Sunday, November 24, 2019

When The Skies Are Gray

I am trying to be present... :-)





Mungkin Hanya Saya Yang Merasa Aneh?

Judul tulisan ini adalah perasaan saya yang sebenar-benarnya, jika obrolan sudah mulai mengarah pada perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia. Apakah ada yang lain yang merasa aneh juga?


Mas Bojo baru pulang dari Papua lagi, setelah cukup lama dia vakum tidak trip ke Ujung Timur Indonesia itu. Seperti dalam foto diatas, begitulah...

Nah yang pengen saya share adalah, kegelisahan dan keheranan yang saya rasakan pada beberapa kali diskusi dengan saudara dan teman tentang Papua. Jika ada yang ingin memberi saya pencerahan, silakan... Saya sangat butuh pencerahan... Karena sejauh ini, saya hanya berfikir dengan pikiran bodoh saya saja....

Suatu saat, saya berbincang dengan saudara saya, yang lahir dan besar di Papua. Saat itu, TransPapua baru dimulai, tapi harga BBM sudah samarata. Saya bersyukur karena harga BBM sudah sama, dan TransPapua segera dibuka. Tapi apa coba kata saudara saya yang notabene lahir dan besar disana?

Beliau malah bilang bahwa masyarakat Papua itu tidak menginginkan itu. Mereka lebih membutuhkan tokoh-tokoh yang bisa membimbing agama lebih baik. Mereka sudah senang dan nyaman dengan kondisi sekarang, dan tidak ingin semakin banyak orang masuk ke Papua. Mereka memang jiwanya tidak ingin maju.

Ya lord... Saat itu saya rasanya sedih sekali tapi juga tertawa miris dalam hati...

Saya (masih dengan logika bodoh saya) berkata: "Bulek, itu kan karena memang mereka sudah secara turun temurun dibuat agar berfikir seperti itu. Dibuat berfikir bahwa banyaknya orang dan informasi masuk hanya akan membuat bencana. Tidak diperlihatkan bahwa ada pilihan hidup yang lebih baik yang dunia bisa tawarkan diluar sana. Hanya ada masyarakat yang harus terima dengan kondisi seadanya dan pendidikan serta informasi terbatas". Dan seperti yang mungkin bisa kalian bayangkan... Diskusinya menjadi tidak masuk akal ketika semakin condong dengan menilai jelek pemerintah kita. Duuuuuhhhh....

Belum lagi saya jadi ingat ketika pada suatu masa, dimana BBM baru banget disamaratakan. Sekitar sebulanan lah kalau tidak salah. Diskusi terjadi di sebuah grup WAG saya. Beberapa orang membagikan tautan berita mengenai penyamarataan harga BBM. Beberapa yang kontra pemerintah ya tetap saja dengan nyinyirers nya. Mengatakan bahwa ini hanya pencitraan, yada yada yada...

Kemudian ada salah satu teman saya yang bekerja di Papua juga, memposting kalimat yang sangat jelas sekali bahwa dia mementahkan berita harga BBM sama itu. Dia bilang "Jangan percaya pada berita mainstream... Kenyataannya belum tentu... ". Saya gemash sekali. Saya akhirnya mengirimkan pesan WA kepada salah satu teman kos lama saya, yang juga bekerja di Papua.
"Des, beli BBM gih di pom bensin. Kirim struknya ke gw". Ndilalah teman saya itu segera membalas.
"Nih, kebetulan gw baru aja tadi ke Pom Bensin... Udah sama donk harganya sama di Jawa. Horeeee...".
Langsung saya forward itu foto ke WAG yang tadi itu, dengan kalimat "Benci boleh, tapi malas ngecek dan antipati jangan lah ya..."

Dan sampai sekarang, saya sepertinya dianggap angin oleh teman saya itu. Beberapa WA saya, tidak dibaca... ahahahahaa. Come on... Sarjana nggak usah baperan gitu yekaaan... Cuss...

Gitu aja sih...
Saya tidak perduli sebetulnya siapapun presiden atau menteri-menterinya siapa saja. Yang penting mereka bekerja untuk kita, rakyat Indonesia. Kalau sekarang yang benar-benar bekerja adalah Pakdhe Jokowi, ya terima aja lah. Kalau nanti ada sosok lain penerus Pakdhe yang juga bekerja setulus hati membangun Indonesia, saya juga akan mendukungnya.

Karena hanya satu harapan saya, yaitu anak cucu saya bisa tumbuh di Negara yang maju, aman, tentram, dan penuh harapan akan masa depan. Itu aja. Memangnya kalian tidak?

#jangankapokmenjadiindonesia
#Indonesiabisa

Saturday, November 23, 2019

We Are Never Ever Alone

"I got the book" she texted me along with the picture she sent... "Let's read it together" I texted her back...

Let's dance it out... It won't be easy, but hey, we aren't just like anybody. We're survivor, in this temporary world...

All these stories, should be written... Someday... Be there, hanging on, stay safe, and be happy... Till that time... Many people loves you, we should love ourselves too ...

 #eeeaaa #itmaybefiction #maybenot #backtoword #backtowrite



Tahun ini sepertinya banyak angin bertiup dan meniup orang-orang yang kukasihi. Bermula dengan angin semilir yang menawarkan ribuan harapan, namun bertransformasi menjadi pusaran yang tak kunjung henti... 

Pun bagiku, ada masa ketika harus memasuki sebuah pintu. Pintu gelap yang panjang, sendirian dan kebingungan. Dalam kegelapan kaki harus tetap berjalan maju, mencari jalan untuk keluar. 

Waktu seolah berhenti karena ketiadaan detak jarum jam. Langkah harus tetap maju karena keyakinan bahwa didepan pasti ada jalan terang. Cahaya dibelakang punggung kian mengecil hingga akhirnya hilang. Gelap. 

Lorong gelap yang tak bercelah, tak berujung. Ada pilihan yang tak ingin kupilih kala itu. Berhenti. Bisa saja aku berhenti dan menunggu. Menunggu hingga ada dari mereka menyadari bahwa aku tersesat. Tapi aku tidak membiasakan diri hidup dengan mengharapkan kepedulian orang, aku tidak suka menunggu dan tergantung pada orang lain. Hidupku, jalan hidupku, dan arah langkahku, tidak bisa menunggu dan tergantung pada orang lain. Akupun terus berjalan. 

Berjalan dalam kegelapan tanpa adanya dimensi waktu, membuatku banyak berfikir. Tentang aku, tentang perjalanan di dalam lorong gelap itu, tentang mereka yang mengasihiku, dan tentang mereka yang kukasihi. Tentang aku, bukan cerita yang akan selesai dalam satu jilid buku, ataupun dalam sebuah serial cerita. Karena aku, terus melaju bersama waktu yang memburu. Tentang perjalanan di lorong gelap itu, tidak akan mampu terkupas hanya dalam satu bab buku. Tidak mudah membongkar semua tumpukan batu, tidak mudah menyingkirkan duri jerami ilalang serta semua penutup dalamnya gua. Seperti lapisan bawang merah, hanya bisa dibuka selapis demi selapis, pada saatnya nanti. 

Tentang mereka yang mengasihiku... 
Pada akhirnya, merekalah yang mengirimkan doa dan semangadh pada semesta. Semesta menghantarkan setiap doa mereka kepada sang pencipta, yang akan selalu menolong hamba-Nya. Kepada mereka semua, Terima Kasih. 

Tentang mereka yang kukasihi... 
Dalam setiap doa dan harapan, dalam setiap kondisi, ada nama mereka berbaris dalam setiap kalimatnya. Sebelum akhirnya kututup dengan "aamiin". 

Setelah habis pikirku pada apa yang mampu otakku panggil, aku terdiam tanpa berhenti melangkah. Semua yang aku pikirkan sebelumnya, adalah aku. aku. dan aku. Ketika tak ada lagi aku dan aku yang kupikirkan, kutanyakan, dan kucari, aku diam. Tidak ada lagi. Apa yang tersisa? DIA. 

DIA. 
Iya, pada akhirnya hanya ada Dia yang maha segalanya. Yang tak bisa habis untuk dipikirkan dari masa ke masa. Dia yang menuntunku ke lorong gelap ini, Dia jua lah yang akan menuntunku keluar. Seperti dalam tulisan lamaku tentang berjalan diatas tali, ini hanya sekedar terjatuh dari tali. Dia jua yang akan menuntunku bangkin kembali meniti tali itu. Iya, Dia. Siapa lagi? Tidak ada. 

Akhirnya kuhela nafas panjang, dan kukatakan dengan keras "Aku Pada-Mu". Iya. Saat itu aku mengembalikan semuanya kepada-Nya. Tidak ada lagi pertanyaan kenapa, mengapa, bagaimana bisa, kenapa aku, kenapa kami, dan lain sebagainya. Semua pertanyaan telah terjawab. DIA. Dia yang maha berkehendak. Itu saja. 

Langkahku semakin lurus, tidak lagi terseok-seok dalam ragu. Kulangkahkan kakiku maju, dengan keyakinan untuk mengikuti-Nya. Kemanapun dan bagaimanapun, ketika aku maju dengan mengikuti-Nya, aku yakin semua akhir adalah yang terbaik. Lorong gelap panjang yang awalnya terasa sesak untukku, tetap gelap namun tak lagi sesak. 

Untuk beberapa waktu aku masih tetap berjalan dilorong gelap, tapi kegelapan yang melegakan. Hingga akhirnya, aku mulai melihat cahaya samar dari ujungnya. Aku tahu bahwa akhir dari lorong gelap ini, mungkin bukan yang aku inginkan, namun yang terbaik dari semua hal baik. Sedikit khawatir, tapi tidak lama. Dengan-Nya, semua jawaban terhampar begitu saja. Yang Terbaik. Terima Kasih. 

Belum lama ini, salah seorang yang kukasihi, sedang memasuki lorong gelapnya. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, selain berdoa, menguatkan, menyemangati, dan mengingatkan bahwa panjangnya lorong gelap kita mungkin tidak sama. Tetapi tetap hanya Dia yang akan memberi kita jawaban pasti. Pasrahkan... Ikhlaskan... Legowo... All is well... It shall pass... 

Tumbuh ke dalam adalah proses yang mungkin tidak mudah, dan tidak semua orang memilih untuk menjalaninya. Berbahagialah kita semua, atas apa yang diberikan-Nya pada masing-masing dari kita. 

#love
#healing

Friday, November 15, 2019

Antara Emak Banyak Modalnya dan Emak Banyak Maunya

Ini hanyalah salah satu cara semesta bekerja... 
Semesta bergerak dan menggerakkan manusia, bersenggolan satu sama lain, hingga akhirnya teronggok manis karena tak bisa bergerak lagi. Seperti permainan di handphone lama itu apa namanya ya?

Jadi entah bagaimana semesta bekerja, akhirnya berkumpulah tiga emak-emak ini bersama. Dilihat dari judul, tahu kan mana yang banyak modalnya dan mana yang banyak maunya? ahaahhahaa

Yang paling kanan itu juragan Pochajang Depok, Cikarang, dan soon to be Condet. Eeeaaa... Tauk kan Pochajang? Restoran Franchise - an untuk makanan korea gitu lho... Memang si Cici cantik satu ini hobinya nonton drakor. Dia juga yang meracuni saya nonton drakor hingga akhirnya falling a deep love sama Abang Ojhun... ahahahaha

Si sese-nci ini aduh sudahlah ya... Kalau kita ngobrol sama doi, terus ngobrolnya nyangkut ke caffe semacam Kulo dramaga, itu ujungnya dengan enteng nya dia tinggal bilang "Iya, itu om gw..." atau yang itu, yang onoh... duh duh duh... 

Nah, yang tengah sama yang paling kiri inilah yang tergolong emak banyak maunya. Mangkanya kita bersatu untuk berguru pada suhu. Sampe akhirnya muncul grup judulnya aja galau "Mo Usaha Apaaa". Diiih... Bikin yang penuh optimisme macam "Emak Pengen Kaya" atau "Calon Emak Pengusaha" atau yang rada ekstrim semacam "Pengusaha Wanita Mandiri" gitu gimana? #ngimpiiiiiiii

Jadi, seperti itu. 
Rada meaningless postingan ini, tapi menurut saya penting. Selalu ada yang bisa kita lihat kembali ribuan purnama nanti. Siapa tahu akan ada masanya kita berbincang sambil ngopi syantiek, dan berkata dengan ringannya sambil melihat postingan ini "Semua cuma berawal dari sini ya..." 
#Aamiin
#Aamiin
#Aamiin


Tuesday, November 12, 2019

Lucky - Jason Mraz

Bukan kesempurnaan yang aku cari, 
Pun aku yakin engkaupun begitu... 

8 tahun belajar bersama dan membersamai, 
7 tahun belajar bersama dan memiliki...

Today is your day, 
But today is also my day, 
To be forever grateful, forever thankful, 

Tuhan sayang sekali kepadaku, 
Hingga Dia berikan kamu, 
Dan Dia berikan K untuk kita... 
Alhamdulillahirobbil'alamiin.

Seperti kata Mas Jason Mraz, 
I am indeed very lucky, because I am in love with my best friend..


Do you hear me,
I'm talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Oh oh oh oh oh oh oh oh
They don't know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I'll wait for you I promise you, I will
I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday
And so I'm sailing through the sea
To an island where we'll meet
You'll hear the music fill the air
I'll put a flower in your hair
Though the breezes through the trees
Move so pretty you're all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now
I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I'm lucky we're in love in every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday
Oh oh oh oh oh oh oh oh
Oh oh oh oh oh oh oh oh



Selamat Ulang Tahun Bapakne K...
Nothing I wish but the best for you
Be healthy and happy always
Because your happiness, is ours too...

Love,
K & WJ

Friday, November 1, 2019

Not Easy to be Present

Being present... 

Adalah materi yang diberikan oleh salah satu pemateri training komunikasi dikantor kami pada saat annual meeting kemarin. Pemateri ini adalah pemateri yang konon katanya dipakai juga oleh apple dan google untuk team mereka. What an honor banget nggak sih bisa ikutan... 

Setelah mengikuti sesi nya, memang saya menjadi jatuh hati. Jenis materi ini yang sudah lama sekali saya tunggu-tunggu untuk hadir dilingkungan kerja saya. Saya sangat menikmati sesi yang dibawakan dengan rileks (meskipun denger2 tidak serileks harganya. ahahaa). 

Namun sayang, karena fokus utama kantor saya untuk menggunakan jasa pelatih itu bukan untuk divisi saya, tapi divisi lain. Jadi waktu yang saya ikuti hanya sedikit. Tapi lumayan lah daripada tidak sama sekali. Setelah mengikuti sesi singkat itu, ternyata semakin memperkuat keinginan saya untuk ikut pelatihan serupa lagi dan lagi. Nah loh gimana ini... Entahlah apakah keinginan rakyat jelata ini akan sampai pada telinga baginda raja... #eeeaaa #mulailagilebaynya

Intinya, untuk bisa berkomunikasi dengan baik, bisa mendengarkan pesan, menerima pesan, dan menyampaikan kembali pesan dengan benar itu, kita harus being present. Benar-benar present. Hadir. Nggak setengah-setengah, nggak sambil melamun apalagi. #itusaya

Contoh yang dipakai hanya kata yang bunyinya SAN. Interpretasi mulai datang macam-macam dari berbagai penjuru ruangan. Ada yang bilang Sun Rise, ada yang bilang daylight, ada yang bilang morning. Dan saya koq mikirnya anak laki-laki. ahahaha... Gitulah intinya. 

>>> Dengar-Dengar <<<
Si seseibu yang itu mau hadir kembali dan diimpor kenegri tercinta. Duh, berharap banget bisa diikutsertakan dalam pelatihannya lagi. Meskipun cuma suruh duduk, mendengarkan, atau bantuin transfer flipchart ya boleh lah. Segitu memang pengennya saya ikutan... ahahaha

Let's cross our finger, #backofficesquad !!!

Nah, kalau sekarang ini saya mau nyampah perihal kesulitan saya being present. Mendadak muncul disuatu sore kalau tidak salah. Jadi seperti biasa tangkapan layar status bekerja. Seperti ini:


Saya lebay ya?

Iya memang... Nggak usah bilang enggak... Karena memang iya... ahhahaaa

Kepala saya ini, seperti kuda yang masih baru turun gunung. Kadang dia bisa anteng aja khusyuk makan rumput sambil mendengarkan sekeliling. Tapi kadang bisa mulai jalan-jalan sendiri maju mundur syantiek. Terkadang pula bisa mendadak lari tak tentu arah naik turun gunung  gitu. Nggak percaya? Duh, gimana ya menjelaskannya... Ya gitu lah pokoknya.

Hamparan dan Suara Air, serta perjalanan, adalah area rawan yang menjadi favorit saya. Itu juga sangat benarrrr...

