Friday, April 17, 2015

My (not-so) Little Girl

Well...

Punya anak perempuan itu banyak sekali cerita menariknya. Dari hari kehari selalu ada saja tingkah lucu, unik, menyenangkan, dan mengejutkan dari anak ini. Bayi? Sudah bukan lagi... Anak gadis? Belum laaahh... Tapi koq kelakuannya sudah seperti anak gadis pada umumnya? Ok. mungkin penengahnya, dia adalah gadis kecil...

Si Gadis kecil ini sedang mengeksplor dirinya dan menirukan sekelilingnya. Apa yang dia lihat, dia praktek kan. Karena dia adalah gadis kecil, dia mempraktekan ala ala gadis kecil. Jadinya? lucuuuu... :-)


Gambar ini contohnya....

Dia sudah lebih mahir berdandan daripada ibunya. Ibunya malah nggak bisa dandan. Tapi lihat gaya si anak gadis kecil ini... Mantab sekali... :-p

Time flies indeed... You're not so little anymore... Stay health baby Kiraniul... :-)


Thursday, April 16, 2015

Berani Mencoba Itu Baik

Ppffiiuuhh...

Gambar dari sini
Setelah maju mundur cantik serong kiri serong kanan, akhirnya aku beranikan diri mengeksekusi beberapa hal di MINGGU INI. Busyeettt... Semua aku eksekusi dalam satu minggu. Kenapa? Karena kalau ditunda, bisa jadi terpengaruh keogah-ogahannya suami dan akhirnya mundur teratur sampai bablas. hehehe

Insya Allah dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, akhirnya persiapan dana sekolah SD, SMP, dan SMU Kiraniul sudah terdaftarkan. Untuk Universitas dan pensiun emak bapaknya nanti dipikir lagi deh. Kita lihat dulu beberapa tahun ini. Let see how it goes... If all go smooth as i planned, Untuk Universitas dan Pensiun bisa menyusul. Aamiin....

Minggu ini, jam kerjaku jadi jumpalitan memang. Semua gegara banking things. Kadang bangun subuh mruput kerja, abis itu ke bank, terus pulang kerja lagi. Kadang kerja dulu setengah hari, sekalian istirahat makan siang ke bank, dan pulang kerja lagi. Hari ini beda lagi. Aku ijin ke supervisorku dari pagi. Jadi pas istirahat makan siang udah dirumah lagi, ngeblog dulu sebentar. hehehe.

Wilis road to Bank juga minggu ini. Dari bank satu ke bank lainnya. Demi mencari dan memberi yang terbaik (emangnya IPB? hehehe). Ditambah adegan ngantri sambil ngantuk. Nggak nemu bank nya, dll. Menyenangkan... Kecuali panas nya :-)

Mudah-mudahan sehat, rejeki lancar dan berkah. Aamiin.

Bulan ini rada kliyengan aku dengan excel seputar financial planning. Meng-kopi informasi dari blog nya mbak Darina Kamil, katanya ada tiga tahapan dalam hal financial planning.

1. Financial Planning
2. Financial Independence
3. Financial Freedom

Alhamdulillah, sudah masuk di tahap Financial Independence sejauh ini. Karena sudah membayar tagihan sendiri, dan sudah memiliki properti atas nama sendiri. Mari kita menuju financial freedom. Ngapain ya biar bisa begitu? hahaha.... Another puyeng is coming kalau ditanya mau ngapain... ;-p

Mau nulis secara jentreng dan gamblang seperti Bu Kamil itu rasanya masih belum PD. hiks... hiks... Maluuuu.... hahaha

Perkursusan suram nasibnya... Kursus pertama sudah selesai, tapi membuahkan hina dina dari Ayah nya Kiraniul karena tidak di ambil penuh dan masih nggak berani jalan sendiri. hahahaha

Kursus kedua masih belum daftar. Tapi masih berada di top list to do. Kapan? kapan-kapan deh yaa.... ~_~

Tidak apa-apa. Berani mencoba itu baik. Setidaknya jadi tau seberapa kemampuan kita. Kalau kurang nanti kita tambah, kalau sudah cukup nanti kita tambah biar lebih bisa. Betul? :-p

Smangadh...Smangadh...!!!

Tuesday, April 14, 2015

Ngantri dan Ngantuk

Tips hari ini:

1. Jangan sekali-kali kita gabungkan Ngantri dan Ngantuk. Akibatnya akan sangat rugi kita akhirnya.

2. Kalau ingin Ngantri, sebaiknya jangan Ngantuk.

3. Kalau sedang Ngantuk lebih baik jangan Ngantri

4. Kalau Ngantri dalam kondisi Ngantuk, pastikan dalam antrian yang benar.

5. Kalau Ngantri dalam kondisi Ngantuk, pastikan mengantri sesuatu yang benar.

6. Kalau Ngantri dalam kondisi Ngantuk, pastikan mengantri pada saat yang  benar.

Demikian.

Pengalaman buruk siang ini:
Setelah Road to Bank lagi, akhirnya sampailah aku di Bank urutan terakhir. Sampai di bank itu sekitar pukul 1, saat yang sangat tepat untuk napping. Setelah mengambil antrian, ouch... Lebih dari 10 antrian dan alamat lebih dari 1 jam pasti ini, batinku.

Akhirnya akupun duduk manis sambil terkantuk-kantuk. mendekati tiga perempat jam kemudian, aku iseng jalan-jalan ke ruangan sebelah dan memutuskan untuk memasukkan uang cash yang sedianya ingin aku bawa ke ruang sebelah tadi. Setelah proses menabung selesai, aku kembali ke posisi awal dan kembali terkantuk-kantuk.

Ketika antrian semakin berkurang dan tinggal 2 orang lagi didepanku, sekilas ada ingatan yang datang mendekat. #plak rasanya pipiku seperti ditampar hingga kantukku hilang seketika. Dengan ragu-ragu aku berdiri dan berjalan ke arah Pak Satpam. Aku pun bertanya padanya :

"Pak, katanya kalau urusan Ngurusi Duit itu cuma sampai jam 1 ya pak?"
"Ibu keperluannya apa?"
"Membeli saja"
"Sebentar ya bu saya tanyakan dulu"

Beberapa saat kemudian Pak Satpam datang lagi dan memberikan berita buruk itu.

"Iya bu, sudah tutup. Cuma sampai jam 1 saja"

Toeng toeng toeng....

OK. Jadi, kembali pada tips di atas ya... Cam kan itu! :-)

Monday, April 13, 2015

Kehilangan Itu Tidak Harus Karena Kita Pernah Memiliki

Iya... Aku sedang merasa kehilangan.... Dan Aku merasa sedih...

Kemarin, Hari Minggu, aku melewatkan hari dengan pacaran sama mantan pacarku. Kami melakukan hal-hal yang dulu kami lakukan semasa pacaran. Cari-cari buku ke Toko Buku dan Nonton. Rasanya sudah lama sekali dari terakhir kali kami pacaran berdua seperti ini. Kami merasa masih muda. :-)

Kenapa aku sedih?
Karena apa yang kami tonton. Kami memutuskan untuk menonton Fast & Furious 7. Sebetulnya bukan hal yang luar biasa kalau aku atau kami nonton, kemudian terbawa suasana dengan film nya, merasa sedih, bahkan kadang menangis. Aku sering mengalami hal itu, apalagi kalau nonton film yang genre nya drama.

Tapi, ini beda.
Entah kenapa ketika nonton Fast & Furious 7 ini, aku tidak menangis. Tapiiii.... sedihnya bertahan lamaaa.... sekali. Merenungi flash back yang ditunjukkan oleh Dominic Toretto di scene terakhir, mendengarkan kata-katanya, entah kenapa ada yang mencelos di hatiku. Terkesan lebay, tapi memang benar.Sampai sekarang aku menuliskan review ini, aku menangis... Ouch Wilis.... Cemen kali kau...

Awalnya, aku berusaha mencari kalimat yang di ucapkan Dom di akhir cerita itu. Nanya mbak goog dan akhirnya buka Yusup. Malah ketemu ini... Tribut to Paul Walker... Lengkap dengan soundtrach yang syahdu tralala... Air mata mengucur dengan derasnya... Untung aku kerja sendirian di kamar. Jadi tidak ditertawakan oleh teteh... :-p




Entah kenapa rasanya sediiiih sekali melihat anak muda ganteng berprestasi dan baik hati meninggal dengan tragis ditengah karir nya yang sedang menanjak. Mungkin karena aku mengikuti film Fast & Furious dari awal, dan juga menontonnya berulang-ulang di TV kabel, sehingga perasaan kehilangan ini begitu nyata. Tatapan nya yang sendu, senyumnya yang simpul, dan bahasa tubuhnya yang menurutku macho dan memikat. Semakin menambah kesedihan yang sudah sedih ini.

Ok. Ternyata masih ada kesedihan lain. Seperti biasa, setelah berkali-kali memutar video diatas, aku meluncur ke original soundtrack nya. Duuh... siapa sih yang bikin lagu pelengkap sedih ini... hiks...hiks...hiks...


Soundtrack lagi ini memang dibuat khusus untuk Fast & Furious 7 untuk menggaruk-garuk hati agar semakin bleeding to death #lebay. Seeediiiihh....

Ternyata belum cukup penguras sedih pagi ini. Saat selesai menonton video klip soundtrack nya, rupanya tak sengaja videonya lanjut ke video wawancara semua personel Fast & Furious di salah satu setting filmnya. Di belakang rumah Dom yang kebun dan sering digunakan untuk barbeque nan itu lho... Menonton video ini, lebih-lebih lagi aku ikut mewek. Sudah seperti kehilangan sanak family saja ini rasanya. Padahal kenal juga enggak. Empathy? Mungkin....

Wawancara yang berjalan sangat akrab itu banyak membahas film nya sendiri, hubungan personal antar pemain, dan juga tentang Paul Walker. Vin Diesel terlihat sangat berat ketika harus berbicara tentang Paul, begitu juga yang lainnya. Pemeran Mia berkata bahwa adegan di tempat itu, dimana dia bersama dengan Paul menggendong Little Jack adalah moment sangat indah dan berkesan. Ketika pemeran Letticia di tanya tentang kesan-kesan terhadap Paul, dia juga tidak bisa menahan emotional nya dan menolak untuk bicara karena akan pecah tangis nantinya. Paul Walker will forever missed.


I used to say I live my life a quarter mile at a time
And I think that's why we were brothers
Because you did too...

No matter where you are, 
Whether it's a quarter mile away or half way across the world
The most important thing in life will always be the people in this room,
Right here, right now

Salute Mi Familia

You'll always be with me
And you'll always be my brother

#DominicToretto #Fast&Furious7 #TributToPaulWalker

oooohh.... so touching...

You will be surely forever missed Paul!

I will see you again and over again through your movies. Your spirit will always carries on...

Monday, April 6, 2015

Menjadi Orang Tua

Kalau aku sebutkan password itu di depan suamiku, dia pasti akan dengan cepat memajukan bibirnya dan menggumam... "jadi bapak itu gampang, jadi orang tua itu susah... blah...blah...blah...". Iya, dia sudah hafal betul dengan nyanyian merduku yang satu itu. Kalau sedang merasa kesal atau jengkel melihat tingkahnya yang aneh didepan anak kami, maka dengan merdu laguku itu akan kulantunkan...

Laugh and Laugh
Suamiku memang unik
Selama lebih kurang 10 tahun kebersamaan kami, mungkin bisa di hitung jari saat-saat dimana kami bertengkar hingga lebih dari 1 hari. Selebihnya, tidak akan bertahan lama. Dongkol didalam hati sih masih ada, tetapi amarah yang penuh dengan angkara murka membara hingga ingin rasanya mencabik-cabik mukanya sudah pasti hilang cepat. Bagaimana mungkin? Mungkin... Karena dia selalu bisa mencairkan suasana dengan kelakar lucu, ekspresi aneh, atau dengan diam nya yang ajaib. Mungkin sebetulnya dia terlahir dengan niatan menjadi salah satu anggota Ria Jenaka. But I just love the way he is. 

Apa hubungannya kejenakaan suamiku dengan kalimat Menjadi Orang Tua?
Seperti yang sudah aku sebutkan, nyanyian merdu itu akan selalu kulantunkan ketika melihat suamiku yang jenaka itu melakukan sesuatu yang "tidak-tidak" di depan anakku. Aku melihat anak perempuanku ini sangat mengidolakan suamiku, ayahnya. Segala sesuatu yang di lakukan ayahnya, yang di ajarkan ayahnya, sangat cepat dia ikuti dan tirukan.

Contohnya?
Pernah suatu malam kami bertiga sedang bercanda sebelum tidur. Anakku ingin minum susu dan minta pada ayahnya yang sedang memegangi susu kotak nya. Dia dengan sangat manisnya bilang "njam...njam...mimik...mimik...". Ayahnya dengan iseng dan maksud bercanda, menyembunyikan susu kotak itu di samping badannya sambil memasang tampang tidak boleh, sedikit melotot, dan lengkap dengan suara "hh...". Beberapa kali dia melakukan hal itu, yang aku terlambat menyadarinya.

Hasilnya?
Sampai dengan sekarang, kalau anakku sedang memegang sesuatu dan didekati orang (aku, ayahnya, tetehnya, saudaranya, temannya), dia akan langsung menyembunyikan sesuatu itu di samping badannya dan menunjukkan raut tidak boleh, lengkap dengan pelototan dan suara "hh..". #Duuuhhh....

Karenanya, setiap kali suamiku mulai bertingkah aneh didepan anak kami, atau memberikan contoh ajaib padanya, nyanyian burung wilis akan segera terdengar merdu :
"Ayah, jadi bapak itu gampang. Hamili anak orang, anaknya lahir, udah jadi bapak. Tapi jadi orang tua itu susah... Mesti ngajarin yang benar, nyontohin yang benar, menunjukkan yang benar... dan itu memang nggak gampang. Kita mau jadi orang tua yang baik kan untuk anak kita? bla... bla... bla..." kalau sudah sampai pada bagian intro, suamiku akan diam berlalu sambil cengar-cengir keluar kamar. Tinggal aku yang dongkol bin jengkel kuadrat @#$%^&*@#$%^&*

Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan dalam usaha menjadi orang tua dari anak-anak kita. Aamiin.

Thursday, April 2, 2015

Hanya Tertawa Untuk Mereka

Kalau aku merasa bahagia, maka aku tertawa...
Ketika aku merasa geli, aku kadang tertawa...
Ketika aku melihat ketidak adilanpun, kadang aku tertawa...
Ketika aku melihat pembiaran, terkadang aku tertawa juga...
Ketika aku melihat ketidakpedulian, pun kadang aku masih tertawa...

Lahir, hidup, rejeki, jodoh, mati...
Adalah sesuatu yang pasti...
Hanya jarak dan waktu yang terkadang memisahkan diantaranya...
Kenapa harus menangisi sesuatu yang tidak lahir dan tidak terbawa mati bersama kita?
Tiada guna.. Itu saja jawabnya...

Mungkin saja beberapa hal bisa dipengaruhi oleh manusia,
Beberapa hal bisa didapat secara lebih oleh faktor tertentu
Tapi... Ya sudahlah...

Bahagia itu mudah...
Asal kita bisa menemukan sisi lain dari sebuah ketidakbahagiaan

Menjadi pemimpin mungkin memang tidak mudah, aku tak tahu
Tapi mungkin sedikit bisa dimulai dengan beraksilah seperti layaknya pemimpin
Agar para bawahan, bisa merasakan adanya pemimpin
Dan para bawahan bisa merasakan kepedulian seorang pemimpin

Ah...
Tapi apalah itu
Untaian kata indah dan kalimat yang mengalir mengaburkan yang samar
Semua terlihat..... mulus...

Tidak mengapa...
Sebagaimana manusia,
Kita hanya manusia...
Mencoba yang terbaik...
Siapa tahu mendapat yang terbaik...


Hi!!!
Life is beautiful
We must be happy wherever we are
No matter what... No matter how

Hahahhahaaa....
Don't take it too serious please
It's just a note, from an ordinary morning, from an ordinary mother, to them the extraordinary people around the world

Love live and laugh

Thursday, March 26, 2015

Rejeki Yang Barokah

Membaca judulnya, aku sendiri mengernyitkan dahi. Tumben rada bener :-p

Tapi bukan dalil, wejangan, khotbah, atau hal lain yang berhubungan dengan yang pinter2 itu yang ingin aku tuliskan. Karena memang aku tidak mengerti tentang semua itu.

Doa yang Spesific, konon lebih mudah dikabulkan
Gambar dari sini
Selama ini, karena kekurang mauanku membaca dan belajar ilmu agama, maka dasar sederhana saja yang aku gunakan untuk hidup. Masih belajar untuk jadi lebih baik juga ini... :-)

Untuk masalah rejeki dan kehidupan di dunia, sesederhana apa? Sesederhana ini aja :
1. Tidak memotong rejeki orang, Insya Allah rejeki kita akan selalu mengalir
2. Tidak berhenti mencari, Insya Allah pintu2 rejeki akan selalu terbuka.
3. Percaya selalu bahwa Rejeki sudah ada yang mengatur.
4. Percaya selalu bahwa Rejeki tidak akan tertukar
5. Tidak takabur
6. Tidak bangga pada apa yang kita bisa atau kita punya secara berlebihan
7. Berbaik2 pada saudara, teman, dan orang disekitar kita karena siapa tahu mereka adalah pembuka jalan rejeki kita.
8. Sering2 melihat kebawah dan sesekali melihat ke atas. Karena kedua hal itu bisa saling mendukung dan mengingatkan.

Kalau Ibu dan Bapak ku dulu sering berpesan padaku, agar tidak terlalu pusing dengan harta dunia. Dimana2 dunia sama, persaingan dan kebutuhan. Santai aja. Hidup cuma sementara, harta nggak akan dibawa mati. Tidak akan miskin kita dengan memberi. Kalau Bapak ku suka kadang malah ekstrim, memberi sebanyak2nya tanpa mengharap kembali. Kalau keluarganya mengingatkan, sabdanya akan keluar "memangnya yang aku kasih ke kalian masih kurang?" dan kami semua akan diam tertunduk, lirik2an, mesam-mesem sambil membatin "Ya nggak juga siiihh... tapi kan sayaaaang dikasih orang....." hahahahaha

Oh iya, satu lagi yang pernah disampaikan oleh suamiku dulu. Aku nggak ingat persis apa dan bagaimana kalimatnya, tapi intinya masih nyantol di hati. Cieee.... hati.... :-p

Menurut suamiku tercinta yang luar biasa, cara sederhana melihat dan menilai apakah harta kita berkah atau tidak bisa dengan melihat apakah harta yang kita dapat/kita punya awet (tidak mengalir seperti banjir weeeesssewesssseeweessss), bermanfaat, memberikan peningkatan pada kita (dari berbagai sisi pandang), atau mudah datang dan mudah pergi tanpa ada asap yang tertinggal alias blasssss begitu saja. Menurut dia, kalau kategori yang terakhir itu, tandanya rejeki kita nggak berkah sama sekali karena hanya memenuhi kepuasan pribadi saja, dan bahkan kadang kita pribadi masih belum puas padahal sudah tidak ada yang tersisa.

Aku sendiri pernah mengalami saat2 dimana memang yang namanya rejeki yang bentuknya uang itu, datang dan pergi tak ada bekas nya sama sekali. Tiba2 sudah tidak ada lagi uang ditangan. Ditambah lagi dengan setiap menginginkan barang bagus, menggebu2 ingin memiliki, akhirnya dipaksakan membeli/mencari, beberapa saat kemudian barangnya lenyap atau rusak. Patah hati aku. Saat2 itulah suami ku mengeluarkan rumus sederhananya itu. Alhamdulillah, aku yang tertampar keras dengan rumus sederhana nya itu, kemudian mulai belajar memperbaiki diri dan belajar lebih baik lagi.

Mudah2an kita semua senantiasa diberi kesempatan untuk mencari jalan rejeki yang berkah, mendapatkan rejeki yang berkah, dan dapat berbagi dengan rejeki yang berkah. Kita bisa asal kita mau. Jumlah bukanlah masalah.

Bismillah saja... Insya Allah sudah ada yang mengatur rejeki kita, tanpa harus kita kejar ke ujung dunia... ^_^