Saturday, July 23, 2022

Dilemma Twibbon

 Sebetulnya saya sudah lama ingin menuliskan kegelisahan saya akan hal ini, di sini. Tapi belum menemukan semangat yang cukup. Hari ini, saya ngobrol ngalor-ngidul bersama teman saya yang sedang merantau di salah satu pulau cantik di timur sana, hingga berujung pada topik yang satu ini. Mumpung masih ada semangatnya, jadi saya bagi sekalian di sini ya. 

Twibbon

Saat saya memasukkan kata "Twibbon adalah" di laman pencarian G****e, maka yang muncul paling atas adalah kalimat ini: 

Singkatnya, Twibbon adalah sebuah gambar yang bersifat overlay dan dapat dipasang pada foto profil akun sosial media, termasuk Twitter untuk menunjukkan dukungan terhadap sesuatu. Twibbon pastinya hadir dengan format PNG (Portable Network Graphic).

Saya sering juga menggunakan twibbon, untuk mendukung kegiatan-kegiatan tertentu. Desain nya lucu-lucu dan menarik. Membuat orang mudah menyukainya. 

Lalu, kenapa saya merasa dilemma dengan twibbon? 

Jawaban saya adalah karena twibbon menjadi salah satu ajang promosi sekolah yang (memang) bagus dan efisien, tetapi saya termasuk orang tua yang tidak ingin terlalu banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti kita tahu, sekali lihat twibbon, pasti langsung bisa diketahui di mana anak kita sekolah yekan?

Selama ini, saya membatasi (inginnya menghindari, tetapi kadang masih suka kelepasan) berbagi informasi mengenai sekolah anak saya di media-media online selain blog. Bahkan jika menampilkan foto saat anak saya menggunakan seragam khusus sekolahnya yang sangat mudah dikenali itu, saya biasanya mensensor dengan stiker. Hanya orang-orang yang memang sensitif dan mengenal baik motif seragam sekolah itu yang mengerti. Namun, jika bertemu muka, saya dengan senang hati berbagi informasi karena saya tidak bermaksud menyembunyikannya juga.

Ada beberapa alasan mengapa saya tidak ingin banyak berbagi mengenai tempat sekolah anak saya. Seperti yang hari ini saya bagi pada teman saya tadi.

Yang pertama adalah keamanan. Sebagaimana kita tahu semakin ke sini, ancaman kejahatan anak semakin beragam dan juga semakin parah. Beberapa artikel menyebutkan bahwa banyak orang jahat mulai mengancam di sekitaran sekolah anak. Dan dari artikel-artikel juga saya kemudian mengikuti paham untuk tidak terlalu vulgar membagi tempat sekolah anak. 

Alasan yang ke dua adalah karena saya terlalu banyak mikir. Mungkin kalau orang tua lain santai dengan hal ini, saya kurang bisa santai. Tapi tidak apa-apa, karena sepertinya paham saya ini tidak akan melukai orang lain juga. hehee. Saya berpikir bahwa bisa bersekolah, apalagi memilih sekolah seperti yang kita inginkan karena alasan A, B, C, dst adalah sebuah privilege. Privilege yang tidak semua orang punya. Saya yakin banyak orang di luar sana yang ingin bersekolah di sekolah pilihannya tetapi tidak bisa karena berbagai alasan. Bahkan mungkin banyak juga yang ingin bersekolah, tetapi tidak bisa karena banyak alasan. Jadi saya memilih untuk mensyukuri nikmat "anak bisa sekolah," titik, sampai di situ saja. 

Teman saya memberikan komentar mengenai alasan ke dua saya ini, begini: "Kamu beda banget sama orang tua yang anaknya les sama aku mbak. Anaknya sekolah di sekolah favorit, dan dia update terus gitu di medsos". Saya tertawa dan menjawab, "Itu adalah 1000% alasanku untuk melakukan sebaliknya. Dunia ini sudah terlalu sedih dengan iri, dengki, pamer kemewahan & previllege, dan juga pretending2 - an itu. Nggak usah nambah2i."

