Friday, September 17, 2010

The Thunderstorm's Effect

The thunderstorm's effect----»To be continue...


Everything is Yours

Sekitar 11 tahun yang lalu...Di tempat yang sama dan cerita serupa...Everything is YOURS...God Bless everybody

"Ikut sebentar yuk...." Kata kakak angkatku 11 tahun yang lalu kepadaku. Saat itu aku sedang menunggu kelas untuk ekstrakurikuler di SMP-ku.
"Kemana?" tanyaku bingung karena tiba2 dia ada di sekolahanku.
"Ke depan bentar... Ibu ada disana..." Katanya lagi.

Dan akupun mengikutinya ke rumah sakit yang ada di depan sekolahku. Kami berjalan ke arah UGD. Ada ayahku disana. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Siapa yang sakit? Dan akupun di ijinkan memasuki ruangan UGD. Tempatnya berada.

Dia terbaring lemah.... Lemah tak berdaya. Hanya matanya yang berkedip sesekali. Menatapku yang kebingungan dengan tatapan kosong. Aku kehilangan kata, dan tidak bicara sedikitpun. Hanya mampu melihat dan menatapnya dalam diam. Diapun diam seribu bahasa. Lalu kesadarannya menurun, dan hilang untuk waktu yang cukup lama. Hampir 2 minggu dia berada di ujung maut, hidup antara sadar dan tidak sadar. Bertahan sendirian, tanpa ada yang bisa membantu menanggung bebannya.

***

Sebelas tahun telah berlalu, semua kenangan tentang sebelas tahun yang lalu itu kembali lagi di benakku. Berawal dari badai kecil yang menerpa pondasi rumah kami. Kesalahan masa lalu yang berimbas pada masa kini, yang telah di lakukan oleh salah satu di antara kami, membuat badai itu datang. Dia yang memang lemah, menjadi sasaran tembak pertama dalam menerima goncangannya. Tepat sasaran. Collaps....

Merasakan kembali perasaan takut, bingung, sedikit putus asa, dan khawatir yang sama dengan sebelas tahun yang lalu. Hanya bedanya kali ini aku memulainya dari rumah, bukan tiba-tiba dari sekolah. Aku melihatnya terus memejamkan mata. Aku yakin dia terus-menerus berdoa dan meminta kesembuhan kepada-Nya. Akupun tidak kuasa menahan airmata, dan ku pegang erat tangannya. Tuhan akan selalu bersama kita bu....

Setelah dia tenang di salah satu kamar berisi 2 ranjang itu, akupun berjalan dan duduk di ruang tunggu. Sekedar mengusir gelisah dan mengingat kembali kenangan2 yang pernah aku alami 11 tahun yang lalu. Tidak banyak yang berubah dari rumah sakit ini nampaknya. 11 tahun tidak membuat rumah sakit ini berubah, tidak seperti sekolahku di depan sana yang sudah penuh dengan perombakan di sana-sini.

Beberapa perawat masih aku kenali wajahnya, sebagai perawat yang melayani kami 11 tahun yang lalu. Hanya saja mereka sudah nampak lebih tua. Posisi UGD, ruang tunggu, ruang pendaftaran, ruang pengambilan obat, dan bagian2 ruangan rawat inap juga masih seperti dulu. Hanya saja sekarang bertambah 1 ruangan arsip di samping ruang pendaftaran.

Sepi, dan menyayat hati. Hanya itu yang bisa aku rasakan mengenai suasana malam itu. Tidak aku sangka aku akan kembali ke tempat itu setelah 11 tahun lamanya. Ke tempat yang sama, dengan cerita yang serupa, bersama dengan kekhawatiran yang setara nilainya. Aku tidak berani memikirkan kemungkinan2 yang membentang di depan sana, kubiarkan semua mengalir seperti air. Kuisi kepalaku dengan bayangan2 masa lalu sebagai acara bernostalgia saja.

***

Sedih....
Kami tidak mampu melindunginya dari serangan2 mendadak seperti badai yang tiba2 datang kali ini. Padahal sudah menjadi kewajiban kami sebagai harga mati untuk membentenginya dari segala sesuatu yang membahayakannya. Ketika semua sudah terjadi, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Hanya doa dan kepasrahan yang bisa membuat semuanya sedikit lebih ringan.

AKu pasrahkan semuanya pada-Mu Tuhan... Hanya pada-Mu... Karena semua memang hanyalah Milik-Mu. Everything is YOURS.... Let me see her smile again.... Let me feel her warm arm when huge me tightly.... Let me see how wonderful of her smile in the morning.... let me walking together with her for a long time... Pleaseeeeee

Dari Nol Kembali Ke Nol

Ini adalah awal dari semua badai yang telah terjadi. Ketika aku harus mulai belajar mengikhlaskan apa yang sebelumnya memang tidak aku punya. Sesuatu yang pada awalnya memang tidak aku miliki. Dan akhirnya harus aku lepaskan kembali.

Materi. Adalah sesuatu yang duniawi. Duniawi yang seringkali menyebabkan manusia melupakan kepentingan surgawi. Kepentingan duniawi yang seringkali membuat orang menjadi lupa diri. Dan kepentingan duniawi yang seringkali membuat orang saling berkelahi. Kehilangan materi, seringkali menjadi penyebab dari hilangnya kepercayaan diri.

Keluarga. Adalah sesuatu yang teramat besar nilainya. Menurut pepatah tua, hubungan keluarga lebih kental dari segala rupa jenis cairan. Hubungan keluarga tak akan pernah terhapuskan meskipun terbentang jarak jutaan kilometer didepannya. Hubungan keluarga tak akan pernah lekang oleh waktu. Namun hubungan keluarga bisa saja terluka dan ternoda. Seringkali pula dikarenakan materi.

Untuk menghindari noda dan luka keluarga ini, aku rela menghilangkan apa yang aku punya. Bukan masalah besar, dan tidak ada kata penyesalan. Semoga apa yang sudah hilang, memberikan manfaat bagi orang yang mendapatkannya. Dan kehilangan ini, semoga bisa menjadikan pelajaran yang berharga dalam perjalanan hidup kami semua. Dari kesalahan-kesalahan itulah kami semua belajar untuk lebih berani dan lebih peduli, agar tercipta sebuah empati diri.

Apa yang dulu tidak aku punya, telah menjadi milik orang lain. Bukan jumlahnya, tetapi nilainya. Berat memang rasanya, namun tidak perlu ada sesal di dalam rasa ikhlas. Ikhlaskan saja, maka yang menjadi hakmu akan kembali padamu dalam jumlah yang berlipat ganda. Amin. Dari nol kembali ke nol, tak mengapa. Hanya sebaris kata maaf untuk "dia", karena apa yang terjadi, mempengaruhi apa yang telah kami rencanakan. Semoga masih ada kesempatan untuk kembali merangkai mimpi yang bisa terwujud dengan indah. Amin.

Apa yang aku jaga, hanyalah sesosok lemah seorang wanita. Menjaganya dari apa yang dibilang tumbang. Menjaganya dari apa yang dibilang kalah. Dan menjaganya dari apa yang dibilang lemah. Karena dia bukanlah orang yang mudah tumbang, bukanlah orang yang mudah kalah, dan bukan pula orang yang lemah. Semua keberanian, kejayaan, dan kekuatannya telah dikeluarkannya hingga titik darah penghabisan. Hingga dia dalam kondisi seperti sekarang ini. Semua adalah karena dia pemberani. Dia tidak layak disakiti, disalahkan, ataupun terlukai. Dia harus bahagia, dan melewati masanya dengan tawa dan canda.

Tugasku dan tugas kamilah untuk selalu menjaga tawa dan canda itu. Bukan tugas orang lain. Bukan berat, bukan tekanan, dan bukan paksaan. Semua adalah perjalanan, dan perjalanan ini telah sampai pada porsinya. Semua akan baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja. Tersenyum dan tertawalah selalu ibu.... Untukmu, untuknya, dan untuk kami semuanya.... Tak ada yang lebih membahagiakan, daripada sebaris tawa dari raut wajah tuamu. Kami semua menjadi kuat karenanya. Dan kami semua merasa bangga bisa menjadi bagian penting dari hidupmu. We love you "the stronger" mommy.... We always love you... :)


Gambar di ambil dari sini

Tuesday, September 7, 2010

Internet Panci

Terima kasih banyak untuk orang yang menemukan trik ini, dan kemudian menyebarkan infonya di sebuah situs. It means a lot to me.... Yang tinggal di gunung ini :p

Beruntung pula ketika aku sampai dirumah, ibuku sudah memiliki sebuah tutup panci yang memang hilang pegangannya. Jadi aku tidak perlu repot2 meminta dan melubanginya. Langsung pakai saja.

