Monday, July 30, 2012

When The Number Has Turned To Twenty Something

Millions thanks for everybody in d'world, who has made my Sunday more colorful.... ^_^

Me, turn on 27th years old... Oh my goodness....  Still young, am I? :-p

Yesterday was a great great day, because i spent the time with them. Peoples who gave me a song, a day, a happiness, memories, and a cake... :-)

I don't wanna say anything here, i will only post pictures of them... But unfortunately, for the last cake, we didn't took a picture. So i'll tell a story about that later.

Here, will be my first celebration with 'you know who'. ;-)




Here, will be my second celebration with them at Lawalata IPB. ;-)





And Here, will be my third celebration with them at Back-Under Level of Maharlika (Is it right way to describe Maharlika Belakang Bawah? hehehe... Oh man, that's not a big deal at all. We can call it everything, because it has 'everything' in there...). Happy to have a past with it, and with them... ^_^

Ps: Those pictures are coming soon. I need to import it's from my pocket camera which will take a time... Be patience darling... heheheeee

Thursday, July 26, 2012

Hari Ini Aku Tidak Mungkin Membeli Sayur

Dear friends...

Satu tips yang akan aku berikan untuk kalian yang memiliki kebiasaan melakukan kegiatan di luar rumah (di pekarangan maksudnya) pagi hari. Seperti halnya menyapu halaman, menyiram tanaman, atau juga berbelanja sayuran di depan rumah di pagi hari. Maka, janganlah kalian menonton filem yang bisa menguras air mata yang berjudul "We Are Family" yang versi India. Karena aku adalah korban dari filem itu, yang akhirnya tidak bisa beraktivitas bebas diluar rumah pagi ini. 

Kenapa? 
Ceritanya begini...

Kemarin sore, aku dan dia yang namanya tak bisa disebut itu memutuskan untuk ngabuburit dan sekaligus berbuka diluar. Aku sedang bosan makan dirumah karena beberapa hari ini sudah selalu berbuka di rumah dengan nasi. Kemarin mendadak aku kepengen makan mie ayam. Akhirnya kamipun bergerak menuju kampus dan nongkrong dulu (ngabuburit) di sekretariat organisasi tercinta Lawalata. 

Disana kami bertemu, bercengkerama, bersendagurau, ber-internet-ria, dan lain2nya. Hingga mendekati waktunya buka, salah seorang dari mereka mengatakan hendak membeli buka ke kawasan Bara. Aku dan dia memutuskan untuk berbuka di Lawalata saja, dan menitip makanan pada mereka. Akhirnya, setelah sekian lama merasakan berbuka berdua (dan kadang sendiri), aku bisa kembali merasakan berbuka beramai-ramai. Senangnyaaa....

Setelah berbuka selesai, kamipun berkumpul di ruangan karena kawanan nyamuk kebon yang besarnya nyaris sama dengan belalang (lebay dikit) sudah menginvasi tempat duduk kami sebelumnya -perapian. Kami kembali ngobrol dengan teman kami yang baru datang kembali dari Medan. Dia yang sedang ada urusan pekerjaan di kota Bogor ini, kembali memeriahkan sekret kami. Sedikit nostalgia dengan memberi update si ini dan si itu. Teman kami itu akhirnya membayari semua makanan berbuka kami manakala seorang lainnya ingin membeli makan. Seperti rencana semula, aku dan dia menitip Mie Ayam. heheheee

Di sela-sela perbincangan, aku menyalakan komputer dan menonton koleksi film yang belum pernah ku tonton. Aku memilih Film India yang berjudul "We Are Family". Pemainnya Kajol, Karan Johar dan Kareena Kapoor... Menurut Nonet, filem itu sedih sekali... Aku jadi kepengen nonton cepet2. Tapi sayang, baterai laptop ku nggak bertahan sampai setengah2 acan... Jadinya aku pause dulu deh nontonnya... Pulanglah aku dan Dia ke our home sweet home... :)

Tadi pagi, alhamdulillah aku masih bangun untuk memanaskan air untuk teh, memasak sayur dan menggoreng  lauk. Sahur sederhana yang cukup mengenyangkan bagi kami. Setelah bersahur dan Sholat Subuh, aku menawarkan padanya untuk meneruskan nonton filem india itu dan diapun setuju. Asyiikkk.... Kami berduapun nonton pelem itu dengan khusyuk... 


Oow... ternyata eh ternyata... cerita pelem itu memang sangat sedih, apalagi untukku. Dan seperti biasa, rasa sensitif ku tersentil dan air matapun mengucur deras hingga pelem berakhir. Hwaaaa.... sediiiihhhh.... Setelah bertanya2 sebentar apakah menangis bisa membatalkan puasa (pertanyaan dari jaman SD. hahahaaa), Alhamdulillah juga ternyata menangis tidak membatalkan puasa. heheheeee.

Tapi eh tapi... aku tidak memperhatikan akibat dari apa yang sudah aku lakukan dengan mataku ini. Karena mataku memang sangatlah sensitif, dan akan dengan cepat membengkak ketika menitikkan air mata, maka matakupun pagi ini dengan menjadi bengkak dengan suksesnya. Sampai matahari menerang, mataku masih saja menggelembung. Akupun bilang padanya :
"Hari ini aku nggak nyapu halaman ah... Kalau tetangga lihat mataku kayak gini, bisa2 kita disangka berantem lagi." Kamipun ngakak berjama'ah... :)

Sampai dengan tukang sayur datang, rupanya mataku masih saja menggelembung seperti ikan mas koki. Kembali lagi aku harus berkata:
"Aku nggak beli sayur ya... malu. Nanti aja sore aku keluar nyari sayur. heheheee"

Nah, begitulah kisahku mengenai Pelem India, sapu, dan sayur... :))))))))

Tuesday, July 10, 2012

Show Me The Way

I know that You've gave me a lot
How dare me to ask more and more
I know that You've gave me more than i need
How dare me keep wanting more and more

I will only say what i feel to the air,
Hope that You will hug them tightly
Because i believe that we can lose treasure,
But we can't lose dream and faith


Let's sing a beautiful and meaningful song :p

Every night I say prayer in the hope that there's a heaven
And every day I'm more confused as the saints turn into sinners
All the heroes and legends I knew as a child have fallen to idols of clay
And I feel this empty place inside so afraid that I've lost my faith

Show me the way, show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away
Show me the way

And as I slowly drift to sleep, for a moment dreams are sacred
I close my eyes and know there's peace in a world so filled with hatred
That I wake up each morning and turn on the news to find we've so far to go
And I keep on hoping for a sign, so afraid that I just won't know

Show me the way, Show me the way
Take me tonight to the mountain
And wash my confusion away

And if I feel light, should I believe
Tell me how will I know

Show me the way, Show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away

Show me the way, Shoe me the way
Give me the strength and the courage
To believe that I'll get there someday
Show me the way

Every night I say a prayer
In the hope that there's a heaven... 

Saturday, June 30, 2012

Berteman Tanpa Memilih

Sebelum menulis cerita ini, dikepalaku berhilir mudik pikiran, sedikit kebingungan, sedikit penasaran, sedikit kegelisahan, dan sedikit keengganan. Pada mulanya aku kepengen sekali langsung menulis tentang hal remeh ini, pertama kali aku mendengar dan melihat sebuah kondisi, namun kemudian aku urungkan karena sepertinya ini memang tidak penting. Namun, lama kelamaan kondisi ini semakin sering terjadi diluar jendelaku, sehingga aku semakin ingin menulisnya. :)

Harap di maklum, setelah pindah tempat tinggal, banyak hal baru yang berubah dalam keseharianku. Dulu, biasanya aku akan melewati jam kerja dalam suasana hening, terkadang suara cuitan burung2 kecil, dan hembusan angin menerpa dedaunan di luar jendela (tidak termasuk kehebohan yang terjadi ketika aku bertemu muka dan beradu mulut dengan para penghuni kosan yang lain lho... Kalau itu sih, wuidiihhh.... Hebohnya ngalah2in suara badai... hehehheee).

Nah, sekarang??? 180 derajat berubah total.... Mulai dari aku membuka mata, suara hiruk pikuk dan riuh rendah selalu terdengar dari balik dinding rumahku. Pagi2, ketika mataku baru mulai terbuka, tetangga depan pasti sudah sibuk dengan segala macam pekerjaan mulai dari mencuci piring, menyapu halaman, mengangkat tempat jemuran, memanaskan mobil, dll. Hal itu yang kemudian menjadi "alarm wajib bangun" bagiku dan baginya yang namanya tak boleh disebut. Bukan alarm untuk bangun dan beraktifitas, tapi untuk bangun, mematikan lampu teras, membuka gorden dan jendela, dan kemudian kembali lagi ke tempat tidur untuk sekedar mengumpulkan nyawa.... Psssstttt.... Itu hanya untuk menunjukkan pada dunia, bahwa kami sudah bangun pagi, layaknya para tetangga yang lainnya.... hahahhaaaa

