Let's dance it out... It won't be easy, but hey, we aren't just like anybody. We're survivor, in this temporary world...
All these stories, should be written... Someday... Be there, hanging on, stay safe, and be happy... Till that time... Many people loves you, we should love ourselves too ...
#eeeaaa #itmaybefiction #maybenot #backtoword #backtowrite
Tahun ini sepertinya banyak angin bertiup dan meniup orang-orang yang kukasihi. Bermula dengan angin semilir yang menawarkan ribuan harapan, namun bertransformasi menjadi pusaran yang tak kunjung henti...
Pun bagiku, ada masa ketika harus memasuki sebuah pintu. Pintu gelap yang panjang, sendirian dan kebingungan. Dalam kegelapan kaki harus tetap berjalan maju, mencari jalan untuk keluar.
Waktu seolah berhenti karena ketiadaan detak jarum jam. Langkah harus tetap maju karena keyakinan bahwa didepan pasti ada jalan terang. Cahaya dibelakang punggung kian mengecil hingga akhirnya hilang. Gelap.
Lorong gelap yang tak bercelah, tak berujung. Ada pilihan yang tak ingin kupilih kala itu. Berhenti. Bisa saja aku berhenti dan menunggu. Menunggu hingga ada dari mereka menyadari bahwa aku tersesat. Tapi aku tidak membiasakan diri hidup dengan mengharapkan kepedulian orang, aku tidak suka menunggu dan tergantung pada orang lain. Hidupku, jalan hidupku, dan arah langkahku, tidak bisa menunggu dan tergantung pada orang lain. Akupun terus berjalan.
Berjalan dalam kegelapan tanpa adanya dimensi waktu, membuatku banyak berfikir. Tentang aku, tentang perjalanan di dalam lorong gelap itu, tentang mereka yang mengasihiku, dan tentang mereka yang kukasihi. Tentang aku, bukan cerita yang akan selesai dalam satu jilid buku, ataupun dalam sebuah serial cerita. Karena aku, terus melaju bersama waktu yang memburu. Tentang perjalanan di lorong gelap itu, tidak akan mampu terkupas hanya dalam satu bab buku. Tidak mudah membongkar semua tumpukan batu, tidak mudah menyingkirkan duri jerami ilalang serta semua penutup dalamnya gua. Seperti lapisan bawang merah, hanya bisa dibuka selapis demi selapis, pada saatnya nanti.
Tentang mereka yang mengasihiku...
Pada akhirnya, merekalah yang mengirimkan doa dan semangadh pada semesta. Semesta menghantarkan setiap doa mereka kepada sang pencipta, yang akan selalu menolong hamba-Nya. Kepada mereka semua, Terima Kasih.
Tentang mereka yang kukasihi...
Dalam setiap doa dan harapan, dalam setiap kondisi, ada nama mereka berbaris dalam setiap kalimatnya. Sebelum akhirnya kututup dengan "aamiin".
Setelah habis pikirku pada apa yang mampu otakku panggil, aku terdiam tanpa berhenti melangkah. Semua yang aku pikirkan sebelumnya, adalah aku. aku. dan aku. Ketika tak ada lagi aku dan aku yang kupikirkan, kutanyakan, dan kucari, aku diam. Tidak ada lagi. Apa yang tersisa? DIA.
DIA.
Iya, pada akhirnya hanya ada Dia yang maha segalanya. Yang tak bisa habis untuk dipikirkan dari masa ke masa. Dia yang menuntunku ke lorong gelap ini, Dia jua lah yang akan menuntunku keluar. Seperti dalam tulisan lamaku tentang berjalan diatas tali, ini hanya sekedar terjatuh dari tali. Dia jua yang akan menuntunku bangkin kembali meniti tali itu. Iya, Dia. Siapa lagi? Tidak ada.
Akhirnya kuhela nafas panjang, dan kukatakan dengan keras "Aku Pada-Mu". Iya. Saat itu aku mengembalikan semuanya kepada-Nya. Tidak ada lagi pertanyaan kenapa, mengapa, bagaimana bisa, kenapa aku, kenapa kami, dan lain sebagainya. Semua pertanyaan telah terjawab. DIA. Dia yang maha berkehendak. Itu saja.
Langkahku semakin lurus, tidak lagi terseok-seok dalam ragu. Kulangkahkan kakiku maju, dengan keyakinan untuk mengikuti-Nya. Kemanapun dan bagaimanapun, ketika aku maju dengan mengikuti-Nya, aku yakin semua akhir adalah yang terbaik. Lorong gelap panjang yang awalnya terasa sesak untukku, tetap gelap namun tak lagi sesak.
Untuk beberapa waktu aku masih tetap berjalan dilorong gelap, tapi kegelapan yang melegakan. Hingga akhirnya, aku mulai melihat cahaya samar dari ujungnya. Aku tahu bahwa akhir dari lorong gelap ini, mungkin bukan yang aku inginkan, namun yang terbaik dari semua hal baik. Sedikit khawatir, tapi tidak lama. Dengan-Nya, semua jawaban terhampar begitu saja. Yang Terbaik. Terima Kasih.
Belum lama ini, salah seorang yang kukasihi, sedang memasuki lorong gelapnya. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, selain berdoa, menguatkan, menyemangati, dan mengingatkan bahwa panjangnya lorong gelap kita mungkin tidak sama. Tetapi tetap hanya Dia yang akan memberi kita jawaban pasti. Pasrahkan... Ikhlaskan... Legowo... All is well... It shall pass...
Tumbuh ke dalam adalah proses yang mungkin tidak mudah, dan tidak semua orang memilih untuk menjalaninya. Berbahagialah kita semua, atas apa yang diberikan-Nya pada masing-masing dari kita.
#love
#healing

No comments:
Post a Comment