Saturday, November 30, 2019

Sedikit Cerita Horor di Malam Minggu

Brave Girl!!!

Malam ini rasanya sedikit horor untuk saya. Secara cepat, mendadak, dan tanpa aba-aba, K yang sedang makan Mie Telor, terjungkal dari kursi dan kepalanya menghantam meja kaca. Saya segera lari dan mengangkatnya, saya lihat darah mengucur deras di mukanya. Dan dia tidak bersuara.

Saya melihat ayahnya dan hanya mampu mengeluarkan satu suara
"Ayah, kita ke rumah sakit. Kiran mukanya bocor"

Ayahnya mendekat, dan tiba-tiba dia menunjukkan gumpalan merah darah ditangannya. Saya lemas sekali rasanya.
"Tulang apa daging ini bun?"

Saya langsung mengambil segepok tissue dan saya tempelkan ke muka K, mengambil Dompet dan jaket, menggedor kamar mandi dimana teteh sedang didalam dan bilang
"Teh, aku ke rumah sakit, K jatuh".

Saya, ayahnya K dan K segera naik mobil ke Rumah Sakit. Selama itu, K hanya diam. Saya berkali-kali bilang "it's okay... Everything is okay... You're gonna be okay..." Lebih seperti menghibur saya sendiri.

K mengangguk dan menjawab beberapa pertanyaan dari saya, apakah pusing, apakah sakit, apakah mual, dan lain-lain. Tangannya yang mungil meraba-raba muka saya. Dia paham bahwa saya sedih dan panik.

Perjalanan ke rumah sakit terasa lama sekali. Saya deg-degan.

Akhirnya singkat cerita, ternyata dahi K terluka cukup dalam. Setelah dibersihkan, dijahit 1 jahitan. Awalnya dokter bilang 5, kemudian 3, namun akhirnya hanya 1.

Setelah diobservasi sebelum diberi tindakan, saya merasa lega sekali. Syukurlah tidak terlalu parah ke kepalanya. Saya akhirnya bisa tersenyum walaupun baju Dan hati berdarah-darah.

This will be good things to remember once you grow up


Semoga segera diberikan pulih ya Mbak K... Aamiin.

I love you, and I am very sorry that you have to went through this kind of bad time... :-(

Seperti Curious George, you are very brave and fearless... Bunda aja hampir semaput lihat kamu berdarah-darah, dan dijahit begitu... Hiks

Pulang dari Rumah Sakit langsung minta dibacain ini

Wednesday, November 27, 2019

Saat-Saat Favorit Bersama K

"Bunda, Kata Domi rambut aku cantik sekali hari ini...." Katanya dengan senyum senang malu-malu...

Sayapun tersenyum meleleh dan menjawab "Tuuh kaaan, temen kamu sukaaa... Memang rambutnya K cantik koq hari ini...."


Banyak yang suka bertanya pada saya seolah tidak percaya "Siapa yang ngepangin K?". Terlebih ketika mendengar jawaban saya "Ya akulaaaah..." 

Banyak diantara mereka mengernyit, dan beberapa menyempatkan diri berkata "Nggak mungkiiiiin...." ahahaha. 

Ya nggak heran sih. Kan memang saya ini Body Rambo Hati Rinto... Jadi penampakan seperti tomboy tapi sebetulnya di dalam sini saya selembut sutera... #eeeaaa

Masalah Hair Do... 

Entah kenapa saya sedikit terobsesi memang untuk bisa selalu menghias dan merapikan rambut K. Terutama sekarang ketika rambutnya sudah panjang. Dulu almarhumah Ibu saya, jarang mengijinkan cucu-cucunya berambut panjang, karena jadi kelihatan kurus. You know lah ya kalau anak kecil dengan rambut pendek potongan bob, pasti lebih terlihat endut unyuk imut gitu... Tapi demi misi untuk kuncir menguncir, kepang mengepang dan berjuta hairdo yang ditawarkan youtuber diluar sana, saya rela ngeyel... hehehe

Akhirnya sampai sekarang rambut K dipanjangkan dan sudah sampai pinggang. Sayapun lebih leluasa untuk mencari referensi hair do setiap malam. Paginya, harus berjibaku dengan K agar dia mau duduk diam selama saya obrak abrik rambutnya. 

Beberapa hari yang lalu tetangga saya bertanya juga "Siapa itu yang ngepang K?" dan saya bilang "Aku laaaaahhhh....." Dengan bangga. Meskipun heran, beliau bertanya lebih lanjut. 
"Gimana itu caranya. Anakku kena tegur gurunya terus karena rambutnya keluar-keluar kerudung. Aku mah nggak bisa ngepang..." Katanya. 
Saya bilang "Aku juga ngikutin youtube tiap pagi mbak... Nggak bisa kalau sendiri mah... Tinggal ikutin aja itu video orang-orang..." Kata saya
"Nah itu dia... Ngikutin di youtube teh lieur... Kadang kiri kanan suka kebalik-balik kumaha nya... Emaknya musti rada pinteran dikit kayaknya" dan kamipun ngakak. 

Memang terkadang ada orang yang kesulitan mengikuti tutorial yang bentuknya video, lebih memilih tulisan. Namun ada yang sebaliknya. Saya? Alhamdulillah saya suka dua-duanya dan sejauh ini bisa mengikuti. Setidaknya untuk hal merajut, menyulam, dan hair do ini sejauh ini... Alhamdulillah sangat terbantu... 

Semoga si anak wedhok tidak bosan diuyel-uyel saya setiap pagi. Karena moment ini adalah moment yang saya tunggu setiap paginya... "Ayo mbak, hair do time!" :-)

#GoodMorning
#HaveAGoodDay

Tuesday, November 26, 2019

You Are the Sky

Ini antara pengen banget, tapi gimana...
Antara mau banget, tapi gimana...
Antara perlu banget, tapi gimana...

Membahas masalah depresi,
Maju mundur cantik dari sekitar Maret 2019 lalu.
Antara iya atau enggak, sekarang atau kapan, musti begini atau begitu, dan lain-lainnya.

Belakangan ini aura persampahan di blog ini seolah sedikit suram ya?
Hehehehee...
Iya memang...
Ya gimana atuh...

Pas juga baca bukunya sedang dibagian suram-suram...
Tapi nggak masalah sih
Karena suram nggak suram itu bukan intinya
Intinya adalah bagaimana kita berdansa dengan kesuraman ini

Selama beberapa bulan terakhir, isi kepala saya yang berdansa
Beberapa hari terakhir, jemari lentik saya mulai berdansa
Mudah-mudahan melalui kolaborasi dansa antara isi kepala dan jemari lentik,
Semua kabut yang membuat suram, bisa termuntahkan dalam kata.
Tentunya tanpa menimbulkan luka dikemudian harinya.


Dibawah ini adalah tips yang saya sadur dari buku "Reason to Stay Alive" nya Matt Haig (yang saya capture di gambar):

Yoga
It treats the mind and the body as part of the same whole.

Slow Your Breathing
Not crazy deep breaths, just gentle.

Meditate
Just sit down for five minutes and try and think of a single calming thing.

Accept
Don't fight things, feel them. Tension is about opposition, relaxation is about letting go.

Live in the Present
"If you want to conquer the anxiety of life, live in the moment. Live in the breath" - Master Amit Ray.

Love
Love is anxiety's greatest killer. Love is and attitude to life. It can save us.


*** 

Pernah nggak sih kalian merasa, ketika membaca buku tertentu, ternyata isinya adalah apa yang kalian rasakan, alami, dan kemudian sudah kalian lakukan?

Itu adalah yang saya temukan ketika membaca buku diatas. Mungkin ribuan orang diluar sana (termasuk kalian?) merasakan hal yang sama. Atau setidaknya, satu dari teman saya yang saya kirimi buku ini sudah meng-konfirmasi dengan WA nya "It's familiar". 

Terkadang saya merasa heran dengan saya sendiri, karena terkadang saya merasa, saya merasa pola pikir saya terlalu tua. Dalam banyak kesempatan, saya selalu menggunakan pemikiran "jika begini, nanti pasti begini" atau "kalau begini, nanti jadi begitu" atau "Lebih baik begini karena akan lebih begitu". Dan seterusnya. 

Tapi dalam kesempatan yang lain, saya mensyukuri hal itu. Karena rupanya, hal itu membantu saya untuk tetap live my current life, dengan lebih percaya diri dan tidak mudah terkejutkan pada keadaan. I (mostly) feels ready untuk setiap yang ditawarkan kehidupan. And I feels forever grateful untuk itu pula. 

Untuk yang sedang gelisah, untuk yang sedang tidak percaya diri, untuk yang sedang tidak merasa aman, untuk yang tidak merasa berarti, dan untuk yang tidak merasa bahagia atas kehidupan ini diluaran sana... Saya doakan agar kalian semua segera menemukan pijakan yang kokoh untuk kaki kalian, tambatan yang kuat untuk hati kalian, dan semangadh yang menggebu untuk masa depan kalian. Jalan hidup tak selamanya mulus, pilihan hidup selalu terpampang didepan mata, karenanya kita harus yakin pada diri kita sendiri. 

Yakin bahwa kita berharga, yakin bahwa kita terlahir karena sebuah tujuan, dan yakin bahwa kita mampu memberi manfaat untuk semesta beserta isinya. Dan yang terpenting adalah yakin bahwa kita adalah pengendali utama dari perasaan bahagia kita. 

Send you a lotta love to the universe!

Monday, November 25, 2019

Namanya Asmaranti

Asmaranti...
Yang percaya pada cinta...
Cinta yang sederhana...
Sebagaimana cinta ibu kepada anaknya...

Aku bertumbuh bersamamu mbak
Kita tumbuh bersama
Banyak hal baru yang aku pelajari melalui kamu
Banyak kenangan kita ukir bersama

Sebagaimana anak lainnya,
Kamu juga tidak selalu mendapatkan apa yang kamu mau
Bahkan kamu sering mendapat hukuman dariku
Meskipun pada akhirnya aku sering menyesalinya

Hari demi hari kita lewati bersama
Banyak cerita istimewa dan layak untuk kita kenang
Mungkin tidak penting untuk orang lain,
Tapi untukku, semua waktu yang kita lalui bersama
Setiap detiknya adalah berharga

Hujan... Dan Kamu...
Aku merasa ada yang istimewa manakala hari hujan
Hari hujan tanpa kilat dan petir,
Adalah hari istimewa untuk kita

Kamu selalu menatapku dengan mata penuh permohonan
Dan ketika aku mengangguk, suaramu yang cetar langsung menggelegar
"Horeeeeee"
Berdansa dibawah hujan...

Ketika anak lain senang dijemput dengan mobil manakala hujan,
Kamu lain lagi
Ketika aku sibuk bernyanyi "Rain-rain go away"
Kamu menyanyi lebih keras "Rain-rain here to stay"
Ketika aku biarkan mobil atau motor lain menyipratkan air kubangan pada kita
Kamu dengan gembira akan berteriak "wooooowwww.... This is sooooo funnnnn"
Ketika kulihat ada genangan didepan dan jalanan tidak terlalu padat,
Sengaja kukencangkan laju motor kita sehingga motor kita membelah genangan air itu
Dengan cetarnya kamu akan berteriak "We're crossing the muddle paddle"

Sesimpel itu bahagiamu mbak...
Teruslah berbahagia seperti itu...
Teruslah mencintai hal-hal sederhana seperti hujan dan kubangan air dijalanan,
Karena suatu saat, kamu akan menemui banyak hal yang rumit.

Tapi aku percaya,
Ketika hatimu dipenuhi cinta yang sederhana,
Cinta yang penuh dengan bahagia dan membahagiakan,
Semua yang rumit bukan menjadi penghalang...

Begitupun cinta kami padamu
Sesederhana air hujan yang jatuh dari langit, menggenang di jalanan, mengalir kedalam tanah, terus menuju lautan, menguap menjadi awan, dan kembali turun sebagai hujan yang membahagiakan anak-anak sepertimu...

Asmarantiku...
Semoga Gusti Allah memberikan kita waktu yang banyak untuk saling bertumbuh...
Hingga suatu saat nanti kamu bertumbuh bersama anak cucumu...
Aku dan Ayahmu, akan ikut tersenyum dan tertawa dibawah hujan bersama kalian...

Dari kami yang mencintaimu,

Bunda & Ayah

Maunya photo bokeh, tapi gagal karena hape nya bunda nggak se-canggih Tante Salmul

Sunday, November 24, 2019

When The Skies Are Gray

I am trying to be present... :-)





Mungkin Hanya Saya Yang Merasa Aneh?

Judul tulisan ini adalah perasaan saya yang sebenar-benarnya, jika obrolan sudah mulai mengarah pada perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia. Apakah ada yang lain yang merasa aneh juga?


Mas Bojo baru pulang dari Papua lagi, setelah cukup lama dia vakum tidak trip ke Ujung Timur Indonesia itu. Seperti dalam foto diatas, begitulah...

Nah yang pengen saya share adalah, kegelisahan dan keheranan yang saya rasakan pada beberapa kali diskusi dengan saudara dan teman tentang Papua. Jika ada yang ingin memberi saya pencerahan, silakan... Saya sangat butuh pencerahan... Karena sejauh ini, saya hanya berfikir dengan pikiran bodoh saya saja....

Suatu saat, saya berbincang dengan saudara saya, yang lahir dan besar di Papua. Saat itu, TransPapua baru dimulai, tapi harga BBM sudah samarata. Saya bersyukur karena harga BBM sudah sama, dan TransPapua segera dibuka. Tapi apa coba kata saudara saya yang notabene lahir dan besar disana?

Beliau malah bilang bahwa masyarakat Papua itu tidak menginginkan itu. Mereka lebih membutuhkan tokoh-tokoh yang bisa membimbing agama lebih baik. Mereka sudah senang dan nyaman dengan kondisi sekarang, dan tidak ingin semakin banyak orang masuk ke Papua. Mereka memang jiwanya tidak ingin maju.

Ya lord... Saat itu saya rasanya sedih sekali tapi juga tertawa miris dalam hati...

Saya (masih dengan logika bodoh saya) berkata: "Bulek, itu kan karena memang mereka sudah secara turun temurun dibuat agar berfikir seperti itu. Dibuat berfikir bahwa banyaknya orang dan informasi masuk hanya akan membuat bencana. Tidak diperlihatkan bahwa ada pilihan hidup yang lebih baik yang dunia bisa tawarkan diluar sana. Hanya ada masyarakat yang harus terima dengan kondisi seadanya dan pendidikan serta informasi terbatas". Dan seperti yang mungkin bisa kalian bayangkan... Diskusinya menjadi tidak masuk akal ketika semakin condong dengan menilai jelek pemerintah kita. Duuuuuhhhh....

Belum lagi saya jadi ingat ketika pada suatu masa, dimana BBM baru banget disamaratakan. Sekitar sebulanan lah kalau tidak salah. Diskusi terjadi di sebuah grup WAG saya. Beberapa orang membagikan tautan berita mengenai penyamarataan harga BBM. Beberapa yang kontra pemerintah ya tetap saja dengan nyinyirers nya. Mengatakan bahwa ini hanya pencitraan, yada yada yada...

Kemudian ada salah satu teman saya yang bekerja di Papua juga, memposting kalimat yang sangat jelas sekali bahwa dia mementahkan berita harga BBM sama itu. Dia bilang "Jangan percaya pada berita mainstream... Kenyataannya belum tentu... ". Saya gemash sekali. Saya akhirnya mengirimkan pesan WA kepada salah satu teman kos lama saya, yang juga bekerja di Papua.
"Des, beli BBM gih di pom bensin. Kirim struknya ke gw". Ndilalah teman saya itu segera membalas.
"Nih, kebetulan gw baru aja tadi ke Pom Bensin... Udah sama donk harganya sama di Jawa. Horeeee...".
Langsung saya forward itu foto ke WAG yang tadi itu, dengan kalimat "Benci boleh, tapi malas ngecek dan antipati jangan lah ya..."

Dan sampai sekarang, saya sepertinya dianggap angin oleh teman saya itu. Beberapa WA saya, tidak dibaca... ahahahahaa. Come on... Sarjana nggak usah baperan gitu yekaaan... Cuss...

Gitu aja sih...
Saya tidak perduli sebetulnya siapapun presiden atau menteri-menterinya siapa saja. Yang penting mereka bekerja untuk kita, rakyat Indonesia. Kalau sekarang yang benar-benar bekerja adalah Pakdhe Jokowi, ya terima aja lah. Kalau nanti ada sosok lain penerus Pakdhe yang juga bekerja setulus hati membangun Indonesia, saya juga akan mendukungnya.

Karena hanya satu harapan saya, yaitu anak cucu saya bisa tumbuh di Negara yang maju, aman, tentram, dan penuh harapan akan masa depan. Itu aja. Memangnya kalian tidak?

#jangankapokmenjadiindonesia
#Indonesiabisa

Saturday, November 23, 2019

We Are Never Ever Alone

"I got the book" she texted me along with the picture she sent... "Let's read it together" I texted her back...

Let's dance it out... It won't be easy, but hey, we aren't just like anybody. We're survivor, in this temporary world...

All these stories, should be written... Someday... Be there, hanging on, stay safe, and be happy... Till that time... Many people loves you, we should love ourselves too ...

 #eeeaaa #itmaybefiction #maybenot #backtoword #backtowrite



Tahun ini sepertinya banyak angin bertiup dan meniup orang-orang yang kukasihi. Bermula dengan angin semilir yang menawarkan ribuan harapan, namun bertransformasi menjadi pusaran yang tak kunjung henti... 

Pun bagiku, ada masa ketika harus memasuki sebuah pintu. Pintu gelap yang panjang, sendirian dan kebingungan. Dalam kegelapan kaki harus tetap berjalan maju, mencari jalan untuk keluar. 

Waktu seolah berhenti karena ketiadaan detak jarum jam. Langkah harus tetap maju karena keyakinan bahwa didepan pasti ada jalan terang. Cahaya dibelakang punggung kian mengecil hingga akhirnya hilang. Gelap. 

Lorong gelap yang tak bercelah, tak berujung. Ada pilihan yang tak ingin kupilih kala itu. Berhenti. Bisa saja aku berhenti dan menunggu. Menunggu hingga ada dari mereka menyadari bahwa aku tersesat. Tapi aku tidak membiasakan diri hidup dengan mengharapkan kepedulian orang, aku tidak suka menunggu dan tergantung pada orang lain. Hidupku, jalan hidupku, dan arah langkahku, tidak bisa menunggu dan tergantung pada orang lain. Akupun terus berjalan. 

Berjalan dalam kegelapan tanpa adanya dimensi waktu, membuatku banyak berfikir. Tentang aku, tentang perjalanan di dalam lorong gelap itu, tentang mereka yang mengasihiku, dan tentang mereka yang kukasihi. Tentang aku, bukan cerita yang akan selesai dalam satu jilid buku, ataupun dalam sebuah serial cerita. Karena aku, terus melaju bersama waktu yang memburu. Tentang perjalanan di lorong gelap itu, tidak akan mampu terkupas hanya dalam satu bab buku. Tidak mudah membongkar semua tumpukan batu, tidak mudah menyingkirkan duri jerami ilalang serta semua penutup dalamnya gua. Seperti lapisan bawang merah, hanya bisa dibuka selapis demi selapis, pada saatnya nanti. 

Tentang mereka yang mengasihiku... 
Pada akhirnya, merekalah yang mengirimkan doa dan semangadh pada semesta. Semesta menghantarkan setiap doa mereka kepada sang pencipta, yang akan selalu menolong hamba-Nya. Kepada mereka semua, Terima Kasih. 

Tentang mereka yang kukasihi... 
Dalam setiap doa dan harapan, dalam setiap kondisi, ada nama mereka berbaris dalam setiap kalimatnya. Sebelum akhirnya kututup dengan "aamiin". 

Setelah habis pikirku pada apa yang mampu otakku panggil, aku terdiam tanpa berhenti melangkah. Semua yang aku pikirkan sebelumnya, adalah aku. aku. dan aku. Ketika tak ada lagi aku dan aku yang kupikirkan, kutanyakan, dan kucari, aku diam. Tidak ada lagi. Apa yang tersisa? DIA. 

DIA. 
Iya, pada akhirnya hanya ada Dia yang maha segalanya. Yang tak bisa habis untuk dipikirkan dari masa ke masa. Dia yang menuntunku ke lorong gelap ini, Dia jua lah yang akan menuntunku keluar. Seperti dalam tulisan lamaku tentang berjalan diatas tali, ini hanya sekedar terjatuh dari tali. Dia jua yang akan menuntunku bangkin kembali meniti tali itu. Iya, Dia. Siapa lagi? Tidak ada. 

Akhirnya kuhela nafas panjang, dan kukatakan dengan keras "Aku Pada-Mu". Iya. Saat itu aku mengembalikan semuanya kepada-Nya. Tidak ada lagi pertanyaan kenapa, mengapa, bagaimana bisa, kenapa aku, kenapa kami, dan lain sebagainya. Semua pertanyaan telah terjawab. DIA. Dia yang maha berkehendak. Itu saja. 

Langkahku semakin lurus, tidak lagi terseok-seok dalam ragu. Kulangkahkan kakiku maju, dengan keyakinan untuk mengikuti-Nya. Kemanapun dan bagaimanapun, ketika aku maju dengan mengikuti-Nya, aku yakin semua akhir adalah yang terbaik. Lorong gelap panjang yang awalnya terasa sesak untukku, tetap gelap namun tak lagi sesak. 

Untuk beberapa waktu aku masih tetap berjalan dilorong gelap, tapi kegelapan yang melegakan. Hingga akhirnya, aku mulai melihat cahaya samar dari ujungnya. Aku tahu bahwa akhir dari lorong gelap ini, mungkin bukan yang aku inginkan, namun yang terbaik dari semua hal baik. Sedikit khawatir, tapi tidak lama. Dengan-Nya, semua jawaban terhampar begitu saja. Yang Terbaik. Terima Kasih. 

Belum lama ini, salah seorang yang kukasihi, sedang memasuki lorong gelapnya. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, selain berdoa, menguatkan, menyemangati, dan mengingatkan bahwa panjangnya lorong gelap kita mungkin tidak sama. Tetapi tetap hanya Dia yang akan memberi kita jawaban pasti. Pasrahkan... Ikhlaskan... Legowo... All is well... It shall pass... 

Tumbuh ke dalam adalah proses yang mungkin tidak mudah, dan tidak semua orang memilih untuk menjalaninya. Berbahagialah kita semua, atas apa yang diberikan-Nya pada masing-masing dari kita. 

#love
#healing