Thursday, October 10, 2019
Is That You, My Friend?
Hari ini hati saya berduka. Sebetulnya Indonesia juga sedang berduka. Tapi Indonesia jaman now sepertinya sulit dibilang begitu.
Tadi siang, ketika saya sedang khusyuk melolot pada halaman excel report saya yang tak kunjung selesai, Mas Bojo saya tergesa-gesa masuk kamar kerja dan menunjukkan video singkat tentang upaya penyerangan yang dilakukan warga sipil kepada salah seorang Menteri yang sedang berkunjung. Pelakunya berhasil ditangkap, dan korban (yang ternyata ada 2 orang, Pak Mentri dan Pak Polsek) dilarikan ke rumah sakit.
Yang membuat saya terkejut adalah, pasangan yang ditangkap sepertinya satu agama dengan saya jika dilihat dari penampilan saja. Entahlah dari KTP nya. Mereka melakukan upaya pembunuhan ditempat terbuka, didepan anak-anak kecil. Saya sebagai seorang ibu rasanya kepingin melempar cobek beserta ulekannya kemuka pelaku tersebut. Tapi tenang, saya tidak suka anarki.
Apa yang mereka cari? Tenar? Sahid? Konyol? Uang? Entahlah... Semuanya terasa tidak masuk di akal saya. Apakah mereka tidak lagi mampu berfikir? Jika tidak mampu berfikir mengenai malaikat yang ada dipundak kanan kirinya, setidaknya berpikirlah bahwa anak-anak yang melihat aksi kalian akan merasa trauma. Tapi tidak menutup kemungkinan merrka akan mencoba hal yang sama dimasa depan karena mereka penasaran dengan aksi kalian. Atau memang itu yang disasar pembentuk kalian? Kalau melihat muka polos kalian, sepertinya tindakan itu tidak lahir dari hati kalian sendiri juga. Itu asumsi saya.
Indonesia sedang berduka. Aksi main hakim sendiri, anarki, bar-bar, mulai terjadi. Sudah sepantasnya mereka dihukum seberat-beratnya, ditelusuri sampai ke akar-akarnya, agar semua orang yang berhati dan pikiran busuk seperti itu bisa ditindak seadil-adilnya.
Saya sedih sekali. Melihat NKRI dihina dina dina orang-orang yang berhati buta. Mencabik-cabik gemah ripah loh jinawi yang kita punyai sebagai warisan leluhur dan dan pahlawan pendahulu kita. Rasanya saya kepingin menabgis. Harus bagaimana kami?
Saya sedih kembali, manakala membaca berita demi berita, tulisan demi tulisan, unggahab demi unggahan, dan obrolan demi obrolan yang berbunyi olokan. Hinaan. Doa-doa jelek. Bahkan tuduhan. Dan yang lebih sedih lagi, jika semua itu datang dari orang-orang yang saya kenal.
Temans...
Kita pernah bermain bersama... Kita semua sama yang adalah manusia. Manusia yang ingin hidup tenang, damai, aman, tenteram, dan bahagia. Mungkin jalan hidup kita tidak sama. Beban ujiam hidup kita pun berbeda takarannya. Tapi saya rasa semua itu bukan dan tidak boleh dijadikan alasan untuk kita mematikan hati nurani dan akal sehat kita. Kita harus tetap mengalahkan ego dan kebencian kita. Kita harus tetap mengedepankan hati nurani. Saya yakin kalian semua orang-orang baik. Jangan sampai hati kalian mengeras seperti batu, karena kalian pupuk kebencian dan kedengkian. Terlebih lagi, jika hati kalian mengeras karena kalian merasa lebih benar daripada yang lainnya. Jangan ya teman... Jangan...
#withlove
#jangankapokmenjadiindonesia
#darikursitungguklinikrayendra
Tuesday, October 8, 2019
Catatan Najwa bersama Maudy Ayunda | Catatan Najwa
Maudy Ayunda...
Saya mulai jatuh cinta pada remaja yang mulai dewasa ini ketika dia bermain di film Perahu Kertas. Mungkin karena saya juga jatuh cinta pada buku perahu kertas itu sendiri. Suaranya ketika menyanyikan soundtrack lagu nya pun, membuat saya jatuh cinta semakin dalam.
Waktu berlalu, saya tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia permedsosan, begitu pula perkembangan Maudy. Hanya sekedar tau bahwa dia kuliah S1 di Oxford University.
Ternyata belakangan sempat membaca berita bahwa dia diserang dilemma untuk memilih kampus guna melanjutkan kuliah di jenjang S2. Kenapa dilemma? Karena dia diterima di Standford (which is one of her dream come true) dan juga Harvard (which she always wanted to go since she was a little girl). Nah loh... Gimana bebh?
Kemudian saya berfikir...
Selain Maudy, sebetulnya ada juga artis lain yang berhasil sekolah diluar negri dengan gemilang. Tapi karena saya sudah pernah jatuh cinta dan masih memelihara cinta ini pada Maudy, saya bahas Maudy saja.
Kembali saya berfikir...
Maudy ini sekolah di Mentari International School, kemudian lanjut SMU di British International School, kemudian kuliah di Oxford University, dan lanjut di Standford University. What a dream nggak sih?
Saya mikir lagi...
Sepertinya memilih sekolah jaman now (maksudnya jaman anak kita kecil begini), memang mau tidak mau didasarkan oleh pilihan "Kita pengen anak kita nanti kemana" deh. Meskipun banyak kemudian dibungkus alasan "Saya sih nggak maksain anak saya harus kemana atau gimana. Suka-suka mereka saja" atau "Saya sih milih sekolah yang nggak mengedepankan akademik" which is totally fine banget yekaaan.
Tapi kalau saya (dan mungkin orang lain jika mau cucur sama tahu) tanya lagi kedalam diri yang paling dalam, memilih sekolah anak saya bukan hanya karena "sekarang". Atau mungkin "sekarang dan after life" nya. Tapi sepertinya saya lebih kepada "sekarang, selama hidupnya, semoga bisa membuat baik pada after life nya karena dia banyak berguna dan memberikan manfaat pada kehidupan di bumi". Aamiin. #Sekalianberdoa
Saya jadi ingat perbincangan saya dengan teman baik saya mengenai pilihan sekolah anak kala itu, yang kurang lebih nya seperti ini:
Dia : "Aku sih ngelihatnya itu teman kita Si C. Dia disekolahkan bapak ibunya di sekolah yang dekat dengan rumahnya. Tapi sekarang kita lihat dia jadi anak yang tangguh kan. Bisa kuliah di negri. Bisa berhasil dan lo tau sendiri lah gimana dia".
Saya : "Iya sih. Tapi lo kepikiran nggak. Kalau misalkan nih ya, saat itu orang tuanya mau dan mampu menyekolahkan dia di tempat yang lain, yang mungkin seperti banyak sekolah jaman sekarang itu, kemudian dia akan menjadi lebih dahsyat dari sekarang? "
Dia : "Nggak tau ya. Aku sih nggak gitu melihatnya. Aku lebih ke aliran, sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dekat dari rumah, yang kalau perlu anak itu kesekolah naik sepeda aja. Kalau dia kita ajari dengan baik, dia malah bisa menjadi yang terbaik disekolahnya, dan bisa lebih mudah masuk sekolah selanjutnya karena nilainya lebih bagus dari teman-temannya kan?"
Saya : "mmm... Iya sih. Tapi kan kompetisi sehat diantara teman sebaya juga sangat membangun mental anak ya. Kalau misalkan dia menjadi lebih pintar dari teman-temannya terus karena anggaplah teman sekolahnya memang - biasa - aja, kan beda juga dengan kalau dia -biasa aja- diantara teman-temannya yang pintar-pintar kan?"
Dan melihat Maudy (dan teman-teman lainnya yang senasib), membuat saya menguatkan niat dan memperbanyak doa. Bukan karena saya ambisius dengan prestasi anak saya, tapi justru sebaliknya. Karena saya tidak berambisi meskipun penuh mimpi untuk masa depan anak saya. Ahahaha. Jadi, saya tidak berambisi agar anak saya menjadi pintar sekali atau paling pintar atau paling berprestasi (meskipun itu ada di doa saya setiap waktu), terus kemudian mendaftarkan dia ke sekian banyak les tambahan. Tidak Bambang!
Namun saya tetap ingin anak saya bisa melihat peluang, kesempatan, dan masa depan yang terbentang seluas samudra di luar sana. Caranya? Ya saya biarkan dia sekolah disekolah yang (katanya) banyak orang pinternya, agar dia terpacu. Saya kenalkan dan perlihatkan hal-hal positif dan luar biasa yang ditawarkan dunia beserta isinya di luar sana. Saya ajarkan betapa indahnya jika kita bisa memberikan setitik manfaat pada dunia yang mulai renta ini. Serta pastinya saya hembuskan harapan-harapan itu dalam setiap doa agar Allah SWT memeluknya, dan mengabulkannya pada saat Dia rasa paling tepat. Semoga saja semua itu menempel 5 cm didepan jidat anak saya juga. Aamiin.
Tapi ya kembali lagi, orang tua tetap numero uno untuk mengajarkan anaknya cara hidup yang baik.... Bismillah :-)
Jadi, kembali pada kita sebagai orang tua, yang bisa melihat setidaknya setengah meter lebih tinggi daripada anak kita, dan ribuan kali lebih luas daripada anak kita lah yang musti melihat arah... :-)
Saya mulai jatuh cinta pada remaja yang mulai dewasa ini ketika dia bermain di film Perahu Kertas. Mungkin karena saya juga jatuh cinta pada buku perahu kertas itu sendiri. Suaranya ketika menyanyikan soundtrack lagu nya pun, membuat saya jatuh cinta semakin dalam.
Waktu berlalu, saya tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia permedsosan, begitu pula perkembangan Maudy. Hanya sekedar tau bahwa dia kuliah S1 di Oxford University.
Ternyata belakangan sempat membaca berita bahwa dia diserang dilemma untuk memilih kampus guna melanjutkan kuliah di jenjang S2. Kenapa dilemma? Karena dia diterima di Standford (which is one of her dream come true) dan juga Harvard (which she always wanted to go since she was a little girl). Nah loh... Gimana bebh?
Kemudian saya berfikir...
Selain Maudy, sebetulnya ada juga artis lain yang berhasil sekolah diluar negri dengan gemilang. Tapi karena saya sudah pernah jatuh cinta dan masih memelihara cinta ini pada Maudy, saya bahas Maudy saja.
Kembali saya berfikir...
Maudy ini sekolah di Mentari International School, kemudian lanjut SMU di British International School, kemudian kuliah di Oxford University, dan lanjut di Standford University. What a dream nggak sih?
Saya mikir lagi...
Sepertinya memilih sekolah jaman now (maksudnya jaman anak kita kecil begini), memang mau tidak mau didasarkan oleh pilihan "Kita pengen anak kita nanti kemana" deh. Meskipun banyak kemudian dibungkus alasan "Saya sih nggak maksain anak saya harus kemana atau gimana. Suka-suka mereka saja" atau "Saya sih milih sekolah yang nggak mengedepankan akademik" which is totally fine banget yekaaan.
Tapi kalau saya (dan mungkin orang lain jika mau cucur sama tahu) tanya lagi kedalam diri yang paling dalam, memilih sekolah anak saya bukan hanya karena "sekarang". Atau mungkin "sekarang dan after life" nya. Tapi sepertinya saya lebih kepada "sekarang, selama hidupnya, semoga bisa membuat baik pada after life nya karena dia banyak berguna dan memberikan manfaat pada kehidupan di bumi". Aamiin. #Sekalianberdoa
Saya jadi ingat perbincangan saya dengan teman baik saya mengenai pilihan sekolah anak kala itu, yang kurang lebih nya seperti ini:
Dia : "Aku sih ngelihatnya itu teman kita Si C. Dia disekolahkan bapak ibunya di sekolah yang dekat dengan rumahnya. Tapi sekarang kita lihat dia jadi anak yang tangguh kan. Bisa kuliah di negri. Bisa berhasil dan lo tau sendiri lah gimana dia".
Saya : "Iya sih. Tapi lo kepikiran nggak. Kalau misalkan nih ya, saat itu orang tuanya mau dan mampu menyekolahkan dia di tempat yang lain, yang mungkin seperti banyak sekolah jaman sekarang itu, kemudian dia akan menjadi lebih dahsyat dari sekarang? "
Dia : "Nggak tau ya. Aku sih nggak gitu melihatnya. Aku lebih ke aliran, sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dekat dari rumah, yang kalau perlu anak itu kesekolah naik sepeda aja. Kalau dia kita ajari dengan baik, dia malah bisa menjadi yang terbaik disekolahnya, dan bisa lebih mudah masuk sekolah selanjutnya karena nilainya lebih bagus dari teman-temannya kan?"
Saya : "mmm... Iya sih. Tapi kan kompetisi sehat diantara teman sebaya juga sangat membangun mental anak ya. Kalau misalkan dia menjadi lebih pintar dari teman-temannya terus karena anggaplah teman sekolahnya memang - biasa - aja, kan beda juga dengan kalau dia -biasa aja- diantara teman-temannya yang pintar-pintar kan?"
Dan melihat Maudy (dan teman-teman lainnya yang senasib), membuat saya menguatkan niat dan memperbanyak doa. Bukan karena saya ambisius dengan prestasi anak saya, tapi justru sebaliknya. Karena saya tidak berambisi meskipun penuh mimpi untuk masa depan anak saya. Ahahaha. Jadi, saya tidak berambisi agar anak saya menjadi pintar sekali atau paling pintar atau paling berprestasi (meskipun itu ada di doa saya setiap waktu), terus kemudian mendaftarkan dia ke sekian banyak les tambahan. Tidak Bambang!
Namun saya tetap ingin anak saya bisa melihat peluang, kesempatan, dan masa depan yang terbentang seluas samudra di luar sana. Caranya? Ya saya biarkan dia sekolah disekolah yang (katanya) banyak orang pinternya, agar dia terpacu. Saya kenalkan dan perlihatkan hal-hal positif dan luar biasa yang ditawarkan dunia beserta isinya di luar sana. Saya ajarkan betapa indahnya jika kita bisa memberikan setitik manfaat pada dunia yang mulai renta ini. Serta pastinya saya hembuskan harapan-harapan itu dalam setiap doa agar Allah SWT memeluknya, dan mengabulkannya pada saat Dia rasa paling tepat. Semoga saja semua itu menempel 5 cm didepan jidat anak saya juga. Aamiin.
Tapi ya kembali lagi, orang tua tetap numero uno untuk mengajarkan anaknya cara hidup yang baik.... Bismillah :-)
Jadi, kembali pada kita sebagai orang tua, yang bisa melihat setidaknya setengah meter lebih tinggi daripada anak kita, dan ribuan kali lebih luas daripada anak kita lah yang musti melihat arah... :-)
Monday, October 7, 2019
Is the Half Days Off work?
Jawabannya adalah, Yess, it's work.
Gimana indikatornya? ok, begini ceritanya.
Bulan Ini, Mbak K masuk pagi lagi. Jadi Emak tidak tega kalau dia harus berangkat dengan jemputan, which likely bakalan dijemput jam 5.30 pagi gitu. Akhirnya diputuskan bersama ayahnya bahwa jika masuk pagi, selagi kita masih bisa antar, kita antar saja. Pulangnya baru naik jemputa. Sip, deal, paten.
Pagi ini, Hari Senin. Kelas Mbak K kebagian jadi petugas upacara. Jadi murid-muridnya diminta datang lebih pagi. Dan kamipun tiba sekitar 5 menit lebih pagi dari biasanya (iya, biasanya mepet banget sama bel masuk hahahaa). Mbak K bergabung masuk ke hall bersama teman-temannya, dan emak meluncur cantik ke Lapangan Sempur.
Niatnya mau menambah 1 putaran dari terakhir minggu kemarin, tapi karena pagi kurang minum dan tidak membawa minum, jadi disamakan dulu saja dengan minggu kemarin. Lumayan berkeringat.
Meluncur pulang, kemudian memasak air untuk mandi. Membayangkan berendam air hangat koq jadi bersemangat disepanjang jalan. Sambil menunggu air masak, setel musik, buka email pribadi, kerjakan pekerjaan pribadi. Pas lihat jam, Eh baru Jam 8 pagi ternyata. WoW banget deh...
Ngobrol sebentar dengan tetangga yang sedang jemur bayinya, haha hihi, masuk lagi.
Is it really Monday?
Sepertinya Minggu ini akan menjadi Minggu yang bersemangadh. Bring it on!
#Sekian
#Receh
#Daysoffwork
#JadiSemangadhLagi
Gimana indikatornya? ok, begini ceritanya.
Bulan Ini, Mbak K masuk pagi lagi. Jadi Emak tidak tega kalau dia harus berangkat dengan jemputan, which likely bakalan dijemput jam 5.30 pagi gitu. Akhirnya diputuskan bersama ayahnya bahwa jika masuk pagi, selagi kita masih bisa antar, kita antar saja. Pulangnya baru naik jemputa. Sip, deal, paten.
Pagi ini, Hari Senin. Kelas Mbak K kebagian jadi petugas upacara. Jadi murid-muridnya diminta datang lebih pagi. Dan kamipun tiba sekitar 5 menit lebih pagi dari biasanya (iya, biasanya mepet banget sama bel masuk hahahaa). Mbak K bergabung masuk ke hall bersama teman-temannya, dan emak meluncur cantik ke Lapangan Sempur.
Niatnya mau menambah 1 putaran dari terakhir minggu kemarin, tapi karena pagi kurang minum dan tidak membawa minum, jadi disamakan dulu saja dengan minggu kemarin. Lumayan berkeringat.
Meluncur pulang, kemudian memasak air untuk mandi. Membayangkan berendam air hangat koq jadi bersemangat disepanjang jalan. Sambil menunggu air masak, setel musik, buka email pribadi, kerjakan pekerjaan pribadi. Pas lihat jam, Eh baru Jam 8 pagi ternyata. WoW banget deh...
Ngobrol sebentar dengan tetangga yang sedang jemur bayinya, haha hihi, masuk lagi.
Is it really Monday?
Sepertinya Minggu ini akan menjadi Minggu yang bersemangadh. Bring it on!
#Sekian
#Receh
#Daysoffwork
#JadiSemangadhLagi
Friday, September 27, 2019
When Friday Feels Not Yay
I usually feels a Friyay, every Friday... Just not today...
Kenapa ya...
Ya kalau ditanya kenapa, aku sendiri juga tidak paham.
Mungkin karena Om Obin mati tadi malam? Bisa jadi.
Oh D**n!
Jangan lagi lah nonton drama yang berakhir mati di Malam Jumat. Bikin Friday not a FriYay saja.
Tapi tenang. Setelah Om Obin mati tadi malam, aplikasinya juga langsung RIP sih. Uninstalled.
Why?
Karena aku ingin menyambut weekend ini, dan weekday minggu depan tanpa aplikasi penyedot perhatian itu. Let's make a list on what I want to do for my "Pre-Sabbatical Moment" minggu depan:
1. Antar sekolah K karena doi masuk pagi.
2. Jogging santai di Lapangan Sempur lanjut ngadem dulu di bawah pepohonan maybe?
3. Pulang
4. Kerjakan proyek refreshing jari dan otak (pilih dulu mau yang mana)
5. Kerja 2 jam
6. Makan Siang
7. Kerja 2 jam
8. Lanjut refreshing otak dan jari?
9. Bercocok Tanam
10. Evaluasi & Buat list untuk besok.
12. Kindle Time?
Let see how it goes for the first day.... hahahahaa
Ok. Freewriting stop here. No more idea. End. Bye.
Kenapa ya...
Ya kalau ditanya kenapa, aku sendiri juga tidak paham.
Mungkin karena Om Obin mati tadi malam? Bisa jadi.
Oh D**n!
Jangan lagi lah nonton drama yang berakhir mati di Malam Jumat. Bikin Friday not a FriYay saja.
Tapi tenang. Setelah Om Obin mati tadi malam, aplikasinya juga langsung RIP sih. Uninstalled.
Why?
Karena aku ingin menyambut weekend ini, dan weekday minggu depan tanpa aplikasi penyedot perhatian itu. Let's make a list on what I want to do for my "Pre-Sabbatical Moment" minggu depan:
1. Antar sekolah K karena doi masuk pagi.
2. Jogging santai di Lapangan Sempur lanjut ngadem dulu di bawah pepohonan maybe?
3. Pulang
4. Kerjakan proyek refreshing jari dan otak (pilih dulu mau yang mana)
5. Kerja 2 jam
6. Makan Siang
7. Kerja 2 jam
8. Lanjut refreshing otak dan jari?
9. Bercocok Tanam
10. Evaluasi & Buat list untuk besok.
12. Kindle Time?
Let see how it goes for the first day.... hahahahaa
Ok. Freewriting stop here. No more idea. End. Bye.
Tuesday, September 17, 2019
Bermesraan Dengan Sang Malam
Malam...
Adalah waktu idola
Adalah waktu yang ditunggu
Adalah waktu yang menunggu
Pada malam...
Aku menitipkan doaku...
Aku menitipkan mimpiku...
Aku menitipkan harapan-harapanku...
Hanya malam...
Yang mampu menelan dalam diam...
Yang mampu mendengar dalam kelam...
Yang mampu menjawab dalam bisu...
Yang mampu menenangkan dalam kegelapan...
Ketika malam...
Kukisahkan bagaimana detik berlalu menyambutnya...
Kunyanyikan dongeng tentang anak gembala yang hilang arah...
Kudendangkan bisikan angin yang membuaiku pada gemerlap dunia...
Ketika malam semakin dalam memeluk duniaku...
Mataku perlahan mulai bergelayut menutup...
Ketika malam mendekap semua doa dan harapanku...
Pikiranku mulai melayang kedalam kabut...
Jika masih ada diantara kalian yang tersesat sebelum bertemu malam,
Pulanglah...
Tunggulah cengkeraman malam membalut tubuhmu...
Mengunci semua pemberontakan dalam dirimu...
Meniupkan aroma ketenangan dan perdamaian dalam batinmu...
Berdamailah dengan malam...
Berdamailah dengan dirimu...
Hingga esok hari, kan kau dapati surat cinta indah dari sang malam menggelantung mesra dijendela kamarmu...
Surat cinta yang berjudul "Mentari Bersinar Menunggumu Menyambut Pagi"
#untukjiwayangsedanglelah
#istirahatlahistirahatlahistirahatlah
#sleeponitandwe'lltalkmoretomorrow
#love
Saturday, August 31, 2019
Lazy Saturday
Sabtu bersama bunda...
Sabtu pagi...
Sepertinya hari ini saya produktif sekali...
Latihan volley di pagi hari...
Pekerjaan rumah selesai...
Mbak K terurus kebutuhan dasarnya...
Dan cucian sudah berjajar menunggu ciuman mentari...
Ngopi sendiri sudah terlewati....
Ngapain lagi?
Cari inspirasi dulu deh
Leyeh-leyeh dulu sambil menikmati semilir angin dan cahaya matahari yang jatuh disela-sela dedaunan...
#selamatharisabtu
#enjoytheweekend
#longweekend
Friday, August 30, 2019
Sebuah Pagi Bagi Yang Berharap
Pagi...
Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, saat itu pulalah semua harapan baru menyeruak menyibak kabut.
Ribuan tangan membuka pintu
Ribuan kaki melangkahkan kaki mereka untuk hari baru
Ribuan doa terpanjat untuk hari yang lebih baik dari kemarin
Ribuan harapan untuk hari yang lebih baik esok dan esoknya lagi
Pagi hari bersama para pelari...
Di lapangan yang legendary ini
Setiap pagi puluhan bahkan ratusan orang berlari
Ada yang berlari karena hobby,
Ada yang berlari karena mereka ingin berkeringat,
Ada yang berlari karena mereka ingin beraktifitas bersama dengan yang terkasih
Ada yang berlari karena mereka berharap bisa bertemu dengan yang terpilih
Ada yang berlari karena mereka ingin mengaburkan apa yang ada dibalik lari
Ada yang berlari karena mereka ingin mengisi hari
Ada yang berlari karena mereka ingin mengabadikan momen lari sehari
Ada yang berlari karena dengan berlari mereka tidak merasa sepi
Saya?
Berlari karena hari masih terlalu pagi
Berlari karena belum ada yang buka kedai kopi
Berlari karena ingin mengimbangi isi kepala yang berjalan cepat
Berlari karena dengan berlari saya bisa mengurai perlahan benang yang kusut
Berlari karena ada hal yang hanya bisa diingat ketika saya lari
Berlari karena ingin kembali mencatat hal-hal yang saya lupa ketika berjalan lambat
Di lapangan yang legendary ini...
Saya melihat kakek-kakek atau nenek-nenek yang berjalan perlahan menapakkan langkahnya satu demi satu...
Saya melihat bapak-bapak yang berjalan berkelompok, berjalan sambil tertawa terbahak-bahak
Saya melihat bapak-bapak yang berlari sendiri, sesekali melirik kekanan dan kekiri
Saya melihat ibu-ibu berjalan berjajar, memenuhi jalan sambil diskusi
Saya melihat ibu-ibu berjalan sendiri, dengan baju seksi sekali, dan handphone ditangan kiri
Saya melihat bapak dan ibu berjalan, sesekali bergandengan, dengan berbagai macam ekspresi
Saya melihat anak muda laki-laki dan perempuan berlari cepat, oh sepertinya mereka pelari
Saya melihat anak muda laki-laki dan perempuan berjalan santai, sibuk selfie
Saya melihat remaja perempuan, berpakaian seksi seksi
Saya melihat yang seksi, lebih sering berjalan sesekali lari
Saya melihat ibu-ibu dengan pakaian jogging rapi, berlari melawan arah kami... Hanya dia sendiri yang tahu pasti
Lihatlah...
Banyak sekali yang saya lihat setiap pagi dilapangan yang legendary ini
Bulan Agustus ini, saya cukup banyak berlari
Kita lihat bulan depan, apakah hal baik ini masih bisa terjadi
#lapangansempur
#joggingpagi
#pemandanganpagidilapangansempur
#seehearsmellandlearn
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
The second thing, is song about change... This is art Quotes, poem, paint, and then song (dance sometimes) This song is good We can see on t...
-
You have your own responsibility to be happy, to make your life happy, to make your body happy, to make your days happy, and to make you...
-
Tahun ini, K naik ke kelas 6. Mungkin terdengar klise ya. Biasanya diikuti dengan kalimat lanjutan seperti, "Rasanya baru kemarin sekol...



