Wednesday, August 5, 2009

Mereka Mengakhiri Hidupku Dengan Kejam….

Aku terpaku ditempat ini sendirian. Ibuku baru saja pergi meninggalkanku untuk mencari makan. Sedangkan ayahku sedang mengajak adikku menengok keluargaku yang lain. Aku takut….belum pernah aku sendirian di tempat seperti ini. Beberapa kali aku mendengar ada suara-suara yang bergerak mendekat, namun kemudian hilang lagi. Aku takut….sungguh-sungguh aku takut. Akupun bergerak merangsek mundur dan meringkuk di sebuah sudut. Aku diam seribu bahasa.


Gemetar badanku kian menjadi manakala pintu besar di ujung lain tempatku berada berderit dan terbuka. Aku semakin mengkerut dan merepet di pojokan ini. Ibu…cepatlah kembali, aku takut…batinku.

Aku lihat dengan jelas seorang anak laki-laki bertubuh besar dan berambut keriting melemparkan pandangan ke segala penjulu ruangan tempatku berada. Entah dia melihatku atau tidak, aku tidak yakin. Aku berusaha menahan nafas agar anak itu tidak dapat merasakan kehadiranku disini. Namun makin lama, aku merasa tercekik dan dengan tiba-tiba aku terbatuk akibat terlalu lama menahan nafas.


Badanku tiba-tiba lemas karena setelah aku terbatuk, anak itu nampaknya melihat kearahku dengan muka penasaran. Dia memiringkan kepalanya dan berusaha melihatku dengan jelas.

Aku pasrah kepada tuhan, dan dalam hatiku aku memangggil-manggil ibuku.

“Ibu….dimanakah engkau ibu…aku takut sekali…”


Tetapi entah karena apa, anak itu tidak melanjutkan rasa penasarannya padaku. Dia masuk ke ruangan ini hanya untuk mengambil mainannya dari dalam rak yang ada di samping kananku. Setelah semua mainan dia pegang, sekali lagi dia menatapku, namun kemudian langsung berlalu begitu saja meninggalkan ruangan. Huh….lega rasanya.


“Ibu…..kapan engkau kembali kesini….aku tidak tahan lagi kalau harus sendirian seperti ini…aku takut ibu….” teriakku.


Aku berjalan kesana-kesini karena gelisah. Aku ketakutan. Aku takut anak itu datang lagi dan menggangguku karena aku melihat ada yang aneh dari sorot matanya sewaktu melihatku. Ingin rasanya aku berlari dan mencari ibuku, tapi aku tidak tahu dia pergi kemana. Lagipula, badanku belum sekuat badan ibu.


“Tuhan…tolong aku….”

Tiba-tiba pintu kembali terbuka dengan tiba-tiba. Jantungku serasa mau copot. Rupanya sekarang yang masuk adalah orang yang berbeda. Dia adalah seorang anak perempuan remaja. Dia masuk dengan terburu-buru, dan langsung melihat-lihat ke segala arah seolah sedang mencari sesuatu. Dia membolak-balik kardus yang bertumpukan di sudut ruangan dan membuka lemari yang ada diruangan itu. tetapi nampaknya dia tidak menemukan apa yang dia cari.


Diapun berteriak memanggil orang lain dengan kencangnya.

“Adaaaammm…..lu liat tas kecil gw yang warna hijau nggak???” teriak anak itu.

Lama tidak ada sahutan, dan dia tetap mencari disemua penjuru ruangan, termasuk di kolong tempat tidur. Dia berteriak lagi.

“Adaaaaammm……Liat tas gw ngga sih??”

Kali ini aku mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat dan suara sahutan dari anak laki-laki.

“aduh…berisik banget sih….tas yang mana???” begitu kata-kata anak laki-laki yang belum sampai dikamar itu.


Aku melihat kesibukan anak perempuan itu dalam mencari tasnya. Aku tetap diam tak bergerak di sudut tempatku bersembunyi. Tiba-tiba ekor mataku menangkap warna hijau berada tak jauh dari tempatku bersembunyi. Dan benar saja, rupanya itu tas hijau yang anak perempuan itu cari. Kontan jantungku kembali berdetak kencang. Karena jika anak perempuan itu melihat keberadaan tas hijau itu dan mengambilnya, maka dia pasti akan melihatku. Karena saat ini dari arah anak itu, aku tidak terhalang apapun selain oleh tas hijau itu.


Suara langkah kaki anak laki-laki yang mungkin saja anak laki-laki yang tadi semakin dekat, dan anak perempuan itu hampir mengetahui keberadaan tas itu. aku semakin gemetar dan ketakutan.

Tamatlah riwayatku hari ini. Semua akan berakhir dan aku akan tertangkap oleh mereka. Aku ingat ibu pernah berkata bahwa keluarga yang tinggal dirumah ini sama sekali tidak menyukai aku dan keluargaku. Mereka memusuhi kami. Pernah beberapa anggota keluarga kami dipukuli oleh mereka dengan menggunakan sapu. Oleh karena itu, ibu selalu menyuruh kami anak-anaknya untuk bersembunyi jika keluarga itu ada. Kami tidak diperbolehkan menampakkan diri. Dan rupanya, hari ini aku yang terkena sial. Aku yang tidak bisa bergerak kemana-mana ini akan tertangkap oleh mereka. Tiddaaaakkk……


Ditengah kepanikanku, muncullah anak laki-laki yang tadi sudah datang itu sambil berkacak pinggang. Dia bertanya pada anak perempuan.

“udah ketemu belum???” tanyanya.

“belum…” kata anak perempuan itu sambil mengedarkan pandangan dan berjalan mendekati tempatku bersembunyi.

“eh, sudah dink. Ini kayaknya tasku. Tapi koq warnanya berubah ya???jadi ke abu2an??pasti banyak debu yang nempel. “ katanya sambil mejulurkan tangannya kearah tas yang ada di depanku.

Aku gemetar bukan main. Dan nampaknya aku sudah berkeringat dingin. Keringat dingin itu membuat kaki dan tanganku licin sekali. Dan tiba-tiba saja aku terjatuh dari tempatku bersembunyi. Aku berteriak karena kaget, takut, dan pasrah. Badanku melayang dan jatuh berdebam di lantai. Sakit sekali rasanya tulang-tulangku. Aku menggelepar tak berdaya.


Nasib malang rupanya memang sedang mengarah padaku. Saat aku jatuh berdebam, nampaknya si anak laki-laki dan perempuan sama-sama mendengar atau melihatnya. Mereka kontan berteriak sambil menampakkan raut muka benci dan jijik padaku. Aku hanya bisa melihat mereka dengan pasrah karena badanku tidak bisa aku gerakkan. Sakit semua. Dengan mataku aku mengikuti gerakan mereka yang sangat cepat sambil masih berteriak-teriak. Mereka masing-masing mengambil senjata untuk melawanku.


Anak laki-laki itu mengambil sapu yang ada di balik pintu, sedangkan anak perempuan itu mengambil Koran yang berserakan di samping lemari. Mereka berdua berlari kearahku. Menghadapi dua orang manusia yang berbadan besar-besar itu, aku tak berdaya. Aku hanya diam dan menangis sambil berdoa semoga ibu masih bisa melihatku dan semoga keluargaku bisa selamat dan tidak tertangkap.


Akhirnya sapu dan Koran yang dibawa kedua anak itu menghujami tubuhku dengan keras dan bertubi-tubi. Badanku dilempar kesana dan kesini, dipukul, dirajam, dan terus menerus di hentak-hentak. Dalam kesakitanku, aku masih sempat melihat ibuku di atas sana, dibalik teralis menatapku dengan berlinangan air mata. Sayup-sayup kudengar dia berteriak memanggil namaku. Aku berusaha berteriak menjawab, namun sudah tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Badanku semakin lemah, dan air mata ibuku semakin deras. Disamping ibuku, kulihat ayah dan adikku juga ikut mengintip dengan mata berduka. Sedapat mungkin aku mengatakan agar mereka secepatnya pergi agar tidak tertangkap oleh orang-orang jahat ini. Dan merekapun bergerak menjauh, pergi.


Aku sudah tidak sanggup meronta dan melawan. Aku hanya diam, tak bergerak. Badanku semakin lemah, sepertinya ajal sudah siap menjemputku. Demi melihat aku tak lagi bergerak, kedua anak itu berhenti menyiksaku. Mereka mengambil Koran dan menutupi badanku dengan Koran itu. kurasakan badanku melayang, mungkin mereka membopongku. Terpikir olehku bahwa mereka akan membuangku ke sungai didepan rumah itu, atau ke tempat lain yang sama mengerikannya. Sebelum kututup mataku untuk selamanya, masih sempat aku mendengar mereka bercakap-cakap.


“dasar cicak sialan…bikin gw jantungan ajah…”

“iya, untung kita berdua, jadi bisa kerjasama. Coba kl gw sendirian, udah pingsan kali gw…”


No comments: