah di Solo, Jawa Tengah, dimana ada dua pemeran wanita sedang ngobrol di depan rumah itu, dan satu pemeran lagi sedang berjalan menuju rumah. Ketika pemeran yang berjalan itu sudah semakin dekat dengan rumah dan mulai menaiki tangga depan pintu, tiba-tiba terdengar suara salam kencang dari barisanku menonton, sebelah kanan. “Assalamu’alaikum”. Kontan semua orang tertawa. Sampai saat inipun aku masih belum tahu, apakah suara salam itu berasal dari film itu atau dari salah satu penonton yang duduk dibarisan sampingku, karena memang ada anak2 lucu disana.
Apa komentarku tentang film itu??? nggak ada maksud untuk mereview, memuji, menghina, mengagung-agungkan, melecehkan, ataupun sok pintar dalam menilai film itu. aku hanya ingin mengungkapkan pendapat sebagai penonton, karena kan film memang tujuannya untuk ditonton dan dinikmati semua orang. Aku sudah sempat membaca beberapa komentar para penonton KCB dari internet sebelumnya, jadi tidak begitu terkeejut dengan kenyataan yang ada. Meskipun aku bukan orang yang ahli dalam hal film, tetapi aku masih bisa merasakan kelembutan alur film. Dan untuk KCB, aku rasa memiliki tingkat pemotongan cerita yang kurang bagus.
Perpindahan gambar/move out nya terlalu nge-jump atau loncat2 secara kasar, sehingga jika kita jeli dalam menonton akan sangat terasa bahwa potongan2 kasar itu ternyata menganggu sekali. Selain itu aku kurang sreg dengan alur cerita yang semuanya tentang pernikahan. Bukan karena aku iri akibat belum menikah lho…hehehhe. Tetapi nampaknya tema semua pemeran adalah menikah, disuruh menikah, dipaksa menikah, ingin menikah, dan menikah-menikah yang lainnya. Sungguh seperti biro jodoh menurutku.
Ada sedikit kerancuan terhadap tokoh utama film itu, karena banyaknya tokoh2 yang di zoom out kisahnya. Jadi sepertinya semua pemeran atau sebagian besar pemeran adalah tokoh utama. Bahkan ketika masalah sidang/ujian hasil penelitian, yang diperlihatkan malah sidang dari tokoh bukan utama. Lieur euy…….banyak yang kurang pas untuk pemilihan adegan. Ada satu tokoh yang cukup lucu tapi bukan menarik buatku. Tokoh laki-laki yang diceritakan terkena penyakit ganas. Gaya bicaranya terlalu aneh dan lebay, layaknya orang membaca puisi. Dan bahasa tubuhnya juga terlihat sangat dibuat-buat. Sedikit mengganggu sih…
Diluar dari itu, memang tidak bisa dipungkiri bahwa film ini banyak sekali sisi lebihnya. Di antaranya, karena film ini total syutingnya di Mesir yang notabene tidak bisa ditembus perijinannya pada film ayat-ayat cinta. Selain itu, salut untuk tim casting pemeran wanita. Gila booo…..cantiq2 semua pemeran wanitanya. Suaranya juga bening2. Keren deh….
Keberadaan Alice Norin, Dedy Mizwar, Didi Petet, dan beberapa artis lainnya memang bisa membuat permainan kaku artis pendatang. Yah…namanya juga artis senior kan ya… atau mungkin karena aku ngefans dengan mereka??? Nggak juga sih…
Satu lagi yang aku suka adalah lagu-lagu yang digunakan. Ok banget. Ya…siapa lagi kalau bukan maestro music Indonesia Melly Guslow sama suaminya Anto Hoed yang menyentuhkan tangan emasnya itu. keren…keren…
Segitu dulu deh, tentang film KCB.
Untunglah aku di traktir sama mr. kondangan, jadinya apapun dan bagaimanapun filmnya tetep nggak rugi. Hehehe
Regards,
Wilis
Sunday, June 14, 2009
I'll Be At Your Side....
Dulu, mereka adalah bagian dari aku
Dulu, apa yang aku lakukan adalah apa yang mereka lakukan
Dulu, apa yang aku lakukan banyak yang mereka tahu
Waktu itu, ada sesuatu
Waktu itu, terjadi sesuatu
Waktu itu, ada yang samar tapi rancu
Waktu itu, merubah segalanya
Luka itu, kecil
Luka itu, mungil
Luka itu, samar
Luka itu, ada
Luka itu, nyata
Sekarang, aku adalah aku sendiri
Sekarang, mereka adalah mereka dan diri mereka
Sekarang, aku masih biasa saja
Sekarang, mungkin mereka luar biasa
Ada yang datang, ada yang pergi
Ada yang bersama, ada yang berpisah
Ada yang bersuka, ada yang berduka
Semua ada sebagai satu pasangan yang sempurna,
Hanya jarak yang tak pernah ada bisa mengira
Satu yang harus selalu kuingat,
Bolehlah ada yang pergi, tapi jangan sampai ada yang hilang
Bolehlah ada yang berpisah, tapi jangan sampai banyak yang berubah
Bolehlah ada yang berduka, tapi jangan sampai ada yang terluka
Biarlah semua luka, tersimpan rapat dalam kotak Pandora
For all of mine,
Whatever you say, whatever you do, whatever you think…… Its nothing too lose
Coz I’ll be at your side
Regards,
Wilis
Enggano Comes True
Kemarin malam, di kosan curut n icha (Maharlika) dilakukan sebuah agenda yang cukup penting untuk gerak langkahku dan teman-teman. Impian untuk bisa ber-expedisi ke salah satu pulau terluar Indonesia di bagian barat, Pulau Enggano namanya.
Ya….beberapa bulan terakhir ini, kami (L-262, L-268, L-269, L-270, dan L-271) mengumpulkan niat dan kemauan menjadi team untuk mewujudkan sebuah expedisi pulau terluar Indonesia, Pulau Enggano. Expedisi ini berawal dari sebuah tawaran dari sekjen AMAN yang juga senior kami di organisasi. Beliau menawarkan kepada L-269 untuk menyusun sebuah proposal kecil untuk ekspedisi itu. Intinya, AMAN ingin membuat/mendokumentasikan profil masyarakat adat di Pulau Enggano secara menyeluruh dan mendalam. Agar kami bisa memperoleh tambahan dana, kami disarankan untuk membuat proposal dengan tema sesuka hati kami. Dan kamipun menyatakan diri sanggup. J
Dari 2 bulan yang lalu, kami telah membuat sebuah rancangan kegiatan dan di kirim kepada sekjen AMAN. Namun karena kesibukan beliau, maka sampai minggu kemarin kami belum menerima respon mengenai rencana tersebut. Sampai pada saat beberapa hari yang lalu, aku menerima email dari sebuah milist mengenai small grant. Aku pikir, mungkin kami bisa menggunakan kesempatan ini untuk maju menuju “ Enggano come true.”
Menanggapi small grant itu, maka kamipun melakukan beberapa kali koordinasi melalui email, dan diputuskanlah bahwa kami akan melakukan “tidur bersama” agar bisa mengeluarkan semua ide dan dapat membuat pertemuan yang berkualitas. Dan waktu itu adalah kemarin malam.
Kami berkumpul di kamar berukuran sekitar 3 x 4 yang padat dengan segala macam barang hingga suasana hangat bisa cepat berganti menjadi panas dan gerah. 1 kipas angin itu tak cukup membantu dengan adanya 5 orang wanita yang memiliki mulut, hidung, dan tenaga super yang membuat rebutan oksigen berlangsung dengan cepat. Tapi, itulah yang kami suka.
Perjanjian untuk mulai diskusi jam 08.00, baru terwujud ketika jam sudah menunjukkan pukul 10.00. kamipun memulai dengan memaksa L-269 untuk merefresh otak melalui presentasi dari awal sampai akhir. Namun itu tak berjalan lancer. Bahkan muncul pertanyaan dari L-270 yang membuat kami mendadak dangdut.
