Sebelum menulis cerita ini, dikepalaku berhilir mudik pikiran, sedikit kebingungan, sedikit penasaran, sedikit kegelisahan, dan sedikit keengganan. Pada mulanya aku kepengen sekali langsung menulis tentang hal remeh ini, pertama kali aku mendengar dan melihat sebuah kondisi, namun kemudian aku urungkan karena sepertinya ini memang tidak penting. Namun, lama kelamaan kondisi ini semakin sering terjadi diluar jendelaku, sehingga aku semakin ingin menulisnya. :)
Harap di maklum, setelah pindah tempat tinggal, banyak hal baru yang berubah dalam keseharianku. Dulu, biasanya aku akan melewati jam kerja dalam suasana hening, terkadang suara cuitan burung2 kecil, dan hembusan angin menerpa dedaunan di luar jendela (tidak termasuk kehebohan yang terjadi ketika aku bertemu muka dan beradu mulut dengan para penghuni kosan yang lain lho... Kalau itu sih, wuidiihhh.... Hebohnya ngalah2in suara badai... hehehheee).
Nah, sekarang??? 180 derajat berubah total.... Mulai dari aku membuka mata, suara hiruk pikuk dan riuh rendah selalu terdengar dari balik dinding rumahku. Pagi2, ketika mataku baru mulai terbuka, tetangga depan pasti sudah sibuk dengan segala macam pekerjaan mulai dari mencuci piring, menyapu halaman, mengangkat tempat jemuran, memanaskan mobil, dll. Hal itu yang kemudian menjadi "alarm wajib bangun" bagiku dan baginya yang namanya tak boleh disebut. Bukan alarm untuk bangun dan beraktifitas, tapi untuk bangun, mematikan lampu teras, membuka gorden dan jendela, dan kemudian kembali lagi ke tempat tidur untuk sekedar mengumpulkan nyawa.... Psssstttt.... Itu hanya untuk menunjukkan pada dunia, bahwa kami sudah bangun pagi, layaknya para tetangga yang lainnya.... hahahhaaaa
Musim liburan anak sekolah ini, membuatku semakin *sedikit* tersiksa. Mulai dari pagi sampai petang, jalanan didepan rumahku akan menjadi ajang permainan drama untuk anak2 kompleks yang kebanyakan berusia sepantaran. Mereka selalu berjalan hilir mudik dari ujung ke ujung, bersepeda, bercengkerama, bercerita, bertengkar, bermain drama, dan banyak lagi aktifitasnya yang luar biasa. Rasanya, aku seperti bekerja sambil mendengarkan siaran radio yang tanpa henti. :)
Dari balik jendela ini, aku mau tidak mau harus mengikuti kisah (baik yang merupakan kisah nyata dan juga kisah yang benar2 drama) mereka. Dunia anak memang dunia yang penuh warna dan keceriaan. Tidak pernah habis kisah yang bisa mereka buat untuk melewati hari2 mereka yang panjang.
Ada satu hal yang membuatku tergelitik dari tingkah polah anak2 ini... Yaitu bagaimana mereka memilih teman untuk bermain. Terkadang, lebih karena 'bagaimana orang tua mereka memilihkan teman untuk bermain mereka'. Yups... Rupanya, meskipun mereka masih anak2 yang bebas, belum perlu memikirkan masalah keduniaan, tapi ada bagian dari mereka yang memang dipengaruhi oleh orang2 dewasa yang berkepentingan.
Seperti kejadian sore tadi...
Laiknya hari-hari sebelumnya, dimana aku yang masih penghuni baru ini berusaha bersilaturahmi dengan tetangga dengan cara ikut berbincang-bincang ringan dijalan depan rumah. Anak-anak komplek riuh rendah bermain disepanjang jalanan itu. Ada yang naik sepeda, ada yang bermain drama, ada yang
boi-boi nan, dan masih banyak lagi aktifitas sore tadi. Kami, ibu-ibu hanya duduk berbincang sambil mengamati anak-anak mereka bermain. Namanya juga anak-anak, mereka bermain bebas kesana-kesini sesuka hati. Setidaknya menurutku begitu.
Namun rupanya tidak 100% betul. Seorang ibu yang sedang duduk-duduk bersamaku, tiba-tiba memanggil anaknya (sebut saja namanya raja) yang sedang bergerak menuju temannya yang bermain drama.
"Eh.... Raja, jangan main disana. Sini sebentar mama bilangin."
Dan ketika si anak mendekat dengan setengah cemberut, si ibunya pun membisikkan sesuatu yang masih bisa tertangkap radar ku. Kalau tidak salah begini wejangan dari si ibu:
"Raja nggak boleh main sama itu (nunjuk anak2 yang sedang bermain)... Raja main sama itu aja (nunjuk anak lain yang bermain dilokasi berbeda"
"Kenapa ma?" Tanya anak
"Pokoknya kalau mama bilang nggak boleh ya nggak boleh... Sana main sama itu... Mama lihatin dari sini..."
Si anak pun dengan tidak bergairah berjalan ke arah anak-anak yang direkomendasikan mamanya.
Tanpa sengaja, segurat senyum miris tersungging di bibir ku. Beruntung aku masih cukup sadar untuk segera menarik senyuman itu kembali sebelum si ibu itu melihat ke arahku. Akhirnya kemirisan turun dari mulut ke hati. Dalam hati aku berniat dan berdoa "Ya Tuhan... Jika tiba masanya nanti aku kau anugerahi seorang atau beberapa orang anak, maka janganlah kau ijinkan aku menjadi ibu yang pilih-pilih seperti ini. Ingatkan aku agar selalu memberi keleluasaan pada anakku dalam memilih temannya.
Promise me to always lead my way, Tuhan..."
Sore itu berlalu dengan hambar....
Ibu-ibu... Biarkalah anak-anak bermain dengan semua temannya.... Pada masanya nanti mereka hanya akan punya kenangan indah mengenai mereka. Karena anak-anak kita akan menemukan dunia baru mereka, tapi tetap tak kan pernah lupa masa kecilnya. Biarkanlah mereka berbahagia dengan cara mereka...