Monday, March 16, 2020

Melipir ke Kampung Orang

Salah satu agenda sabbatical saya adalah mengambil hasil panenan beras yang sudah beberapa bulan tidak terjemput. Sambil tentunya bersilaturahmi dengan keluarga di Cibunian dan juga mencari belut dipematang sawah. 

Untuk K, hiburan paling menyenangkan buat dia banyak sekali. Selalu dan seperti biasa. 
Mencari belut, memancing ikan (walau akhirnya dilepaskan kembali), mengejar ayam, mengumpulkan bunga rumput, bermain air, dan melihat kambing di kandang Pak Uci. 

Refreshing singkat yang cukup menghibur hati... Forever grateful atas setiap nikmat yang Gusti Allah SWT berikan pada kami semua. :-)




Monday, March 2, 2020

Surat Ijin Mengemudi

Agenda pertama saya ketika Sabbatical adalah membuat SIM kendaraan bermotor. Sim C.

Selama ini saya mengemudi motor kemana-mana, tanpa SIM. Iya, salah banget. Jangan ditiru. Tapi gimana ya. Rasanya kalau pas hari kerja, cuti untuk ngurusin SIM itu koq rasanya sayang sekali gitu.

Alhasil, setiap kali naik motor, kemudian ada operasi penertiban dari kepolisian, saya selalu deg deg ser dan harap-harap cemas. Meskipun berusaha memasang tampang santai, senyum manis, dan sesopan mungkin berkendara diarea operasi, namun dalam dada rasanya bergemuruh. ahahaha. Kapokmu!

Akhirnya, dengan niat tulus ikhlas menjadi warga negara yang baik, saya mulai nanya teman yang kiranya memiliki relasi untuk mengurusi SIM. Nembak? hehehhee... Iya, maafkan lah ya. Habisnya tante ini waktunya sedikit banget. Musti jemput anak pulak yekaaan... Ngeles aja kamu! #pletak.

Akhirnya dapet nomer dari Lucy, untuk menghubungi sesebapak di tempat pembuatan SIM. Long short story, ya gitu deh. Akhirnya SIM baru ditangan saya setelah kurang dari 2 jam saja di kantor polisi.

Deg-degan juga rasanya berada di tempat umum, ketika masa Virus Corona semaki merajalela begini. Tapi alhamdulillah semua lancar, dan saya bisa tersenyum lebih lebar lagi kalau lewat dijalanan yang ada operasi penertiban dari polisi nya. Masya Allah ya...


Sedang terjadi kekeringan bibir level parah... :-(

Thursday, February 13, 2020

Space

It feels not right
But it seems the best
It feels wrong
But it seems the most make sense
It feels worst
But it seems the only way
For me...

Time... Space... And breathe...
Those will help
Those will heal
Those will show me the way


Wednesday, February 5, 2020

What Life Do We Want To Live Once We Get Older

Pernah nggak sih kepikiran jenis kehidupan atau keseharian seperti apa yang ingin kita jalani ketika kita sudah tak lagi muda nanti?

Sekarang umur mungkin masih 30-40an, tapi saya nggak bisa menolak untuk selalu membayangkan, memimpikan, dan membicarakannya dengan Mas Bojo. Memang urusan umur, rejeki, jodoh, dan mati itu di tangan Tuhan Allah SWT. Tapi bukan berarti kita nggak bisa menyusun mimpi seolah kita akan hidup 100 tahun lagi yekaaan?

Ketika saya iseng nanya suami untuk yang kesekian kali, sambil ngeteh malam-malam berdua.

Saya : "Yah, abaikan semua faktor ABCDEFGH nya. Kehidupan pensiun seperti apa yang kamu pengen untuk kita tua nanti?"
Mas Bojo : "Pengen tinggal di kampung, berkebun, bertani buat hidup sehari-hari. Anak udah mandiri ini. Jadi lebih selow hidup di pedesaan. Kalau kamu?"

Saya tersenyum lebar.

Saya : "Kita sejalan harapannya, yaitu tinggal di pedesaan. Cuma kalau aku lebih rada detail dan ambisius kayaknya. Pengennya anak kan pasti sudah mandiri, terus kita punya tabungan pensiun yang cukup untuk jalan-jalan kalau pengen, misalkan nengokin anak kek, atau jalan-jalan melihat tempat baru kek. Terus punya sapi atau kambing, terus punya kebun buat berkebun, punya kolam buat ikan. Jadi buat hidup sehari-hari bisa dari hasil bumi, tapi tetep punya uang untuk jalan-jalan"

Mas Bojo tertawa sambil berdoa semoga semua bisa terkabul.

Saya: "Tapi juga tetep pengen punya yayasan kecil untuk bantuin anak kurang mampu sekolah loh... Meskipun satu dua orang, nggak papa. Kayaknya Ibuk bakalan seneng juga. Aamiin.

Begitulah harapan dan cita-cita. Kita lihat bagaimana nanti Allah SWT menerangi jalan untuk kami lewati sepanjang nafas ini. Wish for the best! Aamiin.

***

Kisah diatas itu adalah kisah nyata. Sedangkan kisah dibawah ini adalah kisah fiksi, yang banyak saya lihat di film-film receh ala Ameriki.

Entah sudah berapa banyak film saya tonton, yang kisahnya sama. Keluarga tinggal di kota, punya Cabin House atau Log House di hutan. Ketika libur, mereka tinggal dirumah itu dengan segala adventure nya. Atau mereka punya keluarga (kakek dan atau nenek) yang masih tinggal di pinggiran kota yang cantik sekali. Yang mereka tengok sesekali. Tapi tetap bahagia dan tidak merasa kesepian karena memiliki tetangga yang baik-baik dan saling menyayangi.

Kalian sering juga kan nonton film yang kayak gitu? Apa yang kalian pikir setelah menonton film semacam itu?

Kalau saya, ya jadi terinspirasi dan muncul adegan nyata seperti diatas itu.


***

Oh iya, kembali ke kehidupan nyata.

Saya rasa, secara tidak langsung karena setiap nonton adegan fiksi diatas itu, hati saya mendoakan semoga nanti bisa punya juga, dan seterusnya dan seterusnya, maka secara naluriah langkah kami seolah mengarah kesana. Entahlah. Mungkin juga saya pakai ilmu cucoklogi.

Terlepas dari saya yang memang dari kampung di lereng gunung, dan keluarga yang masih berada disana, kita bicarakan tempat yang lain saja. :-)

Seperti pada saat teman di kampus mengatakan bahwa dia punya proyek menanam Jahe Merah di sebuah kampung pinggiran kota hujan. Saya dan Mas Bojo iseng ikut melihat. Tempatnya indah banget. Melewati lembah dengan sungai mengalir bersih, dan perbukitan hijau dibelakangnya. Cantik dan damai sekali rasanya. Kadang masih suka kurang yakin bahwa masih banyak tempat sejenis dipinggiran kota yang sudah hampir dua dekade saya tinggali ini. Sambil bermain air disungai dan menatap bukit-bukit menjulang tersebut, pikiran saya melanglang buana dan melahirkan diskusi monolog di kepala saya. Masak iya sih, kita (saya dan Mas Bojo) nggak bisa memiliki tambahan "rumah" barang beberapa meter ditempat ini? Bukankah kita sudah tinggal di kota yang riuh rendah dengan segala polemiknya? Bukankah tempat seperti ini yang kita butuhkan untuk sekedar memberi jeda? Ah, kita harus bisa lah punya sejengkal tanah disini. Masak sih nggak bisa... Dan sejenisnya.

Dalam perjalanan pulang, secara spontan saya bertanya kepada teman yang punya proyek itu.

Saya : "Ponti, kapan-kapan tanyain donk ke bapak yang bantuin kamu. Ada nggak yang dijual gitu sawah disini"
Ponti : "Lhooo... Mbak mau? Kemarin ada lhooo si bapaknya nawarin aku. Coba ya aku telpon dulu...."

Dan seperti itu saja awalnya... Kemudian menuntun jalan saya beberapa kali kembali ke sana, melihat dan memantapkan hati apakah benar ini layak diperjuangkan. Wallaaa... Akhirnya akad kredit dimulai. Alhamdulillah...

Saya tidak akan menolak juga sepertinya jika suatu saat nanti, Mas Bojo saya mengajak saya tinggal dikampung itu. Orang nya baik-baik. Udara dan air segar. Sepertinya kedamaian lebih banyak kita dapatkan disana.

Seperti itu.

***

Kamis Criwis...


Thursday, January 16, 2020

Memenuhi Ruang Hati dengan Kehangatan



Petang menjelang malam, ketika emak menyuapi si anak diruang keluarga semata wayang.

"K, mandi sama teteh dulu ya"
"Kenapa?"
"Bunda mau ke rumah sakit nengok Pakde Febri, suaminya Bude Shanti"
"Kemana?"
"Kerumah sakit"
"Sakit apa?"
"Sakit hati"
"Kayak Ibuk?"
"Iya seperti Ibuk"
"Aku ikut aja?"
"Nggak boleh, kan masih anak-anak. Bunda bareng sama Tante Deby dan tetangga lainnya"
"Aku tulis surat aja ya..."
"Ya boleh...."


Thoughtful Child, melting mom's heart

Akhirnya surat dari K sampai ditangan Pakde Febri di rumah sakit. Cukup menghibur yang sakit, dan juga yang menemani. "Itu doanya tulus lho, dari anak-anak" Kata Pakde Febri.
At least, this little letter, make the smile brighter... :-)

Sulit menemukan kata-kata, jika berhubungan dengan kepolosan anak-anak kita. Bahagia dan terharu, selalu memenuhi ruang hati untuk hal-hal kecil seperti ini. Setiap saat, aku selalu berpikir bahwa Allah SWT sangat menyayangiku hingga dia titipkan seorang anak yang membahagiakan hati orang tuanya ini. Semoga kesehatan dan kebahagiaan senantiasa mengiringi kami, dan juga orang-orang disekitar kami yang kami kasihi. Aamiin.





















Friday, January 10, 2020

10 January 2020

10 January 2020

What???
It's 10th already???

Old case...
Eeerrr

#end

Wednesday, January 1, 2020

Happy New Year 2020!!!

Happy New Year 2020!!!



What New Year's means to me, very well said on below speech by Mbak Hilary Swank di sebuah film, seperti tertulis dibawah ini:


***

It remind us to stop…
And reflect on the new year that has gone by...
To remember both our triumphs and our missteps...
Our promises made and broken...
The times we opened ourselves up to great adventures...
Or closed ourself down for fear of getting hurt...
That's what New Year's is all about...
Getting another chances
A chance to forgive
To do better,
To do more,
To give more,
To love more,
And to stop worrying about "what if"...
And start embracing what will be...
And when the ball drop in the middle of the night... And it will drop...
Let's remember to be nice to each other...
Kind to each other...
And not just tonight, but all year long...

~New Year's Eve

***

Happy New Year 2020 Everyone!