Friday, September 30, 2016

Ketika Musim Gugur Tiba Lebih Awal di Hidupku

#Fiction
#Latihanmenulis
#Learningeverything




Masih terasa hangat mentari menyapu kulit, dibarengi dengan semilir angin yang tajam menusuk tulangku. Aku diam, terpekur. Hangatnya sinar mentari diakhir musim panas ini, tak mampu menghangatkan hatiku yang kian kelu. Pun semilir angin menyambut datangnya musim dingin ini, tak mampu mendinginkan kepalaku yang terus-menerus bergejolak liar. Aku, termangu. 

Selintas berlalu senyum dan tawamu dalam benakku, namun secepat kilat bayangan itu pergi meninggalkan nyeri didada ini. Harapan akan kehidupan indah penuh cinta yang dulu tumbuh subur dalam hati ini, telah menguar bersama dengan angin yang menerbangkan dedaunan dijalanan. 

Bagaimana mungkin cinta yang tak terukur itu, lenyap begitu saja hanya karena selembar foto? Entahlah. Aku tak memiliki jawaban untuk pertanyaanku sendiri, dan akupun tak tahu kemana harus mencari jawaban itu. Aku tak tahu. 

Sebuah tonjokan keras dari dalam ulu hatiku mendadak membuatku sesak nafas dan memaksaku menarik nafas panjang. Ingatanku melayang pada sore itu, sore dimana semua ketidakjelasan yang selama ini kurasakan menjadi nyata, dimana semua keganjilan yang kuraba berubah menjadi kenyataan pahit. Ketika entah kenapa, sore itu muncul keisenganku untuk mengetikkan namamu dilaman pencarian. Rupanya aku tidak menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan buruk pada hasil keisenganku. Ketika kutemukan seraut wajahmu dengan senyum sumringah, memegang setangkai mawar merah, disebuah ruangan yang aku tidak kenali. Senyumanmu sungguh sangat indah. Senyuman yang selama ini selalu membuat aku rindu untuk pulang kerumah. Senyuman yang selalu mampu membuatku melintasi benua hanya untuk mendapatinya, untukku. 

Namun rasa sakit menyeruak begitu saja, manakala aku membaca sebaris kalimat yang engkau tuliskan dibawahnya... 
"Hanya kamu yang selalu mengerti aku... " 

Kau sebutkan sebuah nama yang bukan namaku. Melainkan nama orang yang selama ini sempat membuatku cemburu, cemburu karena dia cukup dekat denganmu. 

Melihat senyumanmu, bunga wamar merah itu, kamar itu, selimut kusutmu, dan nama yang kau sebutkan, membuat pikiran dan emosiku bercampur menjadi murka. Marah luar biasa. Kelebat skenario buruk dari yang terburuk bergantian lewat didepan mataku. Apa yang kalian lakukan? Apa yang terjadi dikamar itu? Kenapa dia memberimu mawar merah? Kenapa kamu menyebut namanya dan bukan namaku? Siapa yang mengambil foto itu? Dan kenapa kamu terlihat sangat sangat bahagia? 

Kemarahan yang tak terukur itu, membuatku mencarimu yang sedang sibuk di dapur kita. Aku mencengkeram pinggiran meja, melihatmu tanpa berkata-kata. Hingga tak berapa lama kamu menyadari kehadiranku dan tersenyum. Tapi senyum yang berbeda dari senyum yang membuatku begitu marah. 

"Hi sayang, sudah selesai kerjanya? Mau makan apa?"

Aku tak kuasa membuka mulut. Mendengar suara riangmu, sedikit mengembalikan mimpi-mimpi masa depan yang ingin kita bangun bersama, yang selalu kita bicarakan sebelum tidur. Namun itu tak berlangsung lama. 

"Seberapa jauh hubunganmu dengan Dia?" tanyaku dengan tatapan dingin sedingin es dipuncak pegunungan Alpin sana. 

Sendok sayur yang ada ditangan kananmu mendadak terlepas dibarengi dengan hilangnya senyum dan berganti dengan muka panikmu. Matamu mulai menampakkan takut, dan gelisah. 

"Aku nggak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman."
"Teman macam apa yang memberikan mawar merah pagi-pagi disebuah kamar hotel dengan selimut berantakan?"

Kamu terdiam, seolah menyadari bahwa aku telah mengetahui semuanya, dan tak ada gunanya mengelak lagi. 

"Itu semua karena kamu nggak cukup peduli sama aku. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu, dan tak lagi peduli pada perasaanku, kesepianku. "

"Jadi kamu selingkuh sama dia, dan menyalahkan aku?"

Aku tak lagi mampu mengingat rentetan kalimat panjang disertai dengan isak tangis dan teriakanmu yang beruntun, yang semuanya adalah menyalahkan aku. Kepalaku pusing, telingaku berdenging. Aku hanya ingat saat aku berkata bahwa aku akan pergi meninggalkan rumah untuk menenangkan diri, dan ketika aku berbalik menuju pintu, kamu memegangi kakiku. Sambil terisak dan terus mengatakan agar aku tetap tinggal. 

Aku tak pula ingat berapa lama kamu memeluk kakiku, menahan badanku agar tak beranjak dari tempatku berdiri, sambil terus memohon. Aku tak peduli. Saat itu, yang ada dikepala dan pikiranku adalah aku merasa terluka, kecewa, dan aku marah. 

Berjam-jam kemudian, ketika kurasa peganganmu mengendor, kukibaskan kakiku begitu saja hingga terlepas darimu, dan aku pergi. Tanpa menengok lagi kebelakang. Hanya isak tangismu yang mampu kudengar, hingga pintu menutup memisahkan kita, sampai saat ini. 

Aku termangu dalam pilu...

Semua usahaku menenggelamkan diri dengan pekerjaan untuk mewujudkan cita-cita kita, menjadi bumerang dalam kehidupan kita. Kamu menganggapku mengabaikanmu. Tak pernah sedikitpun aku memikirkan hal itu. Bodoh. Bodoh sekali aku. Bodoh sekali aku, hingga membiarkanmu merasakan kesepian itu. Terkutuk. Terkutuk sekali perbuatanmu padaku. Tega sekali kamu.

Aku hancur.

Aku hanya bisa duduk diam, sendiri, menatap nanar pada dedaunan yang mulai jatuh ke jalanan. Musim gugur datang lebih cepat dihidupku kali ini...

***
- WJ



No comments: