Thursday, December 1, 2016

Dunia Memang Aneh

Iya, menurutku sih memang apa saja bisa terjadi di Dunia ini.

Ada yang bener, dibikin nggak bener...
Ada yang nggak bener, dibikin bener...
Ada yang salah jadi bener eh yang bener jadi salah...

Misalkan,
Ada orang mau kerja bener,
Koq malah dibilang naif
Ada orang yang mau kerja bener,
Koq malah disuruh nyari obyekan...

Namanya juga Dunia...
Panggung sandiwara...

#udahituaja
#nggakpenting


Monday, November 28, 2016

Belanja = Supermarket

#Daughtertalk
#Aboutcard
#Lessonlearned

Jadi ceritanya kemarin itu aku dan K diperjalanan menuju MTH Squre untuk menghadiri acara pernikahan Irene (temen yang kerja di KBRI Paris) yang banyak sekali membantu aku dan Salmul sewaktu kami ke Paris. Dia menikah dengan Salomo, IPB Kehutanan gitu, temennya temen2ku itulah (iya, kalian...) :-p

Pas sudah mau sampai, tetiba K bilang (dengan bahasa dia yang campur aduk aduhai):
K: Bunda, boleh pinjam ini? (dia menunjuk card holder bunga-bunga yang ada didompetku)
A: Boleh... Buat apa?"
K: Buat pegang aja...
A: Yaa boleeehh....
K: Apa ini?
A: Card... Kartu
K: Buat apaan?
A: Macam-macam. Ada yang buat belanja, buat bayar-bayar..."
K: Ooo... Belanja...
A: Emang K tau belanja itu apa?
K: Tauu... Supermarket!!!

Aku dan teman yang menyupir tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata K yang mantab tanpa ragu.

A: Oh iya ya... Kalau belanja kan ke supermarket ya. Belanja apaan?

Dia mulai mengangkat tangannya dan menghitung sambil berkata:

K: Brokoliii... Teloorrr...mmmm

Aku melanjutkan tertawaku... Hahahhaa. Good Job K!



Tuesday, November 15, 2016

Mandi Muntahan di Tempat Umum?

Mandi muntahan di tempat umum? iiiyyyuuuhhh.... Iya, saya pernah...

Tapi bukan masalah mandi muntahannya yang membuat saya gemesh dan pengen ngulek sambel saat itu juga. Tapi melihat sejarah sebelum acara mandi muntahan itu terjadi. Hahahaha #lebay

Jadi, begini ceritanya...

Kemarin itu  ada sepupu K yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta ke Bogor selama 2 hari. Di hari terakhir, kami ajak mereka jalan-jalan ke sebuah nursery di Bogor. Pulangnya, kami turun di pintu tol jagorawi dan berjalan ke sebuah restoran cepat saji dekat-dekat situ. Tujuannya adalah mau menyuapi K dengan ayam goreng dan nasi hangat, karena biasanya anak-anak kan suka banget makan itu. Apalagi sambil main di playground nya.

Dan, long short story, K pun main sambil makan. Sekali suap main sekali suap main lagi. Lahap sekali, dan akupun bahagiaaaa....

Sampai pada saatnya datang dua ibu muda berkerudung membaca 2 anak mereka. Kedua anak itu (laki-laki dan perempuan) ikut bergabung dengan K di playground. Daaan... terjadilah yang terjadi. Si anak perempuan menjambak K. ea...ea...ea...

K yang memang pada dasarnya sensitif, dan masih kurang bisa mempertahankan diri (lebih memilih untuk menangis keras) akhirnya memulai dramanya. Dia menangis keras sambil menunjukkan kekesalannya sama si anak perempuan itu. Ibunya? ehm... lempeng aja tuh... hahahhaa #apa yang bisa saya harapkan btw? :-p

Akhirnya aku ajak K duduk, mencoba menenangkan. Tapi apa daya, K yang seperti aku bilang tadi, belum terlalu baik dalam mengendalikan rasa kesalnya menangis semakin keras. Dan menyemburlah semua makanan dan minuman yang baru saja saya masukkan dengan penuh harap. Semburan pertama, semburan kedua, semburan ketiga, sampai tak ada lagi yang keluar dari mulutnya...

Aku? Ya sudahlah ya... Pasrah aja sambil senyam-senyum sama mas bojo, yang hanya bisa menatap haru (plus tatapan iiyyuuuhhhh juga sih).

Karena kondisiku yang basah kuyup karena muntahan sangat parah, setelah mas bojo selesai mengganti baju K, dia menyeberang jalan ke Bo***i Square beli baju untuk istrinya.

K duduk denganku sambil menunggu mas cleaning service nya. Aku pun memperhatikan ada satu anak lagi yang datang ke playground dan berusaha menaiki tangga. Apa yang terjadi? Si anak perempuan itu menendang anak yang baru naik ke tangga donk. Oh my god. Dan si ibu ya lempeng aja lagi... ck...ck...ck....

Setelah mas cleaning service nya datang, aku pun sibuk bersih-bersih dengan mas cleaning service nya. Kasian nambah-nambahin kerjaan mas nya aja. K kembali main, tapi hanya di pinggiran sambil memainkan Rabbit hadiah dari restoran itu.

Drama kedua kembali terjadi. Masih dengan anak yang sama pula. Anak itu menarik tangan K, dan K pun menangis lagi. Emak yang sudah basah kuyup ini hampir emosi sebetulnya.... Hampir terjadi amukan typhooon... hahahaha. Akhirnya aku cuma bisa bilang "K, nggak usah nangis. Dia kan anak kecil nggak tau kalau nggak boleh narik orang". K terus menangis dan aku harus terus2an bilang "nggak papa... sama anak kecil harus maklum K. Dia nggak tau kalau menarik orang itu bikin sakit".

Setelah beberapa kali aku bilang (dengan suara lebih keras) baru si ibunya bilang "maaf ya adeknya nakal...."   hhmmmm....

Akhirnya mas bojo datang dengan celana panjang dan kaos baru... I love you full mas bojo... Apalah aku tanpamu... butiran debu... uwoooo uwoooo :-p

Akupun berganti baju di toilet. Sekembali dari toilet, mas bojo bilang kalau tadi si anak perempuan (ehm) itu mencakar muka anak perempuan yang tadi ditendangnya sampai nangis. Kata mas bojo si ibunya cuma bilang "maaf ya pak" gitu doank... Oh my God!!!

Maaf lah yess kalau aku sedikit sensi jadinya... Hahaha. Nggak ada hubungan sih antara baju dengan tingkah polah anak. Tapi menurutku sih biasanya kan orang-orang2 ilmu agamanya lebih bagus, ilmu mendidik anaknya juga bagus kan (kayaknya aku kebanyakan ikut grup aneh, jadi pola pikir mulai ikutan aneh. Soalnya di grup2 aneh itu kebanyakan ibu2nya ilmu agamanya bagus, dan mereka selalu sharing ilmu mendidik anak dengan bagus...bla....bla....bla...). aahahahahhahaa.

Menurutku yang awam ini, harusnya si anak donk yang di suruh minta maaf dan kasih tau kalau itu salah. Jangan orang tuanya. Kalau orang tuanya kan yang ada anak merasa dilindungi terus sama orang tuanya. Nggak akan belajar dia. hahahaha #sayasudahiemosinyadisinisaja

#postingannggakpenting
#daripadajadibisul
#dibuangsayang
#belajarlagidanlagi


Belajar dari Anak

Salah satu kegiatan favorit ku adalah saat diperjalanan menuju sekolah K. Diawal-awal K sekolah, aku harus berjuang keras bernyanyi sepanjang jalan, agar perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit itu tidak membosankan. Biasanya aku akan menyanyikan lagu-lagu anak, sesekali memancing agar dia ikut menyanyi.

Bulan lalu, ketika mas bojo sedang di luar kota sekitar 2 mingguan, aku menyupiri sendiri motor, dengan K ditengah dan teteh Mun dibelakang. Selama 2 minggu itu, K banyak bernyanyi dan bercanda dengan teteh, karena aku harus menyupir motor. Aku bahagia. Karena rupanya kegiatan menyanyi dan bercanda yang biasa kami lakukan berhasil. Setidaknya begitu aku menilainya.

Ketika akhirnya mas bojo pulang, rutinitas kembali seperti biasa. Hanya saja aku mulai mengganti cara, meminta K untuk mengajariku lagu-lagu baru yang dia dapat di sekolah. Kadang aku berhasil memancing dia menyanyi lagu baru, tapi kadang tidak. Aku ingin tahu apakah K bisa menirukan kembali lagu-lagu yang diajarkan gurunya, dan aku juga ingin bisa menyanyi bersamanya di jalan dan dirumah. Jadi kalaupun dia tidak mau menyanyi untukku, tidak masalah.

Beberapa lagu yang aku pelajari dari K contohnya:

1. 7 the days in the week (aku sudah bisa menyanyi bersama sekarang)
2. Month in the year (aku belum bisa hafal lirik dan nadanya, jadi masih sulit untuk menyanyi bersama)
3. What day is today my friend (aku nggak tahu judulnya apa, tapi nada dan liric nya ngikutin K aja)
4. Beberapa lagu hanya tahu reff dan goyangannya... hahaha
5. Kemarin dia nyanyi lagu sampai komplit, aku ikut nyanyi, tapi hari ini lupa kemarin itu lagu apa... hhahahhahaa
6. Hari ini dia menyanyi lagu baru. Karena masih baru, aku masih ingat lagunya (terakhir nanti aku koreksi lagunya berdasarkan youtube)

Lirik yang aku tangkap ketika K menyanyi:

When the baby up,
When the baby up,
Pull... Pull...  (setiap aku nyanyi pull... pull... K pasti ngakak keras di motor :-p  )
Clap clap clap

One to the ceiling
One to the floor
One to the window
One to the door

Begitu terus di ulang, dan akhirnya kita nyanyi ini sepanjang jalan menuju sekolah. It was fun!!! ^_^

Dan setelah pulang ke rumah, untung aku langsung ingat dan berniat menulis di Blog. Langsung aku cari lagu itu di youtube, dan aku tertawa ngakak sendiri karena beberapa kata aku salah tangkap.
Ini adalah liric yang betul menurut youtube :

Wind your bobbin up (x2) 
Pull, pull, clap, clap, clap 
Wind your bobbin up (x2) 
Pull, pull, clap, clap, clap 
Point to the ceiling, point to the floor 
Point to the window, point to the door 
Clap your hands together, one two three 
Put your hands upon your knee 

Wind it back again (x2) 
Pull, pull, clap, clap, clap 
Wind it back again (x2) 
Pull, pull, clap, clap, clap 
Point to the ceiling, point to the floor 
Point to the window, point to the door 
Clap your hands together, one two three 
Put your hands upon your knee

Can't wait lagu apa yang K ajarin besok dan besok-besoknya lagi.

Ada juga gerakan yang K sangat senang sekali mengulang di rumah, dan tak lupa menarik emaknya untuk ikut serta. Gerakannya dilakukan sambil berteriak :

Clap (sambil bertepuk tangan)
Step (sambil menghentakkan kaki ke lantai)
Horray (sambil berteriak horray keras-keras)

Oh iya, mumpung lagi mengingat apa yang K dapat dari sekolah, sekalian deh aku tulis juga salah satu hal yang membuat aku dan ayahnya K tertawa terbahak-bahak. Adalah gaya K menirukan gurunya ketika mengajar di sekolah. Sumpah, itu langsung membuat aku sakit perut dan membayangkan miss Ellin ngajar di kelas.

Jadi suatu petang, kami sedang duduk-duduk diruang keluarga. Tetiba K bermain dengan kartu warna pink nya. Dia ambil 1 kartu sambil berteriak padaku (waktu itu aku nangkep nya dia ngomong gini)
"What is this?" --> Sambil menunjukkan gambar dress, jadi aku jawab "Dress"
Dia tiba-tiba teriak "L@#$%, DRESS" ---> Aku ikut teriak "DRESS"
Setelah itu dia berbisik "Now @#$%%^^, Dress " --> Aku ikut berbisik "Dress"

Setelah itu aku baru sadar bahwa L@#$%  yang pertama adalah dia bilang "Loudly",
dan @#$%%^^ yang kedua dia bilang "now, slowly"

Intinya, dia menunjukkan/memperagakan bagaimana gurunya di sekolah ketika belajar mengenali gambar di sekolah. Ayahnya K sempat merekam adegan ini, mudah-mudahan kapan2 aku bisa sertakan disini. Malam yang seru! :-)


#Daughter'stalk
#StoryofK

Monday, October 31, 2016

Keluarga Impian (ku)

Tidak muluk sebetulnya (menurutku).
Yang biasa-biasa saja tak mengapa.
Tidak kesusahan, tidak menderita.
Bisa berbahagia. Syukur-syukur bisa membahagiakan orang lain.

Seperti sekarang, hanya mungkin dengan kondisi yang sedikit berbeda.
Kenapa harus berbeda?
Tidak harus. Hanya saja bisa berbeda.
Karena tak selamanya keadaan akan sama.
Dan kalau sama terus, bukankah artinya kita tidak berkembang?
Begitu kata mereka sih

Tuhan,

Semua sudah selalu aku bisikkan kepadaMu
Aku hembuskan mimpi dan harapanku kepadaMu
Peluklah mereka, hingga saatnya Engkau merasa tepat waktunya.
Aamiin.

#MeTime
#Reflection
#LessonLearned


Friday, September 30, 2016

Ketika Musim Gugur Tiba Lebih Awal di Hidupku

#Fiction
#Latihanmenulis
#Learningeverything




Masih terasa hangat mentari menyapu kulit, dibarengi dengan semilir angin yang tajam menusuk tulangku. Aku diam, terpekur. Hangatnya sinar mentari diakhir musim panas ini, tak mampu menghangatkan hatiku yang kian kelu. Pun semilir angin menyambut datangnya musim dingin ini, tak mampu mendinginkan kepalaku yang terus-menerus bergejolak liar. Aku, termangu. 

Selintas berlalu senyum dan tawamu dalam benakku, namun secepat kilat bayangan itu pergi meninggalkan nyeri didada ini. Harapan akan kehidupan indah penuh cinta yang dulu tumbuh subur dalam hati ini, telah menguar bersama dengan angin yang menerbangkan dedaunan dijalanan. 

Bagaimana mungkin cinta yang tak terukur itu, lenyap begitu saja hanya karena selembar foto? Entahlah. Aku tak memiliki jawaban untuk pertanyaanku sendiri, dan akupun tak tahu kemana harus mencari jawaban itu. Aku tak tahu. 

Sebuah tonjokan keras dari dalam ulu hatiku mendadak membuatku sesak nafas dan memaksaku menarik nafas panjang. Ingatanku melayang pada sore itu, sore dimana semua ketidakjelasan yang selama ini kurasakan menjadi nyata, dimana semua keganjilan yang kuraba berubah menjadi kenyataan pahit. Ketika entah kenapa, sore itu muncul keisenganku untuk mengetikkan namamu dilaman pencarian. Rupanya aku tidak menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan buruk pada hasil keisenganku. Ketika kutemukan seraut wajahmu dengan senyum sumringah, memegang setangkai mawar merah, disebuah ruangan yang aku tidak kenali. Senyumanmu sungguh sangat indah. Senyuman yang selama ini selalu membuat aku rindu untuk pulang kerumah. Senyuman yang selalu mampu membuatku melintasi benua hanya untuk mendapatinya, untukku. 

Namun rasa sakit menyeruak begitu saja, manakala aku membaca sebaris kalimat yang engkau tuliskan dibawahnya... 
"Hanya kamu yang selalu mengerti aku... " 

Kau sebutkan sebuah nama yang bukan namaku. Melainkan nama orang yang selama ini sempat membuatku cemburu, cemburu karena dia cukup dekat denganmu. 

Melihat senyumanmu, bunga wamar merah itu, kamar itu, selimut kusutmu, dan nama yang kau sebutkan, membuat pikiran dan emosiku bercampur menjadi murka. Marah luar biasa. Kelebat skenario buruk dari yang terburuk bergantian lewat didepan mataku. Apa yang kalian lakukan? Apa yang terjadi dikamar itu? Kenapa dia memberimu mawar merah? Kenapa kamu menyebut namanya dan bukan namaku? Siapa yang mengambil foto itu? Dan kenapa kamu terlihat sangat sangat bahagia? 

Kemarahan yang tak terukur itu, membuatku mencarimu yang sedang sibuk di dapur kita. Aku mencengkeram pinggiran meja, melihatmu tanpa berkata-kata. Hingga tak berapa lama kamu menyadari kehadiranku dan tersenyum. Tapi senyum yang berbeda dari senyum yang membuatku begitu marah. 

"Hi sayang, sudah selesai kerjanya? Mau makan apa?"

Aku tak kuasa membuka mulut. Mendengar suara riangmu, sedikit mengembalikan mimpi-mimpi masa depan yang ingin kita bangun bersama, yang selalu kita bicarakan sebelum tidur. Namun itu tak berlangsung lama. 

"Seberapa jauh hubunganmu dengan Dia?" tanyaku dengan tatapan dingin sedingin es dipuncak pegunungan Alpin sana. 

Sendok sayur yang ada ditangan kananmu mendadak terlepas dibarengi dengan hilangnya senyum dan berganti dengan muka panikmu. Matamu mulai menampakkan takut, dan gelisah. 

"Aku nggak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman."
"Teman macam apa yang memberikan mawar merah pagi-pagi disebuah kamar hotel dengan selimut berantakan?"

Kamu terdiam, seolah menyadari bahwa aku telah mengetahui semuanya, dan tak ada gunanya mengelak lagi. 

"Itu semua karena kamu nggak cukup peduli sama aku. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu, dan tak lagi peduli pada perasaanku, kesepianku. "

"Jadi kamu selingkuh sama dia, dan menyalahkan aku?"

Aku tak lagi mampu mengingat rentetan kalimat panjang disertai dengan isak tangis dan teriakanmu yang beruntun, yang semuanya adalah menyalahkan aku. Kepalaku pusing, telingaku berdenging. Aku hanya ingat saat aku berkata bahwa aku akan pergi meninggalkan rumah untuk menenangkan diri, dan ketika aku berbalik menuju pintu, kamu memegangi kakiku. Sambil terisak dan terus mengatakan agar aku tetap tinggal. 

Aku tak pula ingat berapa lama kamu memeluk kakiku, menahan badanku agar tak beranjak dari tempatku berdiri, sambil terus memohon. Aku tak peduli. Saat itu, yang ada dikepala dan pikiranku adalah aku merasa terluka, kecewa, dan aku marah. 

Berjam-jam kemudian, ketika kurasa peganganmu mengendor, kukibaskan kakiku begitu saja hingga terlepas darimu, dan aku pergi. Tanpa menengok lagi kebelakang. Hanya isak tangismu yang mampu kudengar, hingga pintu menutup memisahkan kita, sampai saat ini. 

Aku termangu dalam pilu...

Semua usahaku menenggelamkan diri dengan pekerjaan untuk mewujudkan cita-cita kita, menjadi bumerang dalam kehidupan kita. Kamu menganggapku mengabaikanmu. Tak pernah sedikitpun aku memikirkan hal itu. Bodoh. Bodoh sekali aku. Bodoh sekali aku, hingga membiarkanmu merasakan kesepian itu. Terkutuk. Terkutuk sekali perbuatanmu padaku. Tega sekali kamu.

Aku hancur.

Aku hanya bisa duduk diam, sendiri, menatap nanar pada dedaunan yang mulai jatuh ke jalanan. Musim gugur datang lebih cepat dihidupku kali ini...

***
- WJ



Tuesday, August 16, 2016

Aku Mau Nitip Apa?

#Daughter'stalk

K : "Ayah mau kemana pakai jaket?"
Ayah : "Mau kerja dulu"
K : "Aku boleh ikut enggak?"
A : "Enggak..."
K : "Kenapa enggak boleh?"
A : "Ayah naik motor, nanti hujan..."
K : "Ayah, aku mau nitip apa ya?"
A : "Lho, K mau nitip apa?"
K : "Aku nggak tau..."
A : "Ya nggak usah nitip..."
K : "Tapi aku mau... "
A : "Ya apa donk?"
K : "Kindejoy aja boleh?"
A : "Permen cha-cha aja mau?"
K : "Mau deh..."
A : "Ya udah ayah berangkat dulu ya..."
K : "Sini kiss sama peluk dulu..."

#Emak&BapakSenyamSenyum

Begitulah... Setiap ada yang bersiap pergi, maka dia akan sibuk berpikir nitip apa. Seperti halnya ketika ke swalayan. Dia akan memaksa masuk, tapi tanpa tahu mau beli apa. She loves hugs and kisses before we're apart. Keep going little lady... ^_*