Orang-orang yang cukup lama bersama saya, pasti tidak asing dengan suara mellow mendadak dari saya yang bunyinya "Duh, aku mulai mellow... Seperti onggokan daging" manakala ada hamparan air disekeliling saya. Biasanya kalau saya ada ditepi sungai, tepi danau, diatas laut, dipantai, dikolam, atau sejenisnya. Karenanya kemana-mana saya selalu membawa buku (novel/sudoku/kindle) atau juga menggunakan note di hp saya. Untuk jaga-jaga ketika jiwa mellow saya menang dan muncul barisan-barisan kata yang kadang syahdu tralala... #eeeaaa

Teman-teman kerja saya sih sudah lebih biasa dan cuma komen pendek "Dih, si Wilis kumat noraknya". dan meninggalkan saya meleleh dipinggiran, atau malah memancing saya mulai menyanyi. #dih #temanmacamapa

Di perjalanan?
Ini juga... Duh, banyak banget yang mau ditulis, tapi berlarian duluan dikepala. Gimana ini?

Ok. Satu-satu pakai contoh saja.

Pertama perjalanan dengan pesawat. Ini biasanya obrolan saya bersama Mbak D, atau si Bambang alias Salmul.
Saya      : Aku yang jendela aja ya
Mereka : Aku aja yang jendela.
Saya      : Kalian buat apaan jendela
Mereka : Ya buat tidur lah apalagi
Saya      : Duh sayang banget jendela buat tidur... Mending buat aku... Aku perlu jendela buat melamun... Memandangi hamparan awan... Melihat bumi dari kejauhan... Mengurai isi kepala yang tumpuk menumpuk sambung menyambung menjadi satu...
Mereka  : Ih amit-amit....


Kedua adalah perjalanan dengan kereta. Kalau ini sih biasanya tidak pernah ada perdebatan. Karena hanya ada antara saya dan mas bojo. Eh enggak dink. Sekarang ada K yang juga suka duduk di jendela untuk melihat-lihat pemandangan. Which is fine karena pada akhirnya dia akan menikmatinya bersama saya. Melihat pepohonan, kampung-kampung, kota-kota, kebun-kebun, sungai, dan lain sebagainya bergerak diluar jendela kereta, adalah juga favorit saya. Menyenangkan.

Ketiga adalah perjalanan dengan kendaraan darat seperti mobil, bis, truck, dan lain sebagainya. Sama seperti dengan kereta... Saya menyukainya. Waktu diperjalanan, adalah waktu berharga yang biasanya saya gunakan untuk diri saya sendiri... That's my quality me time...

Ke empat adalah perjalanan diatas laut...
Ini sering sekali membuat saya meleleh bagaikan onggokan daging ditepian. Biasanya saya akan menyibukkan diri dengan membaca. Kalau tidak, mata saya akan terpaku menatap kejauhan, dengan isi kepala yang berenang-renang timbul tenggelam dilautan dalam. Suatu saat saya bersama dengan teman-teman organisasi pecinta alam harus naik kapal KM. Wilis dari Jakarta ke Ketapang. Butuh waktu 3 hari 2 malam diatas kapal. Hampir semua teman saya tumbang dengan muntah dan mabuk laut. Saya? Saya sangat menikmati perjalanan dengan duduk di geladak menunggu Ikan Indosiar muncul. Saya merasa tenang dan damai.
Suatu waktu saya sedang traveling sendirian untuk merayakan tahun baru ke Karimun Jawa. Dari Pelabuhan Kartini Jepara saya naik kapal ke Karimun Jawa. Saat itu saya membawa buku Perahu Kertas nya Dee Lestari... Komplitlah sudah perjalanan itu saya habiskan dengan bermellow ria bersama Kugy dan Keenan. Terlebih lagi saya menginap di Wisma Apung yang benar-benar mengapung diatas laut. Ditambah dengan mereka-mereka teman baru yang unyuk unyuk yang kemudian menjadi teman seperjalanan sampai dengan pulang. Komplit sekali.

Yang kelima adalah perjalanan diatas motor....
Sudah pasti ini yang paling tidak dianjurkan, tapi apa mau dikata. Kepala saya terkadang suka nakal dan bergerak sendiri. Beberapa kali saya hampir nyeruduk karena ke mellow an saya ini. Gitu deh pokoknya.

Seperti yang saya sertakan dalam screenshot an diatas, antara past dan future saya, itu ternyata adalah bagian besar dari present saya. Saya sedang dalam masa uji coba untuk ini. Doakan saya pemirsa!

Love,
WJ