Musim liburan anak sekolah ini, membuatku semakin *sedikit* tersiksa. Mulai dari pagi sampai petang, jalanan didepan rumahku akan menjadi ajang permainan drama untuk anak2 kompleks yang kebanyakan berusia sepantaran. Mereka selalu berjalan hilir mudik dari ujung ke ujung, bersepeda, bercengkerama, bercerita, bertengkar, bermain drama, dan banyak lagi aktifitasnya yang luar biasa. Rasanya, aku seperti bekerja sambil mendengarkan siaran radio yang tanpa henti. :)

Dari balik jendela ini, aku mau tidak mau harus mengikuti kisah (baik yang merupakan kisah nyata dan juga kisah yang benar2 drama) mereka. Dunia anak memang dunia yang penuh warna dan keceriaan. Tidak pernah habis kisah yang bisa mereka buat untuk melewati hari2 mereka yang panjang.

Ada satu hal yang membuatku tergelitik dari tingkah polah anak2 ini... Yaitu bagaimana mereka memilih teman untuk bermain. Terkadang, lebih karena 'bagaimana orang tua mereka memilihkan teman untuk bermain mereka'. Yups... Rupanya, meskipun mereka masih anak2 yang bebas, belum perlu memikirkan masalah keduniaan, tapi ada bagian dari mereka yang memang dipengaruhi oleh orang2 dewasa yang berkepentingan.

Seperti kejadian sore tadi...
Laiknya hari-hari sebelumnya, dimana aku yang masih penghuni baru ini berusaha bersilaturahmi dengan tetangga dengan cara ikut berbincang-bincang ringan dijalan depan rumah. Anak-anak komplek riuh rendah bermain disepanjang jalanan itu. Ada yang naik sepeda, ada yang bermain drama, ada yang boi-boi nan, dan masih banyak lagi aktifitas sore tadi. Kami, ibu-ibu hanya duduk berbincang sambil mengamati anak-anak mereka bermain. Namanya juga anak-anak, mereka bermain bebas kesana-kesini sesuka hati. Setidaknya menurutku begitu.

Namun rupanya tidak 100% betul. Seorang ibu yang sedang duduk-duduk bersamaku, tiba-tiba memanggil anaknya (sebut saja namanya raja) yang sedang bergerak menuju temannya yang bermain drama.
"Eh.... Raja, jangan main disana. Sini sebentar mama bilangin."

Dan ketika si anak mendekat dengan setengah cemberut, si ibunya pun membisikkan sesuatu yang masih bisa tertangkap radar ku. Kalau tidak salah begini wejangan dari si ibu:
"Raja nggak boleh main sama itu (nunjuk anak2 yang sedang bermain)... Raja main sama itu aja (nunjuk anak lain yang bermain dilokasi berbeda"
"Kenapa ma?" Tanya anak
"Pokoknya kalau mama bilang nggak boleh ya nggak boleh... Sana main sama itu... Mama lihatin dari sini..."

Si anak pun dengan tidak bergairah berjalan ke arah anak-anak yang direkomendasikan mamanya.
Tanpa sengaja, segurat senyum miris tersungging di bibir ku. Beruntung aku masih cukup sadar untuk segera menarik senyuman itu kembali sebelum si ibu itu melihat ke arahku. Akhirnya kemirisan turun dari mulut ke hati. Dalam hati aku berniat dan berdoa "Ya Tuhan... Jika tiba masanya nanti aku kau anugerahi seorang atau beberapa orang anak, maka janganlah kau ijinkan aku menjadi ibu yang pilih-pilih seperti ini. Ingatkan aku agar selalu memberi keleluasaan pada anakku dalam memilih temannya. Promise me to always lead my way, Tuhan..."

Image Source here

Sore itu berlalu dengan hambar....
Ibu-ibu... Biarkalah anak-anak bermain dengan semua temannya.... Pada masanya nanti mereka hanya akan punya kenangan indah mengenai mereka. Karena anak-anak kita akan menemukan dunia baru mereka, tapi tetap tak kan pernah lupa masa kecilnya. Biarkanlah mereka berbahagia dengan cara mereka...

Tuesday, June 19, 2012

Metamorfose Sebuah Ritssluiting


Siang ini sepertinya aku kecolongan. Cuaca panas sekali, padahal aku tidak mencuci pakaian. Atau jangan2 cuaca hari ini panas karena aku tidak mencuci? hehehe.... Sorry, aku memang suka GR sendiri... :p

Siang2 panas begini, tiba tiba aku pengen menuliskan sesuatu yang 'nggak meaning' banget kayaknya... Yaitu tentang Ritssluiting.... 

