Wednesday, March 11, 2015

Orang Pinter dan Keminter Itu Beda

Thanks to Internet and Social Media!

Dengan internet aku banyak memperoleh informasi mengenai segala hal. Hanya saja, penggunaan nya harus disertai dengan tanggung jawab penuh, agar tidak menimbulkan pengaruh buruk. Pengaruh buruk untuk siapa? untuk kita, untuk object yang dibahas, dan juga untuk orang lain yang kebetulan ikut menggunakan tentunya. Kita ambil contoh Fa**b**k.

Dari social media aku banyak melihat dan mengikuti perkembangan teman2, saudara, dan semua orang yang terhubung denganku. Dari sana, kadang dikala aku tidak terlalu sibuk dengan kerjaan atau hal lain, aku menjadi kepo dan ingin tahu. Dibacalah update an orang yang ada di newsfeed. Hhmm... Kadang2 hanya membaca tulisan2 mereka saja, bisa membuatku berdecak kagum dan menggeleng2kan kepala. Rupanya teman2ku banyak sekali yang pintar2... Subhanallah....

Status mereka banyak sekali yang menggambarkan kepintaran mereka. Banyak yang mengerjakan ini itu, pergi kesana kemari, berjasa untuk lingkungan mereka, berbuat baik kepada orang, dan masih banyak lagi. Kadang kalau sudah begitu, aku jadi ngaca, sudah sampai mana aku?

Ok... pause dulu disitu...

Ganti ke wall ku sendiri dan melihat apa yang sudah pernah kubagi. Ok, tentang anak... scroll down... semangadh2 pagi.... scroll down lagi.... Anak lagi.... scroll down terus... curcol dikit... dan seterusnya dan seterusnya....

Aku jadi tersenyum dan tertawa melihat photo, membaca caption yang kutulis, dan membaca komentar2 teman yang sempat mampir kesana. Sambil membayangkan apa yang aku rasakan saat mengunggah gambar atau menuliskan itu.... Waaaa.... Jatuh cinta pada kenangan lagi nih aku.... :-p

Beberapa aku ingat background kenapa dan kenapanya. Misalkan saja ketika aku mengunggah foto camping. Aku menuliskan caption disitu dengan sebuah quote yang aku dapat dari internet juga seperti dibawah ini:

“Don't let your happiness depend on something you may lose.” ― C.S. Lewis

Mungkin ketika ada yang mampir atau tak sengaja melihat aku mengunggah photo camping bersama anakku yang masih belum 2 tahun, akan banyak pikiran di kepala masing2 orang. Bunyinya pun akan sangat berbeda2. Mungkin saja, akan berbunyi 'gaya banget dia, anak kecil di ajak kemping'. Atau bisa jadi 'egois banget sih anak kecil diajak kemping. Nggak mikir apa nanti kalau dia sakit? nggak dipakein jaket lagi...". Padahal sebetulnya aku akan sangat bahagia dan berharap kalau ada yang bilang gini "ih, asik banget kemping. kapan donk kita kemping bareng?" hehheheee

Nggak ada yang tau kan kalau sebenernya aku kemping karena lagi galau? hahahaa... Mari buka2 rahasia. Iya, waktu itu aku sedang galau. Karena sesuatu yang dulu aku pikir adalah salah satu sumber kebahagiaanku, sedang tidak menghasilkan kebahagiaan untukku. Dan rasanya justru mengeruk kebahagiaan yang aku dapat dari sumber yang lain... Ribet ya? iya ribet... tapi nggak papa. Lebih baik ribet dari pada tidak ribet sama sekali.... :-p

Karena kegalauan itu maka aku merayu suami untuk ikut kemping, sekedar menghirup udara segar di hutan sana. Dan sebagai hasil dari menghirup udara segar itu, perenungan selama disana, refleksi diri dan tujuan2 awalnya, dan lain2 dan lain2, maka aku menyemangati diri sendiri dan bertekat bahwa kebahagiaan tidak boleh bergantung pada sesuatu yang tidak abadi dan mudah hilang. Agar kemungkinan untuk tidak bahagianya juga sedikit. Biar lebih keren dikit, aku browsing aja quote yang pakai bahasa inggris, dan nyambung dengan tekat yang aku niatkan.

See... Social media memang sangat banyak plus dan minus nya... sebanding lah plus dan minusnya... semakin banyak plus nya, ya semakin banyak minusnya.... hahahha.

Ok, yang tadi di pause, kita play lagi...

Jadi, kembali lagi ke tulisan teman2 yang sangat pintar2 itu... Aku mencoba lagi membaca, dan mulai berprasangka tentang apa dan apa yang membuat mereka menulis itu. Haha... jadinya suudzon kaaannn? tapi aku pikir aku tidak sendiri... Cuma kadang yang lain tidak mau mengakui saja... #ups.

Satu hal yang kemudian terlihat ketika kita membaca/melihat tulisan/gambar dan juga komentar2 orang di social media. Apa? menurut Wilis Juharini 2015 nih ya, bahwa memang banyak sekali teman2 yang sangat pintar, pintar sekali, dan pintar... Bangga sekali aku sebagai teman mereka... Tapi, ada juga koq yang keminter... dan itu wajar. Namanya juga manusia kaaaaa.... :-)

Untuk lesson learned diri sendiri, harus lebih bijak menggunakan social media. Biar yang suka suudzon seperti aku, nggak makin banyak jumlahnya :-p

Selamat Hari Rabu temans!

Monday, March 9, 2015

Satu Tahun Yang Lalu - Mandor

Entah kenapa tetiba pagi ini aku iseng melancong ke kumpulan photo2 lama di komputerku. Mungkin efek koneksi internet yang semakin subhanallah saja belakangan ini. Sehingga aku tidak bisa langsung bekerja meskipun semangadh sudah berada di bar paling atas. Apa daya, sekarang semua-mua adalah internet. Tanpa internet, da aku mah apa atuh? #lebay

OK. kembali ke photo masa lalu yang terjadi di hari ini, setahun yang lalu. Rupanya, setahun yang lalu di hari ini, aku masih setia menjadi mandor. Kami masih dalam rutinitas nge-cek proyek terbesar kami tahun itu. Pembangunan rumah teko kopi kami. 

Look at the pictures below... Is this litle girl Kirania? She look so cute (not to mentioned that current Kirania is not cure anymore). It's just because now she is a grown up little girl who become a picky eater. Jadi dia sudah tidak unyu2 endut lagi. Tapi dia unyu2 aktif dan centil. hehehee


Hari itu, setahun yang lalu...
Aku ingat sepulang kami dari menengok proyek, kami mampir di sebuah rumah makan di bilangan Yasmin. Raja P****t. Seingatku, disitu adalah kali pertama Kirania duduk di high chair atau kursi bayi yang ada di restaurant itu lho... Punggungnya masih diganjel kain agar dia bisa duduk nyaman. 

Saat itu dia baru berusia 7 bulan. Belum makan makanan meja, masih yang bubur2, tim2, atau pure2 an ala ala ibu2 jaman sekarang. Jadi waktu di tempat makan itu, dia hanya diberikan Timun. hehee... Kasian sekali. Orang tuanya makan ayam dan ikan, anaknya dikasih timun doank. Dan beberapa bekal lainnya sih.. :-p

It's lovely to see dan membandingkan Kirania dari waktu ke waktu. Melihat rambutnya yang kurang berambut, lirikan matanya yang masih sama dan makin sering digunakan, mulutnya yang unik apalagi kalau sudah onyong2, dan masih banyak lagi. Aaahhh.... Sungguh waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku dan suami menikmati soto Pak Dur di Kalasan setelah beberapa menit sebelumnya mendapatkan kepastian untuk melakukan SC keesokan harinya.... #sorrybagianmakansulitdilupakan. :-p



Mudah2an kami semua selalu sehat, diberi umur panjang dan rejeki yang mengalir bersama dengan berkah. Begitu juga kalian semua dimanapun kalian berada. Aamiin


Friday, March 6, 2015

Don't Let Your Happiness Depend On Something You May Lose



“Don't let your happiness depend on something you may lose.” ― C.S. Lewis

Terkadang, ketika rasa bosan itu datang menyapa, maka lari adalah cara untuk meninggalkannya. Ketika rasa muak itu datang, maka berjalan-jalan adalah cara untuk melupakannya. Ketika rasa lelah itu datang, maka menikmati hijaunya alam adalah cara untuk mengembalikan semangadh yang hilang. Ketika tidak peduli itu datang, maka kemping dialam terbuka adalah cara untuk mengendalikan diri. 


Bahagia...


Adalah hal yang selalu dicari, dinanti, diharapkan, dan didoakan oleh semua orang. Bahagia dunia dan akhirat. Adalah pasangan yang sangat di harapkan kehadirannya dalam kehidupan manusia. Bahagia dapat dicapai dengan banyak cara. 


Banyak hal juga yang bisa menentukan kebahagiaan orang. Ada yang sederhana, namun tak jarang pula yang menjadi sulit karena kemauan manusianya. Semua kembali kepada diri masing-masing dalam memaknai arti kata Bahagia. 


Menurut ungkapan C.S. Lewis di atas, Don't let your happiness depend on something you may lose. Kurang lebih maknanya adalah, agar kita tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada sesuatu yang bisa hilang dari pegangan kita. Seperti misalnya menggantungkan kebahagiaan pada materi atau harta benda semata. Maka dengan mudah kebahagiaan kita akan hilang, manakala harta benda kita berpindah tangan, dengan cara apapun. 


Bisa menikmati waktu bebas disela2 hijaunya pepohonan, bermain dengan sejuknya embun, berada diantara teman-teman yang tidak hanya perduli dengan materi semata, adalah caraku menikmati kebahagiaan. Bagaimana dengan caramu??? 




Wednesday, March 4, 2015

Karena Anu Setitik, Rusak Mood Sebelanga

Ini bukan tentang sesuatu yang berbau biru atau porno. Ini hanya hal biasa yang jika diungkapkan secara gamblang, bisa mengundang banyak mudharot ketimbang manfaatnya.

Pagi ini aku bangun dengan semangadh dan niat menggebu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sempat tertunda karena sakit common cold berjamaah sekeluarga. Beberapa sudah bisa selesai, dan masih ada beberapa lagi. Tetiba aku mendapatkan kiriman Anu.... Dan entah kenapa semua semangadh dan niat tulus pagi hari langsung mengudara dan menguap tanpa bekas.

Anu itu memang kecil dan kurang berarti, tapi rupanya mampu menghancurkan semangadh pagi hariku. Semagai morning person, rasanya bangun pagi tanpa melakukan sesuatu sedini mungkin itu justru membuat sakit dan makin sakit.

Memang buat orang lain, Anu ini bukanlah sesuatu yang penting. Buatku juga sebetulnya tidak penting juga sih... Tapi lebih baik tidak ada daripada ada.

Kalau memang Anu ini ada karena tidak sengaja, maka tak mengapa. Tapi bagaimana kalau Anu ini ada karena memang disengaja? Itu baru sesuatu. Tapi, itu hanya prasangka... Karena aku nggak tau dan nggak mau tau dan nggak mau mencari tau ke yang ngirim. Biarkan saja dia dengan alasannya, dan aku dengan ketidaktauanku. Semuanya akan lebih tenang kalau didiamkan dalam ketidakjelasan.

Berhubungan dengan sesama manusia berbeda semuanya membuat banyak perbedaan juga dalam banyak hal. Sebetulnya kurang match dan ada yang kurang klop, tapi tak mengapa. Lumrah dan wajar saja. Kadang ada juga yang tidak wajar, tapi bisa apa kita? Keran harus tetap mengucurkan airnya, agar kehidupan dibawah sana berjalan dan bertumbuh. Nikmati saja sebisanya. Masalah kebahagiaan kita cari ditempat lain. Kata Mas C.S Lewis "Don't let your happiness depend on something you may lose"

Merasa hilang semangadh sebentar boleh. Bersedih sebentar juga boleh. Malas ini itu sebentar juga boleh. Ibarat pepatah yang mengatakan 'Karena Anu setitik, maka rusaklah Mood sebelanga'.


Wednesday, December 31, 2014

Say Good Bye For 2014

Swing....


Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun (lagi). Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan penuh cerita meskipun hanya di kepala. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan sehat dan tanpa kurang suatu apa. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan bahagia bersama dengan mereka yang dicinta. Alhamdulillah bisa melewati 2014 dengan beberapa capaian target yang lumayan juga. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk merancang rencana 2015 dengan santai, enjoy, dan penuh tawa. Alhamdulillah.... Alhamdulillah.... Alhamdulillah...

