Hari ini adalah pertambahan umur saya untuk yang ke sekian kali. Orang bilang Ulang Tahun.
Memang benar sih, kita mengulangi lagi dari tahun ke tahun, rutinitas yang sama.
Untuk beberapa orang, ada yang mendapatkan kejutan di tengah malam, ada yang mendapatkan telpon, ada yang mendapatkan pesan, ada yang mendapatkan kue, ada yang meniup lilin, ada yang mendapat hadiah, and so on and so forth.
Alhamdulillah, tahun ini begitupun dengan saya.
Saya masih selalu merasa sangat-sangat beruntung memiliki dan mendapatkan perhatian yang berlimpah dari berbagai penjuru. Terlebih tentunya dari Anak Wedhok yang sangat berkebalikan dengan Ayah dan Bundanya itu. Anak Wedhok yang selalu menganggap ulang tahun adalah Big Deal! hahaa
Di tengah kesibukan dan kemalasannya menggambar, tahun ini dia kembali membuat saya terharu dengan satu lembar gambar yang belum diwarnainya. Katanya dia terlalu lelah untuk mewarnai, jadi polos saja. Tak apa nduk, polos atau berwarna, gambaranmu tetap menghangatkan hati Bunda. Thank you for always being you, being a thoughtful girl that always make birthday as a big deal, covering your parents part. hahahaha. Untuk urusan birthday, you always have our back, which is great! :-)
 |
| Thank you, Dear K! |
Mas Bojo in the other hand...
Beliau ada perjalanan ke luar kota, dan harus meninggalkan rumah pukul 2 dinihari. Seperti biasa, beliau tidak ingin membuat saya bangun terlalu dini, sehingga setelah dadah-dadah di pintu dengan setengah melek, saya langsung kembali ke kamar dan tidur. Beliau melesat bersama Satria Baja Hitam Mang Didi yang kalau naik motor selalu Pancal Mubal.
Sekitar pukul 4 pagi, saya bangun karena bunyi telpon, tetapi juga karena sudah waktunya rutinitas pagi. Rupanya Mas Bojo menelpon dari Bandara Soetta, mengucapkan doanya untuk yang berulang tahun. Kami tertawa karena ternyata beliau lupa. haha
Untuk semua pesan di ponsel, ucapan, pelukan, dan juga kiriman makanan/minuman dari teman-teman, terima kasih! Semoga kalian selalu dilimpahi kesehatan dan kelancaran serta kemudahan dalam mengarungi hari demi hari di kehidupan ini. Aamiin.
Kali ini, saya berjuang menyelesaikan hadiah untuk diri saya sendiri. Saat hadiah ini selesai dan saya coba dengan bangga, saya merasa puas sekali. Saya semakin merasa bahagia dan merasa bahwa hidup ini terasa kembali indah, just the way it is... I love myself better! :-)
 |
Happy Birthday, WJ! This cute top is totally remarkable birthday present, for you :-p |
Satu hal yang ingin saya torehkan sebagai kenangan di sini adalah hal yang terjadi di sepertiga malam dini hari tadi. Di sekitar waktu Mas Bojo berangkat.
Ibuk datang.
Saya tahu, mungkin kalian akan bilang "halah, cuma mimpi". Which is true, and doesn't matter.
Apakah itu mimpi ataukah bukan mimpi, tidak masalah bagi saya. Bisa melihat secara utuh fisik Ibuk adalah hal yang jauh lebih penting untuk saya. Kalau bisa saya gambarkan di sini, situasi yang saya alami saat bertemu Ibuk, seperti ini:
Saya berada di satu ruangan, sepertinya sedang ada acara karena saya melihat saudara dan kerabat saya juga ada di situ. Saya masuk dan melihat Ibuk duduk di kursi, mengenakan baju coklat lengan panjang dan kerudung putih, seperti yang biasa beliau kenakan sehari-hari. Saya mendekat dan menyalami tangan kanannya.
Tangan kanannya menyambut uluran tangan saya, dan saya menciumnya. Saya heran, tangannya lembut sekali. Seolah lenyap begitu saja semua kapal dan keringnya tangan Ibuk saat di dunia, yang diakibatkan oleh gagang sabit, cangkul, sapu, dan lainnya. Saya mendongak melihat ke arah muka Ibuk, saya lebih tercengang lagi. Wajah Ibuk terlihat sangat bersih, mulus, dan bersinar. Tak ada lagi kerutan yang diguratkan oleh kejamnya kehidupannya selama ini. Ibuk tersenyum dan tertawa melihat saya dan mempersilahkan orang-orang untuk masuk dengan ramahnya, seperti biasanya.
Saya yang masih terkagum-kagum dengan raut glowing Ibuk, menarik siapa saja yang lewat di samping saya, dan berkata "Iki jiwiten aku, jiwiten aku iki. Tenan ora iki. Opo ngimpi? Jiwiten iki lho tanganku!"
Berkali-kali, berulang kali, dan beberapa saudara yang lewat tertawa sembari mencubiti tangan saya, dan rasanya saya merasakan sakit. Di antara percaya dan tidak percaya, maka saya memilih percaya. Ibuk datang menemui saya. Akhirnya saya menggunakan waktu itu untuk bercerita seperti biasa. Bercengkerama sebagaimana kami selalu melakukannya saat beliau masih ada di dunia.
Sampai akhirnya Ibuk tiduran di kasur, saya mendekatkan kepala saya ke kepala beliau, menatap dekat matanya, dan berkata "Buk, maaf yang buk kalau aku belum bisa nyenengin Ibuk, belum bisa bikin bangga Ibuk..."
Ibuk hanya menatap saya, tersenyum, dan beberapa butir air mata menetes di pipinya. Beliau mengusap kepala saya.
Seperti itu saja, dan saya kembali ke dunia nyata dengan perasaan berbeda. Seperti ada yang mengangkat tas yang selama ini tidak meninggalkan punggung saya. Saya merasa bahagia, hati saya penuh dan hangat. Saya bahagia melihat Ibuk yang tertawa dengan kulit yang glowing. Ibuk, Ibuk cantik sekali.
Sorenya, setelah saya selesai dengan urusan pekerjaan dan antar jemput K, setelah rebahan di kursi seperti biasa, saya mengirimkan pesan pada Mas Aris, kakak saya. Saya bertanya padanya apakah Ibuk pernah mengunjunginya, ternyata belum. Saat mendengar cerita saya, Mas Aris, sekarang sih saya lebih sering memanggilnya Pakde Aris, bilang, "Aku iri. Padahal aku yang pengen ketemu Ibuk". Sabar ya Pakde, akan ada waktumu nanti didatengi Ibuk.
Pakde Aris bilang, katanya jika hal seperti itu terjadi di antara pukul 00.00-03.00 dini hari, mungkin bukan sekedar mimpi. Mungkin Ibuk ingin menunjukkan bahwa beliau memang sudah baik-baik di tempat terbaik. Wallahualam.
Ibuk, terima kasih sudah datang. Alfatihah untukmu, Ibuk!
Ternyata benar, aku rindu.
Bogor, 29 Juli 2024
#Ibuk
#FamilyVisit
#BirthdayPresent
#Selflove
#SoLongIbuk