Tuesday, June 5, 2012

Laksana Sang Dewi Shinta

Pernah mendengar kisah mengenai Dewi Shinta yang dilindungi oleh garis batas agar tidak diganggu oleh musuh..... ???

Nah, beberapa hari belakangan ini, aku merasa laksana sang Dewi Shinta dirumahku sendiri. Berusaha melindungi diri dengan menorehkan garis yang mengitari rumahku, dengan tujuan untuk menghambat sesuatu yang buruk melewatinya. Dalam hal ini, siapa yang menjadi sesuatu yang buruk itu? ya, betul... S E M U T. Hewan ajaib yang di ciptakan Tuhan dengan semua kelebihan dan kekurangannya.

Picture Source Here
Entah kenapa, si makhluk mungil ini selalu saja datang dan datang ke rumahku. Sebetulnya, semutnya hanya 1 ekor, tapi teman-temannya banyak sekali. Dan si semut tidak pernah datang sendirian. Dia selalu mengajak rombongan temannya. Setiap aku lengah sedikit saja, maka dalam sekejap mata si semut ini pasti sudah menancapkan bendera kekuasaannya. Tanda bahwa dia memenangkan area itu. Oh My... :(

The minute i started to live in this house, the minute itu pula aku mulai bersaing dengan makhluk mungil ini. Konon kabarnya, perumahan ini memang memiliki sejarah penimbunan sampah yang buruk. Semua lahan yang digunakan untuk mendirikan bangunan, ditimbun dengan sampah2 yang diambil entah dari mana. Maka, tidak heran akhirnya jika kerajaan semut menguasai setiap jengkal tanah ini.

Awalnya, aku hanya kesal, membantai mereka dengan tangan, kaki, dan benda2 yang ada disekitarku saja. Namun lama2, karena teman2 semut ini tidak pernah berhenti datang dan cenderung bertambah berkali2 lipat, maka akupun segera mencari strategy yang mumpuni untuk melawan mereka.

Setelah mencari referensi kesana dan kesini, akhirnya aku menentukan senjata ampuh apa yang bisa digunakan untuk mengusir makhluk2 tak di undang itu. K A P U R B * * * S. Awalnya aku coba2 saja dan menggunakannya diwilayah terbatas dimana gerombolan semut berada. Di sekitar kompor masak misalkan. Aku buatkan garis batas lingkaran diseputar gerombolan semut, dan ternyata semut2 didalamnya sukses klenger. W O W.

Akhirnya aku perluas area jelajah Kapur Ajaib ini. Disetiap gerombolan semut berada, aku gambarkan garis batasnya. Akhirnya dengan sedikit sentuhan kreatif gambarnya pun mulai bervariasi, tidak melulu lingkaran. :-)

Beberapa hari seolah balapan dengan kaum semut, rasanya aku mulai merasa lelah dan putus asa. Semut2 ini pandai sekali mencari celah. Di batasi disini, bikin jalan baru di situ. Di garis lagi disitu, bikin barisan lagi disana. ppffiiuuh...

Puncaknya, aku berfikir untuk menggunakan siasat Dewi Shinta saja. Sekeliling rumah yang dipagari oleh Kapur Ajaib ini. Harapannya sih agar tidak ada lagi semut yang bisa masuk kerumah ini. Bismillah... Mudah2an berhasil. Smangadh!!!

Dilancarkan lah aksi garis batas itu. Aku menggosok dan mengoleskan kapur ini di setiap sudut terluar rumah ini. Sampai memanjat tembok pun aku lakukan demi keamanan nasional dalam negri rumah ini. Hasilnya??? W O W lagi... berhasil sodara2... Beberapa hari tidak ada semut yang muncul dirumah kami. Alhamdulillah... Tenanglah hati ini melakukan rutinitas sehari2 tanpa harus mengalokasikan waktu untuk berperang melawan semut.

Dewi Shinta pun merasa tenang didalam istana paling indahnya.... :-)

Tapi rupanya ada faktor yang aku lupakan dalam pelaksanaan strategy perang ini. Bahwa rumah ini ada di kawasan Bogor yang notabene hujan dan panas datang tanpa pernah memberi kabar terlebih dahulu. Dan bahwa hujan dan panas itu dapat dengan mudah menghapuskan tanda batas yang telah aku goreskan. Kesadaran akan kekeliruan yang kuperbuat ini muncul ketika suatu pagi aku lihat semut dan teman2nya kembali nangkring di atas mesin cuci yang kami gunakan sebagai meja penampung makanan. hahahahaa...

Peperangan pun kembali di lanjutkan. Smangadh!!!

No comments: