Tuesday, October 8, 2019

Catatan Najwa bersama Maudy Ayunda | Catatan Najwa

Maudy Ayunda...

Saya mulai jatuh cinta pada remaja yang mulai dewasa ini ketika dia bermain di film Perahu Kertas. Mungkin karena saya juga jatuh cinta pada buku perahu kertas itu sendiri. Suaranya ketika menyanyikan soundtrack lagu nya pun, membuat saya jatuh cinta semakin dalam.

Waktu berlalu, saya tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia permedsosan, begitu pula perkembangan Maudy. Hanya sekedar tau bahwa dia kuliah S1 di Oxford University.

Ternyata belakangan sempat membaca berita bahwa dia diserang dilemma untuk memilih kampus guna melanjutkan kuliah di jenjang S2. Kenapa dilemma? Karena dia diterima di Standford (which is one of her dream come true) dan juga Harvard (which she always wanted to go since she was a little girl). Nah loh... Gimana bebh?

Kemudian saya berfikir...
Selain Maudy, sebetulnya ada juga artis lain yang berhasil sekolah diluar negri dengan gemilang. Tapi karena saya sudah pernah jatuh cinta dan masih memelihara cinta ini pada Maudy, saya bahas Maudy saja.

Kembali saya berfikir...
Maudy ini sekolah di Mentari International School, kemudian lanjut SMU di British International School, kemudian kuliah di Oxford University, dan lanjut di Standford University. What a dream nggak sih?

Saya mikir lagi...
Sepertinya memilih sekolah jaman now (maksudnya jaman anak kita kecil begini), memang mau tidak mau didasarkan oleh pilihan "Kita pengen anak kita nanti kemana" deh. Meskipun banyak kemudian dibungkus alasan "Saya sih nggak maksain anak saya harus kemana atau gimana. Suka-suka mereka saja" atau "Saya sih milih sekolah yang nggak mengedepankan akademik" which is totally fine banget yekaaan.

Tapi kalau saya (dan mungkin orang lain jika mau cucur sama tahu) tanya lagi kedalam diri yang paling dalam, memilih sekolah anak saya bukan hanya karena "sekarang". Atau mungkin "sekarang dan after life" nya. Tapi sepertinya saya lebih kepada "sekarang, selama hidupnya, semoga bisa membuat baik pada after life nya karena dia banyak berguna dan memberikan manfaat pada kehidupan di bumi". Aamiin. #Sekalianberdoa

Saya jadi ingat perbincangan saya dengan teman baik saya mengenai pilihan sekolah anak kala itu, yang kurang lebih nya seperti ini:

Dia : "Aku sih ngelihatnya itu teman kita Si C. Dia disekolahkan bapak ibunya di sekolah yang dekat dengan rumahnya. Tapi sekarang kita lihat dia jadi anak yang tangguh kan. Bisa kuliah di negri. Bisa berhasil dan lo tau sendiri lah gimana dia".
Saya : "Iya sih. Tapi lo kepikiran nggak. Kalau misalkan nih ya, saat itu orang tuanya mau dan mampu menyekolahkan dia di tempat yang lain, yang mungkin seperti banyak sekolah jaman sekarang itu, kemudian dia akan menjadi lebih dahsyat dari sekarang? "
Dia : "Nggak tau ya. Aku sih nggak gitu melihatnya. Aku lebih ke aliran, sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dekat dari rumah, yang kalau perlu anak itu kesekolah naik sepeda aja. Kalau dia kita ajari dengan baik, dia malah bisa menjadi yang terbaik disekolahnya, dan bisa lebih mudah masuk sekolah selanjutnya karena nilainya lebih bagus dari teman-temannya kan?"
Saya : "mmm... Iya sih. Tapi kan kompetisi sehat diantara teman sebaya juga sangat membangun mental anak ya. Kalau misalkan dia menjadi lebih pintar dari teman-temannya terus karena anggaplah teman sekolahnya memang - biasa - aja, kan beda juga dengan kalau dia -biasa aja- diantara teman-temannya yang pintar-pintar kan?"

Dan melihat Maudy (dan teman-teman lainnya yang senasib), membuat saya menguatkan niat dan memperbanyak doa. Bukan karena saya ambisius dengan prestasi anak saya, tapi justru sebaliknya. Karena saya tidak berambisi meskipun penuh mimpi untuk masa depan anak saya. Ahahaha. Jadi, saya tidak berambisi agar anak saya menjadi pintar sekali atau paling pintar atau paling berprestasi (meskipun itu ada di doa saya setiap waktu), terus kemudian mendaftarkan dia ke sekian banyak les tambahan. Tidak Bambang!

Namun saya tetap ingin anak saya bisa melihat peluang, kesempatan, dan masa depan yang terbentang seluas samudra di luar sana. Caranya? Ya saya biarkan dia sekolah disekolah yang (katanya) banyak orang pinternya, agar dia terpacu. Saya kenalkan dan perlihatkan hal-hal positif dan luar biasa yang ditawarkan dunia beserta isinya di luar sana. Saya ajarkan betapa indahnya jika kita bisa memberikan setitik manfaat pada dunia yang mulai renta ini. Serta pastinya saya hembuskan harapan-harapan itu dalam setiap doa agar Allah SWT memeluknya, dan mengabulkannya pada saat Dia rasa paling tepat. Semoga saja semua itu menempel 5 cm didepan jidat anak saya juga. Aamiin.

Tapi ya kembali lagi, orang tua tetap numero uno untuk mengajarkan anaknya cara hidup yang baik.... Bismillah :-)

Jadi, kembali pada kita sebagai orang tua, yang bisa melihat setidaknya setengah meter lebih tinggi daripada anak kita, dan ribuan kali lebih luas daripada anak kita lah yang musti melihat arah... :-)


No comments: