Tuesday, July 10, 2012

Show Me The Way

I know that You've gave me a lot
How dare me to ask more and more
I know that You've gave me more than i need
How dare me keep wanting more and more

I will only say what i feel to the air,
Hope that You will hug them tightly
Because i believe that we can lose treasure,
But we can't lose dream and faith


Let's sing a beautiful and meaningful song :p

Every night I say prayer in the hope that there's a heaven
And every day I'm more confused as the saints turn into sinners
All the heroes and legends I knew as a child have fallen to idols of clay
And I feel this empty place inside so afraid that I've lost my faith

Show me the way, show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away
Show me the way

And as I slowly drift to sleep, for a moment dreams are sacred
I close my eyes and know there's peace in a world so filled with hatred
That I wake up each morning and turn on the news to find we've so far to go
And I keep on hoping for a sign, so afraid that I just won't know

Show me the way, Show me the way
Take me tonight to the mountain
And wash my confusion away

And if I feel light, should I believe
Tell me how will I know

Show me the way, Show me the way
Take me tonight to the river
And wash my illusions away

Show me the way, Shoe me the way
Give me the strength and the courage
To believe that I'll get there someday
Show me the way

Every night I say a prayer
In the hope that there's a heaven... 

Saturday, June 30, 2012

Berteman Tanpa Memilih

Sebelum menulis cerita ini, dikepalaku berhilir mudik pikiran, sedikit kebingungan, sedikit penasaran, sedikit kegelisahan, dan sedikit keengganan. Pada mulanya aku kepengen sekali langsung menulis tentang hal remeh ini, pertama kali aku mendengar dan melihat sebuah kondisi, namun kemudian aku urungkan karena sepertinya ini memang tidak penting. Namun, lama kelamaan kondisi ini semakin sering terjadi diluar jendelaku, sehingga aku semakin ingin menulisnya. :)

Harap di maklum, setelah pindah tempat tinggal, banyak hal baru yang berubah dalam keseharianku. Dulu, biasanya aku akan melewati jam kerja dalam suasana hening, terkadang suara cuitan burung2 kecil, dan hembusan angin menerpa dedaunan di luar jendela (tidak termasuk kehebohan yang terjadi ketika aku bertemu muka dan beradu mulut dengan para penghuni kosan yang lain lho... Kalau itu sih, wuidiihhh.... Hebohnya ngalah2in suara badai... hehehheee).

Nah, sekarang??? 180 derajat berubah total.... Mulai dari aku membuka mata, suara hiruk pikuk dan riuh rendah selalu terdengar dari balik dinding rumahku. Pagi2, ketika mataku baru mulai terbuka, tetangga depan pasti sudah sibuk dengan segala macam pekerjaan mulai dari mencuci piring, menyapu halaman, mengangkat tempat jemuran, memanaskan mobil, dll. Hal itu yang kemudian menjadi "alarm wajib bangun" bagiku dan baginya yang namanya tak boleh disebut. Bukan alarm untuk bangun dan beraktifitas, tapi untuk bangun, mematikan lampu teras, membuka gorden dan jendela, dan kemudian kembali lagi ke tempat tidur untuk sekedar mengumpulkan nyawa.... Psssstttt.... Itu hanya untuk menunjukkan pada dunia, bahwa kami sudah bangun pagi, layaknya para tetangga yang lainnya.... hahahhaaaa

Musim liburan anak sekolah ini, membuatku semakin *sedikit* tersiksa. Mulai dari pagi sampai petang, jalanan didepan rumahku akan menjadi ajang permainan drama untuk anak2 kompleks yang kebanyakan berusia sepantaran. Mereka selalu berjalan hilir mudik dari ujung ke ujung, bersepeda, bercengkerama, bercerita, bertengkar, bermain drama, dan banyak lagi aktifitasnya yang luar biasa. Rasanya, aku seperti bekerja sambil mendengarkan siaran radio yang tanpa henti. :)

Dari balik jendela ini, aku mau tidak mau harus mengikuti kisah (baik yang merupakan kisah nyata dan juga kisah yang benar2 drama) mereka. Dunia anak memang dunia yang penuh warna dan keceriaan. Tidak pernah habis kisah yang bisa mereka buat untuk melewati hari2 mereka yang panjang.

Ada satu hal yang membuatku tergelitik dari tingkah polah anak2 ini... Yaitu bagaimana mereka memilih teman untuk bermain. Terkadang, lebih karena 'bagaimana orang tua mereka memilihkan teman untuk bermain mereka'. Yups... Rupanya, meskipun mereka masih anak2 yang bebas, belum perlu memikirkan masalah keduniaan, tapi ada bagian dari mereka yang memang dipengaruhi oleh orang2 dewasa yang berkepentingan.

Seperti kejadian sore tadi...
Laiknya hari-hari sebelumnya, dimana aku yang masih penghuni baru ini berusaha bersilaturahmi dengan tetangga dengan cara ikut berbincang-bincang ringan dijalan depan rumah. Anak-anak komplek riuh rendah bermain disepanjang jalanan itu. Ada yang naik sepeda, ada yang bermain drama, ada yang boi-boi nan, dan masih banyak lagi aktifitas sore tadi. Kami, ibu-ibu hanya duduk berbincang sambil mengamati anak-anak mereka bermain. Namanya juga anak-anak, mereka bermain bebas kesana-kesini sesuka hati. Setidaknya menurutku begitu.

Namun rupanya tidak 100% betul. Seorang ibu yang sedang duduk-duduk bersamaku, tiba-tiba memanggil anaknya (sebut saja namanya raja) yang sedang bergerak menuju temannya yang bermain drama.
"Eh.... Raja, jangan main disana. Sini sebentar mama bilangin."

Dan ketika si anak mendekat dengan setengah cemberut, si ibunya pun membisikkan sesuatu yang masih bisa tertangkap radar ku. Kalau tidak salah begini wejangan dari si ibu:
"Raja nggak boleh main sama itu (nunjuk anak2 yang sedang bermain)... Raja main sama itu aja (nunjuk anak lain yang bermain dilokasi berbeda"
"Kenapa ma?" Tanya anak
"Pokoknya kalau mama bilang nggak boleh ya nggak boleh... Sana main sama itu... Mama lihatin dari sini..."

Si anak pun dengan tidak bergairah berjalan ke arah anak-anak yang direkomendasikan mamanya.
Tanpa sengaja, segurat senyum miris tersungging di bibir ku. Beruntung aku masih cukup sadar untuk segera menarik senyuman itu kembali sebelum si ibu itu melihat ke arahku. Akhirnya kemirisan turun dari mulut ke hati. Dalam hati aku berniat dan berdoa "Ya Tuhan... Jika tiba masanya nanti aku kau anugerahi seorang atau beberapa orang anak, maka janganlah kau ijinkan aku menjadi ibu yang pilih-pilih seperti ini. Ingatkan aku agar selalu memberi keleluasaan pada anakku dalam memilih temannya. Promise me to always lead my way, Tuhan..."

Image Source here

Sore itu berlalu dengan hambar....
Ibu-ibu... Biarkalah anak-anak bermain dengan semua temannya.... Pada masanya nanti mereka hanya akan punya kenangan indah mengenai mereka. Karena anak-anak kita akan menemukan dunia baru mereka, tapi tetap tak kan pernah lupa masa kecilnya. Biarkanlah mereka berbahagia dengan cara mereka...

Tuesday, June 19, 2012

Metamorfose Sebuah Ritssluiting


Siang ini sepertinya aku kecolongan. Cuaca panas sekali, padahal aku tidak mencuci pakaian. Atau jangan2 cuaca hari ini panas karena aku tidak mencuci? hehehe.... Sorry, aku memang suka GR sendiri... :p

Siang2 panas begini, tiba tiba aku pengen menuliskan sesuatu yang 'nggak meaning' banget kayaknya... Yaitu tentang Ritssluiting.... 

Ya benar... tentang ritssluiting... bukan yang lain. Dan ini memang ritssluiting yang sering kita gunakan itu. Mungkin sebagian besar orang hampir setiap hari berhubungan dengan benda yang namanya ritssluiting ini. Di Tas, baju, jaket, dompet, bahkan kadang di sepatu, benda ini sering sekali eksis... :)

Aku hanya ingin menuliskan tentang ritssluiting yang berhubungan langsung dengan kehidupanku yang baru. Begini ceritanya... Aku punya satu baju favorit (karena memang hanya itu satu2nya bajuku yang layak di pakai dalam acara semi resmi) yang menggunakan ritssluiting di bagian depannya. Baju ini sebetulnya adalah baju teman kuliahku, yang karena faktor waktu, akhirnya berbalik nama menjadi milikku... hehehhee

Nah, baju ini sudah aku pakai sejak jaman kuliah, yang berarti sudah sekian ratus kali aku pakai. Dan dalam setiap kali pemakaiannya, aku selalu hanya mengancingkan/menutup setengah (kadang juga kurang) dari panjang ritssluiting itu. Setengahnya lagi aku biarkan terbuka, untuk sekedar memberi ruang bagi angin yang kepingin masuk, atau juga untuk sekedar meniupkan sedikit kepercayaan diriku (nggak tau juga alasannya kenapa). Dan selama ini, semua berjalan lancar tanpa ada kendala apapun oleh siapapun... 

Sampai pada akhirnya, beberapa hari yang lalu. Aku tergerak untuk memakai kembali baju itu ke sebuah acara semi resmi di almamater kampusku. Aku bersiap seperti biasanya, dan siap berpamitan padanya yang namanya tak pernah kusebut, who happen to be my husband. hehehe... 

Dan tau apa yang terjadi??? 
Terrroooreeetttt..... 
" Itu bajunya makenya yang bener donk...." katanya
" Lho, kenapa emang?" tanyaku sambil ngecek kanan kiri baju takut2 ada yang kusut atau berlipat.
" Ritssluiting nya di naikin lah... Jangan kayak gitu... Kayak yang nggak niat aja pakenya...."
" Lho, selama ini juga aku pakainya begini kan?" 
" Iya, tapi sekarang nggak bisa segitu lagi... Naikin... Segini nih..." katanya sambil menarik ritssluiting ku ke atas sampai nyaris membuatku tercekik...
" Apaan nih... ini mah kayak orang cupu... Segini udah bener tau...." kataku sambil kembali menariknya turun.
" Nggak boleh... Segini deh... " katanya sambil kembali menariknya ke atas. Kali ini tidak sampai puncak, hanya 3/4 saja.
" Ah, enggak ah... gerah... segini deh... " Kataku sambil kembali menurunkannya hingga setengah lebih sedikit... Diapun mengernyitkan dahi sambil menimang2 dalam kepalanya dan akhirnya berkata:
" Boleh deh segitu....."

See???? 
Penting banget nggak sih mendebatkan seberapa tinggi ritssluiting kita bisa kita gunakan? Sebetulnya sama sekali tidak penting menurutku. Namun karena tuntutan status, mau tidak mau memang harus ada negosiasi hingga tercapai kesepakatan. Dengan tersenyum2 kecil, akupun bergumam:
"Sejak kapan sih aku harus dengerin n nurut sama perintahmu begini?"

Dan kamipun tertawa bersama. Ada hal2 menarik yang terjadi dan masih sering membuat kami tergelak2 jika mengingatnya beberapa waktu kemudian. Mungkin bagi beberapa orang, perdebatan kecil begini bisa menjadi perang badar atau pertengkaran jika dibawa ke hati. Misalkan saja tidak ada yang mau mengalah, maka naik turunnya ritssluiting ini akan berganti menjadi maju mundurnya pisau untuk berantem. hweeekkekeeke

Ritssluiting ini hanyalah sebuah gambaran kecil bagaimana sebuah hubungan interaksi antara 2 individu yang disatukan oleh status. Masih banyak lagi ritssluiting2 lain yang memerlukan diskusi, negosiasi, dan perdebatan kecil hingga tercapainya sebuah kata sepakat. Kadang itu terasa mudah, namun kadang juga terasa sulit. Tergantung bagaimana kita menerima, merasakan, menghadapi, dan menyelesaikannya. Mudah2an jalan panjang yang terbentang didepan sana akan dapat kami lalui semudah dan seindah kala kami melewati perdebatan tentang ritssluiting ini. :p

That's married are for... 
To negotiate everything...
To get the agreement between 2 parties...
And to laughing together once the result decided...

So far so good.... ^_^

Friday, June 8, 2012

The Day My New Life Begins

This is the story about 'oneday'
Oneday when my new life has just begun
You and Me...
Promise each other...
To spend the rest of our life,
Until death do us apart...

We... Together to be better... Insya Allah, Amin ^_^


****** 


Today's the day my new life begins.
All my life, I've been just me
Just a smart-mouth kid

Today I become a grown-up
Today I become a couple
Today I become a citizen of the world

Today I become countable
to someone other than myself.
Today I become countable to the future.

To all the possibilities
that marriage has been offered.

Together,
No matter what happens,
i'll be ready...

For anything...
For everything...

To take on life, to take on love,
to take all the possibilities and responsibilities.

Today....
Our life together begins...

And I, for one, can't wait.


****** 









Thank you so much for all dear friends,
For attending on my wedding ceremonies,
And for thinking of us on this special moment in our life
God bless you all ^_^

Thursday, June 7, 2012

Sule - Ay Need You!!!


Kalau ada yang menanyaiku "Siapa artis Indonesia yang kamu sukai?", aku yakin aku akan menjawab "Sule...!!!"

Tidak masalah jika orang kemudian akan tertawa ngakak atau mencibir nyinyir, karena aku memang mengidolakan Sule. Menurutku, dia artis komedi yang sangat berbakat. Layak untuk di idolakan... :)

Karenanya, aku selalu berusaha untuk menyaksikan acara2 Sule seperti OVJ, Awas ada Sule, pelem2 pendek di tipi, dan juga pelem layar lebarnya. Yang paling gress adalah pelem layar lebarnya yang berjudul "Sule, Ay need you". Akhirnya aku berhasil merayu Dia untuk menemaniku nonton pelem ini di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Hujan ini. 

Menurut pendapatku, pelem si Sule ini cukup layak di tonton oleh segala tingkatan umur lho.... Bahkan, jika di lihat dari sisi keamanan psikis, pelem ini sangat recomended untuk di tonton mulain dari usia basata sampai dengan manula. Kenapa? Karena aku tidak menemukan adegan2 yang tidak senonoh sepanjang pertunjukan. Bahkan tidak ada kata2 kotor atau yang mengandung unsur kebun binatang yang keluar dari bibir para pemain. Yang ada justu sisipan2 pesan moral yang dengan cantik disematkan dalam pelem ini. Good to go lah pokoke.... :)

Berikut adalah beberapa pelajaran positif yang berusaha disematkan dalam pelem Sule, Ay need you, menurut versiku:

1. Bapak Sule yang gila karena gagal terpilih sebagai kepala desa
Pesan: Jika menginginkan jabatan tertentu, jangan terlalu berambisi untuk menang, karena jika kalah hanya akan menimbulkan kekecewaan dan stress berat. Sebelum mencalonkan diri, musti menyiapkan mental untuk gagal, jangan sampai hanya punya mental menang saja.

2. Ketika Ayla hampir kecopetan di metromini
Pesan: Jangan terlena pada paras/rupa/wajah tampan seseorang yang tidak kita kenal, karena tidak sedikit orang yang menyalahgunakannya untuk menipu dan mencopet.

3. Ketika om-nya Dafa menulis skenario sinetron dan ternyata keponakannya mempraktekkan skenarionya untuk kabur dari rumah
Pesan: Untuk penulis script sinetron, film, iklan, atau apapun yang tayang di media, harus benar2 memikirkan pengaruh terhadap para penonton. Harus menghindari cerita yang mengundang penonton untuk mengikuti dan melakukan perbuatan yang tidak terpuji.

