Kemarin malam, di kosan curut n icha (Maharlika) dilakukan sebuah agenda yang cukup penting untuk gerak langkahku dan teman-teman. Impian untuk bisa ber-expedisi ke salah satu pulau terluar Indonesia di bagian barat, Pulau Enggano namanya.
Ya….beberapa bulan terakhir ini, kami (L-262, L-268, L-269, L-270, dan L-271) mengumpulkan niat dan kemauan menjadi team untuk mewujudkan sebuah expedisi pulau terluar Indonesia, Pulau Enggano. Expedisi ini berawal dari sebuah tawaran dari sekjen AMAN yang juga senior kami di organisasi. Beliau menawarkan kepada L-269 untuk menyusun sebuah proposal kecil untuk ekspedisi itu. Intinya, AMAN ingin membuat/mendokumentasikan profil masyarakat adat di Pulau Enggano secara menyeluruh dan mendalam. Agar kami bisa memperoleh tambahan dana, kami disarankan untuk membuat proposal dengan tema sesuka hati kami. Dan kamipun menyatakan diri sanggup. J
Dari 2 bulan yang lalu, kami telah membuat sebuah rancangan kegiatan dan di kirim kepada sekjen AMAN. Namun karena kesibukan beliau, maka sampai minggu kemarin kami belum menerima respon mengenai rencana tersebut. Sampai pada saat beberapa hari yang lalu, aku menerima email dari sebuah milist mengenai small grant. Aku pikir, mungkin kami bisa menggunakan kesempatan ini untuk maju menuju “ Enggano come true.”
Menanggapi small grant itu, maka kamipun melakukan beberapa kali koordinasi melalui email, dan diputuskanlah bahwa kami akan melakukan “tidur bersama” agar bisa mengeluarkan semua ide dan dapat membuat pertemuan yang berkualitas. Dan waktu itu adalah kemarin malam.
Kami berkumpul di kamar berukuran sekitar 3 x 4 yang padat dengan segala macam barang hingga suasana hangat bisa cepat berganti menjadi panas dan gerah. 1 kipas angin itu tak cukup membantu dengan adanya 5 orang wanita yang memiliki mulut, hidung, dan tenaga super yang membuat rebutan oksigen berlangsung dengan cepat. Tapi, itulah yang kami suka.
Perjanjian untuk mulai diskusi jam 08.00, baru terwujud ketika jam sudah menunjukkan pukul 10.00. kamipun memulai dengan memaksa L-269 untuk merefresh otak melalui presentasi dari awal sampai akhir. Namun itu tak berjalan lancer. Bahkan muncul pertanyaan dari L-270 yang membuat kami mendadak dangdut.
L-270 : “Ada yang punya atlas nggak sih??gw pengen liat letak Enggano donk…”
Kontan kamipun ngakak dan setress abis. Akupun menimpali dengan nada frustasi.
L-268 : “Lu nggak sekalian minta pinjem globe kan ???”
L-271 : “Lu udah baca belum sih proposal kita?”
L-270 : “ Udah…tapi belum semua..”
Akupun mencari proposal kami yang sudah di print dan melemparkan kepada L-270.
L-268 : “Nih, mendingan lu baca dulu deh proposal kita. Kalo udah baca bener-bener, lu bakalan tau apa lu perlu nggak menanyakan tentang atlas atau globe.”
Kami jengkel karena jelas-jelas di dalam proposal halaman awal ada peta Sumatra dan insert Pulau Enggano. Dasar L-270 memang suka error dan aneh-aneh sendiri.
Beberapa pertanyaan konyol, lugu, bodoh, dan aneh pun berseliweran setelahnya. Rupanya kami telah kehilangan satu sumberdaya manusia. L-262 sudah lelap di alam tidurnya. Nyenyak, pulas, dan tak terbangunkan. As usuall…L dan yang lebih parah lagi, kami yang masih bisa di bilang sadar/melek mata, belum bisa memfokuskan diri untuk memusatkan pikiran pada proposal dan substansi. Dan opsi yang muncul sebagai cara untuk mengembalikan semangat kami adalah dengan menonton film. Setelah mengubrek-ubrek file di computer, muncullah satu judul film Indonesia yang lumayan aneh. “Kawin kontrak lagi.” Hwakakakkakaka
Selesai nonton film, kami berusaha focus kembali. Dan memang lumayan berfungsi film itu. Muncul beberapa ide dan masukan untuk proposal kami.
Karena sebelum dimulai diskusi L-269 sudah berhasil menelpon Sekjen AMAN dan berhasil pula membuat janji untuk bertemu keesokan harinya (hari ini), maka malam itu kami berencana melengkapi data yang ada untuk persiapan bertemu dengan beliau, serta membuat cadangan data untuk small grant jika memang nanti diperlukan.
Ternyata meskipun dimulai dengan niat yang tulus, baik, dan bersemangat, mata tetap saja tidak bersemangat. Dan kami semuapun tertidur dengan sukses menyusul L-262. Sepertinya hanya L-269 sebagai leader yang masih memindah2kan datanya.
Dan sore ini, ketika aku sedang bersantai di secret seperti biasa, utusan yang bertemu dengan sekjen AMAN pun pulang dengan membawa hasil kabar baik. L-269 dan L-262 membawa kabar bahwa senior kami itu mengatakan bahwa kami tidak akan mengikuti small grant itu karena terlalu ribet dan rumit. Kami akan tetap berangkat dengan mencari sumber pendanaan lainnya. Namun kami masih perlu memperbaiki proposal kami dalam hal substansi, metodologi, dan data-data yang ada. Untuk ini, kami akan dibantu dengan kiriman data dari beliau.
Di samping itu juga, kami sudah bisa memulai persiapan untuk materi-materi penguatan teknis lapang nantinya. Kemungkinan, minggu depan kami akan memulai materi dan pendalaman dari beberapa orang.
Peluang makin terbuka lebar, jalanpun mulai terbuka, semoga semangat dan upaya bisa lebih dimaksimalkan oleh kami semua. Dan semoga tak ada aral dan cobaan yang merintangi jalan kami. Untuk mewujudkan sebuah ekspedisi pulau terluar negri ini.
L-262, L-268, L-269, L-270, dan L-271
Kita akan dan harus bisa menjadikan “ Enggano comes true”
Smangadh….!!!
Regards,
L-268
No comments:
Post a Comment