Alasan lainnya adalah karena saya ingin menghindari perasaan jumawa. Jika ada orang yang melihat atau membaca tempat anak saya, mungkin beberapa yang mengenal akan berkata "Wah, anakmu sekolah di situ ya". Ini beberapa kali terjadi. Dan mau tidak mau, sebagai manusia normal ada perasaan senang yang lebih dari sekedar senang biasa saat mendengarnya. Saat saya menjawab "Iya", mungkin ada berbagai intonasi di belakangnya. Saya tidak ingin lebih banyak mengalami hal itu. Karena semakin banyak saya merasa 'iya' dengan sedikit berbeda, ditambah sedikit lagi, dan lagi, lama-lama tanpa saya sadari saya akan menjadi jumawa. Saya takut juga, di saat saya menjadi jumawa, ada orang lain yang kemudian memiliki perasaan 'tidak nyaman'. You know what I mean... 

Sekolah anak saya bukan sekolah yang luar biasa, bukan sekolah yang mahal-mahal itu. Sekolah anak saya hanyalah sekolah yang saya lihat sudah sangat matang kurikulumnya. Melahirkan banyak alumni yang sering terdengar gaungnya. Saya harap anak saya bisa bertumbuh baik dan mengikuti jejak baik para alumninya, dengan membawa semangat cinta kasih yang ditanamkan oleh pendidiknya. Aamiin. Itu yang terpenting menurut saya. 

Jadiii... 

Saya memutuskan tidak menggunakan twibbon yang selalu dibagikan oleh para guru. Mohon maaf ya pak, bu. Saya selalu mempromosikan sekolah kita, tetapi dengan cara yang lain. :-)

Semoga anak-anak bisa segera mendapatkan kesempatan belajar, bermain, dan bertumbuh bersama dengan situasi yang seharusnya mereka jalani di usia sekolah dasar. Aamiin. 

Selamat Hari Anak Internasional, Nak!!!

Thursday, July 21, 2022

Mbak K, I need your opinion

Mungkin saya ini salah satu emak-emak yang lebay. Mas Bojo saya juga kadang melihat saya dengan pandangan aneh, seperti melihat makhluk luar angkasa. Tapi ya mau bagaimana, saya ya beginilah adanya... #eeeaaa 

Saya senang sekali memancing anak saya dengan obrolan, diskusi, dan hal-hal kecil yang memancing jawaban. Hal yang menurut Mas Bojo remah-remah receh, sehingga dia menganggap saya kurang kerjaan. Tapi kan yang penting anaknya senang, emaknya juga riang. 

Saya pernah cerita belum ya tentang pengalaman berkeliling naik motor bersama K, dengan obrolan dari Sabang sampai Merauke? Duh, kalau belum, sayang sekali. Saya suka obrolan kami saat itu, tetapi sudah tidak terlalu ingat persis detailnya. :-p 

 Kali ini saya cerita yang pendek saja ya. Biar nggak lupa dan berlalu begitu saja. 

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu salah satu teman kami memberikan goodie bag dari ulang tahun cucunya. Sebagai emak-emak, tentunya jiwa ekonomisnya bekerja yekan. hahaha. Saya tanya teman yang lain: 

 Saya: "Sis, beliin kado buat cucunya Mbak ****** nggak?" 

 Dan berdasarkan obrolan kami yang demi menjaga privacy tidak perlu saya tulis ulang di sini, maka saya mengikut beliau saja. Tidak membelikan kado. 

 Tadi malam sebelum tidur, seperti biasa saya haha hihi dengan K dulu. Tiba-tiba saya iseng nanya: 

Saya : "Mbak K, I need your opinion" 
K : "About what?" 
Saya : "If someone give you goodie bag from their birthday, do you think we should give them gift? Even if it small gift?" 
K : ...Diam sejenak sebelum akhirnya menjawab "I think we should." 
Saya : "Why?" K : "Because like you always said, when people give you something, we should give things back to them. Specially because that is their birthday." 
Saya : "Point taken." 

 Rasanya saya sedikit meleleh tadi malam. Tidak menyangka rupanya si anak wedhok itu mengingat satu dari sekian juta haha hihi yang saya semburkan padanya. Dan Dia menggunakan hatinya untuk mengolah setiap informasi. Aaahhh Mbak K, I am sooo blessed to be your mother!!! 

Tetaplah memegang tegung kasih dan juga empathy mu di sepanjang langkahmu ya nak. Hanya itu yang bisa orang tuamu berikan sebagai bekal :-) 

Love, 
Bunda Yang Mudah Meleleh Hatinya

Sunday, June 12, 2022

Indonesia Master 2022

Ini adalah pengalaman pertama saya mendukung pemain-pemain hebat kita dalam cabang olah raga Bulutangkis di Istora Senayan. Juni 2022.

Jadi ceritanya, saya punya sebuah WA grup yang isinya hanya 3 orang. Saya, Fefi, dan Medi. WAG ini dulunya kami buat dengan tujuan mulia, untuk belajar bisnis. Fefi dan Saya adalah mamak-mamak yang kebanyakan maunya tapi kurang nganu nya, sedangkan Medi adalah mamak yang sudah banyak usahanya tapi nggak kalah banyak maunya. hahahahaa. Judul WAG nya adalah "Mo Usaha Apaaa".

Seiring berjalannya waktu, pembicaraan mengenai mau usaha apa selalu mentok dengan modal dan nyali yang tipis dari Saya dan Fefi. Mungkin Medi sudah mual juga mendengar pertanyaan retorik kami "Usaha apa ya?" hahahaha. 

Jadi ke sini- ke sini obrolan kami semakin random, bervariasi, dan melebar sana sini tergantung musim. WAG akan terasa Hurricane Ike saat menyinggung masalah Drama Korea, dan jeng jeng... Bulutangkis. Dua orang itu, kalau udah ngomongin dua hal itu bisa jadi 200 chat hanya dalam sekali hembusan nafas. hahahahha. Lebay ya saya, enggak emang bener. Yang namanya Medi? uuggghhh, kalau udah ngeluarin kitab nama-nama DraKor dan artisnya dalam nama asli dan nama di dramanya, sukses membuat saya kliyengan. Nggak paham. kekekeke

Saat break lebaran kemarin, saya mudik ke Yogya. You know lah yekan, kalau di Yogya itu saya lebih jarang membuka chat. Saat saya buka chat sudah ratusan dan ternyata mereka sudah membelikan tiket nonton #IndonesiaMaster2022 untuk #QuarterFinal . Jadi saya dengan senang hati ikut nonton, itung-itung jagain mereka kali-kali mereka nanti lupa diri kalau ketemu atlit idola. hahahaha. Saya selalu senang kalau di ajak nonton live. Musik, teater, olah raga. Suka pokoknya.

Dan ini adalah titik di mana saya mulai menyukai Bulutangkis. Saya mulai ingin mengenali pemainnya, mulai follow beberapa IG pemain yang sudah saya tonton, dan mulai nyambung dengan obrolan dua teman fanatik saya itu. Cerita lebih lanjut yang menyangkut detail, perasaan, dan lain-lainnya kapan-kapan saya bagi. Unggahan ini hanya untuk menyimpan foto-foto dulu agar tidak hilang, karena saya tidak nitip di medsos :-p





































Untuk Video, sepertinya harus di unggahan yang lain. Terlalu banyak yekaaan... :-p





Thursday, May 19, 2022

The First Decade

Today's #tbt Mount Kinabalu, Circa 2012. 

Hari (minggu) ini saya banyak memasang status di WA (duuuh, sudahi! sudahi!) mengenai perjalanan sepuluh tahun saya dan mas bojo. Maklum ya kakak, tahun ini kami memasuki satu dekade pertama dari perjalanan panjang penuh kepasrahan ini :-p

Sehingga, mau tidak mau perasaan campur aduk berjalan kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Mengambil beberapa foto lama saat berbulan madu ke Gunung Kinabalu, saya jadi ingin bernostalgia. Sedikit saja tidak mengapa yekan... 

Satu dekade lalu, kami mengikat janji di depan banyak sekali keluarga dan teman-teman. Setelah selama seminggu sebelumnya saya menebar senyum kepada entah berapa ribu orang yang datang ke rumah untuk memberikan selamat pada saya dan keluarga. Mustinya, cerita seputar bulan Mei sepuluh tahun yang lalu itu, bisa menjadi satu buku panduan "How you get married when you are a Jogja Village girl". Kayaknya lumayan bisa buat bahan tertawaan bersama anak cucu suatu saat nanti. 

Long short story, kami mengadakan resepsi di Hari Minggu, dan Hari Kamis, saat masih ada tamu berdatangan ke rumah, kami sudah mohon diri untuk pergi ke negara tetangga. Satu karena bulan madu, dan alasan lainnya adalah karena kami butuh jeda. Lelah bo'! Terutama saya. Satu bulan yang sangat-sangat menguras energi (dan emosi).

Jauh sebelum tanggal pernikahan di tentukan, saya sudah menyusun rencana bulan madu kami. Karenanya saya meminta keluarga untuk memberikan kami pilihan tanggal, tidak hanya satu. Kami harus menyesuaikan dengan keberangkatan ke Kota Kinabalu. Dan Hari Kamis itu kami meluncur ke Kota Kinabalu. Dengan budget travel tentunya. 

Saya ingat saat itu kami duduk terpisah di pesawat karena promo pesawat kala itu, tidak mengijinkan kami memilih kursi. Masih beruntung saat itu kami mendapat bagian jendela dua-duanya. Kami tiba di Kota Kinabalu jam 2 pagi, menyusuri bandara mencari tempat untuk tidur sejenak. Akhirnya kami memilih satu gerai makanan siap saji yang bisa kami gunakan untuk tidur sampai pagi. Lumayan. 

Rupanya, bandara Kota Kinabalu lokasinya cukup jauh dari jalan raya, dan pagi itu belum ada angkutan umum untuk menuju daerah kota. Saya lupa bagaimana dulu kami akhirnya bisa keluar dan menuju penginapan yang telah saya pesan. Saya hanya ingat bahwa karena masih pagi, kami belum bisa check in, dan memilih untuk berjalan-jalan di pinggir kota yang berbatasan dengan laut. 

Saat itu kami belum memesan tiket untuk naik ke Gunung Kinabalu, karena saat ingin memesan online, harganya sangat mahal menurut saya. Saat kami sedang duduk di bangku memandang laut, akhirnya terpikir untuk mendatangi kantor Sanctuary Lodge yang sebetulnya lokasinya tak jauh dari tempat kami duduk. Sudah kepalang di sini, kenapa nggak sekalian aja nanya. Pikir saya. 

Setelah ngobrol singkat dengan petugas loket, rupanya saya mendapati bahwa harga di loket jauh lebih murah. Jika di online saya hanya bisa membeli untuk satu orang, dengan harga yang sama saya bisa mendapat 2 tiket. Tanpa pikir panjang kami segera membeli tiketnya. Lega karena akhirnya Puncak Kinabalu mendadak muncul di depan mata. 

Siangnya kami masuk ke penginapan sederhana yang telah kami pesan. Benar-benar sederhana karena harganya murah. Spring bed nya usang, namun kamarnya bersih. Lumaya lah ya untuk yang masih pengiritan seperti kami. Sorenya kami memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota yang tidak terlalu besar itu, melihat-lihat lokasi bis yang akan membawa kami ke Gunung Kinabalu esok hari, menikmati kopi tarik yang enak sekali di kedai-kedai yang ada di sepanjang jalan, dan melihat-lihat mall yang tidak terlalu besar. Cukup untuk mengisi waktu dan membuat diri jadi lebih tahu. 

Paginya, dengan mobil yang memang di sediakan oleh lodge, kami melaju ke daerah Gunung Kinabalu. Rupanya paket yang kami beli sudah termasuk dengan paket sarapan. Sayangnya menu sarapannya membuat saya sedih. Pisang mas beberapa biji, telur rebus, air minum, dan apa ya saya lupa lagi. Untung kami sudah makan roti di penginapan. Lumayan terganjal. Kami bertemu dengan rombongan yang berangkat bersamaan dengan kami. Mereka berasal dari berbagai negara. Beruntung saat itu saya kumat SKSD, sehingga kami bisa mendapatkan pertolongan dari sepasang newly wed dari Polandia (cerita menyusul). 