Meskipun masih miris jika melihat jumlah torehan kata, ah sudahlah.... Tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Seperti biasa, ada saja resolusi yang pada akhirnya menjadi resolusi menahun dan turun temurun dari tahun sebelumnya. Ah sudahlah.... Kita coba lagi tahun depan....

Di penghujung tahun 2014 ini, aku merasa bahwa Tuhan sangat menyayangi dan menjagaku. Melalui berkah, rizki, kesehatan, kebahagiaan, anugerah, serta cobaan yang datang lengkap tanpa kurang suatu apapun, Dia memberikan nikmat-Nya kepadaku. Bersama dengan keluarga kecilku, kami songsong semua rizky yang sudah disiapkan oleh -Nya untuk kami. Dan aku kembali bersyukur tiada terkira ketika menatap orang-orang yang kucintai satu persatu. Nikmat Tuhan yang Mana Lagi yang Engkau Dustakan, Anak Muda :-)

Satu hal baru yang kami niat dan lakukan, dan mudah-mudahan bisa konsisten sampai nanti adalah celengan akhir tahun. Tahun 2014, celengan kami namanya Kodok Tasari. Seharusnya, Kodok Tasari ini berjalan, bermain, dan tumbuh bersama dengan tabel 52 weeks money challenge yang kutempel di meja kerjaku. Namun apa daya. Masalah konsistensi masih menjadi yang pertama. Gatot alias gagal total. Hanya 10% tingkat keberhasilan saja. Tapi, lumayan lah.... Daripada tidak sama sekali. Tahun depan, mudah-mudahan bisa lebih konsisten lagi. ^_^

Liburan akhir tahun 2014?

 

 

Rencana kami sedikit mundur karena ayahnya  Kirania mendadak harus ke luar kota. Jadi agenda diundur semua. Akhir tahun kami lalui di..... Pantai Anyer.... Whooaaaaa *kata Kirania.

Ya, kami pulang kampung lagi. Aku selalu semangat pulang kampung ke kampung ayahnya Kirania. Sudah pasti karena pantainya... hahaha. Pantai adalah tempat aku dengan rela menghabiskan waktu untuk sekedar leyeh-leyeh, duduk-duduk, ngobrol, bercengkerama dengan alam ataupun dengan orang, bermain pasir bersama Kirania, atau berenang-renang kecil ditepian.

Namun sayang sekali. Akhir tahun ini, rupanya hujan mendera seluruh daerah di Indonesia. Mengutip celotehan beberapa orang di dunia maya, katanya doa-doa para jombloers sedang dikabulkan oleh Tuhan. Hujan merata sehingga agenda menikmati pantai pun sedikit terganggu. Harus berlomba-lomba dengan waktu antara berteduh disaung ketika hujan dan berlari ke pantai ketika hujan sedikit reda. It was fun!


Oh iya, selain agenda memantai, ada juga agenda ngemoll karena nenek nya Kirania bosan dirumah dan pengen jalan-jalan ke kota. Akhirnya kami menghabiskan waktu di TimeZone. Sesuatu yang akhirnya kami pikir ulang karena Kirania terlalu menikmati permainan-permainan yang ada disana hingga ingin lagi dan lagi. :-p

Selamat menyongsong tahun baru untuk semuanya, mudah-mudahan apa yang direncanakan di tahun 2014 tercapai sesuai harapan, dan juga mudah-mudahan kita semua diberikan berkah dan nikmat Tuhan di tahun 2015.


Thursday, November 20, 2014

I Want to Go to Cambridge

Once upon a time (kesan nya tua sekali ya)... Kirania mendapatkan oleh-oleh dari Budhe Dessy yang di belinya di Cambridge. So sweeeettt... Thank you so much budhe...

Oleh-olehnya berupa kaos lengan panjang pake kupluk gitu. Yang paling membuatku senang adalah tulisan yang ada di kaos itu. Disitu tertulis "When I grow up, I want to go to Cambridge".

Kaos itu sebetulnya ukuran 3, dibeli waktu Kirania masih berumur sekian bulan. Dan baru pas dibadan Kirania sekarang ini. Alhamdulillah... Mengurangi jatah beli baju bulan ini :-)

Kembali ke tulisan tentang Cambridge. Duuuh, setiap kali melirik Kirania dan membaca tulisan itu, aku langsung mengucapkan Aamiin banyak2. Mudah2an tulisan yang merupakan doa itu, bisa di kabulkan oleh-Nya. Aamiin lagi.

Aim high dear Kirania... Cambridge, Oxford, Mayo clinic, MIT, UI, IPB, UGM, ISI, Akbid, Home Sweet Home, kemanapun atau dimanapun kamu nantinya, We will always there to catch you... :-)

"When I Grow Up, I Want to Go to Cambridge" T-shirt

Kata orang kan kalau berdoa harus spesifik, agar Tuhan tidak bingung mengabulkannya. Dan agar kita fokus juga mengejarnya. Meskipun masih jauh, tapi tidak ada salahnya di Bismillah-kan sekarang, di Aamiin kan setiap hari, agar di kabulkan pada saatnya nanti. Aamiin lagi :-)

Oh iya, info yang nggak penting banget. Sekarang kami sudah resmi menjadi warga Kota Bogor pemirsa. Soooo whatttt??? Nothing :-p

Monday, November 17, 2014

Sentuhan Maut dari Seorang Ibu

I only kid who playing as a kids....
Hari ini anakku manis sekali. Dia mau main sama tetehnya di garasi. Biasanya, dia maunya sama ibunya saja. Sepertinya dia sudah semakin akrab dan percaya pada tetehnya yang kesekian ini. Cerita panjang seputar per teteh-an. Kisah Klasik Untuk Ujian Iman katanya... :-p

Tak berapa lama anak ku main di garasi, terdengar tangisan tersedu2 anak kecil. Penasaran emak2 ini keluar, mengintiplah aku di jendela. Kubuat lubang dari sisi gorden sekecil2 nya agar tidak nampak oleh pihak yang di intip. Rupanya, tetangga depan. Anaknya yang laki2 menangis tersedu2 duduk dikursi teras, ibunya menghampiri dengan memunggungiku. Tangan kiri pegang HP, tangan kanan melancarkan aksi cubitan ke anaknya yang sedang menangis. Bertubi2 hingga anakknya nampak kesakitan sekali. Duuuhh....

Entah karena aku sudah punya anak sendiri, atau entah karena aku jadi ingat masa2 itu. Masa ketika ibuku juga sering melancarkan aksi cubit2an. Cubit2an itu judulnya, agar terdengar sedikit manis. Karena pada kenyataannya, ada saja bekas biru yang tertinggal, dan rasa memarnya bertahan sampai cubitan selanjutnya datang. hehehee... Bukan untuk menjelek2an ibuku, karena memang seribu satu alasan beliau melakukannya. Sebagai pelajaran untukku, agar mengambil yang baik dan meninggalkan yang kurang baik. Itu saja :-)

Kembali kepada perasaanku melihat cubit2an itu. Hatiku tiba2 terasa... sriiittt...sriiittt... (sulit menggambarkan hati yang tersayat2). Karena tak tega, akupun keluar. Dalihnya sih bermain dengan anakku sendiri. Sambil hasil sampingannya adalah menghibur si anak yang menangis. Anak yang menangis itu akhirnya digendong oleh ibu2 yang biasa mengasuhnya, sambil terus menangis dan bilang sakit, memegangi pahanya... 

"Cup...cup... kakak... Jangan menangis... main sini aja... " Kataku membahasakan anakku. 

Si anak masih menangis, dan akhirnya di ajak kewarung untuk jajan. Sedih sekali rasanya.... 

Cubit2an adalah salah satu hal yang masuk dalam daftar hitamku. Daftar yang harus di hindari, dijauhi, dan jangan sampai dilakukan. Naudzubillah... 

Mudah2an, dalam perjalananku membantu, menemani, dan mendukung anak2ku tumbuh, tidak ada yang namanya cubit2 lebam dikamus anakku. Aamin...

Bagi anak kecil, yang terlahir tanpa bisa memilih, tanpa bisa mengajukan syarat, dan tanpa bisa menolak, mereka akan merasa bingung dan bertanya2, kenapa gerangan ibunya mencubitinya? Apa yang sudah kulakukan? Aku kan hanya bermain, dan beraktivitas layaknya anak kecil pada umumnya? *mungkin begitu perasaan mereka. 

Lesson Learn :
"Take the good, leave the bad"