4. Ketika akhirnya Sule pulang kampung dan rela melepaskan Ayla
Pesan: Terkadang memang perlu memperhatikan kemungkinan/possibility/peluang untuk mendapatkan seseorang yang kita sukai.... Tidak bisa selamanya cerita dongeng itu bisa kita alami di dunia nyata.

5. Masih banyak pesan2 kecil yang ada didalam cerita pelem Sule ini. Go get the ticket, and you will never regret....!!! :p 

Ada sinopsis dan cuplikan ceritanya disini dan disini

Oh iya, sepanjang pertunjukan pelem Si Sule ini, seantero ruangan Studio 1 itu riuh rendah dengan suara tawa dari segala macam usia. Ada tawa ngakak riang dan ringan dari anak2 kecil, ada tawa malu2 para remaja, dan tawa berat dan padat ala orang2 tua... Semua usia, semua-mua tertawa terbahak2 karena tingkah polah Sule dan kawan2nya.... hahahhahaaa.... :p

Tuesday, June 5, 2012

Laksana Sang Dewi Shinta

Pernah mendengar kisah mengenai Dewi Shinta yang dilindungi oleh garis batas agar tidak diganggu oleh musuh..... ???

Nah, beberapa hari belakangan ini, aku merasa laksana sang Dewi Shinta dirumahku sendiri. Berusaha melindungi diri dengan menorehkan garis yang mengitari rumahku, dengan tujuan untuk menghambat sesuatu yang buruk melewatinya. Dalam hal ini, siapa yang menjadi sesuatu yang buruk itu? ya, betul... S E M U T. Hewan ajaib yang di ciptakan Tuhan dengan semua kelebihan dan kekurangannya.

Picture Source Here
Entah kenapa, si makhluk mungil ini selalu saja datang dan datang ke rumahku. Sebetulnya, semutnya hanya 1 ekor, tapi teman-temannya banyak sekali. Dan si semut tidak pernah datang sendirian. Dia selalu mengajak rombongan temannya. Setiap aku lengah sedikit saja, maka dalam sekejap mata si semut ini pasti sudah menancapkan bendera kekuasaannya. Tanda bahwa dia memenangkan area itu. Oh My... :(

The minute i started to live in this house, the minute itu pula aku mulai bersaing dengan makhluk mungil ini. Konon kabarnya, perumahan ini memang memiliki sejarah penimbunan sampah yang buruk. Semua lahan yang digunakan untuk mendirikan bangunan, ditimbun dengan sampah2 yang diambil entah dari mana. Maka, tidak heran akhirnya jika kerajaan semut menguasai setiap jengkal tanah ini.

Awalnya, aku hanya kesal, membantai mereka dengan tangan, kaki, dan benda2 yang ada disekitarku saja. Namun lama2, karena teman2 semut ini tidak pernah berhenti datang dan cenderung bertambah berkali2 lipat, maka akupun segera mencari strategy yang mumpuni untuk melawan mereka.

Setelah mencari referensi kesana dan kesini, akhirnya aku menentukan senjata ampuh apa yang bisa digunakan untuk mengusir makhluk2 tak di undang itu. K A P U R B * * * S. Awalnya aku coba2 saja dan menggunakannya diwilayah terbatas dimana gerombolan semut berada. Di sekitar kompor masak misalkan. Aku buatkan garis batas lingkaran diseputar gerombolan semut, dan ternyata semut2 didalamnya sukses klenger. W O W.

Akhirnya aku perluas area jelajah Kapur Ajaib ini. Disetiap gerombolan semut berada, aku gambarkan garis batasnya. Akhirnya dengan sedikit sentuhan kreatif gambarnya pun mulai bervariasi, tidak melulu lingkaran. :-)

Beberapa hari seolah balapan dengan kaum semut, rasanya aku mulai merasa lelah dan putus asa. Semut2 ini pandai sekali mencari celah. Di batasi disini, bikin jalan baru di situ. Di garis lagi disitu, bikin barisan lagi disana. ppffiiuuh...

Puncaknya, aku berfikir untuk menggunakan siasat Dewi Shinta saja. Sekeliling rumah yang dipagari oleh Kapur Ajaib ini. Harapannya sih agar tidak ada lagi semut yang bisa masuk kerumah ini. Bismillah... Mudah2an berhasil. Smangadh!!!

Dilancarkan lah aksi garis batas itu. Aku menggosok dan mengoleskan kapur ini di setiap sudut terluar rumah ini. Sampai memanjat tembok pun aku lakukan demi keamanan nasional dalam negri rumah ini. Hasilnya??? W O W lagi... berhasil sodara2... Beberapa hari tidak ada semut yang muncul dirumah kami. Alhamdulillah... Tenanglah hati ini melakukan rutinitas sehari2 tanpa harus mengalokasikan waktu untuk berperang melawan semut.

Dewi Shinta pun merasa tenang didalam istana paling indahnya.... :-)

Tapi rupanya ada faktor yang aku lupakan dalam pelaksanaan strategy perang ini. Bahwa rumah ini ada di kawasan Bogor yang notabene hujan dan panas datang tanpa pernah memberi kabar terlebih dahulu. Dan bahwa hujan dan panas itu dapat dengan mudah menghapuskan tanda batas yang telah aku goreskan. Kesadaran akan kekeliruan yang kuperbuat ini muncul ketika suatu pagi aku lihat semut dan teman2nya kembali nangkring di atas mesin cuci yang kami gunakan sebagai meja penampung makanan. hahahahaa...

Peperangan pun kembali di lanjutkan. Smangadh!!!

Sunday, June 3, 2012

My 2nd Sunday in My New House

Alhamdulillah.... 

Million thanks to Allah SWT... Untuk semua hal yang sudah diberikan-Nya kepadaku, kepada orang2 disekelilingku. Duuuh, nggak cukup deh ngungkapin syukur ini kalau dihitung2... Betul sekali kalimat yang berbunyi: "Nikmat Tuhan yang mana lagi yang engkau dustakan???" heheheee

Hari ini, adalah hari minggu keduaku di rumah baru (yang masih rumah orang) ini. Karena sudah minggu kedua, sepertinya segala sesuatu mulai mengarah pada rytme tertentu. Ada sesuatu yang berulang setiap hari, ada sesuatu yang berulang setiap beberapa hari, dan ada sesuatu yang (berusaha) aku tinggalkan... It's pretty much challenging though.... :)

Mengingat bahwa saat pertama kali kami merebahkan badan di rumah ini, hanya dengan modal kasur angin yang kami beli sewaktu ada pameran di Botani Square. Itupun, pagi2 pasti aku menemukan dia yang namanya tak boleh disebut sudah menggelepar di karpet karena katanya tidak betah tidur di kasur angin. Panass... :)


Minggu kedua ini, rasanya isi rumah langsung berubah secara mendadak. Saat ini, sudah layak disebut rumah, dan tidak terlalu nampak bahwa kami adalah pasangan yang baru menikah sekitar 3 minggu yang lalu. Dan itu semua, rasanya sangat2 tidak terlepas dari temen2 dari Kantor Ikan. Hampir semua isi rumah ini, ada cap kantor ikannya.... Subhanallah sekali teteh... :p

Beberapa waktu lalu, kasur datang untuk yang pertama kalinya. Cihuyyyyy.... akhirnya aku sudah bisa mengucapkan say goodbye sama kasur anginku. Dia akan bersandar manis di ruang depan, siapa tahu ada teman yang melawat atau bertandang dan menginap. hohohoho....

Hasil dari perburuan yang Mbak Yuli, Mbak Dessy, dan aku lakukan beberapa waktu lalu, akhirnya lengkap datang kerumah setelah 3 hari pemesanan dalam bentuk beberapa kardus2 besar. Harus menunggu sehari lagi untuk dapat melihat wujud bendanya terpasang manis dirumah ini. Dan jreng...jreng.... Tadi malam, datanglah dua orang mas-mas (entah orang sunda atau jawa, yang penting mas-mas) yang kemudian bekerja dengan cekatan dan menyulap bentuk2 kardus itu menjadi sesuatu... Yuhuuuuu....


Pertama2, yang mereka tanyakan adalah "Nanti akan diletakkan dimana lemari dan tempat tidurnya bu?" Setelah aku bilang bahwa tempat tidur dan lemari dikamar belakang saja, merekapun langsung bekerja dan bekerja. Aku dan dia yang namanya tak boleh disebut, sibuk berdebat tentang pemilihan kamar. Kenapa nggak dikamar depan, karena kamar depan untuk bla...bla..bla... Perdebatan yang nggak penting, secara si mas2nya juga terus bekerja merakit benda2nya. 

Tak berapa lama kemudian, mereka bilang kalau lemari nya sudah selesai. Assyiiikkk.... Aku dan diapun langsung tunggang langgang mengintip ke dalam kamar... Siiiippp.... Begini jadinya:


Sudah terbayang rasanya mengangkut baju2ku yang masih numpang di kosan padahal orangnya sudah tidak ada disana. Kemudian aku juga memetakan kardus2 kebayaku yang akan diletakkan disana, barang2 yang lain disini, dll.... Dia juga sudah mulai membayangkan bagaimana jaket2 nya akan digantung disana, dan bla..bla..bla... hahhaa.... Maklumlah... Belum pernah punya lemari yang ada gantungannya selama di Bogor... :)

Agenda kedua yang dilakukan si mas2 adalah memasang tempat tidur... Aku sedikit khawatir apakah nantinya akan muat atau tidak itu kamar kalau untuk lemari dan tempat tidur. Tapi kata mereka, masih muat koq bu... (*duuhh, ibu2 banget gw yaks? :p )

Beberapa saat kemudian..... jreng.... Selesaiiii.... Beginilah jadinya setelah kasur yang sebelumnya datang dipasangkan:


Alhamdulillah.... Sesuatu sekali bukaaaaaannn? :p
Ayooo, buat yang mau nginep, silakan datang ke rumah... Kita tidur ditempat tidur ini.... Syaratnya cuma satu koq... Perempuan dan berorientasi seksual straight... hheheheheee

Oh iya, masih ada satu lagi yang belun di stel, yaitu sofa... Tapi pemasangan sofa ini sangat sebentar sekali. Hanya perlu di keluarkan dari kardus, di tes sandarannya bisa tegak, miring, dan melebar, dan kemudian dipasanglah 4 kakinya... Tarrrraaaa.... Jadi deeehhh.... Untuk pemanis awal, aku berikan sentuhan kecil dengan kain yang dibeli oleh dia sewaktu ada trip ke Kupang.... See below:


Daaaaannnn.... Yang tak kalah penting dari semua isi rumah ini adalah sepasang alat penopang kehidupan ini. Dari kombinasi kedua alat ini, aku sudah berhasil menciptakan beberapa mahakarya yang tidak akan bisa diciptakan oleh orang lain seperti Sop tanpa garam, tumis kacang panjang dan tempe bumbu kurang, tumis bunga pepaya campur wortel, dan beberapa karya kecil seperti tempe gosong dan sebagainya... Next time, I promise that it would be better.... Ciaiyoooo.... :)


Semua produk2 di atas adalah cap ikan semuanya... Mereka semua, teman2 kami, bahu membahu untuk membantu kehidupan baru kami. Mempermudah dan meringankan beban kami sebagai pasangan baru. Mudah2an semua kebaikan mereka mendapatkan hitungan pahala yang berlimpah, dan untuk mereka juga mudah2an selalu diberikan kelancara rizki dan kesehatan sepanjang masa. Amin. 

Selain apa yang aku sebutkan diatas, banyak sekali bantuan yang diberikan oleh teman2 kami, hanya saja masih banyak diantaranya yang tertinggal di Jogja dan baru akan kami angkut bulan depan. Terima kasih untuk semuanya, kehidupan baru kami ini rasanya lebih mudah dengan adanya kalian. Mudah2an Tuhan memberikan yang terbaik untuk kalian semua....

Untuk semua teman dan saudara, pintu rumah kami selalu terbuka lhoooo.... Monggo2 silakan datang kesini... Berkunjung, bertandang, menginap juga boleeehhh... Please, feel free to come yaaaa ^_^