Teman Mendaki

Jalur pendakian tidaklah sulit. Track terbuka dengan jalan yang sudah seperti jalan wisata, membuat perjalanan kami tidak terasa berat. Namun, meskipun jalur sudah mudah, setiap pendaki wajib di temani oleh satu pemandu atau guida. Kalau ada yang mau menggunakan jasa porter, bisa nambah lagi. Saya rasa ini adalah program pemerintah untuk memberdayakan orang-orang di sekitar. Guide kami namanya Polely. Anaknya baik sekali, meskipun bahasa kami terbatas, namun kami senang berbincang sesekali. 

Sekitar 7 jam mendaki, saat hari sudah sore kami baru tiba di pos Laban Rata. Tempat ini adalah lokasi kami bermalam. Kalau versi Indonesianya, seperti Kandang Badak nya Gunung Gede gitu lah. Bedanya di sini ada penginapan dengan kamar yang digunakan bersama. Kami kebagian satu kamar untuk 4 orang dengan ranjang tingkat. Karena ranjang sebelah juga pasangan, kami memutuskan untuk menghemat tempat dan hanya menggunakan masing-masing satu ranjang (you know what I mean haha). 

Saya sangat menyukai Laban Rata. Di ketinggian yang kalau di Indonesia sudah hampir sama dengan ketinggian puncak Gunung Gede, kami masih bisa merasakan empuknya kasur, hangatnya kopi, sup dan segala jenis makanan yang bisa kita pilih. Setelah merasakan sulitnya perjalanan ke puncak, saya pernah meyakinkan diri bahwa suatu saat saya akan kembali walaupun hanya untuk bersantai di Laban Rata. Cupu ya :-p

Laban Rata

Seperti halnya pendaki lainnya, kami juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya menatap matahari yang muncul dari puncak gunung. Summit attack yekan. Alhasil, kami harus memulai pendakian jam 2 pagi dari Laban Rata. Jalur pendakian dari Laban Rata ke puncak, tidak semudah jalur sebelumnya. Bahkan bisa dibilang, jauuuh lebih sulit. Banyak yang melibatkan tali karena kemiringannya lebih dari 45 derajat. Dengan kekuatan jalan keong saya, akhirnya kami mampu tiba di puncak sebelum matahari muncul. Sayang di sayang, kamera pocket semata wayang saya mengalami kebekuan. Tidak bisa menyala karena memang suhu sangat-sangat dingin. Saya lupa berapa derajat, tapi mampu membuat jemari tangan sakit. Saya dipinjami sarung tangan Polely yang baik hati. 

Sampai di Puncak Kinabalu tanpa bukti foto, menciptakan kengerian tersendiri. Teringat pada kisah teman kami Ubo yang mendaki Gunung Gede dan tiba di puncak saat kabut tebal. Background fotonya adalah warna putih. Habis lah dia di bully warga se komplek L waktu itu. Bahkan setelah dia bisa mengeluarkan satu foto lagi dengan sedikit cantigi di belakangnya, tetap tidak mampu meredakan celotehan massa. Saya tidak mau begitu. 

Setelah memutar otak, dan melihat kelebat kuning-kuning di dekat saya, saya tersenyum lebar dan berjalan ke arah dua orang itu. Mereka adalah Michal dan Ola dari Warsaw, Polandia. Pasangan pengantin baru yang memulai perjalanan bersama kami. Hasil saya SKSD sebelum berangkat (seperti cerita sebelumnya) itu. Saya menceritakan pada mereka bahwa kamera kami mati karena beku. Bolehkan kami minta di foto dengan kamera mereka, dan nanti minta tolong kirim ke email kami? Beruntung mereka sangat baik hati dan mau membantu kami. Sayangnya, Ola tidak memberi kami ruang untuk foto berdua, jadi foto bertiga ini adalah satu-satunya foto yang berhasil kami dapat. Sebetulnya saya juga meminta hal yang sama pada pasangan yang satu kamar dengan kami, namun saya mengerti bahwa mereka tidak akan mengirimkan fotonya pada kami. Mereka berasal dari negara yang orang-orangnya terkenal memiliki penilaian tinggi pada diri mereka sendiri. hehuheuhee. 