Berbekal kabel USB ukURAn 5 meter yang dibelikannya di Mangga Dua, akupun mulai sibuk sendiri memasang modem. Harap2 cemas dengan hasilnya, seru juga :p

Dan hasilnya.... taraaaaa.... Sinyal penuh. Padahal kalau tanpa menggunakan tutup panci, sinyal 1 pun sangat sulit didapatkan. DAn percobaan yang pertama adalah mendownload email di outlook. Berhasil....!!!

Sayang, pada percobaan pertama aku tidak bisa mengakses faceook. Kurang seru kan? :p

Tapi pada malam harinya ketika posisi laptop, modem beserta tutup pancinya sudah beralih posisi, akupun berhasil mengakses banyak situs. Meskipun koneksinya lambat, namun cukup untuk sekedar menghibur diri yang sedang berduka. Halaahh... :))

And once again, thanks a lot for you guys.. ^_^


Keluarga Cemara

Adakah yang masih ingat dengan film Keluarga Cemara? Film mengenai kehidupan sebuah keluarga kecil yang penuh dengan kesederhanaan dan keprihatinan. Namun meskipun di tengah kemiskina, keprihatinan dan kekurangan, mereka tetap saja hidup harmonis dan bahagia. Alangkah menyenangkan hanya dengan membayangkannya saja. :)

Setiap keluarga pasti memiliki kisah yang berbeda. Meskipun tak seperti kisah di keluarga cemara, namun pastinya semua indah pada tempatnya. Semoga semua keluarga di dunia selalu bisa merasakan kebahagiaan dan keharmonisan seperti layaknya keluarga cemara.

Aku menyukai lagu yang menjadi soundtrack film itu. Belakangan ini sedang aku gunakan juga sebagai soundtrack-ku sendiri.

Harta yang paling berharga,
Adalah keluarga...
Istana yang paling indah,
Adalah keluarga...

Puisi yang paling berharga,
Adalah keluarga...
Mutiara tiada tara,
Adalaaaahhh... Keluargaaaa....

Selamat pagi emak,
Selamat pagi abah...
Mentari hari ini,
Berseri indah...

Terima kasih emak,
Terima kasih abah...
Restu sakti perkasa bagi kami,
Putra-putri yang siap berbakti....

Have a nice day everybody....
Semuanya kembali ke nol.... :(

Monday, August 23, 2010

Menjadi "Tugu Selamat Datang"

Do you know what i mean?
If you know.... Be silent....
Let's make a silent action for this.
Hope some miracle,
Make everything's gonna be okay

Don't let a lot of tears, energy, power, etc...
Gone for nothing...
Just do your best, don't too demanding
Better don't too expecting
And then everything's gonna be okay

"Ketika mimpimu yang begitu indah,
Tak pernah terwujud... ya sudahlah...
Saat kau berlari, mengejar anganmu,
Dan tak pernah sampai... ya sudahlah... "

Tetaplah percaya bahwa akan ada kenyataan yang terjadi, jauh lebih indah daripada mimpi dan angan-angan kita. Semoga.... dan semoga.... :p

"Satu dari sekian kemungkinan,
Kau jatuh tanpa ada harapan,
Saat itu raga kupersembahkan,
Bersama jiwa, cita, cinta, dan harapan "

Kemungkinan, kemungkinan, dan kemungkinan... Selalu saja ada kemungkinan di depan kita. Bahkan ketika jalan di depan kita bercabang-cabang. Kata guruku sewaktu SD, siapkan dirimu untuk melalui hari, dengan filosofi pohon cabai. Dimana setiap tumbuh, dia akan menjadi 2 percabangan. Setiap apa yang kita pilih, akan selalu memberikan 2 pilihan dan kemungkinan.

"Kita sambung satu persatu sebab akibat,
Tapi tenanglah mata hati kita kan lihat,
Menuntun ke arah mata angin bahagia,
Kau dan aku tahu, jalan selalu ada "

Jika kutengok kembali sebab akibat, terkadang justru membuatku semakin mengkerut. "Sepertinya ini semua hanya berhubungan dengan belas kasihan". Jika kulihat dengan matahati, terkadang justru membuatku semakin takut. "Tidak ada yang bisa aku gunakan sebagai senjata". Namun aku masih selalu yakin dan percaya bahwa mata angin bahagia itu ada di ujung sana....

"Juga kutahu lagi problema kan terus menerjang,
Bagai deras ombak yang menabrak karang,
Namun ku tahu... ku tahu kau mampu tuk tetap tenang,
Hadapi ini bersamaku hingga ajal datang "

Setidaknya ombak, karang, menerjang, menyerang, membentang, menabrak, dan lain-lainnya itu sudah seringkali kudengar kala ku kecil. Sehingga tidak ada lagi sesuatu yang aneh, sangar, menyeramkan, ataupun mengerikan. Aku rasa, aku bisa cukup tenang dalam mengerti arti "ajal datang". Karena kita semua memang layak dan seharusnya tenang....

"Sempat kuberharap, keramahan cinta,
Tak pernah kau dapat.... ya sudahlah..."

Dalam hal ini, bukan keramahan cinta yang ingin kuraih lagi. Bukan...bukan...dan bukan... Aku hanya ingin bisa meraih "keramahan kalian". Nampaknya itu saja sudah lebih dari cukup mewakili keinginanku.... :)

Sunday, August 22, 2010

Our Special Moment in Holy Ramadhan


Sms masuk,
"Kagak, gw langsung balik ke Jakarta. Ada janjian buka bareng juga. Sekali2 ketemunya di Jakarta donk, jangan gw melulu yang nyamperin ke Bogor."

Waduh, ada yang ngambek nih.... ya sudahlah, mungkin lain kali bisa bertemu lagi ya. Akhirnya akupun memilih menyelesaikan beberapa urusan. Tanpa sadar, ada sms masuk lagi ke handphone-ku.
"Segera meluncur ke markas 269. Buruaaann!!!!"

Aduuh..... merubah jadwal koq seenake dhewe sih? ck...ck...ck.... Akupun meluncur ke tempat itu setelah semua urusan selesai. Ada 269 dan 271 sedang bersantai di depan TV. 271 rupanya tidak puasa, dan dengan santainya makan pisang. Gluk...gluk...gluk....cessss.... Ngecess deh aku.. :p

Masih belum cukup, dia bilang begini,
"Gw tadi donk, di angkot dengan santainya minum dari T*****W***. Ampe di liatin gitu ama mbak2"
"Pake kerudung nggak lu?"
"Pake"
"Lha iya lah...dodol"

Tak lama kemudian, satu penampakan muncul di depan pintu dengan hebohnya. Yak... siapa lagi kalau bukan 270. Rupanya sekarang matanya sudah berganti warna dengan biru. Lumayan lebih mending daripada mata abu2 yang jadi kelihatan kayak perak sebelumnya. hahahhaaaaa

Kami semuapun melepas rindu dan bertukar cerita. Ngobrol di depan kosan karena si Black nggak boleh masuk ke kosan. :P

Dan beberapa waktu kemudian, ada lagi satu personel datang. Yaks, 262. Hwekkeeeee.... Tumben banget yaks, kumpul kali ini semua personel lengkap. Biasanya kan selalu saja kurang satu atau dua orang. Eh, gara2 sms yang mendadak dangdut dari 271, kami semua malah berkumpul dengan lengkap. hahahaaa

Setelah bosan ngobrol di depan kosan, kamipun memutuskan untuk melanjutkan ngobrol sambil ngabuburit di salah satu tempat makan yang cukup baru. Dari penampakannya sih terlihat OK karena menyediakan tempat lesehan. Asyiik....

Sesampainya di tempat makan itu, kamipun langsung menempati satu bangku yang kosong. Ternyata itu adalah bangku kosong terakhir (kayak judul pelem horor ya), karena beberapa bangku kosong yang lain sudah di pesan orang (meskipun tidak ada tandanya, sehingga membuat beberapa orang yang datang kecele).

Pesanan segera di tulis, hmmm.... lumayan banyak booo :p
Sambil nunggu pesanan, kamipun meanjutkan obrolan ngalor ngidulnya. Rumah makan itu cukup ramai, nampaknya ada yang sedang bikin acara buka bersama. Makin mendekati waktu berbuka, suasana semakin ramai. Seorang mbak2 pelayan mengantarkan kendi tempat air minum ke meja kami. *pikir kami* mungkin buat berbuka.....

Waktu berbuka pun tiba. Pesanan kami belum satupun tiba, dan tidak ada informasi apakah pesanan kami masih butuh waktu lama. Dan yang paling parah, kendi yang tadi di antarkan ke meja kami, tidak di beri teman gelas satupun. Jadi maksudnya??? kami di suruh minum langsung dari kendi? Good job... :p

Beruntung kami membawa beberapa bekal seperti jeruk, wafer, coklat, eggroll, dan pisang. Jadi kami membatalkan puasa dengan bekal kami sendiri. Hahahhaaa.... Dan soal gelas, kami baru mendapatkan gelas ketika kami sudah memanggil si mbak2 pelayan,
"Mbak, ini air minum bukan?"
"Iya, ada isinya kan?"
"Koq kita nggak di kasih gelas ya? Minumnya gimana donk?"
"Oh iya, sebentar...."

Beberapa kali kami menanyakan pesanan, dan jawabannya seragam namun tidak ada muatan solusinya "sebentar mbak"..."Sebentar lagi ya mbak"... AKhirnya 271 mendatangi bagian dapur, bertanya pada kokinya dan mendapat jawaban yang rada unik "belum di bikin mbak, soalnya bahan2nya banyak yang habis, dari kemarin banyak pesanan.. bla...bla...bla..." hwekekeeeeee.... Jadi kalau bahan habis karena banyak pesanan, mereka berhak memaksa kita duduk diam berlama2 tanpa kejelasan nasib perut kami buw? yang benar saja...

Beberapa lama kemudian, kami sudah tidak bisa menahan emosi sodara2. Kamipun memilih untuk segera melakukan pergerakan ke tempat lain. Perut yang telah seharian kosong karena puasa, tidak bisa lagi membantu kami mereda emosi.

"Meja 14 batalin aja mbak"
"Lho, kenapa mbak?"
"Kelamaan, udah kenyang sama bekal sendiri"
"Aduh... maaf ya mbak...Kelamaan"
"Nggak ada informasi juga berapa lamanya"
"Padahal sebentar lagi lho mbak...."
"Nggak usah deh mbak, udah pada kenyang koq sama bekal sendiri"

Beruntung satu kalimat pamungkasku berhasil aku telan lagi, karena tidak akan memberikan pengaruh yang baik. Meskipun susah payah, akupun menelan dan menghancurkan susunan kalimat yang sudah berbaris rapi di tenggorokanku,
"Sebentar lagi? sebentar lagi dari Hongkong ya? Lha wong koki sampeyan aja bilang banyak bahannya yang habis koq bisa2 nya bilang sebentar lagi. Minuman saja juga nggak sanggup bikin koq bisa2nya bilang sebentar lagi.." gluk...gluk...gluk... *telantelan buruan* :p

Dan kamipun pindah ke daerah kampus saja. Merasakan kembali sensasi kemahasiswaan, selain 269 dan 262 yang memang masih mahasiswa tapi ya.... :)

Makan, minum, ngobrol lagi, dan akhirnya tiba saat berpisah. Kamipun berpisah di angkot. 262, 268, dan 269 kembali ke kosan. 270 dan 271 melanjutkan perjalanan ke rumah masing2, dan 237 bertahan di percetakan.

Thanks for last day everybody.... there is really a quality time for us. Looking toward for another meeting yaaaa :)

PS : satu info yang nggak penting dari pertemuan ini adalah akhirnya kita tahu bahwa seorang artis terkenal yang tergabung dalam 3 Diva itu memang mendapatkan aliran dana dari orang yang tinggal di negara pecahan NKRI. Rutin dan nilainya milyaran lagi.... hwekekeeeeeeee :p