Friday, April 17, 2020

Tugas Sekolah - Iklan Layanan Masyarakat Tentang Virus Corona

Jadi, tugas Kirania hari ini adalah membuat sebuah video ajakan untuk hidup sehat, dan menjauhi Virus Corona.

Materi nya boleh memilih salah satu dari yang ditawarkan oleh guru. Berikut adalah tugas yang diberikan oleh sekolah K:

"Ayo Kita Lawan Virus Corona"

Durasi video maksimal 5 menit

Beberapa contoh subtema yang dapat dipilih:
    - cuci tangan
    - jaga jarak
    - bersalaman
    - menggunakan masker
    - cara batuk/bersin
    - makanan sehat
    - di rumah aja
    - dan lainnya yang berhubungan dengan pencegahan virus corona

Secara emak adalah mantan calon penulis skenario yang gagal, dan bapak adalah Kameramen handal, jadilah kami meluangkan sedikit tenaga dan pikiran kami untuk membuat satu gabungan cerita yang singkat namun sarat makna.

Saya ingin sebanyak-banyaknya memasukkan point yang diminta oleh pihak sekolah, namun karena pembuatannya secepat kilat sebelum si artis ngadat, akhirnya beberapa tidak terikutsertakan.

Setelah konsep cerita selesai disusun emak, segeralah terjadi brief meeting bersama dengan Kameramen yang sekaligus Editornya, hingga tercapai kesepakatan. Sedikit was-was gimana cara mengarahkan artisnya, namun ternyata kami terlalu meng-underestimate-kan si denok deblong. Ternyata dia lebih bersemangat dan pandai berimprovisasi. Bahkan beberapa kali dia minta ditambah shoot adegan untuk ini itu. Saya dan ayahnya tertawa ngakak dibuatnya.

Setelah take adegan selesai, tinggal urusan bapaknya lah ya yang bekerja. Emak harap-harap cemas dan bersemangadh, dan anak tidak perduli lagi. ahahahhaa

Daaaan, this is it!
Hasil iklan layanan masyarakat yang dengan bangga dipersembahkan oleh Nala Family. Selamat menikmati yaaa...



#TKBRecisBogor
#LawanCorona
#dirumahaja

Thursday, March 19, 2020

Homeschooling Corona's Effect - Assignment 2

Tugas hari kedua K:

Tugas pertama di Hari ke-dua belajar dirumah adalah menyanyikan lagu anak yang berjudul Pesawat. K tidak terlalu hafal liriknya, sehingga saya menuliskan liriknya di selembar kertas. Saya minta dia untuk menyanyi sambil di rekam. Lumayan untuk kenang-kenangan.
Video ada di gawai yang berbeda, jadi diunggah menyusul :-)

Tugas yang kedua adalah tugas dikte kalimat. Ibu guru mengirimkan voice note dikte kalimatnya, dan anak-anak diminta menyalin tugasnya di kertas/buku. Ibu guru membacakan soalnya masing-masing 2 kali agar anak-anak bisa mengecek dan dan memperbaiki jika ada yang keliru.

Tugas yang ketiga adalah pelajaran Matematika, pengurangan. Ada 10 soal pengurangan yang fotonya dikirimkan oleh Ibu Guru. Saya buatkan kotak-kotak di selembar kertas, dan saya minta K menyalin soalnya sendiri dan mengisinya satu-satu.

Saya menikmati sekali rasanya mengajar K belajar sejauh ini. Mungkin karena masih pelajaran anak TK, atau mungkin juga karena saya ikut menjadi murid TK. :-p



Wednesday, March 18, 2020

Homeschooling Corona's Effect - Assignment 1

Homeschooling - Day 1

Seperti yangkita semua alami, bulan ini adalah bulan penuh ujian bagi Bangsa Indonesia. Setelah bangsa lain berjibaku dengan masalah virus Covid 19 dan kita menjadi penontonnya, akhirnya sekarang bangsa kita kebagian tugas juga untuk melawan peredaran virus pandemic ini.

Bangsa kita sedang di uji kembali, tapi saya yakin kita kuat. Saya yakin Pakdhe dan dan jannya  kuatdan mengerahkan seluruh aspek yang terkait untuk bersama-sama melawan penyebaran virus ini.

Biarkan mereka semua bekerja dengan tenang dan aman, tugas kita adalahtinggal dirumah, hidup sehat, menghindari kumpul-kumpul yang kurang perlu, dan bepergian hanya jika ada yang sangat penting sekali.

Bagaimana dengan sekolah anak? Tenang... Sekarang jaman sudah maju, kita bisa jika kita mau. Mentri pendidikan kita juga orang pintar, dia dan jajarannya selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak di Indonesia (untung menteri pendidikannya udah bukan yang ituh_red).

K si anak TK pun menjadi salah satu anak yang mengalami hal baru ini. Belajar dari rumah. Setiap hari jam 7 pagi, guru-guru TK nya mengirimkan video tentang pemanasan, doa, materi, sampai dengan penutup. Saya acungi 4 jempol untuk usaha sekolah dalam mendorong kegiatan belajar dirumah ini. Pasti bukan hal yang mudah juga tentunya.