L-270 : “Ada yang punya atlas nggak sih??gw pengen liat letak Enggano donk…”
Kontan kamipun ngakak dan setress abis. Akupun menimpali dengan nada frustasi.
L-268 : “Lu nggak sekalian minta pinjem globe kan ???”
L-271 : “Lu udah baca belum sih proposal kita?”
L-270 : “ Udah…tapi belum semua..”
Akupun mencari proposal kami yang sudah di print dan melemparkan kepada L-270.
L-268 : “Nih, mendingan lu baca dulu deh proposal kita. Kalo udah baca bener-bener, lu bakalan tau apa lu perlu nggak menanyakan tentang atlas atau globe.”
Kami jengkel karena jelas-jelas di dalam proposal halaman awal ada peta Sumatra dan insert Pulau Enggano. Dasar L-270 memang suka error dan aneh-aneh sendiri.
Beberapa pertanyaan konyol, lugu, bodoh, dan aneh pun berseliweran setelahnya. Rupanya kami telah kehilangan satu sumberdaya manusia. L-262 sudah lelap di alam tidurnya. Nyenyak, pulas, dan tak terbangunkan. As usuall…L dan yang lebih parah lagi, kami yang masih bisa di bilang sadar/melek mata, belum bisa memfokuskan diri untuk memusatkan pikiran pada proposal dan substansi. Dan opsi yang muncul sebagai cara untuk mengembalikan semangat kami adalah dengan menonton film. Setelah mengubrek-ubrek file di computer, muncullah satu judul film Indonesia yang lumayan aneh. “Kawin kontrak lagi.” Hwakakakkakaka
Selesai nonton film, kami berusaha focus kembali. Dan memang lumayan berfungsi film itu. Muncul beberapa ide dan masukan untuk proposal kami.
Karena sebelum dimulai diskusi L-269 sudah berhasil menelpon Sekjen AMAN dan berhasil pula membuat janji untuk bertemu keesokan harinya (hari ini), maka malam itu kami berencana melengkapi data yang ada untuk persiapan bertemu dengan beliau, serta membuat cadangan data untuk small grant jika memang nanti diperlukan.
Ternyata meskipun dimulai dengan niat yang tulus, baik, dan bersemangat, mata tetap saja tidak bersemangat. Dan kami semuapun tertidur dengan sukses menyusul L-262. Sepertinya hanya L-269 sebagai leader yang masih memindah2kan datanya.
Dan sore ini, ketika aku sedang bersantai di secret seperti biasa, utusan yang bertemu dengan sekjen AMAN pun pulang dengan membawa hasil kabar baik. L-269 dan L-262 membawa kabar bahwa senior kami itu mengatakan bahwa kami tidak akan mengikuti small grant itu karena terlalu ribet dan rumit. Kami akan tetap berangkat dengan mencari sumber pendanaan lainnya. Namun kami masih perlu memperbaiki proposal kami dalam hal substansi, metodologi, dan data-data yang ada. Untuk ini, kami akan dibantu dengan kiriman data dari beliau.
Di samping itu juga, kami sudah bisa memulai persiapan untuk materi-materi penguatan teknis lapang nantinya. Kemungkinan, minggu depan kami akan memulai materi dan pendalaman dari beberapa orang.
Peluang makin terbuka lebar, jalanpun mulai terbuka, semoga semangat dan upaya bisa lebih dimaksimalkan oleh kami semua. Dan semoga tak ada aral dan cobaan yang merintangi jalan kami. Untuk mewujudkan sebuah ekspedisi pulau terluar negri ini.
L-262, L-268, L-269, L-270, dan L-271
Kita akan dan harus bisa menjadikan “ Enggano comes true”
Smangadh….!!!
Regards,
L-268
-
I dedicated this story to my buddy, one of my partner in crime, and my lucky friends, Ijah. She is the one who gave me this big challeng...
-
Alhamdulillah.... Million thanks to Allah SWT ... Untuk semua hal yang sudah diberikan-Nya kepadaku, kepada orang2 disekelilingku. Duu...
-
And again..... One year has gone.... :) I still on the way... I still on my way... :p There is a lotta love, Coz everybody needs a lotta lov...