Pernah nggak sih kepikiran jenis kehidupan atau keseharian seperti apa yang ingin kita jalani ketika kita sudah tak lagi muda nanti?
Sekarang umur mungkin masih 30-40an, tapi saya nggak bisa menolak untuk selalu membayangkan, memimpikan, dan membicarakannya dengan Mas Bojo. Memang urusan umur, rejeki, jodoh, dan mati itu di tangan Tuhan Allah SWT. Tapi bukan berarti kita nggak bisa menyusun mimpi seolah kita akan hidup 100 tahun lagi yekaaan?
Ketika saya iseng nanya suami untuk yang kesekian kali, sambil ngeteh malam-malam berdua.
Saya : "Yah, abaikan semua faktor ABCDEFGH nya. Kehidupan pensiun seperti apa yang kamu pengen untuk kita tua nanti?"
Mas Bojo : "Pengen tinggal di kampung, berkebun, bertani buat hidup sehari-hari. Anak udah mandiri ini. Jadi lebih selow hidup di pedesaan. Kalau kamu?"
Saya tersenyum lebar.
Saya : "Kita sejalan harapannya, yaitu tinggal di pedesaan. Cuma kalau aku lebih rada detail dan ambisius kayaknya. Pengennya anak kan pasti sudah mandiri, terus kita punya tabungan pensiun yang cukup untuk jalan-jalan kalau pengen, misalkan nengokin anak kek, atau jalan-jalan melihat tempat baru kek. Terus punya sapi atau kambing, terus punya kebun buat berkebun, punya kolam buat ikan. Jadi buat hidup sehari-hari bisa dari hasil bumi, tapi tetep punya uang untuk jalan-jalan"
Mas Bojo tertawa sambil berdoa semoga semua bisa terkabul.
Saya: "Tapi juga tetep pengen punya yayasan kecil untuk bantuin anak kurang mampu sekolah loh... Meskipun satu dua orang, nggak papa. Kayaknya Ibuk bakalan seneng juga. Aamiin.
Begitulah harapan dan cita-cita. Kita lihat bagaimana nanti Allah SWT menerangi jalan untuk kami lewati sepanjang nafas ini. Wish for the best! Aamiin.
***
Kisah diatas itu adalah kisah nyata. Sedangkan kisah dibawah ini adalah kisah fiksi, yang banyak saya lihat di film-film receh ala Ameriki.
Entah sudah berapa banyak film saya tonton, yang kisahnya sama. Keluarga tinggal di kota, punya Cabin House atau Log House di hutan. Ketika libur, mereka tinggal dirumah itu dengan segala adventure nya. Atau mereka punya keluarga (kakek dan atau nenek) yang masih tinggal di pinggiran kota yang cantik sekali. Yang mereka tengok sesekali. Tapi tetap bahagia dan tidak merasa kesepian karena memiliki tetangga yang baik-baik dan saling menyayangi.
Kalian sering juga kan nonton film yang kayak gitu? Apa yang kalian pikir setelah menonton film semacam itu?
Kalau saya, ya jadi terinspirasi dan muncul adegan nyata seperti diatas itu.
***
Oh iya, kembali ke kehidupan nyata.
Saya rasa, secara tidak langsung karena setiap nonton adegan fiksi diatas itu, hati saya mendoakan semoga nanti bisa punya juga, dan seterusnya dan seterusnya, maka secara naluriah langkah kami seolah mengarah kesana. Entahlah. Mungkin juga saya pakai ilmu cucoklogi.
Terlepas dari saya yang memang dari kampung di lereng gunung, dan keluarga yang masih berada disana, kita bicarakan tempat yang lain saja. :-)
Seperti pada saat teman di kampus mengatakan bahwa dia punya proyek menanam Jahe Merah di sebuah kampung pinggiran kota hujan. Saya dan Mas Bojo iseng ikut melihat. Tempatnya indah banget. Melewati lembah dengan sungai mengalir bersih, dan perbukitan hijau dibelakangnya. Cantik dan damai sekali rasanya. Kadang masih suka kurang yakin bahwa masih banyak tempat sejenis dipinggiran kota yang sudah hampir dua dekade saya tinggali ini. Sambil bermain air disungai dan menatap bukit-bukit menjulang tersebut, pikiran saya melanglang buana dan melahirkan diskusi monolog di kepala saya. Masak iya sih, kita (saya dan Mas Bojo) nggak bisa memiliki tambahan "rumah" barang beberapa meter ditempat ini? Bukankah kita sudah tinggal di kota yang riuh rendah dengan segala polemiknya? Bukankah tempat seperti ini yang kita butuhkan untuk sekedar memberi jeda? Ah, kita harus bisa lah punya sejengkal tanah disini. Masak sih nggak bisa... Dan sejenisnya.
Dalam perjalanan pulang, secara spontan saya bertanya kepada teman yang punya proyek itu.
Saya : "Ponti, kapan-kapan tanyain donk ke bapak yang bantuin kamu. Ada nggak yang dijual gitu sawah disini"
Ponti : "Lhooo... Mbak mau? Kemarin ada lhooo si bapaknya nawarin aku. Coba ya aku telpon dulu...."
Dan seperti itu saja awalnya... Kemudian menuntun jalan saya beberapa kali kembali ke sana, melihat dan memantapkan hati apakah benar ini layak diperjuangkan. Wallaaa... Akhirnya akad kredit dimulai. Alhamdulillah...
Saya tidak akan menolak juga sepertinya jika suatu saat nanti, Mas Bojo saya mengajak saya tinggal dikampung itu. Orang nya baik-baik. Udara dan air segar. Sepertinya kedamaian lebih banyak kita dapatkan disana.
Seperti itu.
***
Kamis Criwis...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Sepertinya, belakangan ini aku di paksa untuk bersahabat dan sekaligus bermusuhan dengan beberapa hal baru. Beberapa hal yang beraneka rupa ...
-
Saya selalu percaya bahwa Tuhan menciptakan alam beserta isinya secara menyeluruh... Tidak terpisah-pisah, dan tidak tanpa alasan... Saya ...
-
Liburan... Adalah saat di mana banyak orang menjadi tantrum, gelisah, dan merasa harus ke mana atau ngapain. Jutaan manusia bergerak, demi ...
1 comment:
pastinya menjadi nenek2 yang sehaaaatt.....
Post a Comment