Ya benar... tentang ritssluiting... bukan yang lain. Dan ini memang ritssluiting yang sering kita gunakan itu. Mungkin sebagian besar orang hampir setiap hari berhubungan dengan benda yang namanya ritssluiting ini. Di Tas, baju, jaket, dompet, bahkan kadang di sepatu, benda ini sering sekali eksis... :)

Aku hanya ingin menuliskan tentang ritssluiting yang berhubungan langsung dengan kehidupanku yang baru. Begini ceritanya... Aku punya satu baju favorit (karena memang hanya itu satu2nya bajuku yang layak di pakai dalam acara semi resmi) yang menggunakan ritssluiting di bagian depannya. Baju ini sebetulnya adalah baju teman kuliahku, yang karena faktor waktu, akhirnya berbalik nama menjadi milikku... hehehhee

Nah, baju ini sudah aku pakai sejak jaman kuliah, yang berarti sudah sekian ratus kali aku pakai. Dan dalam setiap kali pemakaiannya, aku selalu hanya mengancingkan/menutup setengah (kadang juga kurang) dari panjang ritssluiting itu. Setengahnya lagi aku biarkan terbuka, untuk sekedar memberi ruang bagi angin yang kepingin masuk, atau juga untuk sekedar meniupkan sedikit kepercayaan diriku (nggak tau juga alasannya kenapa). Dan selama ini, semua berjalan lancar tanpa ada kendala apapun oleh siapapun... 

Sampai pada akhirnya, beberapa hari yang lalu. Aku tergerak untuk memakai kembali baju itu ke sebuah acara semi resmi di almamater kampusku. Aku bersiap seperti biasanya, dan siap berpamitan padanya yang namanya tak pernah kusebut, who happen to be my husband. hehehe... 

Dan tau apa yang terjadi??? 
Terrroooreeetttt..... 
" Itu bajunya makenya yang bener donk...." katanya
" Lho, kenapa emang?" tanyaku sambil ngecek kanan kiri baju takut2 ada yang kusut atau berlipat.
" Ritssluiting nya di naikin lah... Jangan kayak gitu... Kayak yang nggak niat aja pakenya...."
" Lho, selama ini juga aku pakainya begini kan?" 
" Iya, tapi sekarang nggak bisa segitu lagi... Naikin... Segini nih..." katanya sambil menarik ritssluiting ku ke atas sampai nyaris membuatku tercekik...
" Apaan nih... ini mah kayak orang cupu... Segini udah bener tau...." kataku sambil kembali menariknya turun.
" Nggak boleh... Segini deh... " katanya sambil kembali menariknya ke atas. Kali ini tidak sampai puncak, hanya 3/4 saja.
" Ah, enggak ah... gerah... segini deh... " Kataku sambil kembali menurunkannya hingga setengah lebih sedikit... Diapun mengernyitkan dahi sambil menimang2 dalam kepalanya dan akhirnya berkata:
" Boleh deh segitu....."

See???? 
Penting banget nggak sih mendebatkan seberapa tinggi ritssluiting kita bisa kita gunakan? Sebetulnya sama sekali tidak penting menurutku. Namun karena tuntutan status, mau tidak mau memang harus ada negosiasi hingga tercapai kesepakatan. Dengan tersenyum2 kecil, akupun bergumam:
"Sejak kapan sih aku harus dengerin n nurut sama perintahmu begini?"

Dan kamipun tertawa bersama. Ada hal2 menarik yang terjadi dan masih sering membuat kami tergelak2 jika mengingatnya beberapa waktu kemudian. Mungkin bagi beberapa orang, perdebatan kecil begini bisa menjadi perang badar atau pertengkaran jika dibawa ke hati. Misalkan saja tidak ada yang mau mengalah, maka naik turunnya ritssluiting ini akan berganti menjadi maju mundurnya pisau untuk berantem. hweeekkekeeke

Ritssluiting ini hanyalah sebuah gambaran kecil bagaimana sebuah hubungan interaksi antara 2 individu yang disatukan oleh status. Masih banyak lagi ritssluiting2 lain yang memerlukan diskusi, negosiasi, dan perdebatan kecil hingga tercapainya sebuah kata sepakat. Kadang itu terasa mudah, namun kadang juga terasa sulit. Tergantung bagaimana kita menerima, merasakan, menghadapi, dan menyelesaikannya. Mudah2an jalan panjang yang terbentang didepan sana akan dapat kami lalui semudah dan seindah kala kami melewati perdebatan tentang ritssluiting ini. :p

That's married are for... 
To negotiate everything...
To get the agreement between 2 parties...
And to laughing together once the result decided...

So far so good.... ^_^

Friday, June 8, 2012

The Day My New Life Begins

This is the story about 'oneday'
Oneday when my new life has just begun
You and Me...
Promise each other...
To spend the rest of our life,
Until death do us apart...

We... Together to be better... Insya Allah, Amin ^_^


****** 


Today's the day my new life begins.
All my life, I've been just me
Just a smart-mouth kid

Today I become a grown-up
Today I become a couple
Today I become a citizen of the world

Today I become countable
to someone other than myself.
Today I become countable to the future.

To all the possibilities
that marriage has been offered.

Together,
No matter what happens,
i'll be ready...

For anything...
For everything...

To take on life, to take on love,
to take all the possibilities and responsibilities.

Today....
Our life together begins...

And I, for one, can't wait.


****** 









Thank you so much for all dear friends,
For attending on my wedding ceremonies,
And for thinking of us on this special moment in our life
God bless you all ^_^

Thursday, June 7, 2012

Sule - Ay Need You!!!


Kalau ada yang menanyaiku "Siapa artis Indonesia yang kamu sukai?", aku yakin aku akan menjawab "Sule...!!!"

Tidak masalah jika orang kemudian akan tertawa ngakak atau mencibir nyinyir, karena aku memang mengidolakan Sule. Menurutku, dia artis komedi yang sangat berbakat. Layak untuk di idolakan... :)

Karenanya, aku selalu berusaha untuk menyaksikan acara2 Sule seperti OVJ, Awas ada Sule, pelem2 pendek di tipi, dan juga pelem layar lebarnya. Yang paling gress adalah pelem layar lebarnya yang berjudul "Sule, Ay need you". Akhirnya aku berhasil merayu Dia untuk menemaniku nonton pelem ini di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Hujan ini. 

Menurut pendapatku, pelem si Sule ini cukup layak di tonton oleh segala tingkatan umur lho.... Bahkan, jika di lihat dari sisi keamanan psikis, pelem ini sangat recomended untuk di tonton mulain dari usia basata sampai dengan manula. Kenapa? Karena aku tidak menemukan adegan2 yang tidak senonoh sepanjang pertunjukan. Bahkan tidak ada kata2 kotor atau yang mengandung unsur kebun binatang yang keluar dari bibir para pemain. Yang ada justu sisipan2 pesan moral yang dengan cantik disematkan dalam pelem ini. Good to go lah pokoke.... :)

Berikut adalah beberapa pelajaran positif yang berusaha disematkan dalam pelem Sule, Ay need you, menurut versiku:

1. Bapak Sule yang gila karena gagal terpilih sebagai kepala desa
Pesan: Jika menginginkan jabatan tertentu, jangan terlalu berambisi untuk menang, karena jika kalah hanya akan menimbulkan kekecewaan dan stress berat. Sebelum mencalonkan diri, musti menyiapkan mental untuk gagal, jangan sampai hanya punya mental menang saja.

2. Ketika Ayla hampir kecopetan di metromini
Pesan: Jangan terlena pada paras/rupa/wajah tampan seseorang yang tidak kita kenal, karena tidak sedikit orang yang menyalahgunakannya untuk menipu dan mencopet.

3. Ketika om-nya Dafa menulis skenario sinetron dan ternyata keponakannya mempraktekkan skenarionya untuk kabur dari rumah
Pesan: Untuk penulis script sinetron, film, iklan, atau apapun yang tayang di media, harus benar2 memikirkan pengaruh terhadap para penonton. Harus menghindari cerita yang mengundang penonton untuk mengikuti dan melakukan perbuatan yang tidak terpuji.

4. Ketika akhirnya Sule pulang kampung dan rela melepaskan Ayla
Pesan: Terkadang memang perlu memperhatikan kemungkinan/possibility/peluang untuk mendapatkan seseorang yang kita sukai.... Tidak bisa selamanya cerita dongeng itu bisa kita alami di dunia nyata.

5. Masih banyak pesan2 kecil yang ada didalam cerita pelem Sule ini. Go get the ticket, and you will never regret....!!! :p 

Ada sinopsis dan cuplikan ceritanya disini dan disini

Oh iya, sepanjang pertunjukan pelem Si Sule ini, seantero ruangan Studio 1 itu riuh rendah dengan suara tawa dari segala macam usia. Ada tawa ngakak riang dan ringan dari anak2 kecil, ada tawa malu2 para remaja, dan tawa berat dan padat ala orang2 tua... Semua usia, semua-mua tertawa terbahak2 karena tingkah polah Sule dan kawan2nya.... hahahhahaaa.... :p