Monday, July 29, 2024

Terima Kasih Sudah Datang

 Hari ini adalah pertambahan umur saya untuk yang ke sekian kali. Orang bilang Ulang Tahun. 

Memang benar sih, kita mengulangi lagi dari tahun ke tahun, rutinitas yang sama. 

Untuk beberapa orang, ada yang mendapatkan kejutan di tengah malam, ada yang mendapatkan telpon, ada yang mendapatkan pesan, ada yang mendapatkan kue, ada yang meniup lilin, ada yang mendapat hadiah, and so on and so forth. 

Alhamdulillah, tahun ini begitupun dengan saya. 

Saya masih selalu merasa sangat-sangat beruntung memiliki dan mendapatkan perhatian yang berlimpah dari berbagai penjuru. Terlebih tentunya dari Anak Wedhok yang sangat berkebalikan dengan Ayah dan Bundanya itu. Anak Wedhok yang selalu menganggap ulang tahun adalah Big Deal! hahaa

Di tengah kesibukan dan kemalasannya menggambar, tahun ini dia kembali membuat saya terharu dengan satu lembar gambar yang belum diwarnainya. Katanya dia terlalu lelah untuk mewarnai, jadi polos saja. Tak apa nduk, polos atau berwarna, gambaranmu tetap menghangatkan hati Bunda. Thank you for always being you, being a thoughtful girl that always make birthday as a big deal, covering your parents part. hahahaha. Untuk urusan birthday, you always have our back, which is great! :-)

Thank you Dear K
Thank you, Dear K!

Mas Bojo in the other hand...

Beliau ada perjalanan ke luar kota, dan harus meninggalkan rumah pukul 2 dinihari. Seperti biasa, beliau tidak ingin membuat saya bangun terlalu dini, sehingga setelah dadah-dadah di pintu dengan setengah melek, saya langsung kembali ke kamar dan tidur. Beliau melesat bersama Satria Baja Hitam Mang Didi yang kalau naik motor selalu Pancal Mubal. 

Sekitar pukul 4 pagi, saya bangun karena bunyi telpon, tetapi juga karena sudah waktunya rutinitas pagi. Rupanya Mas Bojo menelpon dari Bandara Soetta, mengucapkan doanya untuk yang berulang tahun. Kami tertawa karena ternyata beliau lupa. haha 

Untuk semua pesan di ponsel, ucapan, pelukan, dan juga kiriman makanan/minuman dari teman-teman, terima kasih! Semoga kalian selalu dilimpahi kesehatan dan kelancaran serta kemudahan dalam mengarungi hari demi hari di kehidupan ini. Aamiin. 

Kali ini, saya berjuang menyelesaikan hadiah untuk diri saya sendiri. Saat hadiah ini selesai dan saya coba dengan bangga, saya merasa puas sekali. Saya semakin merasa bahagia dan merasa bahwa hidup ini terasa kembali indah, just the way it is... I love myself better! :-)

Happy Birthday, WJ!
This cute top is totally remarkable birthday present,
for you :-p

Satu hal yang ingin saya torehkan sebagai kenangan di sini adalah hal yang terjadi di sepertiga malam dini hari tadi. Di sekitar waktu Mas Bojo berangkat. 

Ibuk datang. 

Saya tahu, mungkin kalian akan bilang "halah, cuma mimpi". Which is true, and doesn't matter. 

Apakah itu mimpi ataukah bukan mimpi, tidak masalah bagi saya. Bisa melihat secara utuh fisik Ibuk adalah hal yang jauh lebih penting untuk saya. Kalau bisa saya gambarkan di sini, situasi yang saya alami saat bertemu Ibuk, seperti ini: 

Saya berada di satu ruangan, sepertinya sedang ada acara karena saya melihat saudara dan kerabat saya juga ada di situ. Saya masuk dan melihat Ibuk duduk di kursi, mengenakan baju coklat lengan panjang dan kerudung putih, seperti yang biasa beliau kenakan sehari-hari. Saya mendekat dan menyalami tangan kanannya. 

Tangan kanannya menyambut uluran tangan saya, dan saya menciumnya. Saya heran, tangannya lembut sekali. Seolah lenyap begitu saja semua kapal dan keringnya tangan Ibuk saat di dunia, yang diakibatkan oleh gagang sabit, cangkul, sapu, dan lainnya. Saya mendongak melihat ke arah muka Ibuk, saya lebih tercengang lagi. Wajah Ibuk terlihat sangat bersih, mulus, dan bersinar. Tak ada lagi kerutan yang diguratkan oleh kejamnya kehidupannya selama ini. Ibuk tersenyum dan tertawa melihat saya dan mempersilahkan orang-orang untuk masuk dengan ramahnya, seperti biasanya. 