The Only Picture on Top of Kinabalu Mount

Saat itu kami hanya bisa berharap, semoga Michal dan Ola benar-benar mengirimkan foto ini pada kami. Kalau tidak, ya mau gimana lagi. ada foto dari kamera kami, beberapa meter di bawah puncak. Lumayan. hahaha. 

Kami sempat berhenti beberapa waktu di puncak, menikmati pemandangan yang sejauh mata memandang adalah batu vulkanik. Deretan lampu yang berasal dari senter/headlamp orang-orang yang ingin menuju puncak, masih mengular hingga jauh ke bawah. Kami termasuk beruntung bisa sampai dengan cepat. Saat rombongan turis dari China dan Korea tiba, suasana puncak menjadi riuh ramai karena mereka berombongan besar. Kamipun memutuskan untuk turun. 

Di perjalanan turun, Polely bertemu dengan temannya sesama guide, dan mengatakan pada kami bahwa lokasi dengan tulisan dan background puncak ini, bagus jika di foto. Akhirnya kami mengambil kesempatan untuk foto bertiga dengan Polely. Langitnya ternyata juga sangat biru, menambah cantik foto kami. 
Bersama Polely

Polely adalah guide terbaik kami. Dia tidak bosan mengejutkan kami dengan hal bagus. Dia bilang "Ada tempat foto di bawah. Cantik sekali". Kami menurut karena sangat percaya padanya. Dan rupanya, benar-benar cantik dan unik tempat foto yang Polely tunjukkan pada kami. Bayangan di sebuah kubangan kecil. Michal dan Ola terkagum dengan foto ini, saat saya post di facebook saya. Mereka berjalan terlalu cepat, sehingga tidak melihat ada yang cantik-cantik di pinggir jalan. 

The Best Picture from Kinabalu Mount, by Polely

Setelah cukup dengan pengalaman di Puncak, kami kembali ke Laban Rata untuk makan siang. Kami bersantai, karena berfikir jalurnya tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu lama. Namun rupanya saya terlalu jumawa.

Perjalanan turun gunung, selalu bukan menjadi favorit saya. Lutut saya, mudah menjadi nyeri saat perjalanan turun. Dan turun dari Gunung Kinabalu ini, adalah ujian besar untuk saya. Kami bukan orang yang terakhir meninggalkan Laban Rata hari itu. Namun saya tiba paling akhir di tempat mobil menunggu. Saya sudah hampir putus asa dan memaksa untuk menginap terlebih dulu jika tidak ada lagi mobil menunggu. Saya berjalan seperti Mbah Buyut, pelan, satu-satu, bergantian, dan banyak berhenti karena lutut saya rasanya benar-benar payah. Keberuntungan masih berada pada pihak kami, mobil paling terakhir masih menunggu kami. Alhamdulillah... 

Laban Rata I'm In Love

Perjalanan bulan madu kami terasa sangat berkesan, untuk kami. Jika pandemi Covid19 kemarin tidak terjadi, tahun ini kami berencana merayakan 1 dekade kebersamaan kami dengan kembali ke sana. Bersama K sebagai personel tambahannya. Walaupun hanya untuk bersantai di Laban Rata jika terpaksa, kami rela. Namun rupanya Covid 19 membuat rencana berubah. 

Saya akan kembali menyusun rencana untuk kembali ke sana. Tempat di mana kami memulai perjalanan yang penuh kepasrahan, tidak bisa di duga, tidak bisa di rencana. Seperti halnya naik Gunung Kinabalu itu. We'll be back, for sure, Kinabalu Mount!!!

First Decade

#FirstDecade
#KeluargaNala
#KeluargaUmang
#NalaFamily