Thursday, October 10, 2019

Is That You, My Friend?


Hari ini hati saya berduka. Sebetulnya Indonesia juga sedang berduka. Tapi Indonesia jaman now sepertinya sulit dibilang begitu.

Tadi siang, ketika saya sedang khusyuk melolot pada halaman excel report saya yang tak kunjung selesai, Mas Bojo saya tergesa-gesa masuk kamar kerja dan menunjukkan video singkat tentang upaya penyerangan yang dilakukan warga sipil kepada salah seorang Menteri yang sedang berkunjung. Pelakunya berhasil ditangkap, dan korban (yang ternyata ada 2 orang, Pak Mentri dan Pak Polsek) dilarikan ke rumah sakit.

Yang membuat saya terkejut adalah, pasangan yang ditangkap sepertinya satu agama dengan saya jika dilihat dari penampilan saja. Entahlah dari KTP nya. Mereka melakukan upaya pembunuhan ditempat terbuka, didepan anak-anak kecil. Saya sebagai seorang ibu rasanya kepingin melempar cobek beserta ulekannya kemuka pelaku tersebut. Tapi tenang, saya tidak suka anarki.

Apa yang mereka cari? Tenar? Sahid? Konyol? Uang? Entahlah... Semuanya terasa tidak masuk di akal saya. Apakah mereka tidak lagi mampu berfikir? Jika tidak mampu berfikir mengenai malaikat yang ada dipundak kanan kirinya, setidaknya berpikirlah bahwa anak-anak yang melihat aksi kalian akan  merasa trauma. Tapi tidak menutup kemungkinan merrka akan mencoba hal yang sama dimasa depan karena mereka penasaran dengan aksi kalian. Atau memang itu yang disasar pembentuk kalian? Kalau melihat muka polos kalian, sepertinya tindakan itu tidak lahir dari hati kalian sendiri juga. Itu asumsi saya.

Indonesia sedang berduka. Aksi main hakim sendiri, anarki, bar-bar, mulai terjadi. Sudah sepantasnya mereka dihukum seberat-beratnya, ditelusuri sampai ke akar-akarnya, agar semua orang yang berhati dan pikiran busuk seperti itu bisa ditindak seadil-adilnya.

Saya sedih sekali. Melihat NKRI dihina dina dina orang-orang yang berhati buta. Mencabik-cabik gemah ripah loh jinawi yang kita punyai sebagai warisan leluhur dan dan  pahlawan pendahulu kita. Rasanya saya kepingin menabgis. Harus bagaimana kami?

Saya sedih kembali, manakala membaca berita demi berita, tulisan demi tulisan, unggahab demi unggahan, dan obrolan demi obrolan yang berbunyi olokan. Hinaan. Doa-doa jelek. Bahkan tuduhan. Dan yang lebih sedih lagi, jika semua itu datang dari orang-orang yang saya kenal.

Temans...
Kita pernah bermain bersama... Kita semua sama yang adalah manusia. Manusia yang ingin hidup tenang, damai, aman, tenteram, dan bahagia. Mungkin jalan hidup kita tidak sama. Beban ujiam hidup kita pun berbeda takarannya. Tapi saya rasa semua itu bukan dan tidak boleh dijadikan alasan untuk kita mematikan hati nurani dan akal sehat kita. Kita harus tetap mengalahkan ego dan kebencian kita. Kita harus tetap mengedepankan hati nurani. Saya yakin kalian semua orang-orang baik. Jangan sampai hati kalian mengeras seperti batu, karena kalian pupuk kebencian dan kedengkian. Terlebih lagi, jika hati kalian mengeras karena kalian merasa lebih benar daripada yang lainnya. Jangan ya teman... Jangan...

#withlove
#jangankapokmenjadiindonesia
#darikursitungguklinikrayendra

No comments: