
"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad."
Sebuah kalimat dari seorang kahlil gibran yang baru aku temukan pagi ini manakala aku secara iseng mencari dan membuka lembar sastra di internet.
Jika kalimat ini keluar dari mulut mereka yang aku kenal, aku hanya akan menanggapinya dengan tertawa. atau bahkan akan ku debat dengan segala tetek bengek yang aku sendiri tidak tahu artinya. karena pada dasarnya aku selama ini selalu memberlakukan pernyataan yang berlawanan dengan kalimat ini. tetapi sekarang aku menjadi harus berfikir ulang tentang ini.
Bukan hanya karena Kahlil Gibran yang menulis, tetapi lebih karena kekhawatiran akan kebodohan yang kemungkinan aku lakukan sendirian. jangan-jangan, hanya aku saja yang berfikir seperti aku. jadi, mana yang harus disalahkan dan mana yang harus di benarkan??? aku sendiri tidak tahu. yang aku tahu hanyalah, bahwa kalimat ini nampak lebih masuk akal saja, sedangkan kalimatku yang lalu tidak lebih dari suatu penyangkalan atas kenyataan yang berlaku.
selama ini aku sering mendengar pertanyaan seputar hubunganku dengan "Dia", dan hubungan "Dia" denganku.
"Koq bisa??"
"Bagaimana bisa??"
"Bagaimana mungking??"
"Kenapa harus dia??"
"Kenapa jadi??"
Dan aku hanya bisa dan hanya ingin mengatakan bahwa :
"Setelah usahanya sekian lama (......Bulan), rasanya semuanya menjadi mungkin bagiku."
Dan jawaban-jawaban serupa itu saja yang aku gunakan untuk memangkas apa yang mereka ingin tahu.
Sekarang aku berfikir, apakah semua itu benar adanya??? aku menjadi ragu tentu saja.Terlebih lagi memang banyak teori yang membenarkan keraguanku itu. satu lagi tulisan dari Kahlil Gibran :

"Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang karena pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau berabad-abad."
Ya....jauh lebih bisa di terima oleh pikiran, hati, dan gengsiku. Rupanya, pendapatku tak 100% salah, walaupun tidak pula 100% benar. semua bisa jadi pete-pete. Mungkin saja waktu yang sekian lama itu adalah proses pematangan biji, dimana kemudian ditengah-tengah proses yang lama itu bersemilah sebuah tunas dari biji tadi.
Apapun itu, yang aku tahu saat ini hanyalah bahwa saat ini, tunas itu masih saja tumbuh subur. Dia tumbuh dan tumbuh setiap waktu dan tak terganggu oleh panas, terik, hujan, angin, ataupun goncangan yang menerpa. Sampai saat ini, tunas itu masih bertahan ditengah ketidakjelasan nasibnya akan masa depan. Sampai saat ini, tunas itu masih juga tumbuh subur di atas lahan yang mulai mengering. Entahlah mana yang akan menjadi benalu. Apakah tunas itu akan berlaku menjadi penyerap ketahanan lahan ini, ataukah lahan ini yang akan membuat si tunas layu dan mati.
No comments:
Post a Comment