Saya yang masih terkagum-kagum dengan raut glowing Ibuk, menarik siapa saja yang lewat di samping saya, dan berkata "Iki jiwiten aku, jiwiten aku iki. Tenan ora iki. Opo ngimpi? Jiwiten iki lho tanganku!

Berkali-kali, berulang kali, dan beberapa saudara yang lewat tertawa sembari mencubiti tangan saya, dan rasanya saya merasakan sakit. Di antara percaya dan tidak percaya, maka saya memilih percaya. Ibuk datang menemui saya. Akhirnya saya menggunakan waktu itu untuk bercerita seperti biasa. Bercengkerama sebagaimana kami selalu melakukannya saat beliau masih ada di dunia. 

Sampai akhirnya Ibuk tiduran di kasur, saya mendekatkan kepala saya ke kepala beliau, menatap dekat matanya, dan berkata "Buk, maaf yang buk kalau aku belum bisa nyenengin Ibuk, belum bisa bikin bangga Ibuk..." 

Ibuk hanya menatap saya, tersenyum, dan beberapa butir air mata menetes di pipinya. Beliau mengusap kepala saya. 

Seperti itu saja, dan saya kembali ke dunia nyata dengan perasaan berbeda. Seperti ada yang mengangkat tas yang selama ini tidak meninggalkan punggung saya. Saya merasa bahagia, hati saya penuh dan hangat. Saya bahagia melihat Ibuk yang tertawa dengan kulit yang glowing. Ibuk, Ibuk cantik sekali. 

Sorenya, setelah saya selesai dengan urusan pekerjaan dan antar jemput K, setelah rebahan di kursi seperti biasa, saya mengirimkan pesan pada Mas Aris, kakak saya. Saya bertanya padanya apakah Ibuk pernah mengunjunginya, ternyata belum. Saat mendengar cerita saya, Mas Aris, sekarang sih saya lebih sering memanggilnya Pakde Aris, bilang, "Aku iri. Padahal aku yang pengen ketemu Ibuk". Sabar ya Pakde, akan ada waktumu nanti didatengi Ibuk. 

Pakde Aris bilang, katanya jika hal seperti itu terjadi di antara pukul 00.00-03.00 dini hari, mungkin bukan sekedar mimpi. Mungkin Ibuk ingin menunjukkan bahwa beliau memang sudah baik-baik di tempat terbaik. Wallahualam. 

Ibuk, terima kasih sudah datang. Alfatihah untukmu, Ibuk!

Ternyata benar, aku rindu. 


Bogor, 29 Juli 2024

#Ibuk

#FamilyVisit

#BirthdayPresent

#Selflove

#SoLongIbuk

Tuesday, July 16, 2024

Hanya Untuk Bilang Hi!

 Iya, kali ini aku datang hanya untuk bilang Hi!

Dunia nyata sedang sibuk, tak ada bandwith untuk menengok dunia maya. Bahkan untuk bilang Hi! saja, rasanya perlu beberapa kali helaan nafas panjang. 

Hi!

Hope you okay.

Sometimes I am not, 

But it's okay.

Like the drakor say, 

It's okay not to be okay.

So, 

For now...

Hi!

Thursday, March 21, 2024

She Got 100 Point from Me

Sepulang sekolah, seperti biasa K sibuk mengeluarkan kertas-kertas hasil ulangan yang dibagikan. Saat melihat nilai Pelajaran Agama, ternyata turun cukup banyak dari nilai sebelum-sebelumnya. 

Saya: "Wah, tumben ini nilai agama segini? Biasanya kamu di atas 90 bukan?" 
K: "Itu bukan 80 lho bunda, tapi 76 yang betul." Dia melihat kertas yang saya pegang dan melanjutkan, "oh iya, yang itu yang betul."
Saya: "Kenapa, susah ya soalnya? Kurang ya belajarnya?" 
K: "Nggak tau deh... Tadi yang itu aku dibetulin. Terus paa lihat punya Div, dia jawabannya sama tapi disalahin. Jadi aku bilang Pak Andre."
Saya: "Ooo... Kamu bilang apa?"
K: "Ya aku bilang - Pak, ini saya harusnya salah. Tapi ini belum di salahin - terus Pak Andre bilang - Terima kasih ya atas kejujurannya- gitu." 

Saya letakkan kertas jawaban dan saya peluk K dengan erat. 
Saya: "Great. Kamu dapet nilai 100 dari Bunda. That is the most important above everything. The honesty. Keep it up, ok?" 

Sekian. 

Tuesday, March 7, 2023

Mengenang Ibuk Melalui Siniar SMK - Kematian

Memasuki Bulan Februry - Maret, selalu membawa suasana sendu bagi saya. Karena bulan-bulan ini di tahun 2019 lalu adalah keadaan yang sangat tidak bisa dilupakan. Saat kami harus kehilangan Ibuk untuk selama-lamanya. 

Luka yang menganga akibat kehilangan beliau, belum juga kering sempurna hingga saat ini. Masih banyak ganjalan-ganjalan yang mengganggu nafasku terkadang. Namun hidup terus berjalan bagi yang ditinggalkan. Jadi, ya jalani saja... 

Bersyukur saya pernah mengabadikan semua perasaan ke dalam cerita ini. Podcast SMK memberi wadah bagi saya menyimpan kenangan pada Ibuk. 

Barangkali ada yang ingin menyimak, monggo di sini ya...

Podcast Kematian - by Wilis J

Makasih!

Tuesday, February 28, 2023

Siniar SMK - Dusun Fiksi Febuari 2023

 Sekedar ingin berbagi di sini, barangkali ada yang ingin mendengarkan suara merdu sumbang saya di Siniar SMK yang legendary itu. hahahaa

Bulan Febuari 2023 adalah giliran Dusun Fiksi dari Komunitas Semut Merah Kaizen yang unjuk gigi dalam tantangan paling spektakulernya Tim Siniar SMK #365HariBersuara. 

Dan seperti biasa mbak sis ini juga nggak mau ketinggalan, ikut mendaftar buat numpang nampang yekaaan. 

Karya terbaru saya yang terbit bersama dengan team Antologi Sastra Anak, judulnya Rapundress, ikut mejeng di Siniar SMK. Lumayan lah pokoknya. 

Kalau ada yang berminat mendengarkan, atau ketinggalan pas waktu tayangnya bulan ini, bisa di simak di sini yaaa...

Rapundress by Wilis J

Makasih!


Tuesday, February 14, 2023

Saat Anak 9 tahun Valentin-an

Hello February!


Kata orang, Febuari adalah bulan penuh cinta, serba pink-pink, serba manis semanis coklat. Banyak di antara kita yang ikut merayakan Hari Valentine dengan berbagai cara, sesuai dengan kesenangannya masing-masing. 

Saya sendiri, tidak merayakan Valentine, dan tidak ikut memakai baju pink atau memberi/menerima coklat. Bukan karena anti, lebih karena nggak punya waktu dan nggak punya duit buat dialokasikan ke sana. hahahahaa. 

Tetapi saya selalu ikut berbahagia menikmati keriuh-ramaian Bulan Februari. Senang melihat di minimarket banyak dipajang coklat dengan tema Valentine, melihat orang membeli coklat-coklat itu, dan melihat orang mendapatkan buket-buket cantik dari kesayangan masing-masing. Dan yang paling seru menurut saya dan suami adalah saat melihat di pinggir-pinggir jalan, anak-anak sekolah (terutama laki-laki), membawa setangkai mawar merah. Saya dan suami sering tertawa karena menskenariokan bagaimana mereka akan memberikan setangkai bunga itu pada orang yang mereka sayangi. Mungkin Ibu, mungkin juga kekasih hati. Menghangatkan hati bukan? 

Tahun ini, selain dari cerita-cerita yang berulang dari tahun ke tahun di atas, saya ketambahan cerita yang 'close to home' banget. Siapa lagi kalau bukan gendhuk cah ayu adol gendruk ra payu semata wayang yang sedang berusia 9 tahun itu. Tahu kan siapa?

Tahun ini K melewati Hari Valentine di kelas 3. Sekitar 2 minggu yang lalu, di tengah obrolan random kami, dia tiba-tiba berkata:

K: "Bunda, Hari Valentine itu kapan ya?" tanyanya.

Saya: "14 Febuary. Pas ulang tahunnya Tante Lucy," kata saya.

K: "Oh, okay." Saya curiga dengan tanggapan pendeknya, karena seringnya mengandung perkataan yang tidak diucapkan. 

Saya: "Kenapa?" saya penasaran yekan.

K: "I think I'm gonna confess my feelings," jawabannya yang diucapkan dengan kalimat lempeng tanpa ekspresi tambahan, membuat saya hampir menanggapi dengan lebay. Tapi saya tahan.

Saya: "Wow. To who?" Dalam hati saya sudah terngakak-ngakak, tapi berusaha memasang tampang lempeng juga.

K: "I am not gonna tell you. Nanti Bunda kebanyakan tanya-tanya kalau aku bilangin." Serius, dia bilang begini juga dengan ekspresi yang sangat lempeng. 

Saya: "Bukannya kita janji untuk selalu berbagi cerita apapun itu?" pancing saya masih penasaran.

K: "Soalnya nanti Bunda itu jadinya nanya terus kalau aku bilangin. Tapi nggak papa sih sebenernya. Aku tuh punya banyak temen cowok. Kalau Bunda tahu yang satu, aku tinggal ganti aja." Di sini saya tak lagi bisa memasang tampang lempeng. Jadi saya tertawa ngakak beneran.

Saya: "Okay. Go for it, K!" hanya itu yang bisa saya katakan, sebagai ikhtiar menjadi Ibu yang Cool. 

Untuk sejenak saya tidak menanyai K lagi tentang obrolan kami saat itu. Saya berlagak itu hanya obrolan biasa yang tidak terlalu membuat saya kepo. Walaupun sebetulnya saya sudah muncrat-muncrat ke ayahnya, dan juga ke beberapa teman. Saya butuh teman untuk mentertawai kepolosan anak-anak kecil jaman now ini. 

Minggu lalu, saat kami sedang berkendara di atas motor, secara iseng saya tanyai K:

Saya: "So, K about the boy that you want to confess to. Is he from school, or from the course?" 

K: "School." 

Saya: "Okay." Sependek itu pertanyaan dan jawaban emak dan anak ini. 

Beberapa hari kemudian, saya bertanya lagi saat kami bersiap tidur:

Saya: "Mbak, is there any plan for Valentine? Related to your mission to confess your feelings?" 

K: "I think it'll be coklat, candy, notes, and talk." Fineeeee... Banyak ya siiiiissss... hahahaha

2 hari kemarin, K minta diantarkan ke minimarket di depan komplek untuk membeli coklat. Saya diam tidak bertanya karena sudah tahu rencananya dengan Valentine's day. Dia membeli coklat yang berisi 2 dalam 1 kemasan. Saat di rumah, baru saya tanya:

Saya: "K, kamu mau kasih 2 ke temen kamu?" 

K: "Enggak, 1 aja." 

Saya: "Oh, yang 1 buat ayah atau bunda ya?" 

K: "Enggak donk, buat aku. Kan aku suka coklat." Saya dan ayahnya hanya berpandangan sambil mesam-mesem. Memang K adalah pelahap coklat, jadi walaupun pesona Hari Valentine cukup membuatnya tergerak memberi temannya, tetapi tidak tergerak berbagi dengan Ayah atau Bundanya. Efffaaaiiiineee mbaaak :-p

Hari ini, pulang sekolah K menceritakan bahwa teman-temannya juga berbagi coklat kepada teman lain dan juga gurunya. Saat saya tanya kenapa dia tidak memberi gurunya coklat, dia menjawab bahwa dia tidak terpikirkan. Sepertinya pikirannya hanya kepada temannya yang ingin dia beri coklat saja. Menurut cerita K, proses dia memberi coklat tidak berjalan selancar rencananya, karena akhirnya hanya coklat saja yang dia berikan, tanpa permen, tanpa ucapan ataupun notes seperti yang sudah dia bayangkan. Sepertinya dia grogi, karena katanya teman-temannya sempat menyorakinya. That's the fun part, mbak! :-p

Untuk beberapa orang, mungkin mendukung anaknya untuk memaknai Hari Valentine, dianggap sebagai hal yang tidak perlu. Bagi saya dan juga suami, rasanya perlu. Bukan untuk membuat anak meyakini hal-hal diluar ajaran agama kita, melainkan agar mereka tumbuh organik dalam merespon hal yang terjadi dilingkungannya. Saya tidak mengenalkan dia tentang Hari Valentine, dia mengenalnya melalui teman-teman dan iklan yang dia temui di berbagai tempat. Saat dia bertanya mengenai Valentine, saya jelaskan bagaimana tradisi Valentine masuk ke dalam kehidupan kita. 

Saya dan suami menggunakan lirik lagu 'The Night" nya Avicii sebagai gambaran kehidupan, mencangkoknya untuk kami mengenalkan dunia nyata pada anak kami. Bagian favorit kami adalah: 

"He said, - One day, you'll leave this world behind... So live a life you will remember..."

Mbak K, live your life!

Love, 

Bunda & Ayah

Friday, January 6, 2023

The Things You Can See Only When You Slow Down

Kali ini saya ingin menceritakan betapa senangnya saya saat melihat kalender masih menunjukkan angka 6. Artinya, Bulan Januari 2023 belum habis separuh, dan saya sudah masuk ke Buku Ke-2 saya. Ini di luar buku cerita yang saya bacakan untuk K tentunya ya. Yuhuuu... Coba setiap bulan bisa istikomah begini, pasti rekor tahunan membaca saya bisa semakin baik. Bismillah aja dulu yekan... :-p

Buku yang kedua ini adalah buku dari Haemin Sunim yang judulnya The Things You Can See Only When You Slow Down. 



Buku ini sudah ada di wishlist bacaan saya di Google Playbook dari lama sekali. Namun, baru akhir tahun kemarin saya beli. Karena ada diskon besar-besaran pastinya. ahhahaa. Monmaklum ya emak-emak banyak nganunya ini memamng nganu lah pokoknya. 

Buku ini sebetulnya adalah kumpulan tulisan-tulisan pendek yang Haemin Sunim tulis di media sosialnya. Karena banyak yang suka, akhirnya dibukukan. Setelah membaca beberapa halaman, saya jatuh cinta. Tidak hanya pada tulisannya yang ringan, penuh isi, dan penuh ajaran bagus, tetapi saya juga jatuh cinta pada gambar-gambar ilustrasi yang ada di dalamnya. 



Gambar-gambar nya sederhana, menenangkan, penuh makna, tapi masih tetap menghibur menurut saya. Satu aura dengan tulisannya. Memberikan rasa nyaman. Konon pembuat ilustrasinya adalah Younacheol Lee. Kapan-kapan saya mau kepoin juga beliau. Siapa tahu lebih banyak lagi gambar-gambar ciamiknya. 

Oh iya, kenapa sih saya bisa mendarat di buku ini, hingga akhirnya suka sekali? 

Jadi, beberapa tahun terakhir ini saya memang merasa betapa waktu berlalu sangat cepat. Cepat sekali malahan. Sehingga saya sering sekali keteteran menuntaskan tanggung jawab atau target-target saya. Pada akhirnya, saya akan selalu merasa "haduh, belum sempet ini itu udah akhir tahun lagi", dan sebagainya. Saya paham betul bahwa waktu kita didunia itu sama saja 24 jam dalam 1 hari. Yang tidak sama adalah kegiatan yang kita lakukan, kecepatan badan kita menjalankan, serta kecepatan pikiran kita merencanakan. dan memikirkan. 

Saat waktu berlalu begitu cepat, saya mengerti bahwa semua itu terjadi karena aktifitas saya yang banyak melakukan kegiatan rutin dan perpindahan ke banyak tempat dalam satu hari. Sehingga tak terasa hari sudah petang atau malam saat saya mengistirahatkan badan di rumah. Keesokan harinya, semua berulang, lagi, dan terus-terusan. 

Saya banyak membaca artikel dan mencari tahu bagaimana cara agar kita tidak terlalu termakan oleh rutinitas harian ini. Setidaknya, meskipun kegiatannya banyak berpindah-pindah, tetapi hati dan pikiran kita tidak menjadi lelah ataupun merasa kehilangan waktu. 

Saat mencari itulah saya mendarat di buku ini. Menurut banyak artikel yang saya baca, buku ini layak dibaca saat kita merasa terlalu sibuk. Buku ini diyakini dapat membantu kita lebih rileks dan membumi. Nanti saya bagikan lebih lanjut mengenai isinya ya. Sekarang lebih kepada latarbelakang kenapa saya membaca buki ini dulu saja. :-)

Meskipun anak saya bilang kalau saya tetap biasa saja walaupun senang membaca buku, bukan berarti saya harus berhenti membaca buku kan.  hahaha. Jadi yuks kita mulai lagi baca-baca buku. Lumayan buat mengisi waktu, kalau sedang jenuh dengan drakor ^_^