Dari awal rencana sekolah dari rumah ini diutarakan oleh guru-guru disekolah, saya menyambutnya dengan antusias tinggi. Saya berikan gambaran menarik kepada K tentang  tugas sekolahnya, dan berjanji untuk menemaninya mengerjakan semua tugas sekolahnya.

Setiap pagi, kami menunggu-nunggu tugas dari Ibu-ibu guru di WA grup besar sekolah. Setelah itu, saya tunjukkan pada K apa saja yang harus dikerjakan, kemudian dia makan dan mandi. Setelah itu, kami bersiap mengerjakan tugas. Tugas harus di kirimkan kembali hasilnya (foto) kepada Ibu Guru kelas masing-masing dalam kurun 24 jam, sehingga saya mengupayakan agar tugas selesai setiap pagi, sebelum dia mulai bermain bersama teman-temannya.

Tugas hari pertamanya adalah: 1) Melipat kertas dan dan membuat pesawat terbang: 2) Mewarnai pesawat terbang: 3) menerbangkan pesawat terbang; 4) Mengelompokkan jenis kata.

Pesawat dan Kelompok kata

Monday, March 16, 2020

Melipir ke Kampung Orang

Salah satu agenda sabbatical saya adalah mengambil hasil panenan beras yang sudah beberapa bulan tidak terjemput. Sambil tentunya bersilaturahmi dengan keluarga di Cibunian dan juga mencari belut dipematang sawah. 

Untuk K, hiburan paling menyenangkan buat dia banyak sekali. Selalu dan seperti biasa. 
Mencari belut, memancing ikan (walau akhirnya dilepaskan kembali), mengejar ayam, mengumpulkan bunga rumput, bermain air, dan melihat kambing di kandang Pak Uci. 

Refreshing singkat yang cukup menghibur hati... Forever grateful atas setiap nikmat yang Gusti Allah SWT berikan pada kami semua. :-)




Monday, March 2, 2020

Surat Ijin Mengemudi

Agenda pertama saya ketika Sabbatical adalah membuat SIM kendaraan bermotor. Sim C.

Selama ini saya mengemudi motor kemana-mana, tanpa SIM. Iya, salah banget. Jangan ditiru. Tapi gimana ya. Rasanya kalau pas hari kerja, cuti untuk ngurusin SIM itu koq rasanya sayang sekali gitu.

Alhasil, setiap kali naik motor, kemudian ada operasi penertiban dari kepolisian, saya selalu deg deg ser dan harap-harap cemas. Meskipun berusaha memasang tampang santai, senyum manis, dan sesopan mungkin berkendara diarea operasi, namun dalam dada rasanya bergemuruh. ahahaha. Kapokmu!

Akhirnya, dengan niat tulus ikhlas menjadi warga negara yang baik, saya mulai nanya teman yang kiranya memiliki relasi untuk mengurusi SIM. Nembak? hehehhee... Iya, maafkan lah ya. Habisnya tante ini waktunya sedikit banget. Musti jemput anak pulak yekaaan... Ngeles aja kamu! #pletak.

Akhirnya dapet nomer dari Lucy, untuk menghubungi sesebapak di tempat pembuatan SIM. Long short story, ya gitu deh. Akhirnya SIM baru ditangan saya setelah kurang dari 2 jam saja di kantor polisi.

Deg-degan juga rasanya berada di tempat umum, ketika masa Virus Corona semaki merajalela begini. Tapi alhamdulillah semua lancar, dan saya bisa tersenyum lebih lebar lagi kalau lewat dijalanan yang ada operasi penertiban dari polisi nya. Masya Allah ya...


Sedang terjadi kekeringan bibir level parah... :-(

Thursday, February 13, 2020

Space

It feels not right
But it seems the best
It feels wrong
But it seems the most make sense
It feels worst
But it seems the only way
For me...

Time... Space... And breathe...
Those will help
Those will heal
Those will show me the way


Wednesday, February 5, 2020

What Life Do We Want To Live Once We Get Older

Pernah nggak sih kepikiran jenis kehidupan atau keseharian seperti apa yang ingin kita jalani ketika kita sudah tak lagi muda nanti?

Sekarang umur mungkin masih 30-40an, tapi saya nggak bisa menolak untuk selalu membayangkan, memimpikan, dan membicarakannya dengan Mas Bojo. Memang urusan umur, rejeki, jodoh, dan mati itu di tangan Tuhan Allah SWT. Tapi bukan berarti kita nggak bisa menyusun mimpi seolah kita akan hidup 100 tahun lagi yekaaan?

Ketika saya iseng nanya suami untuk yang kesekian kali, sambil ngeteh malam-malam berdua.

Saya : "Yah, abaikan semua faktor ABCDEFGH nya. Kehidupan pensiun seperti apa yang kamu pengen untuk kita tua nanti?"
Mas Bojo : "Pengen tinggal di kampung, berkebun, bertani buat hidup sehari-hari. Anak udah mandiri ini. Jadi lebih selow hidup di pedesaan. Kalau kamu?"

Saya tersenyum lebar.

Saya : "Kita sejalan harapannya, yaitu tinggal di pedesaan. Cuma kalau aku lebih rada detail dan ambisius kayaknya. Pengennya anak kan pasti sudah mandiri, terus kita punya tabungan pensiun yang cukup untuk jalan-jalan kalau pengen, misalkan nengokin anak kek, atau jalan-jalan melihat tempat baru kek. Terus punya sapi atau kambing, terus punya kebun buat berkebun, punya kolam buat ikan. Jadi buat hidup sehari-hari bisa dari hasil bumi, tapi tetep punya uang untuk jalan-jalan"

Mas Bojo tertawa sambil berdoa semoga semua bisa terkabul.

Saya: "Tapi juga tetep pengen punya yayasan kecil untuk bantuin anak kurang mampu sekolah loh... Meskipun satu dua orang, nggak papa. Kayaknya Ibuk bakalan seneng juga. Aamiin.

Begitulah harapan dan cita-cita. Kita lihat bagaimana nanti Allah SWT menerangi jalan untuk kami lewati sepanjang nafas ini. Wish for the best! Aamiin.

***

Kisah diatas itu adalah kisah nyata. Sedangkan kisah dibawah ini adalah kisah fiksi, yang banyak saya lihat di film-film receh ala Ameriki.

Entah sudah berapa banyak film saya tonton, yang kisahnya sama. Keluarga tinggal di kota, punya Cabin House atau Log House di hutan. Ketika libur, mereka tinggal dirumah itu dengan segala adventure nya. Atau mereka punya keluarga (kakek dan atau nenek) yang masih tinggal di pinggiran kota yang cantik sekali. Yang mereka tengok sesekali. Tapi tetap bahagia dan tidak merasa kesepian karena memiliki tetangga yang baik-baik dan saling menyayangi.

Kalian sering juga kan nonton film yang kayak gitu? Apa yang kalian pikir setelah menonton film semacam itu?

Kalau saya, ya jadi terinspirasi dan muncul adegan nyata seperti diatas itu.


***

Oh iya, kembali ke kehidupan nyata.

Saya rasa, secara tidak langsung karena setiap nonton adegan fiksi diatas itu, hati saya mendoakan semoga nanti bisa punya juga, dan seterusnya dan seterusnya, maka secara naluriah langkah kami seolah mengarah kesana. Entahlah. Mungkin juga saya pakai ilmu cucoklogi.

Terlepas dari saya yang memang dari kampung di lereng gunung, dan keluarga yang masih berada disana, kita bicarakan tempat yang lain saja. :-)

Seperti pada saat teman di kampus mengatakan bahwa dia punya proyek menanam Jahe Merah di sebuah kampung pinggiran kota hujan. Saya dan Mas Bojo iseng ikut melihat. Tempatnya indah banget. Melewati lembah dengan sungai mengalir bersih, dan perbukitan hijau dibelakangnya. Cantik dan damai sekali rasanya. Kadang masih suka kurang yakin bahwa masih banyak tempat sejenis dipinggiran kota yang sudah hampir dua dekade saya tinggali ini. Sambil bermain air disungai dan menatap bukit-bukit menjulang tersebut, pikiran saya melanglang buana dan melahirkan diskusi monolog di kepala saya. Masak iya sih, kita (saya dan Mas Bojo) nggak bisa memiliki tambahan "rumah" barang beberapa meter ditempat ini? Bukankah kita sudah tinggal di kota yang riuh rendah dengan segala polemiknya? Bukankah tempat seperti ini yang kita butuhkan untuk sekedar memberi jeda? Ah, kita harus bisa lah punya sejengkal tanah disini. Masak sih nggak bisa... Dan sejenisnya.

Dalam perjalanan pulang, secara spontan saya bertanya kepada teman yang punya proyek itu.

Saya : "Ponti, kapan-kapan tanyain donk ke bapak yang bantuin kamu. Ada nggak yang dijual gitu sawah disini"
Ponti : "Lhooo... Mbak mau? Kemarin ada lhooo si bapaknya nawarin aku. Coba ya aku telpon dulu...."

Dan seperti itu saja awalnya... Kemudian menuntun jalan saya beberapa kali kembali ke sana, melihat dan memantapkan hati apakah benar ini layak diperjuangkan. Wallaaa... Akhirnya akad kredit dimulai. Alhamdulillah...

Saya tidak akan menolak juga sepertinya jika suatu saat nanti, Mas Bojo saya mengajak saya tinggal dikampung itu. Orang nya baik-baik. Udara dan air segar. Sepertinya kedamaian lebih banyak kita dapatkan disana.

Seperti itu.

***

Kamis Criwis...